Bab 2

Kepanikan menyergap ke dalam diri Deshara, dia berusaha untuk menjernihkan pikirannya dan tidak memperlihatkan apa yang dia rasakan di depan pria itu. Dia tidak ingin terlihat terganggu atau lemah. Karena bila sedikit saja dia memperlihatkannya, Josep akan menjadikan itu sebagai sebuah kesempatan untuk menghancurkannya. “Berapa yang kau minta?” kata terakhir itu dia paksa keluar dari bibirnya yang kaku.

Josep tersenyum seram. “Oh, akhirnya kau bisa berpikir logis. Bagus sekali. Aku tahu kau akan cukup bijaksana dengan memilih opsi terbaik. Tenang saja selama hutangku kau bayar, Aletha tidak akan tahu yang sebenarnya.”

“Kirim jumlah yang kau minta. Akan kupenuhi segera.” Deshara berkata tegas meski dia sungguh jijik. Kebencian makin tak tertahankan kepada paman dari mendiang suaminya itu.

Bibir tebal Josep langsung membentuk sebuah senyuman licik. “Semakin lama kau memberiku uang maka jumlahnya akan semakin banyak. Kau tahu kalau hutang akan selalu berbunga jika dibiarkan begitu saja. Aku juga butuh uang untuk kebutuhan pribadiku, karena membayar hutang saja tidak cukup untuk bertahan hidup apalagi di masa masa seperti ini. Sebelum Bastien menjadi menantuku, aku tidak akan bisa tidur dengan tenang. Nah sayangku, mari kita lanjutkan petualangan kita yang tertunda,” katanya lagi sambil bercumbu dengan perempuan beliannya.

Deshara keluar dari kamar hotel tersebut, putus asa dan sangat emosional. Dia tidak memperhatikan langkahnya dan mencoba untuk menerobos begitu saja. Tapi begitu hendak keluar dari lift, soerang pemuda tiba-tiba muncul dan menyabotase jalannya. Deshara menatapnya curiga. Dia yakin belum pernah melihat pemuda itu, tapi namanya hotel tentu saja selalu di penuhi oleh orang asing dan selalu ramai. Tapi yang mencolok adalah warna kulitnya yang terlalu coklat, pakaiannya juga terlihat biasa saja dan sepertinya bukan salah satu dari orang kaya. Mungkin pekerja hotel?

“Permisi kau menghalangi jalanku. Aku akan keluar di lantai dasar,” ungkap Deshara sebal, dia baru saja mendapati hal menyebalkan jadi dia tidak ingin terlibat dengan pemuda dungu yang nyaris menghilangkan kesabarannya.

Mendengar suara Deshara pemuda itu menoleh. Dia tersipu, masih menatap Deshara. Mulutnya tidak menganga tapi nyaris begitu. Deshara menebak usianya kurang dari dua puluh tahun. Saat itulah dia men-capnya sebagai si pemuda dungu.

“Maafkan aku, aku tidak melihatmu,” ujarnya bersuara tergagap dan seolah memberi hormat. “Aku tidak menyadari kehadiranmu.”

“Tapi sekarang sudah sadar ‘kan?” tanya Deshara masam.

“Iya,” jawabnya malu-malu sekaligus antusias. Sikap seperti ini membuat Deshara mengernyitkan dahi. Dia bisa membayangkan kalau pemuda itu belum pernah tidur dengan seorang wanita. Bahkan bisa jadi dia memang tidak pernah melihat wanita. “Anu, aku tersesat dan ingin makan malam. Dimana ruang makannya ya?”

Deshara memilih abai, dia tidak punya urusan dan sedang tidak ingin beramah tamah. Untungnya pintu lift terbuka dan dia berhasil keluar dari sana dan lolos dari pemuda itu. Dia melihat seorang bellboy tergsa mendekati si pemuda yang mencoba memanggil Deshara. “Sir Bastien, seharusnya Anda ada di ruang makan. Mari saya antarkan,” kata orang itu kepada si pemuda.

Saat itulah Deshara menaikan alis sambil menggumam untuk dirinya sendiri. “Bastien kah? Rasanya aku tidak asing dengan nama itu.”

***

“Maaf, tapi keberadaanmu sangat mengganggu permainanku,” keluh Dena terang-terangan dan hal itu cukup menarik perhatian Bastien. Sebenarnya dia lebih sebal dan kesal karena Deshara memanggilnya secara impulsif. Pesan yang bernada penting, membuat pria itu langsung berangkat tanpa mempedulikan teriakan istrinya. Sialnya, si adik perempuan malah tidak ada ditempat. Entah kemana dia pergi. Dan sekarang kebetulan sekali ada seorang pemuda lugu yang datang entah darimana, sehingga Dena melimpahkan kekesalan yang dia miliki kepada pria yang tidak berdosa tersebut.

“Ah, maafkan saya,” sahut Bastien agak tergagap, dan terhenti di depan pintu.

“Siapa pun yang ingin kau temui, mereka sudah aku usir,” jelas Dena dengan nada yang tajam, “Aku tidak butuh penonton saat aku sedang bermain,” sambungnya lagi. Entah mengapa Bastien merasakan perasaan yang familiar. Mengingatkan dia pada sosok wanita yang dia temui di lift belum lama ini. Nuansa diantara dia dan wanita itu benar-benar nyaris mirip.

“Anda pasti pimpinan hotel ini,” kata Bastien sambil menyodorkan tangan. “Saya Bastien, Bastian Austell. Hotel ini sangat menakjubkan dan luar biasa. Terima kasih sudah memberikan kami tempat untuk tinggal sampai tahun baru.”

Dena hanya melirik pada tangan yang terulur kepadanya. “Aku bukan pimpinan hotel ini,” katanya dingin. “Usia pimpinan hotel ini baru sebelas tahun, ini bukan hotelku, jadi sudah jelas bila aku tidak mengundangmu kemari.”

Dena langsung menarik tangannya. “Maafkan saya.”

“Seperti kataku tadi, aku tidak butuh penonton.”

“Baiklah.”

Bastien yang memang pada dasarnya masih lugu dalam lingkup dunia bisnis kelas atas tidak terlalu memikirkannya, hasilnya dia malah terus mengajak bicara pada Dena. “Saya pernah pergi ke Markas Besar Angkatan Laut, sekali seumur hidup ketika saya ikut ujian untuk menjadi tentara. Tapi dibandingkan hotel ini, tempat itu rasanya bukan apa-apa. Saya sungguh terkesan dengan seberapa bagusnya presdir hotel ini mengatur segalanya. Saya berani bertaruh, tempat ini bisa dimasuk oleh kapal perang lewat pintu depan.”

“Ya, ya, ya. Tapi memang buat apa?” kata Dena datar, kini matanya justru lebih tertarik untuk mengamati pakaian yang dikenakan oleh Bastien. “Itu sepertinya bukan pakaian khusus yang dijahit oleh designer ternama,” komentarnya.

“Ya memang bukan, saya lebih suka memakai pakaian yang sederhana. Paman saya yang biasanya menyiapkan pakaian untuk saya gunakan disaat saya menghadiri acara formal dan bisnis.”

“Aku mengerti,” sahut Dena lagi dia kehilangan selera untuk menyindir pria itu karena baginya tidaklah berguna lantaran dia terlalu lugu. "Kau bukan gigolo adikku kan?”

“Maaf? Bukan. Saya tidak tahu siapa adik Anda.”

Dena menaikan sebelah alisnya, jika bukan lalu siapa dia? Pria itu kemudian menatap lekat-lekat si pemuda. “Kalau begitu, kau bilang pamanmu biasanya menyiapkan pakaian untuk kau kenakan. Lalu siapa nama pamanmu?”

“Sir Josep. Apa Anda mengenal dia?”

Dena tersenyum licik. “Oh, ya? Siapa namamu tadi?”

“Bastien. Bastien Austell.”

Dena kini menatapnya dengan serius. “Aku membaca berita tentangmu, seorang presdir yang telah lama dicari-cari,” katanya lagi dengan suara yang tampak tidak terlalu antusias.

“Benarkah?”

“Ya, kau benar-benar orang yang sangat beruntung.”

“Beruntung?” tanya Bastien bingung.

“Mewarisi seluruh kekayaan, tanpa perlu berusaha dari nol. Tentu saja,” jawab Dena sabar.

“Sebenarnya awalnya saya juga tidak percaya. Saya hanya mendapatkan surat dari seorang pengacara, yang saya pikir adalah sebuah lelucon. Tapi Kapten-ku bilang kalau itu adalah surat resmi. Ketika kami memasok barang di dermaga, saat itulah Paman Josep dan Bibi Anne sudah menantiku.”

“Oh ya tentu saja,” gumam Dena. Separuh perhatiannya kini sudah teralihkan kembali kepada meja biliar, dia sigap mengatur satu persatu bola-bola biliar tersebut. “Semua orang pasti menyayangi keponakannya yang kaya raya. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa kau tinggal di hotel alih-alih tinggal di kediamanmu sendiri?” kata Dena sambil melapisi bagian stik bliar agar sodokannya tidak meleset.

“Paman Josep bilang lebih baik bila—”

“Menunggu hingga awal tahun,” sambung Dena sambil tersenyum.

“Benar,” kata Bastien. “Jadi dia merekomendasikan untuk tingga hotel untuk sementara waktu. Bukankah dia sangat baik, mengingat kami baru bertemu sekali tapi dia mau merepotkan diri membereskan banyak hal yang tidak aku mengerti?”

Dena merasa kini cara bicara bocah itu menjadi sedikit lebih santai, ditandai dengan diubahnya kata ‘saya’ menjadi ‘aku’ apakah sedikit keramahan membuatnya langsung menurunkan kewaspadaan? Dena rasa celah ini bisa dia manfaatkan, mengingat adiknya sempat bertanya pada dia dan mengajaknya bertemu malam-malam begini di hotelnya.

“Ya, Sir Josep memang sangat baik hati,” sahut Dena dengan nada yang agak mencemooh tapi sepertinya itu tidak cukup disadari oleh Bastien.

“Hidupku jauh lebih sederhana saat aku berada diatas kapal laut, hanya perlu memenuhi tanggung jawab saja sesuai dengan yang diperintahkan. Sedangkan disini aku tidak tahu apa tugasku, dan kapan saatnya aku mulai bekerja. Tapi Paman bilang aku perlu menghadiri konferensi pers dan mengikuti beberapa rapat perusahaan.”

Dena menunduk untuk memprediksi sodokannya di posisi yang setara dengan mata. “Cukup bayangkan orang-orang itu tidak berpakaian. Kau akan baik-baik saja.”

“Jangan goda aku, sebenarnya tempat ini sangat baru dan aku cukup kesulitan menghadapinya.”

“Oh ya? Kalau begitu kau akan menjadi pemuda yang paling kesepian. Kau pasti sudah bertemu banyak gadis yang cantik selama disini. Itu cukup untuk menggoyahkan imanmu kan? di laut kau tidak akan bisa menemukan perempuan segar seperti di darat.”

Bastien tersipu. “Pamanku memperingati agar aku tidak boleh mudah tergoda dengan para wanita,” katanya, “tapi sampai sekarang, aku baru bertemu dua sepupuku dan seorang wanita yang menawan.”

“Aku paham,” kata Dena yang sebenarnya tidak begitu peduli pada kalimat akhir yang diucapkan pemuda itu. “Mungkin ini agak penting penting bagimu, tapi aku dengar rumor bahwa sepupumu sudah bertunangan. Kalau pun benar berarti pilihanmu akan jatuh pada si bungsu. Gadis itu cukup menarik perhatian meskipun memang masih terlalu muda untuk menikah. Bagaimana menurut pendapat pribadimu?”

Bastien memandangnya dengan ekspresi bingung. “Maksudnya apa?”

Bab 3

Dena agak kaget. “Kau tidak tahu? Kau itu sedang diatur untuk menikahi salah satu sepupumu. Itu sudah lazim terjadi di dunia bisnis. Kau tidak tahu soal itu?”

Bastien tertawa. “Menikahi sepupuku? Jangan bercanda seperti itu!”

“Aku tidak pernah bercanda soal kehidupan para konglomerat. Sebagai seorang presdir, tugas pertamamu adalah menikah dan memiliki seorang pewaris,” sahut Dena.

“Itu tidak mungkin! Usiaku baru dua puluh tahun!” tambahnya cepat. “Waktuku masih panjang.”

“Usia muda tidak berarti kau terhindar dari malaikat maut,” kata Dena blak-blakan. “Kecelakan bisa terjadi kapan saja, dan nyawamu juga bisa dicabut kapan saja. Itu berlaku untuk kita semua sebagai manusia. Kalau ajalmu tiba sebelum kau memiliki penerus maka perusahaan tentu akan jatuh kepada keluarga dari pihak ayahmu begitu saja.”

“Aku tidak pernah terpikir untuk menikah muda,” jawab Bastien cepat. “Sebagai seorang pelaut miskin, aku tidak pernah mengira akan punya kesempatan untuk menikah. Meskipun aku juga tidak menentang ide untuk menikah. Hanya saja bagaimana kau menikah tanpa cinta? Apalagi menikahi sepupu sendiri, bukankah itu aneh? Maksudku ada banyak perempuan diluar sana yang tidak berhubungan keluarga denganku, mengapa aku harus memilih menikahi sepupu sendiri?”

“Kau sangat polos, tapi asal kau tahu bahwa kau sebenarnya sudah dijebak sejak awal, beruntung kau menyadarinya lebih cepat berkatku,” kata Dena seraya menundukan kembali tubuhnya di meja. Bersamaan dengan moment ketika dia menyodok bola biliar, sekali lagi pintu terbuka dan hal itu membuat sodokannya meleset lagi.

“Sial!” gerutunya, ketika menyadari yang masuk ke dalam ruangan tersebut adalah adik perempuannya yang langsung merangkul tanpa membiarkan Dena mengatakan apa-apa.

“Dena! Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku sudah banyak melakukan hal bodoh sejak dia datang. Dia bahkan mengancamku dan tahu tentang Aletha!” ujarnya berbisik sambil memeluk Dena. Wanita itu tidak memperhatikan yang lain. Dena berusaha menghentikan serbuan kata sekaligus pelukan dari adiknya, tapi ketika nama Aletha disebutkan dia langsung mengernyit.

“Apa?” katanya tajam.

“Dia tahu rahasiaku, dia meminta uang penebusan. Selain itu aku juga sudah melakukan tindakan bodoh!” Dia terus berkeluh kesah tanpa peduli keberadaannya sekarang.

“Deshara!” sergahnya sambil menggeleng tegas.

Deshara mengerjap. “Apa?”

“Kita tidak hanya berdua disini.” Dena memberitahu Deshara.

Wanita itu menoleh dan terbelalak mendapati Bestian ada diruangan itu. Pemuda itu berdiri di ujung meja biliar. Tertunduk dengan tangan terlipat rapi dipunggung. Perlahan dia mengangkat wajah untuk memandang Deshara.

Masih begitu banyak emosi yang tersimpan di dalam benak wanita itu, tapi tampaknya bukan saat yang tepat untuk mengangkatnya ke permukaan. Secara perlahan, Deshara memberikan sebuah salam kepadanya, memberikan penghormatan pada pria yang tidak asing di matanya itu. “Maafkan aku, aku tidak melihat ada kau ada disini.”

“Sekarang kau bisa melihatku?” tanya Bastien dengan senyum tipis.

Deshara menahan napas, pria yang dia temui belum lama ini. “Oh, pantas saja aku tidak asing. Kau pemuda yang bernama Bastien itu ‘kan?”

“Ya, betul.”

Mereka berdua bertatapan agak lama. Hanya dari sekali lihat jelas sekali bahwa pemuda itu menaruh ketertarikan pada Deshara. Serangan ide muncul secara refleks di kepala setelah dia menerima sedikit informasi kecil dari staff hotel sebelum menjangkau Dena. Bestian adalah tamu yang dibawa oleh Josep, tentu saja hubungan itu bisa jadi sebuah hal yang bagus dan menguntungkan untuk Deshara.

Bastien memecah keheningan, dia bicara dengan terbata-bata ada semburat merah di wajahnya dan pemuda itu berusaha untuk menyembunyikannya. “Maafkan aku, kau pasti bingung karena aku ada disini. Kurasa aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara. Aku permisi sekarang, sepertinya kau punya urusan yang perlu ditindak lanjuti.”

Deshara mengulas senyum tipis, mengenyahkan terlebih dahulu rasa sebal kepada pria tua bangka yang menyembunyiakn putranya. “Bagaimana bisa kau mengira seperti itu? justru sebenarnya aku sedang mencarimu,” katanya riang.

“Mencariku?”

“Ya! Kukira kau sudah tidak ada disini. Tapi apa kau tersasar lagi?”

“Tidak,” ungkapnya ragu-ragu tapi setelahnya dia menghela napas, “Baiklah, kalau harus jujur aku memang tersasar. Tapi tidak seburuk itu.”

“Aku tidak tahu bahwa seorang pelaut bisa buta arah seperti itu,” kata Deshara menanggapi.

Bastien tersipu, “Navigator kami yang bertanggung jawab untuk urusan direksi di lautan.”

“Kapan-kapan kau harus menceritakan soal itu kepadaku.”

Sementara Dena yang ada diantara mereka hanya bisa menaikan sebelah alisnya. Merasa aneh lantaran baru kemarin adiknya meminta Dena mencari tahu soal Bastien, tapi pagi ini adiknya sudah bisa bicara dan terlihat akrab. Sepertinya telah terjadi sesuatu diantara mereka semalam.

“Deshara,” sela Dena kemudian, meraih lengan adiknya sedikit posesif. “Kau sedang apa, sih?” Dena berbisik ke telinga adiknya.

Deshara hanya tersenyum lebar pada Bastien, “Dena, kau kasar sekali berbisik di telingaku saat kita berada didepan Bestian,” katanya. “Emm … kau tidak mengambil hati perbuatannya kan?”

“Tidak, tapi kalau kau memang ingin berduaan saja dengan pria itu. Dengan senang hati aku akan meninggalkan kalian berdua,” sahut Bestian dan Deshara dapat langsung menangkap ada nada kesal dan kekecewaan disana.

Deshara tertawa menanggapinya. “Oh, kau pasti salah sangka. Orang ini adalah kakak tertuaku,” kata Deshara sambil menyentak lengan Dena dari tangannya sedikit kasar sehingga kini mereka berdua agak berjarak. “Kurasa dia sangat merindukanku sampai kemari di pagi-pagi. Nah Dena, ini keponakannya Josep,” tambah Deshara lagi.

“Aku tahu,” timpal kakak sulungnya itu dengan nada suara yang datar. “Kami sudah mengobrol banyak tadi.”

“Oh, jadi kau tidak keberatan mengenalkan dia padaku, kan?”

“Maaf?” kata Dena dengan nada jengkel. “Kukira kau sudah lebih dulu mengenal dia.” Kedua alis pria itu menukik, Deshara menanggapi perkataan kakaknya dengan sebuah senyuman santai.

“Kami sempat bertemu tapi tidak sempat mengobrol banyak,” jelas Deshara yang nada bicaranya agak aneh apalagi Bestian langsung menundukan kepala. “Perlu kau ketahui pula bahwa kami belum sempat berkenalan. Kau bisa memperkenalkan kami sekarang, big brother.”

“Oh begitukah? Dengan senang hati my little sister,” kata Dena sebal dengan tingkah laku adiknya. Dia tahu betul bahwa sekarang kini dia sedang dipaksa mengikuti sandiwara bodohnya lagi. “Bastien ini adikku, Deshara, dia pemilik hotel ini.”

“Bukan.” Deshara meralat segera. “Itu bukan cara memperkenalkan.”

“Tapi pemilik hotel itu sudah melekat padamu karena pernikahanmu,” Dena mendebatnya, sesaat Deshara melirik dan mendapati ekspresi wajah Bestian berubah. “Oh dear! Coba lihat bertapa prihatinnya Bastien kepada pernikahanmu, Deshara! Dan kau tidak perlu berpura-pura terkejut dan tidak tahu begitu. Kau pasti tahu kalau adikku ini seorang janda,” sambung Dena.

Seperti saudara yang kompak secara batin, Deshara mengapresiasi besar ungkapan sang kakak yang membantunya. Dan kini sekali lagi Bestian tidak mampu menyembunyikan perubahan ekspresi wajahnya.

“Oh, baiklah sepertinya itu membuatmu terlihat lebih baik,” kata Dena menyelidik. “Dan tambahan informasi untukmu, masa lajangnya sudah hampir berakhir. Dalam beberapa hari lagi dia akan segera melepaskan status jandanya dan kembali bersinar seperti layaknya kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Seperti yang kau lihat, dia tampak cukup menikmati masa sendirinya dengan baik.”

Saat itu Deshara mengenakan sebuah gaun yang terbuat dari kain muslin berwarna biru tua, dengan potongan terbaru karya butik ternama dari Paris. Dilengkapi dengan kalung bermata safir senada dengan gaunnya tergantung manis dilehernya. Deshara kerap menyentuh batu tersebut, ketika dia merasa gugup.

“Kurasa suamimu adalah pria yang sangat beruntung,” kata Bastien yang kembali buka suara setelah tercengang, dan sumringah hanya dalam hitungan detik.

“Kalimatmu tidak pantas diucapkan pada seorang janda,” tegur Dena. “Seolah kau bermaksud menekankan pada kami bahwa suami adikku tidak pantas bersamanya. Meskipun aku yakin bahwa kau tidak bermaksud begitu.”

Bastien bergidik, dia sama sekali tidak menyangka soal itu. “Maaf, aku tidak bermaksud begitu.”

“Kau tidak perlu menghiraukan kakakku, dia memang selalu seperti itu sejak aku masih kecil,” kata Deshara mencoba membuat Bastien sedikit nyaman dengan situasi. “Kakakku sepertinya sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Karena itulah ungkapan kata-katanya sedikit tajam. Kurasa kau pasti lebih suka menjauh darinya. Aku akan mengantarkanmu berkeliling hotel ini. Kita bisa menghilang bersama-sama, kalau kau mau? Bukankah sepertinya kau juga punya urusan yang kau ingin selesaikan denganku?” tambah Deshara ketika dia melihat gelagat Bastien yang sedikit ragu.

“Jika kau tidak keberatan.” Dia mengatakan hal itu seolah sedang menyakinkan Deshara dan juga dirinya sendiri. “Aku senang bila kita bisa berkeliling. Tapi bukankah kakakmu juga ingin bicara denganmu makanya dia ada disini?”

Deshara memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku punya waktu untuk bicara dengannya kapan pun, tidak sepertimu. Jadi bagaimana?”

Dena mendengus dari balik badan Deshara. Wanita itu melirik dan menatap kakaknya sebentar. Sebelum akhirnya Bestian mengulurkan tangannya untuk wanita itu sambut. Dia tersenyum penuh kemenangan. Ini dia, para pria memang selalu lemah dengan hanya sedikit keramahan dan senyumannya.

Ya, mari mulai dengan cara ini. Deshara akan mencari tahu sambil lalu, memanfaatkan pemuda naif nan ingusan ini untuk menyelesaikan urusannya menghadapi Josep si tua bangka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED