Bab 1

Malam di kota Jakarta terasa lebih gelap dari biasanya. Lampu-lampu jalanan yang redup hanya mampu memberikan sedikit cahaya di tengah pekatnya malam. Di salah satu sudut kota, terdapat sebuah klub malam mewah yang hanya dikunjungi oleh kalangan tertentu. Di sanalah, nasib Arina berubah selamanya.

Arina adalah seorang mahasiswi yang sedang berjuang keras untuk menyelesaikan studinya. Ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe kecil, tapi penghasilannya tak pernah cukup untuk menutupi biaya kuliahnya yang mahal. Malam itu, seorang teman mengajaknya pergi ke klub malam sebagai pelarian dari rutinitas yang membosankan.

"Arin, kamu nggak bisa terus-terusan hidup cuma buat kerja dan kuliah. Sekali-sekali nikmatin hidup dong!" kata Risa, teman dekat Arina, sambil menarik tangannya masuk ke dalam klub.

Arina merasa ragu. Suasana klub yang hingar bingar, dengan musik keras dan lampu neon yang berkelap-kelip, bukanlah tempat yang biasa ia kunjungi. Namun, ia tak ingin mengecewakan Risa, jadi ia memutuskan untuk mencoba menikmati malam itu.

Di sisi lain ruangan, seorang pria dengan penampilan mencolok duduk di sebuah sofa mewah. Dia adalah Alvaro, seorang mafia yang sangat ditakuti. Dengan jas mahal yang membalut tubuhnya dan tatapan mata yang dingin, Alvaro tampak seperti seseorang yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Malam itu, matanya tertuju pada satu sosok—Arina.

Ketika Arina menari di lantai dansa, Alvaro tak bisa mengalihkan pandangannya. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya tertarik. Tanpa pikir panjang, dia memberi isyarat kepada anak buahnya, Viktor, untuk membawa Arina ke ruang VIP.

"Viktor, bawa gadis itu ke sini," perintah Alvaro dengan suara tegas namun tenang.

Viktor mengangguk dan segera berjalan menuju lantai dansa. Dengan sopan, dia mendekati Arina dan berkata, "Maaf, nona. Bos saya ingin bicara dengan Anda. Silakan ikut saya."

Arina terkejut. "Bos? Siapa?"

Viktor tersenyum tipis. "Anda akan segera tahu. Silakan ikut saya."

Risa yang melihat itu segera mendekat. "Arin, apa-apaan ini? Kamu kenal dia?"

Arina menggeleng. "Aku nggak tahu, Ris. Tapi aku rasa aku harus ikut."

Dengan perasaan campur aduk, Arina mengikuti Viktor ke ruang VIP. Saat pintu terbuka, Arina melihat seorang pria berusia sekitar 40 tahun, duduk dengan santai di sofa. Tatapannya tajam, namun ada senyum tipis di bibirnya.

"Silakan duduk," Alvaro mempersilakan Arina dengan isyarat tangannya.

Arina menelan ludah, lalu duduk dengan hati-hati di hadapan Alvaro. "Anda yang ingin bertemu dengan saya?"

"Namamu Arina, bukan?" Alvaro memulai percakapan.

Arina mengangguk. "Ya. Bagaimana Anda tahu?"

Alvaro tersenyum tipis. "Aku tahu banyak hal. Apa kau tahu siapa aku?"

Arina menggeleng. "Maaf, saya tidak tahu."

"Nama saya Alvaro," jawabnya singkat, namun jelas. Nama itu terdengar asing bagi Arina, namun cara pria itu mengatakannya membuatnya merasa bahwa Alvaro adalah seseorang yang penting. Seseorang yang berbahaya.

"Apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Arina, merasa was-was.

Alvaro menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, "Aku melihatmu tadi. Kau berbeda dari yang lain. Ada sesuatu tentangmu yang menarik perhatianku."

Arina mulai merasa tidak nyaman. "Apa maksud Anda?"

Alvaro tertawa kecil, suaranya terdengar rendah dan menggetarkan. "Tenang saja, aku hanya ingin mengenalmu lebih baik. Mungkin kita bisa membuat kesepakatan."

Arina mengerutkan kening. "Kesepakatan apa?"

"Aku bisa memberimu kehidupan yang selama ini hanya bisa kau impikan. Uang, kemewahan, apapun yang kau inginkan," kata Alvaro dengan tenang. "Sebagai gantinya, kau akan menjadi milikku."

Kalimat terakhir itu membuat jantung Arina berdegup kencang. Dia tahu apa yang dimaksud Alvaro. Pria itu ingin menjadikannya seorang "sugar baby." Sebuah kesepakatan di mana Alvaro akan menyediakan segala kebutuhan materi Arina, dan sebagai gantinya, Arina harus memenuhi segala keinginan Alvaro.

"Maaf, tapi saya tidak tertarik," jawab Arina dengan tegas, meskipun ada sedikit keraguan dalam suaranya. Tawaran itu memang menggoda, terutama mengingat kesulitan keuangan yang sedang ia hadapi. Tapi, dia tahu risiko yang harus diambil jika ia menerima tawaran itu.

Alvaro tersenyum simpul. "Kau gadis yang pintar. Tapi pikirkanlah, Arina. Hidup ini keras. Kadang, kita harus membuat pilihan yang sulit."

Arina bangkit dari duduknya, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar. "Terima kasih atas tawarannya, tapi saya harus pergi."

Sebelum Arina sempat melangkah keluar, Alvaro berkata dengan nada yang lembut namun penuh makna, "Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, pintu ini akan selalu terbuka untukmu."

Arina berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Rasa lega bercampur ketakutan menyelimuti hatinya. Dia tahu, pertemuan ini mungkin hanya awal dari sesuatu yang lebih besar dan berbahaya.

Sementara itu, Alvaro menatap pintu yang telah tertutup, senyumnya semakin lebar. "Kita lihat, Arina. Seberapa lama kau bisa bertahan tanpa datang padaku."

Bab 2

Pagi itu, Arina terbangun dengan perasaan gelisah. Setelah pertemuan aneh dengan Alvaro di klub malam, pikirannya terus terganggu. Namun, dia mencoba mengesampingkan semua itu dan fokus pada rutinitasnya. Dia masih memiliki pekerjaan di kafe, kuliah yang harus diurus, dan keluarganya yang selalu menjadi tanggung jawab besar baginya.

Namun, hidup memang tak pernah seindah yang dibayangkan. Begitu Arina tiba di kafe tempatnya bekerja, suasana terasa berbeda. Rekan-rekannya menatapnya dengan pandangan aneh, dan manajernya, Pak Budi, hanya menghela napas saat melihatnya.

"Pak Budi, ada apa? Kenapa semua orang menatap saya seperti itu?" tanya Arina, berusaha menghilangkan kegelisahan yang mulai merayap di hatinya.

Pak Budi menghela napas panjang. "Arina, bisa kita bicara di kantor sebentar?"

Perasaan tidak enak semakin menguat di dalam diri Arina. Dia mengikuti Pak Budi ke ruang kantor kecil di belakang kafe, mencoba menenangkan diri. Begitu pintu tertutup, Pak Budi memandang Arina dengan tatapan penuh simpati.

"Arina, aku minta maaf harus mengatakan ini, tapi kita terpaksa memutuskan kontrak kerjamu," kata Pak Budi dengan hati-hati.

Arina terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar. "Apa? Kenapa? Apa saya melakukan kesalahan?"

Pak Budi menggeleng. "Bukan masalah performa kerjamu. Ini keputusan dari manajemen pusat. Mereka tidak memberi tahu alasan yang jelas, tapi kita harus mengikutinya."

Arina merasa dunia seakan runtuh di hadapannya. Pekerjaan di kafe itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya. Tanpa itu, dia tidak tahu bagaimana cara membiayai kuliahnya, apalagi membantu ayahnya yang sedang sakit.

"Pak Budi, tolong, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya tidak punya penghasilan lain," Arina memohon, suaranya mulai terdengar putus asa.

Pak Budi terlihat benar-benar menyesal. "Arina, aku ingin membantumu, tapi keputusan ini sudah final. Aku harap kamu bisa menemukan pekerjaan lain secepatnya."

Arina mengangguk pelan, merasa kehilangan kata-kata. Dia merasa hampa saat meninggalkan kafe itu, membawa barang-barangnya dalam kardus kecil. Langkahnya terasa berat, seakan setiap langkah adalah beban yang harus dia pikul.

Saat sampai di rumah, Arina disambut oleh wajah dingin ibu tirinya, Bu Ratna. Wanita itu selalu saja tampak tidak puas dengan apa pun yang dilakukan Arina. Sejak menikah dengan ayahnya, Bu Ratna tak pernah benar-benar menyukai Arina, menganggapnya sebagai beban yang harus dia tanggung.

"Arina, kamu darimana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bu Ratna dengan nada tajam.

Arina mencoba menjawab dengan tenang. "Bu, saya baru saja pulang dari kafe. Saya… saya dipecat."

Mata Bu Ratna langsung melebar. "Apa? Dipecat? Kamu ini bagaimana sih? Sudah tahu kita butuh uang untuk biaya rumah sakit bapakmu, kamu malah dipecat!"

Arina menundukkan kepalanya, merasa malu dan sedih. "Saya tidak tahu kenapa, Bu. Mereka tidak memberi alasan yang jelas."

"Ah, alasan apa lagi! Kamu ini memang tidak becus!" hardik Bu Ratna. "Kamu pikir kita bisa hidup tanpa uang? Bapakmu masih di rumah sakit, dan kita harus membayar biaya rumah sakit yang tidak murah. Belum lagi kuliahmu itu, apa kamu pikir semua itu gratis?"

Air mata Arina mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tahu, semua yang dikatakan Bu Ratna ada benarnya. Tetapi dia merasa terpojok, tidak tahu harus berbuat apa.

"Bu, saya sedang mencari pekerjaan lain, tapi tolong beri saya waktu," pinta Arina, suaranya bergetar menahan tangis.

Bu Ratna memutar bola matanya, tampak tidak peduli. "Kamu ini memang menyusahkan. Seharusnya kamu bersyukur aku masih membiayai hidupmu setelah ibumu meninggal. Tapi kamu malah terus saja menjadi beban."

Arina merasa kata-kata itu menusuk hatinya. Sejak kecil, dia selalu merasa tidak diinginkan oleh ibu tirinya. Ayahnya memang mencoba untuk melindungi Arina, tetapi sejak sakit, posisinya melemah, dan Bu Ratna semakin menunjukkan kekuasaan penuh di rumah.

"Kamu harus bekerja, Arina! Jangan harap bisa terus menganggur di rumah ini. Aku sudah capek-capek membiayai hidupmu. Sekarang saatnya kamu membayar semua itu, terutama biaya rumah sakit bapakmu," lanjut Bu Ratna dengan nada yang semakin tinggi.

Arina mengangguk pelan, meski hatinya merasa hancur. "Saya akan mencari pekerjaan secepatnya, Bu."

"Kamu harus cepat! Aku tidak mau melihat kamu cuma duduk-duduk di rumah ini tanpa hasil apa-apa!" Bu Ratna mengakhiri pembicaraan itu dengan meninggalkan Arina sendirian di ruang tamu.

Arina akhirnya tak mampu menahan air matanya. Dia terisak pelan, merasa dunia benar-benar tidak adil padanya. Tidak ada tempat untuknya mengadu, tidak ada orang yang bisa memberinya pelukan hangat atau kata-kata penghiburan. Semuanya terasa berat dan seolah tidak ada jalan keluar.

---

**Waktu Berlalu**

Seminggu setelah dipecat, Arina sibuk mencari pekerjaan baru. Dia melamar ke berbagai tempat, namun nasib baik sepertinya masih enggan mendekatinya. Setiap kali dia mendapatkan panggilan wawancara, hasilnya selalu sama—ditolak.

Keputusasaan semakin menghantuinya ketika biaya kuliah mulai jatuh tempo. Belum lagi tagihan rumah sakit yang menumpuk. Arina tahu dia harus menemukan solusi cepat, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Suatu malam, setelah lelah mencari pekerjaan seharian, Arina pulang ke rumah dengan langkah gontai. Begitu sampai di rumah, dia mendengar suara-suara dari ruang tamu. Ternyata Bu Ratna sedang berbicara di telepon.

"Iya, saya tahu, tapi anak ini sangat merepotkan. Kalau saja bukan karena almarhum ibunya, saya sudah lama mengusir dia," suara Bu Ratna terdengar tajam dan penuh kebencian.

Arina berhenti sejenak, mendengarkan lebih jauh.

"Dia harus segera mencari pekerjaan. Saya tidak mau menanggungnya lebih lama lagi. Biaya rumah sakit semakin besar, dan dia malah sibuk dengan kuliahnya yang tidak jelas kapan selesai. Saya sudah tidak sabar lagi."

Arina merasa hatinya semakin hancur mendengar percakapan itu. Dia tahu Bu Ratna tidak menyukainya, tapi mendengar kata-kata itu secara langsung membuatnya merasa tidak berharga.

Setelah Bu Ratna menutup telepon, Arina masuk ke dalam rumah dengan wajah yang dipaksakan untuk tetap tenang.

"Bu, saya sudah mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat, tapi hasilnya belum ada," kata Arina, berusaha sebaik mungkin untuk tidak terdengar putus asa.

Bu Ratna memandangnya dengan dingin. "Kamu harus coba lebih keras lagi. Kita tidak punya banyak waktu, Arina. Kalau kamu terus seperti ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan bapakmu. Kamu harus bertanggung jawab!"

Arina mengangguk pelan. "Saya akan mencari cara, Bu."

"Bagus, karena kalau kamu tidak bisa mendapatkan pekerjaan, aku yang akan mencarikan untukmu. Dan jangan harap itu akan semudah pekerjaan di kafe. Kamu harus berani menerima apapun, mengerti?" Bu Ratna berkata dengan nada mengancam.

Arina menunduk. "Iya, Bu."

---

Malam itu, Arina tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan kata-kata Bu Ratna dan situasi yang sedang dihadapinya. Segala hal terasa sangat menekan. Dia merasa terjebak dalam lingkaran setan yang tidak bisa dia hindari.

Sambil memandangi langit-langit kamar, tiba-tiba ingatan tentang Alvaro kembali menghantuinya. Pria itu menawarkan kehidupan yang lebih mudah, sebuah jalan keluar dari segala kesulitan yang dihadapinya saat ini. Tapi dia tahu, menerima tawaran itu berarti menyerahkan diri ke dalam dunia yang penuh bahaya.

Namun, semakin lama dia memikirkannya, tawaran itu semakin menggoda. Apa mungkin dia bisa bertahan dalam situasi ini? Atau akankah dia menyerah pada keadaan dan menerima apa yang ditawarkan Alvaro?

Bab 3

Arina menghabiskan hari-harinya dengan perasaan penuh tekanan. Setelah dipecat dari pekerjaannya di kafe, ia merasa putus asa namun tak punya pilihan selain terus mencari pekerjaan baru. Ia tahu, waktu tidak berpihak padanya. Ayahnya masih dirawat di rumah sakit, dan tagihan biaya kuliah semakin mendesak. Namun, mencari pekerjaan yang sesuai dengan jadwal kuliahnya terbukti lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Setelah beberapa hari tanpa hasil, Arina akhirnya mendapatkan kabar dari salah satu kafe yang ia lamar. Dengan penuh harapan, ia bergegas ke sana untuk wawancara. Kafe itu berada di pusat kota, dengan suasana yang cukup sibuk. Ini seharusnya menjadi peluang bagus, pikirnya.

"Wah, kamu datang tepat waktu," kata manajer kafe itu, seorang pria ramah bernama Pak Rudi, ketika menyambutnya.

"Terima kasih, Pak," jawab Arina dengan senyum yang penuh harap.

Wawancara berjalan lancar. Pak Rudi tampak terkesan dengan pengalaman kerja Arina sebelumnya. Namun, senyumnya sedikit memudar ketika ia berbicara tentang jadwal kerja.

"Arina, aku lihat kamu cukup berpengalaman dan pasti akan cocok bekerja di sini. Tapi, aku harus jujur, pekerjaan ini membutuhkan komitmen penuh waktu. Kita sangat sibuk, dan aku butuh seseorang yang bisa bekerja sepanjang hari, setidaknya delapan jam setiap hari," kata Pak Rudi dengan nada yang menegaskan.

Arina merasa jantungnya berdebar kencang. Ini adalah pekerjaan yang dia butuhkan, tapi jadwal itu akan berbenturan dengan kuliahnya. "Pak, saya sangat ingin bekerja di sini, tapi saya masih kuliah. Apakah mungkin untuk mendapatkan jadwal paruh waktu?"

Pak Rudi menggelengkan kepala dengan sedikit penyesalan. "Sayangnya, tidak. Kita benar-benar butuh tenaga full-time. Aku tahu kamu masih kuliah, tapi kita harus mengikuti aturan kerja di sini."

Arina menunduk, merasa kecewa. "Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas kesempatannya."

Dia meninggalkan kafe itu dengan langkah yang berat. Pekerjaan yang tampaknya menjanjikan itu akhirnya tidak bisa dia ambil. Rasa putus asa mulai merayap dalam hatinya, semakin kuat dengan setiap penolakan yang dia terima.

---

Beberapa hari kemudian, Arina pulang ke rumah dengan perasaan lelah setelah seharian mencari pekerjaan lain. Setiap tempat yang dia datangi selalu memberikan jawaban yang sama—mereka membutuhkan tenaga full-time, sesuatu yang tak bisa dia penuhi karena kuliahnya.

Saat tiba di rumah, Arina menemukan ibu tirinya, Bu Ratna, duduk di ruang tamu sambil minum teh. Ada sesuatu dalam ekspresi wajah Bu Ratna yang membuat Arina merasa was-was. Biasanya, Bu Ratna selalu terlihat marah atau kesal, tapi kali ini ada senyum tipis yang tampak aneh di wajahnya.

"Arina, kemari. Ibu ada yang mau dibicarakan," kata Bu Ratna dengan nada yang lebih tenang dari biasanya.

Arina mendekat dengan ragu, duduk di sofa berhadapan dengan ibu tirinya. "Ada apa, Bu?"

Bu Ratna meletakkan cangkir tehnya dan menatap Arina dengan pandangan yang serius. "Ibu dengar dari teman, ada pekerjaan yang bisa kamu ambil. Pekerjaannya cukup menjanjikan, dan kamu bisa mendapatkan uang dalam waktu cepat."

Mendengar ini, hati Arina sedikit lega. Dia sangat membutuhkan pekerjaan itu, dan jika ibunya sudah berbicara langsung seperti ini, berarti peluangnya cukup bagus. "Benarkah, Bu? Pekerjaan apa itu?"

Bu Ratna tersenyum lebih lebar, namun senyum itu tidak membuat Arina merasa nyaman. "Pekerjaannya di dunia malam. Kamu tahu kan, pekerjaan seperti itu? Menjadi wanita malam."

Arina terkejut, darahnya terasa mendidih di dalam tubuhnya. "Apa? Ibu bercanda, kan?"

"Tidak, Arina. Ini serius," jawab Bu Ratna tanpa ragu. "Teman ibu mengatakan tempat itu butuh banyak tenaga muda seperti kamu. Gajinya besar, kamu bisa dengan cepat mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit bapakmu dan juga kuliahmu. Ini satu-satunya jalan."

Arina menggelengkan kepala, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Bu, saya tidak bisa bekerja di tempat seperti itu. Itu bukan pekerjaan yang baik!"

Bu Ratna mengerutkan kening, kemarahannya mulai terlihat. "Kamu pikir kita punya banyak pilihan? Kamu sudah gagal mendapatkan pekerjaan lain, kan? Bagaimana kita bisa membayar semua ini? Bapakmu masih di rumah sakit, dan biaya yang harus kita bayar semakin besar setiap harinya. Apa kamu mau melihat bapakmu mati karena kita tidak mampu membayarnya?"

Arina merasa dadanya sesak. Dia tahu situasi mereka memang sangat sulit, tapi menjadi wanita malam bukanlah solusi yang bisa dia terima. "Bu, saya akan terus mencari pekerjaan lain. Pasti ada pekerjaan yang lebih baik."

"Sudah berapa lama kamu mencari pekerjaan lain? Hasilnya apa? Nol besar, Arina! Kamu hanya menyusahkan kita semua di sini!" Bu Ratna mulai berbicara dengan nada yang lebih tinggi, emosinya meluap. "Kamu pikir kamu bisa terus menghindar dari kenyataan? Dunia ini keras, dan kadang kita harus melakukan apa yang tidak kita sukai. Kamu tidak bisa hidup dengan idealisme kosong!"

Arina merasa air mata mulai menggenang di matanya. Dia merasa terjebak, tak tahu harus berbuat apa. "Tapi Bu… saya tidak bisa bekerja di tempat seperti itu. Itu bukan saya."

"Kamu pikir hidup ini tentang apa? Apa yang kamu anggap benar atau salah tidak ada artinya kalau kita tidak bisa bertahan hidup! Ini bukan hanya tentang kamu, Arina. Ini tentang bapakmu, keluargamu. Kalau kamu tidak bekerja, siapa yang akan menanggung semua ini? Mau makan apa kita?"

Kata-kata Bu Ratna menghantam Arina seperti pukulan telak. Dia tahu ibu tirinya benar tentang satu hal—keluarganya membutuhkan uang, dan mereka tidak bisa terus seperti ini. Tapi, menerima pekerjaan yang ditawarkan Bu Ratna adalah sesuatu yang melawan semua prinsip dan nilai yang dia miliki.

Arina mencoba mencari jawaban, tapi pikirannya kacau. Dia merasa begitu sendirian, tak ada orang yang bisa dia ajak bicara atau meminta bantuan. Teman-temannya pun, sebagian besar hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka tak akan mengerti apa yang dia hadapi.

"Bu… tolong, beri saya waktu. Saya pasti bisa menemukan pekerjaan lain. Saya akan bekerja keras, apapun itu, tapi jangan memaksa saya untuk melakukan ini," kata Arina dengan suara yang bergetar, mencoba bertahan.

Bu Ratna mendesah, tampak frustrasi. "Kamu keras kepala sekali. Hidup ini tidak semudah yang kamu pikirkan, Arina. Kadang, kita harus mengorbankan sesuatu untuk bisa bertahan. Kamu sudah dewasa, kamu harus mulai berpikir seperti orang dewasa."

Arina tidak menjawab. Dia hanya menunduk, mencoba menahan air mata yang sudah hampir tumpah. Bu Ratna memandangnya sejenak, lalu berdiri.

"Aku sudah memberimu pilihan, Arina. Terserah kamu mau ambil atau tidak, tapi jangan harap ada pilihan lain. Kalau kamu tidak mau bekerja, kita tidak punya uang. Dan kamu tahu apa yang akan terjadi dengan bapakmu kalau kita tidak bisa membayar tagihan rumah sakit," kata Bu Ratna dengan nada yang dingin sebelum meninggalkan ruangan.

Arina tetap duduk di sofa, merasa begitu terpuruk. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Semua jalan terasa buntu, dan dia tidak bisa melihat cahaya di ujung terowongan ini.

Setelah beberapa saat, Arina memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Dia butuh waktu untuk berpikir, untuk mencari cara agar bisa keluar dari situasi ini. Namun, semakin dia memikirkan masalahnya, semakin dalam rasa putus asanya. Mungkinkah ini akhir dari semua perjuangannya? Apakah dia harus menyerah pada keadaan dan melakukan sesuatu yang sangat bertentangan dengan hati nuraninya?

Arina tidak bisa tidur malam itu. Dia terus merenung, memikirkan segala kemungkinan yang bisa dia ambil. Namun, tidak ada yang terasa benar. Pikirannya kembali pada Alvaro, pria yang menawarkan dirinya kehidupan yang lebih mudah. Mungkinkah dia harus mendatangi pria itu? Tapi, apakah dia siap untuk menyerahkan dirinya pada dunia yang penuh dengan bahaya dan ketidakpastian?

Pagi harinya, Arina bangun dengan perasaan hampa. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi dengan awan gelap yang menghalangi semua harapan. Dia tahu, waktu semakin mendesaknya. Tapi, sampai kapan dia bisa bertahan dalam keadaan seperti ini?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED