“Bella Sayang, aku baru tau ternyata tubuh kamu seindah ini,” gumam Zafran sambil masih memandangi Bella di bawahnya.
Ini pertama kalinya Zafran melihat bagian atas tubuh Bella terbuka tanpa balutan pakaian. Dan, tentu saja, pemandangan itu makin menggodanya, makin memancing hasrat lelaki Zafran.
“Om, aku malu.”
“Sayang, kamu gak perlu malu. Ini sangat indah. Aku ... aku makin menginginkan kamu, Bell.”
Zafran mulai menelusuri tiap jengkal kulit tubuh bagian atas Bella dengan bibirnya. Kecupan penuh hasrat yang terus menjelajahi tubuh mulus Bella. Itu membuat Bella menggelinjang tak karuan, sesekali melenguh dan meracaukan nama omnya.
Tak puas sampai di situ, sang pria lantas mulai membuka penutup dada Bella yang terakhir dengan perlahan hingga pemandangan dua bukit kembar milik Bella dapat terlihat jelas oleh Zafran. Begitu menantang dan mengundang Zafran untuk mengubrak-abriknya. Bella sudah menginjak usia dewasa, itu sebabnya ukuran buah dadanya juga sudah terlihat lebih besar.
Tanpa ragu lagi, Zafran langsung menyerbu dada yang menggoda itu. Diciuminya dengan penuh nafsu secara bergantian. Sesekali tangan nakalnya memberikan remasan-remasan kecil di sana. Desahan Bella yang tak lagi bisa tertahan justru membuat Zafran makin bersemangat.
“Emmh, aku suka milik kamu, Sayang.”
“Ouhh ahh, Om. Sshh ah, aku juga suka sentuhan Om, tapi ....”
“Tapi apa, Sayang?”
Bella masih belum melanjutkan kalimatnya.
Sementara itu, Zafran tak bisa menunggu lagi untuk yang lebih. Zafran ingin melucuti semua yang Bella kenakan hingga tubuh gadis itu benar-benar polos tanpa busana di bawahnya. Meski agak enggan, Bella pun tak bisa menghalangi ketika Zafran mulai melepaskan celana bawahan yang Bella pakai sedari tadi bahkan sampai menurunkan celana dalamnya juga. Mungkin saat ini Bella sudah ikut terbuai dan hasratnya menginginkan lebih juga dari Zafran? Bisa jadi.
Bella sungguh terlihat seksi di mata Zafran saat ini. Bagian bawah tubuh Bella membuat milik Zafran makin tak sabar juga. Setelah cukup lama membelai, mengusap lembut dan mencumbui sekujur kaki Bella sampai ciumannya naik ke perut rata Bella dan bagian sensitif milik Bella, Zafran buru-buru melepaskan celananya sendiri. Dari tadi, milik Zafran sudah begitu sesak dan tegang terkurung di dalam sana.
Melihat aksi Zafran, Bella pun mulai tak tenang.
“Om? Om Zaf mau apa?”
“Aku udah gak tahan lagi, Sayang.”
Zafran pun sudah mengeluarkan miliknya. Celananya bahkan sudah berserakan di lantai kamar. Bella sendiri masih begitu enggan melihat milik Zafran.
“Om, jangan. Kita gak bisa sejauh ini.”
“Bella, aku tau ini juga kali pertama buat kamu, Sayang. Aku akan pelan-pelan. Kita akan nikmatin ini. I want you, so bad. I love you, Bell.”
“Tapi, Om Zaf—“
Zafran mendekatkan wajahnya dengan wajah Bella, ia pun berbisik lembut di dekat telinga Bella.
“Tenanglah, Sayang. Aku tau apa yang kamu cemasin. Aku akan pake pengaman, gak akan keluarin apa pun di dalem milik kamu. Kamu gak perlu khawatir. Oke.”
Bella tak bisa berkata apa pun lagi. Ketika Zafran sungguh memulai aksinya menyatukan milik mereka, Bella hanya memejamkan mata sembari agak meringis karena merasakan agak perih di bagian bawahnya. Tangannya pun mencengkeram erat sprei ranjang Zafran dan sesekali berpindah meremat punggung Zafran di atasnya.
Zafran amat memahami yang Bella rasakan.
“Argghh sshh, Bell, kamu akan terbiasa sebentar lagi, Sayang. Percayalah.” Dengan gerakan cepat, bibir Zafran kembali mencumbu bibir Bella untuk sedikit mengalihkan Bella dari rasa sakitnya. Sembari ciuman lembut itu berlangsung, Zafran secara pelan-pelan menggoyangkan miliknya di bawah sana.
Sepertinya Bella pun mulai bisa merasakan sensasi yang berbeda menerpa miliknya.
“Emm, aahh ahss, Om. Enghh...” Desahan Bella kembali lepas begitu taut bibir keduanya terlepas.
“Aaahh, yes, Bella. Eugh, ini sangat nikmat kan, Sayang. Kamu menyukainya, hm?”
Masih sambil memejamkan mata menahan kenikmatannya, Bella memberi anggukan pada Zafran. Zafran pun tersenyum senang.
Selepas itu, keduanya mempercepat tempo permainan mereka. Hanya ada lenguhan, desahan, erangan, juga racauan bersahutan memenuhi kamar apartemen Zafran. Mereka begitu menggila sembari menyerukan nama satu sama lain. Berguling ke sana-kemari, membuat keadaan sprei ranjang Zafran sudah tak berbentuk lagi. Mereka terus berbagi peluh dan kehangatan. Suara decak kecupan Zafran di sekujur tubuh Bella pun sesekali nyaring terdengar. Beberapa tanda merah pun sudah membekas di tubuh mulus Bella. Hanya ada gairah cinta yang makin menggebu malam ini.
Pasangan itu bergulat di ranjang sampai lewat dini hari. Ya, sungguh malam yang panjang. Begitu kali pertama keduanya mencapai puncak dan pelepasan masing-masing, sesuai janjinya, Zafran tak mengeluarkannya di dalam. Ia langsung melepas penyatuan mereka. Namun, puncak pertama saja rasanya belum cukup. Zafran kembali menyerbu Bella hingga gadisnya terlihat amat lelah.
Sekitar pukul dua pagi, mereka baru benar-benar berhenti. Kini, mereka masih berbaring bersama. Zafran mendekap Bella dengan mesra, di bawah satu selimut yang sama. Sesekali, pria itu masih membelai lembut wajah Bella dan memberikan kecupan singkat di kening, pipi, maupun bibir gadis itu. Dalam kemesraan pelukan itu, mereka pun terlibat pembicaraan serius.
“Sayang, aku sangat bahagia malem ini. Aku gak akan pernah lupain malem indah kita ini. Sekarang kita sepasang kekasih. Kamu gadisku, milikku. Kita akan selalu bersama. Makasih untuk malem istimewa ini, Sayang.”
“Em... Om Zafran ... ini—“
“Kenapa, Cantik? Hm?”
“Aku gak ngerti. Gimanapun juga ini salah, ini gak boleh, kan. Kita ini ....”
“No. Ini gak masalah. Cinta kita gak salah. Gak ada cinta yang salah, Sayang.”
“Om tau sendiri, kan. Hubungan kita ini terlalu tabu. Kita ini kerabat. Om adik papa, paman aku. Gimana bisa kita bersama dan terus menjalin hubungan cinta kayak gini?”
“Tapi, kita bahkan udah sejauh ini, kan. Kita udah lewatin malem penuh gairah bersama, gimana bisa kita lupain ini?” Zafran kembali mengecup bibir Bella.
“Aku gak tau, Om. Ini bener-bener rumit,” sahut Bella sembari menahan dada bidang Zafran yang masih tanpa busana agar pria itu tak memberinya kecupan lagi.
“Hey, Sayang... kamu harus tau sesuatu, Bella. Sebenernya cinta kita memang gak sepenuhnya salah dan terlarang. Kita gak punya hubungan darah, Bell. Jadi, bukan masalah besar kalo kita saling mencintai seperti ini.”
“A-apa? Gimana mungkin, Om? Om itu adik papa.”
“Itu mungkin, Sayang. Ya, selama ini kamu memang tau aku sebagai om kamu, adik papa kamu. Tapi, sebenernya, aku ini hanya adik angkat Mas Zadik, bukan adik kandungnya.”
“Ha? Maksud Om?”
“Iya, Sayang. Dulu, aku diadopsi sama keluarga Mas Zadik, diangkat jadi adik Mas Zadik. Jadi, intinya, aku gak punya ikatan darah sama kamu, papa kamu, ataupun keluarga besar kamu.” Akhirnya, Zafran memberitahu segalanya pada Bella perihal yang belum Bella tahu sedari Bella kecil.
“Om Zaf, ini serius? Om gak bercanda?”
“Memang kenyataannya begitu, Sayang. Kamu bisa tanyain juga ke papa kamu kalo kamu belum percaya sama aku.”
“Jadi kita—“
“Ya. Kita gak salah, kita berhak punya cinta dan hubungan ini. Dan aku mau pertahanin cinta kita sampe kapan pun. Karena aku sangat mencintai kamu, Sayang.”
Bella terpejam begitu Zafran kembali mengecup keningnya. Entahlah, apa kenyataan ini benar-benar bisa menjadi kabar baik bagi asmara mereka.
“Om, meski begitu, belum tentu papa akan mudah setuju sama hubungan kita, kan.”
“Soal itu, kamu tenang aja, ya. Gak perlu pusing mikirin itu. Biar aku yang urus. Aku yang akan coba bicara dan yakinin Mas Zadik. Yang terpenting mulai sekarang kita harus selalu bersama.”
Zafran mengeratkan dekapannya. Mereka pun mulai sama-sama terlelap.
Sekitar pukul enam pagi, Zafran terbangun. Setelah mengerjapkan mata sejenak dan menoleh ke sampingnya, pria itu tersenyum mendapati gadisnya masih tertidur lelap. Mereka berdua masih polos tanpa sehelai busana pun. Hanya bertutup satu selimut.
Zafran membelai pipi Bella lembut dengan jemarinya. Baginya, Bella bahkan tetap terlihat sangat manis meski sedang tertidur seperti sekarang. Pikiran pria itu melayang ke kejadian semalam. Ia mengingat bagaimana malam panas mereka berlangsung. Dan, ini adalah hari pertama mereka setelah om dan keponakan itu memutuskan untuk benar-benar menjalin asmara.
Satu kecupan lembut Zafran berikan pada kening Bella. Bahkan, lagi-lagi, Zafran tak bisa menahan diri dari godaan bibir Bella yang selalu terlihat seksi di matanya. Langsung saja, pria itu mendaratkan ciuman berikutnya pada bibir itu. Ketika bibir mereka bersentuhan, Bella tampak melakukan pergerakan. Sepertinya tidur gadis itu terusik karena kelakuan Zafran.
“Eugh,” lenguh Bella.
Begitu Bella membuka mata, ia bisa melihat omnya tengah menikmati kecupan dengan bibirnya. Zafran pun menyadari kalau Bella sudah terbangun. Ciumannya terhenti.
“Om ....”
“Morning, Bella. Sorry kalo aku ganggu tidur kamu. I just want to have ... morning kiss.” Setelah berkata demikian, Zafran kembali mencecap bibir Bella. Dan, kali ini, Bella terlihat sedikit memberikan balasan.
Tak begitu lama. Zafran menghentikan ciumannya lagi dan beralih menatap Bella lekat-lekat sambil tersenyum.
“Om Zaf—“
“Bell, semalem rasanya begitu menyenangkan, bukan? Sekarang kita saling memiliki.”
“Aku masih gak nyangka kalo kita bisa sampe sejauh ini, Om.”
“I know. But, ini nyata, Sayang. Karena kita saling mencintai. Kamu berangkat ke kampus jam berapa hari ini?” tanya Zafran sambil sesekali mengecup pipi Bella dengan mesra.
“Aku gak ke kampus, Om. Hari ini aku gak ada jadwal kelas.”
“Ah, begitu, ya. Bagus, dong. Pas banget. Jadi, kita bisa punya quality time berdua seharian ini. Sekaligus buat rayain hubungan baru kita. Ya, kan.”
“Maksud Om?”
“Ya, Sayang. Kita bisa habisin waktu berdua seharian ini, em, jalan-jalan ke manapun kamu mau, atau lakuin apa pun berdua di rumah. Hanya kita.”
“Memang Om Zafran hari ini gak pergi ke kantor?”
Zafran menggeleng. “Aku gak ke kantor dulu. Lagian aku gak terlalu sibuk di sana hari ini. Aku masih pengin lebih lama berduaan sama kamu.”
“Emang gapapa, ya?”
“Gak masalah, Cantik. Itu kantor aku, kan. Aku bebas mau ke sana atau gak. Aku bisa tetep pantau kerjaan para pegawai aku dari jauh.”
“Hm begitu. Baiklah, Om.”
“Jadi, Sayangku mau jalan-jalan ke mana? Ada ide?”
“Uhm entahlah, Om. Terserah Om aja, kan Om Zaf yang ajak.”
“Okelah, terserah aku nih, ya. Hm, akan aku pikirin nanti. Ini masih terlalu pagi, kan. Kita bisa tidur sebentar lagi. Aku tau semalem pasti juga sangat melelahkan buat kamu. Aku juga masih ngantuk.”
Zafran kembali mendekap erat tubuh Bella dalam pembaringannya. Mengajak Bella kembali terlelap.
***
Agak siangan, mereka baru kembali terbangun. Sesuai rencana, setelah sarapan nanti mereka akan langsung pergi jalan-jalan.
Niat hati Bella ingin mandi dengan tenang. Namun, gadis itu terkejut begitu Zafran ikut menyusulnya di kamar mandi. Pria itu bisa melihat tubuh polos Bella lagi yang sedang berendam dalam bathub. Sedangkan Zafran sendiri kini masih mengenakan piyama mandinya.
“Eh, Om. Om nga-ngapain di sini juga?”
“Ngapain lagi? Jelas mau mandi juga lah, Sayang. Aku juga belum mandi.” Zafran mulai melepas kain yang menutup tubuhnya tadi.
“Eh eh. Kenapa di sini juga?”
“Loh, ini kamar mandi siapa? Aku biasa mandi di sini tiap hari. Ini kamar mandi kamar aku, kan. Atau kamu yang lupa?”
“Ah, i-iya aku tau, Om. Tapi, karena aku tidur di kamar Om, makanya sekalian mau mandi di sini. Biar gak jauh-jauh. Kalo Om Zaf mau mandi, ntar bisa gantian aja kan, Om. Aku gak akan lama, kok. Janji. Atau Om Zafran bisa pake kamar mandi di kamar aku dulu.”
“Tapi aku maunya di sini, Bella. Gak masalah, ngapain gantian juga? Kita bisa mandi bareng, kan.”
“Eh, tapi aku malu, Om.” Bahkan sedari tadi Bella masih menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya di sana.
Zafran terkekeh mendengar sahutan Bella barusan.
“Astaga, aku makin gemes deh sama kamu. Kenapa kamu mesti malu, hm? Apa kamu lupa? Semalem bahkan aku udah lihat semuanya, kan.”
“Ya... ya tapi kan, Om—“
“Ssttt, udah, gak usah banyak protes. Kita harus bergegas mandi kan, katanya setelah ini kita mau jalan-jalan,” seru Zafran sambil tanpa basa-basi langsung masuk ke bathub juga.
Mereka akhirnya berendam berdua di bathub.
Nyatanya, mereka tak akan bisa bergegas. Sebab Zafran tentunya tak bisa melewatkan momennya. Ia kembali mencari kesempatan. Dengan gerakan cepat, Zafran membuat posisi Bella ada di pangkuannya. Bella benar-benar gugup. Ya, meskipun semalam mereka sudah beradegan yang lebih panas tetap saja itu baru sekali dan pertama kalinya. Itulah sebabnya, Bella belum bisa sungguh terbiasa seintens ini dengan Zafran.
“Kenapa, Sayang?” tanya Zafran melihat Bella yang kikuk.
Bella hanya menggeleng.
“Kamu itu selalu bisa bikin aku makin gemes sama kamu, Sayang.”
“Om—“
“Hmm?”
“Buruan mandinya, katanya tadi kita mesti bergegas.”
“Em, ya. Tapi, bisa kan kalo aku tarik kata-kata aku tadi, sebentar aja.”
“Eh—“
Zafran mulai mengecupi leher Bella yang berada dalam pangkuannya. Pria itu memang amat sulit menahan diri. Tangannya tak mau ketinggalan, diusapnya setiap jengkal tubuh Bella dalam air dengan penuh hasrat.
“Om, aahh.”
“Aku akan bantu kamu mandi, Sayang.” Suara Zafran bahkan sudah lebih serak.
Adegan intim kembali terjadi. Kali ini sensasinya mungkin agak berbeda karena mereka melakukannya sambil berendam dalam air.
“Sayang, kamu buat milik aku bangun lagi.”
Zafran mulai mengusap area sensitif milik Bella.
“Emhh, ah ahh Om mau apa? Punyaku bahkan masih kerasa sakit karena Om semalem.”
“Gak akan lama, Sayang. Sebentar aja, dan aku akan pelan-pelan. Kamu bisa lebih terbiasa setelah ini.”
Milik mereka kembali menyatu seperti semalam. Begitu intim. Desahan dan erangan yang sama seperti seisi kamar kemarin kini mengisi kamar mandi.
Setelah kemesraan penuh hasrat di dalam bathub, mereka berdua melanjutkan adegan yang lebih erotis di bawah guyuran shower.
“Eugghh, Om.”
“Sayanghh argghh, ini sangat menyenangkan. Aku ketagihan sentuh kamu sepertinya. Engghh.”
“Ah ahh Om Zaf, kita udah terlalu lama di sini. Bisa-bisa kita kedinginan nanti. Cukup, ya, Om. Emmhh.”
“Hahh, baiklah Sayang. Kita bisa sambung lain waktu. Ayo kita keringin badan dan ganti pakaian sekarang.”
Selesai dari shower, Zafran langsung menggendong Bella untuk kembali ke kamar.