“HAH!” seru seorang lelaki, seraya membelalakan matanya.
Suasana gelap menyiratkan sebuah pertanyaan di pikirannya. Lalu dia mengedarkan pandanganya dengan hati yang bingung. Mengelilingi setiap titik ruangan yang gelap dan terasa sangat sunyi, dingin mencekam.
Tak lama kemudian, bias cahaya bulan menyinari sebagian dinding yang membeku. Tak ada suara apalagi gema. Hanya desau angin malam yang menembus lembut di setiap sudut ruangan itu.
Lelaki itu merasa sangat asing dengan tempat yang didatanginya. Dia menduga itu adalah sebuah gedung yang tidak sempat terselesaikan pembangunannya, entah dengan alasan apa. Dan dia tak mengerti mengapa juga harus berada di sana saat ini.
Sisa-sisa material yang tergeletak tak beraturan menyiratkan jika tempat ini sudah lama ditinggalkan. Dinding kokoh yang kusam dan terlihat mulai rusak akibat cuaca, makin mempekuat dugaannya. Dia juga merasakan kesunyian makin mencekam hingga membangkitkan bulu kuduknya untuk berdiri disko.
Daei sebuah ruangan tiba-tiba terlihat cahaya cukup terang, sontak menuntun langkah lelaki itu untuk medekatinya. Perlahan namun pasti setiap sisi ruangan itu memenuhi pandangannya. Seketika itu pula matanya terbuka lebar menatap sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir lurus di depannya.
“Kamu sudah pulang, Fatria Syang?” Pertanyaan samar dari seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul dari balik mobil berharga selangit itu. Lelaki itu bahkan belum pernah mendekati apalagi menaiki mobil jenis Rubicon tersebut sebelumnya.
Wanita dengan postur sangat ramping dalam balutan dress panjang hitam elegan, melangkah pelan mendatangi sang lelaki yang masih tertegun. Sejatinya lelaki yang dipanggil Fatria itu pun sudah sangat mengenal sang wanita berambut hitam lurus itu. Bahkan dulu nyaris tiap hari bertemu dengannya saat wanita itu masih sering ke kampusnya.
‘Sejak kapan dia punya Rubicon? Apakah dia juga suka menggelapkan pajak? Ah masa iya seorang dosen bisa menggelapkan pajak hingga ratusan milyar?’ tanya Fatria dalam hati.
Namun Fatria melihat banyak perbedaan. Bukan hanya mobilnya, tetapi kemolekan tubuh dan kecantikan wajah sang dosen itu terlihat sangat lain dari biasanya. Dia bahkan merasa seperti bertemu dengan orang asing. Baru kali ini dia merasakan pesona yang sangat menakjubkan dari dosen yang telah lama pergi itu.
“Bu..?” sapa Fatria pelan, bibir dan lidahnya mendadak kelu serta sekujur tubuhnya pun terasa kian dingin, nyaris membeku tak mampu digerakan.
Dalam hitungan detik berikutnya, kedua tangan wanita yang disapanya ‘Bu’ itu sudah melingkar di bahu Fatria. Dan dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, wanita itu langsung melumat dan memagut mulut sang mahasiswa dengan penuh gairah.
Perlahan namun pasti sekujur tubuh lelaki tampan itu menjadi hangat dan rileks. Aroma napas wanita itu terasa begitu khas menyerusak masuk dalam indra penciumannya. Mendadak pula alur udara malam itu menjadi hangat dan menggairahkan.
”Bu Kiren?” Fatria masih tak percaya.
“Kamu ganteng sekali, Sayang. Puaskan aku malam ini,” bisik wanita berdres hitam panjang yang sudah terbuka di sana-sini itu, seraya melentangkan dirinya di depan mobilnya yang terlihat sangat hangat dan menantang.
Gerakan erotis tubuh sang wanita yang disapa Bu Kiren itu benar-benar menggoda dan memancing Fatria untuk segera melepas seluruh pakaian yang dikenakannya. Detik berikutnya kedua tubuh insan berlainan jenis kelamin itu pun sudah dalam keadaan telanjang bulat. Hal yang sangat tabu dan haram dilakukan Fatria sebelumnya.
Fatria tertegun memandangi tubuh yang begitu ramping dan padat. Kedua bukit kembarnya yang besar menggantung indah layaknya seorang perawan. Area kemaluannya yang berbulu tipis pun sedikit terbuka menanti keberingasan sang jantan dalam birahinya yang membara.
“Aa…aaah Fatria, Sayaaang,” lenguh Bu Karen ketika mahasiswanya sudah menembuskan panah kenikmatannya pada inti tubuhnya.
Pelukan erat penuh desah birahi, mengunci nafsu Fatria untuk memuaskan sang dosen yang tampak sangat binal dan molek. Dia memang sudah cukup lama mengincar Fatria, yang biasanya selalu dengan halus menolaknya. Sodokan demi sodokan stik Fatria semakin gencar yang benar-benar mengkoyak milik sang wanita yang kian membara. Jepitan dinding intinya begitu kuat mencengkram batang sang jantan.
“Uuuuh….” Lenguhan erotis terembus dari bibir merah sang dosen. Cakaran penuh birahinya pun tergaris jelas di punggung Fatria. Tongkah sang jejaka yang besar dan panjang kian dalam menancap sempurna dalam inti kenikmatan sang jalang. Terasa begitu seret dan mencengkram, hingga segenap otot di tubuh sang lelaki terasa dimanjakan olehh kenikmatannya.
"Ssssstttt Fatriaaaaaaaa ooooooh.” Sang dosen melenguh panjang. Wajahnya meringis, matanya terpejam ketika tongkat berkepala besar itu semakin kuat menerobos dinding surga dunianya hingga terasa tembus sampai jantungnya.
Mahasiswa dengan segudang prestasi akademik itu pun kian memperkuat tekanan tubuhnya. Wajahnya tengadah ke langit-langit menikmati sensasi bagian dirinya yang terjepit dinding surgawi dosen yang sempat beberapa kali dia nasihati agar jangan terus menggodanya itu. "Aaaaaah pelan-pelan Fatria, aduuuh sakiiiiiit, aaah oooh…" Bu Karen meringis dalam irntihannya yang semakin manja.
"Uuuuh…" Fatria melenguh panjang sambil memeluk dan menarik tubuh dosennya dalam dekapan eratnya. Lalu dia kembali mendorong dan menarik tubuhnya sendiri dengan tak beraturan. Kedua tangan Bu Karen bertumpu pada kap mobilnya dengan kepala bersandar pada bahu sang mahasiswa idolanya.
Mereka mensejajarkan wajah lalu saling berpagutan. Fatria terus memompakan dirinya sambil bergoyang mengikuti iramanya. Bu Karen pun refleks maju mundur hingga batang mahasiswanya lebih leluasa keluar masuk dirinya dengan jangkauan yang lebih dalam dan sempurna.
Suara tamparan selangkangan dan pantat mereka terdengar sangat bersisik dan jelas. "Aaaaah ssssst oooh sssst aaaaah sssttt." Hanya suara itu yang bergantian keluar dari mulut mereka.
"Aaaaah pegel sayang, aaaaah aasssh." Sang wanita sedikit protes dalam suara lenguhannya. Lalu segera sang lelaki itu pun melepaskan pelukannya, kemudian menarik selangkangannya hingga rudal besar dan panjangnya terlepas dari lobang vagina sang wanita, namun segera dia memasukannya lagi.
“Aaaaaah….“ Sebuah lenguhan panjang meluncur dari mulut sang lekaki ketika kenikmatan yang maha dahNist membuat tubuhnya bergetar hebat.
Semprotan deras seketika itu juga membanjiri inti sang wanita yang berada di bawah tubuhnya. Tubuhnya seketika menegang menahan nikmat, lalu melemas setelahnya. Rudalnya yang tegang pun perlahan mengecil, lalu terlepas dari tubuh sang wanita.
Lelaki itu akhirnya terkulai dan terkapar dalam kenikmatan yang luar biasa. Baru kali ini dia merasakan nikmat yang teramat hebat dalam bersetubuhnya. Lebih nikmat dari yang pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan saat bersetubuh dengan istrinya.
Namun sayang dia merasakan semuanya terlalu begitu cepat berlalu dalam kedahNist nikmatan yang juga terlalu.
“OH GOD!” seru Fatria seraya membuka matanya seketika. Menatap bitu langit-langit kamarnya. Pandangannya yang belum jelas menambah kebingungan karena memang kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
‘Kenapa gua ngimpi gituan sama Bu Karen? Ah, sial celana gua basah gini. Gila, malu amat kalau sampai ketahuan sama lain!’ maki Fatria dalam hati ketika tangannya meraba celana dalamnya yang basah dan lengket.
Tanpa banyak pikir, dia langsung bangun dari tempat tidur dan beringsut pergi ke kamar mandi yang berada di belang, menyatu dengan dapur. Tentu saja semua dia lakukan dengan serba tergesa-gesa namun juga sangat berhati-hati sebelum ada yang melihat dan mencurigainya. Fatria bahkan langsung merendam celana dalamnya yang penuh lendir, agar tiada jejak yang bisa menimbulkan tanda tanya besar bagi siapapun.
“Ah gila, ini benar-benar gila!” makinya pelan. Bu Karen memang bukan orang asing baginya, bahkan bisa dikatakan manusia paling nekad dan cukup merepotkan Fatria dengan birahi gilanya. Tetapi Fatria tidak pernah lagi memikirkan itu setelah berhasil menghardir dan mengusir dia dari kostanya dua bulan yang lalu.
“Hmmm, ternyata mimpi bisa tidak seabsurd itu, hehehe,” ujarnya sambil mengingat-ingat kembali semua peristiwa yang pernah terjadi antara dirinya dengan Bu Karen. Sebelum dosen itu benar-benar hengkang dari kampusnya karena suatu insiden yang sangat memalukan. Semua tak ada yang istimewa, selain kesal dan jengkel yang tinggal sedikit lagi meninggalkan sisa.
Dalam kamar mandi itu, cukup lama Fatria tertegun seraya menatap celana dalamnya yang sudah direndam dalam ember biru. Benaknya terus bertanya-tanya, mengapa dengan Bu Karen. Mimpi basah bukan yang pertama dialami Fatria. Namun sebelum-sebelumnya selalu dengan wanita yang tak jelas juntrungannya. Dan setelahnya tidak pernah dia pikirkan selain harus mencuci sendiri celana dalamnya.
‘Bu Karen, ada apa denganmu?’ tanyak Fatria pada dirinya sendiri sambil kembali mengingat-ingat perkataan dan tindakan mana yang dirasa akan sangat melukai hati wanita itu.
‘Benarkah gua telah bersikap terlalu keras dan berlebihan sama beliau. Tapi, memang layak untuk sebuah ketidak-tahuan diriannnya itu.’ Fatria kembali membela diri dalam hatinya.
“Dosen juga manusia, Bro. Gua rasa tak sepatutnya lu terlalu keras begitu. Salah sendiri lu ganteng hingga ngebuat dia klepek-klepek, hehehe.” Ucapan salah seorang teman pun kembali terngiang di telinga Fatria.
“Masalahnya dia itu sudah punya suami, Bro! Gua tahu yang dia mau dari gua. Dan itu tidak mungkin gua lakuin. Dia ingin gua ngehamilinya, gila apa?” Fatria sangat lantang menyangkalanya.
“Hah, memangnya suami dia, mandul?” tanya Nurdin penasaran.
“Mana gua tahu. Yang jelas itu yang dia inginkan dari gua, Bro!”
“Hadeuh. Andai gua diposisi lu, SIKAT!” Nurdin membjawab antusias.
“Lu minat?” tanya Fatria.
“Hahahaha, cuma elu yang kagak nafsu sama Bu Karen, jangan-jangan emang lu gak normal, Bro! Hehehe,” canda Nurdin.
“Sialan lu! Sono sikat kalau emang lu minat, lumayan kan bisa buntingan dosen, hehehe!” sergah Fatria kesal, namun dilengkapi dengan kekehan geli.
“Ah siap, atas rekomendasi lu, tentu saja!” Semangat Nurdin makin dipenuhi tendesi.
“Yoi, entar gua kasih ketebelecenya, deh. Hahahaha.”
Obrolan terakhirnya tentang Bu Karen pun ikut terngiang-ngiang melengkapi kecamuknya rasa dalam benak Fatria. Padahal setelah itu dia benar-benar menutup segala akses infomasi tentang dosennya itu. Bahkan dia tidak mau mendengar saat Nurdin ingin menyampaikan progres dirinya yang sedang pedekate dengan Bu Karen.
Fatria juga tidak pernah menanggapi ketika beredar rumor yang mengatakan jika dirinyalah yang seharusnya paling bertanggung jawab atas hengkangnya sang dosen dari kampus tercintanya.
Fatria masih cukup waras dan logis untuk tidak terjebak dalam debat kusir menanggapi rumor yang dinilainya teramat konyol dan memalukan itu. Dan dia memang sangat tahu siapa aktor intelektual di belakang hoax murahan itu.
^*^
“Terima kasih Pak Satpam!” ucap Nurdin penuh rasa hormat.
“Security, Mas,” balas lelaki setengah baya berseragam security itu sambil membalikan tubuhnya hendak kembali beranjak.
“Oh iya maaf. Terima kasih Bapak Security sudah mengantar saya.” Nurdin kembali mengulangi ucapan terima kasihnya lebih panjang. Sepenjang rasa geli yang menggelitik jiwanya.
‘Manusia aneh, memang apa bedanya Satpam sama Security?’ ucap Nurdin dalam hati sambil menatap punggung lelaki setengah baya yang dalam sekejap matanya sudah menghilang di kegalapan malam.
‘Eh, cepet amat dia ngilangnya?’ tanya Nurdin lagi dalam hati, ‘Emang dia satpam dari bagian mana sih?’ lanjutnya saat dia baru tersadar, tidak sempat bertanya dan memperhatikan lelaki itu secara mendetail saat tadi jalan bersama.
Di proyek ini terdapat puluhan satpam yang bertugas di masing-masing bagiannya. Banyak juga bagian keamanan lain yang tidak berseragam. Lebih tepatnya disebut centeng, preman atau sejenisnya. Proyek raksasa memang sangat rawan dari gangguan ormas, LSM juga warga sekitarnya.
Nurdin pun langsung masuk ke pondokan dan tiduran di kamarnya seraya menatap langit-langit yang membisu. Dalam hitungan menit berikutnya kebisuan itu sirna saat tiba-tiba dia mendengar suara yang sedikit menggelitik rasa penasarannya. Suara seorang perempuan penuh desah kemanjaan yang samar-sama memanggil namanya beberapa kali.
Dahi Nurdin pun mengkerut, hatinya bimbang dengan pendengarannya sendiri. Menurutnya, tidak mungkin ada perempuan yang memanggilnya di tengah malam seperti ini. Bahkan di siang hari pun, karena di pondokan itu nyaris tak pernah didatangi perempuan sebelumnya. Nurdin lalu melupakan suara itu.
Namum tak lama kemudian dia mendengar langkah kaki seseorang di depan kamarnya. Dan dia tahu itu langkah kaki Fatria, teman satu pondokannya. Nurdin pun bergegas membuka pintu kamarnya, serta memanggil Fatria yang hendak masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarnya.
“Dari mana Fat?” tanya Nurdin sedikit mengejutkan Fatria.
“Oh eh, gua dari kamar mandi, Bro!” Fatria sedikit gelagapan karena pikirannya sedang melamun.
“Fat, jam berapa ini?” tanya Nurdin kemudian.
“Eh, itu di tangan lu ada arloji, ngapain nanya ke gua?” Fatria mengernyitkan dahinya sambil menatap lengan kanan Nurdin. Dia memang mamakai arlojinya di sana.
“Gak tahu nih arloji gua ngedadak mati,” jawab Nurdin sambil kembali menatap jam tangannya.
“Setengah satu kurang,” jawab Fatria setelah melirik jam tangan yang melingka di lengan kirinya. Lalu dia pun membetulkan kain sarung yang dipakainya dan tampak ada sedkit noda basah di bagian pahanya kirinya. Nurdin refleks menutupnya, dan menyesal tidak keburu membasuh noda berbau anyir itu, karena memang baru disadarinya.
“Dari mana lu kedengarannya baru pulang.” Fatria mengalihkan pembicaraan.
“Biasa habis nongrtong di warung Pak Gatot.”
“Malem banget, lu pulang sendiri?”
“Kagak, gua dianter satpam.”
“Oh pantesan.”
Nurdin lantas keluar dari kamarnya, kemduian mendekati Fatria yang hendak masuk kembali ke kamarnya.
“Bro, lu tadi, waktu ke kamar mandi ngeliat ada cewek gak di sekitar sini?” bisik Nurdin.
“Maksud lu?” Fatria balik tanya seraya mengkerutkan dahinya, heran.
“Tadi gua denger suara cewek di luar kamar. Kaya manggil-manggil nama gua gitu, Fat!.” Bisikan Nurdin makin pelan dan seketika membuat Fatria tersentak. Apa mungkin suara Bu Karen dalam mimpinya bisa terdengar, tetapi Fatria tak sedikitpun wanita itu memanggil nama Nurdin.
“Manggil nama siapa?” Fatria ingin memastikan.
“Nama gua, Mas Nurdiiiiin, Mas Nurdiiiiin, gitu, Fat!”
“Hehehe, pecun nyasar kali. Sejak zaman Firaun masih pake teelpon koin hingga kini ganti android, di sini itu katanya kaga pernah ada cewek. Emang kenyataannnya begitu kan? Bisa panas ini pondokan kalau didatengin cewek, hehehehe,” canda Fatria sekenanya.
“Alah, gak yakin gua!” Nurdin malah mendesah dalam gelisah.
“Maksud lu?” Fatria makin bingung.
“Gua serius, Bro. Dari tadi kagak bisa molor gara-gara ngedenger suara itu.” Nurdin mengekspresikan wajahnya dalam mode super serius.
Fatria berpikir sejenak sambil menyendarkan punggungnya pada kusen pintu. Seingatnya, waktu dia ke kamar mandi tidak melihat sekelebat pun ada manusia, apalagi perempuan. Pondokan itu sangat sepi, relatif jauh dengan pemukiman penduduk dan saat ini sudah lewat tengah malam. Di proyek ini sangat langka pekerja berjenis kelamin perempuan, kecuali tiga orang petugas admin, itu pun tidak pernah datang ke pondokan khusus lelaki.
“Mungkin lu lagi kangen sama cewek lu, Bro!” gumam Fatria agak kesel dan sangat meyakini jika mimpinya tidak mungkin terdengar oleh Nurdin.
“Maksud lu, Ariani? Ah, suara dia tidak seperti itu, Fat. Lagian lu juga tahu dia lagi KKN di Batam, kagak mungkin ke sini. Gila lu, kalau ngomong kagak pake logika!” semprot Nurdin yang juga ikut kesal.
“Ya berarti lu lagi halu, Blog! Halusinasi! Ah, ngapain juga lu repot-repot mikirin suara yang kagak jelas begitu. Emangnya lu petugas recording apa?” sergah Fatria sambil memablikan badannya dan masuk kembali ke kamarnya, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
‘Sialan!’ Nurdin mengumpat dalam hati dengan desah napas yang tipis. Lalu membalikan badannya hendak kembali ke kamarnya.
“Hah!” Nurdin sedikit tersentak dan memelankan langkahnya lantas terhenti tepat di depan pintu kamarnya. Kedua bola matanya mengitari sekeliling. ‘Hmm, pondokan itu biasanya juga sepi dan lengang, kenapa malam ini terasa agak beda?’ pikirnya sambil mengusap tengkuknya yang sedikit meremang.
Denny yang biasanya masih memutar musik sampai jauh malam, kali ini agaknya sudah tidur, lampu di beberapa kamar lain pun telah padam. Hanya kamar Ade dan Bachtiar yang terlihat masih ada nyala walau sudah sangat redup. Mungkin mereka sedang menekuni materi proyek yang tadi siang dipaparkan para pekerja senior.
‘Aduh!’ Nurdin mengaduh saat tengkuknya kembali terasa meremang. Badannya sedikit bergidik saat merasakan sentuhan halus di punggungnya saat dia masuk ke kamarnya. Dan saat hendak menutup pintu, kembali suara perempuan itu terdengar dalam desah kenikmatan memanggilnya.
“Maaas Nurdiiiiin…! Mas Nurdiiiin….”
Lampu kamar Nurdin sengaja diredupkan. Dia menyalakan lampu biru 5 watt sejak tadi. Menurutnya, tidur dengan nyala lampu biru yang remang-remang membuat kesejukan tersendiri dalam hatinya. Namun, kali ini, kesejukan itu tidak ada. Yang ada justru kegelisahan dari berkecamuknya hati yang terheran-heran atas terdengarnya suara panggilan tadi yang berulang-ulang.
Nurdin kembali merebahkan tubuhnya, telentang di atas kasur menatap langit-langit yang tetap membisu. Angin malam di luar kamar, desaunya terasa menerobos ventilasi di atas jendela kamar, dan suara panggilan itu kembali terdengar setelah beberapa detik desau angin berlalu.
“Maas Nurdiiiin… datanglah padaku, Maaas…!”
Dengan berkerut-kerut dahi, Nurdin bangkit dari rebahannya. ‘Suara itu sekarang di luar jendela,’ pikirnya.
Nurdin mendekati daun jendela. Ingin membukanya tetapi, ‘Jangan dibuka. Tidak mungkin ada cewek di luar jendela. Dari mana dia masuk? Pintu gerbang dikunci. Tidak mungkin dia memanjat pagar. Kalau ada cewek yang ke sini dan manjat pagar, itu namanya cewek paling nekad sedunia. Lagian sejak kapan ada cewek ke sini?’ cegah hatinya.
Nurdin lalu menempelkan telinganya pada daun jendela. Tapi yang didengar hanya desau angin dan gemerisik dedaunan yang bergerak karenanya. Kamarnya memang paling ujung dari sederetan kamar-kamar yang ada di pondokan itu. Di samping kamar, di seberang jendela itu, adalah sebidang tanah yang biasa dipakai olah raga oleh seluruh penghuni.
Di sana ada lapangan bulu tangkis, dan meja ping-pong yang jika malam dalam posisi miring, menempel pada dinding kamarnya. Tanah yang merupakan fasilitas olah raga itu pun dikelilingi pagar hidup berupa pepohonan yang terbuka bebas namun tidak ada penerangan. Sebagian daun dan dahan pohon ada yang menjorok ke halaman pondokan, yang berfungsi sebagai peneduh bagi mereka yang sudah usai bermain pingpong di siang bolong.
Sudah lebih dari tiga menit Nurdin berdiri depan jendela dan menempelkan ddaun telinganya. Tetapi suara perempuan yang mendesah manja nan menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Lalu dia pun kembali ke pembaringan dan merebahkan dirinya, namun jiwanya terasa semakin resah dan bertanya-tanya.
‘Kenapa gua doang yang ngedenger suara itu? Fatria kagak. Dan sepertinya gua pernah kenal suara itu. Pernah ngedengernya langsung belum lama ini. Suara siapakah gerangan?”
Ada gonggongan anjing dari halaman belakang pondokan. Gonggongan itu mulanya hanya sesekali seperti sedang mengganggu orang yang sedang lewat. Tetapi lama-lama gonggongan itu menjadi jadi lolongan panjang yang saling bersahutan. Mangalun mendayu-dayu mirip irama orang merintih kesakitan.
‘Kenapa jadi banyak anjing gitu? Perasaan selama di sini, belum pernah gua liat ada anjing liar?’ Nurdin masih kebingungan.
Tak lama kemudian, suara lolongan anjing yang sangat menyayat itu menyatu dengan suara perempuan yang kian jelas di pendengaran Nurdin, memanggil-manggil namanya.
“Maaas Nurdiiin! Maaas, sudah lupakah dirimu padaku, Maas Nurdiiiin…!”
“Hah!” Nurdin segera melompat dari tempat tidurnya. Lalu membuka jendela dalam satu gerakan yang sangat cekatan.
Jantungnya berdetak-detak ketika wajahnya diterpa angin yang berhembus kencang membawa udara dingin. Sekujur tubuhnya merinding, matanya melebar, karena dia tidak menemukan siapa-siapa di luar jendela kamarnya. Padahal suara tadi jelas terdengar dari sana, seakan mulut perempuan itu ditempelkan pada celah jendela supaya Nurdin bisa mendengarnya. Tetapi keadaan di luar justru sangat sepi, lolongan anjing pun menghilang.
“Brengsek!” hardik Nurdin agak keras.
Dia menunggu beberapa saat sengaja tidak menutup kembali jendelanya, membiarkan angin dingin menerpa tubuhnya dan masuk ke kamar. Suara perempuan yang penuh desah menggairahkan itu pun tidak terdengar lagi.
“Sialan!” Kembali Nurdin mengeluh kesal sambil duduk di kursi plastik yang ada di setiap kamar pondokan itu. Lalu menyalakan lampu utama di kamarnya.
Kamar pun menjadi terang. Cermin di depannya menampakkan wajahnya yang sayu. Dan sekian detik kemudian, pintu kamar ada yang mengetuknya dengan lembut. Pelan sekali, seakan pengetuknya sangat berhati-hati supaya suaranya tidak didengar oleh penghuni di kamar yang lainnya.
Nurdin melirik ke arah pintu. Membiarkan ketukan itu terulang beberapa kali. Lalu, dia mendengar kembali suara perempuan di balik pintu.
“Maas, Mas Nurdiiin…!”
Dek!
Jantung Nurdin seketika serasa berhenti berdetak. Dadanya bergemuruh, berkecamuk antara kaget dan senang. Dia teramat kenal dengan pemilik suara lembut penuh desahan manja yang selalu menggairahkan jiwa lelaki yang menderangrnya.
‘Kinanti? Benarkah itu dirimu?’ tanya Nurdin dalam hati sambil beringsut mendekati pintu kamar.
^*^
Nurdin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, namun tidak langsung membukanya.
“Siapa…?” tanyanya untuk memastikan. Dia masih sedikit ragu, walau tahu itu suara Kinanti, namun dia juga merasa suara perempuan yang mengetuk pintu kamarnya itu sama persis dengan suara yang mengganggunya sejak tadi. Kinanti tidak mungkin mengganggunya.
Tapi, karena tidak ada jawaban dari sang pengetuk pintu, Nurdin pun berseru lagi, “Siapa di sana? Jawab dong!”
“Aku, Maaas Nurdiiiin!” Jawaban mendesah lembut nan manja kembali terdengar, namun Nurdin masih meragukannya.
“Aku siapa? Sebutkan namamu!” Nurdin sudah memegangi pegangan pintu walau belum membukanya.
“Aku Kinanti, Maas,” jawab di balik pintu kian mendesah manja.
“Hah, kamu beneran Kinanti?” Mata Nurdin seketika membelalak kaget dan malah makin tidak percaya.
“Beneran Mas Nurdin, kamu sudah lupa ya sama aku….”
“Masa sih kamu Kinanti?” desah Nurdin dengan nada heran yang seheran-herannya.
Nurdin mengenal pemilik nama itu, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau akan datang ke pondokannya. Apalagi lewat tengah malam begini. Nurdin pun merasa tidak pernah memberitahuna tempat tinggalnya, karena dia sadar tidak mungkin Kinanti mau datang jika pun dia tahu.
Namun akhirnya dia bergegas membukakan pintu setelah sadar, bahwa suara yang sejak tadi memanggilnya itu memang suara sang bidadari yang sangat dinantikannya.
“Selamat datang, Say……!” kata Nurdin seraya membukakan pintu namun terputus.
“Hah…!” Dia melanjutkan dengan berseru kaget. Jantungnya berdetak kencang karena ternyata di luar kamar, tidak dia temukan Kinanti, bahkan tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hanya embusan angin yang dirasakannya begitu dingin dan membuat tubuhnya merinding lagi.
Dalam keadaan bingung dan berdebar-debar, Nurdin masih menyempatkan diri berpaling ke kanan dan kiri, mencari Kinanti yang menurutnya bersembunyi. Tapi, tak terlihat bayangan atau kelebatan sosok seseorang yang bersembunyi.
‘Di kamar mandi kan?’ Tak mungkin. Kamar mandi terlalu jauh dari kamar Nurdin. Jika seseorang berlari dan akan besembunyi di sana, sebelum sempat masuk, pasti Nurdin sudah melihatnya lebih dulu.
“Kinanti…?” Nurdin mencoba memanggil perempuan yang baru dikenalnya kemarin malam itu. Tetapi, tidak ada jawaban. Dan makin merindinglah sekujur tubuh dia. Semakin resah pula hatinya di sela debaran-debaran rasa yang mulai mencekam.
Setelah ditunggu beberapa menit Kinanti tidak muncul lagi, bahkan bayangannya pun tak terlihat, Nurdin pun segera menutup pintu kamarnya dengan hati yang terus berdebar dan bertanya-tanya. ‘Kemana Kinanti perginya?’
Nurdin menutup pintu kamarnya, namun gerakannya mendadak terhenti. Mata dia menemukan sesuatu yang mencurigakan di lantai tepat di depan pintu kamarnya. Sesuatu yang aneh, namun membuatnya penasaran.
“Kenapa ada kapas?” tanyanya pada diri sendiri. Hati Nurdin semakin galau, kecurigaannya pun kian mengacaukan pikirannnya.
Segumpal kapas jatuh di lantai depan pintu kamarnya. Sedikit bergerak-gerak karena embusan angin malam yang sangat dingin. Ada rasa ingin tahu yang menggelitik hatinya, maka, dia pun segera memungut kapas itu dengan sangat hati-hati.
Ketika tubuh Nurdin membungkuk untuk mengambil kapas itu, tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. Kapas itu pun bergerak, terbang, masuk dengan sendirinya ke dalam kamarnya. Gerakan kapas itu sempat membuat Nurdin terperanjat dan sekujur tubuhnya menegang. Pintu lantas dia tutup, dan kapas itu pun dipungutnya kembali. Lalu diperhatikannya benda putih kecil itu dengan seksama.
‘Apakah kapas ini milik Kinanti?’ pikirnya sambil terus mengamat-amati segumpal kapas yang tak lebh besar dari dua jempolnya yang disatukan.
Tiba-tiba ada aroma harum yang menguar dari kapas itu yang sontak mengingatkan Nurdin pada jenis parfum yang baru sekali itu dia temukan. Parfum yang dikenakan Kinanti kemarin malam saat berjumpa dan melayaninya dengan penuh gairah.
“Aneh, mengapa Kinanti tidak muncul lagi? Bukankah ini parfumnya, ini pasti kapan milik dia,” pikir Nurdin setelah beberapa lamanya tidak medengar kembali ketukan pintunya maupunssuara Kinanti.
“Mengapa dia hanya meninggalkan kapas ini? Lalu untuk apa kapas ini? Apakah Kinanti sakit? Apakah dia hanya bermaksud mengingatkan kenangan indah nan menggairahkan yang semalam? Bukankah aku telah berjanji akan menemuinya kembali, tapi bukan malam ini.” Nurdin terus bertanya-tanaya namun juga tertawa kecil sendirian.
Dengan pelan-pelan Nurdin kembali berbaring dengan jantung yang mulai berdebar karena rasa takut. Namun tak lama kemudian menjadi debaran indah nan mamabukan. Kapas itu dia letakkan di samping bantalnya, sehingga harumnya yang lembut masih tercium olehnya. Aroma yang benar-benar kembali membuatnya mendadak mabuk kepayang.
Pikiran Nurdin mulai menerawang pada satu kenangan manis yang diperoleh kemarin malam bersama Kinanti. Kisah itu, sempat pula dia ceritakan kepada Hardi, teman baiknya dalam satu divisi program magang di proyek pembangunan resort raksasa itu. Hardi bahkan sempat tergiur dengan cerita indah Nurdin tentang Kinanti itu.
“Kinanti, kenapa kamu tak kembali, Sayaang,” lenguh Nurdin dalam desahan birahinya.
Malam semakin mengalunkan kesunyian. Dan kesunyian itu kini menaburkan perasaan cemas pada nurani sang lelaki menghsap aroma kapas. Perasaan cemasnya lambat laun membawa desiran indah untuk sebaris kenangan dirinya bersama Kinanti yang tentu saja menjadi kenangan terindah dari semua keindahan yang pernah tercipta sebelumnya.
Bau harum parfum pada kapas yang ada di bantalnya, semakin menggoda angan dan khayalannya pada tataran tingkat dewa. Bidadari bernama Kinanti seakan hadir di antaranya. Khayalan itu terus melembaga dan menumbuh-kembangkan perasaan rindu yang membiru dalam relung sanusabri terdalamnya. Dia ingin segera bertemu dan kembali bercumbu dengan sang bidadari itu.
“Kinantiiii ooooh sssst, aku rindu dan cinta kamu, Sayaaang…..” Nurdin mulai menggeliat dalam gelisah sahwatnya.
Darahnya mulai terbakar angannya sendiri. Nafsunya menghentak-hentakan jantungnya, menuntut suatu perbuatan nyata dari syahwat hewani yang terlanjur datang menyergapnya. Nurdin menjadi sangat bernafsu dan ingin segera bertemu kembali dengan Kinanti untuk memberikan segala kemapuan seksualnya seperti kemarin malam, bahkan lebih.
“Kinantiii, Syaaaangku ooooh…kamu dimana, Saaaayng?” erang Nurdin dari kerinduan yang semakin dalam dan membiru..
Sejurus kemudian, kerinduan itu perlahan menjadi racun pada segenap jiwa sang mahasiswa magang itu. Emosinya meletup-letup tak beraturan. Amarah jiwa itu bukan hanya sekadar luapan gairah bercinta, melainkan gelora bara kebencian dan kesedihan yang semuanya bercampur aduk menjadi satu minda yang sangat menyiksa jiwa.
“Aaaaah….!” Nurdin meremas bantalnya kuat-kuat dengan tubuh yang gemetar.
“Aku maraaah, aaaah sssst aku sangat benci diaaaa, uuuuh..” lenguhnya kembali sambil ditariknya remasan itu hingga robek kain bantalnya. Isinya berhamburan, dan dia terus meremasnya dalam geraman kesakitan yang mengerikan.
“Ooooh kenapaaaa ini….?” Sekujur tubuhnya berkeringat, urat-urat menegang dan gemetaran hingga menggemeletukkan gigi-geriginya dengan sangat kuat. Matanya pun mendelik dalam kepanikan dan kemarahan yang tak terkira.
Perubahan yang terjadi dalam sekejap itu sungguh sangat mengerikan, Namun Nurdin belum menyadarinya. Dia terus menggeram dan mencakar-cakar bantal, napasnya terengah-engah seperti orang habis lari jauh. Matanya menjadi semakin liar. Geramannya berubah menjadi auman menggelegar. Melolong seperti anjing, bahkan mengerang seperti monyet buas yang hendak mengamuk.
Sementara itu, sisa kesadarannya sesekali tumbuh, membuat dia mampu meredam gejala anehnya itu. Dia sempat bertanya dalam hati, ‘Oh my God, kenapa gua jadi begini? kenapa gua benci sama diri gua sendiri?’
Kesadarannya hilang kembali. Nurdin tenggelam lagi dalam amukan emosi jiwa yang tak terkendali. Dia menerjang hingga berguling-guling di ranjangnya. Tangannya mencakar-cakar kasur, membuat sepreinya rusak tercabik-cabik. Bahkan guling pun diremasnya, digigitnya kuat-kuat bagai beruang lapar. Entah berapa lama Nurdin melakukan itu hingga kemudian dia terkulai lemas sambil terengah-engah.
“Apa sebenarnya yang gua alami ini? Oh, kenapa tubuh gua jadi sakit begini?” keluhnya lirih, nyaris tanpa suara.
PLAK…!
“AUUUUUH!” Nurdin tiba-tiba melolong keras kesakitan dan terkejut. Tiba-tiba pula dia memukul kepalanya sendiri dengan sangat kerasnya.
“Oh kenapa dengan tangan kananku?” Nurdin merasa heran, mengapa tangan kanannya bisa bergerak sendiri menampar wajahnya. Bahkan kini tangan itu itu mengejang-ngejang, jarinya membentuk cakar yang kokoh menghadap wajahnya.
“Astaga! Kenapa dengan tangan gau?” Nurdin menjadi tegang dengan mata melotot memandangi tangan kanannya yang sangat aneh. Hanya tangan kanannya. Ya tangan itu sukar untuk dia kendalikan. Nurdin ingin melemaskan otot-otot tangannya itu, namun semua sia-sia.
Dan sekarang tangan kanannya yang membentuk cakar itu bergerak ke atas. Mendekati wajahnya. Nurdin mencoba menghindar dan melawannya, berusaha mengendalikan gerakannya sendiri. Tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba gerakan tangan itu begitu cepat menghampiri wajahnya dan mencakar wajahnyai.
“AAAOOOOOH….!” Nurdin kembali berteriak histeris kesakitan. Namun tidak bisa begitu keras, karena hanya luapan rasa kagetnya saja. Dia masih memandang tangan kanannya dengan mendelik. Tangan itu sepertinya ingin terus bergerak mencakarnya, dan dia berusaha melawan kekuatan aneh yang menggerkan tangan kanannya itu.
“GILAAA…!” Nurdin berteriak keras, semakin ketakutan oleh tangannya sendiri. Dia benar-benar panik, tak mengerti mengapa tangannya bergerak di luar kehendak dan kendalinya.
Sementara itu dari kamar Fatria, teriakan Nurdin terdengar tidak terlalu keras, tapi sangat jelas. Fatria yang belum tertidur jadi curiga. Dia menelengkan telinganya, menyimak suara dari kamar sahabatnya itu, dan dahinya berkerut menandakan perasaan anehnya yang kian bertumpuk.
“Sinting nih, palyboy cap ondel-ondel! Udah hampir jam dua pagi, masih aja teriak-teriak gak karuan. Ada apa sih?” gerutu Fatria kesal.
Suara gaduh dari kamar Nurdin benar-benar mengganggunya, sampai-sampai dia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang, kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Fatria menghentikan langkahnya, ragu-ragu dan berusaha menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang bergelut mengalahkan sesuatu dari kamar Nurdin.
Mulanya Fatria menyangka Nurdin sedang membawa cewek masuk ke kamarnya. Namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Nurdin tidak mirip dengan seseorang yang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi lebih mirip beberapa orang yang sedang bertarung hebat saling beradu pertahanan.
PRANG…!!!
“Hah!” Suara di kamar Nurdin semakin jelas, berisik dan gaduh. Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya sempat membuat Fatria tersentak kaget,
“Aneh. Kenapa gua jadi merinding begini?” gumam Fatria sambil melangkah mendekati pintu kamar Nurdin.
BRAK!
PRANG!
Untuk kesekian kalinya kamar Nurdin mengeluarkan suara keras yang diikuti gedebukan seperti gempa. Sepertinya ada sesuatu yang telah membuat kamar itu menjadi sangat porak poranda.
“AUUUUUUUUUUH!” Nurdin melolong.
“ASTAGA!” Fatria memekin tertahan.
^*^