Bab 2

Semenjak kejadian Vika menggagalkan rencananya, Kania berusaha membalaskan dendam pada si gadis bisu yang selalu terlihat berwajah polos dan seakan tidak tau apa- apa itu. Kania yakin Vika sengaja memanggil Bu Nina cepat ke kelas agar bisa melindungi Alika. Mengingat Alika berteman baik dengan Vika.

Pagi itu di SMA Tunas Bangsa, kelas 11 Mipa 3 dikejutkan oleh aksi perundungan yang dilakukan oleh segerombolan gadis-gadis elite sekolah  kepada seorang anak perempuan bisu. Gadis bisu itu hanya bisa meringis pelan dalam ketidakberdayaannya. Ia tersungkur di halaman sekolah dengan keadaan hidung yang berdarah serta wajah yang sudah babak belur.

Sedangkan gerombolan penyiksanya menatap si gadis bisu dengan tatapan rendah yang terasa mengintimidasi. Mereka hampir setiap hari membully si bisu tanpa henti, entah apa salah gadis itu hingga terus menjadi bulan- bulanan segerombolan gadis yang katanya adalah penguasa sekolah.

Gadis paling tinggi diantara mereka maju mendekat, menatap si gadis bisu dengan seringaian sinis yang diukirnya.

"Heh, bisu. Denger ya!" gadis bernama Kania Raiza itu membungkukkan badan lalu meraih dagu gadis bisu itu, mencengkramnya kuat. "Jadi orang tuh jangan sok jadi pahlawan kesiangan! Lo itu sekolah disini karena bokap gue. Sadar diri dikit ajg!"

Ukh!

Setelah mengucapkan kata umpatan itu, Kania memberi pukulan tepat di wajah gadis itu membuatnya terhuyung. Kini sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Semua yang ada disana melihat, tetapi tidak ada satupun yang berani melerai atau menjadi pahlawan kesiangan bagi si gadis bisu itu mengingat Kania sangat berpengaruh di sekolah.

"Lo yang udah ganggu kesenangan gue kemarin gak akan gue kasih ampun hari ini!" teriak Kania meninju wajah kania sekali lagi. "Oh iya, satu lagi yang harus lo tau!"

Kania menunjuk Vika dengan raut wajah yang sangat kesal. Memori di kepalanya seakan berputar, menampilkan sesuatu yang membuat dirinya sebal sekaligus benci di waktu yang bersamaan. Kenyataan itu sungguh membuat harga dirinya seakan jatuh bebas, merasa kalah saing.

"Gue beri peringatan sekali lagi. Kalo gue sampe mergokin lo deket sama Michael lagi, gue gak akan segan- segan buat hidup lo sengsara lebih dari ini!!"

Kania mengatakannya dengan seluruh amarah yang dia punya hingga urat-urat kehijauan di pelipisnya menonjol. Kania memang tidak pernah suka jika siapapun dekat dengan Michael, cowok yang ditaksirnya sejak duduk di bangku kelas sepuluh. Apalagi begitu tahu Michael dekat dengan gadis bisu itu, semakin marah besar lah dia.

Padahal semua orang tau kalau Kania hanya cinta bertepuk sebelah tangan dengan Michael, tetapi Kania terus bertingkah seolah Michael itu adalah pacarnya. Halu memang gadis berambut ikal coklat itu.

Ayahnya adalah kepala sekolah sekaligus pemilik sekolah swasta berskala internasional itu. Tidak ada satupun yang berani dengan Kania karena sekali berurusan dengannya ayahnya tidak akan segan-segan mengeluarkan orang-orang yang dirasa menganggu anaknya. Memang terlihat tidak adil, tetapi mau bagaimana lagi. Rata-rata dari mereka masuk ke sekolah itu karena beasiswa yang diberikan ayah Kania untuk mereka yang berprestasi dan selalu meraih juara kelas. Golongan orang tidak mampu pun diberi keringanan dalam membayar spp atau uang gedung dengan beberapa syarat yang harus mereka penuhi.

Sekolah bagus dengan harga yang terjangkau, siapa yang tidak mau?

Karena itulah mereka lebih memilih untuk bertahan di sekolah itu karena beberapa faktor di atas.

"Hosh ... hosh ... hosh ...." si gadis bisu diam terduduk dengan nafas yang memburu. Menatap para pembully nya dengan pandangan yang mengabur karena kacamata bulat yang dipakainya jatuh entah kemana.

Si gadis bisu mencoba meraba-raba sekitar dengan tangannya. Setelah merasa memegang sesuatu yang ia yakini adalah kacamatanya, si gadis bisu langsung mengambil kacamata bulatnya. Namun, kacamata itu terlepas dari genggamannya ketika Kania merebutnya dengan gerakan kasar. Si gadis bisu tersentak, lalu berusaha mengambil kacamatanya itu dari tangan Kania. Sementara Kania mengoper kacamata itu bolak-balik ke tangannya membuat si gadis bisu kesusahan. Apalagi penglihatannya tidak normal membuatnya terus saja meraih sesuatu secara sembarang arah.

"Ayo, ambil kacamata lo sendiri dari tangan gue. Masa begitu aja gak bisa," tukas Kania memainkan kacamata gadis bisu dengan tawa riang yang terlihat seperti orang kesetanan.

Selalu membully dan menganggu si gadis bisu adalah hobinya. Setiap hari Kania pasti selalu mengerjai gadis yang selalu mengumbar senyum tulus  itu dengan berbagai macam penyiksaan yang dilakukannya. Namun, anehnya gadis bisu itu tak pernah sedikitpun melawan ataupun menunjukkan amarahnya pada Kania. Ia selalu pasrah saja jika dikerjai oleh Kania dan kawan-kawannya. Mungkin karena ia tidak pernah melawan, Kania dan teman- temannya gemar membullynya. Padahal kalau itu orang lain Kania pasti sudah dilaporkan polisi atas tuduhan penganiayaan.

"Ayo, ambil kacamata ini dari gue. Mata lo masih bisa ngeliat kan?"

Kania masih saja mempermainkan si gadis bisu lalu saat gadis bisu itu sudah hampir bisa mengambil kacamatanya kembali, Kania mengopernya pada Tasya yang berada di sebelahnya. Tasya pun memainkan kacamata gadis berkulit putih pucat itu dengan riang gembira seperti sedang memainkan permainan baru. Si gadis bisu yang sudah mulai kepayahan dan kelelahan berusaha meraih kacamatanya dengan gerakan lemah. Dipukul sampai mengeluarkan banyak darah sudah cukup membuat kesadarannya hampir di ambang batas.

"Nih, tangkep!" Tasya mengoper pada Queen yang langsung menangkap kacamata itu dengan sigap. Queen pun memberikannya pada Tina dan begitulah seterusnya sampai ke tangan Kania lagi.

"Tolong kembalikan kacamataku!"

Gadis bisu itu menggerakkan tangannya berusaha memberikan isyarat, tetapi rasanya percuma karena mereka semua tidak ada yang mengerti bahasa isyarat. Kania hampir saja ingin merusak kacamata itu, sampai sebuah tangan terulur menghentikan gerakannya.

"Michael!" Kania tersentak kaget begitu tahu yang menahan pergelangan tangannya adalah Michael, cowok yang selama ini dia sukai. Sedangkan cowok itu menghujamkan tatapan tajam padanya. Terlihat tidak suka dengan apa yang dilakukannya.

"Bisa gak sih, lo berhenti gangguin Vika lagi?!" seru cowok itu dengan seluruh amarahnya, kemudian merampas kacamata gadis bisu itu dari Kania. Kania hanya bisa pasrah saja ketika Michael lagi- lagi selalu menatapnya dengan sorot mata dingin begitu. Raut wajahnya berganti menjadi sendu.

Di depan Michael, Kania seperti tidak berdaya.

"Ayo, Vik. Kita pergi," ajak Michael sembari merangkul Vika yang sudah babak belur karena ulah Kania and the geng. Memberikan tatapan membunuh ke arah Kania sebelum pergi.

"Jangan pernah mau berurusan sama cewek troublemaker kek dia. Yang kerjaannya cuma bisa membully dan menindas anak-anak lain. Dasar sampah!"

Deg.

Bagai ditusuk belati dari segala arah, Kania tertohok dengan ucapan terakhir Michael yang sangat tajam ditujukan padanya sebelum pergi. Seketika dadanya terasa sesak, bulir- bulir airmata sudah mengumpul di pelupuk matanya yang indah.

Kania tidak akan pernah melupakan kata-kata orang yang selama ini disukainya tersebut. Sebegitu rendah kah ia di mata cowok itu?

Sepeninggal Michael dan Vika, teman-teman sepermainannya menghampiri. Mereka bertiga berusaha menguatkan sang leader di geng mereka dengan cara memeluk Kania dengan erat.

"Udah, Kan. Jangan dengerin omongan cowok kek dia. Anggep aja angin lalu," ujar Queen mengelus pundak Kania berusaha menguatkan. Kania masih saja menangis tanpa suara.

"Iya, bener, tuh. Mending abis ini kita main ke Mall, ya?" ucap Tina berusaha membuat sahabatnya sedih. "Sekalian healing kita."

"Cup, cup, cup. Udah jangan nangis ya. Airmata lo terlalu berharga buat nangisin cowok gak tau diri kek dia," tambah Tina. Mereka berempat persahabatannya kuat walau sifat mereka tidak ada yang benar.

"Huh, awas ya! Gue bakal kasih pelajaran ke si bisu itu. Liat aja!!" tekad Kania sembari mengelap airmatanya kasar. Kebenciannya pada Kinan semakin menguat karena kejadian tadi. Dia akan pastikan kalau Kinan akan hancur se hancur- hancurnya dan menyesal seumur hidup. Lihat saja!

****

Bab 3

"Papa!"

Kania masuk ke ruangan kepala sekolah yang tidak lain adalah ruangan papanya sendiri. Gadis itu lalu duduk di kursi di hadapan meja kerja papanya tersebut, menatap papanya yang sedang fokus menatap layar laptop, entah apa yang papanya lihat disana sampai kehadiran anaknya tidak dia gubris.

"Pa, denger nia gak sih?!" sungut Kania kesal karena papanya tak juga mendengarkan keluh kesahnya.

"Ah, tadi kamu ngomong apa nak?" tanya Tommy Pradana balik. Mengalihkan pandangannya sedikit lalu kembali fokus ke arah laptop. Sepertinya papanya sedang fokus dengan apa yang dia kerjakan.

Kania mendengus kasar, tetapi berusaha sabar di depan sang ayah.

"Gini, loh, Pa. Vika makin lama makin ngelunjak! Masa gara-gara dia aku dibenci sama Michael. Modal muka sok polos sama bisu aja sok sok an mau nandingin aku. Bisa bayangin gak sih, sebenci apa aku sama dia sekarang. Dan aku pengen dia hancur saat ini juga!"

Mendengar kalimat terakhir anaknya, sontak Tommy menghentikan aktifitasnya lalu menatap anaknya dengan tatapan terkejut. Apa ada hal lain lagi yang harus dia bereskan sekarang?

"Apa maksud kamu tadi? Kamu mau Vika hancur?" tanya pria setengah baya itu memastikan pendengaran nya tidak salah. Kania mengangguk mantap sebagai tanggapan atas pertanyaan papanya.

"Iya, Pa. Aku pengen dia hancur dan beri pelajaran biar dia gak main- main sama aku. Orang kek gitu harus dikasih pelajaran!"

Tommy menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian bertopang dagu menatap anaknya yang sedang dirasuki keinginan untuk balas dendam.

"Kali ini kamu mau papa ngelakuin apa lagi? Keluarin dia dari sekolah?" terka Tommy.

Kania menggeleng cepat. "Enggak, Pa. Ada hal lebih yang harus papa lakukan lebih dari itu."

Walaupun terkadang ia malas meladeni keinginan anaknya yang selalu aneh- aneh dan di luar nalar, Tommy berusaha untuk mendengarkan apa yang diinginkan anaknya dan mewujudkannya. Kania adalah segalanya baginya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan sang anak.

Karena Kania adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan padanya setelah hampir sepuluh tahun membina rumah tangga bersama istrinya. Saat itu ia dan istrinya memang sangat menantikan hadirnya si buah hati dan berusaha untuk mendapatkan anak setelah berbagai cara mereka lakukan. Dan Kania adalah jawaban dari doa mereka yang terkabulkan.

17 tahun pun berlalu, Kania sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sedangkan ia sendiri sudah sangat tua. Karena itulah, di masa tuanya ini ia ingin memanjakan dan memberikan kasih sayang penuh untuk anak satu- satunya itu. Karena ia takut di umurnya yang sudah menginjak kepala enam, kematian datang menjemputnya. Dan dia belum sempat membuat Kania bahagia.

Kematian ya? Eh. Mendengar kata itu saja sudah membuat dirinya seakan dekat dengan kematian itu sendiri.

"Papa harus ngelakuin apa, Nak?"

Tangan Kania mengepal kuat dan bibirnya melengkungkan senyuman tipis yang hampir tidak tampak. Sebuah ide gila muncul di kepalanya yang sedang dikuasai amarah dan rasa benci. Tommy membelalakkan matanya lebar ketika mendengar permintaan anaknya itu.

"Sediakan Kania tempat yang aman untuk menyiksa Vika, Pa. Nia mau semua ini tidak tercium oleh polisi."

***

Seorang gadis bisu terpojok saat Kania maju mendekati nya dengan tatapan seperti ingin memangsanya. Ia sungguh tidak berpikir kalau semua ini ternyata akal bulus Kania untuk menjebaknya. Betapa niat gadis bermata biru terang itu untuk menyiksa dirinya.

Kata-katanya tempo hari seakan merupakan ancaman yang bukan sekedar omong kosong.

"Kenapa, bisu? Kaget ya gue tiba- tiba ada disini?!" suara Kania memecah keheningan. Bertolak pinggang menatap Vika yang terpojok di sudut ruangan. Berjalan semakin mendekati nya.

"Udah lama gue mau lakuin ini ke lo." Kania mengambil pisau lipat di kantung celana jeansnya, menunjuk kannya pada Vika tepat di depan matanya. Vika semakin ketakutan dibuatnya.

"Gimana ya, kalo muka lo yang sok cantik ini gue lukain pake pisau ini? Pasti bagus."

Vika menggelengkan kepalanya cepat,  matanya refleks menutup tak ingin melihat penyiksaan terhadap dirinya sendiri. Kania benar- benar gelap mata saat itu, dan dia tak mempunyai pikiran apapun kecuali membalaskan dendamnya pada gadis bisu yang selama ini ia benci.

Zratt.

Malam itu menjadi malam yang akan Kania ingat sampai kapanpun. Segala dendam dan rasa tidak sukanya pada Vika terbalaskan pada malam itu, of course. Namun, apakah setelah ini hidupnya akan damai dan tenang? Belum tentu.

Karena saat itu terjadi, diam- diam Tuhan telah menyiapkan skenario untuk Kania yang terkenal sebagai gadis angkuh dan merasa pusat dunia berada di tangannya hanya karena ada Papanya yang selalu bisa membereskan semua masalahnya.

Bahkan menuruti dan mendukung perbuatan bejad anaknya sendiri.

***

"Breaking news! Seorang siswi sma berisinisial RA ditemukan tak sadarkan diri dengan luka sayatan di sekujur tubuh di gudang tak terpakai dengan dekat pabrik gula. Kini korban sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat dan telah mendapat perawatan medis. Belum ada yang tahu pasti siapa yang melakukan semua ini.

Berita itu sudah tersebar kemana-mana bahkan menyebar luas dengan cepat. Alika yang menonton acara berita pagi hari itu sungguh sangat shock sampai menangis. Ia tidak menyangka kalau pertemuannya dua hari lalu dengan gadis itu adalah pertemuan terakhir untuknya.

Ia pun kini menyesal. Mengapa saat hari itu dia tidak curiga sama sekali dengan ucapan gadis bisu itu 2 hari lalu? Mengapa ia membiarkan saja sahabatnya pergi seorang diri hingga kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi?

Alika pun bersumpah akan membalaskan dendam pada orang yang telah mencelakai sahabatnya itu.

"Kalau sampai nanti aku tahu siapa orang yang telah mencelakaimu, akan aku pastikan dia akan merasakan rasa sakit yang sama sepertimu bahkan lebih!" ucap Alika bersungguh sunguh sembari menatap foto kebersamaannya bersama sang sahabat. Tak sadar foto itu telah basah akan airmata.

Sementara itu, di tempat lain, Kania terlihat shock saat mendapat berita tentang Vika di televisi. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemberitaan ini akan menyebar kemana-mana dan bocor. Kania menggigit jari jemarinya kalut. Lantas dia harus bagaimana?

"Gue gak nyangka beritanya akan cepat kesebar kek gini," gumam Kania sembari berjalan mondar-mandir di kamarnya. Isi kepala memaksanya untuk overthingking meskipun ia berusaha untuk tetap tenang. "Kalau sampe penyelidikan  ini berjalan, gue pasti bakal dipenjara."

Kania menarik rambutnya frustasi, berteriak sekencang mungkin untuk membuatnya sedikit merasa lega walau hanya sesaat.

"Gak! Gue gak mau dipenjara. Gue harus buru-buru menyembunyikan buktinya sebelum terlambat!"

Kania pun langsung berlari keluar dari kamarnya. Berusaha untuk melakukan apa yang dia bisa untuk meminimalisir kecurigaan semua orang terhadap dirinya kelak. Dia harus cepat sebelum polisi yang menangani kasus ini bertindak duluan.

"Setelah ini gue harus bicarain ini ke Papa. Semoga papa bisa beresin kasus ini."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED