Bagaimana jadinya kalau kalian mendengar kata mafia? Apakah kalian takut dengan mafia? Atau sebaliknya kalian menjadi tegang. Bahkan kalian akan lari terbirit-birit ketika bertemu dengan mereka.
Di sini aku bercerita tentang kedua kakak beradik yang notabenenya kembar. Mereka adalah Bayu dan juga Fendy. Meskipun mereka kembar dan juga tampan. Namun mereka adalah pria yang terkejam dan juga dingin seperti es batu. Eh... salah... seperti gunung es yang berada di antariksa. Salah lagi deh Antartika.
Pada malam itu Fendy yang selesai melakukan aktivitas fisik terganggu dengan ponselnya. Lalu Fendy segera mengangkat ponsel itu tanpa melihat namanya.
"Hallo," sapa Fendy yang duduk di sofa.
"Kapan kamu pulang???" tanya suara pria paruh baya yang berada di seberang sana.
"Ini siapa ya?" tanya Fendy yang benar-benar tidak tahu.
"Aku bapakmu," jawab pria itu.
"Tumben papa menelpon. Ada apa Pa?" tanya Fendy.
"Di mana adikmu?" tanya pria itu lagi.
"Ada. Bayu sedang latihan bersama di markas," jawab Fendy.
"Besok malam kalian harus sudah berada di rumah. Kalau tidak kalian akan tanggung akibatnya!" titah pria itu.
"Baiklah," ucap Fendy yang melemah.
Sambungan terputus.
Fendy menghela nafasnya tanda kesal. Fendy tahu apa yang akan dibicarakan kali ini. Fendy bingung mau menjelaskan masalah ini ke Bayu.
"Pasti pembahasannya adalah kapan kalian menikah?" gumam Fendy yang kesal.
Tak lama kemudian datang saudara kembarnya itu yang bernama Bayu. Dengan wajah dinginnya Bayu masuk ke dalam kamar Fendy. Bayu melemparkan tubuhnya di ranjang king size milik Fendy.
"Apakah kamu dapat telepon dari Papa?" tanya Bayu yang malas.
"Dapat," jawab Fendy yang duduk.
"Memangnya kenapa kita disuruh pulang ke Jakarta?" tanya Bayu.
"Ya biasalah. Papa ingin menagih janji kita," jawab Fendy.
"Janji apa?" tanya Bayu yang menyelidik.
"Kamu enggak tahu janji itu?" tanya Fendy yang kesal.
"Jujur aku enggak tahu," jawab Bayu.
"Kamu tahu tiga bulan ke depan usia kita sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Kalau dalam tiga tahun ini kita enggak dapat cewek. Maka papa mama akan menjodohkan kita dengan perempuan aneh," ucap Fendy yang kesal.
Seketika Bayu teringat akan janji itu. Matanya membelalak sempurna. Bayu segera bangun dari tidurnya.
"Apa!!" seru Bayu.
"Iya itu benar. Itulah perjanjian yang sudah kita tanda tangani. Sebelum kita ke tanah Finlandia sini," jawab Fendy.
"Sial bener ya kita. Gara-gara tanda tangan itu kita dikejar deadline," ujar Bayu yang lemah.
"Kamu kira ini deadline?" tanya Fendy yang kesal.
"Anggap saja kita dikejar deadline. Bagaimana kita bisa mencari dalam tiga bulan ke depan? Apakah kita harus menculik dua wanita untuk dinikahi?" tanya Bayu balik.
"Bisa saja. Kalau aku mudah. Tinggal culik, sekap selama beberapa bulan lalu nikahi," jawab Fendy yang asal.
"Kalau kamu enggak suka?" tanya Bayu.
"Ya tinggal cerai saja. Balikin ke rumah orang tuanya dengan baik-baik," jawab Fendy enteng.
"Kamu itu Fen... Sifatmu yang satu itu tidak bisa berubah ya?" tanya Bayu.
"Lebih baik kamu pulang. Aku tetap di sini berkarir sebagai gitaris dan juga produser musik. Kalau pun mereka mencari aku bilang saja sibuk!" perintah Fendy.
"Terserahlah. Kalau aku enggak balik gimana?" tanya Bayu.
"Enggak usah balik sekalian. Kamu tahu Asco Group butuh kamu," jawab Fendy.
"Apakah kamu enggak mau di Asco?" tanya Bayu yang duduk tegak.
"Aku tidak cocok dibidang properti," jawab Fendy yang duduk bersantai.
"Ya udah kalau itu keputusanmu. Aku juga tidak akan memaksamu. Aku besok akan pulang ke Jakarta," ujar Bayu yang mengalah.
Akhirnya Bayu memutuskan untuk pergi meninggalkan Fendy. Dengan berat hati Bayu mengalah untuk menikah di usia 28 tahun. Melihat kepergian Bayu, Fendy tidak tega dengan Bayu. Namun apa daya Fendy masih ingin hidup bebas.
"Maafkan aku. Jujur sampai saat ini aku belum kepikiran untuk nikah. Kalau pun ingin menikah itu juga harus dari dasar hatiku," batin Fendy.
Bayu segera mengemasi barang-barangnya. Tak lama kemudian ada seorang pria yang seumuran mendekatinya, "Tuan."
"Ya," balas Bayu. "Siapkan aku tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta!"
"Kenapa tuan tidak memakai jet pribadi saja?" tanya Arga nama sang asisten.
"Aku malas menggunakan jet. Aku ingin belajar bersosialisasi. Selama ini hidupku berkutat pada dokumen-dokumen sialan itu," geram Bayu.
"Baiklah kalau begitu saya siapkan dulu. Apakah Tuan mengajak saya?" tanya Arga.
"Terserah kamu. Kamu mau ikut apa tidak?" tanya Bayu.
Setelah mengemasi barang-barangnya, Bayu melemparkan tubuhnya di ranjang king size-nya itu. Mata Bayu terpejam dan mengingat surat perjanjian yang sudah ditandatanganinya. Jika diingat-ingat surat perjanjian itu sudah memberikan waktu yang cukup lama kurang lebih delapan tahun. Selama delapan tahun Bayu sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk.
Bayu memang sengaja mendirikan perusahaan Stars Corps bersama Fendy beberapa tahun lalu. Hasilnya cukup menggiurkan dan enggak segede Asco Group. Stars Corps sendiri bekerja di bidang seni untuk menaungi beberapa band metal dunia. Dengan kecerdikannya dan kejeniusannya, Stars Corps sendiri bisa menyaingi label-label rekaman besar di dunia. Bayu sangat kecewa ketika kariernya sudah berada di angin malah dipatahin oleh papanya itu. Namun apa daya Bayu harus pulang. Ketimbang papanya yang menghancurkan Stars Corps lebih baik Bayu mengalah.
Beberapa hari kemudian Bayu sudah sampai Jakarta. Saat berada di bandara beberapa Pengawal White Eragon sudah menunggu kepulangannya.
"Selamat datang kembali Tuan," sapa Bayu.
"Ya," sahutnya dengan tegas. "Antarkan aku ke markas!"
"Baik Tuan," balas yang lainnya.
Setelah itu para Pengawal mengajak Bayu ke markas. Bayu tidak mau kalau kepulangannya memberikan kehebohan pada keluarganya itu. Di dalam perjalanan Bayu mendapatkan amplop dari kepala pengawalnya, "Apa ini?"
"Maaf Tuan. Tuan March menitipkan ini. Karena di mansion utama ada seorang perempuan yang terobsesi pada anda," jawab Ray.
"Siapa dia?" tanya Bayu.
"Saya kurang tahu Tuan. Kata Tuan March semua data-data sudah ada di situ semua," jawab Ray.
Sesampainya di markas besar White Eragon. Bayu disambut oleh teman-teman seperjuangannya. Bayu hanya menghela nafasnya dengan kasar.
"Syukurlah kalian di sini," ucap Bayu.
"Ada apa memangnya?" tanya Saga.
"Ada apa di mansion?" tanya Bayu yang menghempaskan bokongnya di sofa single.
"Di mana Fendy?" tanya Irwan.
"Fendy tidak pulang. Fendy memutuskan untuk tinggal di Helsinki," jawab Bayu.
"Syukurlah kamu cepat pulang. Kalau tidak pulang Asco akan jatuh," ucap Joko.
"Maksudmu apa?" tanya Bayu yang tidak mengerti.
"Ya kamu harus tahu apa yang terjadi selama ini dengan Asco," jawab Andi.
"Apakah kamu sudah menerima amplop dari March?" tanya Joko.
"Ya aku sudah menerimanya," jawab Bayu. "Yang jadi pertanyaan ke mana March?"
"March mengejar musuh ke Den Haag," jawab Irwan.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Bayu yang makin pusing.
"Dia pergi begitu saja," sahut Andi.
"Kebiasaan ini orang. Sepertinya dia mau aku bom ya," geram Bayu.
"Kamu tahukan jailangkung?" tanya Andi.
"Apaan itu?" tanya Bayu.
"Masa kamu enggak tahu tentang jailangkung Yu?" tanya Saga yang bingung.
"Kamu itu kebiasaan banget sih? Manggil aku mesti nama terakhirku saja!" geram Bayu.
"Maaf," ucap Saga sambil cengar-cengir. "Kamu tahukan kalau March kaya jailangkung?"
"Datang enggak dijemput pulang enggak diantar," jawab Bayu yang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Ya itulah dia. Hilang berapa hari bahkan berbulan-bulan. Eh... Muncul secara tiba-tiba," sahut Andi.
"Bagaimana kabar Stars Corps?" tanya Andi.
"Malah meroket. Aku serahkan semuanya ke Fendy," jawab Bayu yang memelas.
"Kenapa kamu mendadak pulang?" tanya Irwan yang bingung.
"Kalian masih ingat enggak pada waktu usiaku dua puluh tahun?" tanya Bayu.
"Ingat. Bukannya itu ulang tahunmu yang paling meriah sepanjang sejarah?" tanya Irwan balik.
"Kamu tahukan. Saat Papa ngasih aku surat yang isinya perjanjian kapan aku nikah? Hari ini aku disuruh pulang sama Pak Aryo untuk menepati janjinya. Tiga bulan enggak nemuin jodoh. Kemungkinan aku akan dijodohkan dengan cewek yang enggak aku kenal," jawab Bayu.
"Apes dech nasibmu. Yang sabar aja ya... Aku doain kamu dapat perempuan yang terbaik," ucap Joko dengan tulus.
"Amin," jawab mereka serempak.
Bayu akhirnya berdiri dan meninggalkan mereka. Setelah Bayu pergi mereka saling memandang satu sama lain.
"Kasihan Bayu," ucap Saga.
"Ya mau gimana lagi? Bayu memang ditakdirkan untuk memegang Asco," jawab Andi.
"Maksudnya?" tanya Irwan yang belum paham.
"Kamu tahu saat Bayu menandatangani surat itu. Tertulis di bawah setelah menikah seluruh aset Asco akan jatuh di tangan mereka. Yang dimaksud oleh mereka adalah Bayu dan juga Fendy. Berhubung Fendy enggak mau terpaksa seluruh kekayaan Asco jatuh di tangan Bayu," jelas Andi yang menaruh koran itu.
"Kenapa Fendy enggak mau memegang Asco?" tanya Joko.
"Kamu tahu sejak SMP Fendy suka dengan gitar. Dari pagi hingga malam genjrengan di garasi mansionku. Pagi siang malam enggak ada henti-hentinya. Setelah itu Fendy memutuskan untuk tidak terjun ke Asco. Dia memutuskan untuk menjadi gitaris dan anak band," jawab Andi.
"Huft... Susah juga kalau dipaksa," keluh Irwan.
"Enggak usah dipaksa. Nanti dia akan menemukan jalan hidupnya," ucap Andi.
Bayu yang lagi pusing karena surat perjanjian itu memutuskan untuk pergi ke taman. Bayu mengelilingi taman. Tak lama ada seorang gadis lagi membawa setangkai mawar merah menabrak Bayu.
Brukkkkkk.
Bayu jatuh terlentang. Gadis itu juga terjatuh dan menimpa tubuh kekar Bayu. Jujur saja gadis itu kesakitan.
"Argh....," ringis gadis itu.
Bayu yang merasa tubuhnya ditimpa hanya bisa bengong. Bisa-bisanya ada orang yang sedang merenung ditabrak. Bayu melototi gadis itu dengan penuh amarah.
"Cepatlah kamu bangun dari sini!" bentak Bayu.
Gadis itu berdiri dan memasang wajah masamnya. Gadis itu berani melototi balik Bayu. Bayu yang merasa ditantang langsung bangun dan menatap tajam ke arah gadis itu.
"Kamu itu datang-datang menabrakku tidak minta maaf malah balik melototiku! Apakah kamu tidak tahu sopan santun apa! Harusnya kamu meminta maaf bukannya melihatku seperti itu!" geram Bayu.
"Maaf," ucap gadis itu.
"Cuma kata maaf saja!" ucap Bayu dengan penekanan.
Gadis itu memang tidak mempunyai takut sama sekali. Sambil tersenyum sumringahnya gadis itu memberikan bunga mawar yang berada di tangannya.
"Maaf bang. Jangan marah lagi ya," kata gadis itu yang mulai pergi.
"Woy... Sebentar... Kamu ngasih bunga ke aku buat apa?" tanya Bayu dengan suara meninggi.
"Buat kamu bang. Supaya enggak marah lagi," teriak gadis itu.
Gadis itu segera meninggalkan Bayu di taman seorang diri. Gadis itu memutuskan untuk pulang. Sedangkan Bayu hanya melihat kepergian gadis itu. Sementara Bayu melihat bunga mawar yang berada di tangannya itu. Entah apa maksud gadis itu memberikan bunga untuk dirinya.
"Apa maksudnya? Kenapa aku diberi bunga mawar? Memangnya aku kekasihnya apa?" tanya Bayu dalam hati.
Gadis itu sudah sampai di rumah. Lalu ia segera menaruh tasnya di sofa kayunya.
"Rani!!!" teriak Adel sang ibu.
"Iya Bu," sahut Rani.
Gadis itu bernama Maharani atau sering dipanggil Rani. Saat ini Rani masih berusia 15 tahun. Tubuhnya tinggi semampai bak model. Wajahnya imut dan sangat menggemaskan. Rani adalah gadis pekerja keras dan pantang menyerah. Rani mempunyai sifat yang baik dan juga periang.
"Rani...," panggil Adel sekali lagi.
"Iya Bu sebentar," sahutnya lagi sambil menuju dapur.
"Bisakah kamu antar pesanan ini ke Bapak?" tanya Bayu.
"Bisa Bu. Sekalian saja aku mau membantu Bapak jualan," jawab Rani.
"Baiklah," balas Adel.
Kemudian Rani mengambil kotak nasi. Rani mengambil papper bag dan memasukkannya, "Oh ya Bu. Besok kan hari Minggu. Aku nanti pergi ke rumah bibi Fatma ya."
"Oh ya... Ibu lupa. Tadi siang Bibimu kesini untuk meminta bantuan ngajarin Salma," kata Adel. "Ya udah dech nanti malam kamu ke sana. Besok jangan pulang kesiangan. Ibu mau ke rumah sakit menengok Ibu Imah yang habis melahirkan."
"Ok Bu," jawab Rani.
Rani segera pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke persimpangan jalan. Sepanjang perjalanan mata Rani mendadak waspada. Beberapa Minggu ini kawasan sekitar rumahnya sudah tidak aman lagi.
"Makanya tempatnya begini. Jarang ada penerangan dan cahaya lampu. Apakah aku harus lapor sama Pak Juki ya?" tanya Rani dalam hati.
Rani semakin mempercepat langkahnya. Rani merasakan bulu kuduknya berdiri. Selain kasus pemerkosaan yang marak. Ternyata tempat ini sering digunakan tempat berkumpulnya para hantu. Setelah keluar dari kawasan Rani melihat pedagang kaki lima yang sedang berjejer. Lalu Rani mencari pedagang nasi goreng yang diujung sana. Sesampainya di sana Rani mendekati Amran yang sedang menggoreng nasi. Langsung saja Rani membantu Amran.
Tanpa disadari oleh Rani. Ada beberapa orang yang memakai baju serba hitam sedang memperhatikannya. Mereka sangat teliti sekali melihat pergerakan Rani.
"Apakah gadis itu yang menabrak bos tadi?" tanya Ali sang kepala pengawal.
"Ya... Kamu benar! Gadis itu sangat cantik sekali," jawab Rio. "Apakah kita akan menculiknya?"
"Jangan dulu. Tunggu perintah dari si bos," suruh Ali. "Ada motif apa gadis itu menabrak bos kita?"
"Enggak tahu. Kayaknya gadis itu sangat tergesa-gesa sekali tadi," jawab Rio yang memakan permen kaki. "Apakah kita akan di sini terus?"
"Ya... Sampai bos menyuruh kita pulang," jawab Ali.
Bayu yang baru sampai di markas hanya bisa menghela nafasnya. Bayu masih bingung dengan apa yang dipegangnya saat ini. Entah kenapa Bayu tidak ingin membuang mawar itu.
"Ini sangat aneh sekali. Baru saja sampai Jakarta ada seorang gadis yang memberikan aku bunga mawar. Seperti orang pacaran saja," decak Bayu.
Tak lama Andi keluar dari kamar. Andi tak sengaja melihat Bayu yang memegang mawar. Entah kenapa jiwa kepo Andi menggelora. Selama ini Bayu belum memiliki pacar atau kekasih. Lalu Andi mendekati Bayu sambil berkata, "Tumben beli bunga. Mau dikasih siapa itu bunganya?"
"Entah. Buat siapa bunga ini?" tanya Bayu dengan lemah.
Bayu masuk ke dalam kamar lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang. Tangan satunya menjadi tumpuan di kepalanya. Otak Bayu memutar peristiwa sore tadi. Entah kenapa Bayu teringat wajah gadis itu, " Gadis itu sangat imut dan menggemaskan sekali. Rasanya aku ingin mengajaknya menikah."
Beberapa saat kemudian ponsel Bayu berdering. Bayu melihat siapa nama yang tertera di ponselnya itu. Lalu Bayu mengusap lambang hijau, "Halo."
"Bos... Ternyata yang menabrak anda adalah gadis biasa. Gadis itu tidak ada hubungannya dengan Tuan Aryo dan juga Nyonya Santi," ucap Ali yang memberikan informasi itu.
"Apakah ada lagi?" tanya Bayu.
"Ya bos. Namanya Maharani Mulyadi. Usia lima belas tahun. Rumahnya berada di kawasan padat penduduk. Setiap malam gadis itu sering membantu bapaknya yang jualan nasi goreng," jawab Ali yang masih berada di dalam mobil.
"Apakah dia masih sekolah?" tanya Bayu.
"Itu benar bos. Gadis itu masih sekolah di sekolah SMA Wijaya Kusuma 1. Dan SMA Wijaya Kusuma masuk ke dalam Asco Group International. Rani gadis yang sangat jenius sekali. Rani juga sering dikirim untuk mengikuti olimpiade sains," jawab Ali.
"Sebentar... Bapaknya tukang nasi goreng. Tapi kenapa bisa masuk ke SMA WIJAYA KUSUMA 1? Padahal kehidupan keluarganya pas-pasan?" tanya Bayu yang belum paham.
"Menurut informasi lebih lanjut. Rani masuk ke SMA WIJAYA 1 lewat jalur busway bos," jawabnya.
PLAKKKKKKK!!!
"Augh..," teriak Ali.
"Bukan jalur busway bro... Jalur beasiswa," kesal Rio.
"Oh... Maaf bos... Bukan jalur busway. Melainkan jalur beasiswa. Karena kepintarannya Rani bisa masuk. Dan Tuan Andi yang mensponsori masuknya Rani ke sana. Seluruh biaya sekolah free," papar Ali.
"Oh.. ada lagi?" tanya Bayu.
"Ada bos. Rani mempunyai teman karib Nona Icha," jawab Ali.
"Di mana Icha sekarang?" tanya Bayu.
"Di apartemennya. Nona Icha juga sering menginap di rumah Rani," jawab Ali yang sedang memegang botol.
"Ikuti saja terus!" titah Bayu.
Tanpa banyak bicara Bayu segera memutuskan sambungan teleponnya. Bayu merasa lega kalau gadis itu memang orang biasa. Yang paling ditakutkan oleh Bayu adalah gadis yang pura-pura polos di depannya. Di belakang Bayu gadis itu adalah suruhan kedua orang tuanya.
"Jika benar gadis itu bukan suruhan Pak Aryo sama Bu Santi. Aku akan menyeretnya paksa ke altar pernikahan! Dia harus bertanggung jawab atas hidupku!" geram Bayu dalam hati.
Bayu akhirnya bangun dan mengambil jaketnya. Bayu segera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan kerja. Di sana Arga sang asisten masih berkutat dengan pekerjaannya. Entah apa yang dikerjakannya sehingga Arga menjadi sangat serius.
"Apa yang kamu kerjakan?" tanya Bayu yang mengeluarkan suara baritonnya.
"Penjualan senjata model baru yang dirancang oleh Tuan March," jawab Arga yang tidak menoleh Bayu.
"Senjata yang mirip gunting lipat itu?" tanya Bayu.
"Ya itu benar. Senjata itu laris manis di pasaran. Senjatanya sangat ringan dan bisa di kantongi," jawab Arga.
"Ada berita apa di mansion?" tanya Bayu yang mulai serius.
"Nyonya Santi memasukkan ulat keket ke dalam mansion. Nyonya Santi akan menjodohkan anda dengan Nona Laras," jawab Arga yang melihat Bayu.
"Apa!!!" teriak Bayu yang tidak terima dijodohkan dengan Laras.
"Itu benar Tuan. Nyonya Santi menunggu kedatangan anda pulang. Jika anda pulang pernikahan segera dilaksanakan," imbuh Arga.
"Ga... Siapa itu Laras?" tanya Bayu.
"Nona Laras adalah seorang putri dari pengusaha tambang batu bara yang terkenal," jawab Arga yang menggantung.
"Kenapa jawabanmu menggantung?" tanya Bayu yang curiga sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Tuan Aryo belum mengetahui kebenarannya tentang keluarga Nona Laras. Keluarga Laras adalah pengusaha yang sangat kejam sekali dan juga licik. Orang tua nona Laras sengaja menjodohkan anda agar keluarga nona Laras bisa menguasai seluruh aset Asco Group International. Jadi bisa dipastikan jika anda menikahi nona Laras bisa jadi Asco goyang. Keluarga Nona Laras akan melakukan berbagai macam cara untuk menguasai Asco," jelas Arga.
"Pantas saja tadi Andi bilang Asco dalam bahaya. Ya aku mulai paham. Apakah kamu tadi bertemu dengan Icha?" tanya Bayu.
"Saya sudah bertemu dengan nona Icha. Nona Icha pergi meninggalkan mansion karena Nona Laras," jawab Arga yang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa?"
"Nona Laras tidak menyukai keberadaan Nona Icha. Nona Laras suka memutar balikan fakta dan menyebut Nona Icha gadis yang nakal. Bahkan Nona Icha dituduh tidur sama Tuan Joko."
"Apa!!!"
"Setelah aku telusuri lebih lanjut. Tuan Jokolah yang menyelamatkan Nona Icha saat hendak diperkosa oleh preman suruhannya Nona Laras."
"Oh... Jadi itu ya motifnya. Semenjak dituduh itu apakah Icha sering pulang ke mansion?"
"Sudah enggak lagi. Tuan Aryo membenci Nona Icha."
"Bawa Icha ke markas besok. Aku ingin menemuinya."
"Apakah Tuan tidak sebaiknya pergi ke apartemen Nona Icha?"
"Tidak perlu. Aku masih bersembunyi sampai di mana mereka bermain!"
Keesokan harinya. Rani sudah sampai rumah. Rani mencari keberadaan Adel dan juga Agus.
"Bu... Pak..!!!" teriak Rani yang mengelilingi rumah.
Adel yang sedang memasak terkejut mendengar suara cempreng Rani. Adel menaruh pisau itu dan melihat Rani yang baru saja datang, "Rani!!"
"Ibu," sapa Rani yang mendekati Adel.
"Gimana semalam?" tanya Adel.
"Gimana apanya? Bukannya bapak sudah bilang kalau malam tadi ramai?" tanya Rani yang bingung.
"Oh... Iya deng... Ibu lupa," jawab Adel yang cengengesan.
"Semalam Bi Fatma usul. Gimana kalau seminggu dua kali diadakan les tambahan untuk anak-anak panti asuhan?" tanya Rani.
"Kamu semalam di panti asuhan?" tanya Adel balik.
"Iya Bu. Selesai membantu Salma menjabarkan rumus-rumus Matematika. Bi Fatma meminta aku mengajari anak-anak di sana."
"Ya itu terserah kamu. Yang penting kamu bisa atur jadwal kamu."
Rani tidak menjawab namun hatinya sangat senang sekali karena sudah mendapat ijin dari Adel. Rencana Rani akan mengajak Icha untuk memberikan les private kepada anak-anak yang kurang mampu.
"Ya udah kamu mandi sana. Habis gitu makan," suruh Adel.
Bayu yang selesai berolahraga masuk ke dalam markas. Lalu Bayu melihat keberadaan Andi dan juga Joko yang sedang menikmati teh hijau.
"Kenapa kamu tidak memberitahu kalau Pak Aryo menjodohkan aku dengan ulat keket itu?" tanya Bayu yang kesal.
"Aku sudah bilang kalau Asco dalam bahaya," sahut Andi.
"Iya maksud aku. Sebentar lagi aku akan dijodohkan dengan ulat keket itu," kesal Bayu.
"Oh... kalau info itu aku tidak tahu. Memangnya kamu dijodohin sama siapa?" tanya Andi.
"Laras," jawab Bayu.
"Apa!!!" teriak Andi dan Joko.
"Wah itu enggak benar beritanya," timpal Andi.
"Itu benar. Arga yang sudah ngasih tahu semuanya," kesal Bayu.
"Yang dikatakan Arga benar," Joko akhirnya membuka kebenarannya.
"Kapan kamu tahu?" tanya Andi yang mulai dingin.