Pagi hari yang cerah di SMA Nusa Pelita. Gerombolan gadis cantik sedang berjalan di koridor sekolah dengan canda tawa yang menghiasi wajah mereka. Hingga seorang anak perempuan berkulit hitam berambut kribo melewati mereka begitu saja. Mereka langsung menoleh ke belakang untuk melihat anak perempuan itu.
"Njir item banget. Gilasih, tuh orang gak pernah nyentuh skincare kali ya. Mukanya kek gosong gitu gak sih," cetus Kania kepada teman- temannya yang lain. Mereka bertiga pun langsung mengangguk setuju atas opini Kania.
"Haha, Jelek banget. Fiks sih yang bisa sampe suka sama dia matanya katarak. Cewek kek gitu merusak pemandangan aja," timpal Queen dengan kalimat pedasnya. "Mana gaya nya sok iye lagi."
"Wkwkw iya anjir, keliatan kek belagu banget tuh anak. Kita kerjain yuk!" ajak Tasya yang langsung disetujui oleh yang lain. Mereka pun sontak langsung mendekat, merencanakan sesuatu yang sudah pasti jahat. Setelah sudah menyusun rencana, Kania memanggil anak itu. Untunglah cewek berambut kribo itu menoleh dan menyahut panggilan Kania. Sedangkan ketiga temannya yang berada di belakang Kania sudah tertawa cekikikan.
"Kakak manggil aku?" tanya cewek berambut kribo itu menunjuk dirinya sendiri. Ternyata dia anak kelas sepuluh.
"Iya. Lo ikut gue sama temen - temen gue yuk." tanpa meminta persetujuan, Kania pun langsung menarik pergelangan tangan kurus anak perempuan tersebut dan membawanya ke suatu tempat. Tasya, Queen, dan Tina lalu mengekori mereka yang ternyata menuju kamar mandi. Cewek berambut kribo itu sudah merasakan firasat buruk ketika dirinya diseret begitu saja oleh Kania lalu berusaha melawan. Sempat terjadi tarik menarik antara Kania dan cewek berambut kribo itu. Namun cewek berambut kribo itu kalah jumlah sehingga dia bisa diringkus begitu saja.
"Kak, aku mau diapain. Kak!!!"
"Udah jangan berisik! Mending lo diem aja deh sama nurut apa kata kita."
Kania lalu membawa cewek berambut kribo yang tidak diketahui namanya itu ke dalam toilet wanita lalu menjenggut rambut yang sudah seperti sarang tawon itu dengan kencang hingga tersentak ke belakang. Cewek berkulit hitam itu hanya bisa meringis kesakitan dan menangis.
"Lo tuh jelek banget tau gak terus dekil! Karena itu kita pengen buat lo jadi agak mendingan dikit. Minimal cuci muka lah ya," tukas Kania tertawa jahat. Lalu matanya melirik ke arah teman-temannya sebagai kode dan mereka langsung mengerti apa yang dimaksud Kania.
"Queen, ambilin sabun yang ada situ," suruh Kania menunjuk sabun batang yang basah dan warnanya sudah bercampur tak karuan karena sudah digabung dengan sabun-sabun yang lain. Queen pun dengan senang hati memberikannya pada Kania.
"Nih."
"Makasih, bestie." Kania pun mengambil sabun toilet yang biasa dipakai murid-murid lain untuk cebok. Lalu sabun itu digosok gosok ke muka cewek bernasib malang itu yang tidak bisa melakukan apapun karena kedua tangannya sudah dipegang oleh Tasya dan Tina.
"Biar cantik yakan. Cuci muka dulu, haha."
Setelah wajah cewek berambut kribo itu sudah penuh dengan sabun menjijikkan itu, Kania langsung menenggalamkan kepala gadis itu ke dalam bak mandi lalu menariknya lalu menenggelam kannya lagi dan begitulah seterusnya. Mereka berempat tertawa penuh kemenangan seolah yang mereka lakukan ini adalah sebuah hiburan. Tidak mempedulikan gadis yang sedang jadi target bully-an ini akan mati atau tidak dengan perbuatan mereka.
Tettt. Tettt. Tettt.
Bel tanda masuk pun akhirnya berbunyi, seolah menyelamatkan gadis berambut kribo itu dari maut yang bisa saja mendatanginya lebih cepat. Mereka pun langsung lari tunggang langgang meninggalkan si cewek kribo itu menuju kelas mereka.
***
Sesampainya di kelas, mereka langsung duduk di tempat duduk mereka masing-masing yang berada di paling belakang. Tak lama setelah itu, seorang anak perempuan datang dengan penampilan culunnya. Namanya Alika, dan dia juga termasuk korban bully-an dari Kania and the geng.
"Eh ada si cupu, tuh. Kerjain yuk," bisik Kania pada ketiga temannya yang langsung diangguki antusias. Mereka pun perlahan mendekati gadis culun itu, sengaja menyelengkat kaki gadis itu hingga jatuh tersungkur.
"Aduh!!"
Tawa mereka pun terdengar setelah itu, kemudian menghampiri si gadis culun yang hidungnya langsung mengeluarkan darah.
"Eh culun, tumben masuk kelasnya lebih lambat dari kita," tutur Tasya lalu memiting leher Alika hingga membuat napas gadis itu terengah-engah. "Harus dikasih hukuman nih."
Padahal Bu Nina yang ada jam pelajaran pertama di kelas pun belum masuk, tetapi mereka sudah meng-klaim bahwa Alika telat masuk.
"Bener, tuh. Masa jam segini baru masuk sih," tanggap Kania sembari tersenyum sinis. Ia lalu menarik dagu Alika hingga wajah mereka berhadapan. "Kira-kira hukuman yang pas buat lo apa ya?"
Setela itu Kania mengalihkan pandangan pada Queen dan Tina meminta persetujuan. "Gimana, girls? Ada saran?"
"Gimana kalo kita telanjangin aja?" usul Tina dengan seringaian jahat yang langsung membuat wajah Alika memucat. Gadis berponi tebal hingga menutupi matanya itu menggeleng berkali-kali atas saran hukuman yang cukup gila. Yang benar saja dia akan ditelanjangi di depan semua teman- teman sekelasnya?
Kania menjentikkan jarinya seolah setuju dengan ide gila Tina. "Ide yang bagus. Ayo kita telanjangin dia haha."
Queen dan Tina pun langsung memegang kedua tangan Alika yang meronta-ronta ingin dilepaskan kemudian menarik paksa sampai ke depan kelas.
Kania sang eksekutor pun sudah berdiri di depan kelas, menyapu pandangan pada semua teman- temannya yang kini terlihat antusias dengan apa yang akan ia lakukan.
Bahkan beberapa dari mereka sudah mulai merekam video apa yang akan dilakukan Kania and the geng.
"Temen-temen, mari kita saksikan sebentar lagi pertunjukan yang luar biasa ini," ucap Kania seperti Mc yang sedang membawakan acara. "Kalian semua sudah siap?"
"Siapp."
"Uhuyy."
"Piwitttt."
Sorakan siulan menggoda dari teman- teman kelas membuat Kania semakin senang. Ia pun langsung menghampiri Alika yang kedua tangannya masih dipegang erat oleh Queen dan Tina. Alika masih saja memberontak, tatapan yang ia arahkan pada Kania seperti benci tetapi ia tidak bisa melakukan apapun.
"Pertama dari atas dulu yak gaes."
Kania sudah mulai membuka kancing atas seragam Alika. Alika berusaha untuk melawan meski sulit. Pembully-an ini memang paling parah yang dirasakan oleh Alika selama terus-terusan dibully oleh Kania and the geng. Kalau tidak ada yang menolongnya habis sudah.
"Selamat Pagi, anak-anak."
"Eh, Bu Nina udah masuk woy."
"Bubar, bubar."
Aksi yang dilakukan oleh Kania and the geng ternyata gagal karena Bu Nina sudah masuk ke dalam kelas. Kania and the geng maupun Alika pun sontak langsung berlari menuju tempat duduk masing- masing.
"Maaf kalau saya terlambat masuk kelas, anak-anak. Tadi saya sempat salah masuk kelas, untung saja Vika menjemput ibu dan mengingatkan kalau ibu ada pelajaran disini," jelas Bu Nina panjang lebar. Kemudian beliau mengalihkan atensi pada Vika yang berdiri tak jauh darinya.
"Terimakasih ya, Vika. Sudah mengingatkan ibu."
"Sama-sama, Bu."
Dan Vika pun menjawabnya dengan bahasa isyarat. Dia adalah seorang gadis yang tidak bisa berbicara alias tunawicara.
"Ayo, kita mulai sekarang pelajarannya."
Sementara Kania menatap Vika dengan tatapan yang membunuh. Mengenggam erat pulpen yang sedang dipegangnya geregetan. Ia sungguh akan memberikan pelajaran kepada Vika.
"Awas ya lo, bisu. Tunggu pembalasan dari gue. Liat aja."
Semenjak kejadian Vika menggagalkan rencananya, Kania berusaha membalaskan dendam pada si gadis bisu yang selalu terlihat berwajah polos dan seakan tidak tau apa- apa itu. Kania yakin Vika sengaja memanggil Bu Nina cepat ke kelas agar bisa melindungi Alika. Mengingat Alika berteman baik dengan Vika.
Pagi itu di SMA Tunas Bangsa, kelas 11 Mipa 3 dikejutkan oleh aksi perundungan yang dilakukan oleh segerombolan gadis-gadis elite sekolah kepada seorang anak perempuan bisu. Gadis bisu itu hanya bisa meringis pelan dalam ketidakberdayaannya. Ia tersungkur di halaman sekolah dengan keadaan hidung yang berdarah serta wajah yang sudah babak belur.
Sedangkan gerombolan penyiksanya menatap si gadis bisu dengan tatapan rendah yang terasa mengintimidasi. Mereka hampir setiap hari membully si bisu tanpa henti, entah apa salah gadis itu hingga terus menjadi bulan- bulanan segerombolan gadis yang katanya adalah penguasa sekolah.
Gadis paling tinggi diantara mereka maju mendekat, menatap si gadis bisu dengan seringaian sinis yang diukirnya.
"Heh, bisu. Denger ya!" gadis bernama Kania Raiza itu membungkukkan badan lalu meraih dagu gadis bisu itu, mencengkramnya kuat. "Jadi orang tuh jangan sok jadi pahlawan kesiangan! Lo itu sekolah disini karena bokap gue. Sadar diri dikit ajg!"
Ukh!
Setelah mengucapkan kata umpatan itu, Kania memberi pukulan tepat di wajah gadis itu membuatnya terhuyung. Kini sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Semua yang ada disana melihat, tetapi tidak ada satupun yang berani melerai atau menjadi pahlawan kesiangan bagi si gadis bisu itu mengingat Kania sangat berpengaruh di sekolah.
"Lo yang udah ganggu kesenangan gue kemarin gak akan gue kasih ampun hari ini!" teriak Kania meninju wajah kania sekali lagi. "Oh iya, satu lagi yang harus lo tau!"
Kania menunjuk Vika dengan raut wajah yang sangat kesal. Memori di kepalanya seakan berputar, menampilkan sesuatu yang membuat dirinya sebal sekaligus benci di waktu yang bersamaan. Kenyataan itu sungguh membuat harga dirinya seakan jatuh bebas, merasa kalah saing.
"Gue beri peringatan sekali lagi. Kalo gue sampe mergokin lo deket sama Michael lagi, gue gak akan segan- segan buat hidup lo sengsara lebih dari ini!!"
Kania mengatakannya dengan seluruh amarah yang dia punya hingga urat-urat kehijauan di pelipisnya menonjol. Kania memang tidak pernah suka jika siapapun dekat dengan Michael, cowok yang ditaksirnya sejak duduk di bangku kelas sepuluh. Apalagi begitu tahu Michael dekat dengan gadis bisu itu, semakin marah besar lah dia.
Padahal semua orang tau kalau Kania hanya cinta bertepuk sebelah tangan dengan Michael, tetapi Kania terus bertingkah seolah Michael itu adalah pacarnya. Halu memang gadis berambut ikal coklat itu.
Ayahnya adalah kepala sekolah sekaligus pemilik sekolah swasta berskala internasional itu. Tidak ada satupun yang berani dengan Kania karena sekali berurusan dengannya ayahnya tidak akan segan-segan mengeluarkan orang-orang yang dirasa menganggu anaknya. Memang terlihat tidak adil, tetapi mau bagaimana lagi. Rata-rata dari mereka masuk ke sekolah itu karena beasiswa yang diberikan ayah Kania untuk mereka yang berprestasi dan selalu meraih juara kelas. Golongan orang tidak mampu pun diberi keringanan dalam membayar spp atau uang gedung dengan beberapa syarat yang harus mereka penuhi.
Sekolah bagus dengan harga yang terjangkau, siapa yang tidak mau?
Karena itulah mereka lebih memilih untuk bertahan di sekolah itu karena beberapa faktor di atas.
"Hosh ... hosh ... hosh ...." si gadis bisu diam terduduk dengan nafas yang memburu. Menatap para pembully nya dengan pandangan yang mengabur karena kacamata bulat yang dipakainya jatuh entah kemana.
Si gadis bisu mencoba meraba-raba sekitar dengan tangannya. Setelah merasa memegang sesuatu yang ia yakini adalah kacamatanya, si gadis bisu langsung mengambil kacamata bulatnya. Namun, kacamata itu terlepas dari genggamannya ketika Kania merebutnya dengan gerakan kasar. Si gadis bisu tersentak, lalu berusaha mengambil kacamatanya itu dari tangan Kania. Sementara Kania mengoper kacamata itu bolak-balik ke tangannya membuat si gadis bisu kesusahan. Apalagi penglihatannya tidak normal membuatnya terus saja meraih sesuatu secara sembarang arah.
"Ayo, ambil kacamata lo sendiri dari tangan gue. Masa begitu aja gak bisa," tukas Kania memainkan kacamata gadis bisu dengan tawa riang yang terlihat seperti orang kesetanan.
Selalu membully dan menganggu si gadis bisu adalah hobinya. Setiap hari Kania pasti selalu mengerjai gadis yang selalu mengumbar senyum tulus itu dengan berbagai macam penyiksaan yang dilakukannya. Namun, anehnya gadis bisu itu tak pernah sedikitpun melawan ataupun menunjukkan amarahnya pada Kania. Ia selalu pasrah saja jika dikerjai oleh Kania dan kawan-kawannya. Mungkin karena ia tidak pernah melawan, Kania dan teman- temannya gemar membullynya. Padahal kalau itu orang lain Kania pasti sudah dilaporkan polisi atas tuduhan penganiayaan.
"Ayo, ambil kacamata ini dari gue. Mata lo masih bisa ngeliat kan?"
Kania masih saja mempermainkan si gadis bisu lalu saat gadis bisu itu sudah hampir bisa mengambil kacamatanya kembali, Kania mengopernya pada Tasya yang berada di sebelahnya. Tasya pun memainkan kacamata gadis berkulit putih pucat itu dengan riang gembira seperti sedang memainkan permainan baru. Si gadis bisu yang sudah mulai kepayahan dan kelelahan berusaha meraih kacamatanya dengan gerakan lemah. Dipukul sampai mengeluarkan banyak darah sudah cukup membuat kesadarannya hampir di ambang batas.
"Nih, tangkep!" Tasya mengoper pada Queen yang langsung menangkap kacamata itu dengan sigap. Queen pun memberikannya pada Tina dan begitulah seterusnya sampai ke tangan Kania lagi.
"Tolong kembalikan kacamataku!"
Gadis bisu itu menggerakkan tangannya berusaha memberikan isyarat, tetapi rasanya percuma karena mereka semua tidak ada yang mengerti bahasa isyarat. Kania hampir saja ingin merusak kacamata itu, sampai sebuah tangan terulur menghentikan gerakannya.
"Michael!" Kania tersentak kaget begitu tahu yang menahan pergelangan tangannya adalah Michael, cowok yang selama ini dia sukai. Sedangkan cowok itu menghujamkan tatapan tajam padanya. Terlihat tidak suka dengan apa yang dilakukannya.
"Bisa gak sih, lo berhenti gangguin Vika lagi?!" seru cowok itu dengan seluruh amarahnya, kemudian merampas kacamata gadis bisu itu dari Kania. Kania hanya bisa pasrah saja ketika Michael lagi- lagi selalu menatapnya dengan sorot mata dingin begitu. Raut wajahnya berganti menjadi sendu.
Di depan Michael, Kania seperti tidak berdaya.
"Ayo, Vik. Kita pergi," ajak Michael sembari merangkul Vika yang sudah babak belur karena ulah Kania and the geng. Memberikan tatapan membunuh ke arah Kania sebelum pergi.
"Jangan pernah mau berurusan sama cewek troublemaker kek dia. Yang kerjaannya cuma bisa membully dan menindas anak-anak lain. Dasar sampah!"
Deg.
Bagai ditusuk belati dari segala arah, Kania tertohok dengan ucapan terakhir Michael yang sangat tajam ditujukan padanya sebelum pergi. Seketika dadanya terasa sesak, bulir- bulir airmata sudah mengumpul di pelupuk matanya yang indah.
Kania tidak akan pernah melupakan kata-kata orang yang selama ini disukainya tersebut. Sebegitu rendah kah ia di mata cowok itu?
Sepeninggal Michael dan Vika, teman-teman sepermainannya menghampiri. Mereka bertiga berusaha menguatkan sang leader di geng mereka dengan cara memeluk Kania dengan erat.
"Udah, Kan. Jangan dengerin omongan cowok kek dia. Anggep aja angin lalu," ujar Queen mengelus pundak Kania berusaha menguatkan. Kania masih saja menangis tanpa suara.
"Iya, bener, tuh. Mending abis ini kita main ke Mall, ya?" ucap Tina berusaha membuat sahabatnya sedih. "Sekalian healing kita."
"Cup, cup, cup. Udah jangan nangis ya. Airmata lo terlalu berharga buat nangisin cowok gak tau diri kek dia," tambah Tina. Mereka berempat persahabatannya kuat walau sifat mereka tidak ada yang benar.
"Huh, awas ya! Gue bakal kasih pelajaran ke si bisu itu. Liat aja!!" tekad Kania sembari mengelap airmatanya kasar. Kebenciannya pada Kinan semakin menguat karena kejadian tadi. Dia akan pastikan kalau Kinan akan hancur se hancur- hancurnya dan menyesal seumur hidup. Lihat saja!
****
"Papa!"
Kania masuk ke ruangan kepala sekolah yang tidak lain adalah ruangan papanya sendiri. Gadis itu lalu duduk di kursi di hadapan meja kerja papanya tersebut, menatap papanya yang sedang fokus menatap layar laptop, entah apa yang papanya lihat disana sampai kehadiran anaknya tidak dia gubris.
"Pa, denger nia gak sih?!" sungut Kania kesal karena papanya tak juga mendengarkan keluh kesahnya.
"Ah, tadi kamu ngomong apa nak?" tanya Tommy Pradana balik. Mengalihkan pandangannya sedikit lalu kembali fokus ke arah laptop. Sepertinya papanya sedang fokus dengan apa yang dia kerjakan.
Kania mendengus kasar, tetapi berusaha sabar di depan sang ayah.
"Gini, loh, Pa. Vika makin lama makin ngelunjak! Masa gara-gara dia aku dibenci sama Michael. Modal muka sok polos sama bisu aja sok sok an mau nandingin aku. Bisa bayangin gak sih, sebenci apa aku sama dia sekarang. Dan aku pengen dia hancur saat ini juga!"
Mendengar kalimat terakhir anaknya, sontak Tommy menghentikan aktifitasnya lalu menatap anaknya dengan tatapan terkejut. Apa ada hal lain lagi yang harus dia bereskan sekarang?
"Apa maksud kamu tadi? Kamu mau Vika hancur?" tanya pria setengah baya itu memastikan pendengaran nya tidak salah. Kania mengangguk mantap sebagai tanggapan atas pertanyaan papanya.
"Iya, Pa. Aku pengen dia hancur dan beri pelajaran biar dia gak main- main sama aku. Orang kek gitu harus dikasih pelajaran!"
Tommy menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian bertopang dagu menatap anaknya yang sedang dirasuki keinginan untuk balas dendam.
"Kali ini kamu mau papa ngelakuin apa lagi? Keluarin dia dari sekolah?" terka Tommy.
Kania menggeleng cepat. "Enggak, Pa. Ada hal lebih yang harus papa lakukan lebih dari itu."
Walaupun terkadang ia malas meladeni keinginan anaknya yang selalu aneh- aneh dan di luar nalar, Tommy berusaha untuk mendengarkan apa yang diinginkan anaknya dan mewujudkannya. Kania adalah segalanya baginya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan sang anak.
Karena Kania adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan padanya setelah hampir sepuluh tahun membina rumah tangga bersama istrinya. Saat itu ia dan istrinya memang sangat menantikan hadirnya si buah hati dan berusaha untuk mendapatkan anak setelah berbagai cara mereka lakukan. Dan Kania adalah jawaban dari doa mereka yang terkabulkan.
17 tahun pun berlalu, Kania sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sedangkan ia sendiri sudah sangat tua. Karena itulah, di masa tuanya ini ia ingin memanjakan dan memberikan kasih sayang penuh untuk anak satu- satunya itu. Karena ia takut di umurnya yang sudah menginjak kepala enam, kematian datang menjemputnya. Dan dia belum sempat membuat Kania bahagia.
Kematian ya? Eh. Mendengar kata itu saja sudah membuat dirinya seakan dekat dengan kematian itu sendiri.
"Papa harus ngelakuin apa, Nak?"
Tangan Kania mengepal kuat dan bibirnya melengkungkan senyuman tipis yang hampir tidak tampak. Sebuah ide gila muncul di kepalanya yang sedang dikuasai amarah dan rasa benci. Tommy membelalakkan matanya lebar ketika mendengar permintaan anaknya itu.
"Sediakan Kania tempat yang aman untuk menyiksa Vika, Pa. Nia mau semua ini tidak tercium oleh polisi."
***
Seorang gadis bisu terpojok saat Kania maju mendekati nya dengan tatapan seperti ingin memangsanya. Ia sungguh tidak berpikir kalau semua ini ternyata akal bulus Kania untuk menjebaknya. Betapa niat gadis bermata biru terang itu untuk menyiksa dirinya.
Kata-katanya tempo hari seakan merupakan ancaman yang bukan sekedar omong kosong.
"Kenapa, bisu? Kaget ya gue tiba- tiba ada disini?!" suara Kania memecah keheningan. Bertolak pinggang menatap Vika yang terpojok di sudut ruangan. Berjalan semakin mendekati nya.
"Udah lama gue mau lakuin ini ke lo." Kania mengambil pisau lipat di kantung celana jeansnya, menunjuk kannya pada Vika tepat di depan matanya. Vika semakin ketakutan dibuatnya.
"Gimana ya, kalo muka lo yang sok cantik ini gue lukain pake pisau ini? Pasti bagus."
Vika menggelengkan kepalanya cepat, matanya refleks menutup tak ingin melihat penyiksaan terhadap dirinya sendiri. Kania benar- benar gelap mata saat itu, dan dia tak mempunyai pikiran apapun kecuali membalaskan dendamnya pada gadis bisu yang selama ini ia benci.
Zratt.
Malam itu menjadi malam yang akan Kania ingat sampai kapanpun. Segala dendam dan rasa tidak sukanya pada Vika terbalaskan pada malam itu, of course. Namun, apakah setelah ini hidupnya akan damai dan tenang? Belum tentu.
Karena saat itu terjadi, diam- diam Tuhan telah menyiapkan skenario untuk Kania yang terkenal sebagai gadis angkuh dan merasa pusat dunia berada di tangannya hanya karena ada Papanya yang selalu bisa membereskan semua masalahnya.
Bahkan menuruti dan mendukung perbuatan bejad anaknya sendiri.
***
"Breaking news! Seorang siswi sma berisinisial RA ditemukan tak sadarkan diri dengan luka sayatan di sekujur tubuh di gudang tak terpakai dengan dekat pabrik gula. Kini korban sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat dan telah mendapat perawatan medis. Belum ada yang tahu pasti siapa yang melakukan semua ini.
Berita itu sudah tersebar kemana-mana bahkan menyebar luas dengan cepat. Alika yang menonton acara berita pagi hari itu sungguh sangat shock sampai menangis. Ia tidak menyangka kalau pertemuannya dua hari lalu dengan gadis itu adalah pertemuan terakhir untuknya.
Ia pun kini menyesal. Mengapa saat hari itu dia tidak curiga sama sekali dengan ucapan gadis bisu itu 2 hari lalu? Mengapa ia membiarkan saja sahabatnya pergi seorang diri hingga kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi?
Alika pun bersumpah akan membalaskan dendam pada orang yang telah mencelakai sahabatnya itu.
"Kalau sampai nanti aku tahu siapa orang yang telah mencelakaimu, akan aku pastikan dia akan merasakan rasa sakit yang sama sepertimu bahkan lebih!" ucap Alika bersungguh sunguh sembari menatap foto kebersamaannya bersama sang sahabat. Tak sadar foto itu telah basah akan airmata.
Sementara itu, di tempat lain, Kania terlihat shock saat mendapat berita tentang Vika di televisi. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemberitaan ini akan menyebar kemana-mana dan bocor. Kania menggigit jari jemarinya kalut. Lantas dia harus bagaimana?
"Gue gak nyangka beritanya akan cepat kesebar kek gini," gumam Kania sembari berjalan mondar-mandir di kamarnya. Isi kepala memaksanya untuk overthingking meskipun ia berusaha untuk tetap tenang. "Kalau sampe penyelidikan ini berjalan, gue pasti bakal dipenjara."
Kania menarik rambutnya frustasi, berteriak sekencang mungkin untuk membuatnya sedikit merasa lega walau hanya sesaat.
"Gak! Gue gak mau dipenjara. Gue harus buru-buru menyembunyikan buktinya sebelum terlambat!"
Kania pun langsung berlari keluar dari kamarnya. Berusaha untuk melakukan apa yang dia bisa untuk meminimalisir kecurigaan semua orang terhadap dirinya kelak. Dia harus cepat sebelum polisi yang menangani kasus ini bertindak duluan.
"Setelah ini gue harus bicarain ini ke Papa. Semoga papa bisa beresin kasus ini."