"Coba kamu periksa ke dokter, mana tau ada yang salah sama rahim kamu. Masa udah rumah tangga tiga tahun tapi belum juga punya anak," ucap Ibu Mertuaku yang katanya hanya sekedar mampir, padahal hal itulah yang selalu ia bahas ketika berkunjung ke rumah.
"Sudah kok, Bu. Dan kata dokter rahimku sehat. Siklus menstruasinya juga teratur. Aku juga sebisa mungkin menghindari stres walaupun selalu dihujani banyak pertanyaan 'kenapa belum hamil?'."
"Jadi, kamu mau bilang Ibu bikin kamu stres?" Nada bicara Ibu Mertuaku terdengar tidak baik-baik saja.
"Aku tidak menuduh Ibu, apa memang Ibu merasa?"
"Ini nih, yang buat kamu susah hamil. Ngeyel jadi orang!"
Ditengah perbincangan dengan Ibu Mertuaku yang terdengar semakin tidak baik, Suamiku malah asyik main game dengan ponselnya. Begitulah kebiasaannya setiap pulang kerja. Bukannya membelai istri, malah sibuk dengan game. Bagaimana bisa aku hamil kalau seperti ini?
Aku menarik napas dalam-dalam. "Bu, coba deh Ibu tanya sama anak Ibu sendiri. Mungkin saja Mas Rendi yang bermasalah. Dokter juga nyaranin supaya kita diperiksa berdua, tapi Mas Rendi selalu nolak," ucapku akhirnya dengan berani.
Selama ini aku diam bukan karena aku tidak punya nyali untuk membela diriku sendiri, hanya saja aku menghormati Ibu Mertuaku yang sudah menjadi Ibu kedua bagiku. Namun, aku sudah tidak tahan lagi jika pembahasan setiap hari hanya seputar anak saja.
"Kok kamu jadi nuduh suami kamu sendiri? Kamu lupa, Rendi sudah punya anak dari istrinya yang dulu. Kamu mau membela diri tapi menuduh Rendi yang bermasalah? Apakah kamu harus diperiksa kejiwaannya juga?"
"Bu, cukup, ya!" Aku sudah benar merasa hilang kesabaran. "Mas Rendi! Ngomong sesuatu dong!"
Tanpa berpikir panjang, aku secara tidak sadar merebut ponsel Mas Rendi.
"Bu, udah. Malu sama tetangga. Ibu pulang aja udah mau malem juga," ucap Mas Rendi yang akhirnya bersuara disaat aktivitasnya aku hentikan secara paksa.
"Dasar, Menantu yang gak tau sopan santun!" ucap Ibu Mertuaku yang langsung keluar dari rumah untuk pulang.
Setelah Ibu pulang, aku pikir Mas Rendi akan meminta maaf atas perbuatan Ibunya padaku. Namun, salah. Aku terlalu berharap saja dibela oleh Suamiku sendiri.
"Sayang, jangan begitulah sama Ibu. Kasihan. Wajar kalau Ibu minta cucu sama kita. Anak Ibu itu cuma Mas. Dan anak Mas kan ikut sama mantan istri Mas, jadi jarang main dan bertemu sama Ibu."
"Aku cape aja, Mas. Selalu itu terus yang dibahas. Bukannya nanya kabar dulu, atau apalah. Ibu pikir aku nggak mau punya anak apa? Umur aku juga udah mau 28 tahun, jelas aku juga mau punya anak kaya orang lain. Makanya ayo kita periksa ke dokter sama-sama."
Suamiku langsung memelukku. "Sabar, ya. Mas nggak pernah maksa kamu buat cepet hamil. Hidup bersama kamu saja Mas sudah sangat senang. Mas juga gak pernah minta kamu buat periksa ke dokter."
"Ya kalau begitu, Mas bicara dong sama Ibu tadi."
"Sttt! Udah pokoknya jangan dibahas lagi hal itu."
Aku pun balas memeluk suamiku, karena aku orang yang mudah luluh.
Jujur saja, aku adalah orang yang gampang bergairah. Selama pernikahan kami, akulah yang selalu meminta jatah terlebih dahulu.
"Mas ...."
Aku mulai menciumi leher suamiku, untuk membangkitkan gairahnya.
"Sayang, Mas lagi cape banget hari ini. Besok lagi, ya."
Lagi?
Lagi-lagi aku ditolak!
Malam kemarin karena pulang lembur. Sekarang karena capek.
"Tapi, Mas ...."
Namun Mas Rendi benar-benar tidak mempedulikan keinginan sederhanaku itu. Ia masuk ke dalam kamar sambil membawa ponselnya yang aku rampas tadi dan meninggalkanku sendirian.
Pada akhirnya, aku yang harus mengurusnya sendiri. Bermain dengan jariku sampai aku merasa puas. Selalu begini, kapan aku hamilnya?
***
Sebagai seorang Ibu rumah tangga, terkadang bosan juga hampir setiap hari di rumah apalagi aku belum mempunyai anak yang harus aku jaga.
Kadang aku berpikir lebih baik stres karena pekerjaan tetapi tetap menghasilkan uang. Daripada stres di rumah, uang pun menunggu pemberian dari suami ketika gajian.
Sekarang jadwalku untuk belanja bulanan. Ya, aku berangkat sendiri. Tidak pernah mengandalkan Suamiku yang selalu ogah-ogahan jika aku memintanya untuk antar ke supermarket. Suamiku terlalu gila pekerjaan, sekalinya pulang lupa istri karena sibuk bermain game.
Waktunya aku mengantre di kasir, memang bukan akhir pekan tetapi cukup ramai karena aku belanja sore hari dimana bertepatan dengan jam pulang kantor.
Sekarang tiba untuk menghitung berapa total belanjaanku yang hanya satu troli kecil saja. Sebagai seorang istri, aku sudah pandai me-manage uang. Walaupun belum punya anak, tetapi aku selalu menyisihkan penghasilan Suamiku untuk dana pendidikan anak kami nanti.
"Totalnya jadi 564.300 rupiah, Mbak."
Aku yang sedari tadi tengah sibuk mencari dompet, mulai merasa panas dingin setelah kasir itu selesai men-scan barang belanjaanku.
Astaga! Di mana dompetku? Apa aku lupa membawanya?
Saat berangkat ke supermarket, aku memesan ojek online dan membayar lewat e-wallet, sehingga aku tidak menyadari kalau aku lupa membawa dompet. Dan sayangnya saldo e-wallet-ku kurang dari nominal yang disebutkan oleh kasir. Sedangkan m-banking ada di ponsel Mas Rendi.
"Mbak? Total belanjaannya 564.300 rupiah. Kalau tidak ada cash, bisa scan barcode."
"Mbak, maaf. Sepertinya dompet saya tertinggal. E-wallet saya juga tidak cukup saldo. Boleh saya telepon suami saya dulu?" tanyaku berharap Mbak kasir itu mengiyakan dan aku akan meminta Mas Rendi untuk top up saldo e-wallet-ku saja.
"Cepat, Mbak. Antrean panjang."
Aku segera menelpon Mas Rendi dengan gugup karena orang-orang di belakang melihatku.
Beberapa kali, Mas Rendi tetap tidak menjawab.
"Mbak biar saya yang bayar," ucap seseorang yang memberikan blackcard pada kasir. Sontak membuatku menoleh.
"Tidak usah, Mas."
"Kamu tidak lihat antrean di belakang? Saya hanya meminjamkannya, nanti kamu harus kembalikan uang saya," ucapnya.
Meski sedikit malu, tetapi setidaknya pria yang ada di belakangku telah menyelamatkanku.
Aku pun menunggu dia setelah beres dengan belanjaannya. "Mas, karena suami saya masih belum bisa dihubungi, boleh saya minta nomor rekening dan nomor ponselnya. Saya akan pastikan bayar setelah saya sampai ke rumah."
"Kamu tidak akan kabur?"
Dengan cepat aku menggelengkan kepala. "Tidak, Mas."
"Saya butuh jaminan."
"Tapi saya tidak membawa barang berharga, saya juga tidak bawa kartu pengenal."
"Kalau begitu, saya antar ke rumah. Dan kamu bisa langsung membayarnya."
"Ke rumah?"
"Iya, dengan begitu kamu tidak akan kabur."
"Tapi, sepertinya itu merepotkan," ucapku yang keberatan jika harus mengajaknya ke rumahku.
"Saya bukan berniat mengantarkan kamu pulang, tapi menjemput uang saya."
Aku tidak punya pilihan lain, selain mengiyakannya. Aku juga tidak mau jika harus berhutang pada orang lain.
Sepanjang perjalanan, kami saling diam saja. Karena memang tidak ada topik obrolan yang perlu kami bahas.
"Ini rumahmu?" tanya pria itu saat mobil berhenti tepat di depan rumah.
"Iya, betul. Mas tunggu sebentar di sini, saya ke dalam ambil dompet," ucapku sambil membuka pintu mobil.
"Kamu tidak menyuruhku untuk menunggu di dalam?" tanya pria itu membuatku merasa curiga saja jika dia bukan orang baik-baik.
"Suami saya belum pulang kerja, Mas. Saya tidak bisa asal memasukkan orang ke dalam rumah. Mohon maaf ya, Mas."
Saat aku keluar dari kamar, ternyata pria yang aku suruh untuk menunggu di mobil, malah sudah duduk di ruang tamuku. Membuatku takut dan was-was.
"Mas kenapa masuk ke dalam tanpa seizin saya? Saya kan sudah bilang Mas tunggu di mobil, karena saya pasti akan membayarnya. Ini ...."
Aku menyerahkan uangku untuk menggantikan uangnya. Aku genapkan saja jadi 600 ribu, hitung-hitung sebagai rasa terima kasih.
"Oke, saya terima uangnya." Pria itu bangkit. Bukannya keluar dari rumah, ia malah berjalan mendekati foto pernikahanku dengan suami yang aku cetak dengan ukuran besar dan aku pajang di ruang tamu.
"Ini foto pernikahanmu dengan suami?" tanya pria itu benar-benar melenceng dari tujuan dia ke sini.
Meskipun itu basa-basi yang tidak terlalu mengganggu, tetapi bagiku rasanya sedikit tidak sopan saja karena pria itu dengan lancang masuk ke dalam.
"Betul. Mas sebaiknya pulang, sekali lagi saya ucapkan terima kasih."
"Sepertinya saya diusir secara halus. Baiklah, saya permisi."
Disaat pria itu hendak keluar, ternyata suamiku pun pulang bersama dengan Ibu Mertuaku.
Habis sudah! Mereka pasti akan salah paham padaku karena pria ini keluar dari rumah disaat tidak ada orang.
"Apa-apaan ini, Tiana?" Nada bicara Ibu Mertuaku terdengar tidak baik-baik saja. "Keterlaluan! Suami sibuk kerja, eh ini istri tidak tahu malu malah masukin laki-laki ke rumah. Gak tahu malu!"
"Tiana ...."
"Mas, tenang dulu. Aku akan jelaskan apa yang terjadi. Tapi nggak diluar kaya gini. Ayo kita masuk ke dalam dulu," ucapku dengan tenang saat mendengar Mas Rendi memanggil namaku lirih.
"Jangan mau percaya sama istri kamu, Ren. Kamu itu udah diperdaya sama dia. Sama Ibu aja udah berani ngelawan. Pasti dia juga akan ngelawan kamu. Sekarang aja udah berani masukin laki-laki ke dalam rumah disaat kamu gak ada. Udah jelas dia wanita gak bener. Gak heran kalau dia jadi susah untuk hamil. Tuhan lebih tau kalau istri kamu belum pantas jadi seorang Ibu."
Ucapan Ibu Mertuaku yang sengaja mengompori Mas Rendi, sudah sangat keterlaluan. Apalagi saat itu ada orang asing yang mendengar hinaan yang ditujukan untukku. Dan kesalnya, pria asing itu terus diam saja. Menyimak tanpa sedikitpun ingin membantu menjelaskan kesalahpahaman.
"Bu, mending Ibu diam dulu. Jangan memperunyam masalah ini. Ini hanya kesalahpahaman yang harus aku luruskan saja."
"Haduh, lagu lama. Alasan klasik orang yang ketauan selingkuh itu, ya gitu, 'salah paham'. Nih denger ya, Tiana. Dari awal Ibu gak setuju Rendi nikah sama kamu. Masih lebih baik mantan istri Rendi. Firasat Ibu emang gak pernah salah, kalau Rendi ternyata malah nikahin wanita gak bener. Emang bener kata orang-orang, kalau nikahin wanita mantan sekretaris itu, begini resikonya. Kegatelan!"
Aku mengepalkan kedua tanganku dengan keras seiring hinaan dan cacian dari Ibu Mertuaku yang semakin tidak berperasaan saja.
Adanya Mas Rendi sebagai suami pun, sama sekali tidak berguna untukku. Aku tetap terhinakan dan itu sangat memalukan, apalagi dihadapan orang asing. Bahkan beberapa tetangga dekat terlihat mulai keluar dari rumah mereka karena suara Ibu yang cukup nyaring saat lontaran demi lontaran kata-kata tidak pantas itu untukku terucap.
"Bu, cukup!"
"Bener-bener istri yang gak tau malu. Abis selingkuh, malah bentak Ibu. Lihat, Ren! Ini akibat kamu selalu memanjakan istri kamu. Jadinya kurang ajar, udah salah bukannya minta maaf malah cari alasan."
Ya Tuhan, kalau saja aku sudah merasa habis kesabaran, mungkin aku sudah merobek mulut Mertuaku.
Aku? Kejam seperti monster? Tapi Ibu Mertuaku lah yang sudah membentukku menjadi monster yang selalu berpikir untuk bisa menghancurkannya. Hebat sekali mentalku dibuat hancur, selalu dipermalukan seakan aku beban dan sesuatu yang membuat malu nama baik keluarga.
"Mas! Ayo masuk ke dalam dulu!"
Aku langsung saja menarik tangan suamiku untuk masuk ke dalam rumah. Setidaknya agar Ibu mertuaku juga masuk, sehingga aku memiliki kesempatan untuk menceritakan semuanya.
Dan sialnya, sampai disaat aku masuk ke dalam rumah pun, pria yang mengantarkanku pulang hingga terjadi kesalahpahaman sama sekali tidak berniat untuk membantuku menjelaskan duduk perkaranya. Seolah dia malah menikmati tuduhan perselingkuhan itu memang terjadi.
Ketika kami bertiga sudah masuk ke dalam rumah. Mas Rendi dan Ibu masih diam saja. Dan tentunya akulah yang akan memulai pembicaraan.
"Mas tadi itu ---"
Aku pun bercerita semuanya, dari awal sampai akhir. Tidak ada yang aku kurangi dan tidak ada yang aku tambahkan. Semua kejadian yang benar terjadi aku ceritakan semua di depan suami dan juga Ibu Mertuaku.
"Anak SMP juga bisa kalau cuma mengarang cerita seperti itu. Ibu udah hafal sekali tabiat menantu macam istri kamu, Ren. Makin hari makin berani saja," ucap Ibu mertua yang tentu saja tengah memberikan pengaruh buruknya pada suamiku.
Mas Rendi menghela napas panjang. "Masuk ke kamar! Mas mau antar Ibu pulang dulu. Baru kita bicarakan berdua."
"Mas, Ibu kan bisa pulang sendiri. Cuma di kompleks sebelah aja."
"Nurut sama Mas! Ayo, Bu. Aku antar Ibu pulang dulu."
Setelah suami dan Ibu mertuaku pergi, aku benar-benar kehabisan kata-kata, kehabisan tenaga pula untuk membela diriku. Tidak ada tanggapan apa-apa dari Mas Rendi dari awal sampai tadi sekalipun. Datar begitu saja.
Salahkah aku sebagai seorang istri yang hanya ingin dibela di depan mertuaku?
Aku bukan meminta Mas Rendi menjadi anak durhaka, tetapi setidaknya aku ingin Mas Rendi menunjukkan bela dia terhadap istrinya yang selalu tertindas oleh Ibunya sendiri. Karena aku yakin, Mas Rendi juga merasa jika sikap Ibu padaku selalu saja keterlaluan dan menyakitkan hati.
Tak lama kemudian, Mas Rendi pulang.
"Sayang mau istirahat sekarang?" tanya Mas Rendi yang membuatku merasa tidak habis pikir.
Padahal perkara tadi saja, belum bisa dikatakan tuntas bagiku. Hatiku masih sangat sakit dengan tuduhan Ibu, tetapi Mas Rendi bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mas? Serius kamu tanya itu? Kamu gak mau bahas lagi masalah tadi?" tanyaku sambil berdiri.
"Mas percaya, kok. Kamu bukan wanita seperti yang dituduhkan oleh Ibu."
"Terus kenapa Mas diam saja tadi? Harusnya Mas belain aku di depan Ibu, bukan diam saja dan malah nyuruh Ibu pulang."
"Udahlah, sayang. Gak perlu dibesar-besarkan. Mas juga yakin Ibu nggak bermaksud nuduh kamu yang nggak-nggak. Wajar saja reaksi Ibu kaya tadi, karena syok aja ada pria asing keluar dari rumah kita," ucap suamiku yang malah membela dan mewajarkan apa yang Ibu perbuat padaku.
"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu, Mas. Kamu dari tadi diam saja nggak ngebela aku sama sekali. Padahal pas kita lagi berdua seperti ini, kamu percaya sama aku. Kenapa sih, Mas? Kenapa kamu selalu kaya gini? Kenapa kamu begitu takut sama Ibu dan selalu ngorbanin perasaan aku? Padahal aku sudah ngalah, kamu selalu antar Ibu ke mana-mana walaupun kamu pulang kerja sore. Sedangkan aku? Aku belanja ke supermarket saja sendirian, nelepon kamu berkali-kali pun kamu nggak ada respon. Dan ujung-ujungnya seperti ini? Kamu emang pria baik, anak yang penurut sama orang tua, penyayang Ibu, tapi kamu keterlaluan dan jahat sama istri kamu sendiri!"
Tak terasa aku menumpahkan air mataku yang sudah tidak terbendung lagi. Aku terlalu banyak membatin saat bersama suamiku yang tidak pernah ada untukku. Baik waktu dan juga perhatiannya.
Selalu saja Ibunya yang menjadi nomor satu. Bukan aku tak suka mendapatkan suami yang sayang keluarganya, tetapi ini sangat tidak adil.
Apa gunanya suami kalau sudah begini? Kebutuhan batinku tak pernah terpenuhi, kebutuhan lahirku pun dibatasi karena suamiku menafkahi Ibunya pula setelah Ayah Mertuaku meninggal. Sabar macam mana lagi yang harus aku lakukan?
"Sayang, memang apa bedanya? Lebih penting Mas percaya sama kamu, apapun yang kamu lakukan. Dari pada Mas curiga tetapi pura-pura membela kamu. Itu tidak baik. Yang terpenting Mas sayang sama kamu," ucap Mas Rendi sambil mengecup keningku.
Hah .... Kadang lelah sama diri sendiri, mudah marah, mudah tersinggung, tetapi juga mudah untuk diluluhkan. Tidak perlu sebuah rayuan, tidak perlu gombalan, hanya sebatas pelukan dan kecupan saja hatiku sudah meleleh. Mas Rendi memang selalu memenangkan hatiku.
Walau bagaimanapun, memang aku sangat mencintai suamiku. Dia yang tidak pernah marah dari awal menikah sampai sekarang.
Mungkin memang benar, tidak ada rumah tangga yang benar-benar sempurna. Pasti akan ada kekurangan sebagai ujiannya.
"Mas ...." Aku menatap penuh arti pada suamiku.
"Jangan sekarang ya, sayang."
"Kenapa lagi?"
"Mas sudah pesankan tiket nonton bioskop besok. Udah lama kita gak nonton. Mau?"
Mas Rendi lagi-lagi menolak ajakanku. Entah kapan terakhir kali kami bercinta. Aku sudah merindukannya, tapi seolah hal itu adalah hal yang sulit diberikan oleh Mas Rendi setahun terakhir ini.
Keesokan harinya, aku sudah bersiap untuk berangkat ke bioskop. Aku keluar dari kamar sebelah yang kujadikan sebagai walk in closet sebelum kami mempunyai keturunan.
"Loh, Mas kok belum siap-siap?"
"Maaf, sayang. Ibu ---"
"Oke cukup, Mas. Aku pergi sendiri saja."
Tanpa berlama-lama aku segera pergi dari rumah. Aku bahkan tidak bertanya alasan apalagi yang membuat Mas Rendi akan menghabiskan waktu akhir pekannya bersama Ibunya, lagi dan lagi dibanding denganku.
Aku membatin, hanya berharap film yang aku pilih banyak pula yang menontonnya. Lalu aku berpapasan dengan seorang pria yang baru keluar dari toilet, dan tak sengaja aku menyenggolnya.
"Maaf," ucapku sambil menundukkan kepalaku.
Dan pria itu berlalu begitu saja.
'Wangi ini?' batinku yang sembari mengingat aroma yang rasanya tidak asing. Dan aku yakin ini berasal dari pria yang berpapasan denganku.
Kini, aku pun sudah masuk ke dalam teater. Aku memilih kursi di row E, tidak terlalu atas juga tidak terlalu bawah. Aku memang memilih view yang bagus saat melihat filmnya.
Dan ternyata baru ada satu orang saja di sana. Satu row denganku hanya saja selisih dua kursi kosong yang memisahkan kami berdua. Aku tidak bisa begitu jelas melihat wajahnya, karena dia memakai topi hitam juga terus menunduk sambil memainkan poselnya. Namun yang jelas pria itu adalah pria yang tak sengaja aku senggol saat di depan toilet tadi. Aku masih sangat hafal pakaian yang ia kenakan, serba hitam hari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aroma mint pun kembali menyeruak masuk ke dalam rongga penciumanku. Membuatku terus berpikir, jika wangi itu memang tidak asing. Hanya aku tidak bisa mengingatnya.
Setelah iklan yang kurang lebih hampir setengah jam, lampu teater dimatikan pertanda film akan segera diputar. Dan mataku masih saja tertuju pada arah pintu masuk, sama sekali tidak ada yang datang lagi, sehingga hanya aku dan pria itu di dalam teater.
Aku mencoba bersikap tenang, toh aku tahu di dalam teater ada CCTV, dan aku akan aman-aman saja.
Selama film berlangsung, rasa takut karena aku seorang diri malah hilang, tergantikan dengan rasa takut alur film yang sedang aku tonton.
'Ah, horor macam apa ini?! Aku lebih baik nonton hantu daripada pembunuhan sadis kaya gini,' batinku sambil menutup wajah dengan tangan.
Durasi film yang aku tonton, sekitar dua jam. Dan baru saja setengah jalan, tetapi sudah menegangkan dari awal. Sampai aku tidak menyadari jika pria yang tadinya selisih dua kursi dariku, kini tepat ada di sampingku.
"Boleh aku duduk disampingmu?" bisik pria itu membuatku terkejut dan merinding tak karuan.
Aku masih belum berani untuk menoleh. Saking parnonya karena film, aku malah sempat berpikir jika pria disampingku bukanlah manusia.
"Tenang saja aku bukan pria jahat."
Aku masih merasa aman karena adanya kamera tersembunyi di dalam teater. Sehingga aku kembali fokus saja pada film dilayar.
"Kamu datang sendiri?" bisik pria itu lagi.
Aku mengangguk saja, berharap ia tidak terus-menerus bertanya hal yang tidak penting.
"Mengapa sendiri?"
Lagi!
Aku menoleh dengan niat ingin menegurnya agar tidak terus mengajakku berbicara. "Ma---"
Aku malah diam membeku karena kini aku berhadapan dengannya dengan jarak yang cukup dekat, dekat, sangat dekat. Sontak aku langsung menjauhkan wajahku karena terkejut sekaligus takut.
"Sudah aku bilang, aku bukanlah orang jahat. Aku hanya ingin mengobrol saja."
"Aku sudah punya suami!"
"Memangnya kenapa? Apa ada aturannya kalau sudah bersuami tidak boleh mengobrol dengan orang lain?"
"Aku sedang fokus pada film!"
"Baiklah."
Setelahnya, aku pikir akan berhenti sampai disitu. Ternyata tidak, karena tiba-tiba saja tanganku dipegang.
"Mas, apa-apan, sih?" Aku menepis tangan pria itu.
"Benarkah kamu sudah bersuami? Mengapa tidak datang dengan suamimu?"
"Pertanyaan Anda sungguh tidak sopan, Mas!"
"Padahal niatku sangat baik, aku tidak bisa tega saat melihat seorang wanita duduk sendiri apalagi di bioskop. Apa kamu ada masalah dengan suamimu?" tanya pria itu yang tidak menggubris perasaanku yang sudah tidak nyaman dekat dengannya.
"Kalau Mas berbicara seperti itu pada wanita-wanita muda yang masih lajang, mungkin tidak masalah. Masalahnya saya sudah katakan kalau saya sudah menikah, jangan menggoda saya!"
"Menggoda?" Pria itu tampak tersenyum penuh arti.
Beberapa waktu berlalu, pria yang ada di sampingku tak lagi menggangguku lagi. Entah mengapa aku malah penasaran, aku melihat dengan ekor mata. Dan benar saja perasaan tak enak yang aku rasa karena pria itu terus melihat ke arahku alih-alih melihat layar besar di depan.
"Mas, tolong jangan buat saya tidak nyaman. Saya hanya ingin nonton film ini dengan tenang. Saya sudah bayar dua tiket, jadi saya tidak ingin rugi!"
Pria itu tersenyum, dengan tetap tak mengalihkan pandangannya. "Apa saya bilang tadi, tidak mungkin kamu datang sendiri. Jadi, suamimu tidak bisa datang karena pekerjaan atau ternyata ada wanita lain?"
Ah, sial! Kenapa aku harus keceplosan segala.
"Bukan urusan Anda!"
"Biar aku tebak, sepertinya bukan karena pekerjaan, tapi karena wanita lain. Benar? Dan wanita ketiga ini bukanlah wanita penggoda suami orang melainkan Ibu mertua kamu."
Mendengar kebenaran yang dikatakan pria itu, aku yang tadinya tidak ingin lagi memperpanjang urusan karena tidak penting, kini malah merasa penasaran mengapa dia bisa tahu. Atau mungkin hanya asal berucap saja?
Namun kasus yang sedang aku alami ini, bukanlah hal yang bisa dengan mudah ditebak oleh orang lain tanpa aku bercerita sendiri.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa yang aku katakan memang benar?"
"Ck!"
Akupun menganggap bahwa hal itu hanya sebuah kebetulan saja.
"Jika suamimu sayang padamu, dia akan memprioritaskan dirimu. Dan kalau Ibu mertuamu menghargaimu, dia akan mengerti jika anak laki-lakinya sudah bukan sepenuhnya milik dia lagi. Tidak ada laki-laki yang benar-benar sibuk dalam urusan pribadinya, hanya mungkin beda prioritas saja. Dari situ harusnya kamu tau, ada di nomor berapa urutan prioritas kamu sebagai seorang istri."
Meski aku tidak menoleh sama sekali, tapi semua yang diucapkan oleh pria itu, jelas terdengar olehku. Bahkan aku mengerti betul maksud dari apa yang dia katakan.
Aku yang sudah tiga tahun lebih, menjadi Ibu rumah tangga yang tidak banyak bergaul dengan orang lain, yang otomatis aku tidak punya tempat untuk berbagi, tiba-tiba merasakan hal lain. Hal yang selama ini aku butuhkan, yaitu tempat berbagi keluh kesah atas apa yang aku rasakan. Terutama sakit hati karena Ibu Mertuaku, juga kekesalanku pada suami yang tidak pernah ada dipihakku, dan pada kebodohanku yang selalu menganggap peristiwa yang terjadi menjadi sebagai angin yang akan segera berlalu.
"Terima kasih sebelumnya, tapi kamu tidak harus mengurusi rumah tangga orang lain."
"Terima kasih? Apakah itu artinya kamu membenarkan tebakanku?"
Aku meliriknya dengan tatapan tajam tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Kamu tau one night stand?"
"Jangan macam-macam ya, Mas!"
Karena aku sudah benar-benar merasa tidak nyaman, akhirnya aku bangkit untuk keluar dari teater walaupun film belum selesai. Tidak lagi kupikirkan sayangnya uang yang sudah keluar percuma untuk dua orang, ditambah aku yang bahkan tidak begitu menikmati film yang disuguhkan sampai akhir cerita.
Namun dengan cepat tanganku ditahan oleh pria itu. "Memang kamu sekuat apa? Bisa bertahan dihubungan yang tidak membuat kamu bahagia? Jika alasanmu bertahan hanya karena tidak ingin sendiri disaat tidak punya keluarga lagi, sebaiknya berpisahlah."
Aku memicingkan mataku, mencoba menatap lekat pria yang ada dihadapanku yang bahkan aku belum melihat dengan jelas seperti apa rupanya karena masih tertutup sebagian dengan topi.
"Kamu tidak tau apa-apa! Yang kamu katakan semua hanyalah opini saja. Itu semua omong kosong!"
Aku langsung bangun dan berniat untuk segera pergi. Namun tiba-tiba saja tangan kekar itu kembali menarik tanganku hingga aku berhadapan dengan dia. Dengan posisi seperti itu, aku merasa itulah kesempatanku untuk melihat siapakah pria yang seolah tahu kehidupan rumah tanggaku.
Cup!!
Sebuah kecupan mendarat tepat dibibirku.
"Jika kamu penasaran siapa aku, datanglah padaku. Akan aku pastikan kebahagiaanmu," ucap pria itu dengan pelan tanpa mengizinkan wajahnya terlihat olehku.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyaku yang sudah kehilangan kesabaran karena rasa penasaran.
Aku mengangkat satu tanganku mencoba untuk membuka topi yang menutupi sebagian wajahnya, ditambah dengan pencahayaan di dalam teater yang sangat minim sehingga tidak terlihat jelas.
Namun, pria itu menahan tanganku. Dan sebelah tangannya menarik tubuhku masuk ke dalam pelukan. "Datanglah padaku. Aku akan ungkapkan siapa diriku."
Aku mencoba memberontak, tetapi tubuh kekarnya tidak bisa aku kalahkan. Dia terlalu dominan.
"Jangan macam-macam!" ucapku menggeram sambil memukul-mukul dadanya.
Dan pria itu malah mendekatkan wajahnya, membuat wajahku terdorong tetapi keadaan itu malah membuat tubuhku semakin masuk dalam kungkungan badan kekarnya.
Pada akhirnya pria itu bisa meraih bibirku dan kami berciuman walau aku merasa terpaksa, tetapi paksaan dan penolakan dariku seolah berjalan seirama. Hingga tak sadar, aku semakin melemah, menyerah dan pasrah. Sesuatu yang sudah lama tidak aku dapatkan dari Suamiku, malah aku merasakan sensasi lain bersama pria asing.
Beberapa menit berlalu, alam bawah sadarku mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Aku membuka mata lalu mendorong pria yang lengah dan tak lagi memelukku dengan erat.
Tanpa berlama-lama, aku segera berlari keluar. Rasa penasaran terhadap siapa sosok pria itu tergantikan dengan rasa bersalah saat aku teringat Suamiku di rumah.
Sesampainya di rumah, perasaan bersalah malah semakin menyelimutiku. Aku tidak mungkin menceritakan semuanya, tetapi aku juga tidak ingin membohongi Suamiku sendiri atas kesalahan yang sudah aku perbuat.
"Kamu baru pulang, sayang?"
Tiba-tiba saja aku mendengar suara Mas Rendi saat hendak membuka pintu rumah.
"Ah, Mas! Ngagetin aja. Iya aku baru pulang. Ka--kamu sendiri baru pulang dari rumah Ibu?"
"Iya, soalnya tadi dibantu tetangga juga. Jadi pekerjaannya cepet selesai."
"Memangnya ada acara apa sih, Mas?" tanyaku yang memang tidak tahu karena tadi aku langsung berangkat begitu saja saking kesalnya.
"Peringatan meninggalnya Ayah. Makanya aku gak bisa nolak tadi."
"Astaga aku sampai lupa, Mas. Pasti Ibu marah sama aku karena gak bantu-bantu tadi."
"Nggak, Mas udah jelasin sama Ibu."
"Bohong. Mana mungkin Mas ada dipihak aku kalau di depan Ibu."
"Loh kok kamu gitu sama Mas? Mending kita masuk terus kamu ceritain gimana tadi di bioskop," pinta Mas Rendi sembari membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Aku malah dibuat bingung dengan perasaan bersalah yang semakin menjadi-jadi.
'Apa kali ini aku benar-benar bisa dikatakan berselingkuh setelah apa yang terjadi di bioskop tadi?' batinku.