Raihan menatap langit sore yang berwarna tembaga. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi cahaya jingganya sudah menyala seperti api di ujung dunia. Angin membawa aroma hujan dari kejauhan, seakan menandakan sesuatu akan berubah malam ini.
Ia duduk di bangku taman tua di belakang kampus. Buku filsafat yang terbuka di pangkuannya telah lama tak dibacanya; pikirannya terbang entah ke mana. Sejak beberapa minggu terakhir, mimpi-mimpi aneh terus menghantuinya - tentang dunia yang retak, tentang dirinya yang bukan dirinya.
Di dalam mimpi itu, ia berdiri di tengah padang salju dengan dua bulan menggantung di langit. Di hadapannya, seorang gadis berambut perak berdiri dengan gaun putih dan mata biru pekat. Suaranya seperti gema dari masa lalu: "Kau pernah berjanji untuk kembali."
Dan setiap kali ia terbangun, jantungnya berdetak begitu cepat, seolah dunia mimpi itu lebih nyata daripada dunia tempat ia hidup sekarang.
Hari itu, kampus mulai sepi. Raihan menutup bukunya, memasukkan ke dalam tas dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju asrama. Namun saat melewati jembatan kecil di atas sungai, langkahnya terhenti. Air di bawah jembatan tiba-tiba berkilau, seperti cermin perak yang berdenyut hidup.
"Ini aneh..." Gumamnya, mencondongkan tubuh.
Lalu, sesuatu menariknya. Bukan tangan, bukan angin - tapi seolah ruang itu sendiri menggenggam tubuhnya. Dunia berputar cepat, langit menjadi kabut dan sebelum ia sempat berteriak, semua lenyap.
Ketika matanya terbuka lagi, ia berbaring di rerumputan lembut. Udara di sini dingin, segar dan langitnya... punya dua bulan.
"Tidak mungkin..."
Ia menepuk pipinya, mencubit lengannya. Nyeri. Ini bukan mimpi. Ia berdiri, menatap sekeliling: Hutan lebat, sungai jernih dan di kejauhan terlihat menara batu menjulang tinggi.
Di sisi lain padang, sosok berpakaian putih berjalan perlahan. Rambutnya berwarna perak, berkilau di bawah cahaya dua bulan. Mata birunya menatap langsung ke arahnya.
Raihan membeku.
Dia-persis seperti dalam mimpinya.
Gadis itu berjalan mendekat, suaranya tenang tapi dalam: "Akhirnya... kau kembali, Penjaga Bayangan."
"Apa maksudmu? Aku... siapa kau?" Raihan mundur setengah langkah.
"Nama lamamu adalah Kael. Kau mati di dunia kami lima ratus tahun lalu, tapi jiwamu terlahir kembali di dunia lain. Sekarang, gerbang antar dunia terbuka lagi."
Raihan menelan ludah.
Kael? Mati? Lima ratus tahun lalu? Semua kata itu berputar dalam kepalanya seperti badai.
"Tidak, aku cuma mahasiswa biasa. Aku-"
"Tidak ada yang biasa, jika jiwamu masih membawa cahaya dari dunia lama." Elara mendekat, lalu menyentuh dada Raihan dengan ujung jarinya. Seketika, cahaya biru samar keluar dari tubuhnya, membentuk simbol melingkar - seperti segel kuno.
Raihan terjatuh ke lutut, pandangannya kabur. Ingatan kilat menabrak kepalanya: Peperangan, api, dan dirinya yang berdiri di atas menara batu, menahan pintu dimensi agar tak runtuh. Suara Elara di masa lalu bergetar: "Jika kau pergi, aku akan menunggu, meski seribu tahun..."
Kilatan itu menghilang. Raihan terengah-engah.
"Kenapa aku di sini?" Tanyanya dengan suara gemetar.
Elara memandangnya lama, lalu menjawab lirih: "Karena dunia kami hancur tanpa penjaganya. Dan seseorang di dunia lamamu telah membuka pintu terlarang itu lagi."
Dunia lama. Dunia baru. Dua dunia yang saling menelan.
Raihan menatap langit. Dua bulan itu seperti mata raksasa yang mengawasi, dingin dan tak berperasaan. Ia ingin menyangkal semuanya, tapi jiwanya bergetar, seolah mengenali panggilan itu.
"Jika aku benar-benar... Kael." Ucapnya pelan: "Apa yang harus kulakukan?"
Elara tersenyum samar, tapi matanya menyimpan kesedihan yang dalam: "Kau harus memilih dunia mana yang ingin kau selamatkan. Tapi ingat, menyelamatkan satu berarti menghancurkan yang lain."
Hening.
Hanya suara serangga malam dan desir angin yang mengisi udara.
Raihan menatap tangannya - jari-jarinya gemetar. Ia ingin pulang, tapi kata pulang kini tak lagi berarti apa-apa. Dunia mana yang rumahnya?
"Kalau begitu... tunjukkan padaku dunia yang harus kuselamatkan." Katanya akhirnya.
Elara menunduk, lalu mengulurkan tangan: "Ikut aku, Penjaga Bayangan."
Ketika jari mereka bersentuhan, cahaya biru menyelimuti keduanya. Dalam sekejap, hutan lenyap, tergantikan kota asing di bawah langit yang pecah. Menara bata hitam berdiri di tengah reruntuhan dan bayangan raksasa merangkak dari celah bumi.
---
"Dunia ini... runtuh." Bisik Raihan.
"Ya." Jawab Elara: "Dan waktu kita hampir habis."
Bayangan itu bergerak seperti kabut pekat. Dari dalamnya, terdengar jeritan manusia - atau sesuatu yang menyerupai manusia.
"Kenapa aku?" Raihan menatapnya: "Kenapa harus aku?"
Elara memandang lurus ke arahnya:"Karena hanya kau yang bisa menutup pintu antara dua dunia. Karena hanya jiwamu yang pernah melewati keduanya."
"Dan kalau aku gagal?"
Elara menatap dua bulan di langit yang kini perlahan pecah dan berkata lirih: "Maka kedua dunia akan mati... bersamamu."
---
Langit bergemuruh. Tanah bergetar. Dari balik bayangan muncul sosok lain - berwajah sama seperti Raihan, tapi matanya hitam seluruhnya. Ia tersenyum.
"Aku sudah bosan menunggu, Kael." Katanya dengan suara yang nyaring tapi datar: "Sekarang biar aku yang mengakhiri semuanya."
Elara menarik pedang bercahaya: "Bayanganmu sendiri telah lepas. Ini harga dari perjanjian yang dulu kau buat."
Raihan memandangi kembarannya itu, hatinya berdegup tak karuan. Ia tidak mengerti semuanya, tapi sesuatu di dalam dirinya mulai bangkit - ingatan, kekuatan, ketakutan.
Angin berhenti. Suara dunia lenyap. Hanya detak jantungnya yang tersisa.
---
> "Kau tak akan bisa menghindari takdirmu, Penjaga Bayangan."
Suara itu menggema dalam pikirannya sebelum semuanya pecah menjadi cahaya putih.
Cahaya putih itu perlahan mereda. Raihan terhuyung dan hampir jatuh, tapi Elara menahannya. Mereka kini berdiri di atas menara batu yang hancur separuh, di tengah badai sihir yang berputar liar. Angin membawa serpihan memori, bisikan masa lalu dan serpih bayangan.
Di hadapan mereka berdiri sosok kembar Raihan-Bayangan Kael.
Tubuhnya diselimuti aura hitam pekat, tapi wajahnya tenang: "Kau terlalu lama bersembunyi di dunia manusia." Katanya dingin: "Sementara aku menanggung semua dosa yang kau tinggalkan."
Raihan menatapnya dalam diam. Dalam dirinya, dua suara bergema: satu suara memintanya melawan, satu lagi membisikkan untuk menyerah. Ia merasa seperti terpecah dua, tubuhnya menjadi jembatan antara dua eksistensi.
"Bayangan... aku bukan musuhmu."
"Tapi aku diciptakan untuk menjadi itu." Jawab Bayangan Kael: "Tanpamu, aku lenyap. Denganmu, aku tak pernah bebas. Maka biarkan salah satu dari kita mati."
Elara maju, pedangnya bersinar lembut: "Kau tidak harus melakukannya, Kael. Kau bisa menyatu kembali dengannya!"
Namun bayangan itu hanya tertawa: "Kau masih berharap pada hal-hal kecil seperti harapan dan cinta? Dunia sudah terlalu rusak untuk diperbaiki."
Tanpa peringatan, Bayangan Kael mengangkat tangannya dan dari tanah menara muncul rantai gelap berkilau ungu, menghantam ke arah Raihan dan Elara. Mereka melompat menghindar dan dentuman keras memecah batu di bawah kaki mereka.
"Raihan!" Teriak Elara, melemparkan batu kristal kecil: "Fokuskan niatmu padanya!"
Raihan menggenggam kristal itu. Seketika, simbol biru di dadanya berpendar, membentuk lingkaran sihir di sekeliling mereka. Ia merasa kekuatan aneh mengalir-bukan kekuatan yang ia pelajari, tapi sesuatu yang selalu ada di dalam dirinya.
Bayangan Kael menatapnya, matanya berkilat tajam: "Kau mulai ingat, ya? Rasakan. Itulah mengapa kau harus hilang. Karena selama kau hidup, aku tak akan pernah bebas!"
Mereka bertabrakan. Cahaya biru dan hitam menyatu, membentuk pusaran raksasa di langit. Menara bergetar, batu-batu runtuh ke jurang.
Elara mencoba menahan badai sihir dengan perisai cahaya, tapi energinya mulai menipis: "Raihan! Kalau kau terus melawan kekuatan bayanganmu, kalian berdua akan musnah!"
Raihan terengah, menatap wajah kembarannya dari jarak dekat. Di balik semua kebencian, ia melihat sesuatu-ketakutan.
"Bayangan... kau hanya ingin bebas, kan?" Suaranya parau: "Kalau begitu, lepaskan aku. Dan aku lepaskan kau."
Bayangan Kael terdiam sejenak: "Kau tidak mengerti... kita bukan dua hal yang terpisah. Aku adalah luka dari jiwamu sendiri."
"Kalau begitu, biar luka ini sembuh bersama."
Raihan menurunkan tangannya. Aura biru di tubuhnya bergetar, lalu perlahan mengalir ke arah bayangannya, menyatu seperti kabut yang bertemu angin. Cahaya biru dan hitam berpadu menjadi ungu lembut, lalu... hening.
---
Ketika badai berhenti, hanya ada Raihan yang berdiri di atas reruntuhan. Tubuhnya berlutut, nafasnya tersengal. Di depannya, Elara mendekat dengan wajah lega tapi mata berkaca-kaca: "Kau melakukannya..."
Raihan tersenyum samar: "Entahlah... apakah aku menyelamatkan dunia, atau justru menghapusnya."
Ia menatap langit. Dua bulan perlahan menyatu menjadi satu dan retakan di langit menutup seperti luka yang sembuh. Tapi di sela cahaya itu, ia melihat bayangan wajahnya sendiri menatap balik dari sisi lain.
Sebuah bisikan terdengar di pikirannya: "Kau tak akan pernah benar-benar di satu dunia saja."
Tiba-tiba tanah di bawah menara runtuh. Elara berlari, menarik tangannya, tapi jembatan batu patah. Raihan terjatuh ke jurang bercahaya.
"Raihan!!" Suara Elara menggema, lalu dunia menjadi gelap.
Reihan terbangun di tempat yang asing. Bukan di menara, bukan di hutan, tapi di sebuah kamar rumah sakit. Lampu neon putih menyilaukan matanya. Suara mesin detak jantung berdentang pelan di sampingnya.
"Apa... ini?"
Seorang perawat masuk dengan wajah lega: "Kau sudah sadar. Kau ditemukan pingsan di jembatan kampus semalam. Hampir saja hanyut ke sungai."
Raihan membeku. Kampus?
Ia menatap ke luar jendela. Langit sore, satu matahari dan gedung-gedung kota. Dunia lamanya. Tapi di kaca jendela, bayangan wajahnya berubah sesaat-matanya biru, rambutnya sedikit berkilau perak.
Ia memejamkan mata. Di dalam kepalanya, terdengar suara lembut Elara: "Terima kasih, Penjaga Bayangan. Dunia kami bisa tenang... untuk sekarang."
---
Beberapa hari kemudian, Raihan berjalan ke jembatan tempat ia pertama kali menghilang. Air sungai mengalir tenang. Ia menatap permukaannya lama, lalu tersenyum samar.
"Kalau benar dunia itu nyata, semoga kau baik-baik saja di sana."
Ia berbalik hendak pergi, tapi sebelum langkahnya menjauh, angin berhembus pelan. Air sungai memantulkan dua bulan di langit-hanya sesaat, sebelum lenyap lagi.
---
Malamnya, ia menulis sesuatu di buku catatannya:
> 'Mungkin transmigrasi bukan tentang berpindah dunia, tapi tentang menemukan bagian diri yang hilang di tempat lain.'
Ia menutup buku itu, lalu menatap jendela. Di pantulan kaca, sekilas ia melihat siluet Elara tersenyum, sebelum perlahan menghilang bersama cahaya bulan.
---
Bab 1 Tamat
Suara dentuman petir mengoyak langit merah darah. Di tengah gurun hitam yang terbentang sejauh mata memandang, Liora terbangun dengan dada sesak. Hembusan angin panas seperti nafas makhluk purba menerpa wajahnya. Ia menatap sekeliling - tanahnya berwarna abu-abu pekat, udara beraroma logam dan di kejauhan, menara-menara raksasa menjulang seperti gigi monster yang siap menelan langit.
Tubuhnya terasa berat. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya gemetar. Gaun putih yang tadi ia kenakan - entah kapan - kini ternoda abu. Ia tak ingat bagaimana bisa sampai di sini. Yang terakhir ia tahu, ia berada di kamar kecilnya, mengetik naskah novel fantasi tentang "Dunia Iblis Arkhana"
Kini dunia itu... benar-benar nyata di hadapannya.
"Jadi ini... transmigrasi?" Gumamnya, antara kagum dan ngeri. Suaranya serak, nyaris tertelan oleh angin yang berdesis membawa bisikan samar.
> "Manusia... manis... nyawa segar..."
Liora menoleh cepat. Tak ada siapa pun di sana. Tapi bayangan-bayangan gelap di permukaan tanah bergerak sendiri, seolah menatapnya. Ia berlari - atau lebih tepatnya menyeret kakinya di atas pasir panas - menuju satu-satunya tempat yang tampak seperti peradaban: reruntuhan batu di kaki bukit hitam.
Langkahnya terhenti ketika melihat sosok tinggi berdiri di antara pilar-pilar runtuh. Sosok itu membelakanginya, tubuhnya dibalut jubah hitam dan dari punggungnya menjulur sayap besar berwarna obsidian, basah oleh darah yang belum kering.
Saat ia menatap lebih dekat, angin berdesir kencang, membuat jubah sosok itu berkibar. Dan untuk sesaat, Liora melihat matanya - sepasang mata merah yang menatap dengan kesedihan purba.
"Aku sudah memperingatkan mereka... jangan bangkitkan aku lagi." Suaranya dalam, seperti gema dari gua yang tak berujung.
Liora menelan ludah: Siapa... siapa kamu?"
Sosok itu menatapnya sejenak, lalu berjalan perlahan mendekat. Langkahnya berat, tapi anggun. Di bawah kakinya, pasir menghitam seperti terbakar.
"Aku tidak tahu lagi." Katanya lirih: "Mereka memanggilku Kael. Tapi aku tidak ingat apakah aku iblis, malaikat, atau makhluk sialan yang tertinggal di antara keduanya."
Liora terdiam. Matanya tak bisa lepas dari sayap Kael - indah tapi menyedihkan, separuh hancur, seperti disobek paksa dari cahaya dan dilemparkan ke neraka.
Kael menatapnya balik: "Dan kau... seharusnya tidak ada di sini, manusia."
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa di sini." Jawabnya cepat: "Aku... aku hanya membuka laptopku, lalu-"
"Lalu?"
"Lalu dunia ini muncul."
Kael menatapnya lama, seakan mencoba membaca pikirannya. Lalu, tiba-tiba, tanah bergetar keras. Dari bawah reruntuhan, muncul tangan-tangan hitam panjang seperti bayangan yang hidup, mencakar udara.
"Bergerak!" Teriak Kael, menarik tangan Liora tanpa pikir panjang. Sentuhan itu membuat jantung gadis itu berdebar aneh - dingin dan panas sekaligus.
Dari celah bumi, muncul makhluk tanpa wajah dengan mulut selebar dada, berteriak melengking. Suara itu seperti logam digesekkan pada tulang.
Kael melepaskan Liora, mengangkat tangannya. Dari sayap hitamnya, keluar serpihan cahaya merah seperti debu api. Ia mengucap mantra pendek - bukan dalam bahasa manusia.
Udara bergetar, lalu ledakan merah menghantam makhluk itu hingga tubuhnya pecah menjadi asap.
Liora mundur, menutup mulutnya dengan tangan. Tubuh makhluk itu lenyap, tapi suara jeritannya masih menggema: "Kael... apa itu?!"
"Bayangan yang tersisa dari perang seribu tahun lalu." Jawabnya datar: "Mereka haus akan jiwa. Dan entah kenapa, mereka mencium milikmu."
"Jiwaku?"
"Iya." Gumam Kael sambil menatap langit gelap: "Jiwa dari dunia lain. Terlalu terang... di tempat sehitam ini."
Mereka berjalan menjauh dari reruntuhan, melewati padang batu hitam yang disinari cahaya merah samar dari retakan tanah.
Di kejauhan, menara-menara raksasa tampak berdenyut, seperti jantung dunia.
Liora mulai bertanya-tanya apakah dunia ini benar-benar "Neraka" atau sesuatu yang lebih rumit.
"Kael..." Katanya pelan: "Kau bilang perang seribu tahun. Siapa yang kau lawan?"
Kael berhenti. Bayangan panjangnya menelan pasir di bawahnya: "Iblis melawan iblis. Cahaya melawan bayangan. Dan aku... berada di tengahnya. Aku kehilangan segalanya - termasuk alasan kenapa aku masih hidup."
Liora menatapnya lama. Ada sesuatu di balik tatapan Kael - kesepian yang begitu dalam hingga rasanya menembus dada.
Entah kenapa, hatinya sakit melihatnya begitu.
Tiba-tiba, angin berhenti berhembus. Udara membeku.
Kael menoleh tajam: "Mereka datang lagi."
"Siapa?"
"Penjaga Lapisan Ketujuh."
Dari kabut merah, muncul tiga sosok dengan jubah hitam panjang dan wajah tanpa mata. Di dada mereka tertanam batu merah menyala. Mereka tidak berjalan - mereka melayang, dan setiap langkah udara bergetar seperti disayat.
Salah satu dari mereka berbicara, suaranya bergema dari segala arah: "Kael, Putra Pengkhianat Sayap Gelap. Kau melanggar perjanjian darah. Kau tidak seharusnya ada di permukaan dunia ini."
Kael mengangkat wajahnya, matanya bersinar merah tajam: "Dan kalian masih hidup. Sayang sekali."
Dalam sekejap, bayangan-bayangan mereka pecah jadi bentuk fisik - tiga iblis penjaga, bersenjata rantai berapi.
Liora mundur, tubuhnya gemetar: "Kael-"
"Berlindung di belakangku!"
Kael mengibaskan sayapnya. Satu kibasan, badai hitam menerjang. Rantai-rantai api menghantam tanah, menimbulkan ledakan panas.
Liora hanya bisa menutup mata, mendengar benturan logam, ledakan dan raungan yang membuat tanah retak.
Ketika ia membuka mata lagi, Kael berdiri di depannya, tubuhnya berdarah, tapi masih tegak. Dua dari tiga iblis penjaga telah berubah menjadi abu. Satu lagi masih berdiri, tapi kehilangan satu tangan.
Kael mendekat, menatap makhluk itu dari dekat: "Katakan pada tuanmu." Katanya pelan namun tajam: "Kalau Kael belum mati. Dan aku... tidak akan mati sampai aku tahu siapa yang menulis ulang takdirku."
Iblis penjaga itu menatap Liora dan dalam sekejap lenyap jadi asap.
Liora mendekati Kael, menatap luka di bahunya yang dalam: "Kau terluka parah..."
Kael tersenyum miring: "Ini bukan pertama kalinya."
Tapi senyum itu hanya bertahan sebentar sebelum ia jatuh berlutut, sayapnya menggigil hebat.
Liora berlari menahannya. Saat tangannya menyentuh kulit Kael, cahaya putih samar keluar dari telapak tangannya - hangat dan lembut.
Kael terkejut: "Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak tahu!" Seru Liora panik: "Tubuhku bergerak sendiri!"
Luka Kael perlahan sembuh. Ia menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan - antara kagum dan takut.
"Liora..." Suaranya bergetar: "Kau... bukan manusia biasa. Cahaya itu-itu kekuatan dari dunia atas. Tapi kau... datang dari dunia manusia."
Liora menggigit bibirnya: "Aku tidak tahu. Aku cuma ingin menolongmu."
Kael berdiri, menatap langit merah: "Kau membawa sesuatu yang bahkan para iblis takutkan." Ia menoleh padanya, matanya bersinar lembut di balik amarahnya: "Dan mungkin, kau alasan kenapa aku dihidupkan kembali."
---
Suara detak jantung Liora terasa lebih keras dari gemuruh langit. Setelah pertarungan itu, keheningan aneh menyelimuti tanah hitam. Hanya sisa api merah membara di sekitar reruntuhan, menari-nari di udara seperti makhluk hidup.
Kael berdiri di hadapan kobaran api, punggungnya tegap, tapi sayapnya bergetar lemah. Setiap kali ia menggerakkan sayap itu, serpihan hitam berjatuhan seperti abu.
"Kau harus beristirahat." Kata Liora, mendekat perlahan.
Kael tidak menjawab. Ia hanya menatap ke dalam api, matanya kosong - seolah sedang melihat ribuan tahun penderitaan di baliknya: "Tidur tidak menyembuhkan dosa." Gumamnya akhirnya: "Apalagi dosa yang bahkan surga dan neraka menolak."
Liora terdiam. Kata-kata itu dingin, tapi suaranya menyimpan rasa sakit yang nyata. Ia berjongkok di samping Kael, memeluk lututnya, menatap api yang sama: "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu." Katanya pelan: "Tapi aku tahu rasa bersalah yang tidak bisa dilupakan."
Kael menoleh, menatap wajahnya. Dalam sorotan api, wajah Liora tampak rapuh namun tegas, seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak hal dalam waktu singkat.
"Kau terlalu berani untuk manusia." Kata Kael.
"Dan kau terlalu manusia untuk iblis." Balas Liora tanpa berpikir.
Untuk sesaat, keheningan kembali turun lalu Kael tertawa kecil, suara yang asing bahkan bagi dirinya sendiri: "Lucu. Sudah ribuan tahun aku tidak tertawa."
Tiba-tiba tanah bergetar lagi. Tapi kali ini bukan karena serangan - melainkan denyut dunia itu sendiri.
Di kejauhan, dari arah menara berdarah, muncul kilatan cahaya biru. Liora menatapnya dengan mata membesar: "Apa itu?"
"Gerbang Arkhana" Jawab Kael cepat: "Tempat semua jiwa iblis lahir dan dibakar ulang. Jika terbuka, dunia ini akan runtuh. Dan seseorang sedang mencoba membukanya dari dalam."
Liora menelan ludah: "Dan itu buruk?"
Kael menatapnya datar: "Itu akhir dari segala hal buruk dan baik." Ia merentangkan sayapnya, bersiap terbang. Tapi sebelum bisa mengangkat tubuhnya, ia menatap Liora: "Kau ikut atau tidak, manusia?"
"Aku tak punya tempat lain." Jawab Liora cepat. "Aku sudah mati di dunia asliku - atau setidaknya, tubuhku di sana sudah."
Kael menatapnya tajam, lalu mengangguk pelan: "Kalau begitu, tetap di belakangku. Dunia ini tidak mengenal belas kasih."
Mereka melangkah menuju cahaya biru di kejauhan. Semakin dekat, udara makin dingin. Angin membawa suara-suara samar: Tangisan, tawa dan bisikan nama-nama yang sudah dilupakan waktu.
Di tengah perjalanan, Kael berhenti mendadak. Liora hampir menabraknya: "Kenapa berhenti?"
"Karena mereka menunggu."
Dari kabut abu, muncul barisan makhluk bersayap patah, tubuh mereka terdiri dari tulang dan api biru. Mereka membentuk lingkaran besar, menutup jalan ke gerbang. Di antara mereka berdiri sosok tinggi dengan tanduk melengkung dan mata emas - berbeda dari iblis lainnya.
"Kael." Katanya dengan suara seperti logam yang bergetar: "Akhirnya kau muncul."
Kael menyipitkan mata: "Arazel." Nada suaranya berat oleh kenangan.
Liora bisa merasakan ketegangan di udara, seolah dua makhluk kuno itu membawa sejarah panjang di antara mereka.
"Arazel." Ulang Kael: "Dulu kau saudara seperjanjian. Kenapa sekarang kau berdiri di hadapan gerbang kehancuran?"
Arazel tersenyum dingin: "Karena kehancuran adalah satu-satunya cara memutus rantai kutukan ini. Kau tahu itu. Kita semua lahir dari darah kebohongan."
Kael menggertakkan gigi: "Itu tidak berarti kita harus menghancurkan segalanya."
"Tapi aku sudah menghancurkan semuanya." Jawab Arazel lembut, dan di balik suaranya ada kepedihan: "Aku sudah membunuh mereka semua, Kael. Aku tinggal menutup tirai terakhir - denganmu."
Tanah bergetar keras. Bayangan iblis-iblis penjaga bergerak, mengepung mereka. Kael menarik pedang hitam dari udara - pedang itu bukan besi, tapi energi murni dari sayapnya sendiri.
"Liora." Katanya tanpa menoleh: "Kalau aku jatuh, jangan biarkan mereka menyentuh tubuhku."
Liora menelan ludah: "Kenapa?"
"Karena jika darahku menetes ke tanah, dunia ini akan benar-benar terbakar."
Pertempuran pun dimulai. Cahaya merah dan biru meledak di udara. Suara dentingan besi bercampur raungan. Kael bertarung seperti badai, sayapnya menyapu iblis-iblis tulang hingga pecah menjadi debu. Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Liora bersembunyi di balik batu besar, menggenggam dadanya yang terasa sakit. Setiap kali Kael terluka, entah kenapa dadanya ikut nyeri - seolah ada benang tak terlihat yang mengikat jiwa mereka.
"Kau tahu kenapa dia bisa hidup lagi?" Suara misterius tiba-tiba terdengar di telinganya. Liora menoleh cepat. Di sampingnya berdiri seorang perempuan berambut putih panjang, mengenakan jubah perak. Matanya berkilau seperti bintang.
"Siapa kau?" Tanya Liora panik.
"Namaku Lyne." Jawabnya pelan: "Aku penjaga antara dunia manusia dan dunia iblis. Dan kau, gadis, adalah penyimpangan."
"Apa maksudmu?"
"Rohmu seharusnya tidak menyeberang ke Arkhana. Tapi seseorang di sini - Kael - menarikmu secara tak sadar. Ia menginginkan cahaya dan alam semesta menjawab dengan mengirimmu."
Liora tercengang: "Jadi aku... bukan transmigrasi kebetulan?"
Lyne tersenyum tipis: "Tidak ada kebetulan dalam dunia iblis. Hanya hutang dan takdir."
Suara teriakan Kael membuat Liora menoleh. Kael terhempas ke tanah, darah hitam menetes dari bibirnya. Arazel berdiri di atasnya, pedangnya terhunus.
Liora berlari tanpa berpikir, menembus pusaran energi gelap yang menyakitkan kulitnya. Ia berteriak: "Kael!!!"
Dalam detik itu, sesuatu di dalam dirinya meledak - cahaya putih menyilaukan keluar dari tubuhnya, menembus langit neraka.
Arazel menutup wajahnya, berteriak marah, sementara Kael menatap Liora dengan mata membelalak.
"Tidak!" Teriaknya: "Itu cahaya asal-jangan-"
Tapi terlambat. Cahaya itu menghantam tanah dan membentuk lingkaran simbol purba, menelan semuanya dalam kilatan putih murni.
---
Cahaya putih itu membutakan segalanya. Udara berhenti bergetar; waktu seolah terhenti. Dalam diam itu, Liora mendengar jantungnya berdetak keras-bukan hanya miliknya, tapi juga milik Kael. Dua detak yang berbeda, namun selaras, seperti dua dunia yang dipaksa bersatu.
Ketika kilatan perlahan meredup, Liora membuka mata. Ia berdiri di tengah hamparan tanpa batas, langitnya putih keperakan, tanahnya bening seperti kaca. Tak ada iblis, tak ada api-hanya keheningan yang nyaris menakutkan.
"Di mana ini..." Suaranya bergetar, memantul lembut ke segala arah.
Dari balik kabut, Kael muncul. Luka di tubuhnya lenyap, tapi wajahnya tampak lebih pucat, matanya kehilangan sinar merahnya. Ia menatap Liora dengan campuran kelegaan dan ketakutan.
"Ini... ruang antara." Katanya: "Tempat di mana jiwa disucikan atau dihapus. Kau memanggilnya tanpa sadar."
Liora menatap tangannya sendiri-cahaya putih masih menyala samar dari ujung jarinya: "Aku tidak tahu bagaimana caranya..."
"Kau tidak perlu tahu." Ujar Kael pelan: "Karena itu bukan kekuatan milikmu. Itu... serpihan cahaya dari dunia atas yang menempel padamu." Ia mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di depannya: "Liora, cahaya itu bisa menghancurkan dunia iblis-dan juga jiwamu sendiri. Kau harus mengendalikannya, atau kita berdua akan lenyap."
Liora menggigit bibirnya: "Aku tidak ingin menghancurkan apa pun. Aku hanya ingin kembali."
Kael tersenyum pahit: "Kembali? Dunia manusia takkan menerimamu lagi. Tubuhmu di sana sudah kosong."
Kata-kata itu menusuk seperti belati. Liora menunduk, dadanya terasa sesak: "Jadi aku benar-benar mati?"
Kael menatapnya lama, lalu berkata lirih: "Tidak. Kau... hidup di dalamku."
Sebelum Liora sempat bertanya, permukaan kaca di bawah mereka mulai bergetar. Dari bawahnya, muncul bayangan hitam, ribuan tangan yang meraih ke atas. Suara Arazel menggema dari kedalaman, parau dan putus asa.
"Kau pikir bisa lari dari kegelapan, Kael? Dunia ini menelan terang sebersih apa pun!"
Kael menatap ke bawah, lalu ke Liora: "Dia mencoba menarik kita kembali. Kalau kita jatuh ke sana, tidak ada yang tersisa."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Percaya padaku." Bisiknya: "Kau yang memanggil cahaya. Sekarang, aku akan menuntunnya bersamamu."
Ia meraih tangan Liora. Sentuhan itu terasa seperti bara api dan salju sekaligus. Saat jari mereka bersatu, cahaya putih dan hitam mulai berpadu di sekitar tubuh mereka.
"Kegelapan bukan kejahatan." Ujar Kael, suaranya tenang: "Dan terang bukan keselamatan. Keduanya butuh satu sama lain untuk menjadi utuh."
Liora menatapnya-dan untuk pertama kalinya, ia melihat bukan iblis, tapi seseorang yang sudah terlalu lama sendirian.
Ia memejamkan mata: "Kalau begitu, mari jadi utuh bersama."
Kilatan besar meledak, menghapus bayangan dan cahaya sekaligus. Tidak ada jeritan. Tidak ada rasa sakit. Hanya keheningan lembut, seperti tidur yang panjang.
•••
Ketika Liora membuka mata lagi, ia mendengar suara burung. Langit biru. Udara segar. Ia berbaring di padang rumput hijau. Tubuhnya ringan.
"Aku... kembali?" Bisiknya. Ia bangkit perlahan. Di sekelilingnya, bunga liar bermekaran. Tapi aneh-rumput di bawahnya membentuk pola sayap hitam yang terbentang lebar.
"Kael?" Panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban. Tapi angin berhembus lembut, membawa bisikan yang sangat samar:
"Aku ada di antara bayanganmu."
Liora menatap ke langit. Matahari bersinar terang, tapi setiap kali ia bergerak, bayangannya menampakkan sepasang sayap hitam samar di belakangnya.
Ia tersenyum tipis: "Kalau begitu, aku tidak sendirian."
Ia melangkah perlahan menyusuri padang rumput, membiarkan angin membawa rambutnya. Setiap langkah terasa nyata dan baru-seolah ia dilahirkan kembali, bukan di dunia iblis, bukan di dunia manusia, tapi di tempat di mana keduanya bertemu.
Dan di langit yang jernih itu, satu bulu hitam jatuh perlahan, berkilau di bawah sinar matahari.
Liora mengulurkan tangan, menangkapnya. Bulu itu terasa hangat, berdenyut lembut-seperti jantung seseorang yang masih hidup. Ia menatapnya lama, lalu berbisik: "Terima kasih, Kael."
Angin berhembus sekali lagi, dan di antara desirnya, terdengar suara rendah, nyaris seperti tawa lembut: "Sampai kita bertemu di dunia berikutnya, Liora..."
•••
Langit tetap biru.
Bayangan tetap hitam.
Dan di antara keduanya, lahir kisah cinta yang tidak pernah tercatat di surga maupun neraka.
Bab 2 Tamat
---
Hujan turun tanpa suara malam itu. Bukan hujan biasa tetesannya jatuh perlahan, seolah enggan menyentuh tanah.
Di jalanan kota Etherne yang nyaris kosong, lampu-lampu kuning berkelip lembut, memantulkan bayangan seseorang yang berjalan tanpa payung.
Namanya Ryn. Ia tidak tahu dari mana ia datang atau kenapa jam tangannya selalu berhenti di pukul 11:11 setiap malam.
Yang ia tahu hanyalah satu hal aneh: Setiap kali hujan turun, dunia terasa sedikit berubah.
Langit jadi terlalu rendah.
Suara langkahnya bergema dua kali seakan ada seseorang berjalan bersamanya, tapi tak terlihat. Dan di genangan air di trotoar, bayangannya bukan dirinya sendiri.
Bayangan itu... punya sayap hitam samar.
Ryn berhenti di bawah lampu jalan, memandangi refleksi itu dengan napas tertahan: "Kau siapa?" Bisiknya.
Tapi bayangan itu hanya menatap balik, senyumnya kabur oleh riak air.
Tiba-tiba, suara perempuan terdengar dari balik hujan. Lembut, seperti gema dari masa yang jauh: "Kau pernah berjanji... akan menemuiku di dunia berikutnya."
Ryn menoleh cepat.
Tak ada siapa-siapa. Hanya udara yang bergetar pelan dan tetesan hujan yang mulai membeku di udara-sungguh, membeku, menggantung seperti butiran kaca bening.
Waktu berhenti. Seluruh kota membeku.
Dan dari tengah jalan, seseorang muncul perlahan dari pusaran cahaya putih.
Seorang gadis muda, rambutnya panjang berwarna perak, matanya bening namun tampak kosong.
Ia menatap Ryn lama sekali, seolah berusaha mengingat sesuatu yang hilang.
Namamu..." Bisiknya: Kael?"
Ryn tersentak mundur: Aku tidak kenal nama itu."
Gadis itu tersenyum samar, matanya berkilat air mata: "Tapi jiwamu mengingatku." Ia mendekat dan tiba-tiba cahaya kecil muncul di antara mereka-sebuah bulu hitam, berputar pelan, berkilau di udara beku.
"Kael dan Liora telah lenyap." Gumam gadis itu: "Tapi serpihan mereka hidup dalam waktu ini. Kau adalah separuh yang tertinggal."
Ryn menatap bulu itu, dan untuk sesaat, ia melihat sekilas bayangan dua sosok lelaki berambut gelap dan gadis bersayap cahaya terperangkap dalam pusaran putih.
Jantungnya berdetak keras: "Siapa kau sebenarnya?"
Gadis itu tersenyum lembut: "Aku? Aku hanya penjaga waktu. Tapi dulu... mungkin aku adalah sesuatu yang lebih." Ia mengulurkan tangan ke arah Ryn: "Kalau kau ingin tahu kebenaranmu, datanglah ke Menara Jam di Tengah Hujan sebelum jarum berhenti."
Dan begitu ia menyentuh Ryn seluruh dunia kembali bergerak. Hujan jatuh, lampu padam, suara mobil terdengar lagi.
Tapi gadis itu telah lenyap. Yang tertinggal hanya bulu hitam di tangan Ryn hangat, berdenyut pelan, seolah hidup.
Ia menatap jam tangannya.
11:10.
Satu menit lagi menuju waktu yang selalu berhenti.
Ryn mengangkat kepala, hujan menetes di wajahnya: "Menara Jam di Tengah Hujan, ya..." Katanya pelan. Ia memasukkan bulu itu ke sakunya dan mulai berjalan menuju pusat kota, langkahnya berat tapi pasti.
Di belakangnya, genangan air memantulkan dua bayangan yang berjalan berdampingan satu dengan mata biru, satu lagi dengan sayap hitam samar.
Dan di kejauhan, lonceng waktu mulai berdentang.
Dong...
Dong...
Dong...
Setiap dentang menggema seperti napas dunia yang terhenti.
Hujan tak kunjung berhenti malam itu.
Ryn berjalan sendirian di trotoar yang basah, langkahnya bergema di antara suara gemericik air dan desau angin yang membawa aroma logam. Ia sudah pernah melewati kota ini ratusan kali, tapi malam ini terasa berbeda.
Gedung-gedung tampak lebih tinggi, jalanan lebih sepi dan langit seperti menatap balik.
Setiap kali kilat menyambar, bayangan hitam melintas di atas atap-sayap raksasa, samar namun nyata. Dan setiap kali ia mengedip, dunia terasa sedikit bergeser, seperti film tua yang melompati satu frame.
Jam tangannya menunjukkan 11:44. Empat belas menit sebelum waktu berhenti.
Di saku jasnya, bulu hitam yang ia temukan masih berdenyut pelan, seperti jantung kecil. Kadang bergetar, kadang berbisik tidak dengan suara, tapi dengan sensasi hangat yang merayap ke nadinya.
"Kau tak sendiri" Bisik sesuatu di dalam pikirannya.
"Aku bersamamu."
Ryn terhenti: "Siapa kau?" Tanyanya pelan.
"Aku? Aku... dulu Liora memanggilku Kael."
Ryn membeku. Nama itu- Nama yang disebut gadis perak itu di tengah hujan beku.
"Kael?"
"Bukan Kael yang kau pikirkan." Lanjut suara itu lembut. "Aku hanyalah gema. Bayangan dari jiwa yang pernah hidup. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu-itu milikku."
Ryn menggenggam bulu itu lebih erat: "Jadi aku... reinkarnasimu?"
"Tidak juga. Kau dirimu sendiri, tapi ada sesuatu dariku yang tak pernah pergi. Aku tersesat dalam waktu ketika dunia runtuh... dan kini, kita berbagi satu tubuh."
Ryn menatap langit yang berwarna abu-abu keunguan: "Kalau begitu, siapa Liora?"
Suara itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada getir: "Ia adalah cahaya yang tak bisa aku raih. Ia menyeberangi waktu lebih dulu. Dan mungkin... malam ini, dia akan datang mencarimu."
---
Jalan menuju pusat kota semakin sunyi.
Ryn akhirnya tiba di depan Menara Jam di Tengah Hujan, bangunan tua dari batu hitam, menjulang setinggi mata langit.
Jarumnya menunjukkan 11:56 dan dentang jam berikutnya terasa seperti suara jantung dunia.
Gerbang besinya terbuka sendiri, berderit panjang. Di dalamnya, tangga spiral melingkar ke atas, tak berujung.
Ia mulai mendaki, langkahnya berat, napasnya membentuk kabut. Setiap anak tangga yang dilewati membuat dunia di bawahnya makin kabur, seolah waktu terurai menjadi kabut hitam.
Di dinding, ukiran-ukiran aneh bergerak pelan-lukisan perang antara manusia dan iblis, antara cahaya dan kegelapan. Di tengah ukiran itu, Ryn melihat dua wajah: Seorang pria bersayap hitam dan wanita bermata perak.
Ia mengenal mereka. Meski tak pernah melihat sebelumnya, hatinya tahu, mereka adalah Kael dan Liora.
Tiba-tiba seluruh menara bergetar. Cahaya merah mengalir dari celah lantai, lalu wujud seorang perempuan muncul di ujung tangga, mengenakan jubah putih yang basah oleh hujan.
"Ryn..." Suaranya lirih tapi jelas, menggema di udara beku: "Waktu hampir habis."
Ryn memandangnya tajam: "Kau... Liora?"
Gadis itu menundu: "Bukan. Aku hanya serpihan darinya. Tapi jiwanya... menunggu di atas."
Ia mengulurkan tangan: "Kalau kau naik sebelum jarum ke-12 berdentang, kau bisa menemuinya. Tapi jika terlambat-waktu akan menelanmu."
Ryn mengangguk dan mulai berlari menaiki tangga. Langkahnya berpacu dengan detak jam di atas kepalanya.
Setiap langkah terasa menembus dimensi, lantai-lantai menara berganti warna, dari batu, menjadi kaca, menjadi cahaya.
11:58.
Suara Kael bergema dalam pikirannya: "Cepat. Di puncak menara, dunia akan terbelah. Di sanalah semua waktu bersatu."
11:59.
Ryn menendang pintu kayu di ujung tangga dan angin berputar kencang, menyapu tubuhnya. Ia tiba di ruang puncak-sebuah langit terbuka, dengan roda jam raksasa berputar di langit.
Setiap gigi roda jam adalah bintang, dan di tengahnya berdiri sosok wanita berambut perak, memegang payung hitam.
Wajahnya lembut. Tapi matanya memancarkan kesedihan abadi.
"Kael." Bisiknya pelan: "Kau akhirnya datang."
Ryn berdiri terpaku: "Aku bukan Kael."
Wanita itu tersenyum tipis: "Tapi jiwamu tahu siapa aku." Ia mendekat dan menatap Ryn dengan tatapan yang membuat dunia seolah berhenti. Di balik iris matanya, ada langit yang runtuh, ada hujan yang berjalan mundur, ada kenangan yang tak ingin padam: "Aku telah melintasi seribu waktu hanya untuk menemukannya lagi..." Katanya pelan: "Dan kini, aku berdiri di hadapanmu, yang bukan dia, tapi masih dia."
Ryn menelan ludah: "Apa maksudmu?"
Wanita itu menyentuh dada Ryn perlahan dan cahaya hitam keluar dari tubuhnya, membentuk siluet sayap yang terbuka lebar.
"Karena sebagian Kael hidup di dalammu." Katanya dengan air mata mengalir:"Dan sebagian diriku... telah menjadi hujan yang kau hirup setiap malam."
12:00.
Jam berdentang.
Dunia membeku lagi.
Roda waktu berhenti.
Dan di antara tetes hujan yang membeku di udara, mereka berdua berdiri berhadapan antara yang hidup dan yang pernah hidup.
Dentang ke-12 menggema seperti napas terakhir dunia.
Semua suara berhenti.
Ryn berdiri di hadapan wanita berambut perak itu, tubuhnya kaku, matanya menatap ke arah roda jam yang kini berhenti berputar di langit.
Tetes-tetes hujan membeku di udara, berubah menjadi butiran cahaya yang melayang pelan di antara mereka.
Waktu telah mati.
"Jadi... ini akhirnya?" Tanya Ryn, suaranya serak.
Wanita itu tersenyum samar: "Tidak ada akhir, Ryn. Hanya lingkaran yang belum selesai." Ia melangkah mendekat, jemarinya menyentuh bulu hitam di tangan Ryn dan bulu itu langsung menyala lembut, memancarkan cahaya biru keunguan.
"Bulu ini... adalah pecahan Kael." Katanya: "Sisa dari dunia yang sudah runtuh. Tapi aku tidak tahu kenapa ia memilihmu."
Ryn menatap bulu itu lama sekali: "Mungkin karena aku-aku tidak punya masa lalu. Aku hanya... tiba-tiba hidup di kota ini."
Wanita itu memejamkan mata: "Tidak ada yang tiba-tiba hidup, Ryn. Kau lahir dari keinginan waktu yang belum terselesaikan."
Dunia di sekitar mereka mulai bergetar pelan. Langit berubah warna menjadi ungu gelap dan roda jam di atas kepala mereka mulai berputar mundur.
Dong...
Dong...
Setiap dentang bergerak mundur, memutar waktu ke masa sebelum hujan turun.
Ryn menatap wanita itu: "Kalau aku Kael... dan kau Liora... apakah kita akan bertemu lagi setelah ini?"
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan mata penuh air mata, lalu menunduk dan berkata: "Kita selalu bertemu, di setiap hujan yang jatuh."
Ia melepaskan bulu itu dan bulu itu melayang naik ke langit, berputar di antara tetesan hujan yang membeku.
Cahaya hitam dan putih berpadu, membentuk pusaran besar di atas kepala mereka.
"Ryn..." Suaranya perlahan memudar: "Jika suatu hari kau mendengar jam berdetak tanpa arah-itu artinya aku masih menunggumu."
Angin berputar kencang.
Lantai menara retak dan tubuh Ryn terseret ke dalam pusaran cahaya. Ia berusaha meraih tangan wanita itu, tapi hanya ujung jarinya yang tersentuh.
Lalu semuanya lenyap.
Hening.
Ryn terbangun di bangku taman.
Langit cerah, matahari bersinar dan suara burung terdengar jelas. Tidak ada hujan. Tidak ada menara. Tidak ada waktu yang membeku.
Hanya sebuah bulu hitam kecil di pangkuannya, diam dan mati.
Ia memandang sekeliling-orang-orang berjalan seperti biasa, mobil lewat, kehidupan normal.
Namun, sesuatu terasa aneh: Semua jam yang ia lihat menunjukkan waktu 11:11. Tidak ada yang bergerak satu detik pun setelah itu.
Ia berdiri perlahan, menatap ke langit.
Di antara awan, ia pikir ia melihat bayangan seseorang berdiri di atas jam raksasa transparan, rambutnya berwarna perak, memegang payung hitam.
Lalu kilat menyambar dan bayangan itu menghilang.
Hujan turun lagi, pelan-pelan. Setiap tetesnya berbisik seperti suara dari masa lalu: "Kau janji akan menemuiku di dunia berikutnya, bukan?"
Ryn tersenyum samar, memasukkan bulu itu ke saku jasnya, lalu berjalan di bawah hujan: "Kalau begitu." Katanya pelan: "Sampai jumpa di antara dua waktu."
Bab 3 Tamat