Siang sepulang sekolah, Eka mampir kerumah Renata kembali, dia menemani pacarnya yang sedang mencuci baju. Dapur sederhana itu hampir mau rubuh tepatnya, tinggal ditopang tiangnya oleh Kakek Renata yang sehari harinya di Malang dan bekerja menjaga kebun apel disana, pulang kadang 2 minggu sekali atau sebulan sekali.
“sudah belajarnya Mas?” Renata selalu memamnggil mas ke Eka, karena dirumah memang dia dipanggil Mas oleh keluarganya
“sudah dong…”
“selesai nyuci aku test yo…” sambil senyum Renata memandang
“siap….”
Tugas Renata memang mencuci, beres-beres rumah atau kadang disuruh ibunya belanja kepasar untuk persiapan masak besoknya di warung nasi mereka, sering Renata membantu ibunya, namun lama-kelamaan dilarang oleh Ibunya.
Paras manis Renata memang mengundang banya laki-laki iseng yang suka menggoda, termasuk pria separuh baya yang bernama Parman. Sopir angkot itu sering menggoda Renata, dan suata saat waktu Renata ada di warung, Parman dengan santainya menggoda gadis muda itu, tanpa dia sadari Eka datang menjemput Renata, melihat pacarnya digoda dan dicolek pantatnya, tanpa basa basi bogemnya melayang ke wajah Parman.
Badan tinggi besar dan sikap agresif Eka, ditambah dengan latar belakang “anak kolong” jelas tidak berani jika hanya sekelas preman terminal mengusiknya. Termasuk Parman yang kena sial, nyolek pantat gadis kena hajar pacarnya.
Ibunya lalu melarang Renata datang, karena temperamen pacar muda nya yang tidak bisa melihat Renata digoda orang. Sehingga lebih banyak dirumah, dan jika ke pasar maka itupun diantar oleh Eka naik motor.
Nenek Eka tahu dan mendiamkan saja masalah hubungan Eka dengan Renata, meski ada anggapan masalah anak majikan memacari anak pembantu, tapi dia melihat sisi positifnya, setidaknya selama dengan Renata, nilai Eka selalu bagus, tidak pernah keluyuran dan dia sangat patuh dengan Renata.
Bapaknya Eka juga tahu, mereka sempat marah besar mengetahui itu, namun neneknya mengatakan bahwa hanya sebagai hubungan biasa, dan Renata meski sudah tidak sekolah dan hanya membantu orangtuanya, tapi dia yang sering mengajari Eka, karena memang anak ini pintar, dan hanya nasibnya saja yang kurang beruntung.
Niat bapaknya untuk menyekolahkan dan menjadikan lewat Akpol demikian kuat, dia tidak ingin anaknya menempuh jalur sepertinya yang harus dari sersan lalu melewati secapa untuk kemudian bisa jadi kapolsek sekarang ini.
Setelah selesai mencuci baju, Eka lalu duduk di sofa sederhana diruang tamu Renata, sambil tiduran dipangkuan Renata, sambil Renata membaca semua pertanyaan contoh soal, Eka menjawab semuanya tanpa ada yang terlewatkan.
“pintar…”
Puji Renata…
“siapa dulu dong pacarku…”
Renata tersenyum….
“Cium”
Renata membungkukan wajahnya, bibirnya mencium bibir Eka, mereka tenggelam dalam ciuman yang panas, sambil kepala Eka masih tiduran di pangkuan, mereka berciuman dengan dahsyatnya, sampai suara berkeciprak akibat suara bibir dan lidah mereka bertemu.
Tangan Eka lalu mengangkat baju Renata, lalu mencium payudaranya yang masih terbungkus beha, lalu ikut mengangkat behanya keatas, dan mulutnya menclok di ujung buah dadanya yang masih mengkal dan ujung putingnya yang kecil, dia melumat dengan mesra dan penuh nafsu.
Renata mendesah mendapat hisapan tiada henti dikedua buah dadanya, dengan posisi seperti ini, dia bisa melihat bahwa ada yang bangun di celana abu-abu milik Eka sementara dia meringis penuh kenikmatan saat putingnya diemut oleh mulut Eka….
“didalam aja, disini takut dilihat tetangga..” bisik Renata
Eka segera bangun, lalu menarik Renata untuk masuk ke kamarnya, dia lalu memeluk gadis itu, badan mungil langsung didekap erat oleh Eka yang berdiri di depan pintu kamarnya….keduanya saling melumat dengan penuh gairah, Renata menbiarkan Eka melumat dengan ganas bibirnya, pengalaman dan sering mereka berciuman membuat mereka sudah lebih mulai pintar dalam memainkan bibirnya masing masing.
Kaos Renata lalu dibuka dengan cepat oleh Eka, behanya juga dibuka dengan cekatan oleh Eka, dan mulai dia melumat buah dada yang berukuran sedang menggantung indah dihadapnnya, Renata meremas kepala Eka, dan lalu Eka menangajaknya pindah ke kasur.
Dada dan ketiak Renata dieksplore dengan leluasa oleh Eka, dia hanya bisa pasrah dengan cumbuan kekasihnya, namun saat Eka mulai mencoba menurunkan celana pendeknya, dengan cepat dan nafa memburu Renata menahannya….. dia masih berpikir dengan akal sehat, meski dadanya sudah penuh dengan lumatan Eka, namun pikirannya masih bisa mengontrol birahinya
“nanti juga jadi milik Mas kok, tapi ngga sekarang…” bujuk Renata sambil menahan birahinya
“aku cuma pengen lihat…’
“iya nanti sayang..”
“nanti kapan? Aku bentar lagi lulus dan segera kuliah, trus kapan?” agak merajuk
Renata tersenyum melihat pacar brondongnya yang merajuk, dia lalu menemukan akal untuk meredakan birahi pacarnya.
“sini boboan” perintahnya.
Eka lalu tiduran telentang, lalu Renata membuka retsluiting celana Eka, dan batang kemaluan itu dikeluarkan setelah celana dalamnya diturunkan, kini batang muda itu tegang berdiri perkasa, batang yang dulu waktu kecil sering dilihat oleh Renata waktu mandi, kini sudah berubah menjadi penis muda yang perkasa, dan topi bajany berkilap sepertinya cairan yang keluar dari ujung lubang pipis itu yang membuat kepalanya jadi lebih menggoda.
Renata lalu menyodorkan buah dadanya untuk diemut oleh Eka, dan sambil buah dadanya diemut, Renata mengelus dan mulai mengocok dengan lembut batang kemaluan Eka, dan mendapat remasan serta kocokan dari tangan lembut kekasihnya, sambil mengemut buah dada Renata, Eka bagaikan bayi sedang menyusui, dan tidak lama kemudian dia mengejang dan menyemprotkan cairan yang banyak ditangan Renata.
Renata tersenyum melihat kekasihnya kejang-kejang
“enak?”tanyanya
Eka menarik wajah Renata lalu melumat bibirnya….
“enak…”
Mereka kembali berpagutan dan berciuman mesra, sambil memeluk Renata yang sudah topless dan hanya menyisakan celana pendek rumahan, sedangkan Eka masih menyisakan celana panjang seragamnya dengan retsluiting terbuka dan batang kemaluan mudanya yang keluar dan sudah setengah loyo karena selesai meyemprotkan cairan kenikmatan.
Renata lalu mengajak Eka untuk mencuci kemaluannya yang basah selesai menyemprotkan cairan kenikmatan, dan beres beres karena takut ada orang rumah pulang mendadak, kemudian menemukan mereka berdua dalam keadaan seperti ini.
Bersambung
Kejadian pertama itu membuat mereka makin ketagihan melakukan hal yang sama, dan seakan menjadi ritual wajib untuk mereka berdua, diusia yang sangat muda dan sedang panas-panasnya itu, membuat Renata pun kesulitan membendung birahi Eka.
Meski dilain sisi Eka makin bagus persiapannya dalam mendekati ujian, sebab Renata ingin Eka lulus, bisa ke Akpol sesuai keinginan ayahnya. Meski angan-angan masih jauh, dan juga rasanya Renata sering berkaca dengan kondisinya yang yatim, tidak menempuh pendidikan formal setelah SMA, dan hanya membantu ibunya berjualan nasi, tapi rasanya bermimpi indah adalah hak semua orang.
Dan Renata sering berangan angan, bahwa kelak cinta Eka tidak akan berubah terhadapnya, dan rasanya bangga bisa mendampingi Eka jika dia lulus ke Akpol, jadi polisi, dan dia bisa jadi ibu Bhayangkari tentunya, itu mau tidak mau sering muncul dipikirannya.
Seiring waktu berjalan, melihat cinta Eka yang kuat dan besar, rasa yang sama pun muncul di hati Renata, bahkan lebih besar dan dahsyat lagi. Dia kemudian bangga jadi milik Eka. Dia tahu paras tampan Eka banyak jadi incaran gadis-gadis lain, tubuhnya yang tinggi menjulang, kulit putih warisan dari ibunya juga melekat di diri Eka.
Teman-teman sekelasnya dulu sering memuji Eka, brondong berkelas kata mereka. Tapi yang membuat Renata makin jatuh hati dengan Eka ialah kesetiaannya kepada Renata. Semenjak SMP kelas III hingga sekarang, tidak sedikitpun Eka tergoda dengan gadis lain, meski yang menggodanya bukan sembarangan gadis. Hatinya seperti hanya terpaku ke Renata, bahkan jika ada teman sekelas atau gadis lain yang iseng telp atau sms dia, sering dia menyuruh Renata yang menjawab atau membalas.
“Mas, nakal banget sih tanganya….khan nggab boleh kesana…” larang Renata lagi “ khan udah keluar tadi”
“liat aja ayang, ka ayang udah sering lihat punya aku…” mata penuh harap itu sambil setengah merajuk melihat wajah Renata. Renata gemas melihat wajah ganteng itu, benar-benar lucu jika sudah ada maunya.
Renata membiarkan kerika jari Eka masuk lewat tepian atas celana dalamnya, roknya Renata sudah tersingkap keatas, dan mulai dirasakannya jari Eka seperti ular melata di permukaan vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Rambut Renata yang tebal dan ikal, membuat rambut bawahnya juga memiliki tekstur sama, tebal.
Permukaan vaginanya dielus dengan lembut oleh tangan Eka, dan mulai bermain dengan memasukan kedalam belahannya..
“sakit Mas…” teriak Renata pelan
Eka menarik lagi jarinya, namun bermain lagi di permukaan dekat klitorisnya, dan Eka seperti menemukan mainan baru disitu dan makin membuat dia bersemangat melihat gadisnya yang seperti terkejang kejang saat tangannya menyentuh itu.
Dia sendiri kini batang kemaluannya sudah kembali berdiri tegak, darah muda yang menggelegak membuat dia juga dengan cepat naik kembali nafsunya, dan sambil menjilatinya buah dada Renata, dia menurunkan celananya, kini dia hanya menggunakan kemeja atasannya dan bagian bawah sudah telanjang.
Sementara Renata bagian atas sudah polos, buah dada indahnya dan ketiaknya yang mulus menjadi sasaran jilatan dan lumatan bibir muda Eka, roknya kini tersingkap keatas, dan celana dalamnya mulai turun sedikit kebawah, rambut lebatnya terlihat membuat Eka makin penasaran dan makin bernasfu merabanya.
Dengan sekalai hentak kebawah, celana dalamnya kini terlepas dari badannya.
“mas..kok dibuka…” protes Renata yang langsung disambut dengan ciuman di bibirnya dengan penuh nafsu, sedangkan tangan dan jari Eka masih bermain dibelahannya yang mulai basah
Ciuman Eka kini bermain di ketiak dan buah dada Renata, dan dengan instens dia menjilat dan mencumbu indahnya tubuh kekasihnya, semua jarinya juga aktif bergerak mencumbui setiap lekuk tubuh Renata yang sudah bugil dengan menyisahkan rok menempel di pinggangnya.
Renata dibuat tidak berdaya, badan kekar Eka itu kini diatasnya, dan dalam keadaan bugil juga, karena kemeja seragamnya kini sudah dicopot. Suasana siang yang sepi di rumah Renata membuat mereka leluasa melakukan acara mesra-mesraan ini.
“jangan Mas….udah sayang…” rintih Renata saat batang kemaluan Eka menggesek di bibir luar vaginanya, dia kelabakan dengan arus birahinya yang kali ini benar-benar membawanya ke sungai indah penuh nafsu, dan dia semakin terseret dengan alunan arus asmara bercampur cumbu rayu birahi
Vagina Renata kini mulai becek, dan sementara dia dicumbu dari bibir, leher, hingga buah dadanya yang disapu oleh lidah Eka, kini dia mulai diserang oleh batang kemaluan yang kini sangat tegang, dam memerah ujung kepala kontolnya.
Mata nya sedikit melotot saat Eka mulai memasukkan kepala kemaluannya di belahan bibirnya yang bawah. Eka lalu mencabutnya, tapi kemudian menggesekkan lagi kepalanya di bibir vagina dan keletitnya, membuat Renata semakin sulit membendung birahinya
Dan kemudian batang muda yang keras itu masuk hingga setengahnya….Renata meringis…dia mencengkrema pinggul kekasihnya, terasa perih dan pedih bercampur sakit saat batang yang termasuk besar itu menerobos…
Meski sakit dan perih, namun kenikmatan dan rasa untuk dan cumbuan bergelombang dari Eka, membuat Renata tidak mampu menolak lagi, dia hanya bisa meringis, bercampur antara rasa sakit dan rasa ingin lebih dalam lagi….
Dan setelah agak reda rontahan Renata, Eka lalu mencelupkan seluruh batang kemaluannya kedalam vagina yang sduah basah itu, dan mulai menggoyang pelan secara otomatis, meski dijepit dengan eratnya memek yang masih perawan itu, tapi campuran cairan vagina membuat semuanya jadi licin dan esdikit memudahkan Eka untuk memacu keluar masuknya batang kemaluannya
Mata Renata berair di pelupuknya, hal terindah dan mahkota yang ingin dia persembahkan nanti saat Eka kelak menyuntingnya, kini harus terenggut saat ini, dia hanya bisa menangisinya, dan meski perih, namun dia menikmati keluar masuknya batang kemaluan yang beberapa saat sudah muncrat dengen remasan lembut tanganya
Eka sendiri dengan pelan, namu pasti memompa batangnya keluar masuk, cengkeraman dan ketatnya pelukan Renata membuat dia semakin bernafsu, dan membalas pelukan kekasihnya, mencium bibirnya dengan ganas, dan memompa batangnya dengan sedikit cepat….
Akhirnya, meski sakit dan perih, puncak kenikmatan bisa diraih oleh Renata juga, dia mencengkeram pinggang serta kukunya menancap di punggung Eka saat puncak kenikmatannya tiba, meski kemudian perih akibat bobolnya mahkota indahnya untukm pertama kalinya.
Eka yang mengetahui Renata sudah mencapai puncaknya, lalu dengan cepat menggoyang pantatnya, dan tidak lama kemudian dia mencabut batang kemaluannya, lalu membuang cairan kenikmatannya yang tumpah dengan banyak sekali di perut Renata….
Dia lalu memeluk Renata yang masih menangis dengn pelan…. Membelai rambut kekasihnya yang menyesali hilangnya mahkota kebanggaannya… dia menyembunyikan wajahnya ke dada Eka…. Sedangkan Eka yang kini mulai tersadar dari birahinya, hanya bisa memeluknya….
“mas…. Kok tega sih…”
Tangisannya sedikit terisak…
“maaf Yang…. Aku khilaf…”
Renata makin kencang tangisannya, vaginanya nampak ada sedikit cairan darah akibat gesekan dari batang kemaluan Eka, di batang Eka yang sudah lunglai pun terlihat ada sebagian bercak darah segar, mungkin itu yang disebut darah keperawanan.
“aku akan tanggungjawab Yang…” bujuk Eka… sambil memeluk Renata yang masih menangis…. Rasa ingin tahu dan birahi yang terus dipompa oleh cumbuan yang intens, membuat mereka lupa diri dan akhirnya masuk ke area yang seharusnya mereka belum pantas masuki.
Bagi Eka, rasa cintanya semakin besar dan membara terhadap Renata, baginya hanya gadis ini yang dihatinya, dan tidak pernah ada pikiran bahwa dia akan mencintai gadis lain, meski usianya masih muda dan waktu bisa saja merubahnya, tapi saat ini hanya Renata di hatinya.
Tangisan Renata sedikit mereda, tapi mukanya masih disembunyikan di dada Eka, dia menangis dan hanya bisa sedikit menyesalinya, dia semakin takut kehilangan Eka, meski Eka masih bau kencur, masih panjang perjalanannya, tapi setelah dia menyerahkan keperawanannya, dia hanya bisa berharap Eka akan jadi tambatan hati terakhirnya nanti….