Kubuka mata saat suara alarm ponsel meraung-raung di atas meja. Tanpa perlu melihat jam, aku tahu pasti saat ini memang sudah waktunya untuk bangun. Tepat pukul 05.00, aku menyetel alarm itu.
Aku menghela napas panjang, sebelum benar-benar mencoba bangun dari ranjang. Gerakanku terhenti karena sebuah tangan yang tengah melingkar posesif di pinggangku. Kulirik sekilas pemilik tangan itu yang masih tertidur nyenyak di sampingku.
Tersenyum kecil dikala menatap wajah polos teman tidurku ini yang tidak lain merupakan suamiku sendiri. Raefal Syahreza namanya, tepat berusia 36 tahun di tahun ini. Usia yang sama sepertiku karena kami seumuran, hanya terpaut lima bulan saja. Pria yang sudah kunikahi sepuluh tahun lamanya. Pria yang seolah seumur hidupku selalu ada dia di sampingku.
Sebelum resmi menjadi suami-istri, kami menjalin hubungan selama tujuh tahun lamanya. Pertama kali berpacaran, saat itu kami masih duduk di bangku SMA. Seulas senyum selalu tersungging di bibirku setiap kenangan manis itu terlintas.
Aku tak akan mengatakan suamiku ini pria yang sempurna, mungkin masih banyak pria lain yang jauh lebih sempurna darinya di luar sana. Tapi bagiku, pria ini memang sangat sempurna. Parasnya yang menurutku tampan, otak cerdasnya yang selalu berhasil membuatku berdecak kagum, kemandiriannya yang membuat keluargaku sekalipun selalu memujinya. Dia sosok orang yang begitu dibanggakan bukan hanya oleh keluarganya, tapi juga oleh keluargaku.
Namun, dari semua hal istimewa yang dimilikinya, kebaikan hatinya serta perhatiannya padaku dan keluarga kecil kami adalah segalanya bagiku. Menjadi alasan yang membuatku bertahan bersamanya sampai detik ini dengan cinta tulusku yang hanya kupersembahkan untuknya.
Sesibuk apa pun dia di tempat kerja, tak pernah sekali pun mengabaikan kami. Itu dia yang membuatku sangat mencintai suamiku. Baginya keluarga adalah segalanya. Meski kini dia tengah bersinar dalam karir bisnisnya. Kesibukan dalam bekerja tak pernah membuat dirinya mengabaikan keluarganya.
Aku tahu betul bagaimana dia saat masih bukan apa-apa, saat dia hanya seorang pemuda yang tengah menuntut ilmu setinggi-tingginya. Pemuda yang rela mengejar beasiswa demi kelangsungan pendidikannya karena dia bukan berasal dari keluarga berada.
Akulah saksi hidup bagaimana kerasnya perjuangan suamiku ini hingga dia meraih kesuksesan seperti sekarang. Dia yang awalnya hanya pekerja biasa di sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang elektronik. Hyoma Industries nama perusahaannya sekaligus merk produk elekronik mereka. Sudah tujuh tahun suamiku bekerja di perusahaan itu, sekarang dia telah menjabat sebagai General Manager di salah satu cabang perusahaan yang terletak di kota Bandung. Terhitung sudah hampir tiga tahun kami menetap di Bandung ini, menempati rumah dinas yang disediakan perusahaan.
Aku memindahkan dengan perlahan tangan suamiku, khawatir pergerakanku akan membuatnya terbangun. Setelah memastikan tidur suamiku tak terganggu, aku berjalan santai menuju kamar mandi, berniat untuk mandi.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk mandi, hanya menghabiskan sepuluh menit saja. Setelahnya aku bergegas menuju dapur, aku harus menyiapkan sarapan untuk kami bertiga hari ini. Sudahkah aku bercerita bahwa di rumah ini kami tinggal bertiga?
Aku, suamiku dan Raffa ... putra semata wayang kami yang kami dapatkan setelah empat tahun usia pernikahan. Sungguh dia putra yang kami nanti-nantikan. Kini usianya menginjak 6 tahun, dan dia sudah bersekolah di taman kanak-kanak tak jauh dari kantor suamiku.
Setibanya di dapur, aku menyiapkan makanan sederhana. Roti bakar untukku dan suamiku, serta sereal untuk putra kesayanganku. Tak lupa kubuatkan juga teh manis hangat untuk suamiku dan susu coklat untuk Raffa.
“Hm, selesai.”
Kupandangi dengan bangga hasil kerja kerasku yang kini terhidang di atas meja. Sarapan pagi kami telah siap, kini harus kulakukan tugas selanjutnya. Bisa dikatakan inilah tugas rutinku setiap hari, terutama di pagi hari.
Aku kembali masuk ke dalam kamar. Kutemukan suami tercintaku masih bergelung manja di tempat tidur kami. Kuhampiri dia, tanpa pikir panjang atau merasa ragu, kusingkap selimut tebal yang membungkus tubuh tegapnya. Aku merona hebat saat tatapanku tertuju pada perut kekarnya, karena semalam dia tidur dengan bertelanjang dada. Padahal sudah sepuluh tahun aku menjadi istrinya, terhitung sudah tujuh belas tahun sejak kami berpacaran, aku selalu berada di sampingnya. Tapi, tetap saja melihat tubuh kekar suamiku yang menjadi salah satu alasanku membanggakan dirinya, selalu membuatku tersipu malu.
“Sayang, bangun. Udah jam enam, nanti kamu telat ke kantor.”
Dia tak menyahut atau pun membuka kedua matanya. Dia tetap bergeming di tempat tidur dengan posisi yang sama yaitu tengah telentang di atas kasur. Kuulurkan tangan, berniat untuk mengguncang tubuhnya. Dan saat itulah aku sadar telah melakukan kesalahan.
Dengan sekali hentakan dia menarik tanganku yang terulur padanya. Seketika tubuhku jatuh menimpa dirinya. Ketika aku hendak bangun, dia memelukku erat sehingga aku tak sanggup berkutik dalam kungkungannya ini.
“Kamu apaan sih? Lepasin. Nanti kamu telat lho.”
“Aku masih ngantuk. Kamu temenin aku tidur bentar lagi ya,” sahutnya manja, dia memelukku seolah aku sebuah guling.
“Jangan gini, serius kamu bisa telat. Lagian aku harus bangunin anak kamu juga.” Kudengar suara erangan, sepertinya dia tak suka mendengar penolakanku.
Ketika akhirnya aku terlepas dari kungkungannya, aku bergegas bangkit berdiri.
“Ayo cepat bangun Mr Raefal sang pemalas.” Kutarik tangannya setelah menggodanya dengan ejekan itu. Dia pun tak menolak kali ini, dengan mudah aku berhasil mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
“Aku masih ngantuk banget. Serius,” katanya lagi, beralasan.
“Salah sendiri kenapa begadang semalam.”
“Ya, mau gimana lagi, aku harus nyiapin bahan buat meeting.”
“Kamu ada meeting hari ini?” Dia menjawab dengan anggukan kepala.
“Berarti kamu telat pulang hari ini?”
“Iya, tapi aku usahain cepat pulang. Kalau meeting-nya selesai, aku pasti langsung pulang.”
Kali ini aku yang mengangguk. Mau bagaimana lagi, dia seorang pimpinan cabang, menghadiri meeting sudah menjadi rutinitasnya. Sebagai istri, aku hanya bisa memaklumi di saat dia harus pulang larut karena meeting yang terkadang memakan waktu sampai malam.
“Ayo, mandi sana!”
Kulihat dia masih bermalas-malasan untuk bangun. Terpaksa aku pun melakukan tindakan. Aku mendorong punggungnya agar tubuhnya yang sudah berdiri menjulang di hadapanku sekarang, bisa bergerak menuju kamar mandi.
“Kita mandi bareng, gimana?” Ajaknya seraya mengedipkan sebelah mata, jahil.
“Jangan ngaco. Kamu kayak Raffa aja minta mandi bareng.” Jelas aku menolak permintaan konyolnya ini.
“Dulu kita sering mandi bareng. Udah lama kamu gak gosokin punggung aku,” katanya lagi, aku memutar bola mata, malas.
“Pergi aja ke tempat spa kalau mau luluran.” Dia mengendikan bahunya mendengar jawabanku ini.
“Kalau Raffa yang minta pasti gak bakalan kamu tolak.”
“Ya, iyalah. Dia itu kan masih kecil.”
“Aku kok jadi cemburu ya sama Raffa,” katanya sukses membuatku terkekeh geli.
“Ya ampuun, masa sama anak sendiri cemburu sih? Udah, sana mandi. Aku mau bangunin Raffa dulu.”
Setelah itu, tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan mendekati lemari. Kusiapkan setelan pakaian yang akan dikenakan suamiku pagi ini. Aku menghela napas lega saat dengan ekor mata melihat pergerakan suamiku menuju kamar mandi.
Seperti rencana awal, aku beranjak menuju kamar putra kesayanganku. Sempat terkejut saat kudapati dia sedang duduk di depan meja belajarnya. Tatapannya menunduk ke bawah meja seolah tengah mengerjakan sesuatu. Cepat-cepat kuhampiri dia. “Raffa sayang, kamu udah bangun?”
Dia menoleh padaku disertai senyuman lebar, membuatku gemas ingin mencubit pipi gembilnya.
“Kamu lagi apa?”
“Bikin gambar, Mom,” sahutnya, dia menunjukan gambar yang baru saja dibuatnya. Sebuah gambar rumah sederhana khas buatan tangan anak-anak seusianya.
“Woow, apa ini rumah kita?”
“Iya, Mom. Kok Mommy tahu?” tanyanya dengan bola mata bulatnya mengarah padaku. Dia terlihat semakin menggemaskan.
“Karena gambarnya mirip sama rumah kita.” Jawabanku ini sepertinya membuat putraku senang bukan main. Dia melompat-lompat kecil di lantai seraya memeluk gambarnya erat.
“Ayo, kamu mandi dulu. Bentar lagi kan harus berangkat sekolah.”
Berbeda dengan ayahnya yang memiliki seribu alasan untuk menolak, putra kesayanganku ini menuruti ucapanku detik itu juga.
“Mau Mommy mandiin?”
“Gak usah, Mom. Aku bisa mandi sendiri!!” teriaknya dari dalam kamar mandi. Aku tersenyum lebar merasa bangga pada putraku yang sudah belajar mandiri padahal usianya masih sangat kecil.
Sambil menunggu dia selesai mandi, aku menyiapkan pakaian seragamnya. Tak lupa aku memastikan buku-buku dan peralatan sekolah lainnya yang harus dia bawa hari ini. Hanya membutuhkan waktu lima menit, Raffa berjalan riang menghampiriku dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Kubantu dia mengenakan seragamnya. Setelah penampilannya rapi, kami pun berjalan bersama-sama menuju ruang makan.
“Selamat pagi, Daddy,” pekik girang Raffa saat mendapati ayahnya sudah duduk manis di ruang tamu. Tanpa ragu dia naik ke pangkuan ayahnya. Aku tersenyum kecil melihat pemandangan mengharukan ini.
“Selamat pagi juga jagoan Daddy. Gimana tidur kamu semalam? Nyenyak?” Raffa mengangguk penuh semangat, tertawa lepas saat dengan jahilnya suamiku menggesek-gesek dagunya di leher Raffa.
“Daddy, tadi aku gambar rumah. Mommy bilang, gambarnya mirip sama rumah kita.”
“Oh, iya? Mana coba Daddy lihat?”
“Mommy, gambar aku mana?” tanya Raffa, tatapan lucunya tengah mengarah padaku.
“Ada di kamar kamu.”
“Ambilin dong, Mommy. Aku mau lihatin ke Daddy,” pintanya sambil merengek. Kuhembuskan napas pelan saat mendapati sifat manja putraku mulai kambuh.
“Nanti aja Daddy lihat gambarnya. Lihat tuh, nanti kamu telat berangkat sekolah. Daddy juga harus berangkat kerja.”
“Yaaah ... Mommy,” rajuknya, dia mengerutkan bibir. Cemberut karena tak suka dengan penolakanku ini.
“Nanti sepulang kerja, Daddy pasti lihat gambarnya. Sekarang Raffa makan ya serealnya. Jangan nakal, nanti Mommy marah lho.”
“Iya, Mommy kalau marah kan seram, kayak singa.”
Aku hanya bisa menggeleng saat mendengar obrolan suami dan putraku. Setelahnya tak ada lagi ocehan, keduanya mulai fokus dengan makanan masing-masing.
15 menit berlalu, suamiku akhirnya menyelesaikan sarapannya. Dia mengambil tas kerja, mengecup puncak kepala Raffa yang masih asyik menyantap sereal, sebelum mengajakku berjalan menuju pintu.
“Aku berangkat dulu ya. Hati-hati kalau lagi di jalan nganterin Raffa,” ucapnya menasihatiku. Aku mengangguk mengerti.
“Kamu juga hati-hati di jalan. Lancar ya kerjaan kamu hari ini.” Setelah mengatakan ini dengan setulus hati, seperti biasa aku mencium punggung tangannya. Sama seperti biasanya pula dia akan mencium kening, pipi kanan dan pipi kiri, lalu berakhir mengecup lembut bibirku. Dia pun berjalan menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir di depan rumah kami. Aku melambaikan tangan padanya, membalas lambaian tangan dia padaku begitu mulai melajukan mobilnya.
Sekilas pernikahan kami terlihat harmonis, bukan? Kami berdua yang terlihat saling mencintai tanpa ada masalah apa pun di kehidupan rumah tangga kami. Ya, memang benar jika dilihat dari luar, kami terlihat sebuah keluarga bahagia. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Setidaknya sampai aku mulai kehilangan kepercayaan pada suamiku.
Semuanya berawal dari satu bulan yang lalu. Saat aku membereskan tas kerjanya, tanpa sengaja aku melihat sebuah kotak beludru berwarna merah. Kotak di mana di dalamnya sebuah kalung indah terpajang. Aku pasti akan senang jika kalung itu disiapkan suamiku untuk diberikan padaku. Namun, setelah kuperhatikan baik-baik, kalung itu jelas bukanlah untukku. Ada inisial nama ZK di liontin kalung itu. ZK jelas bukan inisial namaku, karena inisial namaku adalah IG, Indira Gianina.
Dari sanalah awal kecurigaanku dimulai, terlebih saat aku mendengar tetangga yang sudah seperti saudara bagiku, memberitahu dia pernah memergoki suamiku tengah makan bersama seorang wanita di sebuah restauran ternama.
Dari sinilah kisahku dimulai. Kisah penyelidikanku untuk membuktikan kecurigaan ini, sekaligus mencari tahu nama di balik inisial ZK yang telah berhasil merebut perhatian suamiku.
Waktu menunjukan tepat pukul 20.00 saat ini, seperti biasa pada jam segini suamiku sudah berada di rumah. Setiap hari dia pulang pukul 5 sore dari kantor, karena jarak antara kantor dan rumah kami yang terbilang cukup dekat, pukul 6 sore biasanya dia sudah tiba di rumah. Itu pun jika dia tidak ada meeting atau pekerjaan tambahan lain di luar kantor yang membuat dia pulang terlambat.
Bisa dikatakan cukup jarang dia terlambat pulang. Sekali pun harus pulang telat, dia pasti akan mengabariku lebih dulu. Mungkin karena alasan dirinya begitu terbuka yang membuatku tak pernah meragukan kejujurannya selama sepuluh tahun pernikahan kami.
Kutemukan suami dan putra semata wayang kami, Raffa ... tengah asyik duduk di depan televisi seraya tangan mereka sibuk memegang stick game. Mereka sedang memainkan playstation, game Ninja Ultimate jika kulihat dari layar televisi di mana di sana memperlihatkan dua tokoh ninja sedang bertarung sengit.
“Yeee, aku menang. Daddy kalah!” pekik girang Raffa karena berhasil memenangkan permainan. Raefal, suamiku ... berpura-pura memasang wajah ingin menangis, sontak membuat Raffa tertawa terpingkal-pingkal melihatnya, terlihat begitu senang.
Kugelengkan kepala sejenak melihat tingkahlaku kedua orang itu, sebelum kuputuskan untuk ikut bergabung bersama mereka. Aku duduk di sofa tepat di belakang mereka yang memang duduk di atas karpet.
“Mommy, aku menang. Daddy kalah. Daddy payah ya?” ujar putraku disertai senyuman polosnya yang tak pudar. Aku tersenyum kecil menanggapinya.
“Siapa bilang Daddy payah?” sahut suamiku, berpura-pura tersinggung.
“Iya, Daddy payah soalnya Daddy kalah terus maen game-nya.” Dengan pintarnya putraku menyahut.
“Itu karena kamunya aja yang jago maen game, bukan karena Daddy yang payah.”
Raffa tertawa geli saat Raefal tiba-tiba menggendongnya, lalu dia memeluk erat Raffa. Sesekali dia menggelitik tubuh Raffa, sukses membuat putra kesayangan kami itu menggelinjang kegelian dengan tawa kencangnya yang membahana di seisi rumah.
“Sayang, udah. Kasihan Raffa.” Aku yang mengatakan ini, saat kulihat Raffa tertawa berlebihan seraya memegangi perutnya yang mungkin mulai kesakitan karena terlalu banyak tertawa, aku pun tak tega melihatnya.
Raefal tak mengatakan apa pun, dia memilih menuruti ucapanku tanpa bantahan apa pun, terlihat dari dia yang berhenti menggelitik Raffa dan melepaskan pelukannya.
“Ayo, Daddy, main lagi.”
“OK, Daddy pasti nggak akan kalah. Kali ini pasti Daddy yang menang,” ujar suamiku penuh semangat. Setelah itu permainan mereka kembali dimulai.
Sedangkan aku masih tetap setia duduk di belakang mereka. Sesekali kupandangi putraku yang tampak bersemangat memegang stick di tangannya, terkadang suara teriakan meluncur dari mulut mungilnya, mengundang kekehan untukku dan tawa untuk Raefal.
Sesekali pula aku memandangi punggung tegap suamiku, bagaimana dia tampak menikmati permainan game-nya bersama Raffa. Senyuman tak pernah luntur dari bibirku saat melihat pemandangan di depanku ini, tidak pernah ... sampai ingatan tentang kalung itu kembali menari-nari di kepalaku.
Kalung dengan liontin berinitial ZK yang telah kupastikan menghilang dari tas kerja Raefal. Mungkinkah sudah dia berikan kalung itu pada pemilik initial ZK itu? Aku tak tahu jawabannya karena aku sendiri tak berani untuk menanyakannya pada Raefal. Aku terlalu takut, takut jawaban yang kudengar nanti akan menghancurkan hatiku. Suara jeritan Raffa yang kembali memenangkan permainan kembali menyapa gendang telingaku, membuat semua lamunanku buyar seketika.
“Tuh, kan, Daddy emang payah. Lihat, aku menang lagi. Iya, kan, Mommy? Daddy memang payah?” Aku tersenyum lebar menanggapinya, lalu kuberikan anggukan sebagai bentuk persetujuanku. “Iya, Daddy emang payah ya. Kamu yang terbaik,” jawabku.
Raffa bangkit berdiri dari duduknya, dia melompat-lompat riang seraya tiada henti mulut mungilnya berteriak kegirangan. “Daddy payah, Daddy payah.” Begitu katanya berulang-ulang.
“Kamu kok bilang gitu sih, bukannya belain aku,” rajuk Raefal seraya menoleh padaku. Aku tak tahu harus bereaksi apa selain tertawa mengikuti tawa putraku yang belum reda.
“Ayo, maen sekali lagi. Kali ini Daddy pasti menang,” ajak suamiku yang langsung diangguki penuh semangat oleh Raffa.
Saat itulah aku melirik ke arah jam yang terpajang apik di dinding ruangan, membulatkan mata saat menyadari waktu sudah menunjukan pukul 9 malam sekarang. “Udah cukup mainnya ya. Waktunya Raffa tidur.” Aku yang mengatakan ini, aku beranjak bangun dari posisi duduk. Kuambil stick yang sedang dipegang Raffa.
“Yaah, Mommy, aku masih mau maen game sama Daddy,” rajuk Raffa, menolak saat aku merebut stick itu darinya.
“Besok lagi maen game-nya. Udah jam sembilan, waktunya kamu tidur. Ayo, cepat. Kita ke kamar kamu.” Raffa menoleh ke arah Raefal seolah meminta bantuan pada ayahnya untuk membujukku. Kupelototi Raefal ketika dia menatapku, membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Dia pun meringis begitu menyadari penolakanku melalui sorot mataku ini.
“Mommy ngambek tuh. Kamu tidur aja ya, besok kita maen game lagi,” ucap Raefal, akhirnya memilih membantuku membujuk Raffa.
“Yaah, tapi aku masih mau maen game.”
“Besok kita lanjutin ya, Daddy janji.”
“Harus ditepatin ya Daddy janjinya,” ucap Raffa sembari mengulurkan jari kelingkingnya pada Raefal. Raefal terkekeh melihat tingkah laku putra kami yang sangat menggemaskan ini, lantas tanpa ragu dia pun mengulurkan kelingkingnya. Jari kelingking mereka pun bertautan setelahnya. Aku hanya tersenyum kecil melihat pemandangan itu.
“Aku ke kamar Raffa dulu ya, nemenin dia tidur,” pamitku, yang langsung diangguki oleh Raefal.
Aku dan Raffa berjalan santai menuju kamar Raffa, tangan kami saling bergandengan disertai mulut kecil Raffa yang tak hentinya mengoceh. Raffa memang sumber kebahagiaan dan keceriaan dalam hidupku. Tanpa dia, entahlah ... aku tak tahu sanggupkah aku setegar ini saat hatiku tengah gundah karena kepercayaan pada suamiku yang mulai goyah.
Setibanya di kamar Raffa. Aku membantunya berganti pakaian dengan piyama tidur. Kuselimuti dia begitu tubuh kecilnya sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur. Menepuk-nepuk pahanya pelan, suatu kebiasaan yang kulakukan setiap malam agar dia cepat tertidur.
Setelah 30 menit berlalu, dan setelah kuyakini Raffa sudah tertidur pulas. Aku pun keluar dari kamar putraku. Aku mengernyitkan dahi ketika mendapati suamiku masih duduk di depan televisi. Layar televisi tampak menayangkan sebuah film action hollywood, entah apa judulnya karena aku lebih tertarik untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan suamiku. Kepalanya tertunduk, terlihat jelas tidak tertuju pada layar televisi, melainkan tertuju pada layar ponsel dalam genggaman tangannya. Dari belakang, kulihat jemarinya begitu lihai menari-nari di atas keypad ponsel, bukti nyata bahwa dia sedang mengetik pesan yang akan dia kirimkan pada seseorang. Aku berdeham cukup kencang, tentu dia mendengarnya karena kini dia refleks menoleh ke arahku.
“Raffa sudah tidur?” tanyanya.
Kujawab dengan anggukan kecil, “Kamu lagi apa?”
“Nonton film. Sini, nonton bareng,” katanya sambil menepuk-nepuk karpet kosong di sebelahnya. Aku menggeleng, tak berminat untuk menonton film saat ini.
“Aku ngantuk. Mau tidur aja. Ini udah malam, mendingan kamu juga tidur. Besok pagi kamu harus kerja lagi lho.”
Dia tersenyum kecil mendengar jawabanku, “Belum ngantuk, filmnya seru. Ya udah, kamu tidur duluan. Bentar lagi aku nyusul.” Mendengar dia menjawab seperti itu, tak ada alasan lagi bagiku untuk tetap berada di sini, lantas aku pun melanjutkan langkah menuju kamar kami.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk tertidur lelap, banyaknya kegiatan hari ini cukup menguras tenaga. Aku benar-benar butuh istirahat.
Di tengah-tengah tidur lelapku, aku terperanjat kaget saat merasakan benda kenyal, basah dan hangat menyentuh bibirku. Cepat-cepat kubuka kedua mata, mengernyit bingung tatkala wajah Raefal sudah berada tepat di depan wajahku. Barusan dia menciumku.
“Happy birthday, Sayang,” katanya seraya menarik tanganku agar bangun dari posisi berbaring. Jujur kesadaranku belum terkumpul, aku juga masih terkejut dengan tindakannya yang membangunkan tidur lelapku.
Tanpa kata kuikuti dia yang masih menarik tanganku agar mengikutinya keluar kamar. Dia memapahku perlahan menuruni tangga rumah kami. Aku masih terdiam, membiarkan dia mengajakku kemana pun dia pergi. Hingga saat kami sudah berada di ruang makan, aku terbelalak, terkejut luar biasa.
Di atas meja makan tersaji sebuah kue black forest berukuran sedang dengan lilin yang membentuk angka 36 tertancap di permukaan kue itu, lilinnya dalam keadaan menyala. Ada juga beberapa makanan seafood favoritku seperti cumi goreng dan udang pedas, sudah terhidang di atas meja. Terlihat begitu menggiurkan hingga tanpa sadar aku menelan saliva.
“Selamat ulang tahun yang ke-36, Sayang. Wish you all the best,” katanya sembari mengecup lembut bibirku.
Kesadaranku pun tertarik ke alam nyata sepenuhnya. Bagaimana mungkin aku melupakan hari penting ini? Benar, hari ini merupakan hari ulang tahunku. Kini usiaku tepat menginjak 36 tahun sama seperti Raefal yang berulang tahun lima bulan yang lalu.
Saat aku melirik ke arah jam dinding, waktu menunjukan pukul 00.12, tepat tengah malam. Aku terharu, tak menyangka sedikit pun Raefal menyiapkan kejutan seindah ini untukku.
“Ayo, tiup lilinnya,” pintanya, aku tak menolak. Bergegas kutiup lilin itu.
Aku pun memotong kue, lalu kuberikan suapan pertama untuk suamiku tentunya. Kami tertawa bersama saat potongan kue yang kusuapkan padanya tidak sengaja terjatuh hingga mengotori kaos putih yang dikenakan Raefal. Dia tidak marah karena kecerobohanku ini. Dia juga menahan tanganku saat aku berniat menghapus noda kotor di kaosnya itu dengan tissue. Dia menggenggam tanganku yang tengah memegang tissue, lalu dia mengecup lembut punggung tanganku. Sudahkah aku mengatakan bahwa suamiku ini memang sangat romantis?
Tindakan mesra seperti mengecup punggung tanganku dengan lembut memang sudah sering dia lakukan. Aku tak terkejut melihatnya meskipun rona merah selalu muncul di pipiku setiap kali dia memperlakukan aku semanis ini.
“Ayo, kita makan,” ajaknya. Dia pun menarik kursi yang akan kududuki.
“Kamu yang masak?” tanyaku penasaran. Raefal mengangguk, aku percaya dengan pengakuannya ini. Aku tahu betul sepintar apa suamiku dalam hal masak memasak.
“Kalau kue ini?” tanyaku lagi.
“Aku pesen tadi pake gojek online,” jawabnya.
Aku mencoba berpikir positif, mungkin inilah yang sedang dilakukan Raefal ketika kudapati dia sedang sibuk memainkan ponselnya tadi, dia sedang memesan kue ini menggunakan jasa gojek online. Semoga saja memang inilah yang terjadi, alasan dia mengabaikan film yang diputar di depannya dan lebih memilih fokus pada layar ponsel.
Setelah itu, kami pun menyantap makanan dengan lahapnya. Kami memang memiliki banyak kesamaan, termasuk jenis makanan favorit kami, makanan apa pun selama itu berbahan seafood.
“Aku gak nyangka kamu inget hari ulang tahun aku?” Kutanyakan ini di sela-sela aktivitas makan kami.
“Memangnya pernah aku lupa hari ulang tahun kamu?” katanya balas bertanya.
Aku mencoba mengingat-ingat, lalu kugelengkan kepala saat menyadari dia memang tak pernah melupakan hari ulang tahunku. Setelah aku pikir-pikir lagi, justru akulah yang sering nyaris melupakan hari ulang tahunnya.
“Makasih kejutannya.”
“Kamu suka?”
“Sangat,” jawabku jujur. Kami pun kembali menyantap makanan dengan tenang.
“Sayang, aku boleh gak nanya sesuatu?” Kembali kukatakan ini, ada sesuatu yang mengganjal hatiku, begitu ingin kutanyakan padanya saat ini juga.
“Apa?” Dia sedang menatapku sekarang.
“Selain aku, ada nggak wanita lain yang kamu suka?”
Raefal mengernyitkan dahi beberapa detik, sebelum dia kembali menormalkan ekspresi wajahnya. “Nggak ada, cuma kamu aja,” jawabnya. Kedua matanya masih fokus menatap wajahku.
“Masa sih? Nggak pernah gitu kamu ngelihat wanita cantik, terus kamu tertarik sama dia?”
“Nggak pernah tuh.”
“Hm, gitu ya ....” gumamku. Dia menunduk, kembali melanjutkan aktivitas makannya.
“Kamu gak bosen sama aku? Kita kan udah lama sama-sama terus?”
Dia pun kembali mendongak begitu pertanyaan itu meluncur dari mulutku. “Bosen? Nggak mungkinlah. Aku tuh sayang banget sama kamu.”
“Cuma sayang? Kamu udah gak cinta sama aku?” Aku berani bersumpah, dia sempat terenyak kaget mendengar pertanyaanku itu.
“Cinta dong pastinya.”
“Beneran kamu cinta aku?” tanyaku, sekali lagi memastikan.
“Iyalah, cinta banget.”
“Sampai kapan kamu bakalan cinta sama aku?” Kudengar Raefal mendengus mendengar pertanyaanku kali ini. Sebelum dia terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Sampai kapan pun. Selama-lamanya.” Itulah jawabannya tak lama berselang.
“Kalau aku pergi. Kalau aku udah gak ada di samping kamu. Kira-kira kamu sedih nggak?” Pertanyaan kesekian kalinya yang kuajukan padanya.
“Pastinya sedih banget. Kamu kok nanya kayak gitu?” Kali ini dia balik bertanya, satu alisnya terangkat naik mungkin heran karena tak biasanya aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini padanya.
“Cuma iseng aja kok,” jawabku, tentu aku berbohong. Nyatanya aku serius menanyakan ini semua padanya.
“Udah, jangan nanya yang aneh-aneh terus. Oh, iya. Aku ada hadiah buat kamu.”
Setelah mengatakan itu, kulihat dia mengeluarkan sesuatu dari bawah meja. Sebuah paperbag berhiaskan pita di bagian depannya. Dia berikan paperbag itu padaku, yang tentu saja langsung aku terima tanpa ragu.
Aku membuka paperbag, tak sabar ingin segera melihat isinya. Jauh di lubuk hati, aku sangat berharap paperbag itu berisi kalung yang kutemukan di dalam tas kerjanya. Meskipun harapan itu rasanya mustahil bisa terjadi. Dan benar saja harapanku memang tak terkabul ketika kudapati isi di dalam paperbag merupakan sebuah ponsel mewah keluaran terbaru yang harganya pasti sangat fantastis.
“Gimana? Kamu suka?” tanyanya antusias.
Aku tertegun sejenak memandangi ponsel itu, sebelum akhirnya aku mengangguk penuh semangat seraya tersenyum lebar padanya. Terlihat seperti aku benar-benar bahagia padahal nyatanya hatiku sangat kecewa.
“Makasih ya, Sayang.” Aku tulus mengatakan ini. Dia menyeringai mendengarnya, mengundang kernyitan heran di dahiku. Ketika dia tiba-tiba meraih tanganku, lalu menariknya paksa hingga aku berdiri dan berakhir terjatuh di atas pangkuannya, aku tahu ada niat terselubung di balik seringaian menyebalkannya tadi.
“Cuma itu ucapan makasih dari kamu?” tanyanya seraya mengedipkan sebelah mata, menggodaku.
“Memangnya kamu maunya aku ngucapin makasih pake cara apa?”
“Serius kamu nanya?” Aku mengangguk, walaupun sebenarnya aku bisa menebak apa yang sedang berputar-putar di dalam otaknya.
“Baiklah, aku kasih tahu kalau gitu.”
Begitu selesai berucap, dia mendaratkan ciuman penuh hasrat tepat di bibirku. Lalu berdiri, memangku tubuhku seolah baginya tubuhku seringan kapas. Dia tampak tak kesulitan ketika berjalan menaiki tangga menuju kamar kami padahal aku berada dalam pangkuannya. Bibir kami masih saling memagut, baik aku maupun dia, tak ada yang berniat melepaskannya.
Kepercayaan pada suamiku memang mulai menghilang secara perlahan. Sepertinya tak ada jalan lain bagiku selain menyelidiki sendiri pemilik kalung itu. Karena bertanya langsung pada Raefal sepertinya mustahil dia akan mengatakannya dengan jujur jika kulihat dari jawaban-jawabannya tadi. Seolah tak ada wanita lain dalam hidupnya selain aku. Aku pasti akan menyelidikinya sampai aku tahu siapa wanita yang memiliki nama initial ZK itu.
Tapi untuk saat ini, tak ada pilihan bagiku selain menjalankan tugas sebagai seorang istri yang harus melayani kebutuhan biologis suamiku. Seandainya suamiku benar berselingkuh di belakangku, biarkan dia yang menanggung dosanya. Jangan aku. Karena aku akan tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang istri meskipun saat mengingat kemungkinan dia berselingkuh, membuatku kehilangan minat untuk bercinta dengannya.