Bab 1

“Kau masih muda, dan bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik dari ini, kenapa kau malah lebih memilih bekerja di rumah bordil mengerikan ini?”

Dona terkejut mendengar perkataan Ardan.

Pasalnya, baru pertama kali ada klien yang mengatakan hal seperti ini padanya. Kebanyakan klien yang ditemuinya pun tidak berkata apa-apa dan langsung menidurinya. Dan Dona agak sedikit bingung menjawab pertanyaan Ardan.

"Berapa umurmu?" tanya Ardan kembali.

"20 tahun." Dona lalu menunduk.

Ya, Dona memang masih muda. Lantaran, ibunya, Almaira memiliki utang ratusan juta pada Mami Sandra, mucikari di rumah bordil itu, Dona harus membayarnya dengan tubuhnya.

Awalnya, Dona memang tidak mau bekerja seperti ini. Tetapi Sandra mencoba memanfaatkannya.

Tentunya, tidak pernah terbesit di dalam benaknya untuk menjadi seorang penghibur. Hanya saja, malam ini datang seorang pengacara, dan asistennya ke rumah bordil, berbicara dengan Shandra dan bermaksud ingin mengadakan rapat bersama kliennya. Mereka meminta Shandra untuk menyuguhkan perempuan paling cantik dan akhirnya Shandra meminta Almaira agar mau menyerahkan dirinya untuk menjadi perempuan malam.

Yang menyesakkan, ibunya mengizinkannya. Dan Dona hanya tahu ia harus menghibur pengacara bernama Ardan Argantara Pramuria.

Hampir saja airmata melesak keluar, tetapi saat mendengar Ardan melangkah kakinya, mendekat padanya, Dona segera menengadah.

"Kenapa kau menjual tubuhmu?" tanyanya.

Tetapi kali ini Dona tidak menjawabnya.

"Apa kau tidak punya kepintaran apa-apa selain memanjakan para laki-laki?"

Dona merasa tersinggung. Ia menatap Ardan dengan tatapan mengerikan. “Apa kau tidak menyukai perempuan?”

Menurutnya, Ardan bisa mendapatkan perempuan mana pun yang ia mau dengan serius. Tetapi kenapa laki-laki ini malah mencari perempuan malam? Pasti, ada sesuatu, bukan?

Dan pertanyaan itu sukses membuat Ardan merengut kesal dengan wajah terlihat semakin memerah. Lantaran, dia mencoba menasihati Dona dengan serius, tetapi wanita itu malah melawannya.

“Kau jangan asal bicara, aku normal. Bahkan 1000%! Apa perlu aku buktikan, Madona?” Ardan menyentak dagu Dona.

Madona hanya diam dengan pasrah, terlebih saat Ardan langsung mendorong tubuhnya ke ranjang. Pria itu lalu membuka seluruh pakaiannya, hingga memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya. "Buka bajumu," perintahnya tegas.

Dona pun melakukannya. Ini bukanlah kali pertama Dona melakukannya. Dona tentunya sudah pernah melihat tubuh para pria lain. Tetapi... tubuh Ardan sangat atletis.

Saat semua pakaian lepas, Ardan memperhatikan Dona. Tubuh wanita itu sangat sintal dan wajahnya juga cantik, sesaat Ardan mengangguminya. Tetapi terlintas di pikirannya, bahwa perempuan ini murahan dan pastinya sudah sering melakukan bersama laki-laki lain.

Ardan mengeraskan rahangnya, lalu akhirnya naik ke ranjang dan menghirup tubuh Dona yang wangi.

Dan tanpa berlama-lama, Ardan melakukan penyatuannya bersama Dona.

“Ternyata perempuan malam sepertimu masih saja nikmat,” ujarnya setelah selesai. Napas mereka saling memburu.

Ardan tapi menatap bercak merah di seprai. Seingatnya, Ardan tidak melihat ada darah yang keluar saat mereka melakukan itu. Dan Dona juga tidak meringis kesakitan.

“Apa kau masih perawan? Tidak mungkin bukan perempuan sepertimu masih perawan?”

Ardan lantas bangkit dari tempat tidurnya, ia sempat memperhatikan Dona yang menatapnya dengan bingung. Karena Dona tidak menjawab, dia lantas berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar Dona.

“Apa dia tidak pernah melakukan hubungan dengan pacarnya?” tanya Dona setelah pria itu menghilang ke kamar mandi.

Jelas-jelas, ini adalah motif seprai yang memang terlihat seperti bercak.

Dona lantas membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menyelimuti tubuh polosnya. Dia masih menanti Ardan kembali dari kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Ardan keluar dari kamar mandi dengan tubuh terekspos dan handuk dililitkan ke pinggangnya, menutupi daerah spesial itu.

"Apa kau akan langsung pergi dari sini?"

Ardan menatapnya dengan meremehkan. "Kenapa? Kau tidak rela aku pergi?"

"Masih ada waktu sekitar 15 menit lagi. Tapi jika--"

"Dasar wanita murahan!"

Dona terkesiap mendengarnya. Ia hanya menyampaikannya saja, karena biasanya para tamu keluar setelah waktu benar-benar habis. Kadang ada yang sengaja berlama-lama hingga meminta tambahan waktu.

Baru kali ini ada tamu yang keluar lebih cepat. Dona takut jika pria itu melaporkan pada mucikarinya bahwa ia melakukan kesalahan.

Ardan menyunggingkan senyuman sinis. "Dasar Perempuan tak bermoral, sudah bagus aku membayarmu, bagaimana kalau kau tidak ada satu pun yang menyewamu malam ini?!" remeh Ardan dengan seringaiannya.

Madona lantas bangkit dari ranjangnya, dia tak menyangka akan ada pria yang berani merendahkannya dengan menyebutnya perempuan tak bermoral.

"Berani sekali kau mengataiku serendah itu? Hei, pria kaya! Kau memang bisa membeli semuanya dengan uangmu, termasuk tubuhku. Tapi, satu hal yang tak pernah akan kau dapatkan adalah--"

"Apa yang tak akan pernah aku dapatkan, ha? Kau ini ngomong kayak orang benar saja, sudah bagus aku membayarmu. Kau kan yang memilih seperti ini?" tukas Ardan memotong ucapan Madona.

Dona mengepalkan kedua tangannya. "Pria seperti kau tidak akan pernah memiliki cinta, jangankan mendapatkan merasakannya pun kau tak akan pernah!" Madona berkata dengan bibir bergetar sambil menatap Ardan.

"CIH!" Ardan mendecih dengan sinis. "Perempuan sepertimu tidak pantas berbicara soal cinta. Sadar kau ini adalah perempuan tak bermoral. Di kepalamu ini hanya ada uang, uang, dan uang bukan?"

Ardan berjalan menuju laci di meja, lalu melemparkan segepok uang hingga jatuh berserakan di lantai.

Ardan lantas pergi meninggalkan kamar itu, dan segera menghampiri Abdi, asisten pribadinya yang menunggu di bar, dan terlihat ditemani oleh perempuan malam lainnya.

Tetapi panggilan seseorang menghentikan Ardan.

"Tuan Ardan," panggil Shandra.

Ardan lantas menoleh, "Apa lagi?" tanyanya dengan tangan memijat keningnya.

"Apa Anda terpuaskan oleh Primadona di tempat saya ini, Tuan?" Shandra sangat berharap kalau Ardan sangat puas oleh pelayanan yang diberikan oleh Madona.

Tetapi Ardan tidak menjawab, ia malah pergi begitu saja dari rumah bordil itu.

Shandra meradang ketika pertanyaannya sama sekali tidak di jawab oleh Ardan.

Shandra kembali berlari, membuka pintu mobil. Sebelum menutupnya, ia berkata, "Jika berkenan, silakan mampir kemari lagi."

Ardan lagi-lagi tidak menjawab, ia menatapnya lalu menutup pintu mobil dengan keras. Setelah itu, mobil melaju pergi, meninggalkan Sandra sendirian.

"Kenapa dengan raut wajah, Tuan Ardan? Mengapa dia sangat sinis sekali? Apa Madona tidak melayaninya dengan baik? Atau mungkin, dia tidak mendapatkan pelepasannya?" Shandra segera berbalik memasuki rumah bordil lagi.

Sedangkan di kamar.

Madona menatap uang yang jatuh itu dengan sedih. Ia lalu ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sambil memangis. Ia tidak mau bekerja seperti ini, tetapi bagaimana caranya bisa melunasi utang-utang ibunya?

Pria itu bahkan memperlakukannya dengan sampah. Jejak-jejak pria itu bahkan masih terlihat jelas di tubuhnya.

Setelah membersihkan diri, Dona memakai bajunya kembali lalu keluar dari dalam kamarnya. Tidak lupa sebelumnya ia memungut uang yang berserakan itu.

Dona berjalan pulang untuk menemui ibunya, Almaira.

Tetapi, tangannya ditarik oleh Shandra.

"Ikut denganku! Ada yang perlu dibicarakan!"

Bab 2

Madona mulai berjalan menuju ke ruangan Shandra.

Pelan-pelan Dona membuka pintu ruangan sang mucikari.

"Silakan duduk." Shandra lalu mengusap cerutu dan mengembuskan asapnya pada Dona.

UHUK-UHUK-UHUK...

Madona terbatuk ketika merasakan sesaknya asap dari cerutu yang dihisap oleh Mami Shandra itu. "Kenapa Dona? Apa kau merasakan pengap berada di dalam Ruanganku Hem,"

Madona melirik ke segala arah, dia baru sadar kalau di dalam ruangan itu bukan hanya ada dia, dan Mami Shandra melainkan juga ada Ibunya, Almaira.

'Sial! Pasti Shandra berniat menekanku lagi?' batin Madona kesal.

Tidak mau berlama-lama di dalam cengkeraman Shandra, Dona pun lantas menanyakan maksud dan tujuan Shandra memanggilnya. "Mih, kenapa Mami meminta saya untuk menemui Mami? Jika ada hal penting yang ingin dibicarakan segeralah katakan?" desak Dona agar Shandra mengutarakan rencananya.

"Saya mau tanya sama kamu apa Tuan Ardan terpuaskan oleh pelayananmu, atau dia tidak mendapatkan pelepasannya, atau mungkin kamu ini tidak melayaninya dengan baik?"

"Heuh ... untuk apa Mami tahu tentang hal itu, jika Tuan Ardan tidak puas dengan pelayananku apa Mami yang akan memuaskannya?"

Shandra marah bukan main saat Dona membalikkan ucapannya, "Kamu!" Shandra bangkit dan hampir saja menampar Dona.

"Saya mohon Mami ... jangan sakiti Dona, dia masih belum mahir dalam melayani Tamu. Saya mohon Mami bisa memakluminya Mih..."

Almaira memohon pada Shandra, supaya Shandra tidak menyakiti putrinya itu. Namun, Dona yang memiliki watak keras ia pun tak mau merendahkan dirinya walau pun dia jalang sekalipun.

"Tidak Buk ... bukan Ibu yang harus meminta maaf sama Mami. Tapi, dia yang harus minta Maaf sama kita. Karena apa? Dia ini yang menjebak kita di sini mengurung kita layaknya di penjara!" tukas Dona merasa kesal, dia sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan yang dia dapatkan selama ini.

"Kurang ajar! Berani sekali kamu bersikap seperti ini pada saya?! Apa kau sudah bosan hidup Hem?!" Shandra mendorong tubuh Almaira, dan meraih menjambak rambut Dona.

ARGHHH! Rintih Dona merasakan jambakan dari Mami Shandra. "Kamu ini harus di hukum lagi! Biar kamu kapok, dan tida membantah lagi!" Shandra menarik paksa Dona, dan membawanya ke depan semua orang di rumah bordil itu.

"Sakit sialan! Lepaskan, Mami terkutuk!" umpat Dona tidak menunjukkan sedikitpun kalau dia ini akan takut terhadap Shandra.

Almaira lantas mengejar Shandra yang berusaha menghukum putrinya, "Mami saya mohon Mi, jangan sakiti Dona!" Lirihnya. Sedangkan, Shandra mengabaikan permohonan Almaira.

"Perempuan kecil ini harus diberi pelajaran supaya dia tidak kurang ajar!" Shandra mengurung Dona di ruangan gelap.

BRUG! "Jangan ada satu orang pun yang membebaskannya dari Ruangan ini, jangan pula ada yang memberikannya makan. Termasuk kau Almaira!" tegas Shandra memperingatkan pada mereka yang melihat kejadian itu.

Almaira hanya bisa menangis tak bisa menolong putrinya yang mendapatkan perlakuan semena-mena dari sang Mucikari. Ia segera memanggil Dona walaupun hanya bisa berinteraksi lewat celah kecil jendela.

"Dona!" panggilnya, setelah Shandra meninggalkan tempat itu, "Kamu baik-baik saja kan Nak? Dengar Ibu sayang, Ibu akan berusaha membebaskanmu dari sini," lirih Almaira,"Ibu janji," lanjutnya lagi.

"Ibu ... Ibu tidak usah lakukan apapun untuk Dona, Dona baik-baik saja kok Buk. Jangan khawatirkan Dona ya," padahal sebenarnya Dona sedang menahan rasa sakitnya ia tidak mau menunjukkan semua itu di depan ibunya.

'Dona janji Buk ... Dona akan membawa Ibu pergi sejauh mungkin dari tempat terkutuk ini, Dona janji!' batin Dona sendu mengerjapkan matanya yang berusaha menahan air mata.

Almaira masih setia menemani putrinya, walaupun dia hanya bisa mendengar suara Dona dari balik pintu, tapi, Almaira tidak mau beranjak sedikitpun dari depan ruangan tersebut. Ia takut jika Shandra akan kembali menyiksa putrinya lagi.

***

Dering ponsel mengalihkan perhatian Dona, ia baru sadar kalau ternyata ponselnya berada di saku celananya sejak tadi, ia lantas mengambil ponselnya, dan menerima panggilan itu.

'Halo siapa ini?' tanya Dona pada seseorang dengan nomor baru itu.

'Kau tidak perlu tahu siapa saya, yang jelas saya ingin kau lakukan pekerjaan untukku maka kau akan mendapatkan uang dariku!"

'Uang?' Dona langsung semangat begitu mendengar pria itu akan membayarnya.

'Ya ... kau akan mendapatkan uang dariku, asalkan kau mau di ajak kerja sama denganku!'

'Baiklah, apa yang harus saya lakukan. Cepat katakan?' Dona merasa penasaran dengan perintah orang itu.

'Saya ingin kau menjebak Ardan, kau tahu dia kan?'

'Ya tentu saja saya tahu, saya harus menjebaknya dengan cara apa?' tanyanya lagi.

'Lakukan seperti yang aku katakan, buatlah scandal dengannya, dan sebar luaskan video scandal itu!' ucap pria misterius itu.

'Baiklah, jika saya berhasil melakukannya berapa bayaran yang akan saya dapatkan?' Dona lantas menanyakan perihal bayaran yang akan di dapatnya.

'500juta apa kurang cukup untukmu?' pria itu memberitahu Dona perihal bayarannya.

Dona membeliakkan matanya, dan menutup mulutnya dengan tangannya, ia merasa ketiban rejeki nomplok setelah tahu bayaran yang akan dia dapatkah.

'B-baik ... saya setuju dengan tawaran Anda! Bolehkah saya tahu siapa sebenarnya Anda ini 'Pak?' tanya Dona penasaran.

'Sudah saya katakan kau tidak perlu tahu siapa saya! Yang jelas besok malam Ardan akan mengajakmu bertemu di Hotel, kau harus datang, dan puaskan dia. Saya hanya perlu video bercinta kalian, semuanya sudah saya atur!' pria misterius itu langsu menutup panggilan.

'Halo-halo ... Pak,' Dona mencoba berbicara lagi dengan pria itu. Tapi, pria itu sudah memutus sambungan.

Dona kembali merenung memikirkan rencana yang akan dia ambil setelah mendapatkan bayaran 500juta itu. "Aku bakal bisa membayar hutang pada Shandra jika aku berhasil melakukan pekerjaan ini, bahkan bukan cuma bisa membayar tapi juga bisa melunasi hutang Ibu," gumamnya merasa gembira telah menemukan titik terang.

Jalannya untuk membebaskan ibunya dari rumah terkutuk ini pun semakin terbuka lebar, "Baik Dona, kau tahu apa yang harus kau lakukan saat ini," gumam Dona segera bangkit, dan memanggil Mami Shandra.

"Mami! Mami!!" Dona memanggil Shandra berulang. Kebetulan pada saat itu Shandra sedang berada di depan ruangan itu.

Shandra berjalan mendekat pada ruangan itu, dan menatap pada Almaira yang sedang tertidur di depan pintu kamar.

Almaira lantas bangkit dari tempat itu, begitu tahu Shandra menghampiri ruangan tempat di kurungnya Dona.

Shandra membuka pintu ruangan tersebut, "Ada apa kau memanggilku? Apa kau sudah menyadari kalau perbuatan kau ini memang salah?" Shandra tersenyum sinis pada Dona.

"Iya Mi ... Dona sadar kalau Dona salah, maafkan Dona Mih, mulai sekarang Dona akan melakukan apa pun yang Mami perintahkan," rayu Dona berusaha meyakinkan Mami Shandra.

Mami Shandra merasa senang karena Dona mau mendengarnya. 'Baguslah ... dia sudah membaik, dengan seperti ini aku bisa kirim dia untuk Tuan Ardan.' batin Shandra menyeringai.

Bab 3

Dona bergegas menuju kamarnya, setelah Shandra membebaskannya dari hukuman. Tubuh sintal itu sekarang sedang merias dirinya di depan cermin, memoles wajah dengan make up, dan membalurkan bibirnya dengan lipstik berwarna merah. Tak lupa ia mengenakan mini dress sepaha agar bagiannya itu langsung terekspos ketika pertemuannya dengan Ardan terlaksana.

"Ha-ha-ha ... kau memang cantik Madona, tidak salah jika Shandra menjadikanmu bintang dari segala Perempuan jalang di Rumah bordil sialan ini!" Dona memuji sekaligus mengumpat, karena kesal mengapa dia harus hidup di lingkungan seperti ini.

Namun, ini bukanlah akhir bagi Dona karena malam ini Dona akan kabur keluar dari rumah bordil ini jika telah menerima bayaran dari pria misterius itu.

Ceklek! Suara pintu membuatnya langsung menoleh, sontak Dona memaki pria tersebut. "Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu! Dasar lancang!" umpat Dona dengan kata-kata sarkasmenya.

Pria itu langsung gemetar ketika momok wajah menyeramkan Madona Agnesia yang murka padanya. "Mmaafkan saya Dona ... saya hanya ingin memberitahu kalau mobil sudah disiapkan."

Dona mengerutkan dahinya, dan menautkan kedua tangannya yang bersedekap. "Mobil apa? Untuk aku Hem?"

Dengan gagap pria itu menjawab, "Ya Madona mobil itu akan mengantarmu sampai ke hotel untuk bertemu Tuan Ardan." ucapnya menyampaikan.

Dona mengibaskan rambutnya, menyisir dengan jemari tangannya. "Ya, aku akan segera ke sana. Lebih baik kau pergi saja?"

Begitu Dona memintanya untuk pergi pria itu pun lantas berjalan meninggalkan kamar Madona. Setelah selesai merias dirinya Dona menyempatkan untuk menemui ibunya yang berada di laundry sedang mencuci pakaian para jalang di rumah bordil ini.

"Ibuuuu," Dona memanggil Almaira dengan manja, ia menyadarkan dirinya pada pintu menatap Almaira sedang mencuci bikini-bikini jalang sialan itu.

Almaira lantas menoleh pada Putrinya, Almaira berusaha tersenyum meskipun sebenarnya dia menderita di rumah bordil ini. "Ada apa Nak, kenapa kau menemui Ibu?"

"Do'akan Dona untuk malam ini Buk, jika berhasil kita akan segera melunasi hutang kita pada Mami Shandra, dan kita akan secepatnya pergi dari Rumah terkutuk ini!" Dona menangkup tangan Almaira dengan kedua tangannya, dan mengusap buliran bening yang menetes dari wajah ibunya.

"Jangan menangis ... penderitaan ini akan segera berakhir," ucapnya kemudian.

"Ibu bukan menangis karena sedih sayang ... Ibu terharu oleh perkataanmu ini Nak, Iya Ibu akan mendoakan kamu."

Dona tersenyum, dan mulai berjalan meninggalkan ibunya yang sedang mencuci.

Dona merasa sedih, tapi jika semuanya akan selesai dengan menangis mungkin akan dia lakukan sejak dulu. Tidak, Dona bukanlah perempuan lemah, sudah cukup harga dirinya di injak dan direndahkan oleh orang-orang yang memandangnya sebelah mata karena hidup di lingkungan seperti itu.

"Dona!" suara yang sangat familier itu mengalihkan perhatiannya, iapun menoleh mencari wujud yang memanggilnya.

"Iya Mih, ada apa?"

"Kenapa kamu berdandan seperti ini Dona, ini kurang seksi kau ini harus mengekspose seluruh tubuhmu. Bukankah akan lebih bagus sekali keluar tujuanmu bukan cuma untuk Ardan, kau juga harus dapat memikat Pria kaya di luar sana," ujar Shandra mencibir pakaian yang dikenakan Dona saat ini, lantaran baginya pakaian yang membalut tubuh Dona saat ini kurang seksi.

Pakaian yang mengekspos lekuk tubuh, dan bagian atasnya pun sedikit terbuka di tambah lagi bagian bawahnya pun akan langsung terekspos jika dia duduk berhadapan dengan seseorang. Dona merasa kesal, padahal baju yang dipakai saat ini adalah koleksi bajunya yang paling seksi. Tapi, di mata Shandra baju itu kurang seksi.

"Ayo ikut Mami sebentar!" Ajak Shandra meraih tangan Dona, dan membawanya ke ruang koleksi barang-barang branded Shandra.

Madona tampak takjub dengan koleksi barang-barang branded milik Maminya itu, rasanya ingin memiliki semua barang-barang itu, karena Dona tahu pasti semua barang itu adalah hasil memeras para jalang yang berkerja padanya.

Shandra memilah baju yang paling seksi di dalam lemarinya, dan tatapannya terjatuh pada salah satu gaun mini berbahan sutera. Tapi itu sangat tipis untuk di kenakan oleh Dona, dan jika Dona memakai gaun itu terlihat seperti tak memakai apapun.

"Oh-May ... kau akan terlihat semakin menarik dengan Gaun ini Dona, ini sangat cocok untukmu," Mami Shandra memberikannya pada Dona untuk segera dipakai. Namun, Dona menolak untuk memakai gaun itu.

"Tidak! Saya tidak mau memakai Gaun ini Mih! Kenapa tidak telanjang sekalian, ini tidak bisa Dona tidak akan, dan tidak sudi memakai pakaian seperti ini!" tegas Dona menolak dengan kasar.

Shandra lantas geram karena Dona membantahnya. "HEY! Di sini bukan tempatnya untuk tawar menawar Dona. Cepat kenakan baju itu atau...,"

"Atau Mami akan menghukumku lagi iya Mih?!" sela Dona dia ikut marah saat Shandra memaksanya.

Plaaak!

"Pakai bajunya atau kau akan menerima hukuman!" ancam Shandra, "Kamu belum juga kapok rupanya, apa iya saya harus menghukummu dengan cara mengerikan!" tambahnya lagi.

"Hukuman mengerikan? Memangnya Mami mau menghukumku seperti apa lagi ha, hukuman Mami tidak akan membuatku gentar!" tantang Dona dia bersikukuh tidak mau memakai pakaian yang diberikan Shandra.

"Baik, jika itu maumu!" Shandra berjalan keluar dari dalam kamarnya, dan memanggilnya empat pria yang berprofesi anak buahnya.

Dona mengikuti langkah Shandara yang keluar dari dalam ruangan koleksi barang-barang branded, manik matanya tertuju pada sang Mucikari yang sedang berinteraksi dengan empat pria berbadan tegap, dan salah satu dari mereka menatap dengan seringaiannya pada Dona.

"Kalian hukum Dona sampai kapok, perempuan itu rupanya masih saja membangkang pada saya. Cepat lakukan seperti adegan di dalam blue film!" seru Shandra memerintah empat pria itu.

Sontak Dona terkejut, dia tidak menyangka Shandra akan menghukumnya dengan keji. "Apa kamu harus menggangbangnya Mih?"

"Ya, jika hanya dengan cara itu dia akan kapok!" tukasnya melirik sinis ke arah Madona.

Satu saja melayani pria akan membuat Dona kewalahan, mana mungkin dia akan bercinta dengan empat pria sekaligus.

'Celaka kamu Dona!' batin Dona tersentak, saat empat pria itu dengan beringas menarik tubuh Dona memaksanya untuk membawa ke dalam kamarnya.

"Mamihhhhh ... tidak Mih, jangan lakukan ini sama Dona Mih." pekik Dona menatap nyalang pada perempuan biadap yang berdiri hanya tersenyum padanya.

Shandra membungkuk, dan meraih wajah Dona. Dia melakukan penekanan di sana. "Lalukan perintahku! Maka kau akan selamat, kau mau kan?"

DEG.

Tidak ada lagi waktu untuk berpikir bagi Dona, walaupun dua pilihan itu sama buruknya. Tapi setidaknya salah satunya tidak merusak dirinya.

"Ayo cepat jawab? Kenapa kau hanya diam Gadis kecil?!" bentak Shandra menekan jemari tangannya di wajah Dona.

"Ba-bagaimana aku bisa menjawab Mih, kau menyakitiku!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED