Langit Jakarta murung sore itu. Mendung menggantung rendah, dan bau tanah basah mulai tercium bahkan sebelum tetesan pertama jatuh. Raka baru saja menyelesaikan satu orderan ketika WhatsApp-nya menyala.
Ara
"Mas, jemput aku sekarang. Bawa jaket yang semalam, ya."
Tak ada penjelasan lebih. Tak ada alamat. Tapi notifikasi aplikasi ojol menyusul pesan itu. Lokasi penjemputan: kampus tempat Ara kuliah. Titik tujuan: tidak dicantumkan.
Raka menarik napas dalam. Jaket yang dimaksud Ara masih tergantung di belakang pintu kontrakan. Belum sempat dicuci. Masih ada bau parfum Ara yang melekat samar, bercampur aroma tubuh, dan... memori basah dari malam sebelumnya.
Ia memakainya tanpa pikir panjang.
Langit pecah saat ia sampai di parkiran kampus. Hujan deras, mengguyur motor dan helmnya. Dari pintu lobi, Ara muncul berlari kecil, memayungi kepala dengan tas tote bag. Bajunya sudah setengah basah. Kemeja putih tipis menempel erat ke kulit, memperlihatkan lekuk payudara dan bayangan tali bra hitam yang kontras di balik kain tipis.
Ia melompat ke jok belakang. "Cepetan jalan, Mas! Dingin..."
Begitu motor melaju, Ara langsung melingkarkan kedua lengannya ke perut Raka. Tak hanya memeluk-ia menempel, menekan tubuhnya ke punggung Raka dengan napas memburu.
"Mas, aku nggak pake celana dalam..."
Raka tersentak. Tubuhnya otomatis menegang.
"Aku basah dari tadi di toilet kampus. Tapi bukan karena hujan," lanjut Ara, suaranya nyaris tidak terdengar karena angin dan suara mesin.
"Gue gila," batin Raka. Tapi motornya terus melaju.
"Aku mau tempat yang sepi," kata Ara.
Raka membawa mereka ke sebuah halte kosong dekat taman kota. Terlindung atap dan dikelilingi pohon. Hujan masih deras, membuat suasana makin sepi dan samar.
Begitu motor berhenti, Ara turun lebih dulu. Jaket Raka langsung ia tarik dari tubuhnya, lalu menyelimutkan ke tubuhnya sendiri, menyisakan kaki panjangnya yang telanjang dari lutut ke atas.
"Aku kedinginan..." katanya, lalu duduk di bangku beton halte, membuka jaket sedikit agar celah dadanya terlihat samar.
"Mas pengen?" bisiknya. "Dari kemarin kayaknya pengen banget."
Raka hanya berdiri diam. Tapi matanya bicara. Dan Ara membaca semuanya.
Ia membuka kancing kemejanya satu per satu, perlahan, sambil menatap lurus. Saat kancing terakhir terlepas, dadanya terbuka, penuh, padat, dengan puting keras yang menggoda, menggigil oleh udara dingin.
Ara menyandarkan diri ke dinding, merentangkan jaket ke depan agar menutupi mereka berdua. "Mas sini..."
Raka bergerak seperti ditarik medan magnet. Ia duduk di depannya, mencium aroma tubuh Ara yang bercampur hujan. Tangannya menyentuh paha Ara - kulit basah, hangat, bergetar. Pelan-pelan, ia naik ke bagian dalam paha, menyusuri jalan lembap yang sudah terbuka bahkan tanpa disentuh.
"Ara..."
"Ssst... Mas diem aja. Sentuh aku."
Jari Raka menyentuh bagian paling basah dari tubuh Ara, membuat gadis itu mendesah tertahan. Ara menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya mencengkeram leher Raka, menarik wajahnya lebih dekat ke dada yang kini berguncang pelan karena napas tak stabil.
"Aku udah lama pengen ini. Waktu di motor... aku bayangin kamu masukin jari kamu sambil aku duduk di jok belakang," gumamnya.
Raka menurut. Jarinya masuk, hangat dan licin. Ara menggeliat, satu kakinya terangkat ke bangku, membuka diri lebih lebar. Jaket masih melindungi mereka dari dunia luar, menciptakan ruang kecil dan panas di tengah hujan yang menderu.
Raka mencium dada Ara, menjilat putingnya dengan perlahan, lalu menggigitnya ringan. Ara menahan erangan, matanya terpejam rapat, tubuhnya melengkung ke depan.
"Mas..." bisiknya, "Masnya juga keluarin. Aku pengen pegang."
Tangannya masuk ke dalam celana Raka, menemukan batang keras yang sejak tadi menegang. Ia menggenggamnya dengan penuh nafsu, lalu mulai menggerakkan tangan naik turun perlahan, mengikuti irama dari tubuh mereka yang kini sudah terikat dalam satu frekuensi.
Aroma tubuh, hujan, dan suara napas yang memburu memenuhi ruang sempit di balik jaket.
"Aku mau duduk di pangkuan Mas," kata Ara.
Raka mengangguk. Ara duduk mengangkang di pangkuannya, tubuhnya basah, hangat, dan menggoda dalam cara paling mentah.
Mereka belum bersatu sepenuhnya. Tapi gesekan kulit, desahan, dan jari yang terus bermain membuat tubuh Ara gemetar. Dan di tengah derasnya hujan yang menghapus semua suara, Ara menjerit kecil-ledakan dalam diam.
Raka mengikutinya beberapa detik kemudian. Mengerang pelan, mencengkeram pinggang Ara erat, membiarkan diri larut dalam kenikmatan yang mereka ciptakan di balik jaket, di halte sepi, dalam hujan yang belum juga berhenti.
Mereka terdiam lama.
Tubuh bersandar satu sama lain, napas perlahan kembali normal. Hujan tetap turun, tapi dunia di dalam jaket mereka sudah tak sama lagi.
Ara membuka matanya, tersenyum nakal. "Mas... kita belum selesai, kan?"
Raka tersenyum. Basah. Panas. Dan jatuh semakin dalam.
***
Pintu kontrakan Raka berbunyi dua kali. Jam menunjukkan pukul 11 siang. Ia baru saja selesai mandi, hanya mengenakan celana pendek longgar, tubuh masih basah dan beruap. Ia berjalan malas ke depan, membayangkan kurir paket atau tetangga salah kamar.
Tapi begitu pintu dibuka, dunianya berhenti sebentar.
Ara berdiri di sana. Tanpa bra. Tanpa malu.
Pakaiannya sederhana-kaos hitam gombrong dan hotpants jeans belel yang lebih mirip celana dalam daripada celana jalan. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya tanpa rias, tapi matanya... tajam, seperti sudah tahu apa yang akan ia lakukan.
"Mas kangen aku?" tanyanya sambil melangkah masuk tanpa menunggu undangan.
"Eh... gimana kamu bisa masuk gang ini? Aku nggak kasih alamat, kan?" tanya Raka sambil menutup pintu.
Ara mengangkat kunci kecil dari saku celananya, menggoyang-goyangkannya di udara.
"Kemarin pas kita di halte, kamu naruh gantungan kunci motor di meja. Aku pinjam bentar. Sekalian ke tukang kunci." Ia tersenyum nakal. "Sekarang aku bisa masuk kapan aja."
"Ra, kamu gila." Tapi Raka tidak menolak. Karena di balik kegilaan itu, ada bagian dari dirinya yang menikmatinya.
"Emang. Dan aku mau kamu ikut gila bareng aku."
Dengan cepat Ara menekan tubuh Raka ke tembok. Tangannya menyusup ke bawah celana pendek Raka, menemukan apa yang ia cari. Keras. Siap. Menginginkan.
"Aku mimpi kamu semalam," bisik Ara, sambil mengecup leher Raka. "Dalam mimpi itu, aku di atas kamu. Aku ikat tangan kamu ke ranjang. Kamu nggak bisa ngelawan. Dan aku paksa kamu buat keluar... berkali-kali."
Tangannya makin dalam, menggerayangi batang panas Raka yang kini nyaris lepas dari kain.
Raka membalikkan posisi, membanting Ara ke dinding. "Gantian," desisnya. Ia mencium Ara dengan brutal-bibir saling menabrak, lidah saling mencari, tangan meremas pinggul gadis itu dengan kuat.
Kaos hitam itu terangkat cepat. Tanpa bra, dada Ara langsung terlihat, berayun bebas dan menantang. Raka langsung menunduk, menjilat putingnya dalam putaran basah yang membuat Ara tercekik nikmat.
"Mas, peluk aku lebih keras. Sampai aku nggak bisa napas."
Ara menekan kepala Raka ke dadanya, tubuhnya mulai menggeliat. Tangannya masuk ke celana Raka dari belakang, meremas bokong keras itu sambil menggigit bahunya sendiri.
Raka mendorongnya ke kasur. Kontrakan kecil itu sempit, tapi cukup untuk satu ranjang kapuk yang sekarang jadi panggung mereka.
Ara membuka celana sendiri, melemparnya ke lantai. Tidak ada celana dalam. Tidak ada sensor. Tubuhnya kini telanjang di bawah sinar siang, keringat mulai muncul, meski hujan belum turun.
"Mas lihat aku," katanya. "Lihat tubuh yang kamu pikirin tiap malem."
Dan Raka melihat.
Kulit Ara bersih, paha berisi, selangkangan berambut tipis, dan lubang basah yang berkilat. Ia membuka kedua kakinya perlahan, seperti menyajikan hidangan panas untuk disantap. Jarinya mengelus bagian paling sensitif, memperlihatkan betapa siapnya ia.
"Jilat aku, Mas. Sampai aku nggak bisa mikir."
Raka menurut. Ia turun perlahan, membuka kaki Ara lebih lebar, lalu menjilat bibir bawahnya seperti pria lapar yang menemukan makanan favoritnya. Lidahnya menjelajahi setiap lekuk, dari atas ke bawah, melingkar, menusuk pelan, lalu cepat dan dalam.
Ara menggeliat, mencengkeram seprai, lalu kepalanya sendiri. "Mas... Mas... Mas jangan berhenti..."
Tubuhnya berguncang, kakinya meremas pinggang Raka, dan dalam beberapa detik, ia meledak di mulutnya. Cairannya mengalir, hangat dan manis. Raka menelannya semua, mata menatap langsung ke milik Ara yang kini setengah sadar.
Tapi permainan belum selesai.
Raka naik ke atas tubuhnya, mencium mulut Ara yang masih basah, membiarkan gadis itu mencicipi dirinya sendiri. Batangnya keras, menyentuh bibir bawah Ara. Gadis itu menggenggamnya, mengarahkannya ke dalam.
"Mas masukin. Aku udah nggak tahan."
Dengan satu gerakan perlahan, Raka menembus Ara. Hangat. Sempit. Lembut. Tubuh mereka menyatu. Pelan-pelan, lalu lebih cepat. Suara tubuh saling bertabrakan memenuhi kamar kontrakan kecil itu. Kasur berdecit. Dinding tipis bergetar.
"Mas, aku mau di atas."
Ara membalikkan tubuh, naik ke atas Raka, menungganginya seperti kuda liar. Rambutnya tergerai, dadanya bergoyang, tangannya di dada Raka. Ia menaikkan dan menurunkan tubuhnya, pantatnya menampar paha Raka tiap kali turun.
"Mas enak nggak? Enak nggak ngentotin aku?"
"Gila... enak banget..."
Ara menggigit bibir, mempercepat gerakan, lalu berteriak kecil saat tubuhnya kembali klimaks, mengejang di atas tubuh Raka.
Dan Raka menyusul. Ia meledak di dalamnya, panas dan dalam. Nafasnya berat. Tubuh mereka lengket oleh keringat dan sisa-sisa kenikmatan.
Ara roboh ke dada Raka, tertawa kecil.
"Aku suka kontrakan kamu, Mas."
Raka membalas pelukannya. "Tapi kamu nggak boleh pakai kunci duplikat seenaknya."
Ara mendongak. "Kenapa?"
"Karena besok kamu nggak perlu buka kunci lagi. Kamu tidur sini."
Ara tersenyum. Lalu mencium bibir Raka lagi. Panas. Dalam. Penuh janji yang belum selesai.
***
Malam kembali turun, dan Jakarta kembali menjadi kota yang menyembunyikan rindu-rindu yang tak sempat pulang.
Raka sudah menunggu di depan kos Ara, motor menderu pelan di bawah lampu jalan yang kuning redup. Sejak siang, pesan-pesan dari Ara sudah membuatnya gelisah.
"Pakai jaket itu lagi, Mas."
"Jangan pake daleman, ya."
"Nanti dudukku agak beda."
Sekarang gadis itu muncul dari gerbang. Rambutnya digerai, memakai jaket kampus yang kebesaran, dan celana rok panjang hitam. Sepintas, seperti mahasiswi pada umumnya. Tapi tatapan matanya saat menatap Raka adalah milik perempuan yang tahu betul bagaimana membuat pria kehilangan akal.
"Ara, kamu ngapain minta dijemput malam-malam gini?" tanya Raka, mencoba terdengar wajar.
"Tiba-tiba pengen naik motor, duduk di belakang kamu," katanya ringan. "Dan pengen kamu ngerasain sesuatu."
Begitu naik, Ara tidak duduk seperti biasa. Ia duduk sangat dekat-bukan hanya sekadar memeluk, tapi merekat. Tubuhnya menempel dari dada hingga paha. Tangannya masuk ke dalam jaket Raka dari belakang, menyentuh kulit langsung.
Motor mulai melaju perlahan. Raka bawa motor menyusuri jalan-jalan sepi, malam semakin larut. Tapi di antara jalan kosong dan lampu jalan, napas Raka mulai tak teratur.
Karena di belakang, tangan Ara bergerak. Pelan. Penuh siasat.
"Ara, kita di jalan," desis Raka.
"Justru itu yang bikin enak," jawabnya, suaranya menempel di telinga Raka. "Kamu bisa ngerasain aku... tapi nggak bisa lihat. Dan nggak bisa ngapa-ngapain."
Tangan gadis itu makin nekat, bergerak dari perut ke dada, turun lagi ke paha, lalu kembali ke pinggang. Seolah menguji seberapa jauh Raka bisa tahan.
"Mas tahu kan aku nggak pake daleman?" Ara berbisik.
Raka hampir kehilangan kendali setang.
"Dan aku duduk nempel banget begini... bukan karena dingin."
Motor berhenti di lampu merah. Senyap. Sunyi. Hanya ada satu mobil di depan, dan dua motor lain di seberang. Ara makin merapat, dan saat itu juga, ia mendorong tubuhnya ke punggung Raka, menggoyang ringan seperti sedang menggoda dari atas pangkuan.
"Aku udah basah, Mas. Dari tadi."
Lampu hijau menyala. Raka memacu motor pelan, tapi pikirannya sudah kabur. Jalanan di depannya kabur. Hanya ada desakan tubuh dari belakang dan napas hangat Ara di lehernya.
Mereka sampai di pinggiran kota. Jalan sepi, hanya satu-dua mobil lalu-lalang.
"Ara, kita berhenti dulu ya, bentar..." suara Raka serak.
"Jangan," potong Ara cepat. "Terusin jalan. Tapi buka resleting jaketnya..."
Raka menelan ludah. Dengan tangan kiri, ia menarik turun resleting jaket sambil tetap menjaga kemudi. Udara malam langsung menyentuh dadanya yang telanjang di balik kaos tipis.
Ara langsung menyelipkan tangan ke dalam, menyentuh kulit hangatnya, menggaruk dada dengan pelan, kemudian mencubit kecil di dekat tulang rusuk.
"Mas Raka deg-degan ya?" bisiknya nakal. "Aku bisa rasain jantungnya..."
Motor mulai oleng sedikit.
"Mas pengen aku duduk ngangkang nggak, biar kerasa lebih jelas lagi?" tantangnya.
"Gila kamu, Ra..."
Ara tertawa kecil. "Iya. Dan kamu suka itu."
Motor mereka akhirnya sampai di tepi jembatan layang yang jarang dilewati. Di situ Raka berhenti, lampu motor masih menyala, sorotnya mengarah ke jalan kosong. Angin malam menderu. Tapi tubuh mereka berdua hangat, lebih dari cukup untuk membuat udara jadi sesak.
Raka melepas helmnya. "Sini," katanya sambil menoleh setengah.
Ara langsung menyusup ke depan, duduk menghadap Raka, satu kakinya naik ke sisi kiri motor, satu lagi ke kanan. Posisi mereka seperti pasangan dalam tarian yang tidak diajarkan di sekolah.
"Pegang pinggangku," katanya. "Terusin jalan. Tapi aku di depan."
"Kamu mau naik begini?!"
"Cuma pelan. Biar deg-degannya lebih kerasa."
Dan Raka menuruti.
Motor bergerak lambat, pelan, menyusuri jalan sepi dengan Ara duduk menghadapnya, menggoyang pelan tubuhnya sambil menatap mata Raka lurus-lurus. Roknya tersingkap, rambutnya berkibar, dan bibirnya terbuka sedikit-seolah menunggu ciuman yang belum datang.
"Mau aku bisikin hal kotor lagi?" katanya, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Raka.
"Jangan. Nanti aku nabrak."
Ara tertawa. "Kalau kamu nabrak, kita jatuh. Kalau kita jatuh, bajuku kebuka. Kalau kebuka, kamu harus tanggung jawab."
"Lalu?"
"Kamu harus nikahin aku."
Raka terdiam. Motor tetap melaju pelan.
"Ara..."
"Iya?" katanya, masih menatap tajam.
"Kamu mau aku tanggung jawab karena bajumu kebuka, atau karena aku udah jatuh duluan?"
Ara tersenyum. Manis. Tapi juga menggoda seperti racun yang enak ditelan.
"Dua-duanya, Mas."
Dan di tengah jalan sepi, motor berhenti. Mereka saling menatap, napas menyatu, dan untuk pertama kalinya di tempat terbuka, bibir mereka bertemu. Dalam. Panjang. Liar. Dan penuh janji baru yang tidak hanya basah... tapi juga dalam.
***
Pagi itu, Raka bangun bukan karena alarm.
Tapi karena wangi rambut Ara yang menempel di bantal, dan kaki telanjangnya yang melingkar seperti akar yang menuntut terus dipeluk. Di balik selimut tipis yang menjuntai, tubuh mungil itu tak memakai sehelai benang pun, masih tertidur dengan napas berat dan bekas-bekas semalam yang belum sepenuhnya kering.
Kontrakan Raka kini tidak lagi terasa miliknya sendiri.
Gelas kopi ada dua. Handuk di kamar mandi jadi rebutan. Di atas meja, ada pembalut, parfum semprot, dan laptop pink kecil. Bahkan colokan sudah dikuasai charger HP Ara.
Dan yang paling gila-ada celana dalam Ara yang digantung di atas kipas angin.
Raka bangkit pelan, hanya mengenakan celana pendek, lalu duduk di pinggir ranjang. Ia menatap sekeliling. Semua berubah.
Tapi anehnya... ia tidak merasa kehilangan. Justru sebaliknya-kontrakan ini hidup.
Dari belakang, lengan kecil itu melingkar di pinggangnya. "Mas, mau ke mana?"
"Ke dapur. Ngopi."
"Enggak boleh. Belum cium aku."
Raka menoleh, Ara sudah duduk bersila, tubuhnya masih telanjang, mata masih separuh mengantuk. Tapi senyumnya penuh kemenangan. Ia menarik leher Raka mendekat dan mencium bibirnya. Pelan. Dalam. Lalu menggigit sedikit bawah bibirnya.
"Sekarang boleh pergi," katanya, lalu merebah lagi seperti ratu yang baru saja memberi izin kepada prajuritnya.
Pagi itu mereka tidak mandi. Tapi mereka mandi keringat.
Meja dapur jadi saksi. Kursi plastik nyaris patah. Bahkan cucian bersih jadi korban. Dan ketika siang tiba, mereka hanya memakai celana pendek dan kaos longgar-berjalan di dalam kontrakan seperti sepasang kekasih liar yang tak punya alasan untuk berpura-pura sopan.
***
Siangnya, Raka duduk di lantai, laptop di pangkuan, mencoba menyusun rute kerja. Tapi konsentrasinya terus buyar karena Ara berkeliaran di kamar dengan handuk saja. Handuk pendek. Yang terlalu sering nyaris jatuh.
"Mas, aku pinjam baju kamu ya. Aku udah dua hari belum pulang kos."
"Lah, emang kamu nggak mau balik?"
Ara hanya menjawab dengan masuk ke lemari, mengambil kaos Raka, memakainya tanpa daleman, lalu duduk di pangkuannya.
"Aku udah mutusin. Mulai sekarang aku tinggal sini."
Raka tertawa kecil. "Ara, ini kontrakan cowok. Sempit. Pengap. Nggak ada ruang buat hidup santai."
"Tapi ada kamu. Dan tubuh kamu." Ia menyandarkan kepala ke dada Raka. "Itu cukup."
Mata Raka menatapnya serius. "Kalau kamu beneran tinggal, ini bukan cuma tempat main-main lagi."
Ara mengangguk. "Aku tahu. Aku udah milih. Aku nggak main-main, Mas."
Hening sesaat. Lalu tangan Ara mulai bergerak ke bawah, seperti biasa. Tapi kali ini bukan hanya godaan. Kali ini penuh rasa memiliki.
"Ini punyaku sekarang, kan?" bisiknya, sambil menggenggam kemaluan Raka dengan lembut namun mantap. "Nggak ada cewek lain yang bisa sentuh ini."
Raka menahan napas. Tapi tak menjawab.
Ara mencubitnya.
"Jawab, Mas."
"Iya, iya. Punya kamu."
Ara tersenyum puas. Tapi belum selesai.
"Kalau gitu, aku mau bikin tanda."
Ia menarik celana Raka ke bawah, dan kali ini, ia tidak hanya menyentuh. Ia menguasai. Perlahan, penuh kendali. Tapi tidak tergesa. Ia ingin setiap inci tubuh Raka mengingatnya.
Dan ketika hari beranjak sore, Raka sudah terkapar, kelelahan, sementara Ara duduk di tepi ranjang sambil mengecek pesan masuk di HP-nya, memakai kaos yang terlalu besar dan celana yang terlalu pendek.
"Mas," katanya tanpa menoleh. "Besok aku pengen kamu jemput siang. Kita ke kosanku. Aku harus ambil beberapa barang."
"Oke. Kita sekalian pulang?"
Ara menoleh, matanya tajam. "Enggak. Kita cuma mampir. Pulangnya tetap ke sini."
Raka diam sebentar. Lalu tersenyum.
Kontrakan ini bukan miliknya lagi. Bukan sepenuhnya.
Tapi di situlah justru hidupnya terasa mulai berarti.
***