Krisna segera kabur terbirit-birit dari sana.
Yulia bingung. Ada apa gerangan dengan pria itu? Apakah Billy sadarkan diri?
Dia dengan cepat berbalik, tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Billy masih berbaring di tempat tidur, dan napasnya masih stabil dan setenang sebelumnya.
Satu-satunya perbedaan yang dia lihat adalah salah satu tangannya keluar dari selimut.
Yulia memiringkan kepalanya dan mengamatinya sebentar. Tangan itu terlihat lemas, jadi dia merasa tangannya mungkin jatuh saat dia menabrak rangka tempat tidur saat mencoba menghindari serangan Krisna.
"Billy?" Yulia memanggil nama pria itu dengan ragu.
Tidak ada tanggapan apa-apa.
Dia mencondongkan tubuh ke depan dan memanggil dengan lebih keras, "Hei, Billy!"
Tetap saja, yang dia dapatkan hanyalah kesunyian.
Yulia menelan ludah dan perlahan berjalan ke samping tempat tidur. Dia dengan hati-hati memegang tangan milik pria itu dan meletakkannya kembali di bawah selimut. Billy masih tidak bergerak sedikit pun selama dia melakukannya. Ini membuatnya tenang. Ternyata pria itu masih dalam keadaan koma.
Mungkin karena Krisna sedang mabuk, dia sempat berhalusinasi.
Yulia menepuk dadanya saat dia menghela napas lega.
Ruangan itu kembali ke keheningan yang biasa. Jantung Yulia masih berdetak kencang. Entah kenapa, dia takut Billy tiba-tiba membuka matanya. Dia duduk di tepi tempat tidur dan menatapnya lekat-lekat. Beberapa saat kemudian, dia tertidur lelap karena kelelahan.
Keesokan harinya, Yulia terbangun dan mendapati dirinya terbaring di tepi tempat tidur. Dengan cepat, dia menoleh ke arah Billy. Yang membuatnya lega, sepertinya selama sepanjang malam pria itu tidak bergerak satu senti pun dari posisi sebelumnya. Yulia merasakan beban ketidakpastian terlepas dari pundaknya sekarang.
Akhirnya dia sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa Krisna benar-benar melihat Billy bergerak tadi malam. Tampaknya pria mabuk itu hanya sedang berhalusinasi.
Yulia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Saat dia menyikat giginya, matanya tertuju pada tanda merah yang tertinggal di lehernya. Sebelumnya tidak ada apa-apa di sana. Itu terlihat seperti ada seseorang yang baru saja telah mencekiknya di sana.
Ketika Yulia mengingat pertengkarannya dengan Krisna tadi malam, dia mengaitkan munculnya tanda merah itu sebagai perbuatan pria itu.
Rasa jijik muncul dalam dirinya saat memikirkan pengkhianat itu.
Yulia meletakkan sikat giginya dan kembali ke kamar tidur. Dia mengenakan atasan turtleneck untuk menutupi tanda merah tersebut.
Ketika dia sudah berpakaian rapi, dia turun ke bawah.
Dia baru saja sampai di tangga terbawah ketika Krisna secara mendadak muncul entah dari mana dan menariknya ke bilik dekat sana.
"Apakah tadi malam Billy sadarkan diri?" bisiknya ke telinga Yulia, takut seseorang akan mendengarnya.
Yulia merasa mual saat mendaratkan mata pada Krisna. Dia mengambil dua langkah mundur dan menjawab tanpa ekspresi, "Tidak, dia masih seperti biasa."
"Baguslah kalau begitu. Aku terlalu banyak minum tadi malam. Mataku sudah menipuku. Untuk beberapa detik, aku melihat Billy membuka matanya dan melemparkan tatapan tajam ke arahku. Syukurlah itu hanya ilusi belaka." Krisna menarik napas dalam-dalam, merasa lega. Dia memamerkan senyum cerahnya yang biasa dia tunjukkan.
Di masa lalu, senyum ini biasanya akan mengirimkan kegembiraan ke seluruh tubuh Yulia. Namun sekarang, dia membencinya. Dia menurunkan matanya sehingga Krisna tidak akan melihat kebencian di matanya.
Tidak sadar akan alasan sebenarnya, Krisna berasumsi Yulia tidak bahagia karena kejadian tadi malam. Dia dengan lembut meminta maaf. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi, Yuli. Anggur itu membuatku kehilangan kendali diri. Aku tidak bermaksud memperlakukanmu dengan kasar."
Yulia memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Tidak apa-apa."
Lalu, dia membuat alasan agar dia bisa segera meninggalkan bilik itu.
Ketika dia sampai di ruang makan, dia melihat Sigit sudah duduk di meja. Sigit merupakan seorang pria tegas yang jarang tersenyum. Setelah Yulia menyapanya, dia hanya mengangguk sedikit. Dia memancarkan aura dingin dan ketidakpedulian.
Di sisi lain, Lestari, ibu tiri Billy, terlihat antusias. Dia adalah ibu kandung Krisna, jadi dia mungkin tahu tentang rencana putranya. Itu satu-satunya penjelasan logis atas kehangatan dan keramahan berlebihan yang wanita paruh baya itu tunjukkan padanya.
Yulia merasa tidak nyaman selama memakan sarapan.
Setelah selesai makan, Sigit membawanya ke rumah sakit swasta milik Keluarga Jayendra.
Krisna ikut bersama mereka. Ketika Yulia diantar ke ruang operasi, dia memberinya tatapan penuh arti.
Yulia memahami isyarat itu.
Dia tersenyum untuk meyakinkannya bahwa dia tidak melupakan rencana mereka. Akan tetapi, saat dia berbalik, senyumnya seketika menghilang. Dia berjalan menuju ke ruang operasi dengan wajah dingin.
Saat ini, rasa takut perlahan merayap ke dalam hatinya. Akan tetapi, ketika dia mengingat bagaimana Krisna bercinta dengan adik tirinya dan bagaimana kejinya pria itu membunuh ayahnya, dia mengertakkan gigi dan mengepalkan tinjunya. Dia sangat ingin membalaskan dendamnya dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Prosedur inseminasi memakan waktu sekitar satu jam. Yulia dengan wajahnya yang pucat, didorong keluar sementara dia duduk di kursi roda. Dokter melepas maskernya dan berkata kepada Sigit, "Semuanya berjalan lancar, Tuan Jayendra. Sekarang, kita harus menunggu sekitar satu bulan untuk memastikan berhasil atau tidaknya proses ini."
Wajah Krisna menjadi gelap begitu dia mendengar ini.
Sebaliknya, wajah milik Sigit yang biasanya dingin kini bersinar dengan senyuman. Bahkan orang yang buta pun dapat melihat bahwa dia senang mendengar berita itu. Dia memandang Yulia dengan ekspresi puas. Setelah itu, dia memerintahkan salah satu sopirnya untuk mengantar Yulia dan Krisna pulang.
Di perjalanan, wajah Krisna memerah karena marah. Dia terlihat jelas tidak senang, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Yulia tidak repot-repot mengajaknya berbicara. Dia melihat ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Begitu mereka keluar dari mobil, Krisna tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia meraih lengannya dan menariknya menuju ke taman untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam benaknya.
"Yulia, apa-apaan! Aku pikir kamu setuju untuk merusak prosedur inseminasi. Kenapa kamu tidak melakukannya?" Krisna menggeram marah.
Sejauh yang Yulia pikirkan, dia tidak berutang penjelasan kepada pengkhianat ini. Krisna membuatnya jijik. Dia mengibaskan tangannya dan berkata dengan dingin, "Perhatikan bagaimana caramu berbicara kepadaku, Krisna. Sekarang aku adalah kakak iparmu!"
Krisna melotot dan tertawa marah. Dia menendang pohon yang ada di dekatnya. "Apa yang baru saja kamu katakan? Apa kamu sedang bercanda denganku?"
Jantung Yulia mulai berdetak kencang ketika dia melihat matanya yang merah. Dia berputar untuk pergi dari sana, tapi Krisna menariknya kembali.
"Apakah aku menyuruhmu pergi? Jangan berpikir kamu boleh meninggalkanku begitu saja, Yulia! Aku belum selesai berbicara denganmu!" Percikan amarah Krisna menyala di matanya.
Yulia merasa takut sekaligus kesal. Dia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu sambil memelototinya. "Lepaskan aku!"
"Wanita jalang!" Krisna meraihnya dengan kedua tangan dan membungkuk. "Ini tidak seperti apa yang sudah kita sepakati. Apakah kamu mencoba membuangku setelah kamu menikahi Billy? Asal kamu tahu, kamu tidak akan bisa menyingkirkanku. Kamu belum tentu hamil. Bahkan jika kamu hamil, Billy tidak akan bisa melindungimu dan bajingan kecil itu."
"Bah! Bagaimana kamu bisa begitu yakin mengenai itu? Bukannya Billy masih hidup?" Yulia mencibir. "Apa pun yang terjadi, aku tetaplah kakak iparmu. Lebih baik kamu mulai mengingatnya sekarang!"
Komentar ini membuat Krisna semakin menggila. Dia mengangkat tangannya untuk menampar Yulia.
Namun, sebelum itu terjadi, seorang pelayan bergegas keluar rumah dan berteriak, "Nyonya! Tuan Billy baru saja sadarkan diri. Dia ingin bertemu dengan Anda!"
Apa! Billy telah sadarkan diri!
Yulia dan Krisna yang tidak siap mendengar kabar ini pun terkejut.
Begitu Krisna pulih dari keterkejutannya, wajahnya menjadi suram. Dia mengencangkan cengkeramannya di lengan Yulia dan memarahinya, "Kamu berbohong padaku, 'kan? Apa yang sempat aku lihat semalam bukanlah ilusi. Billy benar-benar sadar dari komanya semalam, 'kan? Oh, aku mengerti situasinya sekarang. Itulah mengapa kamu tiba-tiba menentangku!"
Karena Krisna sudah mengambil kesimpulan, Yulia tidak mau repot-repot menjelaskan. Dia melepaskan cengkeraman Krisna dan berjalan pergi bersama dengan pelayan itu.
Krisna benar-benar marah. Dia ingin memukul Yulia, tetapi dia tidak berani melakukannya. Terus berdiri di taman, dia memperhatikan sosok Yulia yang semakin menjauh sampai sepenuhnya menghilang dari pandangan. Lalu dia berbalik dan menendang pot bunga dengan marah.
Kediaman Keluarga Jayendra adalah sebuah manor yang memiliki beberapa bangunan berbeda yang dikelilingi oleh taman bunga dan pepohonan. Billy tinggal di sebuah rumah kecil terpisah dari rumah utama yang terletak di belakang taman. Tidak hanya udaranya yang segar di sini, tetapi area itu juga terang benderang dan sunyi. Ada banyak pohon bambu yang ditanam di sekitar rumah. Tempat sempurna bagi orang yang sakit untuk memulihkan diri.
Namun, Yulia tidak punya niat untuk mengagumi keindahan lingkungan sekarang. Pikirannya sedang dalam keadaan kacau.
Dia bertanya-tanya apakah Billy sudah sadarkan diri mulai tadi malam. Apakah pria itu telah mendengar percakapan antara dirinya dan Krisna?
Apa yang akan terjadi jika dia mendengarnya?
Jantung Yulia mulai berdebar kencang. Wajahnya berubah menjadi pucat saat beberapa macam pikiran melintas di benaknya.
Sepengetahuannya, Billy bukanlah malaikat. Dia telah diberi tahu bahwa Billy adalah pria kejam yang bahkan memiliki hubungan kuat dengan orang-orang dari dunia kriminal. Rumor yang beredar berkata bahwa orang yang menyinggung dia di masa lalu akan mendapat balasan yang cukup kejam. Apakah Billy akan melakukan hal yang sama padanya?
"Kita sudah sampai!" Suara pelayan membawa Yulia kembali ke dunia nyata.
Setelah mengambil napas dalam-dalam, dia mendorong pintu terbuka dan berjalan masuk. Dia baru saja masuk ke rumah ketika Sigit masuk dengan napas terengah-engah.
Yulia menganggukkan kepalanya dan menyapanya. Sigit memberinya anggukan singkat dan kemudian mereka bersama-sama memasuki kamar Billy.
Sekelompok dokter berdiri di samping tempat tidur. Mereka sedang memeriksa Billy.
Kini Billy sedang duduk dengan punggung menyandar pada kepala tempat tidur, matanya tanpa emosi dan wajahnya yang tampan sedingin salju musim dingin.
Ketika dia mendengar langkah kaki di pintu, dia menoleh untuk melihat siapa yang datang. Matanya yang tajam menyapu Yulia sekilas dan mendarat pada Sigit. "Siapa wanita ini?"
Itu merupakan sebuah pertanyaan sederhana. Akan tetapi, Yulia mendapati dirinya dalam keadaan terpojok.
Bagaimanapun, dia tidak tahu bagaimana berhadapan dengan pria itu sekarang, apalagi untuk memperkenalkan dirinya.
Billy bisa mengakhiri pernikahan mereka kapan saja.
Jika itu terjadi, rencananya untuk balas dendam akan hancur.
"Dia istrimu," ucap Sigit sebelum Yulia sempat memikirkan bagaimana memberi respons.
"Istriku? Kenapa aku tidak ingat pernah menikah dengan wanita mana pun?"
"Yah, aku sudah mengaturkan pernikahan untukmu. Acara pernikahan diselenggarakan kemarin. Semua orang sudah mengetahuinya."
Sigit terlihat cukup tenang seolah-olah dia sudah menebak bahwa putranya akan bangun.
Dokter utama sudah selesai memeriksa Billy saat ini. Namun karena situasi sekarang, dia berdiri canggung di sana bersama dengan para asistennya.
Sigit berdeham untuk membersihkan tenggorokannya, wajahnya tidak bisa ditebak. "Bagaimana keadaan putraku?"
Dokter utama menjawab, "Meskipun dia sadarkan diri, dia belum pulih sepenuhnya. Kedua kakinya masih dalam kondisi yang buruk. Maaf, tapi dia mungkin tidak akan pernah bisa berdiri atau berjalan lagi."
"Apakah kamu mencoba mengatakan bahwa Billy sekarang lumpuh?" tanya Sigit dengan tidak percaya.
Yulia mengerutkan kening saat melihat sedikit kelegaan di wajah Sigit.
"Sayangnya, ya, Tuan Jayendra." Dokter utama menghela napas dengan prihatin. "Tapi, serangkaian fisioterapi dapat membantu keadaannya."
"Jadi, begitu. Terima kasih atas bantuanmu. Kalian sudah bisa pergi sekarang."
Sigit melambaikan tangannya untuk menyuruh para dokter pergi dari sana. Begitu mereka pergi, dia menoleh ke Billy dan melontarkan senyum ramah yang jarang terlihat. "Nak, syukurlah kamu sudah sadar. Kamu sekarang perlu beristirahat dengan baik. Tidak perlu terlalu memikirkan apa yang dikatakan dokter. Aku akan mendapatkan fisioterapis terbaik untuk merawatmu. Serahkan saja itu semua padaku."
Setelah itu, dia memberi isyarat kepada Yulia untuk datang ke samping tempat tidur. "Ini istrimu, Yulia. Dia adalah putri dari Keluarga Pujiono. Mulai sekarang, dialah yang akan merawat dan menjagamu. Kamu berada di tangan yang baik."
"Aku tidak punya istri! Karena aku tidak pernah menyetujui pernikahan ini, jadi ini bukanlah pernikahan yang sah. Aku akan meminta pengacaraku untuk segera memulai prosedur perceraian sekarang juga!" Billy mengumumkan ini, suaranya yang dalam dipenuhi dengan penghinaan.
Wajah Sigit berkedut seolah sedang menahan amarahnya. "Kamu tidak boleh melakukan itu, Billy! Kamu tidak boleh bercerai."
Billy mencibir dengan jijik. "Apa yang membuat Ayah berpikir bahwa Ayah berhak mengambil keputusan untukku?"
Suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi tegang.
Saat itulah, Yulia sadar bahwa keduanya tidak berpandangan sama. Dia dengan canggung memainkan jari-jarinya, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Sigit sangat marah hingga tubuhnya bergetar. Dia berteriak, "Kamu sudah menikah. Dan keputusan itu tidak akan bisa diubah! Spermamu sudah diinseminasi ke dalam rahim Yulia. Sekarang, dia pasti sudah mengandung anakmu. Aku tidak akan pernah menyetujui perceraianmu!"
"Apa! Ayah memasukkan spermaku ke wanita ini?" Untuk pertama kalinya, Billy mengamati Yulia dengan jeli. Matanya yang tajam mengamati wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sudut bibirnya tiba-tiba terangkat karena rasa jijik yang dia rasakan.
Sambil menggertakkan giginya, dia bertanya dengan lugas, "Nona Pujiono, mana yang lebih kamu sukai untuk melakukan aborsi, operasi atau menggunakan obat?"