CINTA SEINDAH KEMBANG SETAMAN
“Mas, jangan nakal ih…”
Suara lembut dari bibir Renata memperingatkan pria muda yang masih menggunakan seragam sekolah SMA itu, karena jari bocah ini nakal dan mulai masuk ke dalam roknya, tangannya mencubit lengan Eka, agar tidak masuk-masuk lagi.
“nakal….” Sambil senyum gemas
“pengen pegang”
“jangan Mas, nanti kebablasan…”
“bentar aja…”
“ngga sayang…”
“hmmmmmmm” suara Renata kini mendesah saat ciuman pria muda itu mendarat di lehernya, sambil tangannya kini meremas buah dadanya yang tertutup kaos oblong itu, sofa yang sudah tua di ruang tamu di rumah sederhana itu nampak sesak dan bergoyang saat dengan nakalnya tangan Eka meremas dan memilin sekujur tubuh gadis itu
“Mas…..” tegur Renata lagi
Tangan Renata mencoba menahan tangan Eka yang sudah masuk ke dalam behanya
“ampun ih, nakal banget sih tangannya sayang….” Dia mulai meringis nikmat saat tangan Eka masuk dan meremas buah dada dan putingnya….lalu Eka mencoba mengangkat bajunya keatas, dan mengangkat beha sederhana milik Renata, dan begitu buah dada dan masih mengkal itu keluar, langsung disambut dengan sedotan mulut Eka.
Dengan ganas Eka melumat buah dada Renata, kini dia mulai menindih Renata, gadis itu hanya bisa pasrah, den kini membelai rambut Eka, meringis dan menggigit bibirnya saat bibir Eka menghisap buah dadanya berganti gantian.
Namun saat tangan Eka mengangkat roknya, Renata dengan cepat menahannya…..
“jangan nakal Mas….cukup yah…”
Eka hanya manyun….
“lihat doang…”
“hmmmm nanti lihat-lihat ujungnya megang….trus lanjut deh…” sambil mencubit pipinya Eka dengan gemes….
“ayang….yuk….” masih mencoba membujuk dia
“ngga Mas….” Sambil senyum melihat wajah Eka, bocah ganteng yang mengisi hatinya selama ini…. ”nanti kebablasan..”
Renata mencium pipinya dengan mesra…
“udah belajar belum? Ujian akhir sebentar lagi lho…?”
“udah dong…”
“besok aku test yah….”
“siap….”
“UTS kemarin bagus, kali ini ujian akhir harus bagus….”
“apalagi kali dikasih penyemangat dengan lihat yang ini “ Eka membelai bukit disela paha dari luar rok
Renata menjerit…..
“Nakal yah…”
“udah ah….nanti ibu datang ngga enak lihat kita lagi begini…”
Eka masih manyun dan agak ditekuk mukanya…
“ih..nyebelin…” Renata mengacak acak rambut Eka
“belajar dulu konsentrasi….khan mau jadi perwira polisi?”
“nanti abis ujian yah…” tawar Eka…
Renata tertawa……
“nanti kalau sudah jadi perwira polisi pasti sudah lupa sama aku…” ujar Renata
“ngga lah…” jawab Eka dengan cepat….
“boong….”
“beneran”
“itu teman aku si Mira, dulu cinta sekali sama pacarnya Yosi, Yosi juga gitu, eh pas kuliah di Jogja, malah kecantol sama cewe Bali….” Sambil memalingkan wajahnya
“aku ngga…” jawab Eka dengan polos dan jawaban khan bocah…
Renata tersenyum…
“biar waktu yang menjawab….kalo sudah polisi… mana ingat sama aku yang miskin ini…’
Eka langsung bangun dan memeluk Renata
“aku janji dan sumpah sama Ayang, ngga akan lupa dan tinggalin Ayang…apapun yang akan terjadi…” serius jawabnya sambil melihat wajah Renata…. Dia lalu memeluk erat Renata dan mencium bibirnya dengan penih kemesraan….
“yuk…. Nanti Mas dicariin Eyang Uti…” ajak Renata
Meski masih berat hati, Eka berdiri dan merapihkan bajunya, lalu mengambil tasnya, jaketnya lalu berjalan ke depan dan segera menuntun RX King nya, lalu Renata menunci pintu rumah, dan naik di belakang boncengan.
“nanti aku ngga usah di warung yah, ngga enak dilihat Ibu” ujar Renata
“oke sayang”
Motornya lalu segera berlalu, Renata memeluk erat kekasihnya itu… dan mereka menelusuri jalanan menuju ke warung nasi tempat ibunya Renata berjualan….
Renata Glacia Adistia, berusia 21 tahun, dengan tinggi 162 cm merupakan gadis yang berparas manis, wajahnya yang imut dan cantik khas Jawa, berkulit sawo matang, mulus, sederhana dan periang ini adalah putri satu satunya dari Ibu Yulinda dan Mirza. Mungkin orang akan bertanya-tanya kok namanya berbeda sekali dengan nama bapaknya dan ibunya.
Renata lahir dari keluarga yang sangat sederhana, ibunya berjualan di dekat perempatan jalanan berupa nasi dan lauk matang, bapaknya bernama Mirza meninggal saat Renata berusia 8 tahun, ibunya lalu memilih untuk melanjutkan hidup tanpa menikah lagi, meski usianya masih 32 tahun saat suaminya meninggal, kini diusia 45 tahun dia lebih memilih untuk fokus dengan jualan nasinya, meski hanya sekedar menyambung hidup.
Neneknya Renata, bernama Warsini kini berusia 66 tahun, bekerja di keluarga Bapak Dionisius Prasetya alm dan Ibu Sri Wulandari 68 tahun, yang merupakan pensiunan kepala sekolah SD. Bapak Dionisius adalah pensiuan Kepala Dinas PU di Kabupaten, sehingga keluarga ini merupakan keluarga aparatur sipil negara.
Suaminya Karsono sendiri seringnya ke kawasan Malang untuk membantu menjaga kebun apel disana milik sanak familinya, dan pulang hanya sebulan, atau dua minggu sekali menengok familinya di Blora, kadang malah sampai 3 bulan baru pulang menengok istri, anak dan cucunya.
4 anak dari pasangan Pak Dionisius dan IBu Wulandari ini semua jadi dan sudah tinggal terpisah, kecuali anak tertua Abimanyu dan istrinya Citra Adiningrum yang masih suka tinggal dirumahnya, di Blora ini, karena tugasnya Abimanyu selaku Kapolsek di kecamatan yang tidak begitu jauh dari rumah orangtua.
Sedangkan anak-anak lain yaitu
Anggeraini Kiran Tanaya
Aditya Bhanu Bagaskara
Anindya Nasywa Wulandhany
Semua sudah menikah dan tinggal terpisah baik di Jakarta, Tangerang, Bali dan Bandung.
Abimanyu sendiri memiliki dua anak yaitu Eka Putra Prasetya 18 tahun saat ini duduk di SMA kelas III IPA, dan adiknya Batari Indri Dwitya 13 tahun di kelas 2 SMP. Jika Batari atau Tari ikut dengan ibunya ke rumah dinas bapaknya, maka Eka lebih senang tinggal dengan neneknya.
Ibu Warsini, neneknya Renata sudah puluhan tahun mengabdi di kelurga Ibu Sri Wulandari, kurang lebih 25 tahun dia mengabdi, bahkan saat Abimanyu belum menikah, dia sudah bekerja sebagai ART di rumah Ibu Sri Wulandari.
Makanya, saat anaknya melahirkan, atau cucunya, dia meminta restu ke Ibu Sri Wulandari untuk memberi nama nama perempuan itu, dan diberilah Nama Renata Glacia Adistya. Dan 3 tahun kemudian Abimanyu dan Ningrum melahirkan anak pertama mereka yang diberi nama Eka Putra Perdana.
Karena sejak kecil Renata sering diajak neneknya main ke rumah majikannya, akhirnya jadi dekat dengan neneknya Eka, dan Renata yang dituntut menjadi dewasa sebelum waktunya, akhirnya lebih sering menjadi babysitter untuk Eka dan Tari, dan saat Tari diajak pindah ikut bapaknya tugas, Eka yang dulunya sewaktu SD sering ikut, waktu sudah SMP memilih tinggal dengan neneknya saja.
FLASH BACK
Sebagai seorang perwira kepolisian, Abimanyu atau yang suka disapa Abi, berkeinginan agar Eka putra pertamanya itu jadi polisi seperti dirinya, tapi bukan lewat SPN seperti yang dia jalani, tapi dia ingin anaknya masuk Akpol di Semarang, agak bisa langsung menjadi Perwira dan jenjang karirnya akan lebih cepat.
Untuk itu, dari SMP semua latihan fisik, mulai dari silat, karate, taekwondo hingga jujitsu semua dijejelin ke diri Eka, dan Abi mendidik anak itu dengan keras sekali, dia ingin anaknya tahan banting, pemberani dan bisa jadi pelindung keluarganya.
Namun namanya anak laki, apalagi dengan didikan ala militer, tentu bandelnya juga tidak main-main, dan itu yang membuat Abi suka marah. Dia ingin anaknya keras dan disiplin tapi terarah, bukannya jadi liar.
Namanya sabetan sabuk, sapu lidi atau pukulan dan tendangan sudah biasa mendarat di badan anaknya, dan ini membuat Eka tumbuh menjadi anak yang pemberani dan sangar, bagi dia pukulan dan tendangan dari bapaknya sudah biasa, malah dia rasa aneh jika bapaknya tidak marah dalam seminggu.
Dia kemudian seperti jadi pemimpin kecil di tengah kawan-kawannya. Ditambah dengan tinggi dan badannya yang bongsor sejak SMP, membuat dia sangat ditakuti di sekolahnya, selain badannya yang lebih besar dari kebanyakan anak-anak sebayanya, kemampuan bela dirinya juga membuat banyak anak-anak SMP keder menghadapinya.
Namun biarpun demikian, Eka memiliki paras yang ganteng dengan tinggi menjulang hingga 180 cm, yang diwarisi dari ibunya, membuat Eka banyak disenangi oleh gadis-gadis di sekolahnya. Ditambah lagi dengan kedudukan sebagai anak perwira polisi, membuat dia popular.
Meski bandelnya kadang diluar batas, namun satu-satunya yang membuat dia nurut hanyalah Renata, kakak kelas, mentor, dan juga babysiternya dia selama ini. Dekat dari dia masih kecil, kedekatan mereka semakin lengket saat kelas II SMP saat dia mulai dekat dan mulai puber, dan Renata kelas II SMA.
Yang dia rasakan ialah rasa tidak ingin jauh dari Renata. Dia akan marah jika melihat Renata dekat dengan cowo lain, dan Renata sadar dengan itu. Tak jarang Eka marah dan ngambek jika kemauannya tidak dituruti oleh Renata.
Kelas III SMP perilaku Eka semakin menjadi. Untungnya, Renata bisa membelokan pubertasnya kearah positif, meski bandel Eka termasuk cerdas, dan Renata pun demikian, meski dari keluarga tidak mampu, dia selalu ranking di kelasnya, sehingga dalam banyak pelajaran, Renata yang suka membantu Eka.
Renata selalu menuruti keinginan Eka, asalkan Eka belajar dan nilainya bagus, dan Eka pun nurut. Hasil prestasi itu membuat neneknya Eka senang, maklum dia hampir tidak punya waktu mengajarkan Eka, ditambah dengan anak tersebut tidak ingin ikut bapaknya dan ibunya, Eyang atau neneknya lebih banyak memanjakan Eka karena dia suka sedih dengan didikan keras Abi ke cucunya.
Bagi Renata, rasa cemburu Eka dianggap di awal awal hanyalah kolokan biasa, ke dirinya yang dianggap kakak. Hingga ada suatu kejadian yang merubah semuanya itu dan dia lalu menganggap bahwa ada yang berbeda dari bocah ini.
Suatu hari Renata pulang dengan teman-temannya, salah satu pria yang naksir dengannya itu namanya Triyono, memang sedang mendekatinya, dan siang itu mereka pulang bersama ramai-ramai dengan teman SMA berjalan kaki.
Tidak lama muncul Eka dengan seragam smpnya naik RX King, dia lalu meminta Renata naik dengannya.
“mas, aku pulang dengan teman-teman aja…” panggilan Renata ke Eka meski dia lebih muda dari Renata
“ayoo…” bersikeras Eka
Anak-anak SMA langsung meledek Renata, dan juga Triyono yang dikatain cemen karena membiarkan gadis incarannya dijemput anak SMP. Triyono yang panas lalu menyuruh Eka pulang duluan, tapi Eka bersikeras. Pertengkaran langsung pecah disitu, dan Eka meski anak SMP dia berani melawan anak SMA, dan hari itu dia dikeroyok oleh Triyono dan teman temannya yang kesal dengan tingkah Eka, sehingga Renata harus turun tangan menengahi perkelahian itu.
Dalam perjalanan pulang Eka yang bibirnya berdarah gara-gara dipukulin anak-SMA hanya diam, dia dengan kencang melarikan motornya dan hanya diam sepanjang jalan, menurunkan Renata di rumahnya, dan langsung jalan kembali.
Besoknya, di depan pintu gerbang SMA, Eka dan belasan anak buahnya, dengan pakaian SMP nampak berjaga jaga, mereka semua tertuju ke depan gerbang, menunggu rombongan kelas III IPA yang akan keluar.
“aku nda sabar lihat lihat kamu berantem lagi, Boss..” ujar kawannya Piki ke Eka, yang matanya tajam menetap ke gerbang, menunggu buruannya muncul
“ini urusan aku, kalian diam aja. Kalo mereka keroyokan baru sikat.” Perintahnya lagi. Eka merupakan pimpinan di rombongan SMP ini, badanya yang tinggi besar dan kemampuan bela dirinya membuat dia sangat disegani.
Benar saja, begitu rombongan kelas III IPA keluar, dan melihat Triyono dan teman-temannya muncul, dengan cepat dia lari mengejar. Melihat rombongan yang banyak itu, teman-teman Triyono keder juga.
“jangan turut campur, kalau kalian turut campur aku ratakan semua…” ancam Eka…
Tanpa berbasa basi dia langsung mengayunkan kakinya ke perut Triyono, diiringi dua kali pukulan telak ke wajah dan dadanya, langsung Triyono tumbang diiringi sorakan anak buah Eka…..
Begitu selesai dan karena ada guru-guru yang ikut keluar mendengar perkelahian itu, mereka langsung berhamburan naik motor mereka masing-masing.
“awas kalian berani ganggu Renata lagi…” ancam Eka….
Renata yang mendengar pemukulan itu langsung datang ke rumah nenek Eka, dan memarahi Eka, dengan santai Eka berkata
“ jik ada lagi yang berani dekatin, nasibnya akan sama”
Renata bingung dan hanya menggelengkan kepala.
Karena melihat perilaku Eka yang agak agresif dan cemburuan, akhirnya Renata memutuskan untuk mengikuti apa kemauan Eka, dengan syarat Eka harus mau belajar, jadi ranking dan mengurangi kegiatan ributnya.
2 hal pertama dia bisa ikutin, tapi hal yang terakhir sering kelewatan. Jika ada temannya yang diganggu atau dipukul anak sekolah lain, Eka selalu turun membantu, namun Renata bisa memakluminya, buat dia yang penting Eka mau belajar.
Selepas SMA, karena keterbatasan biaya, Renata memilih membantu ibunya berjualan, atau kadang membantu neneknya jika ada kerjaan lebih di rumah Bu Wulandari. Dia sempat mencoba untuk mencari pekerjaan di toko atau di mini market, namun kelakuan Eka yang cemburuan dan emosian, membuat dia mengurungkan niatnya. Dia tahu Eka ini nekatan sifatnya.
Neneknya Eka tahu kedekatan mereka berdua, secara tersembunyi, Bu Sri Wulandari memanggil Renata, lalu berbicara agar mau mengarahkan Eka, karena memang Eka hanya mau dengar apa kata Renata, dan jiak Eka sudah kuliah, mungkin Renata bisa sedikit terbebas.
Tanpa disadari kedekatan mereka berdua yang tiap hari bersama, akhirnya menumbuhkan bibit cinta. Teman-teman Renata sendiri banyak yang menyukai Eka, tentu karena parasnya yang ganteng, dank arena selalu bersama tanpa Renata sadari rasa itu tumbuh dengan berjalannya waktu.
Cemburunya Eka diikuti dengan sikap gentlenya, mulai dari rajin belajar, tidak terpengaruh dengan pergaulan yang aneh-aneh, dan yang utama yang buat Renata jatuh hati akhirnya ialah, cara dia memperlakukan Renata seperti seorang ratu dihatinya.
Ponsel Eka dan semua kontak serta sms yang masuk semua dengan mudah dibuka dan diakses Renata, bahkan jika ada teman ceweknya yang menelpon dari sekelaspun atau dari kelas lain, Renata yang diminta menjawabnya.
Dia pun tidak malu-malu mengajak Renata yang nota bene gadis sederhana, dari keluarga yang biasa aja, bahkan bisa dibilang cucu pembantu rumahnya Eka, untuk jalan kemana mana, termasuk jika nongkrong dengan teman-temannya yang ABG.
Kelas II SMA, pertama kalinya Renata mengijinkan Eka mencium bibirnya…. Dan ketika kelas III SMA cumbuan mereka semakin dalam dan jauh, buah dada dan payudaranya Renata sudah menjadi menu santapan wajib setiap mereka bercumbu….
Dan belakangan ini menjelang akhir di SMA, kelakuan Eka makin membuat Renata pusing, tangannya semakin sering masuk kedalam rok atau celana Renata, dia seperti ingin mencoba melihat atau merasakan sesuatu yang lebih dalam lagi daripada yang sering mereka lakukan….
Bersambung
Siang sepulang sekolah, Eka mampir kerumah Renata kembali, dia menemani pacarnya yang sedang mencuci baju. Dapur sederhana itu hampir mau rubuh tepatnya, tinggal ditopang tiangnya oleh Kakek Renata yang sehari harinya di Malang dan bekerja menjaga kebun apel disana, pulang kadang 2 minggu sekali atau sebulan sekali.
“sudah belajarnya Mas?” Renata selalu memamnggil mas ke Eka, karena dirumah memang dia dipanggil Mas oleh keluarganya
“sudah dong…”
“selesai nyuci aku test yo…” sambil senyum Renata memandang
“siap….”
Tugas Renata memang mencuci, beres-beres rumah atau kadang disuruh ibunya belanja kepasar untuk persiapan masak besoknya di warung nasi mereka, sering Renata membantu ibunya, namun lama-kelamaan dilarang oleh Ibunya.
Paras manis Renata memang mengundang banya laki-laki iseng yang suka menggoda, termasuk pria separuh baya yang bernama Parman. Sopir angkot itu sering menggoda Renata, dan suata saat waktu Renata ada di warung, Parman dengan santainya menggoda gadis muda itu, tanpa dia sadari Eka datang menjemput Renata, melihat pacarnya digoda dan dicolek pantatnya, tanpa basa basi bogemnya melayang ke wajah Parman.
Badan tinggi besar dan sikap agresif Eka, ditambah dengan latar belakang “anak kolong” jelas tidak berani jika hanya sekelas preman terminal mengusiknya. Termasuk Parman yang kena sial, nyolek pantat gadis kena hajar pacarnya.
Ibunya lalu melarang Renata datang, karena temperamen pacar muda nya yang tidak bisa melihat Renata digoda orang. Sehingga lebih banyak dirumah, dan jika ke pasar maka itupun diantar oleh Eka naik motor.
Nenek Eka tahu dan mendiamkan saja masalah hubungan Eka dengan Renata, meski ada anggapan masalah anak majikan memacari anak pembantu, tapi dia melihat sisi positifnya, setidaknya selama dengan Renata, nilai Eka selalu bagus, tidak pernah keluyuran dan dia sangat patuh dengan Renata.
Bapaknya Eka juga tahu, mereka sempat marah besar mengetahui itu, namun neneknya mengatakan bahwa hanya sebagai hubungan biasa, dan Renata meski sudah tidak sekolah dan hanya membantu orangtuanya, tapi dia yang sering mengajari Eka, karena memang anak ini pintar, dan hanya nasibnya saja yang kurang beruntung.
Niat bapaknya untuk menyekolahkan dan menjadikan lewat Akpol demikian kuat, dia tidak ingin anaknya menempuh jalur sepertinya yang harus dari sersan lalu melewati secapa untuk kemudian bisa jadi kapolsek sekarang ini.
Setelah selesai mencuci baju, Eka lalu duduk di sofa sederhana diruang tamu Renata, sambil tiduran dipangkuan Renata, sambil Renata membaca semua pertanyaan contoh soal, Eka menjawab semuanya tanpa ada yang terlewatkan.
“pintar…”
Puji Renata…
“siapa dulu dong pacarku…”
Renata tersenyum….
“Cium”
Renata membungkukan wajahnya, bibirnya mencium bibir Eka, mereka tenggelam dalam ciuman yang panas, sambil kepala Eka masih tiduran di pangkuan, mereka berciuman dengan dahsyatnya, sampai suara berkeciprak akibat suara bibir dan lidah mereka bertemu.
Tangan Eka lalu mengangkat baju Renata, lalu mencium payudaranya yang masih terbungkus beha, lalu ikut mengangkat behanya keatas, dan mulutnya menclok di ujung buah dadanya yang masih mengkal dan ujung putingnya yang kecil, dia melumat dengan mesra dan penuh nafsu.
Renata mendesah mendapat hisapan tiada henti dikedua buah dadanya, dengan posisi seperti ini, dia bisa melihat bahwa ada yang bangun di celana abu-abu milik Eka sementara dia meringis penuh kenikmatan saat putingnya diemut oleh mulut Eka….
“didalam aja, disini takut dilihat tetangga..” bisik Renata
Eka segera bangun, lalu menarik Renata untuk masuk ke kamarnya, dia lalu memeluk gadis itu, badan mungil langsung didekap erat oleh Eka yang berdiri di depan pintu kamarnya….keduanya saling melumat dengan penuh gairah, Renata menbiarkan Eka melumat dengan ganas bibirnya, pengalaman dan sering mereka berciuman membuat mereka sudah lebih mulai pintar dalam memainkan bibirnya masing masing.
Kaos Renata lalu dibuka dengan cepat oleh Eka, behanya juga dibuka dengan cekatan oleh Eka, dan mulai dia melumat buah dada yang berukuran sedang menggantung indah dihadapnnya, Renata meremas kepala Eka, dan lalu Eka menangajaknya pindah ke kasur.
Dada dan ketiak Renata dieksplore dengan leluasa oleh Eka, dia hanya bisa pasrah dengan cumbuan kekasihnya, namun saat Eka mulai mencoba menurunkan celana pendeknya, dengan cepat dan nafa memburu Renata menahannya….. dia masih berpikir dengan akal sehat, meski dadanya sudah penuh dengan lumatan Eka, namun pikirannya masih bisa mengontrol birahinya
“nanti juga jadi milik Mas kok, tapi ngga sekarang…” bujuk Renata sambil menahan birahinya
“aku cuma pengen lihat…’
“iya nanti sayang..”
“nanti kapan? Aku bentar lagi lulus dan segera kuliah, trus kapan?” agak merajuk
Renata tersenyum melihat pacar brondongnya yang merajuk, dia lalu menemukan akal untuk meredakan birahi pacarnya.
“sini boboan” perintahnya.
Eka lalu tiduran telentang, lalu Renata membuka retsluiting celana Eka, dan batang kemaluan itu dikeluarkan setelah celana dalamnya diturunkan, kini batang muda itu tegang berdiri perkasa, batang yang dulu waktu kecil sering dilihat oleh Renata waktu mandi, kini sudah berubah menjadi penis muda yang perkasa, dan topi bajany berkilap sepertinya cairan yang keluar dari ujung lubang pipis itu yang membuat kepalanya jadi lebih menggoda.
Renata lalu menyodorkan buah dadanya untuk diemut oleh Eka, dan sambil buah dadanya diemut, Renata mengelus dan mulai mengocok dengan lembut batang kemaluan Eka, dan mendapat remasan serta kocokan dari tangan lembut kekasihnya, sambil mengemut buah dada Renata, Eka bagaikan bayi sedang menyusui, dan tidak lama kemudian dia mengejang dan menyemprotkan cairan yang banyak ditangan Renata.
Renata tersenyum melihat kekasihnya kejang-kejang
“enak?”tanyanya
Eka menarik wajah Renata lalu melumat bibirnya….
“enak…”
Mereka kembali berpagutan dan berciuman mesra, sambil memeluk Renata yang sudah topless dan hanya menyisakan celana pendek rumahan, sedangkan Eka masih menyisakan celana panjang seragamnya dengan retsluiting terbuka dan batang kemaluan mudanya yang keluar dan sudah setengah loyo karena selesai meyemprotkan cairan kenikmatan.
Renata lalu mengajak Eka untuk mencuci kemaluannya yang basah selesai menyemprotkan cairan kenikmatan, dan beres beres karena takut ada orang rumah pulang mendadak, kemudian menemukan mereka berdua dalam keadaan seperti ini.
Bersambung
Kejadian pertama itu membuat mereka makin ketagihan melakukan hal yang sama, dan seakan menjadi ritual wajib untuk mereka berdua, diusia yang sangat muda dan sedang panas-panasnya itu, membuat Renata pun kesulitan membendung birahi Eka.
Meski dilain sisi Eka makin bagus persiapannya dalam mendekati ujian, sebab Renata ingin Eka lulus, bisa ke Akpol sesuai keinginan ayahnya. Meski angan-angan masih jauh, dan juga rasanya Renata sering berkaca dengan kondisinya yang yatim, tidak menempuh pendidikan formal setelah SMA, dan hanya membantu ibunya berjualan nasi, tapi rasanya bermimpi indah adalah hak semua orang.
Dan Renata sering berangan angan, bahwa kelak cinta Eka tidak akan berubah terhadapnya, dan rasanya bangga bisa mendampingi Eka jika dia lulus ke Akpol, jadi polisi, dan dia bisa jadi ibu Bhayangkari tentunya, itu mau tidak mau sering muncul dipikirannya.
Seiring waktu berjalan, melihat cinta Eka yang kuat dan besar, rasa yang sama pun muncul di hati Renata, bahkan lebih besar dan dahsyat lagi. Dia kemudian bangga jadi milik Eka. Dia tahu paras tampan Eka banyak jadi incaran gadis-gadis lain, tubuhnya yang tinggi menjulang, kulit putih warisan dari ibunya juga melekat di diri Eka.
Teman-teman sekelasnya dulu sering memuji Eka, brondong berkelas kata mereka. Tapi yang membuat Renata makin jatuh hati dengan Eka ialah kesetiaannya kepada Renata. Semenjak SMP kelas III hingga sekarang, tidak sedikitpun Eka tergoda dengan gadis lain, meski yang menggodanya bukan sembarangan gadis. Hatinya seperti hanya terpaku ke Renata, bahkan jika ada teman sekelas atau gadis lain yang iseng telp atau sms dia, sering dia menyuruh Renata yang menjawab atau membalas.
“Mas, nakal banget sih tanganya….khan nggab boleh kesana…” larang Renata lagi “ khan udah keluar tadi”
“liat aja ayang, ka ayang udah sering lihat punya aku…” mata penuh harap itu sambil setengah merajuk melihat wajah Renata. Renata gemas melihat wajah ganteng itu, benar-benar lucu jika sudah ada maunya.
Renata membiarkan kerika jari Eka masuk lewat tepian atas celana dalamnya, roknya Renata sudah tersingkap keatas, dan mulai dirasakannya jari Eka seperti ular melata di permukaan vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Rambut Renata yang tebal dan ikal, membuat rambut bawahnya juga memiliki tekstur sama, tebal.
Permukaan vaginanya dielus dengan lembut oleh tangan Eka, dan mulai bermain dengan memasukan kedalam belahannya..
“sakit Mas…” teriak Renata pelan
Eka menarik lagi jarinya, namun bermain lagi di permukaan dekat klitorisnya, dan Eka seperti menemukan mainan baru disitu dan makin membuat dia bersemangat melihat gadisnya yang seperti terkejang kejang saat tangannya menyentuh itu.
Dia sendiri kini batang kemaluannya sudah kembali berdiri tegak, darah muda yang menggelegak membuat dia juga dengan cepat naik kembali nafsunya, dan sambil menjilatinya buah dada Renata, dia menurunkan celananya, kini dia hanya menggunakan kemeja atasannya dan bagian bawah sudah telanjang.
Sementara Renata bagian atas sudah polos, buah dada indahnya dan ketiaknya yang mulus menjadi sasaran jilatan dan lumatan bibir muda Eka, roknya kini tersingkap keatas, dan celana dalamnya mulai turun sedikit kebawah, rambut lebatnya terlihat membuat Eka makin penasaran dan makin bernasfu merabanya.
Dengan sekalai hentak kebawah, celana dalamnya kini terlepas dari badannya.
“mas..kok dibuka…” protes Renata yang langsung disambut dengan ciuman di bibirnya dengan penuh nafsu, sedangkan tangan dan jari Eka masih bermain dibelahannya yang mulai basah
Ciuman Eka kini bermain di ketiak dan buah dada Renata, dan dengan instens dia menjilat dan mencumbu indahnya tubuh kekasihnya, semua jarinya juga aktif bergerak mencumbui setiap lekuk tubuh Renata yang sudah bugil dengan menyisahkan rok menempel di pinggangnya.
Renata dibuat tidak berdaya, badan kekar Eka itu kini diatasnya, dan dalam keadaan bugil juga, karena kemeja seragamnya kini sudah dicopot. Suasana siang yang sepi di rumah Renata membuat mereka leluasa melakukan acara mesra-mesraan ini.
“jangan Mas….udah sayang…” rintih Renata saat batang kemaluan Eka menggesek di bibir luar vaginanya, dia kelabakan dengan arus birahinya yang kali ini benar-benar membawanya ke sungai indah penuh nafsu, dan dia semakin terseret dengan alunan arus asmara bercampur cumbu rayu birahi
Vagina Renata kini mulai becek, dan sementara dia dicumbu dari bibir, leher, hingga buah dadanya yang disapu oleh lidah Eka, kini dia mulai diserang oleh batang kemaluan yang kini sangat tegang, dam memerah ujung kepala kontolnya.
Mata nya sedikit melotot saat Eka mulai memasukkan kepala kemaluannya di belahan bibirnya yang bawah. Eka lalu mencabutnya, tapi kemudian menggesekkan lagi kepalanya di bibir vagina dan keletitnya, membuat Renata semakin sulit membendung birahinya
Dan kemudian batang muda yang keras itu masuk hingga setengahnya….Renata meringis…dia mencengkrema pinggul kekasihnya, terasa perih dan pedih bercampur sakit saat batang yang termasuk besar itu menerobos…
Meski sakit dan perih, namun kenikmatan dan rasa untuk dan cumbuan bergelombang dari Eka, membuat Renata tidak mampu menolak lagi, dia hanya bisa meringis, bercampur antara rasa sakit dan rasa ingin lebih dalam lagi….
Dan setelah agak reda rontahan Renata, Eka lalu mencelupkan seluruh batang kemaluannya kedalam vagina yang sduah basah itu, dan mulai menggoyang pelan secara otomatis, meski dijepit dengan eratnya memek yang masih perawan itu, tapi campuran cairan vagina membuat semuanya jadi licin dan esdikit memudahkan Eka untuk memacu keluar masuknya batang kemaluannya
Mata Renata berair di pelupuknya, hal terindah dan mahkota yang ingin dia persembahkan nanti saat Eka kelak menyuntingnya, kini harus terenggut saat ini, dia hanya bisa menangisinya, dan meski perih, namun dia menikmati keluar masuknya batang kemaluan yang beberapa saat sudah muncrat dengen remasan lembut tanganya
Eka sendiri dengan pelan, namu pasti memompa batangnya keluar masuk, cengkeraman dan ketatnya pelukan Renata membuat dia semakin bernafsu, dan membalas pelukan kekasihnya, mencium bibirnya dengan ganas, dan memompa batangnya dengan sedikit cepat….
Akhirnya, meski sakit dan perih, puncak kenikmatan bisa diraih oleh Renata juga, dia mencengkeram pinggang serta kukunya menancap di punggung Eka saat puncak kenikmatannya tiba, meski kemudian perih akibat bobolnya mahkota indahnya untukm pertama kalinya.
Eka yang mengetahui Renata sudah mencapai puncaknya, lalu dengan cepat menggoyang pantatnya, dan tidak lama kemudian dia mencabut batang kemaluannya, lalu membuang cairan kenikmatannya yang tumpah dengan banyak sekali di perut Renata….
Dia lalu memeluk Renata yang masih menangis dengn pelan…. Membelai rambut kekasihnya yang menyesali hilangnya mahkota kebanggaannya… dia menyembunyikan wajahnya ke dada Eka…. Sedangkan Eka yang kini mulai tersadar dari birahinya, hanya bisa memeluknya….
“mas…. Kok tega sih…”
Tangisannya sedikit terisak…
“maaf Yang…. Aku khilaf…”
Renata makin kencang tangisannya, vaginanya nampak ada sedikit cairan darah akibat gesekan dari batang kemaluan Eka, di batang Eka yang sudah lunglai pun terlihat ada sebagian bercak darah segar, mungkin itu yang disebut darah keperawanan.
“aku akan tanggungjawab Yang…” bujuk Eka… sambil memeluk Renata yang masih menangis…. Rasa ingin tahu dan birahi yang terus dipompa oleh cumbuan yang intens, membuat mereka lupa diri dan akhirnya masuk ke area yang seharusnya mereka belum pantas masuki.
Bagi Eka, rasa cintanya semakin besar dan membara terhadap Renata, baginya hanya gadis ini yang dihatinya, dan tidak pernah ada pikiran bahwa dia akan mencintai gadis lain, meski usianya masih muda dan waktu bisa saja merubahnya, tapi saat ini hanya Renata di hatinya.
Tangisan Renata sedikit mereda, tapi mukanya masih disembunyikan di dada Eka, dia menangis dan hanya bisa sedikit menyesalinya, dia semakin takut kehilangan Eka, meski Eka masih bau kencur, masih panjang perjalanannya, tapi setelah dia menyerahkan keperawanannya, dia hanya bisa berharap Eka akan jadi tambatan hati terakhirnya nanti….