Aku baru saja terlelap tidur ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris dari istriku.
“Tidak…!”
Suaranya yang melengking dari ruang tengah itu langsung membuatku terlonjak. Aku segera melompat dari ranjang mencari keberadaan Izzah. Dia berdiri di atas timbangan dengan muka tegang.
“Ada apa, Zah? Kenapa teriak?”
“I-ini Mas… Timbangannya….”
“Kenapa timbangannya?”
“Jarumnya…. Geser ke kanan….”
Seketika aku tepuk jidat. Aku merasa kesal. Dia benar-benar lebay. Tega-teganya dia berteriak lantang hingga aku terbangun dengan nyeri kepala. Padahal aku bisa tidur siang seperti ini hanya di akhir pekan.
Kulihat dia menunduk dalam. Kakinya perlahan turun dari timbangan. Dia sepertinya merasa bersalah.
“Kamu berteriak tadi cuma karena ini?” tanyaku penuh emosi.
“Apa kamu bilang, Mas?” Tiba-tiba dia mendongakkan kepala. “Cuma karena ini?”
Aku mengernyitkan dahi.
“Ini perkara penting, Mas. Kamu jangan meremehkan, ya. Kalau berat badanku terus bertambah, Body Mass Index bisa bergeser dari normal-ideal menjadi gemuk bahkan obesitas. Kalau sudah obesitas, maka risiko terkena penyakit degenerative akan semakin meningkat, Mas. Apakah kamu mau jika aku terkena penyakit jantung, diabetes mellitus type 2, hipertensi, sesak napas, gangguan reproduksi, kanker, bahkan stroke?”
“Astagfirullah. Aku tak maulah, Zah.” Aku mengelus dada.
“Makanya, jangan bilang ‘cuma’ gitu dong Mas!” Matanya berkaca-kaca.
Dia berlalu dari hadapanku dan berlari ke belakang rumah. Aku bingung sejenak. Perasaan tadi Izzah yang bersalah duluan, mengapa sekarang malah aku yang tersudutkan?
Aku pun menyusulnya. Ternyata, dia sedang menangis di pojokan. Pelan-pelan aku mendekatinya. Suara isak tangisnya terdengar semakin jelas.
“Zah,” panggilku pelan. “Maafkan aku, ya.”
Kata-kata itu meluncur lancar. Aku sudah terbiasa melakukannya. Meskipun tidak bersalah, aku seringkali meminta maaf lebih dulu. Bagiku, meminta maaf tidak akan menjadikan harga diri rendah. Justru orang yang mau meminta maaf lebih dulu itu berjiwa besar. Kusentuh bahunya penuh kelembutan dan berharap dia baik-baik saja.
“Maaf, ya, Zah. Aku tidak tahu kalau masalah berat badan itu penting sekali buatmu.”
Izzah masih tetap menangis sesenggukan. Aku pun meraihnya ke dalam pelukan. Aku berdoa semoga saja tangisnya bisa reda.
“Maafkan aku, Zah.” Aku mengucapkan maaf dengan tulus ikhlas. Aku paham bahwa setiap rumah tangga itu penuh drama. Namun, aku tak mau drama itu menggagalkan pernikahanku yang kedua kalinya. Pernikahanku yang pertama kandas karena aku tak punya anak. Sharma, istriku yang pertama, memiliki rasa cemburu yang sangat besar meski kami sudah mengangkat anak. Dia bahkan memfitnahku beberapa kali. Akhirnya, rumah tangga kami berakhir.
“Aku minta maaf, ya, Zah. Aku tidak tahu kalau masalah berat badan itu sangat penting buatmu.” Aku meminta maaf sekali lagi. Dia mengangguk-angguk sambil tetap menangis. Kedua tangannya melingkari tubuhku saat ini.
“Besok aku mau diet, ya, Mas,” katanya di sela-sela isak tangis.
“Iya, iya.”
“Memangnya aku gendut banget, ya, Mas?”
“Tidak. Kamu tidak gendut.”
“Halah. Bohong.”
“I swear.”
“Suar-suer. Bohong itu dosa lho, Mas. Nabi Muhammad saja tidak pernah bohong. Beliau punya sifat shidiq yang artinya jujur dan ibumu memberi nama Arman Muhammad itu pasti supaya kamu meniru sifat Nabi Muhammad yang salah satunya jujur. Ayahmu memberi nama tambahan Geraldson itu pasti supaya kamu menjadi anak kebanggaannya. Tidak ada orang tua yang bangga punya anak pembohong, Mas. Mereka pasti merana di alam barzah sana.”
Aku tersentak ketika dia membawa-bawa nama kedua orang tuaku yang sudah meninggal. Aku tersadar, rupanya kata-kataku tadi salah. “Baiklah, aku jujur. Kamu gendut.”
Dia tiba-tiba melepaskan pelukannya. “Apa katamu, Mas?”
“Kamu gendut, Zah.”
“Kamu bilang apa, Mas?”
“Emm… Kurang jujur, ya?”
“Coba bilang yang benar!”
“Kamu gendut, Zah. Galak lagi.”
“Huwwa…!”
Tangisnya langsung pecah. Dia berlari ke dalam rumah. Aku bingung juga, kali ini salahku di mana?
Tanpa pikir panjang, aku segera mengejarnya. Dia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Cepat-cepat aku mengetuknya.
“Zah, Izzah!”
“Apa?” Suara Izzah terdengar serak.
“Buka pintunya!”
“Tidak mau, sebelum kamu menyadari kesalahanmu!”
“Kesalahanku apa? Katanya berbohong itu dosa. Begitu jujur, kamu tetap marah juga.”
“Kamu tidak tahu kesalahanmu, Mas?”
“Tidak.”
“Dasar lelaki tidak peka!”
“Bukannya tidak peka, tapi ….”
“Ada tiga kebohongan yang dibolehkan berdasarkan hadist riwayat Imam Muslim. Pertama, kebohongan dalam kondisi perang untuk menyelamatkan nyawa. Kedua, kebohongan untuk mendamaikan pihak-pihak yang berseteru. Ketiga, kebohongan suami-istri untuk saling menyenangkan hati.”
“Jadi, aku tadi….”
“Ya, kamu bersalah, Mas. Seharusnya tadi kamu tetap berbohong saja.”
Aku kembali menepuk jidat. Aku bingung dan merasa serba salah. Ingin rasanya aku marah. Namun, aku sadar, marah itu tidak bisa menyelesaikan masalah. Salah-salah malah masalahnya semakin bertambah.
Aku memilih menghela napas dalam-dalam. Aku pernah membaca bahwa menarik napas seperti ini dapat meredakan emosi. Kemarahan pun dapat terkendali.
Kurasa, aku tak bisa membiarkan istriku ini merajuk terlalu lama. Aku hanya ingin kedamaian dalam rumah tangga. Meminta maaf pun tak apa-apa.
“Ya, sudah. Aku salah lagi. Aku minta maaf lagi. Jangan marah lagi, ya. Aku janji tidak akan mengulanginya. Kamu mau memaafkanku ‘kan, Zah?”
Hening.
Tidak ada jawaban dari Izzah.
“Zah, jangan beginilah. Kamu satu-satunya keluarga yang kupunya. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Saudara-saudaraku jauh semua. Anak angkatku dibawa Sharma. Apa kamu tega membiarkanku sendirian?”
Tiba-tiba pintu terbuka. Izzah menubruk badanku dan memeluk erat. Betapa manja istriku sekarang. Padahal, dulu sebelum menikah denganku, Izzah ini sosok perempuan yang mandiri, tangguh, kokoh dan berdaya.
“Aku juga minta maaf, ya, Mas. Aku tidak bermaksud begini, tapi entah mengapa aku menjadi sangat sensitif. Apa lagi jika menyangkut pembicaraan tubuhku yang gendut. Aku jadi insecure.”
Aku tersenyum, merasa sangat lega di rongga dada. “Tak apa-apa, Zah. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Kamu tak perlu merasa insecure seperti itu.”
Kedua tanganku pun melingkari tubuhnya.
“Tapi, Mas ….”
“Sssttt! Jangan bicara lagi jika hanya membuatmu makin sedih sendiri. Kamu tahu? Aku ikut berduka kalau kamu tidak bahagia.”
Izzah mengangguk-angukkan kepala. Kami kemudian saling diam cukup lama. Kata-kata memang tidak selalu dibutuhkan untuk mengungkapkan cinta. Salah-salah malah bisa memicu perang dunia ketiga dalam rumah tangga.
“Ehm!” Terdengar suara dari jendela ruang tengah.
Spontan kami melepaskan pelukan dan menoleh ke sumber suara. Di sana terlihat seonggok kepala dengan rambut acak-acakan dan terlihat menyeramkan.
“Huwwa…!” Izzah yang penakut itu langsung melompat ke dalam kamar dan meringkuk di pojokan.
Aku geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Sejurus kemudian aku kembali memusatkan perhatian pada jendela. Aku mengamati dengan saksama. Pelan-pelan aku mendekatinya. Ternyata, seonggok kepala yang membuat Izzah ketakutan adalah ….
“Kahlil!” Aku berseru pada sesosok kepala yang menyembul di jendela ruang tengah.
Dia tertawa terbahak-bahak. “Aku bertamu tapi tak kunjung dibukakan pintu. Jadi, ya, aku mau lewat belakang. Eh, ternyata kalian di sini lagi peluk-pelukan.”
“Ya, sudah, ayo ke depan!”
Kahlil beringsut dari jendela. Aku menemuinya di teras, menyilakannya masuk, lalu kami berbincang-bincang di ruang tamu. Sebenarnya, aku dan istriku sudah bertemu Kahlil tadi pagi.
Seperti biasanya, aku libur bekerja di Hari Ahad. Izzah, istriku, kuajak bersepeda bersama sejak pagi buta. Dia menyetujuinya. Kami kemudian menyusuri jalan-jalan protokol Kota Semarang yang masih lengang. Kami santai saja mengayuh sepeda bersisian. Beberapa kali pesepeda lain menyalip kami berdua.
“Hai, Arman!” Salah satu pesepeda melambaikan tangan padaku. Aku mengenalinya sebagai salah satu teman sekolahku di SMP-SMA dulu.
“Hai, Kahlil!” Aku membalas lambaian tangannya.
Dia melambatkan laju sepedanya dan menyamai kecepatanku. “Itu Izzah? Istri barumu?”
“Iya.”
“Tambah gendut, ya.”
“Sehat, tahu! Daripada penyakitan.” Aku meninju bahunya pelan.
Dia tertawa sambil menyeimbangkan sepedanya yang sempat oleng. “Ya, sudah. Aku duluan, ya!”
“Ya!”
Kahlil kembali memacu kecepatan untuk menyusul teman-teman anggota klubnya yang berada jauh di depan. Sekejap kemudian, Kahlil dan teman-temannya sudah tak terlihat.
“Dasar teman tak ada akhlaq! Baru ketemu langsung body shamming.” Izzah menggerutu. “Untunglah aku lagi baik hati. Kalau tidak, sudah kutuntut ke pengadilan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!”
Aku tertawa. Bagiku, kata-kata dan mukanya yang ditekuk-tekuk itu sangat lucu. Izzah malah menatap tajam padaku.
“Kok tertawa sih, Mas? Nanti kita mampir toko alkes kalau pulang, ya. Aku mau beli timbangan.”
Aku langsung menghentikan tawaku. Ternyata candaan temanku tadi dianggapnya serius. Oleh karena itu, sepulangnya kami bersepeda, kami benar-benar mampir ke toko alat kesehatan (alkes) untuk membeli timbangan.
Ada berbagai macam timbangan di toko alkes itu. Aku memilihkan timbangan digital untuknya. Timbangan ini memiliki tingkat ketelitian 0,1 bahkan bisa menghitung persentase lemak. Namun, Izzah menjatuhkan pilihan pada timbangan jarum yang biasa-biasa saja.
“Ini saja, Mas. Harganya lebih murah,” katanya.
Aku mengiyakan saja keputusannya. Toh semua itu dibayar dengan kartu debit yang sudah kuserahkan padanya. Ya, dia memegang kartu debit yang berisi semua uangku. Sebulan sekali kartu itu kuminta kembali untuk mencetak semua transaksinya di buku tabungan dan mengambil jatah bulananku sebesar dua juta rupiah. Selebihnya, kuserahkan semua pada Izzah.
Kami kemudian pulang setelah membeli timbangan. Benda itu diletakkan Izzah di ruang tengah. Kami kemudian memasak berdua karena anak-anak sedang di rumah kakeknya. Setelah makan siang, aku bermaksud tidur siang. Tiba-tiba saja istriku berteriak kencang dan membuatku terbangun seketika.
Sekarang, Kahlil malah datang. Aku benar-benar tak bisa lagi tidur siang. Izzah kemudian membawa dua cangkir kopi di atas nampan. Setelah memberikan kopi ke kami, Izzah masuk ke dalam rumah lagi.
Baru saja Izzah sampai di pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah, Kahlil berkata, "Kamu tahu, Man? Kalian tadi seperti angka sepuluh saat saling memeluk. Kamu tinggi tegap seperti angka satu sedangkan istrimu pendek dan bulat seperti angka nol.”
“Angka sepuluh? Hahahahaha!” Aku tertawa mendengar leluconnya. Temanku ini memang suka bercanda.
Debum!
Tiba-tiba terdengar pintu kamar dibanting keras-keras. Kahlil sampai terlonjak dari sofa yang didudukinya. Aku dan Kahlil berpandang-pandangan. Sepertinya Izzah marah karena lelucon angka sepuluh terdengar olehnya.
Kahlil kemudian mengambil undangan dari tas kecil yang dibawanya. Dia memberikannya padaku. Aku meraihnya dan mulai membaca. Rupanya Kahlil hendak mengundangku ke acara perayaan pernikahan peraknya.
“Datang, ya. Kalau tidak, akan kuteror.” Kahlil tersenyum lalu menyeruput kopinya.
Kahlil hanya bertamu sebentar. Setelah dia pulang, aku bermaksud kembali tidur siang. Sesampainya di pintu kamar, sayup-sayup suara Izzah terdengar.
“Mark, bagaimana perasaanmu kalau jadi aku? Dia sama sekali tidak membelaku dan membiarkan temannya itu menghinaku, Mark!” Izzah menangis tersedu-sedu. “Berani-beraninya dia menyebut kami angka sepuluh! Suamiku seperti angka satu yang tinggi tegap sedangkan aku seperti angka nol yang pendek dan bulat! Kurang ajar, kan, Mark?”
Sebentar.
Apakah aku tak salah dengar?
Izzah curhat ke lelaki lain?
“Mark, aku kangen kamu! Huwwaa...!” Tangis Izzah terdengar lebay dan manja.
Aku mendadak terpancing emosi. Hasratku untuk melabrak Si Mark tak terkendali. Aku mendorong pintu kamar tapi dikunci.
“Buka pintunya, Zah!” Aku menggedor keras-keras.
“Mau apa?” Dia malah balik bertanya.
Kurang ajar perempuan ini. Sudah tahu aku tidak suka dibantah tapi sengaja melawan perintah yang kuberikan. Dia harus diberi pelajaran. Aku pun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintunya.
“Satu … dua … tiga!” Aku mengerahkan segenap tenaga.
Mendadak pintunya terbuka.
“Argh!” Aku melesat masuk ke dalam kamar, menabrak pinggiran ranjang, dan terjungkal.
Aku menghantam tembok dengan keras. Lengan kiriku terasa perih dan panas. Izzah mendekat dengan wajah pias.
“Ka-kamu tak apa-apa, Mas?”
“Menurutmu?” Aku geram sekali.
“Emmm, menurutku apa-apa, sih.” Izzah garuk-garuk kepala. “Sebentar, aku ambilkan obat anti memar.”
Aku memegang erat lengan kiri sambil menahan nyerinya. Namun, ini belum seberapa dibanding nyeri di dalam jiwa. Harga diriku sebagai lelaki dan sebagai suami terinjak-injak manakala istriku curhat pada Si Mark.
Izzah datang membawa krim trombo-trombo di tangan. Dia mengoleskannya di lengan kiriku hingga merata. Aku masih merasa geram padanya.
“Istirahat dulu, Mas, biar krim obatnya bekerja.” Izzah tersenyum manis setelah mengoles krimnya.
Pandai sekali dia bersandiwara, benar-benar seperti artis. Aku membalasnya dengan seyum meringis. Sebenarnya nyeri-nyeri ini hampir membuatku menangis. Namun, aku tahan-tahan demi menjaga harga diri sebagai seorang lelaki dan suami.
“Zah!” Aku memanggil ketika dia akan pergi. “Sini HP-mu!”
Dia melongo. “Buat apa, Mas?”
“Sini! Cepat!”
Izzah menarik napas panjang. “Baterai HP-ku hampir habis, Mas.”
Aku merasa geram dengan tingkah lakunya. Makin lama dia makin kurang ajar dan suka membantah. “Kamu tidak berani ngasih HP-mu karena baru saja menelepon lelaki lain bernama Mark, iya kan? Kamu curhat apa saja dengannya? Kalian sudah selingkuh berapa lama?”
Izzah terperangah. “Astagfirullah. Kamu menuduhku selingkuh, Mas?”
Izzah mengelus dadanya. Sok suci sekali dia. Aku semakin muak.
“Selingkuh itu zina, Mas. Tuduhan zina kepada istri oleh suaminya meski tanpa saksi dan bukti itu disebut talak li’an. Hati-hati lho Mas kalau bicara. Aku tak pernah curhat ke laki-laki. Apalagi selingkuh seperti tuduhanmu tadi. Yang kutelepon itu perempuan yang menjadi sahabatku sejak kecil. Nih, aku telepon dia lagi, nanti kamu bicaralah sendiri.”
Izzah menyodorkan HP-nya padaku. Layarnya menunjukkan panggilan video ke Markonah. Ternyata licik sekali dia, menulis nama laki-laki dengan nama perempuan.
Izzah pasti mengira aku tidak paham trik seperti itu. Padahal, memalsukan nama kontak di handphone merupakan cara yang sudah banyak diketahui umum. Aku tersenyum sinis melihatnya gugup.
Panggilan video itu kemudian diangkat. Sesosok perempuan dengan wajah putih berseri, bibir semerah darah, surai hitam lebat nan indah, muncul serta menyapa. Entah ini wajah asli atau pengaruh filter kamera.
“Hai, Cyint.” Bibirnya dimonyong-monyongkan. “Eyke masyih syibuk nih.”
Aku bergidik ngeri karena gaya bicaranya. HP langsung kumatikan. Izzah jadi heran.
“Dia ini sebangsa dengan Lucinta Luna, ya?” tanyaku ketus.
“Bukan hanya sebangsa, tapi juga setanah air dan sebahasa, Mas.”
“Kamu tahu tempat tinggalnya?”
“Tahu, Mas. Dekat rumah bapakku di Desa Tayapetak.”
“Bagus. Sekarang juga kita temui dia. Biar kuberi dia pelajaran.” Aku menyeringai. “Sekalian kita jemput anak-anak yang liburan di sana.”
Izzah tampak terkejut sekali. Kubiarkan saja dia. Biar dia menyadari bahwa tindakannya salah. Meskipun Si Mark sudah bertransformasi menjadi seperti perempuan, hakikatnya dia tetap laki-laki, ‘kan? Coba saja cek kromosomnya. Pasti 46-XY, sama dengan manusia berjenis kelamin laki-laki pada umumnya.
Aku bersiap-siap meskipun lengan kiriku masih kesakitan. Aku harus menyesuaikan diri dengan orang-orang di Desa Tayapetak yang sangat menjunjung tinggi falsafah Jawa. Salah satu falsafahnya adalah ajining raga saka busana yang artinya penghargaan pada tubuh kita itu berdasarkan cara kita berpakaian. Makanya, aku memakai pakaian yang rapi dan pantas setiap kali ke sana.
Setelah semua beres, kami segera berangkat. Kami membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai di Desa Tayapetak. Jalur pantura begitu padat di Hari Ahad. Akibatnya, aku tak bisa mengemudikan mobil ini lebih cepat. Tepat ketika adzan Maghrib berkumandang, aku dan Izzah baru sampai di masjid raya Desa Tayapetak. Kami berdua berhenti sejenak dan sholat Maghrib sekalian.
“Hai, Ijah!” Seorang perempuan menepuk bahu Izzah dari belakang. Kami menoleh bersamaan. Seorang perempuan yang langsing, glowing, kempling dan rambutnya di-rebonding sedang tersenyum pada kami.
“Hai, Mark! Apa kabar?” Izzah berjabat tangan erat dengan perempuan itu.
“Ijah?” Aku jadi bingung.
Izzah mendekatkan mulutnya ke telingaku. “Ijah itu nama kerenku di sini, Mas. Lengkapnya Paijah, selevel dengan Paijem dan Paijo. Maklumlah, orang desa sini sulit menyebut nama saduran dari bahasa luar,” bisiknya.
“Katamu dia sebangsa Lucinta Luna kan?” tanyaku lirih juga. “Tapi kok ini original, bukan makhluk jadi-jadian?”
“Dia memang sebangsa dengan Lucinta Luna, Bangsa Indonesia.”
Izzah cekikikan. Aku melengos kesal. Ternyata, aku terperangkap dalam buruk sangka. Aku pun melirik Markonah. Dia tampak terpana, terlihat sangat cantik dan memesona. Aku merasakan getar-getar yang tidak biasa.
Jika di masjid ini boleh menyanyi, aku akan mendendangkan lagu A. Rafiq yang digubah ulang oleh Chrisye saat ini.
Lirikan matamu menarik hati
Senyumanmu manis sekali
Sehingga membuat
Aku tergoda
Sungguh, kecantikan Markonah begitu paripurna. Wajahnya terlihat lebih ayu tanpa polesan make up tebal. Tatapan matanya teduh dan terlihat menyejukkan. Tanpa sadar, beberapa detik lamanya aku terhipnotis olehnya.
“Ehm!” Izzah berdehem keras.
Lamunanku tentang Markonah langsung buyar. Aku jadi salah tingkah. Markonah menahan tawanya.
“Ini suamimu?” tanya Markonah pada Izzah.
“Iya. Kenalkan, ini Mas Arman,” kata Izzah dengan bangga. Dia menggandeng lengan kiriku yang memar. Rasanya cenat-cenut tak keruan tapi Izzah tidak mau melepaskan. Markonah tersenyum-senyum dan membuatku jadi malu.
“Mas, inilah Markonah. Dia lebih suka dipanggil Mark daripada Mar, Marko, Konah, atau Nah saja.”
Aku mengangguk-angguk. “Markonah. Nama yang sederhana. Pasti orangnya bersahaja.”
Kedua perempuan ini malah tertawa.
“Adakah omonganku yang salah?” Aku berbisik di telinga Izzah.
Izzah mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Markonah itu nama keren saja, Mas. Nama aslinya Marquinez.”
Aku agak terkejut. “Orang desa kok namanya bagus banget?” bisikku di telinga Izzah.
Izzah menjawab lirih, “Ibunya TKW di Filipina, Mas. Nama itu disamakan dengan majikan perempuannya yang cantik, baik hati, tidak sombong, suka menolong dan rajin menabung.”
Aku mengangguk-anggukkan kepala lagi. Selama enam bulan menjadi suami, baru sekarang aku tahu kenyataan ini. Ternyata hampir setiap orang di Desa Tayapetak ini punya nama keren yang sebenarnya tidak keren. Malah menurutku, nama keren mereka itu terkesan lebih ndeso.
Markonah mengulurkan tangan mengajak berkenalan. Tentu saja aku sangat senang diajak berjabat tangan. Namun, Izzah segera menepis tangan Markonah dengan kasar.
“Jangan bersentuhan! Kalian bukan mahram. Dosa!” Izzah melempar tatapan tajam.
Markonah tampak kesal. Dia menghela napas dalam-dalam. Tatapan matanya saling beradu dengan Izzah.
“Kalian berdua ini memang mirip angka sepuluh. Yang satu tinggi dan tegap seperti angka satu, yang satu seperti angka nol yang bulat dan gendut.”
Markonah tersenyum sinis. Kelihatan sekali dia mengejek Izzah. Aku melirik istriku sejenak. Dia sudah tampak marah. Mukanya menjadi lebih merah. Kedua tangannya mengepal.
Aku tahu Izzah marah karena dibilang gendut. Bagi istriku, kata gendut itu haram disebut. Apalagi penyebutannya di tempat-tempat umum yang penuh dan riuh. Lagipula, kalimat ejekan Markonah itu sama dengan kalimat yang dicurhatkan istriku.
“Berani-beraninya kamu, Markonah!” Gigi-geligi Izzah bergemeretak.
Tangan Izzah semakin erat mencengkeram lengan kiriku. Bagian yang masih memar ini terasa sangat ngilu. Rasa-rasanya ingin kuhempas gandengan tangan istriku. Namun, situasinya saat ini sangat tidak mendukung. Tiba-tiba mulutku bernyanyi sendiri.
Kucinta kamu adanya
Biar gendut tidak masalah
Jangan dengarkan mereka yang tidak suka
Anggap biasa saja
Kucinta kamu selamanya
Sampai nanti tutup usia
Kan kusayangi dirimu
Kan kucintai dengan sepenuh hati
Entah jin apa yang merasuki tubuhku ini. Niat hati mendendangkan lagu “Pengalaman Pertama” yang pernah dipopulerkan A. Rafiq dan Chrisye untuk mengagumi Markonah. Apalah daya mulut malah menyanyikan lagu “Biar Gendut Tetap Kucinta” yang dipopulerkan Happy Asmara untuk menenangkan Izzah. Sudah begitu, tangan dan kakiku ikut bergerak dan joget-joget tak jelas.
Biar kau gendut, pipimu tembem
Ku tetap suka
Bodimu bulat, perutmu buncit
Ku tetap cinta padamu
Kucinta kamu adanya
Biar gendut tidak masalah
Jangan dengarkan mereka yang tidak suka
Anggap biasa saja
Kucinta kamu selamanya
Sampai nanti tutup usia
Kan kusayangi dirimu
Kan kucintai dengan sepenuh hati
Pelan-pelan cengkeraman tangan Izzah mulai mengendur. Dia memegangi kedua pipinya yang mirip bakpao sambil bilang, “Oh, so sweet!”
Markonah membuang mukanya. “Idih, kalian ini bikin jijay ‘n gelay!”
Izzah tertawa melihat ekspresi sahabat kecilnya. Entah kenapa aku malah tambah bersemangat joget ulat. Tahu maksudku, ‘kan? Jogetnya seperti orang gatal-gatal.
“Kethek Ogleng! Kethek Ogleng!” Orang-orang yang berdatangan ke masjid menunjuk ke arahku.
“Apa?! Kethek ogleng?!” Izzah terlihat geram pada orang-orang.