Bab 1

Panasnya api yang melahap Mansion mewah di Hampstead Heat, London Utara membuat semua orang terkejut. Tidak akan ada yang bisa melupakan kejadian tragis yang merenggut hampir seluruh keluarga Ozier itu, terutama Haslyn. Gadis yang baru berusia enam belas tahun itu menyaksikan bagaimana kematian Ayah yang dia cintai Arlan Ozier, dan dua saudara laki-lakinya. Semua kenangannya hangus terbakar menyisakan dirinya sendiri dengan balutan piyama tidur yang dia pakai. Semua penjaga mansion itu tertambak mati tanpa ada yang tahu siapa pelakunya.

Air mata Haslyn jatuh tanpa hentinya, disaat semua orang menatapnya iba seorang pria yang cukup dia kenal menghampirinya dan memeluk gadis malang itu. Dihari ulang tahunnya dia kehilangan seluruh keluarga dan penjaga yang dia kenal.

"Ron kenapa mereka membunuh ayah ku? Dia adalah ayah yang baik Ron," kata Haslyn terisak dipelukan pria yang menjadi bawahan ayahnya.

"Nona harus sabar, kita akan mencari tahunya nona. Sekarang anda harus ikut dengan saya, dan nona maafkan saya karena saya harus memberikan keterangan kalau anda juga sudah tewas didalam mansion itu." Haslyn hanya mengangguk, dia yakin dan percaya dengan apa yang Ron lakukan.

Haslyn dibawa ke Abey Road, St. Jhons wood Westminster, London. Jalan yang terkenal karena pernah menjadi latar sampul album The Beatles itu.

Disana Haslyn disembunyikan hingga dua tahun lamanya, dan Haslyn menyerah untuk bersembunyi sedangkan keterangan kematian ayah dan dua saudaranya tidak juga ditemukan siapa dalangnya. Haslyn yang berusia delapan belas tahun saat itu memutuskan meninggalkan semua kenangan buruk di memori nya. Tembakan ayahnya oleh pria dengan tutup kepala hingga wajah itu selalu menghantui Haslyn, darah dua saudaranya juga selalu membuat dia berhalusinasi.

Dia memanggil Ron dan meminta Ron memanggilkan pengacara ayahnya.

"Nona apa anda serius?" Tanya Ron saat melihat isi surat yang diminta Haslyn kepada pengacaranya dan menandatanganinya.

"Aku serius Ron, hari ini sudah dua tahun aku menunggu kejelasan, kenapa mereka membunuh keluargaku tapi ternyata semua tertutup rapi. Aku menyaksikan sendiri semua yang terjadi malam itu Ron, bagaimana ayah melindungiku. Aku menyaksikan kekejaman pria itu Ron, dan aku sudah muak menahan amarah ini aku harus berhenti." Penjelasan panjang Haslyn membuat iba Ron dan juga Mike pengacara yang ada disana.

"Jaga semua yang masih tersisa Ron, aku mohon kendalikan dengan baik apa yang ayahku tinggalkan. Aku harus pergi menjauh sementara Ron, dan bukankah semua orang tahu kalau aku sudah meninggal, jadi tidak ada masalah." Haslyn berdiri dia membawa tasnya yang sudah dia siapkan.

"Aku akan pergi Ron, aku titip semua milik ayahku. Jangan mencariku sebelum aku menghubungimu, dan jangan coba mencariku."

Haslyn pergi menuju pintu menyisakan dua pria yang melihatnya tidak tega. Bagaimana pun mereka merasakan kesedihan Haslyn, kematian orang tua bukanlah hal yang mudah untuk diterima apalagi dengan cara mengenaskan seperti yang keluarga Ozier alami.

Arlan ayah dari Haslyn Rubby Ozier adalah mafia besar yang membuat senjata dan menjualnya, banyak alat canggih yang juga di buat diperusahaannya seperti robot kecil penyadap dan juga pena pengintai, semua kecerdasan Arlan dan putra tua nya kakak Haslyn mereka jual dengan harga yang fantastis. Tapi ternyata kehebatan dan kekuasaan keluarga Ozier hilang dalam sekejap, Leo anak tertua Arlan dibunuh dengan ditembak dikeningnya sebanyak tiga kali, Chriss anak keduanya juga ditembak dibagian kepalanya dengan tiga tembakan, hanya satu yang paling tidak bisa dilupakan Haslyn, ayahnya_Arlan Ozier dibunuh dengan ditembaki diseluruh organ penting pria itu. Meski sudah menembak kening Arlan, seakan pria dengan wajah tertutup itu tidak puas, dia membabi buta menembaki Arlan , setelah semuanya mati Haslyn harus berlari mengendap keluar rumah yang ternyata sudah direncanakan akan dibakar itu.

Ayahnya menyembunyikannya diruang kerjanya dibawah meja, tempat dimana ayahnya meregang nyawa dan Haslyn saksikan lewat celah meja itu.

Brengseknya mereka yang mensyukuri kematian ayahnya, karena bagi mereka tidak akan ada lagi saingan mereka, tidak akan ada lagi penguasa bagi mereka saat itu.

Haslyn hanya mampu diam dan berdoa agar ayahnya bahagia dialamnya serta bertemu dengan ibunya yang sudah lama meninggal.

Keputusan Haslyn meninggalkan semua aset ayahnya adalah karena dia ingin jadi manusia yang lebih baik dari ayahnya serta saudaranya, dia ingin hidup normal dan melupakan kejadian pahit itu.

Hingga dia memutuskan untuk hanya menjadi Rubby, tanpa ada Haslyn didepannya apalagi Ozier dibelakang namanya.

Orang hanya tahu dia adalah Rubby, wanita cantik pemilik suara indah serta tubuh yang bagus. Rubby seceria mentari dan seindah bulan purnama jika orang melihatnya, dia ceria dan suka mengganggu temannya Betty, sahabat yang secara tak sengaja dia dapatkan. Sahabat yang selalu ada untuknya walau terkadang membuatnya frustasi dengan sifat telmi Betty, tapi Rubby hanya memiliki Betty untuk berbagi suka duka nya, seperti saat ini dia sedang terlilit hutang flat yang belum dia bayarkan uang sewanya, dan dia harus meminjam uang Betty. Entah nanti apa kata Betty kalau tahu dia menghabiskan seluruh gajinya untuk perawatan di salon.

###

Rubby mengetuk pintu yang juga belum dibuka oleh pemilik flat nya, padahal sudah jam tujuh tapi apa mungkin betty belum pulang dari perpustakaan ya? Pikir Rubby, dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon Betty.

"Bett, kamu dimana?" Tanya Rubby langsung, jujur dia sedikit panik, masalahnya Betty pernah bercerita kalau dia pernah melihat mayat disekitar gang yang menuju flat mereka.

________

"Syukurlah, aku didepan pintu flat mu tapi kau tidak ada," kata Rubby menjelaskan.

________

"Tidak ada, hanya aku merindukanmu." Rubby tertawa sendiri sedangkan Betty disana mendengus.

"Baiklah, besok pagi sebelum kau pergi kerja aku akan mampir untuk melepaskan rindu ya my Beib." Tawa Rubby pecah saat Betty lagi-lagi menarik napas kesal.

Rubby berbalik menuju flat nya yang kebetulan bersebelahan dengan flat milik Betty.

Rubby bertemu dengan Betty saat dia baru-baru pindah ke flat nya, tapi bukan kenal karena bertetangga melainkan karena Betty menolongnya saat Rubby terkilir akibat jatuh memakai high heels didepan perpustakaan yang menjadi tempat kerja Betty, dari sana hubungan mereka semakin dekat ditambah mereka bertetangga, sehingga Rubby menjadi nyaman dan tidak sungkan dengan Betty.

Betty paling mengerti sifat dirinya yang sangat menyebalkan itu, dengan adanya betty dia bisa merasakan memiliki keluarga. "Oh Betty betapa ku cinta padamu," kata Rubby nyaring dan dia terkekeh sendiri dengan kegilaannya.

Setelah berada didalam flat nya Rubby bingung akan kemana, hari ini dia memang libur bekerja jadi dia memutuskan untuk tidur seharian sedari pulang dari salon, niat ingin bertemu Betty malah wanita itu lembur diperpustakaan.

Rubby mengambil mantelnya yang berwarna coklat, memakai boat shoes nya dan siap pergi keluar membeli makanan yang murah untuk isi perutnya. Sambil bersenandung Rubby berjalan menatap langit dan juga sekelilingnya, tiba-tiba tangannya ditarik jauh dari trotoar yang dia lewati. Rubby mencoba berteriak tapi mulutnya sudah disumpal oleh sapu tangan yang diberi bius hingga dia tidak sadarkan diri.

Rubby tidak tahu apa yang telah terjasi padanya saat dia membuka mata dia hanya melihat lampu berwarna kuning dia mengerjapkan mata dan langsung duduk, dia berada didalam mobil?? Tanya Rubby pada dirinya sendiri.

"Ehm," suara seseorang membuatnya tersadar akan seorang pria yang berada di bangku depan mobil mewah ini.

"Kenapa aku disini?" Tanya Rubby meneliti pakaiannya yang ternyata masih lengkap dan wajah pria itu berdecih melihat gelagat Rubby.

"Kamu siapa?" Tanya Rubby lagi tidak takut sama sekali.

"Lain kali berjalanlah dikeramaian, kau bisa turun dari mobilku jika sudah selesai meneliti bentuk baju dan tubuhmu." Rubby melotot tak percaya, pria yang luar biasa gagah dan tampan ini berbicara seakan dia tidak penting, tapi kenapa hati Rubby bergetar mendengar suara berat pria itu.

"Hei nona apa sudah selesai?" Rubby yang dipanggil hanya tersenyum salah tingkah, dia mengerti sekarang mungkin pria ini sudah menyelamatkannya.

"Tunggu apa kau menyelamatkanku?"

"Menurutmu, apa ada penculik atau pencopet yang membiarkan targetnya pergi dan juga melihat wajahnya?"

Rubby tersenyum lagi dan kali ini lebih lebar dari tadi membuat pria penolongnya itu muak.

"Keluarlah, aku ada urusan." Rubby yang masih betah lama-lama melihat pria tampan harus muram karena diusir oleh pemilik wajah itu padahal dia cantik juga seksi, tapi kenapa pria ini tidak mengantarkannya pulang? Atau setidaknya mengajaknya berkenalan? Rubby merasa direndahkan saat ini.

"Apa kau tidak ingin mengantarkanku pulang? Bagaimana jika mereka tadi datang lagi?" Rubby masih berusaha tapi tetap gagal.

"Turun," suara rendah dan dingin itu membuat Rubby takut tapi dia tidak menghiraukannya dia masih memberikan senyumnya dan mengucapkan terimakasih.

"Terimakasih, padahal aku tidak punya uang jika pun mereka ingin mencopetku."

"Tu_run. Jangan buat aku menyesal menolongmu." Pria itu masih berbicara tanpa melihatnya, Rubby keluar dari dalam mobil pria itu dengan gemas, mobil hitam metalik itu langsung pergi dua detik dari Rubby menginjakkan kakinya ke aspal lagi dengan kecepatan tinggi.

"Ganteng-ganteng kok jahat sih, aduh dinginnya," ujar Rubby dan teringat kemana mantel yang dia pakai tadi. Dia memukul kepalanya sendiri, sudah jelas tadi mantelnya dijadikan bantal oleh pria itu untuknya.

Perut lapar dan kedinginan, lengkap sudah penderitaan Rubby.

Dengan pasrah Rubby kembali ke Flat nya setelah membeli sebuah king burger untuk dijadikannya pengganjal perutnya.

Rubby masih memikirkan wajah pria yang menolongnya tadi dan dia tersenyum sendiri, dia menatap langit dan berbicara sendiri.

"Oh bintang, jika aku bertemu dengannya lagi pada malam hari aku akan mengejar pria itu, oke?" Rubby mengedipkan sebelah matanya lalu masuk kedalam bangunan flat nya dengan menggigil karena sangat kedinginan.

"Dingin-dingin enaknya diangetin ih," gerutu Rubby lagi pada dirinya, merasa malang karena dia sudah menjadi wanita jomblo dua tahun ini.

Bersambung....

Bab 2

Rubby bernyanyi dengan suara nya yang khas, sedikit menggoyangkan badannya mengikuti irama dari musik DJ teman sekerjanya Evan. Sesekali Rubby melirik Evan dan memberikan senyuman kepada pria itu yang juga tersenyum.

"Oh I need some just real Freinds,......."

Rubby yang asik bernyanyi itu tanpa sengaja melihat seseorang yang dia kenal.

"Betty," gumamnya dalam hati tapi dia tidak percaya dengan penglihatannya itu. Tapi wanita itu tadi benar-benar mirip Betty dengan kaca mata tebal yang bertengger di hidung wanita berambut blonde sama sepertinya.

Setelah selesai gilirannya bernyanyi Rubby turun dari panggung dan digantikan temannya yang lain, mereka memang bergantian untuk meramaikan suasana di Bar itu.

Rubby mencari tempat duduk disisi sebelah kanan panggung, rok yang hanya sebatas paha nya itu memperlihatkan bentuk kakinya yang jenjang serta paha mulus nya. Beberapa pria melihatnya tapi Rubby tidak menanggapi, dia sibuk dengan ponselnya mengetikkan pesan untuk Betty.

Saat sedang asik membuka media sosial miliknya Rubby terkejut dengan kehadiran manager Bar nya.

"Rubby," panggil pria bernama Andreas itu.

"Ya pak," jawab Rubby berdiri dan tersenyum.

"Ikut saya sebentar." Rubby mengangguk dan mengikuti langkah bos nya itu masuk kedalam ruangannya.

"Rubby kamu ditawarkan job besar untuk besok malam, bayarannya sepuluh kali lipat dari gaji kamu saat ini. Apa kau mau menerima nya?" Rubby menaikkan alisnya dan keningnya berkerut, dia bingung pekerjaan semacam apa yang akan ditawarkan padanya. Dia bukan gadis bodoh yang langsung tertarik dengan embel-embel gaji besar.

"Rubby apa kamu mendengar saya?"

Rubby tersenyum dan mengangguk.

"Saya dengar pak, tapi saya bingung pekerjaan semacam apa yang akan bapak berikan. Saya tidak mau jika harus menjadi simpanan bapak." Andreas melotot dengan ucapan Rubby, bisa-bisanya dia memikirkan menjadi simpanan bos nya.

"Saya memang menyukai wanita cantik dan seksi, tapi sayangnya yang dirumah saya lebih nikmat dari kamu." Rubby tertawa didepan bos nya yang baik hati ini, ya Andreas memang adalah bos yang baik. Dia tahu kesulitan Rubby, Andreas lah yang menawari Rubby bernyanyi di Bar ini saat usianya sembilan belas tahun. Rubby yang tidak melanjutkan kuliahnya hanya bisa bekerja sebagai penyanyi di Bar ini, dan dia menjadi Diva di 'Zoo Bar & Club' bukan hanya karena suara nya yang indah, tapi Rubby adalah wanita yang ramah,cantik,dan selalu tersenyum. Banyak pria yang mengira Rubby adalah wanita penghibur seperti penyanyi lainnya tapi Rubby tidak sama seperti mereka, itu yang membuat Andreas pria berumur tiga puluh delapan tahun itu menganggap Rubby seperti adiknya sendiri.

"Kamu mendapatkan tawaran lagi seperti sebelumnya." Rubby mendengus dan duduk sambil menyenderkan punggung tubuhnya karena dia tahu tawaran apa itu, hanya saja kali ini gajinya yang begitu fantastis membuat Rubby tidak memikirkan hal itu.

"Apa tidak ada tawaran untuk menjadi istri dari para pria kaya itu."

"Kau sudah pernah mendapatkan tawaran seperti itu tapi kau tolak, apa kau lupa?"

Rubby merengut saat itu juga, dia menatap Andreas garang sedangkan Andreas tertawa.

"Aku bilang menjadi istri, bukan menjadi istri muda ataupun simpanan."

"Tetap saja ada istrinya," jawab Andreas lagi tak mau kalah.

"Pak bos bisakah berhenti menertawai hidupku yang malang ini?" Andreas diam karena tatapan Rubby yang akan mengamuk.

"Siapa pria hidung belang yang ingin aku menyanyi didepan nya secara live and private itu?"

"Dia salah satu teman bisnis pemilik tempat ini dan kau bukan hanya memanjakan mata mereka tapi semua rekan kerja yang datang kesana. Aku sudah memberikan tawaran ini kepada Sofia dan dia mau, hanya tinggal kau saja."

Rubby mengangguk tentu saja Sofia mau, ditiduri dua pria dalam satu malam saja dia mau.

"Aku tidak mau, aku hanya menunggu tawaran menikah dari pria tampan kaya raya dan juga tidak memiliki istri." Andreas tertawa lagi mendengar khayalan Rubby, tepat saat Rubby berdiri ingin pergi pintu ruangan Andreas itu terbuka Andreas tampak salah tingkah dan menunduk sopan Rubby tentu saja langsung membalik tubuhnya dan melihat sosok pria tampan yang pernah menolongnya itu.

"Andreas jika sudah selesai bermain dengan wanita ini kau bisa menyuruhnya keluar, ada yang harus aku bicarakan denganmu."

Andreas menyuruh Rubby keluar tapi Rubby hanya diam serta memicingkan matanya lalu kembali tersenyum.

"Baiklah permisi tuan yang terhormat, tapi saya belum pernah bermain-main dengan pria lain, kecuali anda ingin mengajak saya mungkin akan saya pertimbangkan."

Andreas memejamkan matanya akan perkataan genit Rubby sedangkan pria yang barusan masuk itu mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah Rubby seakan menguliti wanita itu. Tatapan yang sama dengan tatapan pria itu di Mobil, dingin dan penuh ancaman.

####

Rubby di taksi masih memikirkan pria yang menolongnya itu, dia tersenyum saat pria itu menatapnya tajam.

"Kelu_ar," kata pria itu tadi kepadanya, membuat Rubby mengatakan hal konyol lainnya.

"Anda sangat suka menyuruh saya keluar tuan, apa anda takut jatuh cinta pada saya," Rubby terkekeh sendiri karena tingkahnya tadi dia besok harus bertanya kepada Andreas siapa pria yang membuatnya menjadi sedikit gila ini.

Rubby turun didepan gang menuju bangunan Flat nya, saat dia hampir sampai Rubby ditarik-tarik seakan pria dengan topi hitam itu ingin mengambil tasnya. Tas Rubby pun terlepas dan pria itu berlari dan tentu saja Rubby ikut mengejarnya masih menggunakan heels delapan centi nya.

Karena merasa tidak akan mampu mengimbangi pria dengan topi hitam itu Rubby mengambil asal kayu balok yang teronggok didekeatnya lalu melemparkan kayu itu dengan kuat, pria itu terjatuh akibat kayu yang mengenai kepalanya kuat.

Rubby berlari dan dengan cepat mengambil kayu tadi, dengan kesal dia memukuli pria kurang ajar yang membuatnya berkeringat malam begini.

"Dasar kau pencuri kurang ajar, mati saja kau. Huh...huh..." pukul Rubby dengan sekuat tenaga.

"Non,...nona Haslyn." Rubby berhenti saat dia mendengar suara itu, terlebih dengan nama yang disebutkan . Dia membalik tubuhnya terkejut dengan apa yang dia lihat.

"RON?" Rubby benar-benar terkejut, ada apa pria ini menemuinya tanpa pemberitahuan seperti ini.

"Nona Haslyn maafkan saya karena melanggar apa yang nona katakan, tapi saya menemui anda karena ada yang harus saya sampaikan."

Rubby melihat sekitarnya dan dia mengangguk.

"Ada Ron, apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Rubby memastikan.

"Maaf nona, usaha kita tidak berjalan lancar satu persatu aset yang dimiliki keluarga anda sudah diambil oleh Bank dan sekarang hanya tersisa perusahaan."

Rubby menunduk dan dia mengerti kenapa Ron sampai nekat melanggar perintahnya.

"Katakan langsung caranya Ron, aku tidak punya banyak waktu."

"Satu bulan lagi kita mendapatkan tawaran dari rekan lama ayah anda di Rusia, mereka meminta shotgun yang biasa tuan Arlan dulu suply ke mereka, masalahnya kita tidak dapat membuatnya lagi karena Mr.Max sudah tewas terbunuh satu bulan yang lalu," kata Ron menjelaskan.

"Siapa pelakunya Ron," Rubby pening seketika mendengar Mr. Max salah satu manusia pintar sahabat ayahnya tewas terbunuh. Ayahnya dan Mr. Max bekerjasama membangun perusahaan senjata itu bersama dengan ide-ide mereka dan ayahnya lah yang memegang kekuasaan karena kepintaran ayahnya yang merakit berbagai alat luar nalar manusia serta sistem yang dibuat oleh Mr.Max.

"Hasil visum mengatakan Mr. Max terkena serangan jantung tapi anaknya Abigail yakin Mr. Max dibunuh saat pulang dari perusahaan." Jelas Ron dan Rubby menutup matanya.

Jantungnya lemas mendengar semua dunia hitam dari hidup ayahnya, tapi mau bagaimana lagi itu adalah pekerjaan ayahnya.

"Nona kita akan bisa menyelamatkan hidup orang-orang yang sudah lama mengabdi kepada ayah anda nona jika kita bisa menjual senjata-senjata itu."

Rubby mengangguk setuju.

"Terlebih lagi saya meyakini kalau musuh ayah anda ingin menghabisi semua yang bersangkutan dengan keluarga anda nona, termasuk perusahaan dan juga saya." Ron melihat kekhawatiran dimata Rubby, wanita yang sudah berubah menjadi jauh lebih cantik itu ternyata masih memikirkan perusahaan dan nasib orang-orang disekeliling ayah nya dulu.

"Ron, aku akan berusaha membuat permintaan orang Rusia itu kirimkan paket semua yang aku perlukan."

"Nona tapi barang yang mereka minta itu,"

"Aku tahu Ron, bagaimanapun aku adalah anak ayah ku juga apa kau lupa siapa pembuat robot pencuri itu?" Rubby mengedipkan matanya lalu dia melangkah mundur meninggalkan Ron dan seorang pemuda yang dia pukuli tadi.

"Ah satu lagi Ron, jangan pernah muncul lagi didepanku jika aku tidak memintamu. MENGERTI !!" Ron Menunduk memberi hormat dan Rubby pergi meninggalkan dua pria itu, dia menuju flat nya.

Saat Rubby ingin membuk pintu gedung dia melihat sosok yang melintas membuat keningnya berkerut karena memikirkan siapa yang melintas tadi.

Karena takut Rubby buru-buru membuka pintu lalu berlari menuju ruangan ternyamannya.

*****

Bersambung.....

Bab 3

Seorang pria dengan kemeja putih dan jas hitam yang terbuka berjalan buru-buru masuk kedalam mobil diikuti anak buahnya yang berjumlah enam orang, dia masuk kedalam mobilnya sendiri dan diikuti dari belakang 'Kenan Rexton' bos dari Rexton company serta beberapa Bar,diskotik,dan Club itu menjalankan mobil Force nya dengan kecepatan penuh bagai tidak ada yang bisa menghalanginya.

Dia sampai di salah satu tempat usahanya, berjalan dengan aura mematikan hingga beberapa mata yang memandangnya pun tidak berani menatapnya.

Anak buah yang mengikutinya dibelakang memegang dua koper petak berwarna silver mengikuti langkah Kenan menuju ruangannya.

Pintu otomatis itu terbuka dan Kenan masuk sambil membuka kaca mata hitamnya, tatapannya lurus menatap sosok tegap duduk menunggunya seorang diri. Senyuman sedikit menghiasi kedua wajah tampan yang saling bertatapan itu.

"Lama tak bertemu Mr.Rexton," kata penyambut dari pria yang Kenan tahu memiliki kemampuan yang membahayakan nyawa itu.

"Jangan kaku begitu Al," ucapnya menyambut tangan Aldric manusia berdarah dingin itu.

"Aku hanya tersanjung kau datang langsung menemuiku untuk mengantarkan pesananku."

"Aku selalu ramah dan kau tahu itu," seringai Kenan membuat Aldric mendengus. Kenan mengintruksi anak buahnya untuk membuka dua buah koper yang dibawa tadi keatas meja lalu kenan menghisap rokoknya sementara Aldric mengamati senjata yang dia pesan.

"Ini sangat indah kau tahu?" Kenan mengangguk.

"Kedua pistol ini bukan pistol biasa, peluru nya dimodifakasi dengan sangat rinci dan jika itu menembus kepalamu dipastikan kau akan mati dalam hitungan sepuluh detik karena racun yang terdapat diujung peluru. Dan sama seperti pistol modern lainnya senjata mematikan ku ini tidak memiliki suara jadi kau bisa dengan suka hati memainkannya."

Aldric menatap kedua pistol itu bagai menatap sebuah benda pusaka ribuan tahun.

"Kau memang terbaik Ken, dia mengambil koper didekat kakinya lalu membukanya." Kenan menghembuskan asap dari rokoknya dan mengangguk.

"Tidak ingin bermain dulu dengan para wanita di Club ku Al?"

"Aku lebih bergairah memainkan senjata ini Ken,"

"Oh, aku akan menyiapkan karangan bunga untuk targetmu kalau begitu." Kedipan mata menjijikkan Kenan membuat Aldric menyeringai. Dia pergi melewati pintu sementara Kenan masih menghabiskan sisa rokoknya. Setelah selesai dia pergi bersama anak buahnya keluar dari Club itu memasuki mobilnya dan pergi, hingga diperempatan jalan dia melihat seorang wanita yang ditarik paksa awalnya dia tidak ingin ikut campur tapi entah kenapa pikirannya kali ini mengkhianati prinsip dirinya yang tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Dia menekan tombol dijamnya yang akan langsung menghubungkan dengan anak buahnya.

"Kalian pulanglah ke markas, aku ada urusan penting."

Setalah perintahnya terjawab dia turun dari mobilnya sedikit berlari dan menemukan seorang wanita yang matanya tertutup sementara dua pria berusaha membuka tasnya.

Dengan cepat Kenan mengambil pistolnya dan menembak salah satu pria itu membuat yang satunya langsung berdiri lalu berlari ketakutan.

"Chris, suruh anggota mu membereskan mayat pria disekitar jalan Old Road."

Kenan lalu membopong wanita berparas cantik itu, seketika Kenan terpana dengan wajah itu ada suatu dorongan dalam dirinya untuk terus melihat wajah itu.

Kenan perlahan menidurkan tubuh itu dikursi belakang mobilnya membuka mantel wanita itu membuatnya merasakan harum yang sangat manis Kenan berusaha mengontrol gairahnya saat tak sengaja tubuh wanita itu bersentuhan dengan tubuhnya, dia memilih duduk dikursi kemudi sambil menghisap rokok dan terus melihat wajah yang terlelap itu. Hingga wanita itu tersadar setelah dua jam Kenan menungguinya, dia sedikit terhibur dengan tingkah konyol wanita itu saat berbicara dengannya tanpa rasa takut malah terkesan menggodanya, anehnya dia menyukai hal itu.

"Tu_run," wajah wanita itu terlihat kesal dan menggemaskan dia turun dari mobil dan Kenan langsung pergi. Dia melirik dari kaca spionnya dan ternyata wanita itu masih melihat mobilnya.

Kenan tanpa sadar tersenyum mengingat kekonyolan wanita itu yang meminta dirinya untuk mengantar pulang dengan alasan para penjahat itu akan datang. Andai wanita itu tau nasib salah seorang pria yang mencopetnya tadi. Jika saja wanita itu salah satu wanita di club nya mungkin dia akan bersenang-senang sedikit dengannya, bentuk tubuh yang pas serta wajah yang begitu menggoda itu sangat sayang untuk dilewatkan, tapi dia masih waras untuk tidak sembarangan bermain wanita apalagi jika wanita itu nantinya akan menyusahkan dirinya. Karena dia tidak suka berkomitmen, pria sepertinya tidak ditakdirkan membangun suatu hubungan dia tidak ingin kehancuran ayahnya terjadi kepadanya .

Tidak ! Dia tidak sebodoh itu, cinta dan wanita hanya akan menyesatkannya dan setelah mereka terikat akan ada manusia-manusia diluar sana yang mengincar nyawa dari kelemahannya itu. Kenapa kelemahan ? Karena cinta adalah kelemahan bagi manusia fana sepertinya.

####

Rubby didalam toilet sibuk menambahkan lipstik nude nya, melihat tampilan dirinya didepan cermin toilet dan dia tersenyum puas, crop top yang dia gunakan sangat pas dengan tubuhnya juga rok hitam yang dia kenakan. Saat Rubby keluar dari toilet dia begitu terkejut melihat Andreas disana menunggunya.

"Oh my god, what are doing here?" Aksen british itu terlihat jelas dipengucapan Rubby.

"Ikuti aku sekarang Rubby !" Rubby mengikuti Andreas lagi keruangannya seperti semalam dia dipanggil keruangan itu tapi sepertinya kali ini Andreas marah kepadanya. Wajar saja jika bos nya itu marah, apalagi dengan kelakuannya semalam.

"Rubby apa kau tahu siapa pria yang kau goda semalam dengan ucapan konyolmu?"

Rubby menaikkan bahunya dengan wajah cuek.

"Tidak. Aku hanya tahu dia pria tidak sopan yang menurunkan ku begitu saja dari mobilnya padahal sebelumnya dia menolongku. Dan kau tahu Andreas aku sepertinya menggilainya, apalagi setelah semalam dia melihatiku dari hujung rambut sampai ujung kaki ku, rasanya aku ingin mendesah saat itu juga." Rubby tersenyum dengan imajinasinya.

"Gadis gila. Dia adalah pemilik tempat ini dan juga dia itu bos besar." Mata Rubby membesar mendengarnya dia seperti terkejut, dan Andreas tersenyum karena mengira Rubby tersadar akan kebodohannya.

"Serius, waw kalau begitu target ku pas. " Andreas menepuk jidatnya kencang dan Rubby berhambur memeluknya.

"Rubby aku peringatkan kau untuk tidak macam-macam, dia berbahaya untuk dirimu Rubby dan dia tidak memiliki keinginan menikah."

Rubby diam tapi dia tersenyum sedetik kemudian.

"Kau tahu Andreas banyak pria diluar sana menungguku untuk menghancurkan ranjang mereka, tapi aku tidak berminat. Jadi kau tenang saja dan lihat kemampuanku."

"Aku hanya tidak ingin kau kecewa, jadi tolong dengarkan aku by." Rubby merengut mendengar panggilan itu.

"Sekali lagi kau memanggilku by, by, aku patahkan adik mu itu." Lirik Rubby kebenda pusaka Andreas.

Setelah percakapan panjang itu Rubby keluar untuk melanjutkan pekerjaannya dia bernyanyi seperti biasa membuat semua orang mengikuti irama musik dan suaranya.

Setelah dua jam berlalu lagi-lagi Andreas mendekat kepanggung dan membisikkan sesuatu kepada Rubby.

"Serius dia menyuruhku untuk bernyanyi diruangan nya?" Andreas mengangguk dan Rubby bersemangat, tapi ternyata Rubby salah menduga, ruangan itu bukan hanya diisi oleh Kenan Rexton tapi juga tiga orang pria lagi yang sepertinya teman bisnis pria ini.

Rubby melangkah dan mengambil micropon yang ada didalam ruangan itu lalu musik diputar oleh Andreas sendiri. Disana ada empat orang wanita penghibur yang bermanja-manja dengan masing-masing pria seketika Rubby malah memberikan senyuman mematikannya membuat mau tidak mau Kenan mengangkat sebelah alisnya melihat senyuman itu.

"No matter what you feel, no matter you do I only want do bad things to you, so good....."

Rubby masih bernyanyi dan sesekali menanggapi senyuman nakal para pria menjijikkan yang ada disana, tapi sepertinya Kenan tidak terpengaruh akan tubuh menggiurkan Rubby. Dan Rubby seketika kesal saat salah satu pria mencoba memegang bokongnya, dia mencekram tangan pria itu lalu keluar begitu saja dari ruangan itu.

"Andreasss panggil wanita kurang ajar itu keruanganmu sekarang juga." Kenan membentak Andreas dengan tegas, dia benar-benar kesal dengan wanita bernama Rubby itu.

Rubby duduk diruangan Andreas setelah para penajaga Club menyeretnya masuk kedalam ruangan itu dengan paksa karena tadi Rubby ingin pergi dari sana.

Andreas diluar ruangan hanya bisa berdoa semoga dia dan Rubby diberikan ampunan oleh Mr.Rexton .

Surai Rubby yang sudah sedikit berantakan membuat Kenan tersenyum sinis memandang wanita yang mencuri sedikit waktunya itu, mencuri waktu untuk sedikit mengingat ocehan dan juga perilakunya.

"Jadi kau tahu tugasmu disini?" Rubby menatap Kenan dengan tak gentar dia tersenyum semanis mungkin disaat hatinya terasa panas.

"Tau, tugasku adalah bernyanyi dengan baik di tempat milik anda ini."

"Lalu apa yang kau lakukan tadi?" Kenan berdiri mendekat kepada Rubby yang duduk disofa depannya.

"Aku melakukan pekerjaan ku dengan baik sebelum pria brengsek itu menyentuh ku kurang ajar."

Jawab Rubby sengit.

"Bukankah kau yang mengisyaratkan untuk melemparkan tubuhmu tadi?"

Rubby berdiri lalu menatap Kenan dan tersenyum genit dia mengalungkan kedua tangannya keleher Kenan membuat kenan tersengat dan ingin mengurung Rubby diranjang nya .

"Aku ingin melemparkan tubuhku untukmu tuan Rexton, bukan dijamah oleh mereka." Lalu Rubby melepaskan tangannya dari tempatnya tadi, membuat Kenan kehilangan.

"Kau boleh pergi sekarang," kata Kenan membuat Rubby tak percaya.

"Jadi aku tidak dipecat bukan?" Tanya Rubby bersemangat.

"Hm," kata Kenan menjawab, tapi Rubby masih terdiam disana.

"Apa? Cepatlah keluar atau kau aku pecat ." Rubby menggeleng dan keluar dari sana, dia mendekat kearah Kenan sebelum pergi setelah mencium pipi kiri Kenan.

****

Malam pun semakin larut jam kerja Rubby pun sudah selesai, dia sangat lelah rasanya hingga tak menyadari kalau ada orang yang mengikuti taksi yang dia pakai untuk pulang ke flat nya.

Taksi tiba-tiba berhenti dan dua orang pria membuka pintu lalu menyeretnya keluar dari sana.

Rubby dipaksa masuk kedalam sebuah mobil berwarna putih dia terkejut saat seorang pria mencoba menyingkap roknya dengan kedua tangannya dipegang oleh salah seorang pria yang menyeretnya.

"Ah......jangan, please jangan." Rubby meronta dan menendang angin didepannya saat pria itu membuka resletingnya.

"Kau tadi bernyanyi begitu erotis nona," kata pria itu dan Rubby tahu siapa pria bejat yang ingin memperkosanya ini.

Rubby berpikir bajunya sudah dikoyak oleh sebuah pisau membuat Rubby terkesiap lalu dia mendengar suara tembakan dua kali.

Tangannya terlepas dan pria berotot tadi jatuh ke aspal yang legam itu. Keadaan pintu mobil yang terbuka membuat Rubby tahu kalau Kenan yang menembak pria tadi.

"Lepaskan dia Marthin, atau peluruku mempercepat kematianmu."

Marthin menaikkan lagi resleting celananya dan Rubby duduk dengan menutup bagian tubuhnya dimobil itu, dia sangat malu saat ini.

"Kenapa kau menyelamatkan penyanyi murahan ini Mr.Rexton apa dia special bagimu?" Sudut bibir Kenan terangkat sedikit dan dia menembak salah satu anggota Marthin itu.

"Jangan banyak bicara Marthin, yang harus kau tahu jangan lagi mengganggunya atau aku melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan."

Hari itu juga Rubby sadar kalau pria dengan wajah tampan penyelamatnya itu adalah orang yang berbahaya, terlihat dari bebasnya dia menembak orang-orang dengan tanpa ragu.

Seketika ingatan tentang ayah dan juga saudara lelakinya menghantui Rubby sebutir air mata itu jatuh begitu saja saat wajah mereka hadir dalam ingatan Rubby saat itu juga.

Sebuah tangan yang cukup dingin menyentuh tangannya, Kenan melihat air mata dipipi Rubby dan hatinya meringis sakit karenanya. Dia menghapus air mata itu dan memberikan jas nya tanpa berbicara Rubby juga sama dia hanya menikmati setiap perlakuan Kenan terhadapnya. Kenan membawa Rubby ke salah satu Hotel didekat jalan Road Abey membuat Rubby berbicara.

"Apa kau mau meniduriku juga?"

Seketika Kenan menepikan mobil dan mengerem mobilnya dengan mendadak membuat Rubby terkejut, tapi yang lebih mengejutkannya lagi Kenan mencium bibirnya dalam dan menuntut. Satu tangan Kenan meraih tombol untuk menidurkan kursi Rubby, dia terus memperdalam ciumannya hingga membuat Rubby tidak bisa bernapas. Tahu akan hal itu ciuman Kenan beralih keleher jenjang Rubby mencicipi rasa dan wangi Rubby secara bersamaan, tanpa Kenan sadari hanya wangi dan rasa itu yang akan selalu dia ingat .

Rubby mendesah saat Kenan menghisap lehernya memberikan tanda merah disana, baju Rubby yang tadinya terkoyak membuat Kenan melihat dengan jelas indah tubuh Rubby didalam jas nya yang sudah tidak berfungsi lagi.

"Bukankah kau akan melemparkan tubuhmu padaku?"

Rubby tidak bisa mencerna apa yang dikatakan kenan.

"Hilangkan mimpi itu dari otak mu nona, karena malam kita bersama tidak akan pernah terjadi kau begitu payah dalam berciuman dan aku yakin kau tidak bisa memuaskanku."

Semua yang dikatakan Kenan berbanding terbalik dengan apa yang diiginkannya saat itu. Rubby yang masih terkejut pun hanya bisa diam, dia melihat Kenan melajukan kembali mobilnya hingga sampai didepan flat nya.

"Apa yang kau katakan itu serius ? Apa aku tidak menarik?" Rubby menatap bodoh kedua kakinya dan dia turun dari mobil Kenan saat tidak mendapatkan jawaban.

"Kau tahu tuan, aku tidak tahu kenapa aku terpesona olehmu saat pertama kali melihatmu dimobil. Tapi sepertinya wajar aku terhipnotis karena kau tampan." Kenan melajukan mobilnya saat ucapan Rubby belum selesai. Membuat dia ingin menagis saja karena diabaikan.

BERSAMBUNG....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Half You

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED