Bab 1

Rasa yang salah. Atau orang yang dituju sang rasa kiranya kurang tepat. Haruskah ini terjadi? Gadis 20 tahun yang kerap disapa Bella itu yang kini tengah dibelenggu dilema. Ada sebuah perasaan yang mungkin bisa ia katakan sebagai rasa yang terlarang, menghinggapi dirinya. Yang orang-orang bilang namanya jatuh cinta. Tentunya, ini cinta yang nyata. Bukan sekadar cinta monyet anak-anak remaja, sebab usia gadis itu pun kini sudah bukan di rentang itu lagi. Namun, yang Bella sendiri tak habis pikir, mengapa mesti cinta terlarang yang ia rasakan?

Semuanya berawal dari kepergian papanya untuk perjalanan bisnis ke luar kota dalam waktu yang terbilang cukup lama. Bella adalah anak satu-satunya, terlebih ia sudah ditinggal tiada sang mama sejak masih usia kanak-kanak. Oleh karena itu, Zadik—papa Bella—amat sangat menyayangi buah hati tunggalnya itu. Zadik tak bisa tenang meninggalkan Bella sendirian di rumah megah mereka, sekalipun di rumah itu masih ada pembantu dan Bella sudah mahasiswa, bukan anak kecil lagi.

Akhirnya, Zadik meminta Bella untuk tinggal bersama adik papa Bella—paman Bella—yang bernama Zafran. Kebetulan, adik Zadik itu baru pindah ke kota ini setelah lama tinggal di luar kota. Zafran adalah pria lajang berusia 33 tahun. Ya, terlihat sangat timpang dengan sang kakak yang bahkan sudah memiliki putri yang hampir dewasa, Zafran justru belum memikirkan soal tambatan hati sampai detik ini.

Jadilah, Bella diajak tinggal bersama Zafran di apartemennya untuk sementara waktu. Sebenarnya Zafran bahkan juga sudah memiliki rumah sendiri di kota ini, tetapi ia lebih memilih tinggal di apartemen agar lebih dekat dengan kantornya. Kali pertama perjumpaan Zafran dan Bella setelah sekian lama, keduanya terlihat sama-sama terkejut, sama-sama pangling. Maklum, terakhir kali mereka bertemu dulu ketika Bella masih anak-anak. Zafran tak menyangka kini sang keponakan sudah tumbuh sedewasa ini, menjadi mahasiswa yang cantik dan manis. Postur tubuh yang tak terlalu tinggi membuatnya terlihat lebih imut. Kulitnya putih bersih, dengan berat badan cukup proporsional, juga rambut lurus panjang yang makin menambah anggunnya. Bella sendiri juga cukup mengagumi omnya yang terlihat makin tampan di usianya yang makin bertambah. Apalagi dengan tubuh kekarnya dan gayanya yang selalu terlihat keren.

Selama beberapa hari tinggal bersama, Zafran benar-benar mencurahkan perhatiannya untuk Bella. Ia berusaha menyayangi Bella selayaknya bagaimana Zadik sayang padanya agar Bella tak sampai begitu merindukan sang ayah. Meskipun Zafran punya kesibukannya sendiri, ia tetap meluangkan waktu untuk bicara dengan keponakannya. Zafran juga beberapa kali menyempatkan mengantar jemput Bella ke kampusnya. Mereka bahkan jadi sering berbagi candaan berdua. Di saat Bella terlihat bosan, Zafran selalu siap mengajak Bella jalan-jalan ke manapun, entah sambil belanja di mall, sekadar menikmati suasana taman, bahkan menonton film di bioskop. Mereka makin hari makin dekat dan akrab. Memang ini yang Zafran inginkan. Ia tak ingin keponakannya merasa canggung ketika bersamanya sekalipun mereka sempat terpisah jarak dan waktu cukup lama.

Namun, lambat laun, kebersamaan mereka, juga perhatian-perhatian Zafran selama ini justru membuat Bella memiliki perasaan yang tidak seharusnya ada. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada omnya sendiri? Awalnya, Bella pikir ini hanyalah distraksi rasa sesaat akibat intensitas kedekatannya dengan Zafran, tetapi nyatanya, seiring waktu terus berlalu, maunya ia halau rasa itu, tetap saja tak mampu. Rasa hatinya semakin menjadi-jadi. Ia merasa ingin selalu dekat dengan Zafran, tak tahan terlalu lama jauh darinya, bahkan ia berharap Zafran juga bisa sayang padanya lebih dari sekadar kepada keponakan. Padahal, Bella sendiri sadar, tentunya amat mustahil rasanya bisa berbalas dan berjalan mulus. Ini konyol, ini aneh, ini tidak boleh, sungguh-sungguh terlarang.

***

Entah bagaimana, keberanian Bella mendorong tekadnya untuk menyatakan cintanya pada Zafran. Ia tak sanggup lebih lama menahan ini sendiri. Pikirnya, setidaknya ia sudah bilang. Urusan bagaimana reaksi Zafran dan apa yang akan terjadi nanti akibat pernyataan Bella ini bisa dipikir belakangan.

Kebetulan, malam ini Zafran mengecek Bella di kamarnya. Niat hati sekaligus ingin pamit keluar sebentar untuk bertemu kawannya karena ia sudah punya janji.

“Bella, om tinggal sebentar gapapa, ya. Om ada janji ketemu temen.”

“Temen cewek?”

“Gak. Mereka pria.”

“Oh, oke.”

“Kalo ada apa-apa, langsung telepon om aja, ya.”

Bella mengangguk.

Zafran sudah hampir keluar dari kamar Bella, tetapi tiba-tiba Bella mencegahnya ketika Zafran berada di dekat pintu. Bella pun beranjak dari kasurnya dan mendekat ke arah Zafran.

“Tunggu, Om.”

“Ya, ada apa, Bell?”

“Em, aku ... aku sayang sama Om.”

Zafran tersenyum. “Om juga sayang sama kamu, Bella,” sahutnya sembari sedikit mengacak rambut Bella.

“Om, bukan begitu. Maksud aku ... aku sayang sama Om Zaf lebih dari itu. Bukan sebagai kerabat. Aku jatuh cinta sama Om.”

“Haha, astaga, Bella. Kamu mulai nakal, ya, mau ngerjain om. Kenapa bercanda kayak gini?” Zafran masih menganggap omongan Bella tak serius.

“Om Zaf, aku serius, gak bercanda. Aku sungguh-sungguh punya perasaan itu buat Om. Aku mencintai Om sebagai lawan jenis. Aku punya keinginan bisa menjalin hubungan yang lebih sama Om. Jadi kekasih Om.”

Ekspresi Zafran berubah serius, pria itu kini sungguh terkejut. Antara syok dan tak habis pikir.

“Bell, kamu tau itu gak mungkin, kan? Om kerabat kamu, adik papa kamu. Mana mungkin kita—“

“Ya, aku sadar ini gak mungkin. Aku juga gak tau kenapa bisa-bisanya aku ngerasain ini. Kenapa harus ke Om Zaf. Ini memang mustahil. Aku bahkan udah duga, Om pasti bakal seterkejut ini. Aku hanya gak tahan terus simpen ini sendiri, Om. Aku pengin kasih tau Om Zaf.” Bella sudah sampai berkaca-kaca, tangis kecilnya pun mulai mengalir.

“Bella... kamu—“

Bella menggeleng cepat. “Gak. Aku gapapa, Om. Maaf, aku udah buang waktu Om dengan bicarain omong kosong kayak gini. Om bisa lupain aja, gak perlu dipikirin. Aku gak akan bahas ini lagi sama Om. Yang penting, seenggaknya aku udah bilang sama Om, aku gak terlalu tersiksa lagi. Maaf Om Zaf. Om bisa pergi sekarang.” Bela menyeka air matanya, lantas sedikit mendorong Zafran keluar dan langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Sedangkan Zafran sendiri saat ini sungguh tak bisa berkata-kata lagi.

***

Pernyataan cinta dari Bella membuat Zafran terus kepikiran. Meskipun mereka sudah sepakat tak lagi membahas itu, tetap saja rasanya berbeda. Mereka jadi tak bisa seakrab biasanya, bahkan lebih ke arah canggung. Bella jadi tak begitu ceria seperti sebelumnya, ia lebih suka menyendiri. Bisa dibilang mungkin Bella memang sengaja menghindari kontak yang lebih intens dengan Zafran agar perasaan cintanya tak lebih berkembang, bisa segera lenyap. Dan, di saat sikap Bella menunjukkan perubahan seperti itu, Zafran justru merasa seperti ada yang hilang dari dunianya. Ia rindu keceriaan Bella, canda dan tawa renyah mereka, juga manjanya Bella padanya.

Kontak mereka sekarang begitu jarang. Bahkan, meski tinggal satu atap, mereka tak bisa saling sapa terkecuali karena memang ada masalah penting. Jujur saja, Zafran tak suka dengan perubahan Bella.

Butuh hampir satu bulan sampai Zafran akhirnya mulai merasakan percikan-percikan berbeda dalam hatinya juga. Bahkan, melihat Bella yang tengah tertidur dengan pakaian minim pun kini mudah menggoda hasratnya. Terlebih, Zafran adalah pria dewasa yang begitu kesepian tanpa tambatan hati selama ini sampai usianya 33 tahun sekarang ini. Namun, rasa Zafran kepada Bella tentunya bukan sebatas tergoda hasrat laki-lakinya saja. Nyatanya, Zafran juga ingin bersama Bella lebih lama lagi. Hatinya begitu terusik ketika melihat Bella merasa sakit. Ia tak suka Bella sedih dan menangis. Ia ingin menjadi pria yang bisa membuat Bella selalu tersenyum. Baginya, mungkin ini cukup dikatakan sebagai jatuh cinta juga. Ya, apa-apaan ini? Perasaan terlarang Bella akhirnya berbalas juga oleh cinta Zafran.

Lain dengan Bella yang sebelumnya mesti dilema dulu untuk mengungkapkan cintanya, Zafran lebih mudah menumbuhkan tekadnya. Terlebih, memang ada suatu hal yang sebenarnya sudah Zafran tahu sejak lama, dan itu ia pikir akan membuat cinta mereka tak sepenuhnya salah dan terlarang.

***

Malam ini, Bella pulang cukup larut, bahkan tanpa mengatakan pada Zafran lebih dahulu ke mana ia pergi. Sampai-sampai sedari tadi Zafran kelimpungan mencari dan menunggu Bella yang tak pulang-pulang.

“Bella? Astaga, kamu baru pulang? Kamu pergi ke mana aja? Ke mana ponsel kamu, ha? Om gak bisa hubungin kamu dari tadi,” cecar Zafran dengan raut dan nada khawatirnya.

“Maaf, Om. Pulang kampus tadi, aku langsung pergi sama temen-temen. Diajakin jalan sama mereka. Ponsel aku lowbat.”

“Seenggaknya kamu sebelumnya bisa kasih tau om dulu, kan. Atau kamu bisa pinjem ponsel temen kamu sebentar buat kabarin om. Om cemas dari tadi nungguin kamu, Bell.”

“Maaf. Lain kali aku akan kabarin Om Zaf dulu.” Bella hendak berlalu ke kamarnya.

Dengan sigap, Zafran mencegahnya dengan menarik tangan Bella.

“Bell, om sayang kamu.”

“Aku tau itu. Makanya Om cemas karena aku pulang telat.”

Zafran lebih mendekat, kini mereka berhadapan. Zafran meraih kedua bahu Bella dengan lembut sambil menatap wajah Bella begitu lekat.

“Gak, Bella. Selama ini om memang selalu sayang sama kamu sebagai om kamu. Tapi, sekarang ini, rasa sayang itu udah lebih. Om juga punya rasa itu buat kamu, Bella. Seperti yang kamu pernah ungkapin ke om. Om sadar, saat ini, om juga mencintai kamu.”

“A-apa? Maksud Om?”

“Ya, Bella. Om jatuh cinta juga sama kamu. Om ingin ... aku ingin kita terus sama-sama. Punya hubungan lebih. Jadilah kekasihku, Bella,” ujar Zafran serius sembari mengusap lembut pipi Bella dengan jemarinya.

“Om Zaf, ini—“ Bella bahkan masih tak mengira kalau hal seperti ini akan terjadi juga.

“Aku serius, Sayang. I love you, Bell.”

Tanpa ragu, Zafran mulai memberikan kecupan di bibir Bella. Rasanya manis dan lembut. Baru kali ini Zafran bisa merasakan sentuhan bibir seintens itu dengan Bella. Sontak, Bella amat terkejut. Gadis itu mematung begitu mendapat ciuman tiba-tiba dari Zafran. Bahkan, bisa dibilang, Zafran yang telah mengambil ciuman pertamanya.

Cecapan bibir Zafran semakin menuntut, pria itu terus menahan wajah Bella tetap berada di dekatnya. Sembari terus menikmati ciumannya, Zafran mulai menggendong tubuh gadis itu dan membawa Bella masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar Zafran, pria itu perlahan membaringkan Bella di atas ranjang. Taut bibir mereka pun terlepas. Kemudian, Zafran justru mulai melepas satu per satu kancing kemejanya sendiri.

“Om Zaf?” cicit Bella.

Setelah ia menanggalkan kemejanya, Zafran kembali menindih Bella. Wajah keduanya begitu dekat.

“Kenapa, Sayang?”

“Om, kita harusnya gak—“

“Apa? Gapapa, Sayang. Aku mencintai kamu, Bella. Kamu juga masih punya rasa yang sama, kan?” ucap Zafran sembari menelusuri tiap jengkal wajah Bella dengan sapuan lembut jemarinya.

“I-iya. Tapi, Om—“

“Sstt. Cukup kita nikmati dulu malem ini. Ini akan jadi malem yang indah, karena ini awal hubungan baru kita. Sayang, mulai saat ini, aku milik kamu dan kamu hanya milik aku.”

Seusai ucapannya, Zafran langsung mengecupi leher Bella dengan penuh hasrat. Bella tak bisa mengungkapkan sensasi yang ia rasakan sekarang. Gadis itu hanya memejamkan mata, mencoba ikut menikmati perlakuan Zafran, sembari sesekali mengeluarkan desahannya.

“Aahh ssshh, Om.”

Tentu saja, Zafran ingin lebih dari ini. Tangannya mulai meraih pakaian yang Bella kenakan, hendak segera melucutinya seiring ciuman panasnya yang belum berhenti.

“Om Zaf, aku—“

“Hmm? Arghh, ayolah Bella.”

Zafran pria dewasa yang baru saat ini berkesempatan menyentuh wanita. Dan, memang beginilah Zafran. Sentuhan fisik adalah bahasa cintanya. Ini akan jadi malam yang panjang untuk Zafran dan Bella.

Tanpa berlama-lama, Zafran sudah berhasil melepas pakaian Bella dan melemparnya begitu saja ke sembarang arah. Sepertinya pria ini memang sudah sangat tidak sabar untuk mendapatkan yang lebih.

Bab 2

“Bella Sayang, aku baru tau ternyata tubuh kamu seindah ini,” gumam Zafran sambil masih memandangi Bella di bawahnya.

Ini pertama kalinya Zafran melihat bagian atas tubuh Bella terbuka tanpa balutan pakaian. Dan, tentu saja, pemandangan itu makin menggodanya, makin memancing hasrat lelaki Zafran.

“Om, aku malu.”

“Sayang, kamu gak perlu malu. Ini sangat indah. Aku ... aku makin menginginkan kamu, Bell.”

Zafran mulai menelusuri tiap jengkal kulit tubuh bagian atas Bella dengan bibirnya. Kecupan penuh hasrat yang terus menjelajahi tubuh mulus Bella. Itu membuat Bella menggelinjang tak karuan, sesekali melenguh dan meracaukan nama omnya.

Tak puas sampai di situ, sang pria lantas mulai membuka penutup dada Bella yang terakhir dengan perlahan hingga pemandangan dua bukit kembar milik Bella dapat terlihat jelas oleh Zafran. Begitu menantang dan mengundang Zafran untuk mengubrak-abriknya. Bella sudah menginjak usia dewasa, itu sebabnya ukuran buah dadanya juga sudah terlihat lebih besar.

Tanpa ragu lagi, Zafran langsung menyerbu dada yang menggoda itu. Diciuminya dengan penuh nafsu secara bergantian. Sesekali tangan nakalnya memberikan remasan-remasan kecil di sana. Desahan Bella yang tak lagi bisa tertahan justru membuat Zafran makin bersemangat.

“Emmh, aku suka milik kamu, Sayang.”

“Ouhh ahh, Om. Sshh ah, aku juga suka sentuhan Om, tapi ....”

“Tapi apa, Sayang?”

Bella masih belum melanjutkan kalimatnya.

Sementara itu, Zafran tak bisa menunggu lagi untuk yang lebih. Zafran ingin melucuti semua yang Bella kenakan hingga tubuh gadis itu benar-benar polos tanpa busana di bawahnya. Meski agak enggan, Bella pun tak bisa menghalangi ketika Zafran mulai melepaskan celana bawahan yang Bella pakai sedari tadi bahkan sampai menurunkan celana dalamnya juga. Mungkin saat ini Bella sudah ikut terbuai dan hasratnya menginginkan lebih juga dari Zafran? Bisa jadi.

Bella sungguh terlihat seksi di mata Zafran saat ini. Bagian bawah tubuh Bella membuat milik Zafran makin tak sabar juga. Setelah cukup lama membelai, mengusap lembut dan mencumbui sekujur kaki Bella sampai ciumannya naik ke perut rata Bella dan bagian sensitif milik Bella, Zafran buru-buru melepaskan celananya sendiri. Dari tadi, milik Zafran sudah begitu sesak dan tegang terkurung di dalam sana.

Melihat aksi Zafran, Bella pun mulai tak tenang.

“Om? Om Zaf mau apa?”

“Aku udah gak tahan lagi, Sayang.”

Zafran pun sudah mengeluarkan miliknya. Celananya bahkan sudah berserakan di lantai kamar. Bella sendiri masih begitu enggan melihat milik Zafran.

“Om, jangan. Kita gak bisa sejauh ini.”

“Bella, aku tau ini juga kali pertama buat kamu, Sayang. Aku akan pelan-pelan. Kita akan nikmatin ini. I want you, so bad. I love you, Bell.”

“Tapi, Om Zaf—“

Zafran mendekatkan wajahnya dengan wajah Bella, ia pun berbisik lembut di dekat telinga Bella.

“Tenanglah, Sayang. Aku tau apa yang kamu cemasin. Aku akan pake pengaman, gak akan keluarin apa pun di dalem milik kamu. Kamu gak perlu khawatir. Oke.”

Bella tak bisa berkata apa pun lagi. Ketika Zafran sungguh memulai aksinya menyatukan milik mereka, Bella hanya memejamkan mata sembari agak meringis karena merasakan agak perih di bagian bawahnya. Tangannya pun mencengkeram erat sprei ranjang Zafran dan sesekali berpindah meremat punggung Zafran di atasnya.

Zafran amat memahami yang Bella rasakan.

“Argghh sshh, Bell, kamu akan terbiasa sebentar lagi, Sayang. Percayalah.” Dengan gerakan cepat, bibir Zafran kembali mencumbu bibir Bella untuk sedikit mengalihkan Bella dari rasa sakitnya. Sembari ciuman lembut itu berlangsung, Zafran secara pelan-pelan menggoyangkan miliknya di bawah sana.

Sepertinya Bella pun mulai bisa merasakan sensasi yang berbeda menerpa miliknya.

“Emm, aahh ahss, Om. Enghh...” Desahan Bella kembali lepas begitu taut bibir keduanya terlepas.

“Aaahh, yes, Bella. Eugh, ini sangat nikmat kan, Sayang. Kamu menyukainya, hm?”

Masih sambil memejamkan mata menahan kenikmatannya, Bella memberi anggukan pada Zafran. Zafran pun tersenyum senang.

Selepas itu, keduanya mempercepat tempo permainan mereka. Hanya ada lenguhan, desahan, erangan, juga racauan bersahutan memenuhi kamar apartemen Zafran. Mereka begitu menggila sembari menyerukan nama satu sama lain. Berguling ke sana-kemari, membuat keadaan sprei ranjang Zafran sudah tak berbentuk lagi. Mereka terus berbagi peluh dan kehangatan. Suara decak kecupan Zafran di sekujur tubuh Bella pun sesekali nyaring terdengar. Beberapa tanda merah pun sudah membekas di tubuh mulus Bella. Hanya ada gairah cinta yang makin menggebu malam ini.

Pasangan itu bergulat di ranjang sampai lewat dini hari. Ya, sungguh malam yang panjang. Begitu kali pertama keduanya mencapai puncak dan pelepasan masing-masing, sesuai janjinya, Zafran tak mengeluarkannya di dalam. Ia langsung melepas penyatuan mereka. Namun, puncak pertama saja rasanya belum cukup. Zafran kembali menyerbu Bella hingga gadisnya terlihat amat lelah.

Sekitar pukul dua pagi, mereka baru benar-benar berhenti. Kini, mereka masih berbaring bersama. Zafran mendekap Bella dengan mesra, di bawah satu selimut yang sama. Sesekali, pria itu masih membelai lembut wajah Bella dan memberikan kecupan singkat di kening, pipi, maupun bibir gadis itu. Dalam kemesraan pelukan itu, mereka pun terlibat pembicaraan serius.

“Sayang, aku sangat bahagia malem ini. Aku gak akan pernah lupain malem indah kita ini. Sekarang kita sepasang kekasih. Kamu gadisku, milikku. Kita akan selalu bersama. Makasih untuk malem istimewa ini, Sayang.”

“Em... Om Zafran ... ini—“

“Kenapa, Cantik? Hm?”

“Aku gak ngerti. Gimanapun juga ini salah, ini gak boleh, kan. Kita ini ....”

“No. Ini gak masalah. Cinta kita gak salah. Gak ada cinta yang salah, Sayang.”

“Om tau sendiri, kan. Hubungan kita ini terlalu tabu. Kita ini kerabat. Om adik papa, paman aku. Gimana bisa kita bersama dan terus menjalin hubungan cinta kayak gini?”

“Tapi, kita bahkan udah sejauh ini, kan. Kita udah lewatin malem penuh gairah bersama, gimana bisa kita lupain ini?” Zafran kembali mengecup bibir Bella.

“Aku gak tau, Om. Ini bener-bener rumit,” sahut Bella sembari menahan dada bidang Zafran yang masih tanpa busana agar pria itu tak memberinya kecupan lagi.

“Hey, Sayang... kamu harus tau sesuatu, Bella. Sebenernya cinta kita memang gak sepenuhnya salah dan terlarang. Kita gak punya hubungan darah, Bell. Jadi, bukan masalah besar kalo kita saling mencintai seperti ini.”

“A-apa? Gimana mungkin, Om? Om itu adik papa.”

“Itu mungkin, Sayang. Ya, selama ini kamu memang tau aku sebagai om kamu, adik papa kamu. Tapi, sebenernya, aku ini hanya adik angkat Mas Zadik, bukan adik kandungnya.”

“Ha? Maksud Om?”

“Iya, Sayang. Dulu, aku diadopsi sama keluarga Mas Zadik, diangkat jadi adik Mas Zadik. Jadi, intinya, aku gak punya ikatan darah sama kamu, papa kamu, ataupun keluarga besar kamu.” Akhirnya, Zafran memberitahu segalanya pada Bella perihal yang belum Bella tahu sedari Bella kecil.

“Om Zaf, ini serius? Om gak bercanda?”

“Memang kenyataannya begitu, Sayang. Kamu bisa tanyain juga ke papa kamu kalo kamu belum percaya sama aku.”

“Jadi kita—“

“Ya. Kita gak salah, kita berhak punya cinta dan hubungan ini. Dan aku mau pertahanin cinta kita sampe kapan pun. Karena aku sangat mencintai kamu, Sayang.”

Bella terpejam begitu Zafran kembali mengecup keningnya. Entahlah, apa kenyataan ini benar-benar bisa menjadi kabar baik bagi asmara mereka.

“Om, meski begitu, belum tentu papa akan mudah setuju sama hubungan kita, kan.”

“Soal itu, kamu tenang aja, ya. Gak perlu pusing mikirin itu. Biar aku yang urus. Aku yang akan coba bicara dan yakinin Mas Zadik. Yang terpenting mulai sekarang kita harus selalu bersama.”

Zafran mengeratkan dekapannya. Mereka pun mulai sama-sama terlelap.

Bab 3

Sekitar pukul enam pagi, Zafran terbangun. Setelah mengerjapkan mata sejenak dan menoleh ke sampingnya, pria itu tersenyum mendapati gadisnya masih tertidur lelap. Mereka berdua masih polos tanpa sehelai busana pun. Hanya bertutup satu selimut.

Zafran membelai pipi Bella lembut dengan jemarinya. Baginya, Bella bahkan tetap terlihat sangat manis meski sedang tertidur seperti sekarang. Pikiran pria itu melayang ke kejadian semalam. Ia mengingat bagaimana malam panas mereka berlangsung. Dan, ini adalah hari pertama mereka setelah om dan keponakan itu memutuskan untuk benar-benar menjalin asmara.

Satu kecupan lembut Zafran berikan pada kening Bella. Bahkan, lagi-lagi, Zafran tak bisa menahan diri dari godaan bibir Bella yang selalu terlihat seksi di matanya. Langsung saja, pria itu mendaratkan ciuman berikutnya pada bibir itu. Ketika bibir mereka bersentuhan, Bella tampak melakukan pergerakan. Sepertinya tidur gadis itu terusik karena kelakuan Zafran.

“Eugh,” lenguh Bella.

Begitu Bella membuka mata, ia bisa melihat omnya tengah menikmati kecupan dengan bibirnya. Zafran pun menyadari kalau Bella sudah terbangun. Ciumannya terhenti.

“Om ....”

“Morning, Bella. Sorry kalo aku ganggu tidur kamu. I just want to have ... morning kiss.” Setelah berkata demikian, Zafran kembali mencecap bibir Bella. Dan, kali ini, Bella terlihat sedikit memberikan balasan.

Tak begitu lama. Zafran menghentikan ciumannya lagi dan beralih menatap Bella lekat-lekat sambil tersenyum.

“Om Zaf—“

“Bell, semalem rasanya begitu menyenangkan, bukan? Sekarang kita saling memiliki.”

“Aku masih gak nyangka kalo kita bisa sampe sejauh ini, Om.”

“I know. But, ini nyata, Sayang. Karena kita saling mencintai. Kamu berangkat ke kampus jam berapa hari ini?” tanya Zafran sambil sesekali mengecup pipi Bella dengan mesra.

“Aku gak ke kampus, Om. Hari ini aku gak ada jadwal kelas.”

“Ah, begitu, ya. Bagus, dong. Pas banget. Jadi, kita bisa punya quality time berdua seharian ini. Sekaligus buat rayain hubungan baru kita. Ya, kan.”

“Maksud Om?”

“Ya, Sayang. Kita bisa habisin waktu berdua seharian ini, em, jalan-jalan ke manapun kamu mau, atau lakuin apa pun berdua di rumah. Hanya kita.”

“Memang Om Zafran hari ini gak pergi ke kantor?”

Zafran menggeleng. “Aku gak ke kantor dulu. Lagian aku gak terlalu sibuk di sana hari ini. Aku masih pengin lebih lama berduaan sama kamu.”

“Emang gapapa, ya?”

“Gak masalah, Cantik. Itu kantor aku, kan. Aku bebas mau ke sana atau gak. Aku bisa tetep pantau kerjaan para pegawai aku dari jauh.”

“Hm begitu. Baiklah, Om.”

“Jadi, Sayangku mau jalan-jalan ke mana? Ada ide?”

“Uhm entahlah, Om. Terserah Om aja, kan Om Zaf yang ajak.”

“Okelah, terserah aku nih, ya. Hm, akan aku pikirin nanti. Ini masih terlalu pagi, kan. Kita bisa tidur sebentar lagi. Aku tau semalem pasti juga sangat melelahkan buat kamu. Aku juga masih ngantuk.”

Zafran kembali mendekap erat tubuh Bella dalam pembaringannya. Mengajak Bella kembali terlelap.

***

Agak siangan, mereka baru kembali terbangun. Sesuai rencana, setelah sarapan nanti mereka akan langsung pergi jalan-jalan.

Niat hati Bella ingin mandi dengan tenang. Namun, gadis itu terkejut begitu Zafran ikut menyusulnya di kamar mandi. Pria itu bisa melihat tubuh polos Bella lagi yang sedang berendam dalam bathub. Sedangkan Zafran sendiri kini masih mengenakan piyama mandinya.

“Eh, Om. Om nga-ngapain di sini juga?”

“Ngapain lagi? Jelas mau mandi juga lah, Sayang. Aku juga belum mandi.” Zafran mulai melepas kain yang menutup tubuhnya tadi.

“Eh eh. Kenapa di sini juga?”

“Loh, ini kamar mandi siapa? Aku biasa mandi di sini tiap hari. Ini kamar mandi kamar aku, kan. Atau kamu yang lupa?”

“Ah, i-iya aku tau, Om. Tapi, karena aku tidur di kamar Om, makanya sekalian mau mandi di sini. Biar gak jauh-jauh. Kalo Om Zaf mau mandi, ntar bisa gantian aja kan, Om. Aku gak akan lama, kok. Janji. Atau Om Zafran bisa pake kamar mandi di kamar aku dulu.”

“Tapi aku maunya di sini, Bella. Gak masalah, ngapain gantian juga? Kita bisa mandi bareng, kan.”

“Eh, tapi aku malu, Om.” Bahkan sedari tadi Bella masih menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya di sana.

Zafran terkekeh mendengar sahutan Bella barusan.

“Astaga, aku makin gemes deh sama kamu. Kenapa kamu mesti malu, hm? Apa kamu lupa? Semalem bahkan aku udah lihat semuanya, kan.”

“Ya... ya tapi kan, Om—“

“Ssttt, udah, gak usah banyak protes. Kita harus bergegas mandi kan, katanya setelah ini kita mau jalan-jalan,” seru Zafran sambil tanpa basa-basi langsung masuk ke bathub juga.

Mereka akhirnya berendam berdua di bathub.

Nyatanya, mereka tak akan bisa bergegas. Sebab Zafran tentunya tak bisa melewatkan momennya. Ia kembali mencari kesempatan. Dengan gerakan cepat, Zafran membuat posisi Bella ada di pangkuannya. Bella benar-benar gugup. Ya, meskipun semalam mereka sudah beradegan yang lebih panas tetap saja itu baru sekali dan pertama kalinya. Itulah sebabnya, Bella belum bisa sungguh terbiasa seintens ini dengan Zafran.

“Kenapa, Sayang?” tanya Zafran melihat Bella yang kikuk.

Bella hanya menggeleng.

“Kamu itu selalu bisa bikin aku makin gemes sama kamu, Sayang.”

“Om—“

“Hmm?”

“Buruan mandinya, katanya tadi kita mesti bergegas.”

“Em, ya. Tapi, bisa kan kalo aku tarik kata-kata aku tadi, sebentar aja.”

“Eh—“

Zafran mulai mengecupi leher Bella yang berada dalam pangkuannya. Pria itu memang amat sulit menahan diri. Tangannya tak mau ketinggalan, diusapnya setiap jengkal tubuh Bella dalam air dengan penuh hasrat.

“Om, aahh.”

“Aku akan bantu kamu mandi, Sayang.” Suara Zafran bahkan sudah lebih serak.

Adegan intim kembali terjadi. Kali ini sensasinya mungkin agak berbeda karena mereka melakukannya sambil berendam dalam air.

“Sayang, kamu buat milik aku bangun lagi.”

Zafran mulai mengusap area sensitif milik Bella.

“Emhh, ah ahh Om mau apa? Punyaku bahkan masih kerasa sakit karena Om semalem.”

“Gak akan lama, Sayang. Sebentar aja, dan aku akan pelan-pelan. Kamu bisa lebih terbiasa setelah ini.”

Milik mereka kembali menyatu seperti semalam. Begitu intim. Desahan dan erangan yang sama seperti seisi kamar kemarin kini mengisi kamar mandi.

Setelah kemesraan penuh hasrat di dalam bathub, mereka berdua melanjutkan adegan yang lebih erotis di bawah guyuran shower.

“Eugghh, Om.”

“Sayanghh argghh, ini sangat menyenangkan. Aku ketagihan sentuh kamu sepertinya. Engghh.”

“Ah ahh Om Zaf, kita udah terlalu lama di sini. Bisa-bisa kita kedinginan nanti. Cukup, ya, Om. Emmhh.”

“Hahh, baiklah Sayang. Kita bisa sambung lain waktu. Ayo kita keringin badan dan ganti pakaian sekarang.”

Selesai dari shower, Zafran langsung menggendong Bella untuk kembali ke kamar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED