Bab 1

Jumat pagi itu aku pergi ke stasiun untuk menunggu kedatangan temanku saat di Jakarta dulu. Steven adalah seorang pemuda keturunan Chinese berusia 31 tahun sebaya denganku, tinggi 185 cm dengan berat 87 kg.

Di jakarta aku dan Steven adalah sahabat yang cukup dekat. Dan kami saling mengetahui rahasia-rahasia yang ada diantara kami. Termasuk selera wanita kami, kami berdua mempunyai selera yang sama, yaitu wanita yang mempunyai tubuh montok alias BBW (Big Beautiful Woman). Bahkan kami tau ukuran senjata kami masing-masing, waktu itu ketika kami bertaruh siapa punya lebih besar. Oke, untuk ini aku mengaku kalah, senjata Steven lebih panjang 3cm dari kepunyaanku...

Oh iya, perkenalkan namaku sendiri Andre, umur 31 tahun, tinggi 169cm dengan berat 65kg. Kebetulan nasib yang memberiku kesempatan mempunyai isteri yang sesuai dengan seleraku itu. Sedangkan Steven sampai saat ini masih saja melajang. Belum ketemu yang sesuai dengan kriterianya, katanya.

Istriku sendiri bernama Memei yang memiliki spek tubuh sesuai dengan wanita impianku. Umur 24tahun, tinggi sekitar 165cm, ukuran dada 40B. Namun untuk berat badannya sampai saat ini aku sendiri belum tau. Tapi yang jelas, montok abiss... hehehe

Steven sahabatku ini kebetulan sedang ada bisnis di kota S, setelah urusan selesai ia berniat mampir ketempatku karena kebetulan tidak jauh hanya satu jam menggunakan kereta api. Aku menunggunya di area merokok, sampai tak lama berselang kulihat sosok yang kukenal. Aku melambai, ia melihat dan tersenyum. Bergegas kami mendekat dan berangkulan. Maklum sudah lima tahun kami berpisah. Di perjalanan menuju rumahku kami banyak bercerita tentang masa lalu, dan sedikit membahas tentang istriku.

"Lo asli beruntung banget dapet si Memei, Ndre! Gue nyari-nyaari yang kayak model istri lo sampe sekarang belom ketemu juga. hahaha"

" Haha sial lo, namanya rejeki anak sholeh tau"

Begitulah sedikit candaan kami ketika membahas istriku. Memang ketika pertama kali dia kukenalkan kepada istriku waktu kami masih berstatus pacaran, dia sedikit menunjukkan ketertarikan kepada istriku. Aku tidak pernah berpikir ketertarikan macam apa yang dimiliki oleh sahabatku ini kepada istriku. Hanya mungkin kagum saja menurutku.

Jam 11.30 siang akhirnya kami tiba di rumahku, dan ketika dia melihat istriku matanya menjunjukkan kekaguman yang sangat terlihat. Seperti di awal aku ceritakan, bahwa Steven beberapa kali pernah bertemu dengan istriku di beberapa kesempatan. Tapi ketika akhirnya bertemu lagi hari ini, ketika istriku membukakan pintu untuk kami, Memei hanya mengenakan pakaian rumah seadanya.

"Hallo Mei, apa kabar? Makin semok aja nih bini nya Andre." Sapanya kepada istriku.

"Haha. Kurang asem kamu Steve, baru ketemu langsung ngeledek." sahut istriku.

"Ya udah, masuk dulu yuk. Ngobrolnya nanti lagi aja di dalem." ucapku menyela obrolan mereka.

Aku dan istriku sudah hampir satu tahun menikah, dan sampai sekarang memang belum dikaruniai buah hati. Aku anggap saja ini sebagai kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kami berdua "pacaran" lagi. Selain memang aku pikir kami belum begitu mapan secara ekonomi.

"Wah kalian ini payah, masa udah lama kawin belum punya anak , gimana sih lo Ndre!" sindirnya padaku.

Aku hanya nyengir; "Belum dikasih Steve, yah sabar ajalah." kataku membela diri.

"Biar bisa berduaan dulu terus Steve, ntar kalo udah punya anak waktu berduaan jadi makin susah." kata istriku menambahkan.

"Nah, justru makin banyak waktu berduaan makin banyak waktu buat bikin anak."

"Apa perlu gue bantuin nih?" kelakar Steven sambil menatap kami berdua.

"Wah kampret lo Steve! Hahaha"

"Tapi terserah Memei lah, kalo dia mao terima bantuan lo, gue bisa apa? hahaha" jawabku spontan merespon gurauan sahabatku ini. Entah apa yang aku pikirkan sehingga aku bisa mengucapkan hal itu.

"Nah, tuh Mei. Laki lo udah ngijinin buat gue bantuin kalian bikin anak tuh." cerocos Steven kepada istriku.

"Lah, apaan sih Papih ini. Pada stress dah kalian berdua." Jawab istriku. Namun kulihat ketika istriku menjawab candaan Steven sahabatku, wajahnya manisnya justru terlihat tersipu malu.

Memang pada dasarnya aku sendiri memiliki fantasi terpendam untuk bisa melihat istriku digarap laki-laki lain. Bahkan melakukan Threesome dengan orang lain. Aku dan laki-laki itu bersama-sama menggarap istriku. Tapi ini benar-benar fantasi terpendamku saja, memang beberapa kali aku pernah mengutarakan fantasiku ini kepada istriku pada saat kami ML hanya untuk menambah sensasi bercinta kami. Dan aku sendiri pasti menjadi semakin bernafsu pastinya ketika bercinta dengan iatriku sambil membayangkan ada seorang pria lain bersama-sama menggarap istriku. Pernah ketika pada saat kami bercinta, sambil menggenjot tubuh montok istriku ini, aku memasukan jariku ke mulutnya sambil berkata untuk dia membayangkan sedang menghisap penis kedua. Pada saat itu justru istriku merespon dengan menghisap dan menjilati jari yang aku sodorkan ke mulutnya dengan penuh napsu, sambil suara desahannya semakin menjadi. Aku yang melihat hal itu malah semakin menaikkan napsuku, dan genjotannku di vagina istriku makin kupercepat. Yang aku suka dari vagina istriku, karna tubuhnya yang montok itu, otomatis cengkraman lobang vagina nya sangat terasa menjepit batang kejantananku. Hanya saja ketika spermaku berhasil menyemprot ke dalam vagina istriku, walaupun sudah aku benamkan sedalam mungkin ketika aku klimaks. Seketika spermaku langsung meluber keluar dari vagina istriku. Kadang hal ini yang membuat aku berpikir, apa spermaku tidak cukup bisa merangsek ke rahim istriku karena panjang penisku tidak cukup panjang mencapai rahim istriku itu mengingat postur istriku yaang BBW. Sehingga ini yaang menyebabkan istriku sulit mengandung.... Entah lah...

Bab 2

Malamnya setelah kami selesai makan malam aku, istriku dan Steven keluar menikmati suasana kota S bagian atas pada malam hari. Banyak hal juga yang obrolkan, lebih banyak tentang kehidupan asmara Steven dan sesekali membahas kehidupan perkawinanku dengan Memei.

"Aku tuh bukannya nggak ada cewe yang ngejar-ngejar aku. Tapi emang belom ada yang cocok aja." bela Steven ketika kami berdua mencoba mengejek kesendirian sahabatku ini.

"Emang cewe yang kayak gimana sih Steve yang kamu cari?" tanya istriku penasaran.

"Hhmmm...mm..."

"Kayak kamu Mei!"

"Yang mukanya chubby-chubby manis gitu, terus yang bodinya bikin enak kalo dipeluk. Yang bikin betah kalo dikelonin. Hehehehe" jawab Steven sambil melirikku dengan ekspresi iseng menggoda kami berdua.

"Ahhh.... Kamu ini senengnya ngeledek aku terus."

"Pih, liat tuh kelakuan temenmu. Masa istri temennya sendiri diledek mulu kayak gitu"

"Udah malah pake acara nggombal lagi!" jawab istriku merajuk sambil menggembungkan pipinya yang chubby itu. Sungguh manis sekali ekspresi wajah istriku itu ketika digoda oleh sahabatku ini.

"Hahaha... Kamu malah kayak gitu ekspresinya kok mih. Gombal-able banget emang kok, iya gak Steve?" balasku justru malah untuk menggoda istriku.

"Bener banget lo Ndre! Bukan salah gue dong ya kalo deket-deket bini lo, hawanya pengen muji dia terus" Sambung Steven menyetujui pernyataanku.

Sampai sisa malam kami bertiga nongkrong bersama, istriku hanya menjadi bahan candaan kami berdua. Dan dia juga meresponi candaan kami berdua, bahkan sesekali istriku mulai berani kontak fisik dengan Steven sahabatku, entah itu mencubit lengan ataupun perutnya dan menjitak ringan kepala Steven untuk membalas keisengan Steven. Aku yang melihat mereka berdua yang mulai akrab bukannya marah atau cemburu, tapi malah ikut tersenyum dengan tulus. Tidak ada sedikit perasaan negatif apapun sama sekali. Yaa... Biasa aja gitu ngeliatnya... Ikut happy aja ngerasain keakraban kami. Memang aku dan Steven dari dulu sudah sangat akrab, bahkan bisa dibilang kami sangat dekat. Jadi melihat istriku juga akhirnya akrab dengan sahabatku ini, aku senang-senang saja.

Sekitar jam 10an setelah puas berkeliling dan mengobrol, kami pun pulang. Di perjalanan saat kami pulang, ketika kami melintas di salah satu jalan tempat ramai anak muda sedang berkumpul, di depan mobil kami melintas sebuah sepeda motor yang ditumpangi sepasang muda – mudi, mungkin mereka sedang pacaran pikirku. Yang membuat kami terkejut adalah bokong si perempuan yang dibonceng di belakang sangat terekspos dengan frontalnya. Sedikit banyak bokong wanita itu mirip dengan bokong istriku yang besar itu. Cukup lama posisi pasangan tersebut dengan sepeda motornya berada tepat di depan kami, karena jalanan cukup padat pada saat itu. Mau tidak mau, kami bertiga cukup lama menyaksikan pemandangan bokong wanita tersebut.

"Anjing Ndre, liat tuh cewek bodinya mantep bener!" teriak Steven sangat antusias.

"Iye liat juga gue, biasa aja dong ngeliatnya." jawabku santai tidak mau terlihat sama antusiasnya dengan Steven, mengingat di jok belakang ada istriku.

"Gue mah udah punya." lanjutku.

"Maksudnya?" sahut Steven sambil menatapku.

"Tuh, punya bini gue lebih mantep malahan" kataku sambil sedikit menengok ke belakang.

"Hahaha sial lo! Lo sih enak, udah punya bini spek semok, alias sexy dan montok. Bisa ngerasain tiap hari, Lah gue?" Seloroh Steven menanggapi ucapanku.

"Kalo aja lo gak ada di sini, udeh gue......" ucap Steven sengaja menggantung perkataannya sambil melihat istriku di belakang.

Istriku yang sadar dirinya kembali menjadi bahan candaan kami langsung melototkan matanya tapi dengan ekspresi khas merajuknya sambil mencubit perut kami berdua dengaan cukup kencang.

"Kaliaaan berduaaaa yaa!! Pada edan beneran kayaknya! Malah aku yang jadi sasaran. Sana kalo berani, cewek di depan digodain sana! Jangan nggodain aku mulu bisanya!" Ucap istriku sambil mencubit pinggang kami berdua.

"Aduuuh..duh...duh... Ampun Mei!! Cuma bercanda kali" ucap Steven sambil meringis kesakitan. Karena kuakui, cubitan tadi cukup kencang dan sakit kurasa. Mungkin karena istriku benar-benar gemas kepada kami berdua yang sedari tadi menjahilinya dengan candaan-candaan kami. Aku hanya tertawa melihat keributan kecil yang terjadi di dalam mobil ini.

"Si Papih nih juga, liat istrinya digodain orang lain malah ketawa-ketawa. Emangnya seneng ya kalo istrinya digodain cowok lain?" jawab istriku sambil melihatku dengan tatapan yang entah kenapa seperti tersirat sesuatu.

"Eh Mei, gue sama Andre tuh dari dulu udah sering saling berbagi apa yang kita punya... Jadi gue rasa kayaknya kalo gue pengen sama kamu juga, dia juga bakalan ngasih tau gak?" ucap Steven tak tau aturan.

"Eh, si kampret... Lo kira bini gue sepeda motor supra butut gue dulu yang sering lo pinjem buat jualan ayam potong! Sembarangan aja lo kalo ngomong..." Ucapku sambil menoyor pelan kepalanya.

"Hahahahaha.... Becanda broo...." sahutnya sambil tertawa mendengar jawabanku.

Dulu memang kami sebegitu dekatnya sehingga kami saling mensupport dalam hal apapun. Termasuk ketika dia memulai bisnis kecil-kecilannya dalam menjual ayam potong dengan cara berkeliling dari pasar ke pasar, maupun ke pedagang-pedagang ayam goreng dipinggir jalan menggunakan sepeda motorku yang dipinjamnya. Sampai sekarang bisnisnya sukses dan berkembang, kami tetap dekat sebagai sahabat, bahkan mungkin lebih dari sekedar sahabat. Dan dia juga tidak pernah melupakan jasaku yang meminjamkannya sepeda motorku ketika dia merintis usaha tersebut. Sampai sekarang, ketika aku masih berjuang juga dan membutuhkan bantuan, dia akan dengan sangat senang hati membantuku.

"Si papih bisa-bisanya nyamain mamih sama motor butut punya papih dulu yaa....." celetuk istriku ditengah tertawa kami yang membuat tawa kami berdua semakin menjadi-jadi.

Kemudian pikiranku tiba-tiba melayang memikirkan bagaimana jika aku benar-benar berbagi istriku dengan sahabatku ini. Dimana kami berdua menggarap istriku secara bersamaan, disaat istriku menghisap kejantananku, disaat yang sama juga kemaluan istriku disodok oleh batang kejantanan Steven yang aku akui cukup panjang itu. Dan kami berdua sama-sama menyemprotkan sperma kami kedalam mulut istriku sampai meluber saking banyaknya gabungan volume sperma kental kami. Lalu imajinasiku beralih dimana aku hanya melihat istriku dan sahabatku saja yang saling berpacu dalam desahan kenikmatan, sedangkan aku hanya melihat sambil mengocok batang kejantananku. Membayangkan itu saja, tanpa sadar kejantanaanku mengeras ketika aku masih saja menyetir mobil ini.

Dan tiba-tiba lamunan khayalanku itu hilang karena aku dikagetkan oleh teriakan Steven...

"Ndre, ikutin Ndre...Ikutin....!!!" cerocosnya dengan sedikit suara yang sedikit lebih keras sambil menepuk-nepuk bahu kiriku.

Kamipun membuntuti perlahan dibelakang motornya, namun ternyata di perempatan depan mereka berbelok arah sementara kami terus lurus " yah..." ucap Steven dengan sedikit nada kecewa.

"Hahahaha.... Sukurin kamu Steve, gak jadi dapet mangsa." istriku gantian mengejek sahabatku yang satu ini.

Istriku terus saja tertawa sambil menggoda Steven yang sekarang terlihat kecewa karena 'pemandangan indahnya' sudah hilang di perempatan tadi.

"Seneng ya kamu Mei, liat gue sedih." kata Steven meresponi istriku yang terus saja cekikikan mengingat kejadian tadi dan ekspresi lucu kekecewaannya.

"Awas kamu hati-hati ya, nanti kamu yang gue mangsa. Baru tau rasa kamu!" ucap Steven sambil berakting menakut-nakuti istriku.

"Haahaahaha... Duuhhh.... akuuu takuuuuttt...!" jawab istriku dengan mimik mukanya yang dibuat-buat.

Aku hanya menggeleng-gelengkaan kepalaku saja melihat kelakuan istri dan sahabatku ini.

Akhirnya tak berapa lama sampai di rumah, sebentar kami menonton tv, sambil meminum kopi dan merokok kami berdua masih mengobrole sementara istriku pamit ke dalam kamar untuk ganti baju katanya. Sebelum beranjak ke dalam kamar, istriku masih sempat menggoda Steven sambil berkata; "Dah ya, aku pamit ganti baju dulu. Kalian lanjut ngobrol aja. Steve, awas kamu nanti kalo tidur jangan sampe ngebayangin cewek bahenol yang tadi ya... Nanti sprei kamar tamuku susah nyucinya. hahahahha..." Ucap istriku tertawa menjahili sahabatku sebelum masuk ke dalam kamar.

"Kurang asem kamu Mei. Temen suamimu lagi bete gini malah diledekin." sahut Steven sambil mengangkat tutup gelas berpura-pura ingin melempar kearah istriku.

Beberapa saat setelah kami berdua ngobrol singkat. Aku akhirnya ijin pamit ke dalam kamar kepada sahabatku dengan alasan ingin tidur. Steven tidak langsung masuk ke kamarnya ketika aku beranjak ke kamarku, mungkin dia mau melanjutkan menonton acara tv pikirku.

Ketika aku masuk ke dalam kamar, kulihat istriku masih belum tidur karena dia masih bermain handphone miliknya, mungkin sedang mengecek sosial media miliknya. Aku langsung rebahan di sebelah istriku sambil menarik istriku ke dalam pelukanku.

"Loh, si Steven kamu tinggal sendirian di depan pih?" tanya istriku.

"Iya, aku mau tiduran sambil meluk kamu soalnya." jawabku sambil mengeratkan pelukanku pada istriku.

Istriku hanya tersenyum, sambil juga memelukku. Dalam pelukan itu, sesekali aku meremas pantatnya yang montok itu. Istriku hanya merespon dengan sesekali menjauhkan tanganku dari pantatnya.

Kemudian aku mulai menciumi leher istriku sehingga membuat istriku merubah posisi menjadi terlentang menerima pasrah cumbuanku.

"ahchh....hmmph..." suara desahannya terdengar lirih.

Ciumanku terus merambat turun keatas payudara brutal milik istriku ini sambil aku menurunkan dasternya sedikit ke arah perutnya. Aku jilati payudara sebelah kanan istriku sambil meremas payudara sebelah kirinya. Setelah beberapa saat kurasakan puting payudara istriku mengeras, aku alihkan tangan kananku ke mulutnya. Aku masukan jari tengah dan telunjukku ke dalam mulutnya sambil aku gerakkan keluar-masuk, ternyata istriku meresponi gerakan tanganku itu dengan memegang sambil menghisap dan menjilat jari yang kumasukk

Bab 3

POV Steven

Gue dapet undangan kerjasama bisnis di kota P dari partner gue waktu di Jakarta dulu, tapi sekarang dia tinggal di kota P dan mengembangkan bisnis di sana. Akhirnya hari kamis gue berangkat dari stasiun gambir jakarta menuju kota P menggunakan kereta api kelas eksekutif, sayang di kota tersebut tidak ada bandara karena mungkin belum masuk hitungan bisnis yang menguntungkan pemerintah. Maklum, kota nya belum begitu besar tapi sudah cukup berkembang.

Gue langsung teringat sahabatku yang sekarang tinggal dan menetap di ibu kota propinsi Jawa Tengah. Mengingat jarak kota P dan kota tempat tinggal sahabat gue itu tidak terlalu jauh, maka gue putuskan untuk mengunjunginya setelah urusan bisnis gue selesai.

"Ndre, hari Jumat ini gue mao main ketempat lo ya bro, gue lagi ada urusan di kota P, sekalian mampir tempat lo deh. Kangen gue sama lo udah lama juga gak ketemu kita." kata gue kepadanya lewat sambungan telepon.

"Oke! Siap bos! Jam berapa sampe sini?" jawab sahabat gue sambil menanyakan jadwal tiba gue besok jumat.

" Gue ambil kereta pagi. Jam 9an gue sampe sana mungkin. Jemput ya! bisa kan?" tanya gue kepadanya.

"Yaelah kayak sama siapa aja lo 

Steve! Lagian gue kan freelance. Jadi flexible aja lah. Bisa diatur bos." jawabnya menyatakan kesediaannya menjemput kedatangan gue jumat besok.

Gue mau sedikit flashback tentang cerita kedekatan kami. Sahabat gue ini berprofesi sebagai pedagang online kecil-kecilan. Masih teringat ketika sahabat gue ini beberapa waktu dulu ketika menyampaikan niatnya untuk memulai bisnisnya sekarang ini, namun terkendala oleh modal pertama dan berniat meminjam sejumlah dana sama gue. Gue pun dengan sangat senang hati membantu sahabat gue ini walaupun nominal yang dimintanya cukup lumayan besar juga, sekitar 25jutaan. Tapi itu gak sebanding ketika gue inget jasa-jasa dia ke gue waktu dulu gue juga baru saja merintis bisnis gue ini. Dia yang paling semangat support gue ketika yang lain, bahkan keluarga gue sendiri gak sampe sebegitunya kayak 

Andre sahabat gue ini, bahkan rela meminjamkan sepeda motornya buat gue pake keliling pasar buat jualan ayam potong. Sampai akhirnya gue bisa beli armada sendiri lewat keuntungan dan suntikan modal dari bank, dan gue bermaksud membalas jasanya dengan membelikan sepeda motor baru untuknya karena sepeda motornya yang kondisinya sudah tidak bagus lagi, dia menolak niat gue itu dengan alasan yang sangat membuat gue tersentuh sangat dalam.

"Udeh, gak usah 

Steve! Mending duitnya buat tambahan modal usaha lo yang udah mulai berkembang itu. Gue masih bisa pake motor itu buat gue pake lah, walaupun butut tapi motor itu udah banyak kenangan. Salah satunya jadi saksi sejarah kesuksesan temen gue dalam merintis usaha. Gue ikut bangga kalo inget itu, dan gue mau ini jadi motivasi gue buat sukses kayak elo!" jawabnya ketika menolak secara halus niat gue membelikan motor baru untuknya.

Dari situ gue punya niat apapun nanti ketika temen gue ini kesulitan dan butuh bantuan, gue pasti akan bantu dia sebisa mungkin.

Oh iya, gue sahabatan sama dia mulai ketika kita kuliah bareng. Dan gak tau gimana, kita langsung klik ketika kami mulai ngobrol dan dekat. Kedekatan yang terlajin diantara kami gue bisa bilang itu deket banget. Gak usah ditanya udah beberapa kali gue dan dia nginep di rumah salah satu diantara kami. Gue tau selera cewek kesukaannya, dia pun juga tau selera gue. And whaat??? Selera kita ternyata sama! Ini bener-bener kampret-faktor yang ada diantara kami, mungkin ini juga yang bikin kita udah kayak soulmate kali ya..

Dia pernah deket sama cewe yang dia naksir, sesuai kriteria dia pastinya. Dan kriteria gue juga sayangnya... Hahaha

Pas kita deket, gue sempet dikenalin sama cewek itu. Dan kalian bisa tebak, gue jadi ikutan naksir. Yaa gimana guys, idaman gue banget soalnya. Wajah manis chuby gitu, body semok, pantat bahenol. Kan gue banget ini mah! Hahaha

Pernah ketika kita bertiga lagi ngobrol, gue yang secara naluri flirting juga ke cewek itu. Mungkin karena terlalu frontal flirting gue, 

Andre sampe kayak nyadar gitu ketika momen gue lagi flirting ke gebetannya. Sampe suatu malam, ketika gue sama sahabat gue ini nginep bareng di rumah gue. Gue denger dia ngigau sambil nyebut-nyebut nama gue. Karena gue belum tidur, jadi gue bisa denger jelas apa yang dia ucapin ketika dipengaruhi alam bawah sadarnya.

"Hmmm.... 

Steve, kalo lo pengen deket sama Syela. Gue rela ngasih dia buat lo 

Steve."

"Lo itu sahabat gue, apapun gue kasih supaya lo seneng..."

"Apapun 

Steve... apapun...." kata dia waktu ngigau pas dia tidur, suaranya lirih banget, tapi gue bisa denger jelas apa yang dia ucapin.

Gue sampai kaget ketika dia ngigau selama itu. Iya, ngigaunya sepanjang itu! Gue sampe bingung tadinya dia beneran ngigau apa kerasukan setan.

Ketika gue nginget-nginget lagi kenangan kebersamaan gue sama sahabaat gue ini. Gue sampe senyum-senyum sendiri, gue bahagia, senang dan bangga punya sahabat kayak dia. One of the best part of my life ketika gue punya sahabat yang supportnya ke gue kayak yang diberikan 

Andre ke gue.

Back to this day, ketika gue sampe di kota S setelah kurang lebih satu atau dua jam perjalanan menggunakan kereta ini. Gak tau juga sih yang bener satu apa dua jam, orang gue tidur selama perjalanan tadi, untung gue bangun pas udah mau sampe. Kalo nggak, kebablasan deh gue. Hahaha

Sampai di stasiun, gue langsung menuju smoking area. Karena mulut gue udah asem nahan supaya nggak merokok di dalem kereta. Ternyata dari arah sana ada sosok yang gue kenal sedang melambaikan tangannya ke arah gue, sahabat gue sudah menunggu gue di sana. Langsung saja gue menuju ke arahnya, dan memeluknya dengan erat. Kangen banget gue sama dia, udah hampir dua tahun gak pernah ketemu selain keep contact lewat chatting dan telepon.

Di perjalanan menuju ke rumahnya, kami banyak mengobrol tentang kehidupan kami. Jujur, ada satu yang gue iri dari dia. Dia bisa menikah dengan wanita yang menurut gue selera kita banget. Gue turut happy ketika tau dia akhirnya nikah sama Memei, istrinya sekarang. Gue pernah ketemu beberapa kali sama Memei waktu dulu pas 

Andre bawa calon istrinya ini ke Jakarta, kesan pertama waktu gue liat calon istri sahabat gue ini; Daamn... Maaann!!! You are so lucky to have her as your lady, I want too..maann!! Dan waktu sahabat gue ini nikah, gue malah ngebayangin momen malam pertama mereka, tapi gue yang jadi tokohnya, bukan si 

Andre...!! Hahahaha

Sampe di rumah 

Andre, Memei membukakan pintu ketika kami datang. Pakaian yang dia pakai, daster rumahan dengan panjang sampai sebatas atas lutut sedikit. Dan full pressed body! Gue sampe bengong beberapa saat ketika melihat penampilan istri sahabat gue ini, tapi untung gue bisa menguasai diri dengan cepat.

"Hallo Mei, apa kabar? Makin semok aja nih bini nya 

Andre." Sapa gue iseng kepada Memei

"Haha. Kurang asem kamu 

Steve, baru ketemu langsung ngeledek." sahutnya

"Ya udah, masuk dulu yuk. Ngobrolnya nanti lagi aja di dalem." 

Andre tiba-tiba memotong pembicaraan kami dengan mengajak kami masuk ke dalam.

Ketika kami di dalam, dan gue udah selesai bersih-bersih juga sudah ganti baju dengan yang lebih santai, kami mengobrol panjang lebar tentang kehidupan kami. Sahabatku menikah kurang lebih sekitar hampir setahun tapi ternyata belum dikarunia anak. Tiba-tiba gue spontan bicara buat nggodain mereka.

"Wah kalian ini payah, masa udah lama kawin belum punya anak , gimana sih lo Ndre!" sindir gue ke mereka.

"Belum dikasih 

Steve, yah sabar ajalah." jawab 

Steven dengan wajah datar.

"Biar bisa berduaan dulu terus 

Steve, ntar kalo udah punya anak waktu berduaan jadi makin susah." kata Memei menambahkan perkataan suaminya.

"Nah, justru makin banyak waktu berduaan makin banyak waktu buat bikin anak."

"Apa perlu gue bantuin nih?" godaku kepada mereka sambil menatap wajah mereka berdua.

"Wah kampret lo 

Steve! Hahaha"

"Tapi terserah Memei lah, kalo dia mao terima bantuan lo, gue bisa apa? hahaha" jawabnya dengan ekpresi pasrah sambil tertawa.

"Wah, nih anak gilanya masih belom kumat ternyata." batinku mendengar jawaban 

Andre.

"Nah, tuh Mei. Laki lo udah ngijinin buat gue bantuin kalian bikin anak tuh." langsung saja gue nyeletuk. Bodo deh, gue yakin 

Andre gak bakal marah sama ucapan gue.

"Lah, apaan sih Papih ini. Pada stress dah kalian berdua." Jawab Memei ketika mendengar kelakar kami berdua tapi sambil wajahnya kayak tersipu malu gitu malahan.

Kampreet, gue makin gemes sama istri temen gue ini. Bawaannya pengen meluk aja kalo liat ekspresi mukanya dia barusan. Wait...wait... Gue gak boleh naksir sama Memei, soalnya dia sekarang istri dari sahabat gue. Kalo dulu waktu kasusnya sama Syela itu kan masih gebetan 

Andre, itu aja si 

Andre baper banget sampe kebawa mimpi. Buat yang ini jangan sampe gue kebablasan!

Malam harinya kita bertiga jalan-jalan keliling kota, kali ini di sisi kota S bagian atas yang terkenal dengan pemandangan lampu-lampu kotanya ketika malam hari. Kita ngobrol banyak malam itu sambil menikmati suasana yang enak banget. Tapi kali ini sialnya lebih banyak ngebahas tentang diri gue yang sampe sekarang masih jomblo gini.

"Gue tuh bukannya nggak ada cewe yang ngejar-ngejar gue. Tapi emang belom ada yang cocok aja." belaku ketika Memei mencecar aku sambil mengejek kejombloanku.

"Emang cewe yang kayak gimana sih 

Steve yang kamu cari?" tanya Memei semakin mendesakku.

"Hhmmm...mm..."

"Kayak kamu Mei!"

"Yang mukanya chubby-chubby manis gitu, terus yang bodinya bikin enak kalo dipeluk. Yang bikin betah kalo dikelonin. Hehehehe" jawabku sejurus melirik iseng ke arah mereka berdua, terutama ke arah 

Andre karena gue pengen liat reaksi dia atas candaan gue ini, marah, bete atau nggak?

"Ahhh.... Kamu ini senengnya ngeledek aku terus."

"Pih, liat tuh kelakuan temenmu. Masa istri temennya sendiri diledek mulu kayak gitu"

"Udah malah pake acara nggombal lagi!" jawab Memei sambil menggembungkan pipinya yang chubby itu.

"SHIT..!!! Manis banget sih lo Mei!" bathinku.

"Hahaha...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED