Bab 1

lima tahun yang lalu...

Hujan mengguyur kota dengan lebat, menciptakan genangan air di mana-mana. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu Zain memacu mobilnya dalam kecepatan penuh. Di balik kemudi wajahnya tampak tegang penuh amarah.

Tanpa memedulikan jalanan yang licin, Zain terus menginjak pedal gas hingga kandas. Emosi benar-benar telah menguasai hati dan pikirannya, sehingga tidak lagi memedulikan keselamatan jiwanya sendiri.

Sebuah pesan yang berisikan video singkat yang ia terima beberapa lalu adalah alasan utama mengapa Zain berbuat nekat begitu.

[Malam panas bersama Bella Auriga Bimantara. Ingin bergabung? Datanglah ke alamat ini.]

Begitulah bunyi pesan singkat yang Zain terima dari nomor yang tidak dikenal. Di bawah pesan itu sebuah video dengan durasi sembilan belas detik memperlihatkan wajah Bella yang sedang mendesah nikmat di atas tubuh seorang pria.

Darahnya mendidih terbakar cemburu dan sakit hati.

Hati kecilnya ingin mengabaikan pesan itu karena ia merasa semua itu hanya editan. Perbuatan iseng dari lawan-lawan bisnisnya. Namun, logikanya menunjukkan hal lain. Zain mengenali tanda lahir yang ada di dada Bella. Tidak hanya itu, Zain juga mengenali tempat yang ada dalam video itu. Dalam ingatan Zain, ruangan itu persis sama dengan kamar yang ada di villa miliknya.

"Kurang ajar kamu, Bella! Berani sekali kamu mengkhianatiku!" Zain memaki sambil memukul kemudi berkali-kali.

"Apa kurangnya aku, Bella?!" geramnya.

"Lihat saja, aku akan membuat perhitungan denganmu," desisnya kemudian.

Zain kembali menginjak pedal gas sedalam mungkin, membuat mobil sport itu melesat bagaikan anak panah.

Namun, Zain lengah.

Amarah telah membutakan matanya. Beberapa saat setelah menginjak pedal gas, sebuah truk besar muncul dari arah berlawanan. Klakson panjang terdengar, tetapi sia-sia. Zain tak lagi mampu mengendalikan kemudi yang ada dalam genggamannya. Pedal rem sudah ia tekan hingga kandas, tapi mobil sport itu terlalu kencang untuk dihentikan. Benturan keras pun terjadi.

Blam! Duar!

Mobil sport milik Zain ringsek di depan moncong truk besar itu. Kaca-kaca berhamburan, asap mengepul menghalangi pandangan. Di balik kemudi, kepala Zain terkulai bersimbah darah. Beberapa saat ia berusaha untuk membuka mata, tetapi hanya dua kedipan, mata itu akhirnya terpejam tak berdaya.

***

Satu bulan berlalu. Di sebuah ruangan VVIP rumah sakit, Zain terbaring lemah di atas brankar. Ia masih koma meski telah menjalani sejumlah operasi untuk menyelamatkan nyawanya.

Dokter sedang memeriksa perkembangannya. Dilihat dari ekspresi wajahnya bisa ditebak, hasilnya cukup baik.

"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?" tanya Bella yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur.

Pria paruh baya dengan kaca mata tebal itu tersenyum.

"Secara keseluruhan, kondisi Tuan Zain semakin membaik, Nyonya. Saya yakin dalam waktu dekat dia segera sadar," jawab dokter itu.

Bella tersenyum lebar, menampakkan suka cita yang besar mendengar kata-kata dokter itu.

Namun, begitu dokter itu pergi, wajah cantiknya langsung berubah drastis. Bibir yang tadinya membentuk senyuman, sekarang berubah membentuk ejekan.

"Segera sadar? Huh ... untuk apa? Kalau hanya akan menjadi pria cacat lebih baik kamu mati saja, Zain," kata Bella dingin.

Ia kembali menyeringai sinis. Jari-jari lentiknya meraih ponsel di atas nakas, lalu bergerak lincah menghubungi seseorang.

"Percepat saja rencana kita. Tidak lama lagi dia mungkin sadar, aku tidak mau mengambil resiko," perintahnya pada seseorang di seberang sana.

"...."

"Ya, lebih cepat lebih baik," katanya tegas.

Ia menutup panggilan telepon itu. Tanpa menoleh lagi, Bella pergi meninggalkan Zain yang terlelap di tempat tidur.

Ia tidak tahu, tepat di saat ia menutup telepon itu, di belakangnya Zain telah membuka mata.

***

Bella memacu Porche Taycan miliknya menuju rumah sakit. Padahal baru dua puluh menit lalu ia meninggalkan gedung berwarna putih itu. Namun, ia harus kembali lagi karena secara mengejutkan mendapat kabar Zain telah sadar dari koma.

"Sial!" makinya sambil memukul stir.

"Mengapa harus hari ini, sih? Padahal tinggal selangkah lagi semua aset itu menjadi milikku," ucapnya geram.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Wajah Bella langsung berubah saat melihat nama yang tertera di layarnya.

"Bagaimana? Apakah kau berhasil meyakinkan dewan direksi?" tanyanya resah.

"...."

"Sial! Tua bangka itu akan aku buat menyesal nanti. Lihat saja," kecam Bella.

"...."

"Tunda saja. Aku mau lihat kondisi Zain dulu," perintahnya lagi. "Semoga saja dia hilang ingatan,' sambungnya dalam hati.

Zain adalah pengusaha kaya raya pemilik sejumlah jaringan bisnis di bawah bendera Z. A. Group. Usianya masih muda, baru menginjak 30 tahun, tapi kerajaan bisnisnya telah berkembang pesat.

Ia merupakan pria mapan yang memesona. Tidak hanya tampan, tetapi juga jenius. Meskipun terlihat dingin dan angkuh, tapi kesuksesannya di dunia bisnis berhasil membuat sosoknya selalu disegani oleh teman dan ditakuti oleh lawan.

Banyak wanita yang tertarik untuk menjadi kekasihnya, tetapi hati Zain hanya tertuju pada Bella. Mantan aktris terkenal yang terlihat cantik dan menggairahkan meski usianya lebih tua lima tahun.

Tidak sedikit yang mencibir keputusan Zain menikahi Bella karena reputasinya yang terkenal matre dan sering bergonta-ganti pacar. Namun, Zain bergeming. Ia terlanjur tergila-gila pada wanita bertubuh seksi itu.

Tidak tanggung-tanggung, Zain menggelar pesta pernikahan mewah dan menghadiahkan sejumlah perhiasan mahal untuk Bella. Saat itu, Zain merasa menjadi lelaki paling berbahagia di dunia karena bisa mempersunting Bella.

Orang bijak berkata, waktu akan mengubah segalanya. Sayangnya itu tidak berlaku pada Bella. Sifatnya yang licik, materialistis, dan senang bermain cinta tidak berubah sama sekali. Dari waktu ke waktu ia justru semakin serakah.

Bella tidak pernah merasa puas dengan limpahan materi yang Zain berikan. Kondisi Zain yang mengenaskan pasca kecelakaan mencetuskan ide gila di kepalanya. Di saat Zain terbaring koma, Bella menyusun rencana untuk mengalihkan semua aset Zain menjadi atas namanya.

Namun, di saat rencananya memasuki tahap eksekusi, Zain sadar dari koma. Hal itu membuat rencana yang ia susun dengan rapi menjadi berantakan.

Sesampai di rumah sakit, Bella langsung menuju ruang perawatan Zain. Ia mendapati pria itu sedang berbicara dengan dokter.

"Akhirnya kamu sadar, Sayang," ucap Bella begitu masuk ke kamar.

Ia meraih tangan Zain, lalu menciumnya dengan lembut. Sepasang matanya berkaca, menatap Zain dengan haru.

"Bagaimana dengan kondisi suami saya, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter itu tersenyum.

"Tuan Zain baik-baik saja, Nyonya. Tadi saya sudah lakukan serangkaian tes, semuanya normal. Tuan Zain sudah sehat seperti sedia kala," jelas dokter itu.

"Terimakasih, Dok," kata Bella.

Dokter itu mengangguk, lalu pergi bersama para perawatnya.

Bella kembali menatap Zain, dengan lembut membelai wajah tampan Zain yang masih dibalut perban.

"Selamat, Sayang. Terimakasih sudah bertahan. Berita kecelakaanmu benar-benar membuatku hampir gila," ujarnya.

"Benarkah?" tanya Zain.

"Tentu saja. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana hidupku jika tidak ada kamu," jawab Bella.

Zain bangkit dari pembaringan, lalu duduk menghadap istrinya itu. Bayang-bayang video perselingkuhan Bella kembali menari di matanya.

"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Zain.

Sepasang alis Bella bertaut. Heran mendengar pertanyaan Zain yang begitu tiba-tiba.

"Tentu saja, Sayang. Aku sangat menyintaimu. Hanya kamu satu-satunya pria di dalam hidupku sejak kita menikah," jawab Bella.

"Kamu yakin?" tanya Zain lagi, kali ini dengan sorot mata tajam.

Bella mulai merasa kesal. Ia tidak suka dicurigai begitu. Dengan kasar, ia melepaskan genggaman dari tangan Zain.

"Maksud kamu apa sih bertanya begitu? Kamu mencurigaiku?" tanya Bella dengan nada tinggi.

Bella menyangka Zain tidak akan berbuat banyak mendengar protesnya. Namun, Bella salah. Zain yang berada di hadapannya saat ini adalah sosok yang berbeda. Dia bukan lagi Zain yang tergila-gila pada kecantikan Bella, tetapi dia adalah Zain yang telah mengetahui semua perbuatan buruk Bella. Zain sangat membenci pengkhianatan. Rasa cintanya telah berubah menjadi benci.

Tiba-tiba Zain berdiri, dengan garang ia mencengkeram rahang Bella.

"Jangan coba-coba mempermainkanku, Bella. Kamu sudah mengikis kesabaranku," desis Zain dengan sorot mata tajam.

"A-apa mm-maksud kamu?" tanya Bella gugup.

"Apa yang kamu rencanakan di saat aku sedang koma? Kamu ingin mengalihkan asetku?" tanya Zain dingin.

"A-aku ti-tidak mengerti apa yang kamu katakan," jawab Bella bingung.

Zain memperkuat cengkeramannya di rahang Bella.

"Aku tahu semua yang kamu rencanakan dengan Direktur Jo. Bermimpilah, Bella. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa memiliki hartaku. Bersiaplah untuk menjanda karena aku akan menceraikanmu," ucap Zain.

Ia mendorong wanita itu, seraya melepaskan cengkeramannya.

Bella mengusap rahangnya yang terasa perih. Senyum sinis hadir di sudut bibirnya.

"Kamu ingin menceraikanku? Silakan saja," tantang Bella. "Tapi jangan salahkan aku jika berita tentang impotensimu menjadi headline besok pagi," sambungnya disertai ancaman.

"Impotensi? Huh! Siapa orang yang akan mempercayai berita hoax itu?" sahut Zain lantang.

"Oh ... memangnya dokter belum memberitahumu, ya?" tanya Bella. "Kecelakaan itu telah membuatmu cacat, Zain. Juniormu itu tidak akan pernah bisa lagi memuaskan wanita," terang Bella sambil tertawa.

Bab 2

"Oh ... memangnya dokter belum memberitahumu, ya?" tanya Bella. "Kecelakaan itu telah membuatmu cacat, Zain. Juniormu itu tidak akan pernah bisa lagi memuaskan wanita," terang Bella sambil tertawa.

"Omong kosong!" sergah Zain kalap. "Mana dokter itu? Suruh dia ke sini sekarang juga!" perintahnya.

Bella melangkah anggun mendekati Zain dengan tangan bersilang di depan dada.

"Tenanglah, Zain sayang. Kamu tidak perlu emosi begitu," ucapnya. "Rahasiamu aman bersamaku," kata Bella sambil membelai wajah Zain.

Biasanya, saat Bella membelai pipi Zain dengan lembut begitu, Zain pasti langsung bereaksi. Menarik pinggang ramping Bella, mengangkatnya ke pelukan, lalu menghujaninya dengan ciuman. Setelah itu bisa ditebak. Mereka pasti hanyut dalam lautan gairah.

Namun, kali ini mendapat perlakuan menggoda begitu Zain hanya berdiri mematung dengan sorot mata yang dingin.

"Enyahlah! Aku tidak sudi disentuh oleh tanganmu yang kotor itu," kata Zain, sambil menepis tangan Bella.

Bella menatap tangannya yang memerah karena tepisan tangan Zain. Namun, ia tidak marah. Ia justru kembali tersenyum menatap Zain. Di kepalanya sudah ada sebuah rencana untuk membuat Zain bertekuk lutut. Jadi ia tetap bersabar, lalu lanjut menjalankan aksinya.

"Pilihan ada di tanganmu, Zain. Silakan kamu ceraikan aku, tapi sebelum itu ... alihkan lima puluh persen aset Paradise Club milikmu kepadaku, atau ... berita tentang cacatmu aku sebarkan ke media. Aku penasaran, apa reaksi orang-orang mendengar kabar Zain sang pengusaha sukses telah kehilangan kejantanannya?"

Zain menatap Bella dengan tajam. Seandainya saja sebuah tatapan bisa membunuh seseorang, saat ini Bella pasti sudah meregang nyawa dengan tubuh yang tercabik-cabik.

Ia meraih dagu Bella, lalu menariknya ke atas, memposisikan wajah wanita itu tepat di bawah sorot matanya yang tajam.

"Bagaimana dengan pilihan ke tiga? Kita bercerai, lalu aku akan menarik semua investasi dari Bimantara Ventura," tanya Zain dingin.

Setelah menjalani pernikahan selama hampir dua tahun, Zain sudah hapal betul betapa berartinya perusahaan orang tuanya itu bagi Bella. Zain bukannya tidak tahu, satu-satunya alasan Bella bersedia menerima lamarannya adalah karena Zain berjanji untuk berinvestasi di perusahaan milik ayahnya.

Sayangnya, Zain terlambat mengetahui fakta itu. Saat ia mengetahuinya, video terkutuk yang mempertontonkan perselingkuhan Bella pun ia terima. Konsentrasi Zain pecah. Pengkhianatan yang bertubi-tubi itu membuat Zain nyaris meregang nyawa dalam kecelakaan.

Saat sadar, ia justru mendapatkan berita rencana pengkhianatan berikutnya dari Bella. Dengan semua rencana jahat wanita itu, bagaimana mungkin Zain akan melibatkan hati lagi dalam berurusan dengannya?

Wajah Bella langsung memucat. Ia tahu pasti jika Zain menarik investasi itu kembali, bisa dibayangkan Bimantara Ventura pasti gulung tikar.

Paham dengan resiko yang akan ia tanggung, sikap Bella pun melunak.

"Kau tidak bisa melakukan itu! Investasi itu adalah salah satu hadiah pernikahan yang kau berikan padaku!" protes Bella.

"Siapa yang bilang tidak bisa? Kendali ada di tanganku, Bella. Jangan lupa, kau dan keluargamu itu bukan siapa-siapa tanpa aku," kecam Zain.

"Bagaimana jika kita buat pilihan ke empat?" tanya Bella dengan tatapan menggoda. "Aku simpan rapat rahasiamu, tapi kita bertahan dalam pernikahan ini. Lupakan aset yang kuminta, lupakan juga investasi yang akan kamu tarik."

Bella tahu pasti, dirinya akan rugi besar jika bercerai dari Zain tanpa mendapatkan harta gono gini. Jadi, saat ini ia memutuskan untuk mengubah strategi dengan tetap bertahan sebagai istri Zain. Lagi pula tidak ada ruginya bertahan sebagai istri pria itu, karena Zain pasti akan tetap memberikan jatah bulanan untuknya.

"Tidak! Aku tidak tertarik lagi untuk melanjutkan pernikahan ini," tolak Zain tegas.

"Ayolah, aku menawarkan win-win solution untuk kita, rahasiamu terjaga dan perusahaan orang tuaku juga terjaga. Tugasmu hanya satu, tetap jalankan peran sebagai suamiku," kata Bella.

Mata Zain menyipit sementara otaknya menganalisis kata-kata Bella. Intuisinya mengatakan ada sesuatu yang tak wajar. Wanita dengan libido tinggi seperti Bella tidak akan mungkin mau bertahan dalam pernikahan dengan pria yang tidak lagi bisa memuaskannya.

"Katakan padaku. Dengan kondisiku sekarang, apa kompensasi yang kamu inginkan?" tanya Zain terus terang.

Bella tertawa.

"Kamu memang jenius, Zain. Tahu saja aku menginginkan kompensasi. Namun, kali ini aku tidak akan meminta. Aku ingin mendengar tawaran darimu," jawab Bella licik.

"Aku tidak punya penawaran apa pun untukmu," jawab Zain datar.

"Ayolah, Zain," rengek Bella putus asa. "Apakah nama besarmu benar-benar tidak berarti? Apa kau siap jika berita tentang impotensimu tersebar di media?" tanya Bella lagi.

"Silakan saja, jika kau ingin Bimantara Ventura hancur jadi abu. Ingat Bella, yang tahu rahasia ini hanya aku, kau, dan dokter. Dokter itu sudah menjalani sumpah profesi, ia tidak akan pernah berani membocorkan data pasien kepada siapapun. Jadi, jika berita tentang diriku tersebar, kau adalah satu-satunya orang yang akan aku kejar," kata Zain balik mengancam.

"Oke, oke. Lupakan semua yang aku katakan. Aku bersumpah, tidak akan mengatakan pada siapapun. Namun, aku mohon jangan ceraikan aku," kata Bella dengan memelas.

Zain tersenyum. "Kena kamu Bella. Makanya jangan pernah bermain api dengan seorang Zain Arsyanendra," katanya di dalam hati.

"Okay. Aku tidak akan menceraikanmu, tetapi ... kondisi kita tidak akan pernah lagi sama. Jatah bulananmu akan aku potong."

Zain memutuskan untuk bertahan dalam pernikahan neraka itu. Karena dengan begitu ia bisa mengendalikan Bella sepenuhnya, sehingga berita buruk tentang dirinya tidak akan bocor kemana-mana.

"Okay. Kalau begitu kau juga jangan pernah protes jika aku berkencan dengan pria lain," tantang Bella.

"Silakan, tapi dengan syarat jangan pernah lakukan di tempat umum, hotel, apa lagi di kantor. Aku tidak mau namaku tercoreng karena skandal yang kau buat."

"Kalau begitu sama saja kau memasungku, Zain. Aku harus melakukannya di mana?"

Zain mengangkat bahu.

"Terserah. Kau bisa bawa mereka ke luar negeri. Aku tidak peduli," jawab Zain dingin.

"Sialan kau, Zain. Lihat saja, kau akan menyesal karena telah memperlakukanku begini," kata Bella.

Ia berbalik pergi, lalu menghilang di balik pintu.

Setelah Bella pergi, Zain terduduk di atas ranjang. Berdebat dengan Bella benar-benar telah menguras emosinya.

"Kamu sudah bisa keluar sekarang," katanya pelan.

Seorang pemuda keluar dari kamar mandi. Dia adalah Bayu, asisten pribadi Zain. Dari dialah Zain tahu rencana jahat yang disusun Bella dengan beberapa direksi di perusahaannya.

"Kamu sudah mendengar semuanya, kan?" tanya Zain.

"Sudah, Tuan," jawab Bayu.

"Bagus. Segera hubungi Pak Riyadi. Aku harus segera singkirkan orang-orang yang tak lagi satu visi denganku," perintahnya.

Bayu mengangguk. Dengan sigap ia segera menjalankan perintah Tuan Besarnya itu.

"Huh ... Berani mengkhianati Zain? Kalian rasakanlah akibatnya sesaat lagi," kata Zain dalam hati.

Bab 3

Lima tahun kemudian ....

Daniel melangkah riang menuju rumah sambil menggenggam sebuah piala di tangannya. Senyumnya semakin lebar saat melihat mobil putih milik mamanya berada di garasi.

"Yes, mama ada di rumah," sorak Daniel.

Ia mempercepat langkahnya menuju lantai dua, lalu melesat menuju kamar utama. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara-suara aneh saat melewati kamar tamu.

Rasa penasaran menuntun Daniel mendekati kamar itu. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan baginya ketika mendapati pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Lewat celah yang tersisa, Daniel bisa melihat dengan jelas semua hal yang terjadi di kamar itu. Wajah remaja delapan belas tahun itu langsung pucat pasi.

Di depan matanya, Daniel melihat Bella, ibu kandungnya tengah bercinta dengan dua pria yang tidak ia kenal.

Spontan, Daniel membekap mulut, menahan isi perutnya tidak terlompat keluar. Sungguh ia mual sekali melihat bagaimana perempuan yang ia panggil mama itu tengah mendesah liar dalam gempuran hasrat dua lelaki yang ada bersamanya.

Ia ingin berseru memanggil mamanya, tetapi lidahnya kelu. Kakinya bahkan terasa berat untuk dilangkahkan. Untuk beberapa saat Daniel hanya bisa berdiri mematung dengan tanpa mampu berbuat apa-apa.

Tidak sanggup berlama-lama dengan pemandangan itu, Daniel menguatkan tekad untuk berbalik lalu bergegas pergi. Dengan pikiran kalut, ia memacu mobilnya sejauh mungkin.

***

Waktu berlalu. Gelapnya malam semakin pekat. Di saat sebagian orang mulai memasuki peraduan untuk beristirahat, Daniel melangkah tergesa menuju lantai dua rumah untuk kedua kalinya di hari itu. Namun, kali ini hentakan kakinya terdengar kasar dipenuhi amarah.

"Pa! Papa!"

Daniel mendorong pintu ruang kerja Zain dengan kuat membuat pria yang sedang fokus membaca itu tidak bisa menahan rasa kagetnya.

"Ada apa, Dan? Kenapa panik begitu?" tanya Zain heran.

"Kenapa sih Papa gak cerai saja sama mama?" tanya Daniel langsung tanpa basa-basi.

Napasnya memburu, bulir-bulir keringat tampak menetes dari rambut yang menjuntai di keningnya.

Pria berwajah latin itu langsung memandang wajah sang putra dengan tatapan tidak percaya. Daniel memang anak tirinya, tetapi Zain menyayanginya seperti anak sendiri.

"Memangnya kenapa, Dan?" tanya Zain heran.

Ia meletakkan buku di atas meja, lalu berjalan mendekati Daniel. Ayah dan anak itu berdiri saling berhadapan dengan seribu makna tersembunyi di mata masing-masing.

Daniel tidak langsung menjawab pertanyaan Zain. Namun, sepasang matanya bergetar. Ada riak yang mengambang perlahan membentuk telaga di atasnya.

Zain paham, lelaki yang mulai beranjak dewasa itu tengah menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Ia mengulurkan tangan, lalu memegang kedua bahu Daniel, membagikan sedikit kekuatan agar sang putra kembali mendapatkan ketegarannya.

"Tenangkan dirimu, Nak. Ceritakanlah, seburuk apa pun yang ada di dalam hati dan pikiranmu saat ini, papa siap mendengarnya," ujar Zain kemudian.

Daniel menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Sore tadi ... aku melihat mama ...," ujar Daniel terbata.

Rasa kecewa dan sakit hati membuat Daniel tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Air matanya luruh tak terkendali.

"Mama ... bersama dengan dua pria ... hiks ... mereka ... mereka ... hiks ...," lanjutnya di tengah isaknya yang semakin kuat.

Zain tidak tega melihat anaknya yang sangat terguncang. Secepat kilat ia menyambar tubuh Daniel, lalu memeluknya dengan erat. Tangis Daniel pecah di pundak lelaki yang sangat ia sayangi itu.

"Sudah, tidak usah dilanjutkan. Papa sudah bisa menebak akhir dari kalimat kamu," kata Zain dengan suara bergetar. Menahan air matanya tidak ikut turun mendengar tangis pilu sang anak.

Zain mengusap punggung Daniel hingga remaja yang beranjak dewasa itu kembali tenang.

"Jadi ... selama ini Papa sudah tahu perbuatan mama?" tanya Daniel, seraya melepaskan pelukannya.

Ia menatap dalam ke manik karamel milik Zain untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.

Zain mengangguk. Masih dengan kedua tangan berada di pundak Daniel, ia meremas pundak pemuda itu dengan lembut.

"Yah, semua karena kekurangan papa, Nak," jawab Zain lirih. 'Seandainya saja papa lelaki normal, tidak mungkin papa bertahan dalam pernikahan neraka ini, Dan,' lanjut Zain dalam hati.

"Tapi ... haruskah dengan dua pria sekaligus, Pa? Aku benar-benar jijik melihatnya," desis Daniel.

Bayangan mamanya memadu kasih dengan dua orang pria menari-nari di kepalanya, membuatnya perutnya terasa diaduk-aduk karena mual.

"Papa akan nasihati mama kamu agar lebih berhati-hati," kata Zain pasrah. Lalu memutar tubuhnya, bersiap untuk kembali ke kursi.

"Pa!" sergah Daniel. "Sampai kapan Papa akan mengalah seperti ini? Papa bukan satu-satunya orang yang tidak sempurna di rumah ini. No body is perfect, termasuk mama sendiri. Namun, bukan berarti mama bisa berbuat seenaknya, dong. Kalau memang sudah tidak cinta lagi kenapa tidak cerai saja?"

"Tidak semudah itu, Dan. Terlalu banyak yang papa pertaruhkan jika berita perceraian kami tersebar ke dunia luar," jawab Zain. "Lagi pula papa masih menyintai mamamu," tambah Zain.

Untuk yang terakhir itu tentu saja Zain bohong, ia hanya tidak ingin menyebutkan alasan sebenarnya kepada Daniel.

"Cinta? Papa, came on. Papa bilang ini cinta? Ini penyiksaan, Pa. Cinta itu seharusnya membahagiakan, bukan menyengsarakan."

Zain tersenyum mendengar kata-kata bijak anaknya. "Kamu semakin dewasa aja, Nak," katanya di dalam hati.

"Masih banyak wanita yang lebih baik di luar sana, yang bisa membahagiakan Papa, mengapa bertahan dengan mama yang tidak bisa menjaga kehormatan diri sebagai istri Papa?" sambung Daniel masih dengan nada keberatan.

Meski Zain hanya ayah tirinya, tetapi berkat lelaki itulah Daniel bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Bahkan kasih sayang ibu pun tidak pernah utuh ia dapatkan dari Bella karena sejak kecil Daniel tinggal bersama kakek dan neneknya. Daniel baru tinggal bersama mamanya, setelah Bella menikah dengan Zain.

"Apa yang terjadi dengan papa adalah takdir, Nak. Mungkin saja karma karena Papa sudah menyakiti banyak orang di masa lalu," aku Zain pilu.

Sejak kecelakaan tragis yang merenggut kejantanannya itu, Zain seolah kehilangan kepercayaan dirinya. Sikapnya yang biasa dominan akhir-akhir ini sering terlihat mengalah. Namun sebaliknya, dalam urusan bisnis ia tetap dingin dan bertangan besi. Itu sebabnya, meski masalah pribadi begitu menyiksanya, tetapi bisnis Zain justru semakin berkembang dengan pesat.

"Sudahlah, Dan. Papa minta kamu tidak membahas hal ini lagi. Tidak usah pedulikan perbuatan mama kamu itu. Oke?"

"Nggak! Aku benci mama. Sangat membencinya, tetapi ... aku lebih benci sikap lembek Papa!" pekik Daniel.

Ia menendang kursi dengan penuh amarah, lalu berjalan menuju pintu.

"Lalu papa harus bagaimana, Dan?" sorak Zain.

Daniel menghentikan langkahnya, lalu kembali mendekati sang ayah.

"Bercerai dengan mamamu? Aaah ... memang itu yang mamamu inginkan selama ini. Kami bercerai, setelah itu dia melenggang happy dengan harta gono-gini."

Zain menghela napas sejenak.

"Lalu bagaimana dengan papa? Bagaimana dengan aib papa, Dan? Kamu pikir papa masih bisa mengendalikan mulut mama kamu itu setelah kami bercerai? Mana bisa. Dengan mulut embernya itu, mama kamu bebas berbicara kekurangan papa kepada siapa pun yang dia mau."

Zain lagi-lagi menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya ia mencurahkan semua beban yang mengganjal di hatinya.

"Kamu bisa bayangin gak gimana pandangan orang-orang kalau mereka tahu kelemahan papa? Bisa habis papa diledekin. Bisa-bisa semua media nasional menjadikannya berita dengan headline yang besar. Mau ditaruh di mana muka papa ini, Dan?"

Daniel ingin menjawab, tapi urung karena Zain kembali melanjutkan kalimatnya.

"Lagi pula, menurut kamu, perempuan mana yang mau dengan pria cacat seperti papa, hmm? Tidak ada, Dan. Siapa pun perempuannya, apa pun latar belakangnya, dia pasti menginginkan pria yang normal untuk pendamping hidupnya. Dan papa bukanlah lelaki itu," cetus Zain emosi.

Tanpa sadar, ia telah mengungkap aib dirinya di depan sang anak. Daniel tertegun, tubuhnya kaku tak bergerak mendengar kata-kata ayahnya.

"Apakah cacat Papa ... seperti yang aku pikirkan?" tanya Daniel dengan rasa ingin tahu.

"Ya, sejak kecelakaan itu, papa hanyalah pria cacat ... yang tidak bisa memuaskan wanita. Maaf, jika kamu harus mendengar hal vulgar ini dari mulut papamu sendiri," jawab Zain dengan suara tercekat di tenggorokan.

Sebagai sesama lelaki, Daniel bisa merasakan kepedihan yang papanya rasakan. Hal itu membuatnya semakin membenci Bella.

"Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Sudah cukup pantas untuk membicarakan hal-hal seperti itu dengan Papa," sanggah Daniel.

"Ah, iya. Papa lupa, kamu sudah delapan belas tahun sekarang. Hampir sembilan belas tahun malah," ujar Zain menanggapi sanggahan anaknya itu.

"Bagaimana kalau aku bisa menemukan perempuan yang mau menerima semua kekurangan Papa?" tanya Daniel dengan ekspresi menantang.

"Apa maksud kamu?"

"Aku yakin, sakit Papa pasti bisa sembuh kalau bertemu dengan wanita selain mama."

"Papa sudah coba, Dan, tapi ga ada bedanya."

"Itu karena wanita yang Papa temui itu perempuan ga bener semua, yang perangainya ga jauh beda dengan mama. Coba kalau Papa ketemu gadis muda yang cantik, putih, seksi, dan berasal dari keluarga baik-baik, pasti hasilnya beda."

"Gadis muda? Kamu mau jadikan papa sugar daddy?"

"Mau sugar daddy, kek. Aku ga peduli yang penting kejantanan Papa bisa kembali. Lihat aja, Papa boleh pegang kata-kataku ini. Aku akan menemukan gadis muda yang baik untuk Papa," jawab Daniel mantap.

Sebuah semangat terpancar jelas di matanya.

"Jangan gegabah, Dan. Jangan korbankan hidup orang lain demi kebahagiaan papa. Papa lebih baik hidup begini dengan mamamu, dari pada menggantungkan harapan pada perempuan lain yang papa tidak cintai."

"Nggak! Aku akan tetap carikan wanita yang lebih baik untuk Papa. Aku tidak rela Papa menderita sendiri di saat mama berbahagia dengan cara hidupnya. Berjanjilah, Papa akan membuka diri saat aku membawa wanita itu nanti," kata Daniel mantap.

Setelah berkata itu, Daniel pun keluar dari ruangan kerja ayahnya. Ia tidak peduli dengan suara Zain yang memanggilnya namanya berulang kali.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED