Bab 1

Pyarr!

Nampan yang berisi secangkir kopi terlepas dengan sendirinya dari tangan Inara. Ingin sekali dia berteriak, tetapi lidahnya terasa kelu.

Manik mata cokelat miliknya seketika melebar ketika menangkap pergerakan dua sosok bayangan di atas sofa sana mampu membuatnya terkejut sekaligus miliknya di bawah sana ikut basah seketika.

Kontan sepasang sejoli yang sedang bermesraan dan saling bertukar saliva di depan sana menoleh ke arah sumber suara dan segera menghentikan aktivitas keduanya.

Raka Deanhan Dhananjaya, lelaki tampan berusia tiga puluh lima tahun yang terkenal dengan sifat angkuh yang dimilikinya. Dia adalah Direktur Utama di sebuah perusahaan tempat Inara bekerja.

Lelaki itu pun segera bangkit dari tubuh sang wanita dengan santainya seperti tak terjadi apa-apa. Baginya, itu sudah menjadi hal biasa, bahkan sering tertangkap basah oleh office girl lainnya sebelum Inara.

Sementara sang wanita yang sempat terlentang di bawah kungkungan Raka segera bangkit berdiri. Ia tampak geram dengan Inara karena begitu saja masuk tanpa permisi mengganggu kesenangannya. Dengan wajah ditekuk kusut, wanita itu segera mengancingkan kemeja yang tadinya memperlihatkan belahan dadanya yang padat berisi untuk sang atasannya dengan suka rela.

Raka mengangkat tangan dan kemudian mengayunkan pelan, ia memberi kode supaya Bella, sang sekretaris segera meninggalkan ruangan.

Bella berjalan menuju pintu keluar sambil menatap Inara dengan tatapan nyalang, ia dengan sengaja menabrakkan tangannya ke lengan gadis itu dengan kasar, sementara Inara hanya bisa tertunduk pasrah dengan perlakuan Bella, wanita cantik itu.

Inara bergeming menundukkan kepala, garis ketakutan membingkai wajahnya. Baginya ini seperti akhir dari segalanya, sudah dipastikan sang atasan akan memecatnya, padahal dia belum genap satu bulan bekerja. Seketika dia menelan saliva dengan susah payah ketika menyadari Raka perlahan berjalan mendekat ke arahnya.

"Ma-maafkan saya, Pak. Sa-saya akan segera membersihkannya." Inara membungkukkan badannya beberapa kali karena merasa bersalah. Secepat kilat ia memutar tubuhnya untuk menghindari kontak mata dengan Raka.

Namun, langkah Inara terhenti ketika tangan kekar Raka menggenggam pergelangan tangannya dan ... mereka berdua pun saling berhadapan. Kini jarak mereka semakin dekat, sorot mata saling bersilang pandang dan hanya ada bayangan Raka yang memenuhi indera penglihatan Inara.

Sumpah demi apapun mata Inara lumpuh seketika, hatinya terasa meleleh ketika melihat wajah Raka yang benar-benar tampan seperti malaikat yang terperangkap dalam wujud manusia, untuk pertama kalinya Inara bertemu lelaki super tampan seperti aktor top dunia yang digandrungi para kaum hawa.

Sedangkan selama hampir satu bulan bekerja, ia tidak pernah berani mengangkat wajahnya ataupun sekedar untuk melirik sekilas wajah Raka.

Mata Inara kian membesar ketika menatap isi di balik kemeja lelaki itu yang terbuka lebar sehingga memperlihatkan lekukan tegas otot tubuh Raka yang atletis, dilapisi bulu-bulu halus yang jarang. Seketika pipinya memanas yang ternyata isi di balik kemeja itu mampu membuatnya menggila.

"Apakah nyaman bersandar di sana." Sadar, secepat kilat ia segera menepis bayangan terkutuk yang mulai meracuni pikirannya. 'Ah, Ra. Kamu berpikir apa sih? Dia itu lelaki yang doyan main perempuan,' batin Inara merutuki dirinya sendiri

Namun, tetap saja, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Raka, seakan lelaki itu memiliki sihir yang mampu membuatnya untuk tetap terdiam di tempat. Ia sudah berusaha untuk tak terjebak, tetapi pesona Raka sungguh luar biasa mampu membuat gadis itu berkhayal di luar akal sehatnya, sungguh sebenarnya dia juga ingin berada di dalam pelukan Raka pasti dia akan sangat bahagia.

Sadar, ia menggeleng pelan menipis semua pemikiran yang semakin meliar dan tak terkendali. Namun, dalam sekejap Inara tersadar. Dia hanyalah gadis miskin yang kecantikannya pun tak bisa dibandingkan dengan para wanita yang pernah di kencani oleh Raka, tidak mungkin lelaki seperti Raka menginginkan dirinya.

"Kamu harus bertanggung jawab!" Suara bass yang terdengar jantan seperti lelaki dewasa pada umumnya menggema memenuhi ruangan.

Namun ternyata Inara tak mendengar celotehan Raka, di dalam pikiran gadis itu hanya dipenuhi wajah Raka seorang. Sangat sayang rasanya walau sedetik saja melewatkan kesempatan hari ini dapat menatap Raka dari jarak yang terlampau dekat.

"Apa kamu tuli? Aku bilang kamu harus bertanggung jawab!" Suara bass dari lelaki berwajah malaikat itu kembali menggema sebab gadis itu hanya berdiri terpaku menatapnya, kontan membuat Inara tersentak terbebas dari lamunan dan dengan cepat kembali ke alam nyatanya.

Inara kembali menundukkan kepala. "Bertanggung jawab? Bolehkah saya tahu kesalahan apa yang saya perbuat, Pak?" tanya Inara dengan ekspresi binggung.

Tentu saja Inara bingung, Raka sendiri yang menyuruhnya membawakannya secangkir kopi dan harus mengantarkannya saat ini juga. Dia bukan cenayang yang bisa memprediksi masa kini atau masa depan. Terlambat, matanya sudah ternodai dengan hal yang menjijikkan, tetapi juga diinginkan.

"Banyak! Pertama kamu tidak mengetuk pintu terlebih dulu ketika masuk ke dalam ruanganku. Kamu juga mengganggu kesenanganku. Bahkan kamu terlambat datang bekerja." Raka menatap Inara tajam sambil menaikkan satu alis matanya, ia ingin menuntut sebuah jawaban bahwa semua yang dikatakannya memanglah benar.

Inara mengerjakan mata, bagaimana mungkin atasannya bisa tahu kalau dia datang terlambat? Ia mulai bergidik ngeri membayangkan bahwa Raka mempunyai mata-mata dimana-mana sehingga ia harus lebih bersikap waspada.

Tanpa Inara sadari, selama hampir satu bulan terakhir. Raka memperhatikan cara kerja Inara setiap hari, ia bisa tahu Inara datang terlambat sebab belum ada secangkir kopi di atas mejanya tadi pagi saat dia datang. Padahal setiap pagi aroma khas kopi buatan Inara selalu terhidang di atas meja untuk menyambut kedatangannya.

"Bagaimana? Kamu sudah siap bertanggung jawab?" Raka kembali bertanya kepada Inara yang berdiri terpaku menatap dirinya.

Jantung Inara kian berdetak tak karuan, Inara tampak kesulitan menelan saliva, seolah terdapat duri yang tersangkut di tenggorokan.

Raka melepas tangan Inara dengan kasar, ia mengangguk pelan sambil memutar tubuhnya membelakangi Inara, kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Baik, aku anggap kediamanmu sebagai tanda kamu tidak setuju. Mulai besok kamu tidak perlu datang lagi untuk bekerja, mulai hari ini kamu dipecat."

"Ta-tapi, Pak." Dengan cepat Raka mengangkat tangannya, ia tidak mau mendengar apapun lagi pembelaan dari Inara.

Inara merasa itu tak adil untuknya, tetapi percuma saja ia bicara. Menurut cerita yang ia dengar bagaimana sifat Raka, lelaki itu tak akan menarik kata-katanya meskipun salah. Ia merasa menyesal kenapa dia harus masuk dalam ruangan Raka di saat kondisi seperti ini, andai saja ia tahu pasti dia lebih memilih berdiam diri di depan pintu.

Inara mengembuskan napas pasrah, dia berpikir lebih baik mencari pekerjaan lain. Meskipun, Alexa pasti akan kecewa padanya mengingat sahabatnya itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan, tetapi semuanya sudah terlanjur ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Bulir bening itu terus mendesak keluar dari pelupuk mata, tetapi sekuat tenaga ia bertahan. Menangis pun percuma itu tak akan merubah keadaan.

"Terima kasih atas kebaikan, Bapak, selama ini. Saya permisi, selamat siang." Dengan ekspresi kuyu, ia memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu keluar sambil menahan genangan bulir bening yang terus mendesak ingin keluar.

Raka mengerutkan kening dalam, sepertinya dia salah perhitungan. Seharusnya Inara melakukan apapun untuknya demi mempertahankan pekerjaan, tetapi apa yang terjadi ternyata di luar ekspektasinya.

Tidak ingin kehilangan kesempatan yang datang, dengan cepat Raka meraih pergelangan tangan Inara dan menghimpit tubuh gadis itu ke sisi tembok.

Mata Inara membesar ketika bibir Raka menyentuh bibirnya. Antara rasa takut, marah dan jijik menjadi satu merasuk ke dalam hati dan pikirannya.

Bab 2

Untuk sesaat Raka lengah dengan pergerakan cepat Inara yang tanpa lelaki itu duga sebelumnya, tiba-tiba Inara memberontak menyerangnya sehingga gadis itu bisa terlepas dari kungkungannya. Namun, gerakan kabur gadis itu kalah cepat dari Raka, lelaki itu segera meraih pergelangan tangan Inara kemudian memeluk tubuh gadis itu dengan erat.

Inara dapat merasakan setiap hembusan napas halus Raka menerpa wajahnya, saat ini mungkin saja Raka bisa mendengar detak jantungnya yang kian berdebar-debar kencang.

"Tolong!" teriak Inara dengan sekuat tenaga.

Tidak mau semua orang mendengar teriakan Inara, Raka buru-buru membungkam bibir Inara dengan bibirnya.

Inara sekuat tenaga memberontak, kedua tangannya memukul dada Raka dengan seluruh kekuatannya, tetapi Raka malah semakin mempererat pelukannya dan memagut bibir gadis itu semakin rakus dan sangat menikmatinya.

Inara menengadahkan kepalanya sambil mendesis sakit ketika sebuah tangan menarik rambutnya, dengan gerak cepat, lidah Raka menyusup ke dalam sana, suara berdecap menyeruak indah mengekspos setiap apapun yang lidah temui. Lelaki itu semakin menuntut lebih seakan itu seperti candu untuknya tidak puas hanya sekedar ciuman bibir saja.

Bulir bening menetes membasahi pipi Inara, seketika itu hati Raka melemah, perlahan, ia meregangkan pelukannya. Ada sedikit rasa bersalah menyusup ke dalam hatinya, yang ternyata perbuatannya menyakiti wanita yang belum tentu bersalah sepenuhnya.

Begitu ada kesempatan Inara mendorong tubuh Raka agar terlepas dari kungkungan lelaki itu, detik itu juga satu tamparan keras mendarat ke pipi Raka, lelaki itu menggosok pelan pipinya yang terasa panas sambil meregangkan otot rahangnya sambil menatap jejak bayang-bayang Inara yang berlari menjauh, dan berangsur menghilang dari pandangannya sambil menaikkan sudut bibirnya.

Berani sekali wanita itu menolak!

Melihat dari gerak gerik gadis itu, seperti seorang cenayang Raka menyimpulkan bahwa Inara juga menginginkan hal yang sama yaitu sentuhan darinya seperti para wanita pada umumnya, tetapi ternyata dugaannya salah.

Inara berlari keluar dari ruangan Raka sambil menyeka bulir bening yang membasahi pipi, tanpa sengaja di luar pintu ia menabrak tubuh Keano yang tinggi.

Ia membungkukkan badannya meminta maaf, gadis itu membiarkan surai tergerai untuk menyembunyikan wajahnya yang sembab, lidahnya terasa kelu sangat sulit membuka bibirnya, dia kembali berlari menyusuri lorong yang terasa panjang. Pikirannya hanya tertuju kepada lelaki mesum yang sudah mengambil ciuman pertamanya secara paksa. Ingin sekali ia mengumpat kasar dan mencaci maki Raka, kalau perlu ia ingin sekali mencekik lehernya. Mungkin dia satu-satunya wanita yang tidak mau dicium oleh Raka, lelaki tampan yang penuh kharisma dengan segala kelebihan yang dimiliki lelaki bermata hazel tersebut.

Namun perbuatan Raka membuat Inara benar-benar membenci lelaki itu. Selain kasar, Raka juga doyan main perempuan. Masih sangat segar di ingatannya, Raka melakukan hal yang menjijikkan bersama dengan Bella sekretarisnya dan beberapa menit kemudian lelaki itu juga ingin melakukan hal yang sama bersamanya. Sungguh memalukan, ia sempat mengagumi lelaki bejat dan berotak mesum seperti Raka.

Sementara Keano menyipitkan matanya menatap jejak bayang-bayang Inara yang perlahan berangsur menghilang dari pandangannya, ia sedang menerka-nerka sambil mendesah berat, apa yang diperbuat sahabatnya sehingga membuat wanita itu menangis.

Mendadak, pintu mengayun terbuka, sesosok lelaki berperawakan tinggi dengan wajah tak kalah tampan dari Raka, tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Raka, seolah lelaki itu sudah tahu apa yang sedang terjadi sebelumnya.

Keano Shakeel Bramantio!

Tangan kanan Raka sekaligus sahabat baiknya sedari kecil. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang sama, tetapi memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, bagaikan langit dan bumi.

Raka yang arogan dan sifat keras kepalanya berbanding terbalik dengan Keano yang penyabar dan bijaksana.

Untuk sesaat Keano menatap Raka dengan ekspresi tak terbaca sambil menggeleng pelan, ia merasa heran sudah hampir lima tahun berlalu, tetapi Raka tidak bisa berubah malah semakin menjadi-jadi.

Lima tahun yang lalu. Diva Bilbina, istri yang sangat dicintai Raka telah menghianatinya dengan lelaki lain, meninggalkan luka yang dalam untuknya, tetapi tidak bisa dilihat bekas lukanya secara kasat mata.

Keano tertawa terkekeh menatap Raka sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Apa seleramu sudah berubah?"

"Sialan, siapa yang mau dengan wanita kampungan seperti dia," umpat Raka, ia tampak kesal dengan dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak melepas Inara sebelum dia puas mempermainkan gadis itu.

"Kenapa kamu marah? Apa wanita itu menolakmu?" Keano menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa.

Raka perlahan berjalan mengikuti Keano duduk di sofa. Dia menatap Keano dengan menyipitkan matanya geram. "Apa maksudmu? Belum pernah ada wanita yang menolakku." Ia mengalihkan pandangannya dengan kasar.

Sesungguhnya ia merasa malu, karena ternyata memang benar tebakan sahabatnya itu.

"Raka, sudahlah jangan bermain-main lagi, lupakan wanita itu. Menikahlah, di usiamu saat ini seharusnya kamu sudah memiliki seorang istri dan anak-anak yang lucu. Kamu juga bisa menyalurkan kebutuhan biologismu kapan saja. Kamu tidak lihat wanita itu sangat ketakutan."

"Kamu anggap apa aku? Mereka yang datang padaku, lagi pula aku masih bisa mengendalikan semuanya. Aku selalu bermain aman dengan menggunakan pengaman, lagi pula hanya uang yang mereka butuhkan dariku."

"Kamu sudah gila, Ka."

"Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Tenang saja, aku masih bisa mengendalikan diriku sepenuhnya. Apa yang ingin kamu minum?"

"Ehm, tidak perlu. Aku hanya sebentar. Maaf, Ka. Sepertinya, dalam waktu dekat aku sudah tidak bisa lagi membantumu di perusahaan, aku berencana pindah ke Bandung, dan akan menetap di sana."

"Apa! Apa kamu sudah gila? Kenapa mendadak sekali?" tanya Raka beruntun dengan ekspresi kesal.

Keano menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum tipis. "Jujur ini keputusan yang sulit, tetapi usiaku tak selamanya muda, Ka. Tidak mungkin aku akan terus mendampingimu, sudah saatnya aku merintis karirku sendiri dan memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia bersama wanita yang aku cintai."

"Ck." Raka berdecak kesal. "Bullshit, apa kamu pikir segampang itu mencari seorang wanita untuk di jadikan istri? Wanita di dunia ini semuanya sama saja, mereka hanya menginginkan uang, uang dan uang."

Keano menggeleng pelan. "Kamu salah, Ka. Ah ... tapi sudahlah. Kamu tidak akan mengerti, sebagai sahabat aku hanya bisa memberimu nasihat. Jika kamu sudah menemukan wanita yang bisa menarik hatimu, ingatlah wanita itu layak untuk diperjuangkan bukan menyakitinya seperti tadi."

Raka mengerutkan kening dalam, ia mencoba mencerna kalimat yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya tersebut.

"Ap-apa maksudmu?" tanya Raka gugup, ekspresi lelaki itu berubah pucat.

Keano tersenyum tipis, ia bangkit berdiri kemudian berjalan mendekat ke arah Raka. "Ka, aku sahabatmu dari kecil. Minta maaflah padanya." Keano menepuk punggung Raka kemudian baru melanjutkan langkah panjangnya menuju pintu keluar. Andai sahabatnya itu tahu, betapa indahnya rasanya jatuh cinta itu.

Raka termenung memikirkan setiap kalimat yang diucapkan sahabatnya itu, ia mengalami pergulatan batin yang hebat. Pikirannya menolak keras, tidak mungkin dia jatuh hati dengan Inara, yang notabennya seorang pegawai rendahan. Namun, tidak dengan hatinya, ingin sekali saat itu, ia bisa menyeka air mata Inara yang disebabkan olehnya, tetapi logikanya lebih berkuasa dari hatinya. Mana ada seorang pimpinan tertinggi meminta maaf kepada pegawai rendahan seperti Office girl. Tentu saja rasa gengsinya yang setinggi langit mengalahkan secuil kebaikan hatinya.

Matanya tertuju ke sisi tembok di mana ia menghimpit tubuh Inara di sana. Ia tersenyum tipis sambil menyentuh bibirnya, teringat dengan rasa bibir Inara yang manis dan ingin kembali merasakannya, bahkan ia belum puas menikmatinya. Namun, senyum di bibirnya seketika memudar ketika teringat penolakan dari wanita itu. Berani sekali Inara menamparnya. Ia bertekad akan membuat Inara menjadi miliknya.

Bab 3

Bella berjalan dengan langkah cepat menuju pantry, ia ingin sesegera mungkin membuat perhitungan dengan Inara sekaligus harus menutup mulut Inara agar tidak menyebarkan gosip ke seluruh kantor tentang dirinya yang telah menggoda sang atasan, walaupun memang sebenarnya memang demikian, tetapi tentu dia ingin menjaga nama baiknya di depan rekan-rekannya. Jika sampai semua berita mengenai dirinya tersebar luas, di mana dia akan menaruh mukanya.

Lagi pula dia juga tidak mau mempunyai saingan pegawai rendahan seperti Inara. Dari cara Raka menatap Inara, Bella bisa tahu atasannya itu tertarik dengan Inara.

Langkah kakinya terhenti ketika ia sampai di depan pantry, tanpa menunggu lama ia masuk ke dalam dengan membawa berjuta kemarahan di dalam hatinya. Ia menatap Inara nyalang yang duduk di salah satu sisi tembok sambil memeluk kedua lutut kakinya.

Inara duduk di lantai sambil kedua tangannya memeluk kedua lutut kakinya, ia menyembunyikan wajahnya yang sedikit sembab. Namun, tiba-tiba kepalanya mendongak ke atas seketika merintih kesakitan sebab sebuah tangan menarik rambutnya dengan kasar. Ia menatap Bella yang sedang berdiri sambil mencondongkan tubuh ke arahnya dengan tatapan nyalang, ia bisa melihat dengan jelas amarah Bella yang seperti ingin memangsanya saat ini juga.

"Dengar, baik-baik! Berani kamu menyebar gosip di dalam kantor ini tentang aku, aku bisa pastikan akan membuat hidupmu menderita." Bella mengacungkan jari telunjuknya sambil menarik rambut Inara, dan ia tidak sedang main-main dengan ancamannya.

Inara mengikuti ke mana gerakan tangan Bella menarik rambutnya sampai ia terbangun berdiri. "Aduh, sakit, Mbak. Saya tidak mungkin berani." Ia memegangi rambutnya yang terasa sakit.

"Bagus! Dan satu lagi, jangan berani kamu menggoda Pak Raka atau aku akan membuatmu kehilangan pekerjaan, Pak Raka itu milikku," ancam Bella dengan penuh nada penekanan.

"Mbak Bella lepasin dulu tangannya! Sakit, Mbak." Inara merintih menahan sakit di kepalanya.

Perlahan, Bella melepas cengkraman tangannya dari rambut Inara.

Bisa saja Inara membalas menyerang memukuli Bella, tetapi tidak ia lakukan. Selama ini Bella selalu mengganggunya karena mengira dia adalah seorang saingan yang perlu disingkirkan. Bella sangat pandai memutar balikkan fakta, bisa saja Bella akan menyebar gosip bahwa dia yang menyerang lebih dulu. Capek otak dan capek tenaga jika harus berurusan dengan Bella, dan bisa dipastikan sang atasan pasti akan lebih membela Bella yang notabenenya adalah pemuas nafsu sang bos yang mesum itu.

Apalagi dia baru saja menampar Raka, sudah pasti atasannya itu akan mempersulitnya dan tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja dengan mudah.

"Mbak Bella, jangan khawatir. Ini hari terakhir saya bekerja di sini, lagi pula Pak Raka barusan memecat saya, Mbak." Sebenarnya ingin sekali Inara membalas menarik rambut Bella, tetapi ia berusaha setenang mungkin menghadapi Bella.

Mata Bella terbelalak. "Kamu dipecat?" tanya Bella merasa tidak percaya.

Inara mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Saya dipecat," jawab Inara dengan nada sedikit ketus.

Bella tertawa terbahak sambil melipat kedua tangannya, ia menatap Inara dengan tatapan mencemooh. "Selamat, ya, Inara. Kamu sudah dipecat. Memang seharusnya dari dulu Pak Raka itu memecat kamu, sukurin."

Sesungguhnya, Inara setengah mati menahan emosi yang ada di dalam dada. Dadanya terasa bergemuruh karena Bella bukanya simpati malah menertawakan dirinya. Ia menatap kecut Bella dan berpura-pura tak mendengar apa-apa.

"Ada apa ini?" Suara dingin Raka mendengung memenuhi indera pendengaran kedua wanita tersebut.

Sontak kedua wanita tersebut menoleh ke arah sumber suara tersebut dan terkejut bersamaan.

Buru-buru Bella memasang ekspresi sedih, ia berjalan mendekat ke arah Raka dan menggelayut manja ke lengan lelaki tersebut dan menyandarkan kepalanya ke bahu Raka.

Inara seakan ingin muntah melihat tingkah Bella yang terkesan lebay, tetapi ia memilih diam tak ikut campur masalah mereka berdua.

"Pak, Inara mengatakan Bapak akan memecat saya? Apakah itu benar? Tolong jangan pecat saya, Pak. Saya masih ingin bekerja bersama dengan, Bapak. Dia bahkan menyerang dengan menarik rambut saya, dan rasanya sangat sakit, Pak. Sepertinya dia cemburu karena Bapak lebih dekat dengan saya." Bella merengek seperti anak kecil yang sedang meminta permen.

Mata Inara melebar, memang sejak kapan dia mengatakan kalimat itu. Ingin sekali Inara mencekik wanita rubah itu dengan kedua tangannya. Tapi apakah atasannya itu akan percaya kepadanya jika dia mengatakan yang sebenarnya. Sudahlah, itu tidak penting. Apapun yang dikatakannya akan tetap merugikannya dan membuatnya semakin terpojok.

Sementara Raka melirik ke arah Inara dengan tatapan tak terbaca, ia melihat penampilan Inara yang berantakan dengan rambut yang acak-acakkan. Sebenarnya siapa yang diserang dan siapa yang menyerang? Kenapa justru Inara yang tampak terlihat menyedihkan, bukankah Bella mengatakan Inara yang menyerang?

"Apakah semua itu benar?" tanya Raka datar tanpa ekspresi, ia fokus menatap Inara dengan menyipitkan matanya, kali ini dengan tatapan curiga.

Inara tertunduk terdiam, jawaban apapun yang dia katakan tak akan mengubah keadaan, bahwa dia sudah kehilangan pekerjaan.

"Kenapa diam? Kamu takut?" Raka mengulangi pertanyaannya karena tak kunjung mendapatkan jawaban.

Bella tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Inara yang hanya tertunduk diam ketakutan. Itu sama saja Inara sedang menambah masalah baru untuk diri sendiri dan itu berarti keuntungan berpihak padanya.

Raka berdecak kesal sambil melepas tangan Bella yang terus-terusan menggelayut manja ke lengannya. Sebenarnya ia sangat risih Bella terus menempel padanya, tetapi itu bukan salah Bella sepenuhnya, itu karena dia terlalu memanjakan Bella sehingga wanita itu sangat berani dan terlalu percaya diri.

Raka menatap wajah Bella dengan tatapan tak terbaca sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Sementara Bella tersenyum manja ke arah Raka. Hatinya melonjak kegirangan karena kemenangan berpihak padanya, ia sudah memimpikan sejak lama menjadi istri Raka, sudah bisa dipastikan sebentar lagi dia akan menjadi Nyonya dari keluarga Dhananjaya.

"Mulai hari ini, kamu akan menjadi asisten pribadiku," titah Raka tegas.

Bella, sang sekretaris mengangguk cepat sambil mengembangkan senyum di bibirnya lebar. Ini adalah kesempatan bagus untuknya bisa sepanjang hari menghabiskan waktu berdua bersama dengan Raka.

"Inara Rayne Bilha." Lelaki itu justru beralih menoleh ke arah Inara yang tengah menundukkan kepala bukan ke arah Bella.

Seketika senyum Bella memudar. "Ta-tapi, Pak!" Ekspresi Bella menunjukkan ketidaksetujuannya atas keputusan Raka.

"Kenapa? Kamu meragukan keputusanku?" Ia menatap Bella tajam.

"Bu-bukan seperti itu, Pak. Kenapa bukan saya? Saya rela melakukan apapun untuk Bapak, saya bisa mengurus semua keperluan Bapak selama dua puluh empat jam penuh, kalau perlu saya juga akan melayani Bapak di atas ...." Seketika mulut Bella terkunci rapat ketika menatap tatapan Raka yang mematikan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED