Bab 1

*Suami pulang tugas, istri sedang di g**jot suami tetangga!

*

Kota Salvador Barat berada di dataran tinggi dan dikelilingi pegunungan. Samudera Alexandria turut serta melingkupi kota kecil tersebut.

BMW dinas menepi di pelataran sebuah rumah. Tidak begitu besar atau pun kecil, tapi tampak rapi dan nyaman dari luar.

Pasangan muda keluar dari mobil itu. Leo bergegas membuka bagasi mobil dan mengeluarkan barang yang mereka bawa.

Tessa turut serta membantu suaminya. Sambil melempar senyum manis, keduanya berjalan menuju pintu rumah.

"Waw! Ini lebih baik dari yang aku pikirkan!" Tessa memekik senang saat Leo membuka pintu.

Ruangannya rapi dan bersih. Tessa yang cinta kebersihan tampak menyukai rumah itu.

Leo tersenyum puas melihat Tessa. Wanita itu sedang melihat-lihat isi rumah baru mereka.

"Kau suka rumahnya? Kurasa ini rumah dinas terbaik selama aku menjadi Tentara."

Sambil melihat-lihat, Tessa manggut-manggut membenarkan ucapan Leo. "Ya, rumah ini jauh lebih nyaman. Aku menyukainya."

"Syukurlah!"

Leo tersenyum senang akan jawaban istrinya. Kemudian dia menyeret koper menuju kamar.

Rumah baru. Ada banyak pekerjaan yang menanti tangan gesit mereka.

"Permisi, Nyonya. Apa Anda tahu di mana rumah Pak Alex Spencer?"

Tessa yang sedang membersihkan teras rumah dibuat terganggu saat seorang pria bertanya padanya.

Mata Tessa menilik penampilan pria itu sejenak. Sepertinya petugas dari jasa ekspedisi, pikirnya.

"Aku tidak kenal dengan orang yang kau maksud. Bahkan, aku baru tiba di kota ini!" jawab Tessa.

Pria yang berdiri di depan teras tampak sedikit kecewa.

"Baiklah jika begitu. Maaf telah mengganggu Anda!"

Tessa hanya mengangguk menanggapi. Wanita itu hendak memutar tubuhnya untuk kembali melakukan pekerjaannya.

"Pak! Aku Alex Spencer!"

Suara teleponable itu mengejutkan Tessa. Dia segera menoleh. Dilihatnya seorang pria seumuran Leo yang memanggil dari tepi balkon rumah sebelah.

"Tuan Alex Spencer?! Aku membawa paket Anda!" seru pria petugas ekspedisi. Wajahnya kelihatan senang.

"Bawalah padaku!" Alex menanggapi dari balkon.

Tessa yang masih berdiri di teras rumah, masih memandangi dengan bengong.

Alex Spencer, pria itu memiliki postur tubuh yang bagus. Wajahnya juga tampan. Tessa menelan ludah kasar melihat otot-otot yang menyembul pada permukaan tubuh atletis Alex yang dibalut oleh t-shir hitam ketat.

Juga gambar tato di pergelangan tangan Alex. Gila! Dia sangat macho seperti aktor film action!

Alex menyadari jika Tessa sedang memperhatikannya. Namun, dia tidak begitu tertarik untuk mengetahui siapa wanita muda itu.

Dengan wajah sinis, Alex memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah. Jantung Tessa berdegup kencang saat tatapan pria itu tertuju padanya sebelum berlalu.

"Alamat Anda kurang detail, maafkan jika kami baru bisa mengirim paketnya."

"Tak masalah."

Alex mencetak tanda tangannya setelah menerima paket dari petugas ekspedisi. Diam-diam matanya terangkat ke arah rumah sebelah.

Tessa masih berdiri di sana. Wanita itu berpura-pura membersihkan vas bunga saat pandangan Alex tertuju padanya. Pria itu tersenyum miring melihatnya.

"Terima kasih, Pak!"

"Tak masalah!"

Petugas ekspedisi telah pergi. Alex berjalan menuju pintu rumah sambil membawa paket yang dia terima. Ekor matanya melirik pada wanita muda di rumah sebelah.

Tessa membalas dengan tersenyum ramah. Alex tidak peduli. Dengan acuh dia menutup pintu rumahnya.

"Astaga, sombong sekali dia! Belum tahukah jika suamiku seorang Sergeant Militer? Dasar bajingan tengik!" gerutu Tessa.

Sikap dingin Alex membuatnya kesal sekaligus penasaran . Di kota lamanya dia dan Leo amat dihormati. Baru kali ini ada tetangga yang begitu ketus padanya. Tessa tidak terima.

"Siapa yang bajingan tengik?!" Leo tiba-tiba keluar sambil menenteng laras panjang.

Tessa terkejut dibuatnya. "Hei, Sayang. Apa kau mau langsung menembaknya?"

"Menembak siapa?"

Tessa menoleh ke arah rumah di sebelah mereka. Di mana pria sombong itu? Dia tidak melihatnya di mana-mana. Pandangan Tessa mencari-cari Alex.

Melihat gelagat istrinya, Leo menjadi heran. "Apa yang kau cari?"

"Bukan apa-apa. Baiknya kita makan dulu. Kau pasti sudah lapar iya kan?" jawab Tessa disertai senyuman garing. Dia lantas menggiring suaminya masuk ke rumah.

"Ya, aku sudan lapar. Kau masak apa hari ini?" Leo tampak sangat senang. Dirangkul bahu istrinya dengan mesra.

"Aku memasak semua yang kau sukai!" jawab Tessa bersemangat. Tangannya mencubit dagu Leo yang lancip sambil tersenyum senang.

"Wah, benarkah?"

Tessa mengangguk sambil tersenyum menanggapi.

Dari tepi garis jendela, Alex memperhatikan. Pasangan muda yang amat bahagia. Dia jadi iri melihatnya.

["Aku ada meeting penting dengan klien. Aku akan pesan makanan untukmu. Katakan, kau mau makan apa?"]

"Aku tidak lapar."

["T-tapi ... Alex!"]

Pria itu menurunkan ponsel dalam genggaman, lantas dilempar gawai mewah itu pada sofa. Alex menjambak rambutnya tampak frustasi.

Istrinya, Tracy baru saja menelepon. Dia tidak bisa pulang tepat waktu dan menemaninya makan malam. Alex sangat kesal.

Ini bukan kali pertama dia harus makan malam seorang diri. Sejak Tracy naik jabatan di kantornya, mereka jadi jarang bertemu.

Tracy akan pergi sebelum Alex terjaga di pagi hari, dan kembali saat Alex sudah berada dalam pelukan mimpi.

Pernikahan macam apa ini? Sebagai suami dan pasangan yang baru menikah, ini sungguh tidak adil bagi Alex.

Sambil duduk di ruangan khusus, Alex mulai mengotori kanpas putih di depannya.

Sejak sekolah menengah, Alex mulai menyukai seni lukis. Hingga memasuki masa kuliah, fakultas seni yang dipilihnya.

Namun, tidak ada penghasilan lebih yang dirinya dapat. Bahkan, keluarga istrinya selalu meremehkan Alex.

Mereka mengatakan, dengan kuas dan cat warna itu, Tracy tidak akan bisa membeli rumah dan mobil.

Mereka ada benarnya juga. Buktinya sekarang, jika Tracy bukan pekerja kantoran, entah bagaimana mereka bisa tinggal di rumah ini dan memiliki dua unit mobil.

'Istri bekerja di luar setengah mati. Sementara suami hanya duduk sambil menggambar. Apa kau tidak malu makan dari kerja keras istrimu, hah?!'

Ucapan menohok ibu mertua masih sering terngiang di telinga Alex. Dicengkeram gagang kuas dalam genggaman. Entah kapan dirinya bisa menjadi pelukis terkenal seperti Leonardo da Vinci.

Dengan skil yang dia miliki, sepertinya itu mustahil.

Alex bukan tipe pria yang mau menumpang hidup pada istri. Namun, mau tidak mau begitulah yang terlihat oleh orang luar.

Bayangkan saja, sudah enam bulan lamanya sejak mereka menikah dan menempati rumah ini, tidak ada satu pun lukisannya yang dibeli orang.

Meski tahu begitu, Alex tetap mengembangkan bakat melukisnya. Hasil karyanya tidak begitu buruk. Hanya saja dia belum memiliki nama dan ketenaran saja.

Sambil merenung, Alex memainkan kuas di tangannya. Sebuah sketsa wajah mulai terlihat pada kanpas putih itu. Namun, imaginya buyar karena kemunculan wajah wanita di benaknya tiba-tiba.

Wajah Tessa.

Ah, dia belum tahu nama wanita muda yang menjadi tetangga barunya itu. Tidak penting juga. Namun, cara Tessa menatap membuatnya sedikit gelisah.

Sementara itu di rumah sebelah.

Tessa dan Leo baru saja selesai makan malam. Tessa mencuci piring, dan Leo merapikan meja makan.

Meski Leo seorang kapten tentara yang biasa hidup keras dan disiplin, dia kelihatan amat manis dan ramah. Terutama pada Tessa.

Meski sudah satu tahun mereka menikah dan belum juga memiliki seorang anak. Leo tidak memasalahkan hal itu.

Anak bisa mereka tunggu sambil mengarungi bahtera pernikahan, bukan? Bagi Leo yang amat mencintai Tessa, kebahagiaan istrinyalah yang terpenting.

"Hari ini tanggal suburku. Bisakah kita bermain?" Sambil membilas piring-piring di depan wastafel, Tessa menoleh pada Leo.

Pria itu sedang duduk sambil merokok. Leo menoleh pada Tessa. Sang istri tersenyum manis menggodanya.

Tak ada yang Leo katakan untuk menimpali ajakan istrinya, dia hanya tersenyum seringai menanggapi.

"Aaahh! Sayang ... terus ..."

"Uuurhhh! Ini keterlaluan, Darling!"

Tessa menggerakkan pinggang kecilnya sambil duduk di atas paha Leo. Rambutnya yang panjang menjuntai-juntai ke bawah menyapu wajah horny suaminya.

Sedang Leo, dia terlentang di bawah kendali Tessa. Kedua tangannya memegang masing-masing sisi pinggul nakal itu.

Sesekali diremas juga kedua bongkahan besar Tessa yang bergetar-getar karena hentakkan kuat siempunya.

Keliaran istrinya membuat Leo amat menggila. Matanya terpejam tak menentu dengan bibir yang terus berdesah menikmati permainan.

"Tesssa, ooh!"

"Sayang ..."

Satu jam berlalu. Percintaan panas itu pun telah usai. Tessa menoleh pada Leo yang sudah terlelap. Bibirnya mengulas senyum gemas sebelum beringsut dari ranjang.

Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Tessa ingin ke dapur untuk mengambil air. Namun, saat dia melintas di ruang tamu, tak sengaja dia melihat Alex dari jendela.

Pria itu sedang berdiri di balkon rumahnya. Hanya seorang diri. Apa yang dia lakukan malam-malam begini? Apakah Alex tidak memiliki istri? Sambil berdiri dari tepi garis jendela, Tessa memandangi.

Alex menoleh ke arah rumah Tessa. Wanita di tepi garis jendela dibuat terkejut. Tessa buru-buru menyelinap ke samping. Jangan sampai Alex melihatnya yang sedang mengintai.

Sekilas, Alex melihat bayangan wanita dari kaca jendela rumah Tessa. Bibirnya tersenyum tipis.

Bab 2

Kabut pagi memutih di sekitar pegunungan. Tessa baru saja selesai membuat sarapan. Wanita itu sedang berdiri di samping meja makan. Tangannya sibuk menata menu sarapan yang baru selesai dia buat.

"Pagi, Darling!"

Suara bass itu menyentuh telinga Tessa bersamaan dengan dua tangan berbulu yeng melingkat di sekitar perutnya.

Tessa tersenyum manis, lantas memutar sampai menghadap pria yang mengganggunya.

"Kau sudah selesai mandi?" tanyanya sambil menatap wajah tampan Leo dengan kagum.

Pria dalam seragam ARMY Angkatan Darat itu mengulas senyum lantas berkata, "Aku mau menu pembukanya sekarang," bisiknya ke wajah Tessa.

Wanita itu terkekeh geli, dan Leo langsung menyambar bibir Tessa dengan ciuman.

Suaminya memang amat romantis dan agak mesum. Tessa membalas ciuman Leo dengan bersemangat.

"Hari ini aku harus melapor ke kantor pusat, sepertinya aku akan pulang besok pagi," ucap Leo sambil menyantap sepotong roti. Matanya tertuju pada Tessa.

Ada banyak tugas sejak dia naik jabatan, Leo takut jika Tessa akan kesepian. Usia Tessa baru genap 23 tahun. Istrinya sangat manja dan sering kekanak-kanakan.

Mungkin karena Tessa sudah tidak memiliki orang tua lagi. Leo paham akan hal itu. Dia menyukai Tessa apa adanya.

Wajah Tessa berubah murung setelah mendengar ucapan suaminya. Inilah resiko menjadi istri tentara. Leo sangat sering pergi ke luar kota untuk bertugas di lapangan.

Meski begitu, Tessa sudah memikirkannya sebelum dia memutuskan untuk menikahi Leo.

Pria itu tampan dan macho. Dia tipe idealnya. Dan Tessa amat tergila-gila pada Leo.

Hanya saja, dia sering kesepian jika Leo pergi ke luar kota atau ke luar negeri. Tessa takut jika suaminya yang tampan itu akan bermain gila dengan wanita lain saat bertugas.

Tessa masih belum mengatakan apa pun, dia tampak gelisah sambil mengunyah rotinya pelan-pelan.

Melihat wajah murung sang istri, Leo jadi turut gusar. Dirainya jemari Tessa di atas meja. Mereka saling memandang kemudian.

"Mengapa harus menginap di sana? Di New Shamila sedang turun salju, bagaimana jika kau terkena flu atau kedinginan? Siapa yang akan menjadi selimutmu nantinya?"

Sambil mengemasi beberapa pakaian Leo ke dalam koper, Tessa tidak henti mengoceh.

Hatinya benar-benar berat melepaskan suaminya pergi. Namun apa boleh buat, Leo seorang tentara yang harus melakukan tugasnya untuk negara.

Leo yang sedang berdiri di teras balkon tersenyum tipis mendengar ucapan Tessa. Dia selalu dibuat gemas saat istrinya yang cantik dan nakal itu sedang merajuk.

Diletakkan senapan yang sedang dipegangnya pada meja, Leo bergegas menghampiri Tessa.

"Kyaaaa!!"

Wanita itu memekik kaget saat Leo merengkuh pinggulnya dari belakang, lantas menghempaskan Tessa ke tengah ranjang. Mereka saling berpandangan dengan jarak yang amat dekat.

"Mengapa terus mengoceh seperti burung beo? Suamimu bahkan masih di sini," bisik Leo ke wajah Tessa. Jarinya membelai pipi, rahang lalu mencuubit hidung mancung Tessa dengan gemas.

"Leo!"

Tessa mengerang kesakitan akibat ulah suaminya. Leo segera berlari saat Tessa bangkit dan ingin membalas. Mereka saling berkejaran di dalam kamar.

Tessa yang gemas ingin mencubit pipi Leo. Namun, kaki meja membuatnya tersandung dan nyaris terjatuh.

Leo dengan sigap menangkap Tessa. Mereka jatuh bersama ke lantai, dan Tessa menimpa Leo.

"Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?"

Leo buru-buru bangkit dan memeriksa kondisi Tessa. Wajahnya terlihat amat cemas pada istrinya. Ini Salahnya membuat Tessa terjatuh, pikirnya menyesal.

Mata Tessa terangkat ke wajah Leo. Dipandangi suaminya dengan kagum. Tak ada pria sebaik Leo yang dia temui selama 23 tahun.

Sejak orang tuanya tiada dan semuanya meninggalkan dia, hanya Leo yang Tessa miliki. Pria itu selalu ada untuknya, melindunginya meski sendirinya bisa saja terluka.

Melihat Tessa diam saja, Leo jadi cemas. Diusap pipi istrinya itu sambil menatapnya dengan lembut. "Kau melamun?"

"Aku hanya sedang berpikir, mengapa ada pria yang sepertimu? Kau tahu? Kau bisa terluka karena menolongku tadi," jawab Tessa dengan pendar mata yang sendu.

Leo tersenyum tipis mendengarnya. Tessa benar-benar membuatnya gemas. "Dasar wanita bodoh. Kau pikir jika terjadi apa-apa denganmu aku akan bisa hidup, hah?" ucapanya sambil mencubit hidung Tessa.

"Leo ...," erang Tessa dengan wajah kesal.

Sementara di rumah sebelah.

Alex baru saja selesai berolahraga. Sambil berdiri di samping sebuah alat gym, dia menyeka keringat yang membasahi tubuhnya dengan handuk.

Selain melukis, pria 27 tahun itu gemar berolahraga untuk merawat bentuk tubuhnya.

Lagi pula tidak banyak hal yang dia kerjakan selama di rumah sepanjang hari. Dengan berolahraga, dia bisa sedikit mengurangi rasa bosannya.

Dari arah pintu masuk, seorang wanita berjalan menghampiri. Bibirnya mengulas senyum melihat tubuh atletis Alex yang bertelanjang dada.

"Aku akan segera ke kantor. Sarapanmu ada di ruang makan. Sore ini aku akan pergi ke lokasi kontruksi untuk melihat proyek perusahaan. Jangan tidur larut malam ya, aku tidak mau kau sakit."

Alex mencengkeram handuk dalam genggaman mendengar ucapan wanita yang berdiri di belakangnya itu. Lagi-lagi Tracy pergi dan pulang keesokan harinya.

Kapan wanita itu mau tinggal di rumah dan melakukan percintaan panas dengannya?

Mereka sangat jarang melakukan hubungan intim layaknya suami-istri. Baru enam bulan mereka menikah, tapi semuanya terasa begitu hambar bagi Alex.

Melihat suaminya diam saja, Tracy tersenyum pahit sambil memalingkan wajah ke arah jendela. Alex pasti kesal karena dia tidak memiliki banyak waktu untuk suaminya itu.

Namun, harusnya Alex tahu diri. Jika dia tidak bekerja, maka harus bagaimana mereka bertahan hidup di kota kecil ini?

Sedangkan Alex sebagai suami bahkan tidak pernah memberinya nafkah.

Semua itu hanya terucap dalam hati Tracy saja. Sungguh dia sangat mencintai Alex. Dia tidak mau sampai menyinggung perasaan suaminya.

Namun, sikap Alex dua bulan terakhir ini membuatnya serba salah dan sedih.

Alex selalu dingin dan memberinya wajah bosan. Tracy kebingungan. Bagaimana dia harus mengimbangi sikap Alex?

"Pergilah. Aku akan baik-baik saja meski tanpamu," ucap Alex dengan acuh dan tanpa mau melihat wajah istrinya. Pria itu malah sibuk memainkan barbel di tangannya sambil duduk.

Tracy tercengang akan ucapan Alex. Dia menatapnya tegas. "Maksudmu, akan lebih baik jika aku tidak berada di hadapanmu, begitu?" tegasnya ke depan Alex.

Pria yang sedang duduk sambil memainkan barbel menatap Tracy.

"Aku tidak ngomong begitu."

"Tapi caramu bicara ... kau seperti membenciku!" berang Tracy mulai terpancing emosi.

Alex berdecak jengah, "Pergilah. Nanti kau ketinggalan meeting penting dengan hanya mengurusi suami pengangguran ini," ucapnya lantas bangkit.

Tracy kembali tercengang. Alex tidak peduli. Pria itu segera melenggang pergi meninggalkan istrinya.

"Alex,'' lirih Tracy lantas mengusap wajahnya dengan kasar. Sikap Alex membuatnya kesal dan sedih.

*

"Bye! Sayang!"

Tessa melambaikan tangan sambil tersenyum lebar pada mobil dinas yang baru saja melaju meninggalkan pelataran rumah.

Leo telah pergi. Hatinya terasa sepi kemudian.

Wajah Tessa berubah murung saat mobil yang membawa Leo sudah tidak kelihatan lagi. Menghela napas lesu, langkah Tessa terayun menuju pintu rumahnya.

Dari teras balkon rumah sebelah, Alex memperhatikan Tessa sambil menikmati secangkir kopi. Wanita itu lucu juga dan sangat manis, pikirnya gemas.

Malam pun tiba. Tessa sedang menonton televisi seorang diri. Sesekali dia menoleh ke arah pintu. Siapa tahu Leo berubah pikiran dan kembali ke rumah, pikirnya berharap.

Namun, sampai jarum jam menunjuk angka dua belas malam, Leo tidak kunjung datang. Tessa jadi sedih. Akhirnya dia putuskan untuk pergi ke kamar dan tidur.

Entah berapa lama dia tertidur, Tessa terjaga saat mendengar suara-suara gaduh dari arah dapur. Matanya yang bulat mencari-cari dalam kegelapan kamar. Sepertinya ada orang di dapur, pikir Tessa.

Apakah Leo telah kembali?

Tessa masih berpikir sambil memasang telinganya guna menangkap suara-suara yang dia dengar.

Sepertinya Leo memang telah kembali. Tessa tersenyum senang, lantas dia beringsut dari ranjang.

"Sayang, kau kah itu?!"

Teriak Tessa sambil menarik handel pintu kamarnya ke luar.

Tak ada jawaban?

Aneh sekali.

Tessa berjalan menuju dapur untuk memeriksa. Setibanya di sana, dia sangat terkejut melihat ada dua orang pria asing yang sedang membuka pintu-pintu lemari kitchen set.

"Pencuri!"

Dua orang pria itu terkejut mendengar teriakan Tessa.

Mereka segera menghampiri dengan memasang wajah sangar. Satu orang mengeluarkan pisau lipat untuk menakut-nakuti Tessa.

"A-apa yang mau kalian lakukan? Jangan perkosa aku!" Tessa ketakutan setengah mati. Dia bergegas mundur hendak kabur.

Namun, tiba-tiba dari arah belakang. Tendangan dahsyat seorang pria membuat pencuri tersungkur. Tessa sangat terkejut. Matanya membulat penuh melihat pria yang datang menolongnya.

"Pak Alex Spencer?"

Bab 3

Dua pencuri berhasil diringkus. Polisi mengucapkan terima kasih pada Alex dan memuji aksi heroik pria itu. Tessa tersenyum kagum mendengarnya.

Sambil berdiri bersisian di depan teras, Tessa dan Alex memandangi mobil-mobil polisi melaju pergi meningalkan pelataran.

"Pak Alex, terima kasih atas bantuanmu. Jika kau tidak datang, entah apa yang akan terjadi padaku." Tessa bicara pada Alex setelah mobil-mobil polisi tak lagi kelihatan di ujung jalan.

Alex mengangguk. "Tak masalah. Aku mau kembali ke rumah. Selamat malam," ucapnya pada Tessa, lantas dia segera melenggang pergi menuju rumah sebelah.

Tessa yang masih berdiri di teras memandangi Alex.

Pria itu sempat menatap ke arahnya sebelum kemudian menutup pintu. Tessa memberinya senyuman canggung, dan Alex hanya mengangguk pelan.

Setelah pintu dikunci dari dalam, Tessa berjalan menuju kamar sambil menguap.

Saat melewati ruang tamu, dia menoleh ke arah jendela. Dari sana terlihat balkon rumah Alex.

Namun, sepertinya pria itu sudah kembali tidur. Dia tidak melihat Alex di sana.

Ini memang aneh. Entah mengapa Tessa ingin melihat Alex sebelum dia kembali tidur.

Pria itu menghajar para pencuri dengan gagah perkasa. Sambil berbaring di tengah ranjang, Tessa kepikiran pada Alex dan aksi macho pria itu saat menolongnya.

Tendangan tungkai panjang Alex, tinjunya yang kuat. Bahkan tatapan matanya yang tajam. Tanpa sadar Tessa mengulas senyum mengingatnya.

Paginya saat matahari baru setinggi tombak pasukan Romawi. Tessa dikejutkan saat melihat suaminya di depan pintu rumah.

"Aku dengar ada pencuri. Makanya aku pulang. Aku mencemaskanmu, Sayang!"

Tessa yang biasanya bawel hanya diam saja saat Leo merangkum wajahnya dengan cemas.

Entah mengapa, hatinya tidak begitu senang melihat suaminya pulang.

"Leo, aku baik-baik saja. Tak usah lebay! Mereka hanya pencuri celana dalam. Polisi sudah menangkapnya!" ucap Tessa sambil menurunkan lengan Leo dari kedua pipinya.

"Meski begitu, aku tetap saja kuatir. Ah, iya ... Kau bilang Pak Alex yang menolongmu. Di mana dia? Aku harus bilang terima kasih padanya, bukan?" Leo bicara lagi.

Tessa menggeleng tampak bosan. "Aku sudah bilang terima kasih padanya. Kau pergilah bertugas, tak usah menemuinya."

Leo mengernyitkan dahi, heran. "Hei, ada apa ini? Mengapa kau menyuruhku pergi?"

Tessa kelabakan. "Bukan begitu. Tapi kau 'kan sedang bertugas. Nanti bagaimana jika kepala pimpinan mengetahui kau pulang?"

"Tak masalah. Aku sudah meminta izin kok!" Leo masih tampak keheranan melihat sikap Tessa yang menurutnya tak biasa.

Ting tong!

Suara bel pintu mengejutkan Leo dan Tessa yang sedang bertatapan di ruang tamu. Keduanya menoleh serempak ke arah pintu.

Alex Spencer?

Mata Tessa membulat penuh melihat siapa yang datang.

Alex dengan t-shirt ketatnya sedang berdiri di depan pintu. Mata Tessa turun pada kotak makanan yang dibawa pria itu.

"Maaf, jika aku mengganggu. Aku bawakan pie buah untuk kalian." Alex tersenyum manis usai bicara seperti itu.

Senyuman Alex yang mengalahkan manisnya rasa pie buah yang dibawanya, nyaris membuat Tessa hilang kesadaran detik itu juga.

"Pak Alex, tak usah repot-repot! Aku sangat berterima kasih padamu. Tessa bilang, kau menghajar para pencuri begitu bringas. Wah, kau jago berkelahi juga ya?"

Leo dengan senyum di wajahnya merangkul bahu Alex, lantas menggiring pria itu masuk rumahnya. Tessa menyambut dengan tersenyum manis. Alex melirik diam-diam.

"Anda terlalu pandai memuji, Pak Kapten. Aku hanya kebetulan lewat saja. Kudengar istri Anda menjerit ada pencuri." Alex bicara dengan santai saat duduk berhadapan dengan Leo di teras samping.

Segelas espresso buatan Tessa menemani ngobrol santai mereka. Leo menepuk bahu Alex sambil tertawa kecil.

Sementara mata Alex melirik pada Tessa diam-diam. Wanita itu sedang memperhatikannya dari balik jendela.

"Kau suka kopinya? Kopi buatan Tessa sangat nikmat dan disukai oleh para tentara di San Alexandria loh!" Leo memicingkan alisnya sambil tersenyum pada Alex.

Pria itu manggut-manggut. "Aku sendiri tidak begitu menyukai kopi. Namun, kopi ini terasa sangat berbeda."

"Itu karena Tessa-ku yang meraciknya. Kau akan menyukai kopi setelah ini, Bung!" Leo tertawa kecil, lantas menyeruput kopinya.

Alex turut tersenyum tipis melihatnya, lantas ekor matanya kembali melirik ke arah jendela diam-diam. Tessa memberinya senyuman termanis.

"Alex, apa kerjaanmu? Kau punya postur yang bagus. Tidak tertarikkah untuk menjadi tentara?" Leo bertanya setelah meletakkan cangkir kopinya kembali pada meja. Dia menatap pria di depannya kemudian.

Alex mengecap rasa kopi di bibirnya sebelum menjawab, "Aku seorang pelukis. Menjadi tentara, kurasa aku tidak cocok."

"Mengapa harus merasa cocok? Semua orang bisa menjadi tentara asal ada kemauan. Namun, kau memang lebih cocok menjadi seniman." Leo tersenyum sambil menepuk bahu Alex.

Alex hanya tersenyum tipis menanggapi. Diam-diam dia kembali melirik Tessa.

Wanita itu sudah tidak ada di balik jendela. Entah kemana dia. Mungkin ke toilet. Mata Alex mencari-cari.

"Aku akan kembali bertugas. Jaga dirimu baik-baik ya? Jika butuh bantuan, kau boleh meminta tolong pada Alex. Kurasa dia bisa diandalkan."

Leo mengusap pipi licin Tessa sambil menatap istrinya dengan lembut. Insident pencuri di rumah membuatnya khawatir pada Tessa. Namun, tugasnya sebagai tentara tak bisa ditunda.

Tessa mengangguk. "Kau jangan cemas. Aku akan baik-baik saja. Pergilah."

Leo tersenyum lega. Dia lantas mengecup kening Tessa, lalu turun ke pipi dan bibirnya.

Cukup lama mereka betciuman. Dari tepi teras balkon, Alex memandangi dengan tatapan geram.

Mobil dinas melaju meningalkan pelataran rumah. Tessa segera memutar tubuhnya hendak masuk rumah. Tak sengaja dia menoleh ke rumah sebelah. Tatapan Alex membuatnya ngeri.

Tak berpikiran buruk, Tessa hanya tersenyum tipis pada Alex lalu masuk rumah.

Pria di teras balkon mengepalkan buku-buku jemarinya. Melihat Tessa dan Leo betciuman begitu mesra, dia tidak suka. Entah apa alasannya. Alex sendiri tidak paham.

"Sayang! Kau di mana?!"

Suara Tracy mengejutkan Alex. Pria itu segera menoleh.

Wanita cantik dalam balutan stelan kantor warna cream tersenyum manis untuknya.

Senyuman itu pernah membuatnya jatuh cinta. Namun, mengapa sekarang terlihat biasa saja. Bahkan tidak menarik. Alex lebih suka senyuman Tessa.

Ya, senyuman Tessa jauh lebih manis dan membuat hatinya bergetar dalam perasaan yang sulit diartikan. Terasa bergelora. Entah apa. Namun, dia menyukainya.

"Sayang, aku pulang cepat hari ini. Bisakah kita keluar untuk makan malam?"

Tracy bergelayut pada tengkuk leher Alex. Dia tersenyum amat manis sambil menyentuh hidung mancung suaminya yang tampan.

Alex yang sedang sibuk dengan cat warna dan kuasnya tampak acuh-acuh saja.

Hal itu membuat Tracy semakin gemas. Segera diraih cat dan kuas dari tangan Alex. Pria itu diam saja saat dia duduk di pangkuannya.

"Alex, aku merindukanmu," bisik Tracy dengan manja.

Alex masih bergeming tanpa suara. Hingga saat ciuman Tracy menyapu bibirnya yang kering, dia tak merespons dengan cepat.

Tracy menatapnya heran. Tak biasanya Alex begitu dingin seperti ini. Bahkan, dia tidak membalas ciumannya?

"Aku akan bersiap-siap." Alex bicara ke wajah Tracy.

Wanita itu mengangguk dan segera bangkit dari pangkuannya.

Alex dan wajah yang dingin segera melenggang pergi begitu saja. Tracy menatap punggung suaminya dengan perasaan heran.

"Alex ..."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED