"Saya terima nikah dan kawinnya Renata Adinda Dewi binti Surya Kusuma dengan mas kawin tersebut tunai." ucap seorang pria tampan bernama Mahesa Adi Sanjaya, yang telah meminang wanita cantik ini dua tahun yang lalu. Mereka sah menjadi suami istri dan mengarungi hiruk pikuk rumah tangga yang bisa dikatakan cukup harmonis jika didepan banyak orang. Apalagi didepan keluarga mereka masing-masing. Renata menghela nafas panjang. Setiap hari ia harus tidur sendirian karena sang suami selalu pulang larut atau bahkan tidak pulang. Suaminya berpamitan kepadanya setiap hari dengan alasan yang sama, rapat, bisnis, atau bertemu klien penting dari luar negeri. Renata tidak tahu apakah suaminya benar-benar bekerja atau hanya main gila dengan perempuan lain. Karena selama dua tahun menikah, Adi tidak pernah menyentuh Renata sama sekali. Hanya pernah satu kali, itupun karena Adi sedang mabuk dan entah mengapa ia langsung menyerang Renata begitu saja. Sebagai istri, Renata hanya pasrah dan menuruti semua kemauan sang suami. Karena jika boleh jujur, Renata sangat menginginkan Adi. Parasnya yang tampan dan memiliki tubuh atletis, membuat setiap wanita pasti akan terpesona, termasuk dirinya. Namun setelah itu, sudah tidak pernah lagi Adi mau menyentuh bahkan tidur berdua dengan Renata.
"Ren, malam ini aku ada rapat penting. Jadi jangan tunggu aku ya! Kamu tidur duluan saja!" ucap Adi sambil merapikan dadi dan jasnya yang mahal.
Renata hanya terdiam. Ia tidak kaget dengan perlakuan Adi yang seperti ini, karena ini sudah biasa baginya.
"Mas? Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Renata memberanikan diri.
"Hmm," jawab Adi singkat.
"Mas? Orang tua kita menyuruh kita untuk pergi ke dokter." lirih Renata sambil meremat jemarinya kuat.
"Apa? Untuk apa kita harus pergi ke dokter? Kamu sakit?" Adi menatap Renata yang tengah menunduk.
"T-tidak. M-mereka ingin tahu, kenapa aku belum juga hamil. Dan kita diminta untuk periksa ke dokter." jelas Renata dengan takut jika Adi akan marah.
"Oh itu, kita tidak perlu kedokter. Aku yakin kita normal," ucap Adi dengan santainya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sampai nanti." Adi langsung pergi begitu saja tanpa melirik Renata sedikit pun.
Tampak satu bulir air mata menetes di pipi mulus Renata. Sebenarnya ia tidak jelek. Sebaliknya, Renata adalah wanita yang sangat cantik dengan body yang aduhai. D4da dan b0kongnya yang mempunyai ukuran diatas rata-rata. Dengan kulit seputih salju, bibir merah merekah bahkan tanpa polesan lipstik sekalipun. Rambut panjang hitam terurai, terlihat sangat anggun. Entah apa yang ada dipikiran Adi sampai-sampai tidak bisa melihat istrinya secantik dan seseksi itu.
Renata kembali menghela nafas panjang. Ia memutuskan untuk pergi keluar untuk mencari udara segar. Kebetulan ia sudah ada janji bertemu dengan temannya di salah satu cafe. Keyla namanya. Sahabatnya semasa SMA. Keyla sudah bersuami dan memiliki dua orang anak kembar. Laki-laki dan perempuan yang sangat cantik dan tampan.
Renata bangkit dan menghapus airmatanya. Ia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
***
Renata sudah siap dengan kaos ketat yang menampilkan bongkahan besar did4danya yang terlihat menonjol. Ia padu padankan dengan mantel berwarna coklat sepanjang betis. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja dengan beberapa manik-manik untuk menghias rambut disalah satu sisinya.
"Nyonya?" sapa bik Inah. Salah satu ART disana.
"Iya bik," Renata menoleh dan membalas sapaan bik Inah dengan ramah.
"Nyonya ingin pergi kemana? Tadi tuan Adi telpon. Katanya tuan dan nyonya besar akan berkunjung kemari dengan kakak tuan Adi." terang bik Inah.
"Kakak tuan Adi? Kakak ipar yang tinggal di luar negeri itu bik?" tanggap Renata memastikan.
"Betul nyonya. Kalau tidak salah namanya tuan Ryota." jelas bik Inah.
"Aku hanya mau ketemu Keyla kok bik. Aku akan pulang cepat." ucap Renata.
"Baiklah nyonya. Hati-hati!" Renata tersenyum, kemudian pergi meninggalkan bik Inah.
***
Renata melajukan mobilnya menuju sebuah cafe langganannya. Hanya berjarak beberapa meter dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit perjalanan untuk sampai disana.
Renata memarkirkan mobilnya dan bersiap turun. Tentu saja ia menjadi pusat perhatian, karena memang dirinya secantik itu.
"Hei, disini!" sapa Keyla melambaikan tangan.
"Hai," balas Renata yang juga melambaikan tangan.
"Sudah lama?" tanya Renata sambil cipika cipiki dengan sahabatnya.
"Nggak. Baru aja sampai. Kamu mau pesan apa? Aku udah pesan tadi." tawar Keyla.
"Seperti biasanya aja," jawab Renata dengan malas.
"Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Ada masalah? Tumben sekali nyonya besar Sanjaya bersedih." goda Keyla.
"Hah, gak tahulah key, rumah tanggaku sepertinya akan hancur sebentar lagi." kata Renata yang sontak mengagetkan Keyla. Hampir saja ia menyemburkan minumannya.
"Apa? Jangan sembarangan! Kalau ngomong itu disaring dulu, jangan asal aja. Itu gak baik, ucapan adalah doa lho." hardik Keyla sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Ya mau bagaimana lagi, memang adanya begitu. Mas Adi sepertinya memang tidak menyukaiku. Apapun yang aku lakukan, tidak pernah bisa menarik perhatiannya sedikitpun. Aku sebagai istri merasa gagal. Padahal aku sangat mencintainya. Tapi dia tidak pernah melirikku sedikitpun." tutur Renata dengan bibir cemberut.
"Kamu gak pakai baju dinas yang aku berikan waktu itu disaat tidur?" tanya Keyla.
"Sudah, bahkan aku sampai kedinginan hingga ganti baju biasa. Itupun mas Adi cuma lihat sekilas, terus langsung tidur. Aku jadi malu. Semenjak itu, aku gak mau pakai lagi. Malu," jelas Renata.
"Hah, sepertinya Adi memang tidak normal. Apa mungkin ia kaum pel4ngi?" telisik Keyla.
"Hus! Mana mungkin, kita sudah pernah melakukannya sekali, dan fine-fine aja tuh."
"What? Kalian dua tahun menikah hanya main sekali?" tanya Keyla dengan nada sedikit meninggi.
"Ssstttt, kamu bisa pelanin suaramu gak. Bikin malu aja. Iya, itupun pas mas Adi mabuk." terang Renata sambil menunduk.
"Oh my God, sepertinya emang matanya Adi buta. Mana mungkin dia tidak tergoda melihat tubuhmu yang begitu sem0k dan boh4y seperti ini. Tidak normal,"
"Silahkan kak! Oranye juice, spaghetti kerang, French fries dan seblak level 10. Ada tambahan lagi kak?" tanya seorang pelayan cafe.
"Tidak terima kasih." tolak Renata lembut.
"Baik. Selamat menikmati!" kemudian sang pelayan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ren, aku rasa Adi punya selingkuhan deh." Kini giliran Renata yang hampir menyemburkan minumannya.
"Sembarangan. Mana mungkin, mas Adi tidak seperti itu. Walaupun dia tidak perhatian, dia juga menjalankan perannya sebagai suami kok. Memberi nafkah untukku, kadang mengantar dan menjemputku dari kantor, kadang ju-"
"Tapi selama dua tahun lho. Apa iya laki-laki bisa setahan itu tidak nge-s3x? Kamu yakin dia gak punya yang lain?" penuturan Keyla seperti batu besar yang dilemparkan kearahnya. Renata merasakan tiba-tiba hatinya sakit dan mulai berpikir. Mungkin ada benarnya juga pemikiran sahabatnya. Namun, ia tidak mau mengambil kesimpulan sebelum adanya bukti.
"Menurut aku ya, kamu harus ikuti suamimu. Buntuti dia kemanapun dia pergi. Benar tidak, dia pergi dengan klien atau sama cewek lain." Renata masih terdiam mencerna ucapan sahabatnya. Ia berpikir, tidak ada salahnya ia mencoba saran sahabatnya. Tetapi ia berharap, semoga apa yang diucapkan Keyla tidak benar. Tapi dirinya masih menyangkal. Apa perlu dia melakukan sampai seperti itu.
"Aku ragu Key, selama ini mas Adi tidak menunjukkan keanehan apapun. Memang kita menikah karena perjodohan. Tapi, mas Adi belum bisa menerimaku sepenuhnya walaupun aku sudah sangat mencintainya sampai seperti ini. Bahkan aku rela dia tinggal setiap hari dan dengan sabar aku selalu menunggunya pulang." terang Renata sambil menunduk.
"Re? Kamu itu, haiiisssssshhh ... ya sudahlah suka-suka kamu aja." Keyla menyerah dengan sikap Renata yang selalu membela suaminya.
"Ah, jangan gitu Key! Aku harus gimana, aku bingung." Renata cemberut dengan wajah memelas.
"Jangan pasang wajah jelek begitu, menyebalkan!" sarkas Keyla.
"Lalu bagaimana? Apa aku aku harus memasang wajah imut dengan beraegyo agar kamu suka, yaa eonnie?" ucap Renata dengan nada manja khas nada aegyo.
"Iieeuuucchhh, menjijikkan ...." Keyla memasang wajah geli karena sahabat bertingkah seperti itu.
Renata terbahak melihat ekspresi sahabatnya yang terlihat tidak nyaman.
Ditengah riuh canda tawa kedua sahabat ini, tiba-tiba ponsel Renata berbunyi. Tertera nama Mas Adi ku disana. Tanpa ragu ia langsung menekan tombol hijau untuk menghubungkan panggilan.
"Halo mas?" sapa Renata pada Adi yang ada diseberang sana.
"Re? Nanti mama dan papa akan kerumah, bang Rio juga ikut. Dia baru pulang dari Amerika." terang Adi.
"Bang Rio?" Renata mengernyitkan keningnya.
"Wajar jika kamu belum ketemu. Bang Rio sudah berada di luar negeri sejak dia kuliah sampai bekerja saat ini. Dan ini dia ada perjalanan bisnis ke Indonesia. Mungkin akan menetap agak lama di Indonesia." terang Adi lagi.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan segera pulang. Aku sedang bersama Keyla sekarang." kata Renata.
"Kau tidak kekantor?" tanya Adi.
"Setelah ini mas, aku akan mampir kekantor. Semua sudah beres, aku tidak ada pekerjaan." jelas Renata.
"Baiklah. Ya sudah. Aku tutup telponnya. Sampai nanti!" ucap Adi kemudian ia langsung menekan tombol merah.
"Ya mas," sama hal nya dengan Renata yang langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"ck ... ck ... ck, kalian memang benar-benar monoton," cibir Keyla sambil memasang wajah julid.
"Mau bagaimana lagi, memang setiap harinya seperti itu." tanggap Renata sambil menghela nafas pasrah.
"Haaahhh ...." Keyla ikut menghela nafas pasrah, melihat keadaan sahabatnya.
Bersambung
Renata berpamitan dengan Keyla sahabatnya. Ia harus segera pulang sesuai perintah sang suami.
"Kamu beneran sudah mau pulang Re? Haaah, padahal kita bisa ngobrol lebih lama," gumam Keyla dengan wajah kecewa.
"Maaf ya, mungkin lain kali kita bisa ngobrol lagi." hibur Renata sambil memeluk sahabatnya itu.
"Hah, kamu kan wanita karir, sangat sibuk. Beda denganku yang hanya ibu rumah tangga dengan satu suami dan dua anak dirumah." jelas Keyla.
"Jangan bicara begitu! Kita berdua punya kelebihan dan kekurangannya. Kamu sudah memiliki anak, sedangkan aku? Aku ingin sekali memiliki anak yang lucu, aku sudah tidak tahan melihat para keluarga besar selalu menanyaiku kenapa belum hamil sampai sekarang. Disaat kita sedang berkumpul, paman dan bibi juga selalu membahas anak. Jika itu terjadi, mas Adi selalu pergi entah kemana." terang Renata sambil menunduk.
"Hah, yang sabar ya. Aku yakin, pasti suatu saat kehidupanmu dan cintamu akan berubah. Lihat saja!" hibur Keyla.
"Ish, emang iya? Tahu dari mana? kamu udah mirip kayak cenayang, tahu gak?"
"Aku bukan cenayang, tapi omonganku bertuah. Lihat aja! Kehidupanmu pasti akan berubah!" ucap Keyla dengan yakin. Namun, Renata hanya terdiam. Ia tersenyum kecil, dan berdoa dalam hati. Semoga saja perkataan sahabatnya ini benar. Dan akan ada kebahagiaan yang tercipta untuk membuat hidupnya berubah setelah ini.
***
Renata memarkir mobilnya di parkiran rumah. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Ia tidak jadi mampir ke kantor karena ia merasa, sekretarisnya dapat diandalkan dan tidak ada masalah yang perlu ia selesaikan. Lagipula ia tiba-tiba malas berkutat dengan kertas dan komputer yang penuh dengan tulisan yang tidak ada habisnya.
"Selamat datang nyonya," sapa pak Tukiman, atau sering dipanggil pak Man.
"Terimakasih pak Man. Oh iya, apa mas Adi sudah pulang?" tanya Renata.
"Sudah nyonya, beliau sedang beristirahat di kamar." jawab pak Man.
"Baiklah," Kemudian Renata pergi meninggalkan pak Man menuju kamarnya.
Adi sedang berpakaian. Ia baru saja mandi. Tubuhnya masih polos hanya tersangsang celana Jogger warna coklat tua.
Renata tercengang melihat keindahan tubuh Adi. Wajahnya langsung tersipu malu dan memerah, membayangkan ia bisa menyentuh ke enam otot yang berjejer rapi di perut suaminya. Adi sudah resmi menjadi miliknya, tapi masih terdapat pagar jeruji besar yang menghalanginya untuk memilikinya.
Adi menoleh dan menyadari sang istri ada disana.
"Kamu sudah pulang? Habis dari mana aja? Katanya mau pulang cepat," telisik Adi.
Namun, Renata masih terdiam. Ia masih memperhatikan suaminya yang sedang memakai kaos polos santai berwarna hitam. Rambut Adi yang masih basah menambah keseksian berlipat ganda.
"Re? Kenapa diem aja, kamu sakit?" tanya Adi yang tidak peka tentang keinginan istrinya.
"Hah? S-sakit? T-tidak aku baik-baik saja. A-aku akan mandi dulu." ucap Renata langsung pergi untuk bersiap mandi.
Adi seakan tidak peduli. Ia pergi ke meja rias untuk memakai body cream dan mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
"Re? Aku akan turun duluan," seru Adi namun tidak ada jawaban dari Renata.
Renata merasa panas dingin. Dia adalah wanita dewasa yang normal dan membutuhkan sentuhan. Ia sering membayangkan Adi berada diatas tubuhnya sambil menggenjotnya dengan liar. Namun, semua itu hanya angan-angan. Entah kapan akan terlaksana.
***
Ting tong
Bel rumah berbunyi. Seorang wanita paruh baya tergopoh berlari mendekati pintu utama.
Pintu terbuka dan menampilkan sepasang wanita dan pria sedang bersenda gurau, juga pria tampan, tinggi gagah sedang berdiri dibelakang pasangan tersebut.
"Nyonya, tuan besar, tuan muda ...." sapa bik Inah sopan sambil menundukkan badannya.
"Terimakasih bik Inah. Lama tidak bertemu ya ... dimana Adi dan Renata?" tanya nyonya Andrea.
"Ada diatas nyonya. Mari silahkan masuk!" Bik Inah mempersilahkan tamu agung ini masuk.
"Wah, sudah lama ya kita tidak mengunjungi anak kita, kira-kira apakah ada kabar baik? Misalnya dua garis merah," ucap nyonya Andrea.
"Semoga saja. Tapi jika belum tidak masalah. Jangan terlalu membebani pikiran Renata, mereka pasti butuh penyesuaian." tanggap tuan Hilman sang tuan besar.
Rio selalu diam. Ia tidak mau ikut berkomentar. Karena baru kali ini ia mengunjungi rumah adiknya. Lebih tepatnya adik tiri. Mereka dipertemukan kurang lebih 15 tahun yang lalu. Rio yang lebih tua 3 tahun dari Adi, selalu menjaga Adi kemanapun dan dimanapun. Maka dari itu, mereka seperti saudara kandung yang lambat laun terlihat sangat mirip. Ayah Rio tuan Hilman, menikahi nyonya Andrea yaitu ibu Adi, beberapa waktu silam dan semenjak itulah mereka menjadi satu keluarga yang bahagia.
"Rio? Kenapa diam saja sayang? Kamu sakit?" tanya nyonya Andrea.
"Tidak ma, aku baik-baik saja." jawab Rio.
Disela pembicaraan mereka, sang pemilik rumah sedang berjalan menuruni tangga.
"Mama, papa, bang Rio?" Adi memeluk dan mencium tangan kedua orang tuanya. Tidak ada batasan antara orang tua kandung atau bukan, hanya ada kehangatan sebuah keluarga yang harmonis.
"Haloo boy, bagaimana? Ada hasil?" goda sang ayah.
"Ehmmm, sedang berusaha." sahut Adi dengan mimik wajah yang biasa saja.
Adi mengerti arah pembicaraan ayahnya yang menanyakan perihal cucu penerus keluarga Sanjaya.
Bagaimana mau ada hasil, jika saling bersentuhan saja tidak pernah.
Tiba-tiba, Renata turun dari tangga dan ikut nimbrung disana.
"Hai sayang? Kamu semakin cantik saja, bagaimana kabarmu?" tanya sang bunda.
"B-baik ma," jawab Renata singkat.
"Bang?" Adi menghambur peluk kepada Abang kesayangannya.
Rio membalas pelukan itu namun netranya terus menatap Renata tanpa berkedip.
"Jadi ini istrimu di?" tanya Rio memastikan.
"Iya bang, namanya Renata. Re? Ini bang Rio, abangku yang tinggal di luar negeri." ucap Adi memperkenalkan.
"Selamat datang dirumah kami bang, aku Renata." ucap Renata lembut sambil menjabat tangan Rio, namun hanya mendapat senyuman sebagai respon perkenalan.
"Mari semuanya masuk! Bik Inah sudah memasak masakan kesukaan kita semua." Ucap Adi sangat antusias.
Renata berjalan menyusul Adi. Namun Rio masih terus memperhatikan Renata. Entah apa yang ada dipikiran Rio, hingga sebegitu tertariknya dengan istri adiknya ini.
"Wah, masakan bi Inah tidak pernah berubah, selalu khas dengan masakan pedesaan yang menggugah selera. Benar kan pa?" ujar nyonya Andrea.
"Kamu benar sayang, terlihat sangat lezat." Sahut tuan Hilman.
"Ah tuan dan nyonya bisa saja," bi Inah tersipu malu mendengar pujian itu.
"Re? Apakah orang tuamu masih diluar negeri?" tanya nyonya Andrea mengganti topik pembicaraan.
"Masih mam, masih banyak pekerjaan disana yang belum bisa ditinggalkan." jawab Renata.
Kemudian suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok, garpu, dan piring.
"Hmm, apa kalian berdua tidak ingin bulan madu?" ucap nyonya Andrea tiba-tiba. Seketika Renata dan Adi kaget dan membuat mereka berdua terbatuk secara bersamaan.
"Kenapa? Kalian kompak sekali terkejutnya," sambung nyonya Andrea.
"Haha, benar itu. Siapa tahu saking sibuknya kalian, jadi tidak sempat bermanja-manja. Benar kan mam?" gelak tuan Hilman.
Kedua nama yang disinggung hanya mampu tertunduk, tidak mampu melihat atau menatap kearah lain.
Begitupun dengan Rio. Ia memperhatikan gerak-gerik Adi dan Renata yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Jadi bagaimana? Kalian mau kemana untuk bulan madu?" tanya nyonya Andrea lagi.
"Sepertinya belum mam, aku masih banyak pekerjaan." jawab Adi cepat.
"Jangan bilang begitu! Sekali-kali kamu harus berlibur. Jangan gila kerja terus! Nanti kami tua belum punya cucu," seloroh tuan Hilman.
"Tidak. Adi memang benar-benar masih banyak pekerjaan pa, jadi memang belum bisa ditinggal dalam waktu dekat ini. Mungkin nanti," sahut Adi sambil terus mengunyah makanannya.
"Kamu itu, selalu saja bilang begitu setiap kali disuruh bulan madu. Kamu tidak mengerti perasaan istrimu, yang mungkin ingin menikmati hari dan waktu berdua. Apalagi kalian sudah menikah dua tahun kan? baru saja kalian anniversary. Jadi kamu seharusnya mengajak istrimu jalan-jalan!" desak nyonya Andrea.
"Hmm, sepertinya aku sudah selesai makan malam. Mama dan papa menginap disini kan malam ini?" tanya Adi mengalihkan pembicaraan, karena bosan selalu disuruh bulan madu, ditanya tentang anak dan lain-lain.
"Tidak. Mama dan papa harus pulang, karena besok harus pergi ke Bandung pagi-pagi sekali." jawab nyonya Andrea.
"Mungkin aku yang akan menginap disini, bolehkan?" tanya Rio.
"Tentu bang, aku kangen kita main catur bareng, kartu dan semuanya." jawab Adi antusias.
"Hmm, dasar. Kamu itu sudah menikah, masih saja bermanja-manja dengan kakakmu," seloroh tuan Hilman.
"Tidak masalah. Kita memang sudah lama tidak bertemu." sahut Rio. Tatapannya terus tertuju pada wanita cantik yang terus menunduk. Renata tahu dirinya sedang diperhatikan. Maka dari itu, ia terus menunduk untuk menghindari tatapan tersebut.
***
Acara makan malam dan bincang-bincang sudah selesai.
Kini saatnya semua berada di ruang tamu.
Renata sedang di dapur membuat teh. Meskipun semua sudah makan malam, namun dia tetap membuatkan teh dan camilan, untuk menemani semuanya bersantai sambil menonton televisi.
"Hai?" sapa Rio tiba-tiba.
"Astaga," Renata mengusap dadanya yang terkejut akibat ulah Rio.
"Kamu Renata? Istrinya Adi?" tanya Rio basa-basi.
"B-benar bang." sahut Renata singkat.
"Aku tidak bisa datang waktu kalian menikah, jadi tidak tahu". terang Rio.
Renata terdiam. Ia pikir benar juga. Ia juga belum pernah melihat Rio. Baru kali ini ia berjumpa dengan sang kakak.
"Kalian nikah sudah berapa lama?" tanya Rio lagi.
"Hah? D-dua tahun bang. Aku pergi dulu bang, mau nganterin teh dulu." Kemudian Renata langsung pergi begitu saja. Ia merasa sikap Rio sedikit aneh padanya. Tatapannya dan gerak geriknya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar. Untuk itu, dirinya memilih untuk pergi saja.
Rio masih menatap kepergian Renata. Ia terus memperhatikan sang adik ipar sampai menghilang dibalik pintu.
"Hemm, menarik. Akan ku cari tahu kamu, Renata," gumam Rio pelan kemudian menghembuskan nafas pelan dan menunjukkan senyum smirknya.
Bersambung
Semua saling bersenda gurau diruang keluarga. Renata membawakan teh dan beberapa camilan untuk menemani waktu bersantai mereka. "Wah, kenapa repot-repot? Ayo duduk sini Re!" ucap sang mama mertua. "Tidak repot kok ma," Renata menata cangkir teh satu persatu diatas meja beserta camilannya. Renata duduk disebelah Adi. Namun Adi terlihat menghindar. Rio berjalan dari belakang untuk menyusul. Ia melihat semua itu dan semakin yakin bahwa, mereka ada sesuatu yang disembunyikan dan ditutup-tutupi, karena mereka tidak terlihat romantis sedikitpun. Tidak lama kemudian, ponsel Adi berdering. Ia pergi untuk menjawab telepon tersebut. "Maaf semuanya, aku angkat telepon sebentar ya!" Adi beranjak dan pergi tanpa mendapat jawaban dari siapapun di ruang tamu tersebut. "Hmm, si Adi itu sangat gila kerja. Dirumah saja masih terus menjawab panggilan. Entah dari klien atau dari rekan kerjanya." tutur nyonya Andrea. "Mirip denganmu yang selalu profesional dalam bekerja." balas tuan Hilman. Terlihat keromantisan dari mereka, meskipun sudah berumur sekitar 45 tahun lebih, mereka masih tetap harmonis seperti pasangan yang baru saja menikah. Wajah dan postur mereka bahkan masih seperti berusia 30 tahunan. Masih fresh dan segar. Renata termenung. Ia tahu pasti sebentar lagi, Adi akan pergi dan dia akan tidur sendirian lagi. Seharusnya dia tidak kaget, karena setiap malam selalu seperti itu. "Ma, pa, maaf. Adi harus pergi!" terang Adi sambil berjalan kearah semua orang dan memasukkan ponsel kedalam saku celananya. "Kamu tu ya, orang tua main kesini malah ditinggal pergi." ucap nyonya Andrea.
"Maaf ma, tapi ini dari rekan kerjaku. Ada sedikit pekerjaan dikantor yang harus disiapkan untuk besok. Besok akan ada kunjungan klien dari Australia." jelas Adi.
"Ini sudah jam 20.00 malam di, kamu masih mau pergi? Kenapa tidak biarkan asisten atau sekretarismu saja yang menyiapkannya, kamu tinggal dirumah!" tuan Hilman memberi saran.
"Tidak bisa pa, ini klien besar. Aku harus tahu dan mengerti, aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Maaf ya ma, pa!" Adi mencium kedua pipi dan tangan kedua orang tuanya. Kemudian pamit dengan kakaknya yang berdiri dibelakangnya. "Maaf ya bang, Abang bisa tidur dikamar tamu nanti. Tinggal dulu ya bang!" pamitnya pada kakaknya.
"Hm, hati-hati. Kita tidak jadi main catur dan lainnya?" goda Rio.
"Haha, lain kali aja ya bang. Abang akan lama di Indonesia, aku akan main ke apartemen abang. Sudah ya semua, aku udah ditunggu." Kemudian Adi langsung menyabet jaket dan kunci mobil, kemudian benar-benar pergi. "Hmm dasar, benar-benar mirip sepertimu Andrea, sangat pekerja keras. Sampai-sampai tidak memperdulikan keluarga." ucap tuan Hilman sambil menggelengkan kepalanya. "Iya, dia memang mirip denganku." ucap nyonya Andrea. Renata terdiam. Hanya dia yang tidak dicium Adi. Seharusnya pamit kepada istri minimal cium pipi atau kening, tapi ini tidak. "Re? Memang Adi selalu pergi seperti ini?" tanya nyonya Andrea.
"Tidak ma, mas Adi juga selalu dirumah, kadang-kadang aja pergi malam." jawab nyonya Andrea.
"Hmm, syukurlah. Kasihan jika kamu selalu ditinggal tiap malam." ucap tuan Hilman.
"Rio?" kenapa kamu hanya berdiri saja? Kenapa tidak duduk? Pantatmu sakit?" seloroh tuan Hilman.
"Tidak. Ini baru mau duduk." Rio berjalan kemudian duduk disebelah Renata. Tercium bau harum maskulin dari tubuh Rio, yang membuat tubuh Renata tiba-tiba berdesir. Ingin rasanya memeluk tubuh gagah itu. Tubuh Rio lebih gagah dari Adi. Lengan yang kekar tercetak jelas dibalik kaos hitam yang ia kenakan. Belum lagi urat-urat yang meliuk-liuk ditangan dan jari-jarinya. Kalau penampilan luarnya saja begitu bagaimana penampilan dalamnya. Juga terlihat jelas bagian menonjol yang diapit selangkangan. Pasti memiliki ukuran yang tidak biasa. Renata menggelengkan kepalanya cepat. Ia menampik pikiran kotornya dari sang kakak ipar. Bisa-bisanya dia membayangkan hal yang tidak jelas dan jorok tentang kakaknya.
"Hah, aku mungkin sudah gila," batinnya.
"Ma, sudah malam. Kita pulang saja, besok kita harus bangun pagi dan mulai perjalanan." ajak tuan Hilman.
"Betul pa, mama juga sudah lelah ingin segera tidur." tanggap nyonya Andrea.
"Kamu jadi menginap disini kan Rio?" tanya nyonya Andrea.
"Jadi ma, apartemenku belum begitu siap malam ini, aku akan kesana besok. Lagipula semua barang-barangku sedang dipindahkan ke apartemen juga, jadi aku tidak mau tinggal di tempat yang belum siap ku huni." jawab Rio. "Baiklah, kalau begitu kita pergi dulu ya!" kemudian mereka berdua berdiri dan saling mencium pipi satu sama lain.
"Seharusnya mama dan papa, menginap disini saja, besok juga bisa berangkat ke Bandung dari sini." ucap Renata yang kesepian ditinggal sang mama. Meskipun hanya mama mertua, namun Renata sangat dekat melebihi mama kandung.
"Maafin mama ya, mungkin lain kali. Barang-barang kita ada dirumah. Kami tidak mau tergesa-gesa. Ya sudah kita pergi dulu, see you!" Renata dan Rio mengantar orang tuanya sampai didepan mobil mereka. Dan masuk kembali ketika mobil orang tuanya sudah menghilang dibalik gerbang.
***
Renata dan Rio bersama menaiki tangga. Renata menunjukkan kamar Rio yang memang ada disebelahnya. Karena perintah Adi yang meminta Renata untuk menyiapkan kamar abangnya disebelah kamar mereka. "Bang, ini kamar Abang. Selamat beristirahat. Aku pergi dulu," ucap Renata kemudian pergi tanpa menunggu jawaban dari Rio. Rio hanya mengangguk dan merebahkan dirinya di ranjang empuk. Renata pergi ke kamarnya dan berganti baju tidur mini. Siapa tahu Adi akan segera pulang dan akan terjadi sesuatu di malam ini, karena Renata benar-benar sudah ingin sekali malam ini. Ia memakai celana tipis berbahan katun dan baju tidur berbahan katun juga. Sehingga tercetak jelas bukit kembarnya yang super dupper besar.
"Kenapa sih, mas Adi tidak mau denganku? Apakah aku kurang cantik? Kurang s3xy? Kurang menggoda baginya?" gumamnya pelan. Kemudian ia memejamkan matanya sambil mendongak keatas. Ia membayangkan dirinya dan Adi tengah b3rc*nta. Ia membuka kaitan kancing baju secara perlahan secara sensual dan memainkan puncak bukit kembarnya. "Aaahhh ... sssshhh," lenguhnya sambil tubuhnya menggelinjang seperti cacing kepanasan.
"Iya mas, disana aahhh," d3sah Renata memenuhi ruangan. Tangannya pun terus mencubit dan memilin puncak bukit besarnya hingga mengeras, sambil satu tangannya ia gunakan untuk memainkan liang kenikmat4nnya yang sudah basah.
"Aahhh mas Adi, terus masss ... Aaahhhh ...."
***
Di ruang kamar sebelah, Rio kembali terbangun. Saking lelahnya ia sampai ketiduran dengan cepat. Ia memutuskan untuk pergi ke dapur karena lupa membawa air minum sehingga tenggorokannya terasa sangat kering. "Hah, malas sekali jika harus turun kebawah. Tapi mau gimana lagi, disini gak ada air minum." gerutunya malas sambil mengusap wajahnya kasar, untuk menghilangkan rasa kantuknya. Akhirnya, dengan berat ia bangkit untuk menuju dapur. Namun di depan kamar sang adik ipar, samar-samar ia mendengar des4han nikmat yang terdengar dari dalam kamar. Ia tersenyum smirk, ia berpikir mungkin adiknya sedang menghajar istrinya, hingga menuju puncak. Terbukti dengan des4han yang terdengar, tidak ada henti-hentinya. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan memilih untuk tidak memperdulikannya. Namun baru beberapa langkah, ia tersadar. "Tunggu dulu! Adi kan tidak ada dirumah. Jika Adi tidak ada dirumah, lalu istrinya main sama siapa?" Kemudian Rio kembali kekamar sang adik. Memang ia tertarik dengan istri adiknya, tetapi jika istri adiknya itu membawa pria lain, ia juga tidak terima. Kebetulan pintunya juga terbuka sedikit, membuatnya sedikit leluasa untuk mengintip. Namun, alangkah terkejutnya dia melihat istri adiknya tengah asik bermain single tanpa partner. Rio bisa melihat keseluruhan tubuh molek itu yang hanya terbalut baju tidur tipis yang kancingnya sudah terbuka semuanya. Renata sudah tidak memakai celana, dan hanya polos tidak memakai apapun. Rio dibuat terkesima melihat liang kenikm4tan sang adik ter ekspose bebas. Terlihat lembab, kemerahan dan berair. Mungkin karena aktifitasnya yang panas, yang sedikit memunculkan cairan kenikm4tan. "Damn, d-dia ...?" Rio meneguk salivanya dengan susah payah. Ia merasakan juniornya sudah semakin sesak dibawah sana yang meronta untuk segera dilepaskan. Setelah ia merasa tidak tahan lagi, ia menutup pintunya pelan-pelan dan cepat pergi kedapur kemudian kembali kekamar.
***
Rio berlari menuju kamarnya. Ia memilih untuk mengambil satu botol air mineral dan segera membawanya kekamar untuk persediaan. Ia langsung pergi kekamar mandi untuk menuntaskan hasr4tnya. Karena keinginannya sudah sampai diujung, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkan lahar panasnya.
" hah ... hah ... hah, d4mn Renata, gara-gara dia, aku harus membuang milikku dengan percuma." dengan terengah ia bersandar di dinding kamar mandi dan membersihkan cairannya yang masih menempel di juniornya, juga yang bercecer dikamar mandi. Dengan lemas ia berjalan menuju ranjangnya. "Hah ... sial, kenapa bayangan Renata selalu berputar-putar di otakku. Tubuhnya benar-benar indah. Shit! Aku sudah gila, jika benar-benar menginginkan istri dari adikku sendiri," gumamnya pelan. Kemudian ia memilih untuk tidur, karena ini sudah sangat larut. Besok dia harus kembali ke apartemen untuk menata segala sesuatunya untuk ia tinggali selama di Indonesia.
***
Pagi menjelang, Rio baru terbangun dari tidurnya. Pikirannya masih tentang Renata yang sangat mempesona.
"Hah, si4l. Aku jadi tidak terlalu bisa tidur semalam." Rio memutuskan untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya. Sementara itu, Renata dan bik Inah sedang memasak di dapur. Sesuai dugaannya Adi tidak pulang semalam. Alhasil ia tetap tidur sendiri seperti biasanya.
"Non ini sayurnya,"
"Terimakasih bik. Oh iya, mas Adi apa telepon ke rumah bik? Dia tidak menghubungiku sejak semalam," tanya Renata.
"Maaf non, tidak." jawab bik Inah singkat. Ia merasa iba kepada Renata yang selalu ditinggal sendirian.
"Baiklah, aku akan ke atas memanggil bang Rio untuk sarapan." hela Renata kemudian pergi begitu saja. "Hah, kasihan sekali non Renata. Wanita secantik itu selalu sendirian setiap malam. Apa dia tidak kesepian?" ucap Budi yang tiba-tiba berada dibelakang bik Inah. "Sontoloyo. Uwong kok koyo setan. Tiba-tiba Ono tiba-tiba ngilang, jiambul!" racau bik Inah yang memang khas dengan logat jawanya. "Esok-esok kok yo wes nesu-nesu to bulik, aku gur ngomong biasa lho." jawab Budi seorang tukang kebun yang tidak lain adalah keponakan bik Inah. Mereka merantau dari solo Jawa tengah ke Jakarta untuk bekerja. "Matamu. Yo gek ndang sarapan kono. Gek kerjo seng tenan, ojo luntang luntung koyo gombal amoh." sarkas bik Inah. Budi hanya bisa menghela nafas pasrah, memang beginilah disetiap harinya. Tidak lepas dari amukan sang bibi yang sebenarnya sangat menyayanginya.
***
Renata berjalan menuju kamar kakak iparnya. Ia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Sehingga ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar saja untuk mencari keberadaan Rio.
"Bang? Dimana? Waktunya sarapan!" Panggil Renata namun tetap tidak ada jawaban. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka menampilkan Rio yang hanya memakai bawahan handuk yang melingkar di pinggangnya. Renata terbelalak melihat Rio, begitu juga Rio yang terkejut karena Renata ada dikamarnya. "Aaarrhhgghh, m-maaf a-aku tidak sengaja masuk." teriak Renata sambil menutup kedua mukanya dengan kedua tangannya. Rio yang terkejut langsung mendekati Renata dan membungkam mulutnya, sehingga mereka kini semakin dekat.
"Sssttt, jangan berteriak! Nanti orang-orang akan menyongsong kita kesini, dikira aku berbuat buruk kepadamu." ucap Rio. Renata membuka matanya dan hanya mengangguk. Bau harum dari sabun dan wajah Rio yang sangat tampan dilihat dari dekat membuatnya ketar-ketir. Mereka berdua saling beradu pandang dan perlahan Rio melepaskan pelukannya dari Renata.
"Ada apa? Kenapa kamu kekamarku?" tanya Rio pada Renata. Renata seketika tersadar dari lamunannya.
"Ah, i-ini, aku ingin menyampaikan pada Abang kalau sarapan sudah siap." terang Renata.
"Oh begitu, oke. Nanti aku akan turun. Aku akan berpakaian dulu," sahut Rio.
"B-baik. A-aku akan turun duluan." tetapi sebelum Renata pergi, Rio mencekal tangannya sehingga membuat langkah Renata terhenti. "E-eh,"
"Kenapa kamu tidak menungguku sampai selesai berpakaian?" desis Rio disamping telinga Renata yang memunculkan sensasi geli dan berdesir secara bersamaan.
"Aku tahu kamu sangat kesepian. Adi tidak pernah menyentuhmu kan? Jadi kamu butuh seorang pria untuk menghangatkanmu setiap malam," goda Rio.
"A-apa? Jangan sembarangan ya bang! Aku ti-" "Aku melihatmu bermain sendirian tadi malam. Seandainya kamu memintaku mungkin aku akan memu4skanmu sampai kamu meminta ampun padaku dan lemas." terang Rio.
Deg, Renata terbelalak mendengar penuturan Rio. Rio kembali mendekati Renata dan mengusap pundaknya.
"Kamu cantik Re, sayang banget kecantikanmu hanya di anggurin begitu aja." Rio meniup telinga dan menj*l4tnya dengan pelan untuk membuat Renata merinding. "Re?"
"A-aku ...."
Bersambung