"Tubuh indah ini bahkan membuatku melupakan segalanya. Permainanmu sungguh membuatku semakin menjadi."
Suara raungan Tom Jason—pria berusia tiga puluh lima tahun. Seorang pemimpin perusahaan International Global, yang sedari tadi menghantam tubuh Kayla dengan penuh gairah. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri baginya karena bisa mendapatkan sekretaris cantik dengan tubuh sintal dan juga seksi.
Bukan hanya itu saja. Kayla Milani—sekretaris yang baru bekerja dengannya beberapa minggu ini dengan senang hati memberikan tubuhnya kepada Tom Jason. Bukan tanpa sebab, Kayla menjadikan dirinya sebagai budak nafsu Jason yang terpaut usia sepuluh tahun dengannya. Sebab sakit hatinya lantaran sudah dikhianati oleh Bisma—mantan kekasih yang kini telah menikah dan sedang berada di luar negeri bersama istrinya—Risa. Ia menikah dengan perempuan itu atas perintah Miranda—istri Jason yang tak lain adalah kakaknya Bisma.
Ia hendak membalas dendam. Memberikan bukti jika Jason telah mengkhianati Miranda. Dengan menawarkan diri sebagai pemuas nafsu Jason. Dengan begitu, ia sangat yakin jika rumah tangga mereka akan hancur.
Kayla menerbitkan senyum menyeringai. "Asalkan kamu puas, aku akan memainkan apa yang kamu inginkan," ucapnya dengan suara menggoda.
Pria itu lantas melahap bibir Kayla dengan ganas. Panggulnya bergerak dengan sangat cepat. Erangan dan desahan semakin menjadi di antara permainan yang semakin malam semakin panas.
"Oh, Jason! You make me crazy. Shitt!" pekik Kayla sembari meremas punggung Jason.
Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu terlihat begitu antusias. Matanya menatap penuh gairah yang tak tertahankan. Bukan menyerah, ia malah menggoda pria itu dengan melumati bibirnya kemudian tersenyum menyeringai.
"You! Damn! Jangan perlihatkan itu di depanku. Aku tidak bisa menghentikannya jika kamu melakukan itu kepadaku," ucap Jason dengan tangan terus meremas gumpalan daging milik wanitanya itu.
Lagi, perempuan itu menyunggingkan senyum. "Aku tidak akan berhenti sebelum kamu berkata berhenti, Tuan Jason!" ucapnya dengan suara penuh hasrat.
"Arrrgghh! Jangan menyesal jika aku akan menghantammu sampai pagi!"
Perempuan itu lantas tertawa mendengar ucapan Jason. "Silakan saja, Tuan Jason. Kamu sudah membayarku dengan harga mahal. Meskipun aku bukan wanita panggilan, tapi kamu memberiku harga yang sangat fantastis. And ... jangan sungkan untuk memintaku lagi." Kayla kembali menyunggingkan senyum.
Jason meraup bibir Kayla lagi. Gerakan itu semakin cepat dan tak terkendali. Suara irama di bawah sana bahkan terdengar dengan nyaring.
Kayla memekik. Jason semakin menjadi dan membuatnya frustasi. Kemudian membalikkan tubuh perempuan itu dan mulai menghantamkannya lagi.
"Apa yang sudah membuatmu bersedia menjadi pemuas nafsuku?" tanya Jason di sela-sela pacuan yang dia lakukan kepada perempuan itu.
"Karena aku menginginkanmu," ucapnya bohong. Padahal, ia tengah merekam adegan tersebut untuk diberikan kepada Miranda.
Ia benar-benar marah kepada istri Jason itu. Karena telah memisahkan dia dengan Bisma.
'Bukan. Bukan karena aku menginginkanmu. Tapi, aku marah pada istrimu yang sudah menikahkan Bisma dengan perempuan pilihannya. Aku ingin menghancurkan kalian!' ucapnya dalam hati.
'Dan Bisma. Tunggu sampai kalian kembali ke Indonesia. Kalian akan mendapatkan pembalasan dariku!' sumpahnya kemudian.
"Arrggghh!" pekik Kayla
"Kalau begitu, jadilah pemuas nafsuku. Menjadi wanita simpananku. Uang akan terus mengalir padamu," bisik Jason kemudian.
Kayla tersenyum miring. "Tentu, Sayang. Seperti yang aku tawarkan padamu tadi. Pakai aku, selagi kamu mau."
"Oouhh! Thank you, Honey!"
Kayla kembali tersenyum menyeringai. 'Rupanya, Jason bukan suami setia! Dia berani mengkhianati istrinya dengan bermain di belakang perempuan itu. Hhh! Kasihan sekali kamu, Miranda."
"Euuh, Tuan Jason. Bagaimana dengan istrimu? Kalau dia mengetahui semuanya, apa yang akan dia lakukan padaku?" tanyanya seolah takut ketahuan oleh Miranda.
"Don't worry. Istriku sedang berada di luar negeri bersama adiknya. Selama satu bulan di sana. Kita bisa bebas melakukan ini, kapan pun dan di mana pun," bisiknya dengan suara parau.
Kayla tersenyum miring lagi. "Lalu, kalau dia sudah kembali ke Indonesia, apakah kamu akan menghentikan semuanya?"
Tentu saja pria itu menggeleng. "No, Honey. Kita akan tetap melakukannya walau Miranda sudah kembali. Dia tidak sepertimu. Terlalu banyak mengeluh dan cepat becek."
Kayla menahan tawanya mendengar ucapan Jason. "Akankah aku dikatai seperti itu, kepada wanita yang sedang kamu gagahi, heum?" ucapnya sembari menahan desahannya.
Jason menyesap rambut wanitanya itu. "No! Bahkan, aku baru mengkhianati istriku. Sebenarnya aku suami setia. Tapi, karena rayuan mautmu yang memperlihatkan tubuh sintal kamu, membuatku harus mengkhianati istriku," jawabnya jujur.
Jason memang tidak pernah mengkhianati Miranda. Namun, Kayla berhasil menghancurkan kesetiaan Jason.
'Baguslah. Akulah pelakor sesungguhnya. Karena sudah membuat Jason mengkhianati istrinya.' Kayla tersenyum miring setelah berucap dalam hatinya.
Hingga permainan itu selesai dilakukan. Setelah hampir dua jam lamanya, Jason menggagahi tubuh Kayla. Kini, keduanya tengah sama-sama merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Mengembalikan tenaga yang sudah terkuras habis karena permainan dua jam nonstop. Hanya berhenti kala mengganti posisi.
"Sudah cukup, Tuan Jason? Masih ingin, atau sudah menyerah?" tanyanya sembari mengelus dada bidang Jason.
Pria itu menolehkan kepalanya dengan pelan kepada Kayla. "Belum. Kita akan melakukannya lagi setelah makan malam. Kamu harus mengembalikan tenagamu agar kuat menopang tubuhku," bisiknya kemudian meremas gumpalan daging itu dengan lembut.
"Heeumm! Kamu benar-benar akan mengantamku lagi?" tanyanya dengan suara menggoda.
Jason mengangguk. Setelahnya, suara ketukan pintu hotel itu membuat Jason harus beranjak dari tempat tidur. Hanya mengenakan handuk kimono, ia membuka pintu tersebut.
Beberapa makanan dibawa oleh pelayan hotel di sana. "Selamat makan, Pak!" ucapnya kemudian kembali keluar.
Jason kemudian menggendong tubuh Kayla yang belum mengenakan apa pun. Masih polos bahkan sangat berantakan.
"Isi perutmu. Aku belum puas menghajarmu malam ini, Honey! Kamu terlalu menggoda. Aku tak kuasa menahan semuanya," bisiknya kemudian meremas gumpalan daging Kayla.
Perempuan itu melenguh pelan. Sorot matanya fokus menatap Jason penuh dengan kelembutan. Ia kemudian membuang muka.
'Apa maksud dari tatapan itu? Kenapa misterius sekali,' ucapnya dalam hatinya.
Kemudian melahap makanan yang sudah dipesan oleh Jason.
"Siapa yang sudah merenggut kesucianmu?" Pertanyaan tak terduga dari Jason membuat Kayla menghentikan acara makan malamnya.
Ia kemudian menoleh kepada Jason dan menatap mata lelaki itu dengan penuh. "Kenapa, ingin tahu tentang siapa yang sudah merenggut kesucianku?" Kayla balik bertanya.
Jason menghela napasnya. "Hanya ingin tahu saja. Kamu kan, belum menikah. Tapi, sudah bukan gadis lagi. Aku hanya ingin tahu, siapa yang sudah merenggut kesucian kamu." Jason menatap Kayla dengan tatapan dalam.
Kayla tersenyum getir. Ia kembali melahap makanan yang belum habis itu. "Tidak perlu tahu. Nanti kamu shock!"
Jason terkekeh pelan. "Kenapa harus shock? Memangnya aku kenal, pada orang yang sudah mengambil kesucian kamu?"
Kayla kembali tersenyum. Kemudian menggelengkan kepalanya dan kembali melahap makanan miliknya.
"Aku hanya penasaran, Honey!"
Kayla menatap Jason dengan lekat. "Siapa lagi, kalau bukan mantan kekasihku, Tuan Jason!"
"Oh, Honey! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!"
Kayla lantas mengerutkan keningnya. "Maksudmu?" tanyanya bingung.
Jason menghela napas panjang. "Seperti yang aku katakan tadi. Permainanmu, membuatku melupakan segalanya. Aku ... mencintai kamu, Kayla!"
"What do you say?" tanya Kayla seolah tak mendengar pernyataan cinta Jason kepadanya.
"I love you," ucapnya dengan mata menatap Kayla penuh cinta.
Kayla tersenyum miring. 'Drama apa, ini? Kenapa dia mencintaiku? Apakah dia sedang menjebakku?' Kemudian ia menghela napasnya.
"Tidak perlu ada cinta, Tuan—"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Cukup Jason atau embel-embel yang lebih membuat hubungan kita lebih dekat." Jason benar-benar tak suka dipanggil seperti itu oleh Kayla.
Perempuan itu kembali menatap Jason. "Aku rasa, bukankah terlalu dini untuk kamu menyatakan cinta padaku? Ada apa? Aku bahkan tidak pernah berniat untuk mencintai kamu."
Jason menghela napasnya. Ia kemudian mengambil sebuah kamera kecil dan memberikannya kepada Kayla. "Ada apa? Kenapa kamu merekam semua adegan yang kita lakukan tadi? Ingin dikirim kepada Miranda?"
Kayla tergagap. Jason berhasil menemukan kameranya. Ia harus mencari alasan yang logis agar tidak ketahuan niatnya yang sudah diketahui oleh Jason.
"No! Aku tidak mengenal istrimu. Selama satu minggu aku bekerja denganmu, kamu tidak pernah memperkenalkan aku dengan istrimu itu. Hanya untuk koleksiku saja. Bukan untuk apa-apa." Kayla mengatur napasnya agar terlihat lebih tenang.
"Are you sure?" tanya Jason meyakinkan Kayla.
Perempuan itu mengangguk. "Ya. Banyak koleksi di rumahku. Jika kamu ingin melihat, betapa seksinya kala aku bermain."
Jason terkekeh. Kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak perlu. Aku hanya ingin dipuaskan, bukan untuk direkam seperti itu. Jangan berikan pada Miranda. Belum saatnya untuk berpisah dengannya."
Kening Kayla mengkerut. "Ada niatan, untuk bercerai dengannya?" tanyanya ingin tahu.
Jason mengendikan bahunya. "Tidak ada. Aku tidak pernah berniat untuk menceraikan dia. Tapi, niatku untuk setia padanya saja sudah aku ingkari."
Kayla tersenyum pasi. "Ambigu. Lalu, siapa orang yang kini ada di hati kamu? Aku atau ibu dari anak-anakmu?"
"Keduanya. Dua-duanya ada di hatiku."
Kayla manggut-manggut. "Tapi, Jason. Aku menawarkan diri hanya untuk menjadi pemuas nafsumu. Bukan untuk kamu cintai. Bahkan, tidak ada sejarahnya pria mencintai orang yang dengan senang hati memberikan tubuhnya kepada pria yang bukan miliknya."
"Aku tau, apa yang kamu rasakan. Dua hari yang lalu, aku melihatmu sedang menangis. Mustahil rasanya jika bukan karena orang yang sudah merenggut kesucian kamu. Aku siap, menjadi pengganti orang yang sudah mengkhianati kamu. Walau hanya sebatas hubungan ranjang. Pemuas nafsu belaka, naik turun ranjang dan membuatku puas."
Jason mengecup kening Kayla. Ucapannya sungguh membuat dirinya seolah terjebak sendiri oleh jebakan yang dia buat. Bukan itu yang Kayla inginkan.
"And i know, kamu memiliki gairah tinggi. Sama sepertiku. Tapi, Miranda tidak pernah bisa memuaskanku. Terlalu banyak mengeluh. Seperti yang aku katakan saat bercinta."
Kayla menatap Jason. 'Niatku hanya ingin membalas dendam kepada Miranda dan juga Bisma. Dan aku pikir, Jason juga akan merasa bersalah karena sudah mengkhianati Miranda. Tapi, kenapa dia malah seolah mendukungku? Andai dia tau, siapa orang yang sudah membuatku menjadi seperti ini, dia pasti akan menghentikan semuanya.'
Kayla bahkan tidak tahu situasi apa yang sedang dia alami saat ini. Jason—yang tak lain adalah suaminya Miranda malah mencintainya. Bahkan, ia mau membantu memulihkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya. Luka yang teramat sakit karena ditinggal menikah oleh Bisma.
"Kita bisa jadi partner, Honey. Kamu memang tidak akan pernah mau mencintaiku. Bukan hanya karena aku sudah beristri dan punya dua anak, karena usiaku pun sangat jauh denganmu. Cukup jadi partner ranjangku saja, kalau memang tidak bisa mencintaiku."
Kayla tersenyum pasi. "Hanya ingin mengobati luka yang masih aku rasakan kini?"
Jason menggendong tubuh Kayla ke atas tempat tidur. Kemudian menganggukkan kepalanya sembari mengusapi gumpalan kenyal milik wanitanya itu.
"Ya. Nikmati saja peran yang sudah kamu tawarkan padaku. Biar aku saja yang mencintaimu. Setelah siap untuk membuat mantan kekasihmu menyesal, bilang saja."
Jason berbicara sembari bermain-main di atas dada Kayla.
Perempuan itu melenguh pelan. 'Apakah aku harus memberi tahu yang sebenarnya? Bahwa Bisma-lah, kekasih yang sudah mengkhianatiku?' Kayla geleng-geleng kepala. Kemudian melenguh nikmat tatkala bibir Jason menyesap pucuk yang sudah menegang sedari tadi.
"Eeuumm!! Jason. Apakah kamu ingin tau, siapa pria yang sudah meninggalkanku?" tanyanya dengan suara penuh gairah.
Jason menggeleng. "Layani aku dulu. Setelah itu, kita bahas hal ini. Aku sudah tak tahan." Kemudian, pria itu menyatukan miliknya yang sedari tadi berdiri tegak dan ingin segera masuk ke dalam lubang kenikmatan itu.
"Arrggghh! Jason. Bagaimana tidak, Miranda selalu mengeluh. Permainan kamu terlalu gila, Jason! Arrrgghh!" Kayla seolah sudah hilang keseimbangan dalam melayani Jason.
Namun, ia akui jika dirinya sangat terpuaskan oleh permainan Jason. Sangat jauh berbeda dengan yang dimainkan oleh Bisma.
'Ditinggal buaya, dapat singa. Ternyata, Jason jauh lebih hebat dari Bisma. Jelas begitu, karena usianya pun jauh berbeda dengannya. Tak salah, aku menawarkan diri untuk menjadi pemuas nafsu Jason. Yang ternyata memiliki gairah mematikan yang harus dituntaskan.'
Kayla melumat bibir seksinya itu kemudian menatap Jason yang masih menghantamnya di belakang sana. "Sampai pagi, Honey?" godanya dengan suara seksinya.
Jason menjambak rambut panjang berwarna cokelat kehitaman milik Kayla. Kemudian melumat bibir seksi itu. "Of course. Sampai malam lagi pun, tak masalah. Hanya saja, besok sore ada meeting di Hotel Livina. Selesai meeting, puaskan aku hotel itu," bisiknya dengan suara parau.
"Okay! Dengan senang hati!" Kayla tersenyum menyeringai.
'Oh, Miranda. Posisimu sebentar lagi akan tergeser. Jason tidak akan akan membutuhkanmu lagi. Selamat merana, Miranda.'
Tak sadar, perempuan itu tertawa setelah berucap dalam hatinya. Terlalu bahagia karena apa yang sedang dia rencanakan seolah berjalan dengan mulus. Jason terpikat olehnya. Bahkan, ia menginginkan lagi dan lagi tubuh seksi yang begitu terjaga. Jangan lupakan gumpalan kenyal yang seolah menjadi candu Jason, mengalahkan segalanya.
Pria itu lupa daratan. Ia yang tak tahu sedang menjadi alat balas dendam Kayla malah jatuh cinta kepada sekretarisnya itu. Membuat Kayla akhirnya berpikir bahwa cukup mudah untuk menghancurkan Miranda dan juga Bisma dalam sekejap.
Pergumulan untuk yang kesekian kalinya itu akhirnya selesai. Kini, Jason tengah memeluk tubuh mungil Kayla yang masih terjaga. Tengah menatap langit-langit kamar hotel itu kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"What are you think?" tanya Jason sembari mengusapi pucuk kenyal milik Kayla.
Tubuh itu menggeliat pelan. "Bagaimana jadinya, kalau istrimu tau, apa yang kamu lakukan ketika dia pergi?" tanyanya pelan.
Jason mengendikan bahunya. "I don't know. Jangan tanyakan itu padaku. Karena aku tidak bisa menjawabnya. Karena kalau dia memintaku untuk melepaskanmu, rasanya tidak mungkin."
Kayla tersenyum tipis. Entahlah. Apa yang harus dia rasakan. Bahagiakah? Atau malah sebaliknya. Kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Aku rasa, dia tidak akan mau dipisah olehmu. Seperti yang kamu katakan tadi. Hanya akan memintamu untuk menjauhi ku."
Jason menganggukkan kepalanya. "Dan tidak akan aku lakukan. Aku seorang pria. Ada hasrat yang ingin aku tuntaskan. Dan hanya kamu yang bisa menuntaskannya."
Kayla kembali mengulas senyumnya. "Lalu, bagaimana kalau aku hamil? Aku tidak menjaganya. Kamu pun tidak mengenakan pengaman."
Jason menenggelamkan wajahnya di dada perempuan itu kemudian menghela napas kasar.
"Itu lebih baik. Agar hanya aku yang bisa memilikimu. Jika harus hami, yaa hamil saja. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Tenang saja," ucapnya santai.
Kayla kembali tersenyum tipis. 'Dan aku hanya memastikan saja. Mana mungkin, aku tidak mengenakan pengaman. Niatku hanya untuk balas dendam. Bukan untuk memberikan keturunan kepada Jason. Walau dia mencintaiku, bukan berarti aku memberinya anak. Biar saja, dia dan Miranda berpisah terlebih dahulu. Setelah itu ....' Kayla menolehkan kepalanya kepada Jason yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Merasakan betapa hangatnya tubuh perempuan itu, sampai membuatnya terlelap dalam sekejap.
'Hhh! Kenapa pria ini malah mencintaiku? Bilangnya tidak pernah bermain di belakang Miranda. Tapi, hanya disuguhkan pemandangan seksi atas tubuhku ini, langsung terangsang dan menjadikanku pemuas nafsunya. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku.'
Kayla mencurigai Jason tentang perasaannya, yang mengatakan cinta padanya. Sementara pria itu tak pernah sekali pun mengkhianati Miranda.
'Aku harus mencari tahu semuanya. Pasti ada yang Jason sembunyikan dariku. Terlihat dari raut wajahnya, jika dia menyimpan sesuatu dariku.'
Kayla terlalu banyak berpikir. Sampai lupa jika waktu terus berputar. Kini, sudah menunjuk angka empat pagi. Lantas perempuan itu memilih untuk menutup matanya karena besok pagi, harus bangun kembali dan menyiapkan berkas-berkas untuk dibawa ke Hotel Livina.
**
Waktu sudah menunjukkan angka tujuh pagi. Kayla dan juga Jason check out dari kamar tersebut setelah hampir dua belas jam lamanya berada di hotel itu. Lantaran adanya meeting yang harus mereka hadiri di jam sepuluh pagi, di kantornya.
"Tidak perlu pergi ke rumah dulu. Aku sudah membelikan baju untuk kamu kenakan ke kantor. Juga sepatu, tas baru dan skincare yang kamu kenakan," kata Jason sembari memberikan paper bag kepada Kayla.
Perempuan itu mengambil paper bag tersebut, kemudian matanya menatap Jason. "Kapan belinya?" tanyanya bingung.
"Kemarin. Saat kamu ke kamar mandi untuk ganti pakaian seksi yang sudah aku robek-robek, kurir datang membawa pesanan yang aku pesan lewat online."
Kayla lantas terkekeh. "Okee!! And thank you," ucapnya kemudian menerbitkan senyumnya.
Lantas dengan senang hati, perempuan itu mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Jason.
Sudah selesai mengenakan pakaian rapi, keduanya langsung pergi dari hotel tersebut. Pergi menuju restoran yang ada di hotel tersebut untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Tubuhmu, tidak terasa pegal? Kalau terasa remuk atau tidak enak badan, kita pergi ke spa. Tapi, setelah selesai meeting," kata Jason menawarkan merelaksasikan tubuh Kayla yang menurutnya pasti remuk redam akibat pergulatan selama hampir tujuh jam lamanya itu.
"Nanti saja. Aku bisa pergi sendiri. Lagi pula, setelah minum suplemen vitamin juga sudah enakan. Tidak perlu berlebihan, Pak Jason."
Pria itu berdecak kesal. "Honey! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Ini bukan di kantor. Kamu sudah menjadi milikku. Turuti semua yang aku perintahkan. Okay?"
Kayla terkekeh melihat raut wajah Jason yang tengah kesal padanya. "Baby besar, jangan marah-marah. Nanti keriputnya kelihatan."
"Haaiiisss!! Aku masih muda, Honey. Baru kepala tiga."
"Lima tahun lagi kepala empat."
Jason geleng-geleng kepala kemudian menyesap kopi yang lebih dulu tiba di sana. "Jangan tinggalkan aku, Kayla," ucapnya tak terduga.
Kayla tersenyum sembari mengibaskan rambutnya dengan pelan. "Never!"
Jason lantas menerbitkan senyumnya dengan lebar. Terlihat jika pria itu begitu senang karena Kayla berjanji tidak akan meninggalkannya.
"Jika Miranda memilih untuk kamu lepaskan, apakah kamu akan menuruti permintaannya?" tanya Kayla memancing kembali perasaan Jason.
Pria itu mengendikan bahunya. "Rasanya tidak mungkin jika dia mau aku lepaskan. Kecuali aku yang melepasnya."
Kayla tersenyum miring. "Dia bisa mencintai kamu dengan tulus, bahkan tidak mau kehilangan kamu. Tapi, yang dilakukan suaminya malah selingkuh di belakangnya. Kamu tidak merasa bersalah, Jason?" Kayla seolah tengah menyadarkan Jason tentang kelakuannya.
Jason menghela napa kasar. "Biar saja. Aku yang lebih tahu dari kamu, Kayla."
"Kalau aku tidak menawarkan diri untuk menjadi pemuas nafsumu, apakah kamu sendiri yang akan memintanya?" tanya Kayla lagi.
Jason menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Entahlah. Pertanyaanmu terlalu menyudutkanku. Aku tahu, kamu sedang memancingku. Sudah cukup, Kayla. Aku hanya akan selingkuh denganmu. Tidak ada lagi. Bahkan, tidur pun hanya akan denganmu. Dengan Miranda, mungkin hanya sekali dua kali saja. Agar dia tidak curiga padaku."
Kayla menelan saliva dengan pelan. Jason terlalu cerdas untuk dia kelabui. Bahkan, video yang seharusnya sudah berada di tangan Miranda, kini harus enyah karena dihapus oleh Jason.
Sampai akhirnya ia memilih untuk menyerah. Mengikuti alur yang ada, sampai Bisma dan istrinya kembali ke Indonesia. Siap membombardir keluarga tersebut untuk ia hancurkan berkeping-keping.
**
Waktu sudah menunjuk angka delapan malam. Karena meeting di Hotel Livina dibatalkan, dan akan diundur ke esok hari. Jason memilih untuk mengantar Kayla pulang. Ia tahu, Kayla masih sangat lelah. Dan dia masih punya hati. Tidak akan menghajar Kayla di malam ini. Masih banyak waktu karena Miranda belum pulang.
"Ini alamat apartemen aku. Mau ikut, ke dalam? Aku buatkan mie instan, kalau kamu mau."
Jason terkekeh dengan pelan. "Aku tidak suka makan mie instan. Tapi, aku ingin tahu kamar kamu ada di lantai berapa. Aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu," ucapnya kemudian mengecup bibir perempuan itu.
Mereka tengah berada di dalam lift. Hanya saja, di dalam sana hanya ada mereka berdua. Hanya CCTV yang memantau pergerakan kedua insan yang tengah dimabuk cumbuan itu.
"Sebenarnya aku sedang ingin," ucap Jason parau. "Tapi, aku tidak ingin menyakitimu malam ini. Kita lakukan besok pagi. Di kamar privasiku," sambungnya kemudian.
Kayla tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Of course! Aku ingin tidur nyenyak untuk malam ini."
Jason mengangguk pelan. Sampai akhirnya mereka tiba di depan kamar Kayla. Kemudian perempuan itu membuka kode akses masuk ke dalam apartemennya.
"Kodenya tanggal lahirku. Kamu bisa masuk, kapan pun kamu ingin."
Cklek!
"Haaaaa!" Perempuan itu terkejut kala melihat sang mama tengah berdiri tepat di depan pintu. "Mama!" ucapnya dengan mata melotot.
Mata teler sehabis mabuk itu lantas tersenyum miring kala melihat Jason berada di samping anaknya itu. Kemudian menoleh kepada Kayla. "Semalam kamu tidak pulang. Mama telepon pun tidak kamu angkat. Ternyata, sedang bersama lelaki ini. Haiiis!"
Perempuan berusia lima puluh tahun itu kemudian kembali melangkahkan kakinya dengan oleng. Lalu duduk di sofa ruang tengah.
"Mama kamu suka mabuk rupanya," kata Jason kemudian tersenyum mendengar ocehan Laras. "Baru putus sama pacarnya? Mama kamu single mom?"
Kayla mengangguk. "Ya. Sama seperti kamu. Tergoda oleh sekretarisnya kemudian menikahi perempuan itu. Tapi, sepertinya Mama tidak peduli. Dia sendiri yang menceraikan Papa. Karena baginya, jika Papa sudah membuka hati untuk orang lain, itu artinya dia sudah tidak dibutuhkan lagi dalam hidupnya."
Ucapan Kayla benar-benar menguji kesabaran Jason. Namun, pria itu hanya mengulas senyumnya. Kemudian pamit untuk pulang. Satu kecupan di bibir perempuan itu, sebagai tanda ia harus pamit dan tidak bisa mampir terlebih dahulu.
"Jason! Kenapa kamu bisa kenal dengannya?" tanya Laras setelah sang anak menghampirinya.
Kayla lantas mengerutkan keningnya. "Kok ... Mama udah sadar?"
Laras terkekeh dengan pelan. "Mama tanya, kenapa kamu kenal dengan Jason? Malah balik nanya. Gak sopan!"
Kayla menghela napas kasar. "Dia bos baruku. Aku memilih untuk keluar dari kantor Bisma karena dia telah mengkhianatiku. Menikah dengan wanita yang dipilihkan oleh Miranda, istrinya Jason. Aku hanya ingin balas dendam. Menghancurkan Miranda dengan mendekati Jason."
Secara terang-terangan, Kayla memberi tahu motif yang sedang dia lakukan kepada Miranda.
Laras manggut-manggut. "Akhirnya. Ada juga yang bisa membalas dendam apa yang pernah kamu rasakan, Kasih." Kemudian perempuan itu menolehkan kepalanya kepada sang anak. "Lanjutkan. Karena Miranda, si biang kerok itu mendapatkan Jason dengan cara merebutnya dari orang lain."
"Haaah?! Maksud Mama?"