Bab 1

Ketika terjaga dari tidur, Nessa merasakan sesuatu menindih tubuhnya. Hmm... inikah fenomena yang kerap dibilang orang Sunda sebagai eureup-eureup? Fenomena yang secara medis disebut sleep paralysis itu. Dan secara mistis dibilang sebagai fenomena ditindih makhluk halus. Asumsi yang disebutkan terakhir, sukses membuatnya panik setengah mati.

Lalu rasa panik menuntunnya untuk berusaha sekuat tenaga mendorong sesuatu yang menindih tubuhnya itu. Dan berhasil, karena Nessa merasakan tubuhnya ringan. Lalu sejurus kemudian, terdengar suara erangan. Sebentar, suara erangan?

Nessa mengarahkan pandangan pada arah yang ia rasakan menjadi arah jatuhnya sesuatu yang tadi didorongnya kuat-kuat. Dan ia mendapati sesosok tubuh manusia, tanpa pakaian, meringkuk telungkup di lantai dan mengerang kesakitan. Jatuh dari ranjang akibat dorongannya. Nessa pun sadar, bahwa tadi bukanlah eureup-eureup. Ia ditindih oleh manusia, makhluk yang nyata. Bukan makhluk halus.

What? Kepanikan selanjutnya pun segera ia rasakan. Dan kepanikan itu menuntun mata Nessa untuk menatap tubuhnya. Ya, tubuhnya pun tanpa sehelai benang, sama seperti sesosok manusia yang meringkuk kesakitan tertelungkup di lantai itu. Nessa makin panik.

Segera ia meraba area pangkal pahanya. Oh, my ...

Dengan panik bercampur marah, Nessa merengkuh bahu kanan tubuh telanjang bulat yang meringkuk telungkup di lantai itu. Disentaknya kuat-kuat, hingga tubuh itu telentang. Ia pun berhasil melihat wajahnya.

"Dilan ..." lirih Nessa. "Apa yang kamu lakukan, hah?!"

"Hmm?" gumam pemilik tubuh telanjang itu.

"Dilan?!" jerit Nessa tertahan. "Kamu... kamu mencabuli aku?"

"Kenapa?" Dilan sontak duduk, lalu menatap Nessa. "Aku mencabuli kamu? Nggak, lah!"

"Lha, ini apa artinya?" sungut Nessa. "Kita sama-sama telanjang. Kamu tadi menindihku. Dan... daerah kewanitaanku lengket."

"Kalau kamu yang memaksa aku untuk menyetubuhi kamu ..." tanggap Dilan. "Apakah itu bisa dianggap sebagai suatu tindakan pencabulan?"

"Aku, memaksa kamu... menyetubuhi aku?" tanya Nessa heran setengah mati. "Kamu mengada-ada," sugutnya.

"Siapa yang mengada-ada?" bantah Dilan.

"Kamu!" bentak Nessa. "Kamu mencabuli aku. Kamu tega ..."

Bertumpuk beban seolah tiba-tiba ditimpakan di atas tubuh Nessa. Berat dan menyiksa. Ia nyaris tak mampu menanggungnya, hingga pada akhirnya hanya bisa menangis.

"Kamu tega, Dilan ..."

Dilan bangkit. Duduk di tepi ranjang, lalu tangan kanannya terulur untuk menyentuh wajah Nessa. Namun perempuan itu berkelit dan menampar tangan itu. Dilan kembali berusaha menyentuhnya, namun urung karena tangan kanan Nessa yang terkepal terlanjur mendarat cukup telak di kelopak mata kirinya, hingga ia terhuyung mundur.

"Keluar kamu!" bentak Nessa. Lalu, ia mulai melemparkan beberapa helai pakaian lelaki itu.

"Keluar... kamu jahat!"

"Bukankah itu adalah keinginan kamu?" tegas Dilan, sambil memunguti dan mengenakan satu demi satu pakaiannya yang dilemparkan Nessa. "Bukankah kamu yang ..."

"Bullsh*t!" potong Nessa, sambil kembali melayangkan kepalan tangan ke arah wajah Dilan.

Kali ini, hidungnya yang menjadi sasaran. Telaknya pukulan tersebut, membuat darah segar mengucur dari kedua lubang hidung itu. Dilan sontak memegangi hidung mancungnya, sambil meringis. Ia menggeleng pelan, lalu melangkah. Bersiap masuk kamar mandi. Namun langkahnya terhenti, ketika tiba di area ujung ranjang. Ia menunduk.

"Lihat," Dilan menunjuk lantai.

Nessa sama sekali tidak berminat untuk melihatnya.

"Rasanya nggak ada satu pun korban pencabulan yang menjerit keenakan," sambung Dilan. "Orgasme hingga cairan ejakulasinya memancar deras sampai membasahi lantai."

Nessa tertegun.

***

Awal mula, 21 September 2000.

Dilan hanya butuh tiga momen saja, untuk jatuh cinta kepada Nessa. Ia mungkin takkan pernah membayangkan, betapa ketiga momen tersebut akan membimbingnya menuju beberapa peristiwa seru, sedih sekaligus menyebalkan di masa mendatang. Ketiga momen itu, sukses memaksa Dilan untuk mematri nama Nessa di sudut terdalam hatinya, sepanjang sisa hidupnya.

Momen pertama, tentulah saat pandangan pertama.

Bentakan para senior berseragam kaos hitam, baik laki-laki maupun perempuan, terdengar bersahutan. Memarahi dan berusaha menciutkan mental ratusan orang bertampang lugu yang baru sehari yang lalu dilantik oleh direktur kampus itu. Ratusan orang mahasiswa baru yang masih berseragam putih-kelabu, dengan ciri para lelaki berkepala nyaris plontos, dan perempuan berpita biru-jingga di rambutnya.

Dilan duduk tepat di belakang seorang perempuan, rekan satu gugus. Dua menit lalu, perempuan itu dibentak senior akibat tidak mengacungkan barang yang kemarin ditugaskan oleh panitia. Selain dibentak, senior juga memberi sebuah tanda ceklis pada ban name tag di bahu kanannya.

"Sekarang, angkat jeruk mencium matahari kalian!" perintah Komandan Lapangan, dengan media pengeras suara.

Perintah itu disikapi dengan kesibukan para mahasiswa baru mengaduk isi tasnya masing-masing, dibawah bentakan dan teriakan puluhan panitia berkaos hitam yang menyuruh mereka untuk bergerak cepat.

Dilan mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya yang memegang jeruk sunkist, alias 'jeruk mencium matahari' itu. Namun, tangannya kembali turun, saat melihat tangan perempuan yang duduk di depannya tidak kunjung terangkat. Disusul dengan gerakan menjulurkan tangannya ke arah depan, meletakkan jeruk sunkist di pangkuan perempuan itu.

Perempuan bertubuh agak gemuk itu menoleh ke belakang, dan beradu tatap dengan Dilan. Sorot matanya menyiratkan tanya. Dilan sedikit tertegun, seiring indera penglihatannya melakukan 'pemindaian' terhadap wajah yang baru kali ini dilihatnya.

Matanya cantik, meskipun terlihat keruh, batinnya. Wajahnya nggak cantik, tapi... manis.

"Hei ..." seru pelan perempuan itu, membuyarkan kata-kata di batin Dilan.

"Buat kamu," desis Dilan. "Lihat ke depan lagi."

Perempuan itu segera menoleh kembali ke arah depan.

"Kamu nggak bawa tugasmu, hah?" hardik seorang panitia berkaos hitam, yang tiba-tiba telah berjongkok di samping kanan Dilan.

"Tidak, Jenderal," jawab Dilan, tidak lantang namun tegas.

Panitia itu pun memberi sebuah tanda ceklis pada ban name tag di bahu kanan Dinan, disertai tatapan intimidatif.

Setengah jam kemudian, puluhan calon mahasiswa baru dipisahkan dari barisan. Mereka adalah orang-orang yang ban name tag-nya dihiasi tanda ceklis. Dilan termasuk di dalamnya, karena terdapat tujuh tanda ceklis, yang berarti dirinya lalai dalam mengerjakan tujuh item tugas.

Perempuan itu, juga berada di dalam barisan para terhukum, berdiri tepat di belakang Dilan. Ia hanya punya sebuah tanda ceklis. Perempuan itu menatap Dilan dengan nanar, saat sang lelaki dihukum push-up sebanyak tujuh seri, sesuai jumlah ceklis yang ia miliki. Dan mereka kembali saling pandang, ketika Dilan kembali ke barisan. Dilan mengedipkan kelopak mata kirinya.

***

Momen kedua terjadi di hari terakhir Masa Pengenalan Kampus, tak lama setelah acara secara resmi dinyatakan selesai.

"Hei, kamu," suara seorang perempuan.

Dilan berhenti melangkah. Bukan karena panggilan tersebut, melainkan tepukan tangan di bahu kirinya. Ia pun membalikkan tubuhnya, dan sontak tersenyum lebar.

"Terima kasih ya," ucap perempuan itu. "Kamu sampai rela dihukum karena tugas nggak lengkap, demi aku yang memang malas melengkapi tugas."

"Sama-sama," Dilan mengangguk. "Hmm... tiga hari selanjutnya, tugasmu selalu lengkap, ya?"

"Iya," perempuan itu tertawa kecil. "Aku nggak mau mengecewakan orang yang udah banyak menolong aku."

"Aku Dilan," Dilan mengulurkan tangan kanannya, mengajak berjabat tangan.

"Nessa," sambut perempuan itu.

"So, kalau kita bertemu lagi di kantin atau perpustakaan, misalnya," ujar Dilan. "Kita harus saling memanggil nama. Jangan pakai 'kamu'. Janji?"

Perempuan itu, eh... Nessa, tersenyum. Lalu mengangguk.

***

Dan momen ketiga, terjadi di hari pertama perkuliahan. Hari pertama petualangan Dilan sebagai seorang mahasiswa.

Dilan dibuat ternganga, ketika Nessa memasuki kelas. Perempuan itu datang bersama tiga rekannya, yang semuanya wanita, sesaat sebelum dosen masuk kelas. Dilan tidak punya kesempatan untuk menyapanya. Alhasil, selama 80 menit, perasaannya tidak menentu. Ah, kenapa harus tidak menentu? Karena Dilan mulai menaruh imaji Nessa di sudut hatinya.

"Ternyata kita sekelas," ujar Dilan, ketika berjalan tepat di belakang Nessa, sesaat setelah perkuliahan selesai.

Perempuan itu tampak agak terkesiap, berhenti melangkah, dan menoleh. "Dilan? Kita sekelas?"

"Iya," Dilan mengangguk, sambil tersenyum lebar. Dijajarinya langkah Nessa. "Kebetulan sekali, 'kan?"

Nessa tersenyum.

"Kita ke kantin?" ajak Dilan.

"Mmm ..." bola mata Nessa berputar-putar. "Hayu."

Lalu tibalah mereka di kantin kampus.

"Sekadar tes kekompakan batin," ujar Dilan, sembari mengaduk tas ranselnya, lalu mengeluarkan selembar kertas. Ia membaginya menjadi dua, dan salah satunya ia sodorkan kepada Nessa.

Nessa menerimanya dengan heran. "Tes kekompakan batin?"

"Iya," Dilan menyodorkan pulpen. "Tulis di situ, kamu mau makan apa. Tapi, jangan diperlihatkan sama aku."

"Oke," sanggup Nessa, sambil menuliskan sesuatu pada carik kertas itu. Ditutupinya, agar Dilan tidak dapat melihatnya.

"Udah?" Dilan mengambil pulpen dari tangan Nessa. "Sekarang giliran aku."

Dilan menyerahkan kertasnya, dan mengambil kertas milik Nessa. Dibacanya isi kertas itu, lalu terkekeh. "Kita berjodoh."

"Hmm?" gumam Nessa, sambil kemudian membaca isi kertas milik Dilan. Lalu ia tertawa pendek.

"Alasan yang relevan kenapa aku memilih nasi goreng," tutur Dilan. "Adalah karena nasi goreng memiliki rasa yang nggak jauh berbeda, di mana pun itu. Karena belum hapal dengan rasa masakan di kantin ini, lebih baik aku cari aman dengan memilih nasi goreng."

"Alasannya sama," kening Nessa berkerut.

"Yah... kita memang berjodoh, 'kan?" seloroh Dilan.

Nessa tertawa lagi.

Bab 2

Ketika pesanan nasi goreng mereka tiba, obrolan tidak lantas berhenti. Justru sebaliknya, perbincangan makin hangat. Meski Nessa kerap mengernyitkan kening, karena tema obrolan yang dibawa Dilan begitu mudah berganti secara tiba-tiba. Namun, ia tidak bisa mungkir, bahwa justru hal itulah yang membuat Dilan terlihat menarik di matanya.

"Aku paling menikmati saat-saat bergelantungan di dalam bus kota," ujar Dilan. "Karena saat itu, aku bisa berbaur dengan banyak orang yang punya latar belakang beragam. Mahasiswa, pekerja, pensiunan yang sedang jadi pasien rumah sakit, sampai copet."

"Untuk yang satu itu, ternyata kita nggak berjodoh," tanggap Nessa. "Aku benar-benar malas naik bus kota. Terlalu chaos."

"Sekali-kali, kamu harus mencoba," ucap Dilan. "Ada sensasi tersendiri, yang nggak akan pernah kamu rasakan ketika naik angkot."

Nessa menggeleng. "Aku selalu khawatir dompetku dicopet."

"Kamu bisa minta aku untuk menemani kamu," tawar Dilan. "Biar kamu merasa aman di dalam bus kota."

"Hmm... aku percaya," Nessa menahan senyum. "Ketika di dalam bus kota udah ada kamu, rekan-rekan sesama copet bakal mengalah dan mencari bus kota yang lain, 'kan?"

Dilan tergelak.

"Aku meneruskan tradisi pamanku," ujar Dilan.

"Jadi copet?" sela Nessa.

"Berkuliah di kampus ini," ralat Dilan.

"Oh," bibir Nessa membulat.

"Pamanku juga hobi naik bus kota," lanjut cerita Dilan. "Pernah kecopetan, pernah juga menangkap copet yang hampir merenggut dompetnya."

"Aku yakin, pamanmu ditakuti para copet itu," tebak Nessa.

"Menurun kepada ponakannya," Dilan menunjuk dadanya.

Nessa tertawa lagi.

Mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang asal SMA, kota kelahiran, hingga domisili, layaknya diperbincangkan oleh dua orang teman yang baru saja berkenalan. Mereka pun akhirnya tahu, bahwa meski lulus SMA di tahun yang sama, namun usia Nessa justru satu tahun lebih muda dibandingkan Dilan.

Ajaib, ya? Dua manusia berlainan jenis kelamin yang sebelumnya tidak saling mengenal, bisa begitu akrab dengan mudah, pada interaksi ketiga di antara mereka. Terlebih, dua interaksi sebelumnya terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Apakah ini pertanda bahwa mereka berjodoh?

Waktulah yang akan membuktikannya.

Dilan melirik kedua pergelangan tangan Nessa. Lalu menatap berkeliling kantin.

"Kenapa?" tanya Nessa, terusik oleh tingkah lelaki yang duduk di seberang meja itu.

"Aku mencari jam," jawab Dilan. "Matakuliah kedua, udah dimulai belum, ya?"

Nessa menatap Dilan tajam. "Aku juga melupakan itu."

"Kita ke gedung fakultas sekarang?" usul Dilan.

Nessa mengangguk, seraya bangkit.

***

Dilan dan Nessa memasuki kelas diiringi tatapan mata delapan belas siswa di ruangan tersebut. Dilan yakin, tatapan tersebut bukanlah akibat keterlambatan mereka. Namun lebih kepada keheranan, mengapa bisa, pada hari pertama perkuliahan, ia dan Nessa telah menjadi akrab? Dilan menanggapinya hanya dengan tersenyum.

Beruntung, terpentang jarak di antara dua bangku yang kosong. Praktis, Dilan dan Nessa tidak duduk bersebelahan. Dilan duduk di sebelah seorang perempuan cantik bernama Sadiah, sementara Nessa duduk di sebelah perempuan berhijab, yang belakangan diketahui Dilan bernama Rania.

Dilan terhanyut oleh materi matakuliah Bahasa Indonesia yang disampaikan dosen bernama Ibu Mieke. Ya, selain penyampaian yang mengasyikkan, Dilan memang sangat menyukai Sastra dan Bahasa Indonesia, sejak duduk di bangku SMP. Pilihan pertamanya dalam UMPTN, adalah Sastra Indonesia di sebuah universitas negeri yang berlokasi di Jatinangor, Sumedang. Pilihan kedua? Pendidikan Bahasa Indonesia di sebuah universitas pendidikan negeri. Sayangnya, ia gagal.

Saat ini, tanpa sengaja Dilan telah menancapkan sedikit eksistensinya di mata Nessa. Sepanjang perkuliahan Ibu Mieke, Dilan kerap melontarkan celetukan-celetukan yang terdengar iseng, namun benar adanya.

"Jadi, ketika terdapat kosakata dari bahasa asing di dalam laporan kita," terang Ibu Mieke. "Kita harus menuliskan kosakata tersebut dengan huruf ..."

"Italic," celetuk Dilan, mengundang sorotan mata kesembilanbelas rekannya, termasuk Nessa.

"Ya, italic," Ibu Mieke membenarkan. "Atau huruf miring. Kecuali jika kosakata asing tersebut telah memiliki padanan kata di dalam bahasa Indonesia, maka pergunakanlah padanan katanya tersebut."

Suasana kelas memang hening. Hingga celetukan Dilan pun menjadi menarik perhatian.

"Namun, ada kasus lain," lanjut Ibu Mieke. "Seperti kata 'korupsi' yang berasal dari kata 'corruption. Bahasa Indonesia memiliki padanan kata yang lain, yaitu ..."

"Rasuah," celetuk Dilan lagi, dan kembali menarik sorotan mata semua rekan sekelasnya.

"Ya, rasuah," kembali, Ibu Mieke membenarkan. "Kata 'rasuah' berasal dari bahasa Arab, tapi telah diserap ke dalam bahasa ..."

"Melayu," potong Dilan.

"Tepat," Ibu Mieke tersenyum. "Kalau tidak ada Adik, kelas ini akan terasa pasif sekali."

Setelah perkuliahan selesai, dan para siswa berjalan bergerombol di koridor, Ibu Mieke memanggil Dilan, yang lagi-lagi berjalan berdampingan dengan Nessa.

"Siapa nama Adik?" tanyanya.

"Dilan, Bu," jawab Dilan. "Saya minta maaf kalau celetukan saya mengganggu perkuliahan."

"Oh, tidak masalah," ucap Ibu Mieke. "Saya malah senang, karena itu berarti Adik memerhatikan materi yang saya sampaikan. Yang penting, celetukan Adik masih relevan dengan materi perkuliahan."

"Siap, Bu," Dilan tersenyum.

"Baiklah," putus Ibu Mieke. "Saya duluan."

Lalu Sepeninggal Ibu Mieke.

"Senang, dipuji dosen?" goda Nessa.

Dilan tersenyum. "Kamu nge-kost?"

"Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?" tanya Nessa heran, sambil menatap Dilan tajam. "Iya, aku nge-kost."

"Aku boleh main ke kost-an kamu?" tanya Dilan lagi.

Nessa terdiam, tidak segera menjawab. Perempuan itu malah tampak berpikir keras, sedikit tidak sebanding dengan pertanyaan sederhana yang dilontarkan Dilan. Dilan bertanya tentang kost-an, Nessa. Bukan tentang situasi genting negara yang tengah berada di bawah serangan koloni!

"Boleh?" tanya Dilan lagi.

Nessa mengerjapkan mata, lalu akhirnya mengangguk pelan.

"Sekarang, boleh?" desak Dilan. "Hmm... kamu pasti punya stok kopi sachet-an. Aku mau menumpang ngopi."

Nessa tertawa kecil. "Hayu. Nanti kubuatkan."

***

Di kamar kost Nessa, dengan dua gelas kopi tersaji.

"Kamu mau, mengajari aku Bahasa Indonesia?" tanya Nessa, lebih menyerupai bujukan.

"Kamu nggak bisa, gitu?" tanya balik Dilan. "Selama ini, kamu bicara dengan bahasa Somalia, ya?"

"Nggak seperti itu juga!" sungut Nessa. "Maksudku ..."

"Aku mengerti," Dilan tersenyum. "Tapi ada imbalannya. Kamu harus mengajariku matakuliah lain."

"Kamu mau diajari apa?" tanya Nessa.

"Semuanya," jawab Dilan.

"Semuanya?" Nessa mengernyit.

"Iya, semuanya," ulang Dilan. "Kecuali Bahasa Indonesia."

"Kamu bercanda," tukas Nessa.

Di kemudian hari, Nessa akan menyadari, bahwa Dilan tidak bercanda.

"Aku nggak pernah menyukai pelajaran Bahasa Indonesia," tutur Nessa. "Membosankan."

"Memang membosankan," dukung Dilan.

"Tadi kamu kelihatannya menikmati perkuliahan," bantah Nessa. "Kamu menyukai dan bisa mengikuti. Kamu pintar."

"Nggak pintar, Nessa," Dilan tersenyum. "Aku hanya sekadar senang dan terbiasa membaca. Novel, majalah, koran, sampai brosur iklan pengobatan alternatif. Kebiasaan itu bisa mengasah kemampuan berbahasa, lho!"

"Iya, sih ..." gumam Nessa. "Aku memang nggak hobi membaca."

Dilan membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah novel. Diserahkannya novel itu.

"Mulailah dari novel bertema ringan," ucapnya.

"Lupus: Kejarlah Daku, Kau Kujitak," Nessa membaca judul novel itu. "Novel lama, 'kan?"

Dilan mengangguk. "Novel pertama yang kupunya, pemberian bibiku. Meskipun novel pertama yang kubaca bukan itu."

"Ini novel keberapa yang kamu baca?" selidik Nessa.

"Aku lupa," Dilan mengangkat bahu. "Novel ke-60, mungkin? Sejak kecil, aku sering pinjam buku di Taman Bacaan."

Nessa mengangguk.

Bab 3

"Baca, ya!" minta Dilan. "Kalau udah selesai, kembalikan. Nanti kupinjamkan buku yang lain. Anggap aja ini metode yang kupakai untuk mengajari kamu Bahasa Indonesia."

"Memangnya buku ini nggak lagi kamu baca?" selidik Nessa. "Agak kurang masuk akal, kalau kamu menyediakan buku di dalam tas, hanya untuk dipinjamkan."

"Memang lagi kubaca ulang," jawab Dilan. "Tapi aku udah hapal isinya. Jadi, kupinjamkan aja sama kamu. Aku mau baca buku lain."

Nessa mengangguk.

Obrolan terhenti sejenak, karena Nessa asyik membaca kata pengantar novel. Sementara Dilan menatap berkeliling kamar.

"Kamarmu nyaman," komentar Dilan. "Banyak aksesoris unik."

"Harus nyaman," Nessa tersenyum. "Harus bisa bikin aku merasa seperti tinggal di rumah."

"Kapan kamu pulang ke Pasir Impun?" tanya Dilan.

"Setiap akhir pekan," jawab Nessa.

"Boleh aku mengantar kamu?" tanya Dilan lagi. "Aku kepingin tahu rumahmu."

"Hanya itu?" tanya balik Nessa. "Atau ada maksud lain?"

"Ada maksud lain, pastinya," Dilan nyengir. "Aku nggak mau berpura-pura tulus mengantarkan kamu. Satu-satunya yang tulus, mungkin cuma perasaanku... eh."

Nessa menatap lelaki di hadapannya. "Kamu ngomong apa, barusan?"

Dilan menggeleng cepat. "Bukan apa-apa, kok."

Entah hanya perasaan Dilan saja, namun ia merasakan suasana menjadi sedikit canggung. Keduanya kembali saling diam, cukup lama. Hingga teriakan seseorang di luar, membuyarkannya.

"Ada telepon buat kamu, Nessa!"

"Iya!" jawab Nessa. Ia menatap Dilan. "Sebentar, ya?"

"Oke," Dilan mengedipkan kelopak mata kirinya.

***

Nyatanya, yang dibilang 'sebentar' oleh Nessa, berlangsung selama hampir setengah jam. Hingga ketika Nessa kembali, Dilan tertidur sambil duduk, dengan kepala terkulai di atas ranjang. Perempuan itu tertawa geli.

"Dilan ..." ucap Nessa pelan, sambil menepuk bahu kiri Dilan.

Lelaki itu terjaga, dan mengerjapkan mata. Sejurus kemudian, ia tersenyum. "Maaf, aku ketiduran."

"Maaf, aku lama," balas Nessa dengan nada penuh penyesalan.

"Nggak apa-apa," ujar Dilan, masih dengan senyum tersungging di bibirnya. "Siapa yang menelepon? Orang rumah, ya?"

"Bukan," jawab Nessa, seraya menggeleng. "Mmm... pacarku."

"Oh," gumam Dilan. Hatinya serasa dilolosi.

Hanya butuh tiga kali interaksi untuk membuat Dilan dan Nessa menjadi akrab dan dekat. Namun, Dilan tidak pernah mengira, pada interaksi ketiga pula, ia harus merasakan patah hati.

***

Awal November 2000.

Nessa merasakan perubahan sikap Dilan. Lelaki pertama yang ia kenal di kampus ini tersebut, tidak lagi bersikap sehangat dulu. Dilan yang sejak awal perjumpaan telah cukup memberikan kesan di hatinya, mendadak menjauhinya. Kini interaksi Dilan dengan dirinya hanyalah sebatas hubungan antara rekan sekelas. Tidak lebih.

Pada awalnya, keduanya memang akrab. Keakraban yang membuat Nessa sadar, bahwa sepasang manusia berlainan jenis kelamin pun bisa bersahabat, meski tak ada hubungan kekasih yang melingkupinya. Ia lebih sering ditemani Dilan, daripada bersama Sadiah dan Rania, dua teman sekelas yang terbilang paling akrab dengannya. Dan Dilan pun tampak lebih nyaman bersamanya, daripada dengan Wahyu dan Aji.

Namun, beberapa waktu terakhir, Nessa merasakan Dilan menjauhinya. Tak ada lagi ajakan sang lelaki untuk berjalan bersama menuju kantin. Tak ada lagi Dilan yang merengek minta ikut ke kost-an, hanya karena ingin kopi gratis. Juga tak ada lagi perbincangan ringan namun kerap membuat matanya berair akibat tertawa geli, mendengar cerita konyol Dilan.

Kamu kenapa, Dilan? batinnya bertanya-tanya.

Nessa harus jujur mengakui, betapa interaksi bersama Dilan membuatnya bisa mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia tidak tergagap menghadapi perubahan gaya hidup, transformasi dari status pelajar menjadi mahasiswa. Semuanya berlangsung apa adanya, karena Dilan menemaninya. Sulit dimengerti, memang. Kenyamanan justru diperoleh Nessa dari Dilan, bukan kekasihnya.

Lalu, Dilan mendadak menjauhinya. Wajar dong, jika Nessa kelabakan?

***

Dilan masuk kelas. Sendirian saja. Kesembilan belas rekannya telah lebih dulu masuk kelas, dan duduk di kursi masing-masing. Lelaki itu melemparkan pandangan secara sekilas, terarah pada seluruh temannya. Dan saat beradu pandang dengan Nessa, ia menambahkan gerakan menggembungkan cuping hidungnya sebanyak dua kali. Membuat Nessa terkikik menahan geli.

Dilan sendiri kemudian duduk di sudut kiri kelas, karena di sanalah terdapat satu-satunya kursi kosong. Kontradiktif dengan posisi kursi Nessa yang berada di sisi kanan. So, interaksi Dilan dan Nessa pun berlangsung begitu singkat. Selain karena posisi tempat duduk yang terpentang jauh, tak lama dosen pun masuk kelas. Dan perkuliahan dimulai.

Di awal perkenalan dulu, berkali-kali Dilan duduk bersebelahan dengan Nessa. Hasilnya, Nessa begitu lelah menahan diri agar tidak tertawa, karena sepanjang jam kuliah, Dilan terus melontarkan lelucon dalam bentuk sketsa gambar. Lelaki konyol itu tidak peduli dengan keberadaan dosen di depan kelas.

Kini, hal tersebut tak pernah terjadi lagi. Dilan kerap masuk kelas di masa 'injury time', beberapa saat sebelum dosen masuk. Praktis, Dilan harus menempati satu-satunya bangku kosong yang tersisa. Dan sialnya, belum pernah sekali pun bangku kosong tersebut berada di sebelah posisi duduk Nessa, karena sang perempuan memang selalu duduk diapit Sadiah dan Rania.

Sejujurnya, Nessa ingin menyisakan sebuah bangku kosong di sebelahnya. Dengan begitu, Dilan akan mendudukinya. Namun, untuk meminta Sadiah atau Rania agar hal tersebut terlaksana, Nessa terlalu enggan.

Dosen yang mengajar mata kuliah Pengantar Manajemen memasuki kelas. Perkuliahan pun dimulai. Nessa pun fokus, melupakan lamunannya tentang Dilan. Hingga tidak menyadari bahwa Dilan telah sedikit memajukan dan menyerongkan posisi bangkunya, lalu berkali-kali menatapnya lekat-lekat. Oh, bukan hanya Nessa, namun seisi kelas memang tak ada yang menyadarinya.

Dalam sekali kesempatan, keduanya sempat beradu pandang. Dan Dilan, lagi-lagi, menggembungkan cuping hidung sebanyak dua kali. Kembali, Nessa terkikik geli, sambil menutup mulut dengan telapak tangan kirinya.

Apakah aku kangen Dilan? tanya Nessa di dalam hati. Nggak mungkin!

"Fokus, Nessa," ingat Rania, dengan berbisik.

Nessa menatap Rania, lalu tersenyum.

"Ada yang lagi kamu pikirkan?" tanya Rania, masih dengan berbisik.

Nessa menggeleng.

***

Tessa tidak menyadari gerakan Dilan yang menggeser kursinya, hanya agar bisa mencuri pandang ke arah perempuan manis itu. Bahkan, mungkin seisi kelas memang tidak menyadarinya. Itulah yang memang diinginkan Dilan, pergerakan yang tidak kentara. Ia tidak ingin 'manuver' yang ia lakukan, diketahui orang lain. Tidak, untuk saat ini.

Namun, pada satu kesempatan, Nessa menatapnya, tepat ketika Dilan sedang memerhatikannya. Mereka beradu pandang. Dilan langsung menggerakkan cuping hidungnya, dua kali. Persis seperti yang ia lakukan kala tanpa sengaja saling tatap dengan Nessa, saat masuk kelas tadi. Perempuan itu terlihat menahan tawa, sambil menutup mulut dengan telapak tangan kirinya.

Aku tahu, tentu pacarmu lebih berhak untuk merasakan ini, ujar Dilan di dalam hati. Tapi jujur, aku merasa bahagia melihat senyum dan tawamu, Nessa ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED