William Asahavey memasuki sebuah club langganannya. Musik yang begitu keras mengusik gendang telinga saat ia membuka pintu kaca berwarna hitam. Biasanya ia akan datang bersama teman-temannya, tetapi pria-pria itu sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga ia memilih untuk datang sendiri. Tatapannya menelisik ke segala penjuru, mencari tempat yang sekiranya bisa membuat nyaman. Netranya tertuju pada satu sudut ruangan yang cukup gelap, lalu tersenyum miring kala melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Dia mendapati dirinya mengerang kesal.
Los Angeles memang wilayah yang tak melarang seks bebas, tetapi melihat langsung pasangan yang bercumbu di dalam club membuatnya sedikit bergidik. Apa tidak ada tempat lain yang lebih privasi? Mengapa mereka memilih menyatu di tengah keramaian dan menjadi tontonan publik? Akan tetapi, kemungkinan besar hanya dirinyalah yang terganggu akan pemandangan tersebut, sebab orang-orang yang ada di sekitar sana seolah menganggap pemandangan itu adalah hal yang lumrah.
Pria bersetelan abu-abu itu memilih duduk di salah satu deretan kursi yang berhadapan langsung dengan bartender, memesan margarita dan menikmati rasa asin yang tajam. Bukan tanpa sebab ia datang kemari, rasa frustrasi karena pekerjaan yang akan dialihkan padanya, sekaligus pusing karena gencatan perjodohan yang selalu direncanakan oleh sang kakek membuat otaknya seakan ingin meledak. Bukannya tak mau menikah, tetapi perjodohan bukanlah jalan alternatif yang harus ditempuh. Ia bisa mencari sendiri, tanpa bantuan dari pria tua itu.
Jika dipikir lagi, apa yang bisa didapatkan setelah menikah? Apa yang spesial dari hubungan itu? Seks? Meski tak menikah pun, dirinya bisa meniduri banyak gadis jika ia mau. Anak? Dia bisa mendapatkan anak di luar pernikahan. Ia cukup membayar orang lain untuk meminjamkan rahim dan menampung anaknya. Bukankah hal itu bisa dilakukan jika memiliki uang? Semua hal di dunia ini bisa didapatkan jika memiliki uang. Termasuk tubuh wanita.
“Hei, apakah kau datang sendiri?”
William mengerutkan kening, tetapi tetap menjawab pertanyaan tersebut. Tak ada salahnya menjawab pertanyaan dari gadis asing yang lumayan cantik ini. “Ya. Seperti yang kau lihat. Aku tak punya teman.”
“Apa kau memiliki kekasih?”
Kening William berkerut. Pertanyaan tadi sudah masuk ke ranah privasi. Namun, William tak berniat untuk mengabaikan pertanyaan tersebut. “Tidak. Aku tidak berminat untuk menjalin hubungan yang seperti itu.”
Pupil mata gadis itu melebar. Ini adalah mangsa yang tepat baginya. Ia hanya perlu memberi umpan, agar si pria terpancing. Rasa frustrasi karena diselingkuhi oleh sang kekasih membuatnya yakin untuk melakukan beberapa hal yang cukup anti mainstream dan tak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Apa kau menyukai seks?”
William tersenyum miring. Ia tak mengenal gadis itu, tetapi ia yakin bahwa gadis berambut panjang yang duduk di sampingnya sedikit mabuk. “Pria mana yang tak suka dengan pelepasan, Nona.”
“Kalau begitu mari kita bercinta.”
Pria bermata biru itu tersenyum miring. “Apa kau sedang menawarkan tubuhmu? Kau meminta bayaran berapa?”
Gadis itu menggeleng sambil menggoyangkan jari telunjuk tepat di depan wajah William, membuktikan bahwa dia tidak setuju dengan penawaran pria tersebut. ”Tidak perlu. Justru aku akan membayarmu. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya sebuah penyatuan dan pelepasan.”
Kening Pria itu kembali berkerut, netranya melebar, sedikit syok dengan apa yang didengarnya. Baru kali ini dirinya bertemu dengan gadis yang begitu naif dan polos. Gadis itu yang ingin membayarnya? Bukankah itu terdengar konyol? Apa yang salah dengan gadis bertubuh mungil tersebut?
“Kau tidak perlu membayarku. Aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh pelepasan.” William jelas menolak, sebab uang bukanlah sesuatu yang ia perlukan saat ini. Cukup pelepasan yang nikmat dan bergairah, itu saja.
Gadis itu melambaikan kedua tangannya di udara. “Jangan seperti itu, Tuan. Aku membutuhkan seorang pria, sehingga akulah yang harus membayarmu. Kau hanya perlu memuaskanku.” Suaranya khas orang mabuk.
William menyeringai. Gadis yang ada di sampingnya benar-benar unik. Apakah gadis itu sedang banyak masalah? Akan tetapi, ia tak akan membuang kesempatan ini. Kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan emas seperti ini? Biasanya dia yang akan memasang umpan agar ikan datang padanya, tetapi kali ini, sang ikan secara sukarela masuk ke dalam jaring perangkapnya.
***
Dengan tergesa-gesa Ellena masuk ke flatnya. Ia tak memedulikan bagaimana keadaan pakaian dan wajahnya. Ia terbangun dalam keadaan tanpa busana di sebuah kamar hotel bersama seorang pria. Gadis itu mencoba menggali ingatan-ingatan tentang semalam, dan saat ingatannya mulai kembali, ia segera turun dari kasur dan memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai. Rasa nyeri di selangkangannya tak dipedulikan, yang dipikirkan hanya satu, cara agar dirinya bisa keluar secepat mungkin dari kamar tersebut.
Gadis itu membuang sling bag-nya asal, lalu duduk di sofa mungil berwarna cream yang dibeli sebulan yang lalu. Decakan lidahnya terdengar frustrasi. Kemudian dia mengacak-ngacak rambut dan berlagak seperti orang yang kehilangan kendali.
“Apa yang kulakukan semalam? Aku mabuk dan meminta pria itu tidur denganku? Aku sudah tak perawan lagi,” geramnya dengan suara histeris. Dia sudah kehilangan kesucian, kehilangan hal yang paling dijaga, juga kehilangan kewarasan.
“Ellena! Kau sudah tak perawan?!” Jeritan tersebut berasal dari mulut Christy—teman satu flat Ellena. “Dari mana saja kau semalam? Mengapa ponselmu tak bisa dihubungi?” Dia mendekati Ellena dengan raut wajah kebingungan bercampur penasaran.
Gadis bermata hazel itu menunduk lalu mendesah untuk kesekian kalinya. “Aku menawarkan diri secara sukarela untuk bercinta dengan orang lain, Cris.”
“Apa kau gila?! Bukankah kau sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjaganya sampai kau menikah nanti?”
“Xavier selingkuh. Dia bermain dengan wanita lain.” Dia mendengus lagi. “Aku membalaskan dendamku dengan cara seperti ini, Cris.”
Christy membuka mulut tak percaya, pupil matanya melebar, dan dia tak bisa lagi berkata-kata. Sahabatnya sekaligus teman satu flatnya memang sudah kehilangan akal sehat. Bagaimana mungkin gadis itu membalas dendam dengan melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya? Keperawanan adalah sesuatu yang tak bisa dijadikan sebuah alat untuk bermain-main. Wah, sekarang dia yakin bahwa kegilaan Ellena sudah berada di fase tak bisa diobati.
“Kau mengenal pria itu?”
Ellena menggeleng pelan. “Tidak.”
“Oh shit! Kau benar-benar …” gadis itu menggantung kalimatnya, mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan sikap Ellena, “bodoh.” Dia memutar bola mata kesal. “Bagaimana bisa kau memberikan keperawananmu pada pria asing? Bagaimana jika kau hamil? Apa dia menggunakan pengaman?”
“Aku sudah kehilangan kewarasan, Cris. Aku tidak tahu apa dia menggunakan pengaman atau tidak.”
“Ya, tanpa kau katakan, semuanya sudah jelas. Kau memang sudah kehilangan kewarasan. Tidak. Kau sudah kehilangan otak,” hardiknya sekali lagi.
Gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu menatap langit-langit flatnya. “Kau ingin tahu apa yang kusesali, Cris?” Tatapannya beralih pada gadis berambut ikal tersebut. “Aku melupakan rasanya.” Ia meraung, berlagak seperti orang yang menangis. “Apa aku terlalu mabuk sehingga tak bisa mengingat sensasi saat keperawananku pecah? Aku bahkan tak mengingat bagaimana ukuran benda tersebut.”
Christy menutup mulut dengan telapak tangan, tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya. “Apa ini masuk akal? Kau histeris karena tak mampu mengingat ukuran dan rasanya? Oh, Ellena. Kau membuatku ikut gila.”
Dengan rasa frustrasi dia memilih masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang sudah tak bisa dikatakan baik-baik saja. Make up yang luntur, lipstik yang sudah melewati garis bibir, dan jangan lupakan lingkaran matanya yang sudah menghitam akibat eyeliner yang telah berantakan. Wajahnya sudah menyerupai boneka annabelle yang mendapatkan penyiksaan dari sang majikan.
Ia berusaha mengingat-ingat rupa dari pria itu, tetapi semakin ia memaksakan diri, kepalanya semakin pusing. Bagaimana ia melakukan hal konyol itu saat mabuk? Se-frustrasi itukah dirinya sehingga memilih untuk merelakan keperawanan kepada pria asing? Meski ada rasa penyesalan, tetapi itu tak berguna lagi. Untuk apa? Toh, semuanya sudah terjadi. Selaput daranya sudah pecah dan mahkota yang telah dijaga selama dua puluh enam tahun telah rusak tanpa sanggup dia pertahankan.
Bagaimana ia menjelaskan kepada orang tuanya kelak? Tentang dirinya yang sudah ternoda, tentang dirinya yang sudah melanggar aturan dalam keluarga besarnya. Tunggu! Orang tuanya tak mungkin memeriksa hal itu, bukan? Ya, Ellena cukup berbohong dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Terlebih ia jarang pulang ke rumah, sehingga ayah dan ibunya tak mungkin menanyakan perihal keperawanannya.
Dia sudah dua puluh enam tahun, sudah termasuk kategori dewasa. Tak mungkin pula orang tuanya bertanya seperti itu. Kedua orang tua Ellena sudah percaya bahwa anaknya bisa menjaga diri, tetapi dengan bodohnya, Ellena justru memberikan mahkota yang sangat dijaga untuk pria yang tak dikenalinya secara cuma-cuma.
“Bahkan seorang pelacur lebih berharga dibanding diriku,” erangnya frustrasi.
“Ya, mereka mendapat bayaran, sedangkan kau tidak, Elle. Kau gadis gratisan.”
“Stop, Cristy.” Ia mengangkat tangan tepat di depan wajah sahabatnya. “Jangan meneruskannya lagi. Aku tahu bahwa aku memang konyol, tetapi mari lupakan itu.” Ia menaikkan alis lalu mengangguk cepat berharap persetujuan dari Cristy.
Cristy hanya mengedikkan bahu. “Entahlah. Aku tidak bisa berjanji untuk melupakan kejadian yang kau alami.” Gadis itu terpingkal. “Itu sangat unik.”
***
William berusaha membuka kelopak mata saat cahaya matahari mulai menembus masuk melalui kaca jendela. Dengan tergesa-gesa, dia meraup ponselnya yang tersimpan di nakas samping kasur, melihat layar dan memastikan bahwa hari sudah menjelang siang. Kemudian dia menoleh, tak ada seorang pun di sana. Ada perasaan kecewa saat tak menemukan sosok gadis asing itu di sampingnya.
Senyumannya tersungging ketika ingatannya kembali mengenang kejadian semalam. Dia tak pernah membayangkan akan bermain dengan gadis yang tak memiliki pengalaman sama sekali. William seperti seorang ayah yang mengajari anaknya untuk melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Seperti seorang profesional yang menuntun si pemula. Namun, ia cukup takjub sebab gadis itu cepat belajar.
William memilih untuk duduk di pinggiran kasur, mengumpulkan nyawa sebelum dia meninggalkan kamar hotel tersebut. Namun, netranya justru beralih pada dua lembar uang bergambar Benjamin Franklin dengan sebuah catatan di atasnya.
‘Maafkan aku karena harus meninggalkanmu. Semoga uang ini cukup untuk biaya service semalam. Terima kasih.’
“Oh sial. Aku seperti pria bayaran saja,” keluhnya sambil tersenyum miring. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti pria yang rendahan. Mengapa William merasa egonya terluka? Sebelumnya tak pernah ada wanita yang memperlakukannya seperti ini. Apakah dia terlihat seperti kekurangan materi, sehingga gadis itu menyimpan uang sebagai bayarannya?
Katherin mengerang kesal, saat Holly menarik lengannya secara paksa. Ia bahkan baru sampai di kantor dan gadis berambut pirang itu menyambar tangannya dengan sekuat tenaga. Alhasil, tubuhnya yang jauh lebih mungil dibanding Holly dengan mudah terseret tanpa sanggup ia tahan.
“Apa yang kau lakukan, Holly?”
“Jika kita terlambat, kau akan mendapatkan omelan dari Abigail. Wanita cerewet itu sudah mengirim pesan ke semua karyawan untuk datang tepat waktu. Mulai hari ini, kita akan kedatangan CEO baru yang menggantikan Tuan Hamilton.”
“Mengapa aku tak mendapatkan pesan tersebut?” Gadis itu merogoh tas selempangnya, mengambil ponsel untuk memastikan pesan yang Holly maksud. “Sial sekali. ponselku dalam mode pesawat.” Ellena memiliki kebiasaan mematikan ponsel atau mengubah ke setelan airplane mode saat ingin tidur. Alasannya simpel, karena kesehatan.
Holly dan Ellena masuk ke aula, duduk di barisan paling belakang—mengingat mereka sudah terlambat.
“Sepertinya kita memang sudah terlambat, Holly.”
“Semoga Abigail tak melihat kita,” bisiknya agar tidak mengganggu yang lain.
Keduanya mencari posisi Abigail, memastikan bahwa wanita cerewet itu tak melihat kedatangan mereka. Saat keduanya hendak bernapas lega, Ellena justru mendapati dirinya sedang bertemu pandang dengan mata elang milik Abigail. Tatapan wanita itu tampak seperti predator yang menandai mangsanya.
“Sepertinya semesta tak berpihak pada kita, Holly.” Ellena memepet tubuh Holly. “Arah jam dua,” lanjutnya berbisik, tak lupa ia memasang senyum semanis mungkin.
“Oh tidak! Berhenti menatapnya. Bersikap biasa saja, seolah kita tak melakukan kesalahan apa pun.”
Ellena tahu betul bagaimana sikap Abigail. Sebagai manajer umum yang memiliki usia jauh lebih tua, menjadikan wanita itu dijuluki singa betina. Terlebih statusnya yang masih lajang kerap dikait-kaitkan dengan sikapnya yang pemarah. Banyak yang beranggapan bahwa tak ada pria yang berani mendekat karena sifatnya yang otoriter dan galak. Namun, di balik sikap tegasnya, ada hikmah yang bisa didapatkan. Tak ada karyawan di bawah naungannya yang bermalas-malasan, tak ada karyawan yang saling menyimpan iri, sebab dia selalu menyamakan semua karyawan.
Banyak yang bilang, karena statusnya yang lajang membuat Abigail kerap frustrasi. Katanya, wanita yang tak pernah mengalami pelepasan akan sering merasa stres dan frustrasi. Apa iya? Akan tetapi, itu adalah sesuatu yang belum pasti, sebab seseorang yang berstatus lajang pun bisa mendapatkan pelepasan dari pria yang tak dikenalinya. Seperti yang dialami Ellena beberapa hari yang lalu.
Mengingat hal itu membuat Ellena cemas. Ia tak akan hamil, kan? Semoga pria itu menggunakan pengaman. Ya, semoga saja. Dia tak mau mengalami kondisi di mana dirinya mengandung, tetapi tak tahu siapa ayah dari anaknya kelak. Bukankah itu adalah hal yang sangat menakutkan? Tidak mengetahui siapa pemilik darah daging yang ada di dalam rahimnya.
Ellena benar-benar menyesali perbuatannya yang sangat tak terpuji. Hanya karena sang kekasih selingkuh dan bermain dengan wanita lain, ia malah dengan bersuka cita memberikan keperawanannya kepada pria lain. Apakah dendamnya sudah terbayarkan? Sama sekali tidak. Ia justru semakin frustrasi karena sikapnya yang sudah di luar nalar.
Mengingat kembali saat Xavier mengerang di atas wanita lain, membuat darahnya mendidih. Erangan dan desahan tersebut membuatnya seketika mual. Meski kecewa dengan pria itu, tetapi Ellena sedikit bersyukur akan kejadian tersebut. Setidaknya dia tak menyesal karena hubungannya dengan Xavier telah berakhir. Setidaknya tak ada karma yang akan ia terima karena telah memutuskan Xavier yang berkhianat.
“Elle! Lihatlah! Dia sangat tampan.” Senggolan tangan Holly membuat lamunan Ellena seketika buyar.
“Kau menyakitiku, Nona,” hardik Ellena sambil mengelus lengan yang menjadi korban kekerasan Holly. Dia mendongak, menajamkan pandangan kala cucu Tuan Hamilton sudah ada di podium utama, memperkenalkan diri.
Holly tersenyum semringah. “Sepertinya aku akan sangat rajin untuk datang ke kantor. Kantor yang membosankan akan menarik karena kehadirannya.”
Begitulah Holly, dia selalu haus akan pria tampan, terlebih pria yang kaya. Meski demikian, sampai sekarang dia tak memiliki kekasih. Mengagumi banyak pria, membuatnya sulit untuk memilih. Katanya, ia lebih senang mendapatkan banyak perhatian ketika tak memiliki kekasih, ketimbang mendapat satu perhatian saja dari kekasih yang mungkin nantinya akan bosan. Cukup masuk akal, tetapi karena sikapnya yang seperti itu, membuatnya dicap sebagai gadis yang haus akan perhatian. Namun, Holly tak peduli. Sikap cuek itulah yang membuat Ellena kagum.
Setidaknya ia memiliki sahabat yang bisa menguatkannya saat dirinya sedang terpuruk. Setidaknya Holly akan menjadi garda terdepan saat orang lain mulai meremehkan Ellena. Holly dan Cristy adalah sahabat yang tak pernah meninggalkannya di kondisi apa pun.
“Suaranya begitu seksi, Elle. Bagaimana jika dia mendesah, pasti akan sangat menggairahkan.”
Ellena hanya bisa menggeleng melihat tingkah Holly. Ia kembali mendongak, merasa cukup familiar dengan wajah tersebut. Namun, dirinya tak bisa mengingat di mana ia pernah bertemu.
“Berikan aku data semua karyawan,” perintahnya pada Abigail yang juga merupakan sepupunya.
“Semua karyawan? Hei, kita memiliki ratusan karyawan dan kau ingin semuanya? Ayolah, William, kau tak usah menambah pekerjaanku yang sudah menumpuk.
“Kalau begitu, berikan data karyawan yang terlambat masuk aula tadi.”
Kening Abigail berkerut samar. “Apa kau ingin menghukumnya? Kau tak perlu melakukan hal yang tidak penting. Biarkan aku yang memberikan mereka nasihat. Kedua gadis itu memang kerap membuatku sakit kepala.”
William menyembunyikan rasa penasarannya. “Aku hanya ingin tahu tentang mereka. Bukankah perusahaan kita memiliki aturan yang ketat, mengapa karyawan biasa seperti mereka bersikap seenaknya?”
“Tak perlu, Liam. Kau kerjakan tugasmu saja.”
“Mengapa kau membangkang? Apa kau ingin melepaskan jabatanmu sekarang?”
Ancaman itu membuat Abigail menghela napas panjang. “Aku tak tahu mengapa kau sangat penasaran dengan kedua gadis itu, tetapi kuharap kau tak bermain-main dengan mereka. Keduanya bukan gadis gampangan, sehingga kau tak bisa dengan mudah bermain dengan salah satunya.”
‘Kau salah, Nona. Salah satu dari mereka merupakan gadis gampangan. Ya, gampang memberikan keperawanannya pada pria asing.’
William tersenyum licik. “Aku tidak akan melakukan tanpa persetujuan mereka.”
“William! Jika kau menyakiti salah satu karyawan di bawah naunganku, maka aku tak akan segan memberitahu kelakuan berengsekmu pada Kakek.”
“Wow, kau kira aku takut dengan si tua itu?” Dia menggeleng. “Jangan membuatku berbicara dua kali, Abigail. Aku menunggu data diri mereka.”
Dengan rasa kesal, Abigail keluar dari ruangan tersebut. Memiliki kerabat seperti William adalah kesialan baginya. Namun, jika tak menjadi keluarga dari Hamilton, ia tak mungkin bisa mendapat pekerjaan yang layak dan jauh dari kekurangan.
Setelah kepergian Abigail, William kembali tersenyum semringah. Ternyata tak sulit menemukan gadis itu. Gadis yang memberinya kepuasan serta kenikmatan di tengah rasa frustrasi yang melanda. William tak menampik bahwa ada rasa kebanggan tersendiri saat tahu bahwa dia adalah pria yang merenggut kesucian gadis itu. Sensasi yang dirasakan jelas berbeda dengan apa yang ia rasakan jika bersama dengan gadis lain. Sempit, menggigit, dan menantang.
Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, sampai dia dengan sukarela memberikan tubuhnya pada William, tetapi pria itu yakin bahwa sesuatu terjadi pada si pemilik rambut hitam sepunggung tersebut. Meski gadis itu jauh dari tipe idealnya, tetapi dia tak bisa melupakan permainannya malam itu. Permainan panas yang penuh gairah.
Tubuh semampai dan proporsional, dada yang menonjol, bibir penuh dan tebal, merupakan tipe idealnya, tetapi gadis itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang dia sukai. Gadis yang dia tiduri malam itu memiliki tubuh mungil, saking mungilnya sampai ia takut memperlakukannya secara kasar. Buah d.a.d.a yang yang tidak terlalu besar, tetapi pas di tangannya membuatnya lebih leluasa untuk memainkan benda kenyal tersebut, dan bibir seksi yang penuh sangat nikmat untuk dicumbu. Mengingatnya saja sudah membuat William bergairah.
Akan tetapi, saat lembaran uang seratus dolar memenuhi otaknya, sekejap rasa kesalnya mengambil alih. William cukup kesal. Gadis itu menghargai kemampuannya hanya dengan dua ratus dolar. Bukankah itu terlalu murah, mengingat kemampuan dan pengalamannya yang sudah tak diragukan lagi? Bahkan gadis itu mengerang dengan keras saat mencapai puncak. Gadis itu seperti mengejeknya.
Tepat saat itu, ia mendapatkan notifikasi di komputernya. Sebuah email dari Abigail yang berisi data diri tentang kedua gadis yang terlambat tadi. Senyum miringnya terlihat jelas, kala membaca profil dari gadis yang membayar kemampuannya dengan dua lembar kertas bergambar Benjamin Franklin.
“Ayo kita bermain-main, Ellena Cameron.” Seringainya terlihat menakutkan.