Bab 1

Nabila berpamitan untuk menginap di rumah ibunya selama satu minggu dengan membawa putranya yang baru berumur satu tahun. Ibu Nabila sedang struk karena itu dia jadi sering menginap di rumah sang ibu untuk bantu merawatnya bergiliran dengan saudaranya yang lain. Selama ini suami Nabila juga mengijinkan, dia tidak pernah masalah ketika Nabila tinggalkan dua atau tiga hari di rumah ibunya. Tapi kali ini Nabila tidak pergi ke rumah ibunya, Nabila sengaja berbohong. Nabila hanya menitipkan putranya di rumah salah seorang teman kemudian dia kembali pulang ke rumah.

Selama dua bulan ini Nabila sering mendengar dari para tetangga jika suaminya sering terlihat pulang bersama teman wanita setiap kali Nabila menginap di rumah sang ibu. Awalnya Nabila tidak percaya sampai suatu hari dia melihat jejak sapuan lipstik di krah baju suaminya yang hendak dia masukkan ke dalam mesin cuci. Sejak saat itu pikiran Nabil jadi tidak karuan dan hari ini dia nekat untuk membuktikannya sendiri.

Sebenarnya Nabila takut untuk berbohong, Nabila juga takut jika ternyata suaminya benar-benar berselingkuh. Tapi Nabila tidak bisa pura-pura diam saja ketika para tetangga terus bergosip. Hari sudah sore ketika Nabila kembali ke rumahnya, kira-kira di jam pulang kantor. Nabila melihat mobil suaminya sudah ada di garasi yang rolling door nya belum kembali ditutup, artinya Riko sudah pulang dan masih ingin keluar lagi. Pintu depan tidak dikunci hanya ditutup seperti biasanya. Nabila masuk pelan-pelan tanpa mengucapkan salam. Ketika baru masuk, rumahnya terlihat lengang karena tidak ada putranya yang biasa ribut berlarian jika ada yang datang.

Nabila langsung naik ke lantai dua untuk mencari Riko di kamar mereka, tapi tidak ada. Kamar mereka kosong padahal biasanya Riko akan langsung mandi sepulang dari kantor. Nabila ingat untuk mencarinya di kamar tamu yang letaknya bersebelahan dengan balkon belakang. Nabila melihat pintu kamar tamu yang masih sedikit terbuka dan langsung mengintip ke dalam.

Dalam mimpinya yang terburuk sekalipun Nabila tidak pernah membayangkan bakal melakukan hal seperti ini. Nabila dan Riko menikah karena saling jatuh cinta dan mereka saling percaya satu sama lain. Ikatan yang Nabila pikir sangat kuat itu tiba-tiba mulai berceceran sama seperti celana dan kemeja suaminya yang juga terlihat berceceran di lantai bersama dengan pakaian dalam wanita.

"Aduh Mas jangan keras-keras," terdengar suara rintihan dan desahan seorang pria serta wanita dari dalam bilik kamar mandi yang airnya juga sedang mengalir deras.

Dada Nabila langsung berdenyut hebat, isi kepalanya padam, dan semua yang dia pikirkan selama ini tiba-tiba lenyap, dunianya hilang dalam sekejap. Kebaikan, cinta, dan perhatian suaminya seperti tidak ada yang nyata. Bahkan ketika Nabila melangkah ke dalam kamar itu pun rasanya masih seperti tidak nyata.

Nabila tetap melangkah masuk ke dalam kamar dengan menguatkan tekatnya  setebal baja. Nabila tidak boleh menangis ketika terus mendengar suara rintihan nikmat dari seorang perempuan yang sedang disetubuhi oleh suaminya di bilik kamar mandi. Berbagai desahan dari pasangan yang saling menyatukan hasrat itu juga sedang ikut Nabila simak dengan daun telinganya yang menjalar panas dan dadanya yang berdenyut sakit luar biasa.

Nabila mendengar suara suaminya beberapa kali mengeram keenakan memuji kenikmatan yang sedang membungkus kejantanannya. Tadinya Nabila pikir Riko hanya membutuhkan semua itu bersamanya. Ternyata selama ini hanya Nabila sendiri yang berpikir demikian. Tiba-tiba Nabila merasa sudah hidup bersama pria yang tidak dia kenal perangainya ketika telah terkubur oleh nafsu di dalam tubuh wanita.

*****

Setelah selesai menyalurkan hasratnya kepada Novie, Riko segera kembali menguyur tubuhnya di bawah shower yang dari tadi dibiarkan mengalir.

"Apa Mas Riko tidak takut ketahuan istri jika sering-sering mengajakku pulang seperti ini?"

"Istriku akan berada di rumah ibunya selama satu minggu, kau bisa menginap dan besok pagi kita berangkat ke kantor bersama." Riko mencium Novie yang baru memberinya kepuasan dan sedikit meremas kembali gumpalan lembut di dada Novie yang kenyal.

"Aduh jangan kencang-kencang Mas." Novie yang lumayan binal tersenyum centil sambil menggosok bagian tubuhnya yang masih lembab dan licin dengan sabun.

Novie adalah asisten baru Riko di kantor, masih sangat muda dan memang lumayan cantik dan centil. Sudah sejak tiga bulan ini mereka berkerja dalam satu ruangan hingga menumbuhkan benih-benih perhatian yang akhirnya berujung dengan eksekusi di atas ranjang. Mereka pertama kali melakukan hubungan badan ketika Riko mengajak Novie meeting ke Bandung dua bulan yang lalu. Riko menyewa satu kamar untuk mereka berdua. Novie memang sudah bukan perawan jadi dia tidak keberatan sama sekali diajak menginap dan ditiduri oleh laki-laki yang dia tahu juga sudah beristri.

"Istriku sedang sibuk mengurusi ibunya dan jarang ada di rumah akhir-akhir ini, kau tidak perlu khawatir untuk sering-sering menginap."

Riko mendekat untuk mengecup bibir Novie yang basah hingga menimbulkan suara berdecak. Novie segera mengaitkan lengan ke leher Riko agar pria itu menariknya lebih erat untuk digumuli lagi. Dada dan perut mereka kembali saling menempel, berpelukan dan berciuman sambil berdiri di bilik shower.

"Apa kau lapar?"

"Iya Mas, aku ingin makan di restoran yang kemarin malam, menunya enak di sana?" Novie pilih restoran mahal yang sekali makan saja bisa cukup untuk kebutuhan belanja Nabila selama satu minggu.

"Hemmm." Riko mencubit puncak keras wanita muda itu sampai merintih.

"Oh, Mas .... " Novie menggeliat manja merapatkan tubuhnya.

Kadang laki-laki baik pun juga bisa ikut berubah jadi binal jika bersama perempuan penggoda. Sebenarnya Nabila tidak kalah cantik dari Novie tapi sebuah perselingkuhan ternyata memberi sensasi tersendiri dan Riko semakin ketagihan.

"Kau harus cepat berpakaian jika tidak mau kita mulai lagi." Riko sengaja memukul bokong Novie sebelum dia keluar lebih dulu untuk mengambil handuk. Tadi mereka terburu-buru melucuti pakaian dan tidak sempat berpikir jika tidak ada handuk di kamar tamu.

"Tunggu sebentar biar kuambilkan handuk untukmu."

Bukannya menunggu, Novie malah ikut berjalan bugil mengikuti Riko. Novie memang sangat percaya diri karena merasa masih sangat muda dan dimanja. Perempuan itu bergelayut manja di lengan Riko saat mereka berdua keluar dari bilik kamar mandi.

Riko terkejut luar biasa ketika melihat Nabila sedang duduk di ujung ranjang menatap mereka berdua yang masih sama-sama belum berpakaian.

"Nabila ...!" gugup Riko. "Sejak kapan kau pulang?" Mata Riko membelalak syok seperti bola bekel yang mau lepas.

"Sudah dari tadi Mas, apa kalian sudah selesai?" tanya Nabila seolah tanpa getaran emosi ketika menatap suaminya dan wanita muda yang pasti juga sedang malu luar biasa ketika ditatap oleh Nabila dalam kondisi telanjang bulat bersama suaminya.

Tatapan Riko jadi nyalang karena malu dan panik. "Di mana pakaianku?" Riko sudah tidak melihat pakaiannya yang tadi berceceran di lantai.

"Sudah aku buang ke luar jendela," jawab Nabila dengan begitu santai seolah hatinya tidak sedang sakit sama sekali.

Riko juga segera berpaling ke arah pintu, sudah tertutup rapat dan kuncinya tidak ada.

"Di mana kunci pintunya?" Riko kembali menoleh pada Nabila yang tetap duduk tenang di ujung ranjang.

"Juga sudah kubuang ke luar jendela."

Nabila sama sekali tidak terlihat murka atau menangis histeris layaknya wanita yang menangkap basah perselingkuhan suaminya. Nabila justru ikut mengunci dirinya bertiga di dalam kamar bersama wanita selingkuhan suaminya yang masih telanjang dan tidak memiliki pakaian lagi untuk membungkus tubuhnya. Nabila cuma memperhatikan mereka berdua dengan jijik.

"Aku tidak sedang bercanda, Nabila, " Riko coba memohon karena tidak tahan dipandang jijik seperti itu oleh Nabila.

"Aku juga tidak!" tegas Nabila sambil menatap remeh pada wanita yang bersembunyi malu di belakang sisi tubuh suaminya.

Riko juga sedang tidak bisa menutupi aibnya degan apapun. Tapi Nabila tetap tidak perduli, dia hanya menyaksikan cara wanita itu mendekap buah dada dan kemaluannya sediri dengan telapak tangan.

"Apa kau masih memiliki rasa malu setelah merentangkan kaki untuk suamiku dan bersenang-senang di rumah kami?"

Novie tidak sanggup bicara kecuali hanya tertunduk dalam-dalam dan Riko juga sedang tidak bisa membelanya.

"Lanjutkan lagi saja Mas, aku juga ingin lihat kuat berapa lama saat Mas Riko main dengan perempuan lain." Nabila memang terdengar gila tapi dia serius dengan ucapannya.

Nabila dan Riko sudah tiga tahun menikah, Nabila tahu betul selama apa suaminya kuat menyetubuhinya. Sebenarnya Riko memiliki durasi tidak terlalu panjang ketika berhubungan sex, karena itu Nabila benar-benar jadi ingin melihat apa kepuasannya sebanding dengan kehinaan yang mereka dapatkan.

"Aku benar-benar ingin melihat kuat berapa lama Mas. Riko menyetubuhinya." Nabila sengaja menatap wanita muda di samping suaminya dengan senyum menyepelekan.

"Ayo lakukan lagi! rentangkan kakimu untuk suamiku lebar-lebar biar aku langsung melihat perbuatan kalian!" tantang Nabila. "Jangan sampai aku cuma melihat tontonan membosankan dengan rintihan jelekmu yang kau buat-buat."

"Jangan main-main, Nabila!" tegas Riko yang terus merasa diejek oleh ketenangan istrinya.

"Mas Riko yang sedang mempermainkan pernikahan kita!" Nabila makin mengangkat dagunya. "Mempermainkan keluargaku, orang tua kita dan masa depan putra kita hanya demi kesenangan sesaat ketika Mas sedang terkubur ke dalam tubuhnya!" Nabila menunjuk Novie yang masih tidak berani bersuara karena rasa malu tak terukur.

"Berikan kunci pintunya padaku, kita harus keluar!" Riko benar-bear tidak sanggup menghadapi Nabila yang tidak murka tapi justru menyerangnya dengan cara sangat tidak terduga seperti ini.

"Mas bisa berteriak memanggil tetangga untuk mengambil tangga dan mengeluarkan kita lewat jendela."

Nabila memang sudah membuang kuncinya utuk menantang keberanian Riko yang sedang telanjang untuk benar-benar berteriak minta tolong pada tetangga mereka. Jika ada yang menemukan mereka bertiga dalam kondisi seperti ini pasti juga akan segera heboh tapi Nabila sedang tidak perduli, sama seperti Riko yang tidak perduli dengan perasaanya ketika mulai berselingkuh dengan perempuan lain.

"Aku serius Nabila, berikan kuncinya padaku!"

"Aku juga serius Mas, karena setelah ini kita akan bercerai!"

Tidak ada wanita manapun yang mengharapkan jadi janda ketika dinikahi oleh seorang pria. Tapi kadang kondisi menjadikan mereka tidak memiliki pilihan.

Bab 2

"Jadi kau memergoki suamimu sedang menbawa wanita lain ke rumah kalian?"

Kedua sahabat Nabila, Moy dan Elice terkejut mendengar cerita Nabila yang luar biasa tidak masuk akal.

"Kenapa kau tidak menjambak rambutnya dan mencakar wajah wanita murahan itu!" gemas Moy mendengar cerita tenang Nabila ketika membahas penyebab dirinya menjadi janda.

"Aku pilih berpisah dari Mas Riko agar bisa hidup lebih tenang untuk membesarkan anakku."

Dari sejak mereka bertiga masih di bangku SMU memang Nabila yang paling slow meghadapi masalah.

"Dasar laki-laki sama saja!" Moy tetap tidak terima.

Moy juga bercerai dari suaminya karena suaminya berselingkuh. Moy memiliki bisnis kecantikan yang lumayan suksek dia mandiri secara finansial tapi malah diselingkuhi suaminya yang malas bekerja dan cuma bergantung hidup padanya. Parahnya suami Moy berselingkuh dengan sahabat Moy sendiri yang sudah Moy anggap seperti saudara perempuan.

Kisah perceraian Moy dan suaminya sudah tidak perlu diceritakan lagi karena pemberitaannya sempat viral di semua media. Moy yang sedang murka dengan wanita tidak tahu diri itu menghambur-hambutkan uang ratusan juta ke depan mukanya agar dipungut jika dia butuh makan dengan mengoda suami orang.

Setelah video tersebut viral, akun media sosial milik Moy dibanjiri pengikut dan dampaknya bisnis kecantikanya maju pesat. Sekarang Moy sangat sukses dan masa bodoh dengan mantan suaminya yang jadi gelandangan. Lagi pula Moy masih muda, belum punya anak dan bisa dibilang lima kali lipat lebih cantik dari wanita selingkuhan suaminya. Kulitnya glowing dan bodinya sintal. Kehidupan Moy lebih melenggang bahagia setelah berstatus janda dan jadi wanita bebas. Moy adalah contoh janda yang dikecewakan laki-laki kemudian pilih balas dendam dengan cenderung merusak image dirinya sendiri karena tidak mau dinilai kalah saing dan lemah sebagai wanita.

"Jadi sekarang suamimu menikahi peremuan itu?" tanya Moy pada Nabila yang baru melepas botol susu dari gengaman putranya yang tertidur.

"Ya, sekarang wanita itu juga sedang hamil."

"Lalu bagaimana dengan anak kalian apa dia masih bertanggung jawab?" kali ini Elice yang bertanya.

"Cuma ala kadarnya, apa lagi sejak istrinya hamil dan mereka akan memiliki anak mereka sendiri."

Setiap kali wanita yang harus menanggung anak setelah perceraian. Padahal anak seharusnya tetap menjadi tangung jawab laki-laki sepenuhnya.

"Apa kau bekerja, Nabila?" Moy bertanya dengan lemas ketika melihat kondisi Nabila dan menatap putranya yang sedang tidur di stroler.

"Aku berhenti bekerja sejak menikah dan hamil, sekarang aku masih tinggal bersama orang tuaku karena rumah juga ditempati mas Riko bersama istri barunya."

"Kenapa kau mau saja mengalah seperti itu? Jadi keenakan itu perempuan! " Moy semakin gemas.

"Aku hanya ingin hidup damai bersama putraku."

"Bagaimana menurutmu?" tanya Moy pada Elice yang dari tadi juga ikut menyimak cerita Nabila.

"Entahlah,"  jawab Elice cuma mengedikkan bahu karena jadi tidak tahu harus bicara apa.

Elice  adalah janda yang memutuskan berpisah dari suaminya hanya karena alasan tidak ada kecocokan. Elice wanita karir yang sibuk demikian pulan dengan suaminya, mereka sering cekcok dan tidak ada yang mau mengalah. Ibarat dua alpha yang harus tinggal dalam satu kandang, akan sulit untuk disatukan karena semuanya ingin sama-sama jadi dominan. Elice dan suaminya sudah menikah selama tiga tahun tapi juga belum dikaruniai momongan mungkin itu juga salah satu pemicu perceraian mereka. Elice yang perfeksionis jadi sensitif jika membahas perkara anak-anak, dia sering merasa seperti dianggap cacat karena belum bisa memberi keturunan.

"Apa memang sudah nasip kita jadi janda seperti ini?" gerutu Moy dengan nada semakin lemas.

 Mereka bertiga sudah bersahabat sejak di bangku SMU dan sekarang mereka kembali dipertemukan lagi ketika sama-sama jadi janda. Moy yang centil dan periang, Nabila yang pendiam dan selalu baik hati, Elice yang cerdas dan paling bijak. Ternyata mereka bertiga sama-sama tidak mampu mempertahankan pernikahan. Atau mungkin mereka hanya belum beruntung untuk bertemu dengan laki-laki yang tepat.

"Tapi mungkin kalian bisa ikut bergabung ke grup!" tiba-tiba Moy kembali bersemangat begitu ingat grup yang dia buat.

"Grup apaan?"Nabila yang lebih dulu merespon.

"Grup Janda dan Duda Bersatu!"

"Tungu-tungu, grup apa tadi namanya?" Elice pura-pura bertanya sambil memiringkan telinga untuk lebih sigap.

"GRUP JANDA DAN DUDA BERSATU!" ulang Moy dengan tegas.

 "Apa tidak ada lagi nama yang lebih norak dari itu?" heran Elice sampai pupil matanya hampir terbalik karena pening oleh tingkah Moy yang dari dulu tidak pernah berubah.

Bab 3

Nabila lebih banyak bengong selama Moy terus menjelaskan mengenai 'Grup Kumpulan Janda dan Duda' yang dia buat. Rasanya imajinasi Nabila belum sampai seekstrim itu untuk sampai ikut bergabung ke dalam grup begituan.

"Tidak apa-apa kalian bisa pakai akun samaran jika malu atau takut ketahuan identitas asli kalian. Ada banyak anggota yang benar-benar bisa bertemu jodoh di grup yang sudah kukelola satu tahun ini." Moy terus membujuk kedua sahabatnya untuk mau ikut bergabung.

"Tidak aku tidak mau!" Elice tetap tegas menggeleng.

"Kau, Nabila?" Moy menunjuk sahabatnya yang lebih datar.

Nabila juga menggeleng.

"Emang kau tidak mau anakmu punya bapak lagi yang bertanggung jawab?"

"Dari mana kau tahu mereka malah bukan penjahat kelamin!" tegas Elice hampir jijik.

"Berkenalan lewat media sosial juga bukan melulu penjahat kelamin, sekarang semua orang mengunakan media sosial karena lebih mudah dan bisa langsung to the point tanpa basa-basi canggung."

Moy menggeser tempat duduknya agar lebih dekat, supaya pembicaraan mereka tidak ikut didengar oleh pengunjung kafe lain.

"Sini kuberitahu tipsnya!" Moy benar-benar mulai menjelaskan seperti agen asuransi yang sedang mencari nasabah.

"Perhatikan tiga tipe janda dan duda mayoritas berikut!"

"Ada tiga tipe janda mayoritas, dan jangan sampai kalian jadi seperti itu!" Moy melanjutkan.

"Pertama!" Moy menjentikkan Jari telunjuknya yang bercat kuku merah muda cantik untuk mulai menghitung. "Janda Kaku!" ____ "Biasanya mereka adalah wanita karir yang terlalu sibuk bekerja dan cenderung menyepelekan pasangan karena terlalu mandiri dan kaku untuk dinasehati."

Elice langsung mengerutkan alis karena mersa tersindir.

"Kedua!" ____ "Janda Bodoh!"____ "Mereka terlahir dari pengkhianatan suami, kemudian merasa hidupnya paling menderita sampai akhirnya bertekad untuk hidup sendiri seumur hidupnya atau berharap tiba-tiba datang pria sempurna tanpa dia mau bergerak!"

Elice gantian menatap Nabila, cuma ingin melihat reaksinya tersinggung atau tidak dengan ocehan Moy.

"Tipe ketiga!" ___"Janda Bolong!" ___"Ini tipe wanita yang jadi makin kecentilan begitu menjadi janda, banyak dandan, banyak bersolek, demi bisa menjerat berbagai jenis lelaki ke dalam lobangnya."

Saat Moy bercerita tipe yang ke tiga Elice serta Nabila kompak melihat ke arah Moy.

"Kenapa kalian melihatku!"

Elice dan Nabila langsung pura-pura berdehem.

"Lanjutkan!" dukung Elice yang merasa bakat Moy mulai menarik untuk disimak.

"Perhatikan tiga macam-macam duda berikut ini yang harus kalian hindari!"

Moy kembali menjelaskan satu-persatu.

"Pertam, 'Duda Mesum!' ini jenis paling susah diobati, contohnya mantan suamiku yang sekarang jadi kere!"

Nabila langsung mengerjap mendengar Moy menyebut suaminya sendiri sebagai contoh dan Elice jadi cuma meraba tengkuk belakangnya yang tiba-tiba merinding.

"Kedua! 'Duda Mumpung!' biasanya mereka berawal dari suami baik-baik, setia gak neko-neko, tapi sakit hati karena ditinggal pergi istri sama laki-laki lain. Jadi mumpung sedang jadi duda dia manfaatkan kesempatan kebebasannya untuk banyak icip-icip janda dan perawan tetagga."

Nabila langsung merinding menggosok punggung lengan sambil terus menyimak keahlian Moy yang luar biasa briliant.

"Ketiga, 'Duda Pengangguran!' pria tidak produktif tapi bermimpi untuk hidup mudah dan dimanja wanita, makanya dia tetap akan ditinggalkan perempuan, karena biasanya cuma manis di depan tapi gombal semua isinya!"

Moy kembali melanjutkan dengan penuh semangat. "Intinya kita semua orang-orang yang pernah gagal, jadi harus lebih selektif dan hati-hati, karena sekali gagal manusia akan memiliki 60% kecenderungan untuk tidak takut gagal lagi dan 40% kecenderungan untuk takut mengulang kesalahan yang sama."

Setelah menjelaskan panjang lebar kali ini Moy menatap kedua sahabatnya.

"Tidak, aku tidak mau gabung!" keras Elice saat Moy mengedikkan dagu padanya.

"Baiklah aku tidak akan bertanya ke Nabila karena aku sudah tahu pasti apa jawabannya." Moy mencondongkan tubuhnya pada Elice. "Sekarang aku tanya padamu, bagaimana kau mengatasinya?"

"Apa maksudmu?" Elice pura-pura tidak paham dan segera menegakkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Ah, ayo lah kita sudah sama-sama dewasa dan aku tahu kita sama-sama pelaku sex aktif!" Moy masih menunggu reaksi Elice. "Apa yang kau lakukan ketika tidak ada suami lagi? apa kau akan membeli brondong dengan jumlah uangmu yang banyak itu?" kekeh Moy dan Nabila melotot membekap mulutnya karena baru paham dengan pembicaraan mereka berdua.

"Jangan gila!" tolak Elice masih keras kepala dengan sikap kakunya.

"Lalu apa?" Moy memang kadang agak sinting. "Apa kau membeli alat bantu refleksi yang bisa bergetar dan berdenyut panas dingin di online shop?"

Moy kembali terkekeh lagi. "Sungguh kau bisa benar-benar jadi janda kering!" mulut Moy memang tidak pernah punya filter.

Sementara Nabila hanya terus menelan gelak serat di tenggorokannya karena takut untuk ikut tertawa. "Semoga putraku belum paham pembicaraan kalian."

"Hai ..." Moy mencubit pipi putra nabila yang baru kembali terbangun karena mendengar Moy terus tertawa dan ngotot memaksa Elice bergabung ke grup konyolnya.

"Baiklah kita realistis saja." Moy mengajak mereka menghela napas sejenak. "Lihat Nabila! dia sudah punya bocah tampan seperti ini yang bakal setia menemaninya seumur hidup, sedang kita?" Moy mengedikkan bahu pada Elice . "Kita akan semakin tua dan benar-benar kering, wanita tidak akan produktif seumur hidup dan ada masanya tidak diminati lagi oleh laki-laki."

Moy masih menatap Elice. "Aku yakin kau juga tidak akan tergerak untuk menggoda pria lebih dulu, sementara pria yang 'benar' akan takut untuk mendekatimu lebih dulu karena melihat statusmu."

Elice adalah seorang direktur untuk perusahannya sendiri, cantik, kaya raya, dan cerdas. Tipe yang akan membuat pria baik-baik minder untuk mendekatinya. Kecuali pria yang mungkin mengincar hartanya dan cuma mau numpang hidup, karena pria jenis itu biasanya memang tidak tahu malu.

"Menurutku kau lebih baik bertemu orang yang tidak mengenalimu sama sekali, mulailah hubungan yang sehat dan lanjutkan jika kalian cocok."

"Dari mana kau pintar bicara seperti itu?" Elice mulai melunakkan suaranya.

"Sebagai admin grup, aku sudah jadi pakar yang menyelesaikan banyak masalah perkencanan, aku juga profesional!"

"Aku baru tahu ada profesi seperti itu." Elice memutar bola matanya yang sipit hingga terlihat lucu untuk ukuran orang secerdas dia.

Moy sebenarnya juga cerdas bisa mengelola grup aneh macam itu, Nabila paling heran dengan kecekatannya, dan buktinya Moy bisa sukses seperti sekarang meskipun dia tidak pernah menyelesaiakan kuiahnya. Bakat tiap orang memang berbeda-benda meski tidak ada yang mengharapkan bakat jadi mak comblang janda dan duda, tapi itu juga keren.

"Baiklah aku mau!" Akhirnya Nabila mau bergabung meski masih agak takut dan malu jika sampai ketahuan keluarganya ikut bergabung di grup perjodohan online.

"Oke, kukirim undangannya kau tinggal konfirmasi!"

"Bagaimana denganmu?" Moy mengedikkan dagunya sekali lagi ke pada Elice.

"Baiklah aku ikut." Akhirnya Elice ikut mengalah pasrah.

"Aku akan segera carikan duda potensial untuk kalian berdua!"

Walaupun tidak benar-benar mengharap segera dapat jodoh, tapi pertemuan Nabila dengan kedua sahabatnya kali ini ternyata juga mempu kembali menghidupkan semangatnya. Minimal dia tahu jika bukan cuma dirinya yang harus berstatus sebagai janda muda.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED