Suara anak-anak yang tengah mengaji bersahutan, menggema hingga menembus dinding ruang tempat Latifah berada. Tak peduli meski hari ini hari minggu, mereka tetap menjalankan rutinitas mengaji seperti biasa. Kecuali Latifah. Gadis remaja itu tengah sibuk berbenah. Merapikan kamarnya setelah semua barangnya tertata rapi dalam koper. Keputusan Latifah sudah bulat. Hari ini dia mantap untuk pulang. Semalam, dia pun sudah meminta izin dari sang kakek. Alhamdulillah, sang kakek sudah menyetujuinya untuk hal itu. Senyum leganya terkembang kala sang kakek dengan lembut membelai pucuk kepalanya untuk memberinya restu. Masih teringat dengan jelas petuah yang diberikan sang kakek sebelum dia undur diri.
"Mbah Kakung ijinkan kamu untuk pulang, Nduk ... tapi ingatlah! Sembilan tahun kamu menuntut ilmu di sini, pergunakanlah dengan baik di luar sana. Pegang teguhlah imanmu, jangan mudah goyah oleh cobaan dan godaan duniawi, Nduk."
Latifah menghembuskan nafas panjangnya. Ditatapnya seluruh ruangan yang telah menjadi tempat persinggahannya selama sembilan tahun terakhir. Ternyata cukup berat untuk meninggalkan tempat yang awalnya dia benci karena merasa terbuang. Namun, tempat itulah yang menjadi saksi perjuangan seorang Aisyah Nurlatifah untuk membentuk karakter dan menimba ilmu agama sedari kecil. Cinta dari orang tua memang luar biasa, mereka rela dibenci, hingga akhirnya sang anak memahami bahwa mereka ingin yang terbaik untuk anaknya. Seperti yang ibu Latifah lakukan. Dia mengirimkan Latifah ke tempat kakeknya untuk belajar agama lebih dalam. Bahkan saat sang ibu sakit, perempuan tangguh itu bersikap biasa saja di hadapannya agar dia tetap bisa berkonsentrasi dalam belajar. Siapa sangka, kunjungan sang ibu menjelang ujian kelulusannya dari Madrasah adalah pertemuan terakhirnya dengan sang ibu.
Bulir bening Latifah meluncur begitu saja ketika bayangan sang ibu hadir di pelupuk matanya. Begitu jelas saat terakhir kali sang ibu berkunjung, tak biasanya wanita lembut itu menginap dan begitu memanjakannya. Disana! Di atas tempat tidur kecil Latifah, sang ibu tampak duduk dan tersenyum dengan begitu anggunnya.
"Ibuk ... hari ini Tifah akan pulang, Buk ..." lirih gadis remaja itu dengan suara bergetar. Pandangannya semakin buram dengan bayangan sang ibu yang kian memudar meninggalkan semerbak wangi yang menguar di seluruh ruangan. Benarkah arwah ibunya kembali? Atau memang hanya karena pengharum ruangan yang tadi disemprotkan Latifah? Entahlah!
Ketukan pelan di pintu, membuyarkan lamunan Latifah. Ditatapnya Khoiri, adik sepupunya yang masih kecil berdiri di ambang pintu dengan pandangan yang tertunduk dan jari-jemari yang saling bertaut. Latifah menghapus sisa harunya dan berjalan menghampiri gadis kecil itu. Diraihnya tangan mungil itu hingga membuat sang empunya berjingkat dengan mata membulat menatap Latifah. Senyum termanis didapatnya dari sang kakak yang membuat si gadis kecil langsung menghambur memeluk pinggang Latifah. Tangisnya pun pecah, tak dapat lagi ditahannya.
"Mbak Tifah beneran mau pulang hari ini? Apa tidak nunggu Khori khatam iqro dulu?" Disela sesenggukannya, Khoiri mencoba menawar keinginan Latifah untuk pulang. Dirinya yang begitu dekat dengan sang kakak sepupu membuatnya tak rela ditinggalkan.
Latifah membelai lembut pucuk kepala Khoiri sambil tertawa kecil meski rasa haru memukul-mukul perasaan lembutnya.
"Khori kan baru jilid tiga. Kalau nunggu Khori khatam iqro masih lama, dong ..." Gadis kecil itu memberengut tak suka dengan sanggahan Latifah kakinya pun mulai menghentak-hentak dengan tangis yang tertahan. Tifah tersenyum dan membelai lembut wajah imut Khoiri.
"Insyaallah Mbak Tifah akan sering berkunjung, sampai Khori khatam iqro nanti." Mata gadis cilik itu mulai berbinar menatap Latifah dengan senyum yang semakin melebar.
"Beneran ya Mbak ..." Latifah tersenyum sambil mengangguk yang membuat gadis kecil itu melonjak kegirangan dan berlari menjauh. Tiba-tiba gadis kecil itu kembali lagi dan mengecup kecil pipi Latifah kemudian berlari sambil melambaikan tangan dan mengucap salam. Latifah tertawa kecil mendapati tingkah polos si adik sepupu. Tak menyangka ternyata semudah itu membahagiakan seorang anak kecil. Hanya dengan menuruti keinginan sederhana bisa membuatnya berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Seorang pemuda gagah menghampirinya sambil mengucap salam dan tersenyum dengan manisnya. Wajah orientalnya yang bersih lengkap dengan lesung pipi membuat pemuda itu menjadi pusat perhatian para santriwati yang dilewatinya. Latifah menyahut salamnya dan langsung melompat, menghambur dalam gendongan sosok itu dengan begitu girang. Pemuda itu menyambutnya dengan sigap. Digesek-gesekannya hidung kecilnya ke hidung mancung pemuda itu yang membuatnya terkekeh geli.
"Ya Allah, Tifah … kau sekarang sudah besar. Tak malukah kau berbuat begini?"
"Tidak! Tifah kangen sama Mas Alif." Gadis remaja itu menyahut dengan santainya dan semakin mempererat pelukannya ke leher pemuda itu. Alif pun hanya bisa pasrah dengan perlakuan manja adik perempuannya itu.
"Baiklah … mari kita pulang!" Alif membawa masuk Latifah dan menyeret kopernya keluar kamar. Gadis itu masih betah nemplok dalam gendongan dan hanya disangga dengan satu tangan oleh Alif.
Simbah Abdullah menggeleng pelan sambil berdecak melihat kelakuan kedua cucunya yang menjadi bahan tontonan para santrinya. Suara salam menyapanya dengan begitu takzim. Latifah pun turun untuk berpamitan pada sang kakek yang telah merawatnya selama ini.
"Salam untuk pak lek Ahmad, Kung. Maaf Alif tidak bisa berlama-lama," ucap Alif sambil menaiki motor tua sang ayah dan ditanggapi dengan anggukan pelan sang kakek.
"Alif, tunggu …." Panggilan seseorang yang sangat familiar menggema, menghentikan Alif yang telah memancal pedal kopling motornya. Adik dari ibunya itu berlarian menghampirinya sambil membawa bingkisan di tangannya.
"In … ini ada titipan dari bulek Siti untuk kalian sekeluarga." Paklek Ahmad berbicara terbata dengan nafas yang tersengal-sengal. Senyum manis Latifah terkembang dan menyahut bingkisan itu dengan girangnya.
"Suwun, Pak Lek … sampaikan salam kami untuk bulek. Jika sudah mau lahiran nanti jangan lupa kasih kabar."
"Ya … hati-hati di jalan …."
Suara salam saling bersahutan. Setelah keduanya mencium takzim tangan kedua lelaki beda usia itu. Latifah masih terus melambaikan tangannya bahkan hingga kedua lelaki itu tak lagi nampak. Alif menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Jika berat untuk pergi, kenapa buru-buru, Tifah?" Pertanyaan sang kakak membuat Latifah memberengut dan menghentikan lambaiannya.
"Mas Alif dulu juga gitu!" Gadis remaja itu protes sambil memanyunkan bibirnya. "Bahkan dulu Mas Alif nangis sampai beberapa hari karena tak tega ninggalin Tifah. Padahal di sana Tifah tetep asyik main sama mbah Kakung."
"Oh ya? Jahatnya, kau … padahal Mas nangisin kamu lho …." Keduanya pun terkekeh geli mengenang masa lalunya.
Tiba-tiba bayangan sang adik terlintas di kepala Latifah dan membuatnya bertanya-tanya.
"Sekarang Ipul bagaimana, Mas?"
"Ipul? Ya biasalah … namanya juga balita. Pasti rewel, lah. Dia nanyain ibu terus. Bapak sampai bingung mau jelasin gimana."
"Hmm … kira-kira dia ngenalin Tifah tidak, ya?"
"Entahlah! Bisa jadi dia bakal kira kamu ibuk." Tawa Alif menggelegar disambut dengan cubitan manis dari Latifah yang membuat tawanya berubah mengaduh merasakan perih di perutnya.
"Jangan marah, Fah … kau kan memang mirip ibuk. Jika kita kangen, tinggal pandangi kamu aja sambil kirim do'a."
Latifah terdiam, mengenang kepergian sang ibu. Dirinya seakan masih tak percaya telah menyandang gelar piatu disaat sang adik belum genap lima tahun.
"Kapan-kapan kita ke makam ibuk ya, Mas …." Suara Latifah bergetar menahan tangisnya agar tak tumpah.
"Tentu! Tapi jangan tangisi ibuk lagi, Fah … biarkan ibuk tenang di sana. Allah lebih sayang ibuk. Jadi, dia memanggil ibuk untuk cepat pulang disisi-Nya." Ditepuknya pelan tangan sang adik yang melingkar di perutnya.
"Fah … tadi pas Mas pamit pergi, Ipul kira mau jemput ibuk. Mas iya-in aja. Terus dia melompat-lompat girang gitu. Jadi jangan kaget kalau nanti kamu dipanggil ibuk sama dia." Mata Latifah membulat.
"Kenapa Mas bilang 'iya' ?" Lagi-lagi cubitan didaratkannya ke perut sang kakak. Bahkan lebih lama saking gemesnya. Tak peduli meski pemuda itu mengaduh tak karuan.
Bersambung ….
Tanpa terasa keduanya pun telah memasuki halaman rumah sederhana yang begitu asri. Suasana rumah tampak lengang dan sepi. Membuat Latifah bertanya-tanya.
"Apa bapak pergi, Mas?" Pemuda itu hanya mengedikan bahunya sambil mencebikkan bibir, tanda dia pun tak paham. Keduanya pun serempak mengucap salam. Tanpa diduga dari dalam sana terdengar suara wanita menyahut salam mereka. Keduanya pun saling berpandangan dengan mulut melongo. Siapakah gerangan? Apa dia tetangga yang berkunjung? Kenapa menyahut salam dari dapur? Tumpukan tanya berkelebat di benak kakak beradik yang masih betah saling berpandangan tersebut.
Seorang wanita paruh baya keluar dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong Saiful untuk menyambut keduanya. Senyum sumringahnya tak lepas dari bibir wanita paruh baya tersebut.
"Bude Darmi!!" Keduanya kompak menyebut nama wanita paruh baya itu bersamaan begitu orangnya muncul di ambang pintu. Tentu saja bude Darmi melongo kaget dibuatnya.
"Lha iya … kalian kira siapa?" Wajah sumringah bude Darmi berubah memberengut sambil memeluk erat Saiful yang mulai menangis dalam gendongannya.
"Maaf Bude …" ucap keduanya dengan cengiran tak berdosanya sambil menyalami tangan wanita paruh baya itu.Bude Darmi pun hanya bisa menggeleng pelan.
"Masuk! Bapak kamu baru ada keperluan di bale desa sebentar. Mungkin mengurus akta kematian ibumu. Sebentar lagi juga pulang." Kakak beradik itu hanya ber 'oh' ria.
Saiful masih menangis dan memberontak dalam gendongan bude Darmi. Tetangga baik itu tampak mulai kewalahan dengan tingkah balita dalam gendongannya itu
"Biar Ipul sama saya saja, Bude. Maaf ngerepotin …" ucap Alif sungkan. Diambil alihnya si adik ke dalam gendongannya dan berusaha menenangkannya.
"Tak usah sungkan … kayak sama siapa aja." Bude Darmi berucap sambil tersenyum malu-malu.
"Bapak pergi sama siapa, Bude?" Alif mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan adik perempuannya.
"Sendiri. Ya sudah, Bude pulang dulu lupa belum kasih ayam makan." Salam pun saling bersahutan mengiringi langkah bude Darmi keluar pekarangan rumah, meninggalkan suara tangis Saiful yang kian menjadi.
Alif menepuk pelan pipi gempal Saiful dan memanggil-manggil namanya karena balita itu masih terus menangis sambil menutup matanya dan memberontak dalam gendongan Alif.
"Ipul …." Panggilan dari Latifah membuat balita empat tahun itu seketika berhenti menangis. Ditengoknya sang kakak yang tengah tersenyum manis kepadanya. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap begitu polosnya menatap tiap inci wajah Latifah.
"Ibuk … ibuk …." Lagi-lagi balita itu menangis sambil membentangkan tangannya minta digendong oleh Latifah.
Tawa Alif menggelegar. Sesuai dugaan, si bungsu benar-benar mengira Latifah sebagai ibunya. Mati-matian Latifah mencoba menjelaskan bahwa dirinya bukan ibunya, tapi balita itu terus menggeleng dan menyebutnya ibu sambil sesekali mengecup wajah Latifah.
"Aduh, Mas … ini gimana?" Latifah tampak kebingungan meski sesekali dia tertawa kegelian kala si bungsu menggigit kecil hidungnya.
"Pasrah sajalah, Fah … toh kalau dia sudah mulai besar nanti dia juga akan paham." Alif menyahut sekenanya sambil menyeret koper latifah ke dalam kamar gadis remaja itu yang telah lama kosong.
"Nanti barangnya kamu urus sendiri ya, Fah …. Mas mau ke tempat Allan dulu."
"Allan? Allan siapa Mas?" Dahi Latifah berkerut karena merasa asing dengan nama yang disebutkan oleh sang kakak.
Alif menatap Latifah dengan heran, kemudian baru menyadari bahwa adiknya itu memang tak mengenal adik kelas fenomenalnya tersebut.
"Ah iya … kamu belum mengenalnya. Nantilah kapan-kapan Mas kenalkan. Mas mau cari duit dulu ya, bye …." Alif pun melangkah pergi setelah mengucap salam dan mengecup pucuk kepala kedua adiknya.
"Cari duit? Allan? Apa hubungannya?" Latifah semakin bingung mencerna perkataan Alif yang masih terkesan samar-samar.
"Ibuk … mau minum susu …." Rengekkan Saiful pun mengalihkan perhatian Latifah dan mengabaikan rasa penasarannya.
Beberapa jam berlalu, Latifah masih canggung dengan keakraban yang ditunjukkan Saiful karena si bungsu itu masih saja memanggilnya ibu. Deru motor asing memasuki halaman rumah, menusuk pendengaran Latifah, disusul dengan suara salam yang begitu dirindukannya. Latifah menyahut salam sambil berlarian keluar menyambut sang ayah. Disalami dan dipeluknya sang ayah dengan sangat erat hingga lelaki itu mengaduh dengan nafas tertahan. Dicubitnya ujung hidung anak gadisnya dengan gemas membuat si anak terkekeh.
"Kok sepi? Yang lain kemana?" Pak Ma'ruf celingukan sambil melangkah masuk.
"Ipul di kamar Tifah, Pak. Kalau mas Alif tadi bilang mau ke tempat … ke tempat …." Jari Latifah mulai mengetuk-ngetuk dahinya yang mulai mengkerut.
"Aduh …. Tifah lupa namanya. Pokoknya tadi bilang mau cari duit."
Pak Ma'ruf manggut-manggut karena paham betul apa yang dimaksud putrinya hanya dengan kata 'cari duit' yang diucapkannya.
"Bapak pake motor siapa?" Latifah melongok keluar, menatap motor baru yang tampak asing.
"Owh ... Motor baru Alif. Apa dia tidak bilang kalau punya motor baru?" Latifah hanya menggeleng kecil.
"Tifah tidak pernah tanya. Ya sudah, Tifah mau temani Ipul dulu."
Belum sempat Latifah melangkah masuk kamar, Saiful keluar kamar sambil memanggil-manggil ibu dan memeluk kaki Latifah. Tentu saja pak Ma'ruf menatapnya keheranan.
"Ini …?" Ditunjuknya si bungsu yang nemplok di kaki Latifah dengan keheranan.
"Iya,Pak … dari tadi pas ketemu Tifah, Ipul terus-terusan panggil Tifah ibuk." Gadis remaja itu memberengut dengan tatapan memelas yang mengundang gelak tawa ayahnya.
"Ipul, sini …." Pak Ma'ruf menggapai tubuh mungil Saiful dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Lihat dulu itu, coba Ipul lihat lagi! Itu mbak Tifah, Ipul … bukan ibuk." Dibukanya kerudung Latifah dan menunjukkan rambut ikalnya yang hanya dikuncir kuda.
"Tuh … bukan ibuk, kan?" Saiful menatap kembali wajah Latifah tanpa kerudung itu dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bukan ibuk!" Saiful menunjuk Latifah sambil menatap netra ayahnya.
"Iya … ini Mbak Tifah, bukan ibuk." Latifah meraih kembali kerudung instan yang dilepas ayahnya dari tangan sang ayah yang terulur, kemudian memakainya kembali.
"Ibuk …." Lagi-lagi Saiful memanggil ibu sambil menunjuk Latifah yang telah berkerudung dan beralih ke dalam gendongannya.
Gelak tawa pak Ma'ruf kembali menggema, berbanding terbalik dengan Latifah yang memberengut tak suka meski Saiful begitu riang dalam gendongannya.
"Sepertinya kamu harus ganti model kerudung, Fah … kerudungmu yang model seperti itu memang membuatmu begitu mirip dengan ibumu." Latifah semakin memberengut. Dia paham betul bahwa ayahnya hendak mengatakan dirinya tampak lebih tua dengan model kerudungnya saat ini. Hanya saja mengatakannya dengan bahasa yang lebih halus. Gadis itu mulai menghentak-hentakkan kakinya yang semakin membuat Saiful kegirangan dalam gendongannya.
Hari itu terlewat dengan begitu cepat. Tanpa terasa malam mulai menyambut. Selepas magrib, mereka pun menikmati makan malam sederhana yang dimasak secara bergotong-royong setelah Alif kembali dari rumah Allan sambil membawa seekor nila besar.
"Alhamdulillah, semua anak-anak bapak hari ini berkumpul dalam keadaan sehat." Pak Ma'ruf mulai membuka suara sambil melihat ketiga anaknya makan kembulan dan saling menyuapi. Rasa haru menghinggapi hati lelaki yang baru saja ditinggalkan istrinya itu.
"Nduk … kamu sudah lulus Madrasah Tsanawiyah, apa kamu masih mau melanjutkan mondok, atau bagaimana?" Latifah menghentikan kegiatannya menyuapi si bungsu, lalu menatap sang ayah.
"Tifah mau lanjut ke sekolah mas Alif dulu. Boleh kan, Pak?"
Alif dan pak Ma'ruf terperanjat dan saling berpandangan mendengar pilihan Latifah. Haruskah mereka meluluskan keinginan gadis remaja ini?
Bersambung ….
Keduanya memang sudah mendapat kabar dari mbah Abdullah tentang niatan Latifah untuk menimba ilmu di luar pondok. Hanya saja, mereka tak menyangka gadis remaja itu akan memilih sekolah teknik yang mayoritas siswanya laki-laki tersebut.
"Kamu yakin, Fah?" Alif menangkup kedua pipi Latifah dan menatap netranya. Barangkali adik perempuannya itu tengah berbohong atau mengigau.
"Astagfirullah, Mas … sejak kapan Tifah main-main dengan keinginan Tifah." Latifah berbicara dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. Bibirnya mengerucut dengan mata yang menyipit. Suaranya pun tak begitu jelas karena wajahnya yang masih dicakup oleh Alif.
Pak Ma'ruf mengernyitkan dahinya karena tak bisa mendengar dengan jelas ucapan Latifah.
"Dia bilang yakin, Pak." Alif mencoba menerjemahkan ucapan Latifah dengan bahasa yang lebih ringkas.
"Kenapa harus ke sana?" Pak Ma'ruf masih tak mengerti dengan selera putrinya. Biasanya anak perempuan lebih suka masuk SMK-SMEA yang tak sekasar sekolah tekhnik. Entah mengambil jurusan akuntansi, tata boga atau mungkin tata busana. Setidaknya begitulah gambaran yang terlintas di benak pak Ma'ruf dan Alif. Namun ternyata anak itu memilih yang tak biasa.
"Tifah pengen kayak bu Sri sama bu Dhian yang kerja jadi arsitek, atau setidaknya yang berbau-bau seperti itulah …." Latifah menyatakan keinginannya dengan lancar setelah menepis tangan sang kakak.
"Bu Sri sama bu Dhian itu siapa, Fah?" Alif menatap adiknya keheranan tak paham yang dimaksudkannya.
"Itu … yang kemarin ikut andil dalam pengembangan pondoknya mbah kakung kemarin."
Keduanya manggut-manggut dengan mulut melongo.
"Yakin tidak mau ambil jurusan tata busana atau tata boga saja? Atau mungkin akuntansi? Perhitungannya kan juga sama-sama rumit." Alif masih mencoba mengalihkan pilihan Latifah.
"Tidak! Tifah mau menggambar rancangan bangunan! Bukan mau menggambar grafik, Mas …." Kini Latifah mulai meninggikan suaranya karena gemas dengan kakaknya.
Pak Ma'ruf menghembuskan nafas panjangnya sambil memejamkan mata. Kemudian dibukanya perlahan.
"Baiklah jika itu memang maumu. Bapak hanya bisa merestui dan mendukung. Selanjutnya kau sendiri yang harus berusaha mendapatkan ilmunya itu. Jangan mundur di tengah jalan!" Latifah mengangguk mantap dan mulai menggoyangkan badannya kecil. Saiful yang mulai tak sabar itu pun meraih makanan di tangan Latifah yang terus mengambang di depan mukanya bahkan sampai menggigit jemari Latifah. Gadis remaja itu mengaduh dan disusul gelak tawa yang lainnya.
***
Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, tapi Latifah sudah tampak begitu rapi dengan setelan putih birunya. Bersenandung sholawat dengan riangnya sambil menata sarapan ditemani si bungsu yang asyik memainkan mobil-mobilan mininya mengitari seluruh ruangan.
"Kau yakin tak perlu Bapak temani, Nduk?" Suara berat pak Ma'ruf mengalihkan perhatian Latifah. Gadis remaja itu hanya menoleh sekilas sambil tersenyum.
"Mas Alif yang temani Tifah, Pak … kalau Bapak yang temani Tifah, nanti Ipul sama siapa? Masa harus ikut …." Latifah memberengut tak suka mengingat si bungsu yang masih saja memanggilnya ibu. Tentu nantinya akan jadi bahan tertawaan orang, begitulah yang ada dalam bayangannya.
"Tapi …."
"Tak apa, Pak …. Alif sudah ijin cuti untuk tiga hari. Pak Sapto juga tidak keberatan." Alif mendekat dan menyahut ucapan bapaknya sambil meraih piring di tangan pak Ma'ruf dan mengisinya dengan nasi dan lauk seadanya yang telah tersaji lalu menaruhnya di hadapan sang ayah.
"Nanti Bapak datang ke sekolah kalau Tifah sudah benar-benar diterima saja, sambil sekalian daftar ulang." Latifah menimpali sambil menyuapi si bungsu.
"Kau yakin diterima, Fah?" Alif menatap adiknya remeh yang dibalas lirikan tajam Latifah.
"Mas meragukan Tifah? Kita lihat saja nanti! Insyaallah Tifah bakal diterima." Gadis itu membuang muka dan melanjutkan menyuapi si bungsu sambil sesekali memasukkan makanan kedalam mulutnya sendiri.
Seusai sarapan, Latifah pun pergi diantar sang kakak setelah mengalami sedikit drama dengan si bungsu yang enggan melepas kepergian Latifah.
"Kau memang harus ganti model kerudung, Fah … biar Ipul tak terus-terusan memanggilmu ibuk." Alif membuka pembicaraan setelah sekian menit keduanya terdiam menikmati semilir angin pagi dengan deru mesin motor sebagai musik latarnya.
"Nanti sajalah, Mas … sayang uangnya. Mending buat beli peralatan sekolah." Alif berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Kepribadian hemat sang ibu benar-benar menurun dengan sempurna pada sang adik. Mungkin dirinyalah yang harus berinisiatif untuk sang adik masalah penampilan.
Latifah melongo, menatap takjub gerbang calon sekolah barunya tanpa mempedulikan lalu lalang calon siswa baru yang diantar oleh walinya maupun datang bersama rombongan teman-temannya. Alif yang mulai jenuh menunggui adiknya menuntaskan kekagumannya pun menarik tangan sang adik untuk naik kembali ke atas motornya menuju tempat parkir khusus.
"Kok kita parkir disini, Mas?" Latifah keheranan sambil menunjuk papan yang bertuliskan 'tempat parkir khusus' yang terletak di dekat mereka. Alif hanya tersenyum sambil mengedikan bahunya dan berjalan menjauh sambil menenteng helmnya. Latifah melongo dan semakin keheranan. Buru-buru Latifah menyusul langkah lebar sang kakak sambil ikut-ikutan membawa helmnya.
"Kok helmnya dibawa, Mas?" Latifah bertanya sambil berusaha mengimbangi langkah Alif.
"Nanti kamu juga bakal tau sendiri." Lagi-lagi Latifah hanya mendapatkan jawaban yang ambigu dan membuatnya semakin tak mengerti.
Latifah kembali dibuat takjub dengan pemandangan di hadapannya. Sebuah aula yang begitu besar nan megah disulap menjadi tempat pendaftaran calon peserta didik baru. Dirinya pun mulai paham kenapa sang kakak membawa helmnya setelah sang kakak melemparkan kunci beserta helmnya kepada seorang siswa yang tampak begitu asing di matanya. Bodohnya dia yang malah ikut-ikutan membawa helmnya.
"Makasih, Mas. Nanti aku balikin langsung ke parkiran saja. Motornya masih yang kemarin, kan?" Alif hanya mengangguk kalem menanggapi siswa tampan itu.
Latifah yang merasa malu karena membawa-bawa helm pun langsung memakai helm tersebut dan menutup kacanya. Berlagak sok PD, gadis remaja itu mulai sibuk menghitung stand pengambilan formulir pendaftaran.
"Hah!! Banyak banget, Mas. Memang disini ada berapa jurusan?" Latifah membuka kacanya dan menatap sang kakak yang cekikikan dengan tingkah si adik.
"Sepuluh, kalau belum nambah. Kamu jadi mau ambil jurusan apa?" Latifah mulai menggaruk kepalanya yang tertutup helm. Rasanya seperti ditawari untuk memilih makanan yang sama-sama menggoda, tapi belum terpikirkan rasanya seperti apa. Gadis remaja itu pun nyengir canggung. Menampilkan deretan giginya dengan mata yang sedikit menyipit.
Alif pun menggeleng pelan dan berjalan mengitari stand dan kenyambali menghampiri Latifah dengan membawa setumpuk formulir dari masing-masing stand.
"Nih, pilih sendiri! Mas mau cari camilan dulu, kamu duduk disini saja." Latifah yang sibuk dengan berkas di tangannya pun hanya mengangguk tanpa menatap kakaknya.
"Beneran. Jangan kemana-mana. Nanti kamu hilang kalau sampai nyempil di antara mereka." Alif menunjuk kerumunan calon siswa baru yang berdesak-desakan tak karuan di dalam aula sambil menatap adiknya yang tampak mencolok dengan helm yang masih betah bertengger di kepalanya. Sedangkan yang ditatap hanya diam, mengacuhkan sang kakak.
Beberapa menit berlalu, Alif kembali dengan membawa sebotol air mineral dan beberapa bungkus makanan ringan. Dia pun mulai celingukan mencari adik uniknya yang tak lagi berada di tempatnya. Dia mulai panik hingga akhirnya netranya menangkap benda berkilau yang tampak lain dari yang lain. Senyum lega pun terpampang di wajah manisnya. Ternyata si adik telah menentukan pilihan dan mengantri untuk memasukkan berkas ke loket pendaftaran. Dia pun bisa menikmati makanannya dengan tenang.
Sementara itu, Latifah tengah begitu antusias antri dalam barisan dan seseorang tiba-tiba menepuk bahunya.
"Kok pake helm, Dek?" Seorang kakak kelas yang melintas basa-basi menyapa Latifah yang tampak unik di matanya.
"Biar mudah dicari kalau hilang." Latifah menyahut sekenanya sambil tersenyum ramah.
Bersambung ….