BRAK!
Suara benturan keras mengiringi terbukanya pintu kamar mandi.
“ADUH!” seru seorang remaja pria terperanjat dan panik. Tubuh telanjangnya tak mampu bergerak, hanya bisa menatap pintu.
“Eh, maaf! dikira nggak ada orang,” sergah seorang wanita berpakian serba tertutup yang tampak juga terkejut. Meski suaranya terdengar terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang tak sengaja masuk ke kamar mandi saat ada orang lain.
Wanita itu berdiri mematung di ambang pintu, wajahnya tegang, mata terbelalak dan mulut sedikit terbuka. Tapi sejurus kemudian, ekspresinya berubah kendur dan tenang, bahkan seulas senyum tersungging samar. Wanita itu sangat tahu apa yang sedang dilakukan anak tirinya.
“Astagfitullah!” Remaja pria itu kembali berseru tersadar dari terkejutnya.
Tangannya refleks meraih handuk yang tergantung di kapstok, lalu melilitkannya di pinggang, menutupi bagian tubuh yang seharusnya tak boleh terlihat oleh siapa pun, apalagi ibu tirinya. Dia tak peduli dengan tangan dan batang senjatanya yang penuh dengan busa sabun.
“Maaf, Hafiz!” Wanita yang oleh kebanyakan warga kampung dijuluki ‘Ustazah Susan’ itu kembali berucap dengan nada lebih lembut.
“Bu, mau ngapain?” tanya Hafiz, mencoba tenang, meski kesal. Jantungnya masih berdebar, malu dan canggung menjadi badai kecil yang berkecamuk dalam dadanya.
Susan tidak langsung menjawab. Matanya tetap memandangi selangkangan anak tirinya yang tampak menyembul di balik handuknya. Lalu ia menoleh ke belakang memastikan tak ada siapa-siapa di luar sana. Kemudian kembali menatap Hafiz dengan sorot mata yang sulit diartikan. Bersalah, kagum, atau malah berhasrat?
“A-anu..., ibu mau ambil sabun cuci,” katanya pelan, tersenyum manis dengan mata tetap tidak beralih dari handuk yang melilit pinggang Hafiz.
“Ambilah, lalu segera keluar, Bu!” kata Hafiz, berusaha tetap sopan meski suara meninggi.
Susan mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangganya mengambil sabun cuci. Namun tidak langsung keluar, malah bersandar pada kusen pintu kamar mandi yang sempit.
“Hafiz...” panggilnya lirih.
Hafiz mengerutkan dahi dan menatapnya. “Ya?” jawabnya singkat.
“Ternyata kamu sudah dewasa dan makin gagah...” ucap Susan lirih dan manja.
Deg!
Jantung Hafiz makin berdegup tak karuan.
Sebelum ia sempat bicara lebih jauh, Susan sudah membalikkan badan dan menutup pintu perlahan, menyisakan udara yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Hafiz berdiri kaku, tak bersuara. Kedua tangannya erat menggenggam handuk di pinggangnya seolah takut direbut atau terlepas.
Tak lama kemudian dia mulai menggayung air dan membasahi sekujur tubuhnya. Namun meski semuanya telah basah dan penuh busa sabun. Sebagian tubuhnya masih gemetar karena sangat kaget. Pikirannya terombang-ambing, mencari penjelasan rasional.
‘Kenapa dia masuk tanpa ketuk pintu dulu? Jangan-jangan memang sengaja?’ pikir Hafiz cemas. Ia bahkan menduga kalau ibu tirinya, mengintip dulu sebelum masuk. “Dan bodohnya kenapa aku juga lupa mengunci pintu.”
Setelah mandi Hafiz keluar dengan tubuh berbalut handuk di pinggangnya. Saat masuk rumah, ia sedikit tertegun karena mendapati ibu tirinya sedang duduk di kursi tamu, sibuk dengan ponselnya, dalam pakaian yang tak biasa. Daster mini sangat kontras dengan pakaian syar’i yang biasa dikenakannya. Padahal tadi saat masuk kamar mandi, masih mengenakan gamis dan jilbab.
Hafiz memalingkan muka dan mempercepat langkahnya menuju kamar. Begitu sampai di dalam, ia menghela napas lega, merasa sedikit aman. Tetapi, belum sempat mengambil pakaian untuk dipakainya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Hafiz lagi-lagi lupa mengunci pintu kamar itu.
Hafiz sedikit melonjak, darahnya serasa berhenti mengalir saat melihat ibu tirinya berdiri di ambang pintu menatapnya nanar sulit dijelaskan.
“Boleh ibu masuk sebentar?” tanya Susan lembut, terkesan ganit.
Hafiz terdiam, detak jantungnya kembali tak beraturan. Ia mencoba untuk tetap tenang, meski rasa cemas dan bingung terus menghantui.
“Mau apa, Bu?” tanya Hafiz dengan suara pelan, mencoba terdengar biasa.
Susan menatapnya, lalu maju selangkah, sementara Hafiz refleks mundur beberapa langkah dengan sorot mata curiga yang semakin dalam. Ia berusaha menahan diri untuk tidak berteriak atau melawan, tetapi perasaan risih semakin membuncah.
“Jangan takut, Fiz.” Suara Susan terdengar lebih pelan, hampir seperti berbisik. Namun, kata-kata itu justru semakin membuat jantung Hafiz berdegup lebih kencang.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan diri, merasa terjebak dalam situasi yang tidak bisa dikendalikan.
“Kamu nggak suka ibu masuk kamar ini?” tanya Susan.
“Tapi aku belum pakai baju, Bu!” Hafiz berusaha menetralisir keadaan. “Memangnya mau apa sih?” Nadanya mulai terdengar lebih tegas.
Susan mendekat lagi, tangannya terulur ke arah Hafiz, seakan ingin menyentuhnya. Refleks, Hafiz meloncat ke atas ranjang, berdiri dengan kedua lututnya di atas kasur. Tubuhnya gemetar, dan rasa takut mulai menguasai dirinya.
“Kamu sudah gila ya, Bu?” bentak Hafiz hampir berteriak, kesal dan tidak tahu harus bicara apa lagi.
“Jangan berteriak begitu, Hafiz, aku ini ibumu!” bentak Susan dengan nada yang penuh tekanan dan wajah mendongak.
“Ibu hanya mau bilang, ayahmu sudah loyo, sudah lama nggak bisa memberi nafkah batin pada istrinya. Sedangkan aku sebagai istrinya masih membutuhkan itu!” Suara Susan bergetar, seperti hendak menangis.
Namun Hafiz tak merasakan empati, semua yang dikatakannya terdengar janggal dan mengada-ada. Hafiz merasa cukup banyak mengenal ayahnya. Bahkan seminggu yang lalu, tak sengaja dia masih sempat mendengar ayah dan ibu tirinya sedang melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri dengan sangat bergairah.
“Bu, aku memang anak tirimu!” ujar Hafiz, dengan suara yang lebih tegas namun agak bergetar. “Tapi maaf, bukan berarti harus menuruti semua keinginanmu yang aneh itu. Apapun adanya ayahku, beliau tetaplah suamimu!”
Susan sedikit mencibir, “Daripada kamu ngocok sendiri di kamar mandi, bukankah berbagi itu lebih baik? Kita bisa sama-sama puas dan jaga rahasia, Hafiz!”
Hafiz mendengus kesal, malu dan risih. Suasana seketika menjadi tegang, dingin dan membeku. Tatapan Susan berubah sangat mengerikan, laksana pemburu yang mengunci mangsanya.
“Hafiz, kamu mau bantu ibu, kan?” pinta Susan lembut.
“TIDAK!” bentak Hafiz spontan penuh amarah.
“Kalau begitu, lebih baik kamu pergi dari rumah ini!” balas Susan tiba-tiba dengan suara yang mulai meninggi.
“Ya, aku akan segera pergi. Tadi mampir ke sini hanya sekedar numpang mandi, tidak lebih!” jawab Hafiz makin tegas.
“Cepetan keluar! Kalau kamu tidak mau membantu ibumu, jangan pernah datang lagi ke sini!” bentak Susan sambil cepat-cepat keluar dari kamar.
Ia baru tersadar, andai Hafiz menyerang secara fisik, tentu dirinya akan celaka. Selain fisiknya lebih tinggi, besar dan kuat, Hafiz juga menguasai ilmu bela diri yang diajarkan ayah dan kakeknya sejak masih kecil.
Hafiz tak buang waktu. Usai berpakaian, ia langsung pergi dengan motor matiknya ke rumah neneknya, tempat yang selalu terasa aman dan menenangkan.
Di saung kecil di tengah sawah, Hafiz duduk memeluk lutut, menatap padi yang mulai menguning. Siang tampak cerah, tapi hatinya gelap. Perasaannya campur aduk: malu, marah, jijik dan kecewa.
“Ustazah Susan…” gumamnya pelan, “Julukan dan penampilanmu nggak sesuai sama kelakuanmu, Bu,” gumamnya lirih.
Hafiz bukan anak polos. Sejak SMP, ia sudah kenal sisi gelap dunia dewasa walau hanya melalui internet. Tapi sejauh apapun dia melenceng, masih punya batasan. Susan tetaplah istri ayahnya, ibu tirinya - yang sangat tabu untuk disentuh secara seksual, apapun alasannya.
Hafiz mengusap wajah dengan sebelah tangannya. Sorot mata dan bisikan menggoda dari ibu tirinya masih terbayang jelas. Ia menunduk lesu, tubuh bongsornya terasa kecil di tengah sawah luas.
Ia sadar, kini rumah ayahnya tak lagi terasa surga, tapi sudah menjadi neraka. Namun andai pun ia mau bicara terbuka, siapa yang akan percaya? Ayahnya pun pasti tidak akan percaya.
“Kalau sama anak tiri saja berani begitu, bagaimana dengan lelaki lain?” bisiknya. “Ayahku sudah loyo? Omong kosong!” lanjutnya geram.
Angin berhembus, menerbangkan daun-daun kering. Hafiz tahu, ini belum akhir. Tapi untuk sekarang, ia memilih menjauh dan memang sebenarnya sudah sejak lama menjauh. Tadi Hafiz datang ke rumah ayahnya benar-benar hanya buat numpang mandi, setelah main bola dengan teman-temannya. Dan saat dia datang rumah memang dalam keadaan sepi.
Sementara itu di rumahnya, Susan duduk termangu di kamarnya, merenungi apa yang baru saja terjadi.
Di satu sisi dia sangat bersyukur Hafiz tidak berontak dan menyerang dirinya, namun di sini lain dia juga merasa marah karena telah ditolak dan dilecehkan oleh bocah yang sejak enam tahun terakhir menjadi anak tirinya.
Walau Hafiz tinggal dengan nenek dari almarhum ibunya, namun sedikit banyak Susan merasa sudah ikut merawat dan membesarkannya.
Sebenarnya, sebelum nekat menerobos masuk kamar mandi, Susan sudah lama mengintip Hafiz dari luar. Ia tahu semua apa yang dilakukan anak tirinya di kamar mandi saat itu. Dan karena itulah ia sangat berhasrat, lalu masuk ke kamar mandi tanpa permisi, dengan harapan Hafiz bisa melayani atau melampiaskan hasratnya, daripada onani. Namun ternyata berakhir mengecewakan.
“Tunggu saja pembalasanku, Hafiz. Kamu pasti akan menyesal telah merendahkan ibu tirimu. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya!” geramnya.
Setelah cukup lama merenung, Susan kembali lagi pada kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Ia baru selesai mencuci piring di dapurnya.
Dengan tubuh hanya berkemben handuk hijau, ia bersiap masuk kamar mandi untuk mandi. Namun ia teringat, kain panjang yang biasa ia kenakan setelah mandi masih tergantung di jemuran belakang rumah.
Dengan langkah cepat dan hati-hati, ia berjalan keluar dapur, menyusuri jalur sempit menuju jemuran. Matahari sore masih menggantung rendah, menyorotkan cahaya hangat di sela-sela dedaunan pisang dan pagar bambu.
Saat ia menjulurkan tangan hendak meraih kain panjang itu, pandangannya tanpa sengaja tertumbuk pada sosok Rizal—lelaki muda anak tetangganya dan berteman dekat sejak masih kecil dengan Hafiz.
Rizal berdiri membelakanginya, memandangi hamparan sawah milik Pak RW yang terbentang luas di depannya. Sehabis shalat dia memang sering nongkrong di sana, sendirian kadang juga bersama beberapa temannya.
Susan langsung panik. Ia reflek membalikkan badan hendak kembali masuk ke dapur. Namun langkahnya justru tergelincir. Entah karena batu licin atau tanah basah, hingga tubuhnya terhempas ke tanah.
“Aduuuuh!” serunya spontan, tangan kanan buru-buru menahan dada, memegangi handuk yang nyaris melorot dari tubuhnya. Rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu.
Rizal sontak menoleh, matanya melebar melihat Susan tergeletak sambil meringis kesakitan. Beberapa bagian tubuhnya tampak terbuka karena handuknya tersingkap, untung saja tidak sampai terlepas.
“Bu Ustazah!” Rizal yang berkaos dan bersarung, langsung berlari mendekat. “Astagfirullah, jatuh ya, Bu? Sini, saya bantu...”
Susan tidak langsung bangkit. Pergelangan kaki dan lututnya terasa perih. Pahanya juga nyeri karena terbentur batu kecil.
“Aduh... aduh... sakit, Zal,” keluhnya pelan, napasnya tersendat menahan rasa sakit. Ia masih memegangi handuknya erat-erat, tak berani menatap Rizal yang kini bersimpuh di sebelahnya.
Rizal, dengan gugup dan canggung, mengulurkan tangan untuk membantu. Susan pun, dengan ragu dan malu yang memuncak, menerima bantuan itu. Sementara dada dan hatinya terasa sama-sama berdebar tak karuan.
^*^
Dengan hati-hati, Rizal membimbing Susan berdiri. Tangannya menyangga punggung perempuan itu, sementara sebelah tangan Susan bertumpu di lengan kekar Rizal. Dan sebelahnya lagi menahan handuknya agar jangan sampai melorot. Dia sama sekali tidak mengenakan dalaman, karena memang seperti itu jika akan mandi.
Langkah mereka pelan dan pendek-pendek—Susan meringis tiap kali menapakkan kaki kanannya yang terasa ngilu.
“Pelan-pelan aja, Bu, nggak usah dipaksa,” bisik Rizal, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman tertahan.
Susan hanya mengangguk kecil, napasnya sesekali tercekat menahan rasa sakit, juga rasa malu. Handuk yang ia pegang kini makin terasa ringkih, seolah bisa terlepas kapan saja bila lengah. Tapi Rizal tampak menjaga matanya, tak berani menatap lebih dari yang diperlukan.
Begitu sampai di dapur, Rizal membantu Susan duduk di bangku kayu panjang dekat dinding. Ia lalu jongkok di depannya, memastikan kaki Susan dalam posisi nyaman.
“Sini saya lihat, Bu... bagian mana yang sakit?”
“Enggak usah, Zal... nanti juga sembuh sendiri...” Susan menggeleng pelan, pipinya memerah, matanya menunduk.
Namun Rizal tetap diam di situ, sejenak tertegun. Matanya menatap tangan Susan yang erat memegangi handuk, wajahnya yang berkeringat, dan helaian anak rambut yang menempel di pelipisnya. Seketika suasana terasa sunyi, hanya suara angin sore yang menyusup lewat celah dinding dapur yang menemani.
“Maaf ya, Bu… saya nggak sengaja,” ucap Rizal lirih.
Susan mengangguk lagi, pelan. Tapi entah kenapa, hatinya justru terasa hangat, walau nyeri masih terasa di kakinya. Di balik ketidaknyamanan siang itu, ada sesuatu yang lembut dan asing menyelinap. Entah perhatian, atau mungkin... hasrat birahi yang sejak tadi belum terlampiaskan.
“Pak Ustaz belum pulang, Bu?” tanya Rizal hati-hati
“Belum, mungkin sebentar lagi. Anak-anak juga lagi main di rumah Ustazah Aida.”
“Beneran ibu gak sakit?” Rizal kembali memastikan.
“Sakiit banget, Zal,” jawab Susan sambil meringis.
Mata Rizal kembali menatap ke bawah, ia mendapati sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rambut lebat terselip begitu indah. Berulang kali, remaja berusia setahun lebih tua dari Hafiz itu menelan ludah dan menahan gejolak birahi di dada dan di balik kain sarung yang dikenakannya.
“Biar saya bantu. Ibu istriahat di kamar aja, ya,” ujar Rizal.
Susan mengangguk dan Randan kembali membantu Susan berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya Susan merasa sangat risih, namun bagaimana lagi, karena dia merasakan kaki kanannya sangat sakit. Kebetulan tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong.
Setibanya di kamar Susan duduk di pinggir ranjang dengan masih berkemben handuknya.
“Sepertinya kaki ibu keseleo, biar saya periksa dulu,” ucap Rizal datar sambil berusaha mati-matian menahan gejolak dalam dirinya.
“Aduh!” ringis Susan, ketika Rizal menyentuh pergelangan kakinya. “Pelan-pelan Dan!” pinta Susan sembari terus meringis menahan sakit di kakinya.
Tangan Randan mulai mengusap-usap kaki kanan Susan beberapa lama sampai Susan merasa sedikit lebih baik. Lantas Rizal menarik sedikit kaki Susan, memperbaiki posisi uratnya dengan gerakan yang agak cepat dan menyakitkan.
“Auuww… Sakiiiit, Zal!” jerit Susan.
Telapak tangan Rizal naik ke atas, ke bagian belakang lutut Susan. Rasa geli yang dirasakan Susan sedikit mengurangi rasa sakitnya. Dan perasaan geli itu perlahan mulai menimbulkan gairah dalam dirinya, apa lagi ketika telapak tangan Rizal naik menuju pahanya dan sekilas dia melihat gunudkan besar di balik kain sarung Rizal. Susan bahkan menduga jika Rizal tidak memakai celana dalam.
Rizal memijit kaki Susan dengan pelan, menyentuh bagian-bagian sensitif seorang wanita yang ia dapatkan dari teman lamanya. Dan cara itu memang sangat berhasil membangkitkan birahi Susan yang memang selalu menggebu-gebu.
“Kalau pake minyak gimana, Bu,” usal Rizal.
“Pake handbody aja, Zal.”
Rizal membalikan wajahnya lalu mengambil botol handbody yang berada tepat di belakangnya, di meja rias. Lalu kembali menghadap Saanti dan matanya nanar menatap sepasang payudara Susan di balik handuk yang naik turun mengikuti irama nafasnya. Rizal berhayal bisa meremas dan menghisap putingnya.
Menyadari tatapan Rizal tak biasa, Susan jadi salah tingkah. Putingnya terasa makin keras dan area kewanitaannya pun mulai berdenyut-denyut.
Rizal menaburkan lotion pada kedua telapak tangannya.
“Maaf ya, Bu,” ucapnya sopan, sebelum tangannya masuk lebih dalam. Ia menyentuh bagian bawah pergelangan dan betis Susan dengan sedikit mengangkat kaki itu.
“Ough,” desah lembut Susan tak terelakan lagi.
Rizal tersenyum tipis, ia tahu kalau ibu tiri temannya ini tengah dilanda sesuatu yang membuatnya gelisah.
“Sakit ya, Bu?” tanya Rizal, sambil terus memijit lembut paha belakang Susan.
“Eng-eng-enggak terlalu,” jawab Susan terbata, wajahnya mulai bersemu merah karena menahan malu juga birahi.
Rizal kembali melanjutkan pijatannya di kedua kaki Susan. Ia memijatnya secara bergantian kiri dan kanan. Selama itu juga Susan sangat tersiksa karena gairahnya kian menggebu-gebu menuntut penuntasannya.
“Masih mau dilanjut pijatnya, Bu?” tanya Rizal memastikan lagi.
Karena sudah kepalang tanggung, Susan mengangguk memberi izin. Masih ada sedikit rasa nyeri di kakinya membuat Susan memejamkan matanya. Rizal yang melihat hal tersebut sedikit merasa kasihan, namun juga ngos-ngosan karena jembut di selangkangan Susan makin terlihat jelas.
“Tahan ya, Bu. Ini hanya sebentar,” bisik Rizal.
Setelah merasa cukup memijat di bagian belakang lutut, jemari Rizal naik sedikit ke atas menyingkap ujung handuk yang dikenakan Susan.
“Tahan sedikit ya, Bu!” Rizal kembali berucap.
Susan menganggukan kepalanya. Ia mengepal kedua tangannya hendak menahan rasa sakit. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ketika Rizal memijit bagian belakang pahanya, Rasa nikmat dan geli semakin menjadi-jadi membuat birahinya nendang hingga ke ubun-ubun.
Bayangan Hafiz yang sedang ngocok di kamar mandi, kembali memenuhi isi kepalanya. Tubuh Rizal memang lebih kecil, tapi bisa saja senjata andalannya sama besarnya, pikir dia.
Napas Susan mulai tersengal, pikirannya makin berkecamuk tidak fokus. Telapak tangan Rizal makin naik ke atas, memijit bagian belakang pahanya.
“Aduh, aah…” Susan kembali mendesah tanpa sadar.
“Sakit ya, Bu?” tanya Rizal, pura-pura khawatir.
Susan mengangguk lemah. Ia merasa sangat malu kalau sampai Rizal tahu dirinya sedang diamuk gelombang birahi. Sentuhan Rizal semakin naik ke atas, menyingkap lebih banyak handuk yang ia kenakan hingga sebatas pahanya. Susan berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia.
Hatinya mulai merasa bimbang. Sentuhan Rizal terasa sangat nikmat, bahkan bisa membuatnya terbuai. Tetapi masih tersisa rasa malu jika harus memulai.
Sebagai seorang santri dan juga teman dekat Hafiz, selama ini Rizal senantiasa bersikap hormat pada Susan juga Ustaz Ustaz Hasbi. Dia tidak pernah berani kurang ajar kepada siapapun, atau bahkan hanya dengan tatapan nakal. Susan sangat berpengalaman dalam membedakan tatapan lelaki yang ikhlas atau penuh nafsu.
“Maaf Bu, uratnya gak dapet! Boleh saya urut lebih ke atas.” Rizal meminta izin, dan Susan menganguk tak mampu menolaknya. Geli dan nikmat itu terlalu sayang untuk dilewatkan.
Tak dapat si Hafiz, Rizal pun jadi, begitu pikirnya.
Tangan Rizal menyibak handuk yang dikenakan Susan hingga berada di atas paha. Sementara tangannya berada di balik handuk. Jemari kasar Rizal memijit dan membelai paha bagian dalamnya, hingga tubuh Susan mulia sedikit gemetar.
Dengan satu dorongan, tangan Rizal mulai masuk lebih dalam mendekati selangkangan Susan, hingga handuk yang dikenakannya tertarik makin ke atas bahkan mulai dengan bebas memperlihatkan belahan kemaluan yang dihiasi bulu-bulu indah. Perlahan-lahan Susan membuka pahanya seolah memberi jalan pada tangan Rizal untuk lebih dekat lagi.
“Sakit gak, Bu?” tanya Rizal sok polos.
Susan mengangguk seraya menahan gejolaknya.
Susan mengangkat wajahnya menatap Rizal yang sedang menatapnya nanar penuh gairah. Zakunnya begerak-gerak menelan air liurnya. Dengan sedikit kesadaran Susan berpura-pura menarik ke bawah ujung handuknya, tapi tidak menyingkirkan tangan Rizal yang nakal bermain di balik handuk itu.
‘Ternyata nakal juga kamu, Rizal,’ gumam Susan dalam hati.
Aksi Rizal semakin berani, dua jemarinya bersamaan menyelinap masuk ke celah kewanitaan Susan yang sudah makin basah. Mata Susan membeliak menatap Rizal tak percaya, tapi dengan tenang Rizal malah tersenyum tipis.
Sekuat tenaga Susan menahan gejolak itu, dia masih belum mau mengakui jika dirinya sangat berharap Rizal membuka kain sarungnya dan memperlihatkan apa yang ada di selangkangannya.
Namun tiba-tiba Rizal menarik tangannya.
“Sudah selesai ya, Bu Ustazah!” ujarnya tenang.
“Iya, terima kasih, Dan.” Jawab Susan lirih.
“Sama-sama. Saya permisi dulu, Bu. Sebentar lagi saya juga mau berangkat lagi ke pesantren, lagian takut Pak Ustaz nanti jadi fitnah.” Rizal berpamitan.
Susan hanya mengangguk lemah, sedikit kecewa karena Rizal berpamitan. Padahal sedikit lagi dia akan mencampai orgasmenya…. Kini hanya menggantung.
Hasrat Susan untuk menikmati daun muda pun harus tertunda kembali.
“Sialan!” makinya dalam hati.
Siapa sebenarnya Ustazah Susan?
Susan Nuraeni, 31 tahun, kini dikenal sebagai ‘Ustazah Susan’ di lingkungannya. Sebutan yang lahir karena status pernikahannya, bukan karena kedalaman ilmu agamanya. Ia bukan lulusan pesantren, tak hafal banyak ayat atau hadits. Hanya memang pakaiannya selalu tertutup rapi. Terlebih lagi setelah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Ustaz Hasbi. Seorang guru agama dan penceramah yang sederhana.
Sejak dulu Susan belajar cepat, bukan dari kitab, tapi dari pergaulan dan kebiasaan di lingkarannya. Kapan harus menundukkan pandangan, menyelipkan “Masya Allah”, atau diam untuk terlihat shalihah. Peran itu ia lakoni laksana panggung sandiwara yang menutupi siapa dirinya yang sejati. Dalam beberapa tahun ini Susan sukses bertranformasi.
Susan tak jahat, hanya belum kuat. Ilmu agamanya masih dangkal, keteguhan imannya masih setipis ari dan hatinya masih mudah tergoda oleh bayang-bayang masa lalunya yang terasa kelam. Tapi status barunya sebagai istri Ustaz, memaksanya tetap berdiri sebagai wanita shalihah, seolah benar-benar telah hijrah. Bersama Ustaz Hasbi dia telah dikaruniai seorang anak berusia 6 tahun.
Namun, di balik pakaian syar’I, sikap lemah lembut dan ucapan ramah nan santun pada semua tetangganya, ada sisi lain yang tak diduga oleh semua orang yang dengan mudahnya memanggilnya ‘Ibu Ustazah’ hanya karena pakaian dan menyandang status sebagai istri seorang guru agama alias Ustaz.
Pada awalnya Susan merasa risih dengan julukan tersebut namun entah mengapa, lama-lama dia justru merasa senang. Merasa lebih seksi dan bisa berkamuplase dengan sempurna, setidaknya dia bisa mengubur dalam-dalam sisi liar dalam dirinya.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, sisi gelap itu muncul kembali seperti jamur di musim hujan. Sebenarnya Susan senantiasa menekan gairah liar itu, agar tidak sampai khilaf apalagi ketahuan suami dan keluarganya. Namun Hafiz, anak tirinya yang gagah dan tampan terlalu sukar untuk diabaikan.
Siapa sebenarnya Susan sebelum menjadi istri Ustad Hasbi?
Ternyata panjang sekali lika-liku perjalanan hidup Susan yang sangat seru, tersembunyi dan mencengangkan. Kita pun mungkin tidak akan menduga bisa segila itu.
^*^
Mohon bijak, banyak adegan dewasa yang ekspilist tanpa sensor. Jika tidak kuat segera tinggalkan novel itu, jangan memaksakan diri untuk membacanya.
Terima kasih.
^*^
Kita akan memulai kisah Ustazah Susan, dari beberapa tahun sebelum menikah dengan Ustad Hasbi.
Nama lengkapnya Susana Wulandari, biasa disapa Susan. Kala itu berusia 21 tahun. Langkah hidupnya sudah cukup panjang untuk merasakan suka dan duka kehidupan. Satu tahun yang lalu, ia resmi menikah dengan Aldi Wibowo, lelaki berusia 23 tahun yang merupakan tetangga sekampungnya sejak kecil. Mereka berasal dari keluarga sederhana; tak ada kemewahan, tapi juga tak kekurangan cinta.
Aldi berpenampilan manis dan tampan walau postur tubuhnya cenderung kurus. Ia bekerja di Jakarta di salah satu kantor ternama sebagai Office Boy. Gaji yang ia terima tak seberapa, cukup untuk makan sehari-hari dan menyisakan sedikit untuk dikirim ke Susan setiap bulannya.
Karena alasan penghasilan itulah Aldi belum bisa membawa istrinya tinggal di Ibukota. Biaya hidup yang mahal menjadi pertimbangannya. Mereka sepakat Susan tinggal di kampung mengisi rumah sederhana peninggalan almarhum neneknya.
Walaupun di kampung, namun faslitas mudah terjangkau, jarak ke kota kecamatan dan kabupaten tidak terlalu jauh. Namun yang pasti hidup di sana lebih tenang, dan tidak terlalu jauh dari rumah orang tua Aldi. Sehingga jika ada keperluan mendesak, Susan tidak benar-benar sendiri.
Ibunya Susan sudah lama meninggal dunia. Ia hanya memiliki keluarga dari pihak ayah yang sekarang tinggal di Sumatera, namun hubungannya dengan mereka tak begitu dekat. Karena itulah, lingkungan keluarga besar Aldi dan almarhum ibunys di kampung menjadi satu-satunya dunia kecil tempat ia menambatkan hati.
Susan dikenal ramah, sopan, dan ringan tangan. Ia cepat akrab dengan semua orang. Mereka menyukainya, terutama karena senyum hangat dan tutur katanya yang lembut. Susan dan Aldi satu almamater dari SMP sampai SMA, walau berbeda angkatan.
Masa remaja dan pacaran mereka lalui dengan sangat normal. Susan mampu mempersembahkan kesucian dirinya pada Aldi di malam pertamanya, walau sejak lama cukup banyak godaan lelaki pada Susan. Termasuk beberapa guru di SMP dan SMA. Maklum Susan termasuk primadona di lingkungannya,
Meski hidupnya jauh dari kemewahan, Susan tak pernah mengeluh. Namun, sebagai istri, ia juga ingin turut meringankan beban suaminya. Beberapa kali ia mengusulkan untuk mencari kerja di kota. Pekerjaan ringan apa saja yang bisa dilakoni tanpa harus meninggalkan rumah terlalu lama. Tapi Aldi selalu menolak dengan lembut.
“Aku gak mau kamu kecapekan, Sayang,” begitu katanya, “Tugasmu cukup jaga diri dan rumah. Aku yang cari uang.”
Susan paham, Aldi bukan melarang karena otoriter, tapi karena sayang. Namun hari-hari terasa panjang saat kesunyian datang menghampiri. Tak jarang ia termenung menatap jendela rumah sederhananya, bertanya dalam hati, apakah ini cukup? Apakah begini saja? Ia tak meminta banyak. Ia hanya ingin merasa berguna.
Dan seperti itulah keseharian Susan berjalan. Tenang, sederhana, tapi dengan banyak ruang kosong di hatinya yang diam-diam tumbuh besar. Ruang itu perlahan mendorongnya untuk mencari harapan baru, meskipun langkah pertama sering kali diiringi keraguan dan gemetar.
Dan karena Itu pula Susan mulai rajin membuka media sosial. Selain untuk sedikit bersosialisasi, dia juga ingin mencari harapan—lowongan kerja yang bisa menopang hidup keluarganya sebagai seorang istri demi mengurangi beban suaminya. Juga demi memanfaatkan ijazahnya
Pada suatu hari, Susan menemukan sebuah iklan di facebook. Iklan itu adalah lowongan pekerjaan. Di sana tertulis:
"Dibutuhkan 10 tenaga terapis wanita. Usia 20–35 tahun, berpenampilan menarik, bersedia kerja shift pukul 09.00–15.00 WIB."
Susan membaca iklan itu berulang kali. Tak ada yang mencurigakan, bahkan terdengar cukup menjanjikan. Para pelamar diminta datang langsung dengan membawa lamaran dan siap untuk wawancara di tempat. Hatinya pun tergoda untuk mencoba.
Bekerja hingga jam tiga sore bukan hal yang berat baginya. Soal penampilan, ia tak pernah merasa khawatir. Hampir setiap orang yang bertemu dengannya selalu memberi pujian—kadang terang-terangan, kadang sembunyi di balik senyum atau lirikan mata. Kulitnya putih bersih, tubuhnya proporsional, dan wajahnya, menurut banyak orang, tak membosankan untuk dipandang.
Setiap kali Susan belanja ke pasar, selalu saja ada yang menggoda. Pedagang, tukang parkir, bahkan pemuda kampung yang sok sopan tetapi tak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Susan. Tapi ia tak pernah menggubris mereka. Ia bukan tipe perempuan yang mudah diajak main-main. Susan tetap setia degan Aldi yang sudah menyayanginya sepenuh hati.
Pagi pukul sembilan, setelah membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya sendiri, Susan bersiap berangkat menuju alamat Pusat Kebugaran yang tertera di iklan. Ia sudah menghubungi nomor yang tertera sebelumnya, hanya untuk memastikan iklan itu benar adanya. Dan yang pasti dia juga merahasiakan rencananya itu kepada suami, mertua atau saudara lainnya. Dia hanya berpamitan meminta izin main ke rumah saudara jauhnya.
Setelah berganti dari ojeg naik angkot, tanpa kesulitan berarti ia tiba di depan sebuah ruko empat lantai dengan papan nama bertuliskan: “Pusat Kebugaran & Pijat Refleksi Harmonis.”
Hatinya berdebar. Ini adalah kali pertama ia melamar pekerjaan. Ia melangkah masuk, disambut senyum manis dua perempuan sebaya dengannya.
"Mau melamar ya, Mbak?" tanya seorang wanita berkulit hitam manis dengan baju hijau muda. Pertanyaan itu sedikit mengurangi rasa gugup Susan.
"Iya, Mbak," jawabnya dengan jantung yang masih berdegup.
'Kenapa aku malah makin grogi?’ batin Susan. 'Bukankah niatku baik, ingin bekerja?'
"Silakan naik aja langsung ke lantai empat, Mbak. Tangga ada di sebelah sana," ucap wanita berbaju hijau sambil menunjuk ke pojok ruangan.
"Terima kasih, Bu... eh, Mbak," balas Susan sambil tersenyum semanis mungkin.
"Sama-sama," timpal wanita satunya dengan senyum ramah.
"Eh, Mbak!" panggil salah satu dari mereka saat Susan hampir beranjak.
Susan menoleh dengan kaget.
"Pasti Mbak diterima deh," ucap wanita berkaos pink sambil memainkan matanya.
"Loh, kok tahu, Mbak?" Susan terlihat heran.
"Habis Mbak cantik sih," jawab mereka hampir bersamaan.
Pipi Susan terasa hangat, mungkin karena malu atau tersanjung. Ia tersenyum, lalu menaiki tangga menuju lantai empat.
Ia mengetuk sebuah pintu kaca berwarna hitam pekat. Seorang pria berkumis tebal, berbadan tegap, dan mengenakan kemeja safari membukakan pintu tanpa senyum.
"Mau melamar?" tanyanya sambil berjalan ke arah meja.
"Iya," jawab Susan sambil mencoba tersenyum setenang mungkin.
"Surat lamarannya sudah lengkap? Mana?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih tegas.
Susan menyerahkan map berisi surat lamaran dan kelengkapannya. Pria itu membuka mapnya, membolak-balik cepat, lalu menatap Susan.
"Silakan masuk ke ruang aula. Itu pintunya, gabung dengan pelamar lain. Ini nomor urutnya. Tunggu sampai nomor kamu dipanggil untuk wawancara," katanya, menyerahkan kertas kecil bernomor 58.
“Terima kasih, Pak,” ucap Susan, menatap nomor tersebut. Ia terkejut. Ternyata sudah begitu banyak yang melamar.
Ia menuju pintu aula, membuka dan melangkah masuk. Dugaan Susan benar: ruangan itu sudah dipenuhi puluhan wanita. Ada yang duduk, ada yang berdiri sambil mengobrol pelan.
Di tengah kerumunan itu, Susan melihat sebuah kursi kosong. Ia berjalan pelan ke arah sana, menyapa pelamar lain yang dilewatinya.
"Permisi," ucapnya pelan. Tapi tak satu pun membalas senyum atau sapaan itu. Mereka tampak cuek dan dingin. Beruntung tadi dua resepsionis menyambutnya dengan ramah, jika tidak, mungkin Susan sudah putar balik pulang.
Pelamar baru terus berdatangan. Ia melihat ada tiga wanita lain masuk hampir bersamaan dengannya. Di saat bersamaan, pintu kaca di sisi ruangan terbuka—seorang perempuan keluar dari sana. Mungkin itu ruang wawancara, pikirnya.
Susan menarik napas panjang. Ia duduk dengan tenang dan bersiap menunggu namanya dipanggil.
Cukup lama Susan menunggu—lebih dari dua jam—hingga akhirnya nomor miliknya dipanggil oleh seorang pria yang wajahnya mengingatkan pada keturunan Timur Tengah. Jantungnya kembali berdebar saat mendengar nomornya disebut. Dengan langkah pelan, ia mendekati pria itu dan menuju ke sebuah ruangan kaca yang tertutup tirai, tanpa celah untuk melihat ke dalam.
"Silakan masuk," kata pria tersebut sambil melirik dada Susan yang tertutup blazer batik—hadiah ulang tahun dari suaminya beberapa bulan lalu.
"Terima kasih," jawab Susan lirih sambil masuk ke dalam ruangan, matanya menyapu interior sejuk di dalamnya.
Tampak seorang pria lain sedang dipijat di atas kasur kecil oleh seorang pelamar yang sebelumnya telah dipanggil. Pria yang memanggil Susan lalu menunjuk ke sebuah sofa.
"Silakan duduk," katanya.
Susan duduk hampir bersamaan dengannya di sofa tunggal yang tersedia.
"Nama saya Fahmi," ujar pria berusia 40 tahun itu, sambil menyodorkan tangan.
"Susan Wulandari," balas Susan, menyambut tangannya untuk bersalaman.
Fahmi kemudian membuka map lamaran yang sebelumnya telah diserahkan Susan kepada pria lain di depan—kemungkinan bagian keamanan. Ia membaca dengan seksama isi lamaran sambil sesekali melirik ke arah Susan.
"Anak kamu berapa?" tanyanya kemudian.
"Belum punya, Pak," jawab Susan sambil memberanikan diri menatap wajahnya.
"Suami kamu kerja?" tanya Fahmi lagi.
"Kerja di Jakarta, pulang sebulan sekali," jawab Susan, kali ini dengan pandangan menunduk. Ia enggan menatap mata Fahmi dan memilih menatap map di tangannya.
Pria itu lalu menatap tajam ke arah dada Susan yang sedikit terbuka karena posisi duduknya yang agak condong ke depan. Susan menyesal memakai kaos tipis longgar yang dilapisi, meskipun sudah dilapisi blazer, tetap saja potongannya tak cukup menjaga auratnya.
Saat pikirannya sedang melayang memikirkan pakaiannya, tiba-tiba Susan dikejutkan oleh suara bergeser dari arah lemari buku di sampingnya. Ternyata lemari itu bergeser seperti pintu rahasia, dan dari baliknya muncul seorang pria bertubuh besar, agak botak, dan langsung menatapnya. Ternyata lemari itu bukan sekadar lemari—ia juga berfungsi sebagai pintu.
Susan tersenyum sopan kepada pria yang baru saja keluar dari balik lemari. Pria itu tampak berusia sekitar lima puluhan, rambutnya tipis hampir botak, namun masih terlihat tampan. Seperti Fahmi, pria ini juga tampak keturunan Timur Tengah.
"Fahmi, masih banyak pelamar?" tanyanya dengan suara berat sambil matanya menatap dada Susan, membuatnya risih.
"Masih sekitar 30 orang lagi, Pak Zakir. Saya sudah perintahkan Satpam agar tidak menerima pelamar lagi hari ini," jawab Fahmi.
"Baiklah. Kalau begitu, biar saya yang wawancarai nona ini. Kamu panggil yang lain," ujar pria yang dipanggil Pak Zakir itu.
"Baik, Pak," jawab Fahmi sambil menyerahkan map lamaran Susan kepada atasannya.
"Mari," ucap Pak Zakir sambil berjalan lebih dulu.
Susan mengikutinya dari belakang, memasuki ruangan melalui pintu rahasia di balik lemari. Tingginya hanya sebatas bahu Pak Zakir, sementara lebar tubuhnya tak sebanding dengan pria itu.
Ia tersenyum kecil dalam hati, membandingkan tubuh Pak Zakir dengan tubuh besar pria itu. Anehnya dia juga membandingkan lelaki itu dengan Aldi suaminya yang memang cenderung kurus.
^*^