Seorang lelaki paruh baya, mengelus pemuda yang sedang membungkuk untuk mencium tangannya. Hari itu, pemuda tersebut akan pergi ke kota untuk kuliah.
Gusti Pratama namanya. Dia merupakan anak sulung pasangan Wiryo dan Yana. Pasangan sederhana yang terbiasa bertani dan berkebun, untuk mencukupi kebutuhan hidup. Sungguh keberuntungan bagi mereka, saat mengetahui Gusti bisa mendapat beasiswa di universitas ternama.
Para gadis desa juga terlihat berkumpul di rumah Gusti. Tidak heran itu dilakukan mereka, Mengingat Gusti memiliki paras sangat tampan. Bisa dibilang dia adalah lelaki tertampan di desanya. Ya sebut saja kembang desa versi lelaki.
"Mas Gusti ojo tinggalin daku, Mas..."
"Iya. Jangan lupakan kami di sini ya."
Berbagai kalimat perpisahan didapatkan oleh Gusti. Lelaki tampan itu hanya menyapa dengan senyuman.
Jujur saja, dari banyaknya gadis di desa, hanya satu gadis yang selalu menarik perhatian Gusti. Namanya Siti Mawardah, dia seringkali disapa dengan panggilan Mawar.
Sebelum memasuki mobil, Gusti mengedarkan pandangan ke segala arah. Sebab, sejak tadi dia tidak melihat Mawar untuk melepas kepergiannya.
"Ayo cepat, Gus! Pesawatnya berangkat satu setengah jam lagi, Takutnya kita telat nanti," tegur Aman. Teman sepantaran Gusti, Namun dia merupakan anak juragan desa yang dikenal kaya. Sayangnya dia tak memiliki wajah setampan Gusti.
Gusti mengangguk dan segera masuk ke mobil Aman. Saat itulah, terdengar suara teriakan gadis yang memanggilnya dari jauh.
Buru-buru Gusti keluar dari mobil, Dia yakin gadis yang memanggilnya adalah Mawar.
"Gusti! Tungguin aku!" pekik Mawar yang berlari laju, sambil membawa sesuatu dalam pelukannya. Dia segera berhenti di hadapan Gusti.
"Kau kemana saja?! Bisa-bisanya kau jadi orang yang paling telat muncul dari yang lain!" timpal Gusti, Dia dan Mawar bersahabat sejak kecil. Keduanya sama-sama menyimpan rasa suka, Tetapi sampai sekarang mereka belum berpacaran.
"Jangan marah-marah. Aku membuatkan sesuatu untuk kau bawa, Nih!" Mawar menyerahkan barang bawaannya kepada Gusti.
"Ini apa?" tanya Gusti dengan kerutan dahi.
"Yang jelas itu akan berguna buatmu nanti. Ya sudah, pergi sana!" ujar Mawar yang malah mendesak Gusti untuk cepat pergi.
"Dasar! Senang ya lihat aku pergi," tanggap Gusti memberengut.
Mawar hanya membalas dengan menjulurkan lidah. "Kan kau nanti balik lagi," ucapnya.
Gusti mendengus kasar. Dia meletakkan barang pemberian Mawar ke kursi belakang mobil. Tanpa diduga, Gusti memeluk Mawar.
Mata Mawar membulat sempurna. Wajahnya juga memerah padam karena malu, Buru-buru dia mendorong Gusti.
"Apaan sih?! Kita dilihatin orang banyak!" kata Mawar gelagapan.
"Awas aja kalau kangen!" timpal Gusti, lalu Dia segera masuk ke mobil. Tak lama kemudian, beranjaklah dia bersama Aman.
Terlihat ada beberapa gadis yang kesulitan berpisah, Mereka sampai mengejar mobil dengan berlari. Saking tampannya Gusti, bahkan ada anak SMP yang juga menyukainya. Mereka bahkan membuat klub fans, bernama Tergusti-gusti di kampung bernama Pesenja itu.
Dari daratan hingga lautan diarungi Gusti, Sampai tibalah dia di ibu kota. Gusti dan Aman langsung pergi ke kost-kostan mereka yang kebetulan sudah dipesan.
Kini Gusti dan Aman baru saja sampai di kost-kostan, Keduanya terlihat mengambil barang dari bagasi taksi.
"Parah! Ternyata begini ya ibukota, Kita hampir dua jam terjebak macet. Udah capek, panas lagi!" keluh Gusti sambil geleng-geleng kepala.
"Kau beruntung punya teman kayak aku, Gus. Kalau aku nggak ada, kau pasti akan semakin kesulitan. Menemukan kost-kostan yang dekat sama kampus tuh nggak mudah loh," ujar Aman.
"Iya sih. Tapi harganya mahal. Kalau bisa nanti aku mau cari yang lebih murah," tanggap Gusti.
"Eh, kalau yang murah, kost-kostan angker banyak!" balas Aman. Dia dan Gusti segera memasuki kost-kostan, Di sana sudah ada ibu kost yang menyambut.
"Selamat datang di kost-kostan universe. Di sini tidak ada yang namanya perbedaan lelaki dan perempuan," ujar Hesti. Ibu kost-kostan yang tampak mengenakan daster selutut.
Hesti mendekat ke hadapan Gusti. "Ya ampun... tampannya Mas ini," pujinya.
Gusti tersenyum kecut sambil melangkah mundur, Ia justru lebih terpikirkan tentang perkataan Hesti tadi.
"Perbedaan?" tanya Gusti. Keningnya mengernyit dalam. Dia mengira, kost-kostan yang di tempatinya adalah kost-kostan campuran. Dimana lelaki atau pun wanita diperbolehkan tinggal di sana.
"Iya. Itu konsep kost-kostan di sini," jawab Hesti yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Gusti. Dia memperbaiki rambut karena ingin dilihat cantik. Lalu berjalan lebih dulu, untuk mengantarkan Gusti dan Aman ke kamar masing-masing.
"Nggak. Maksudnya, saya bertanya apakah perempuan atau laki-laki diperbolehkan mengkost di sini?" tanya Gusti. Dia langsung mendapat senggolan siku dari Aman.
"Kau ngapain pakai tanya segala? Ini kan emang kost-kostan campuran!" ujar Aman, Membuat mata Gusti sontak terbelalak.
"Ini kan memang kost-kostan campuran. Susah loh mencari tempat senyaman ini, dengan harga yang cukup terjangkau," kata Hesti yang akhirnya berhenti di salah satu kamar. "Nah, ini kamar untuk Mas Aman," ucapnya sambil membukakan pintu.
"Makasih, Tante!" ujar Aman yang segera masuk ke kamar. "Aku duluan ya, Gus. Nanti setelah rehat kita nongki lagi," ujarnya yang sekarang bicara pada Gusti.
Kini Hesti menatap Gusti. Dia tersenyum dan berkata, "Nah kalau kamar buat Mas cakep ini di sana!"
Hesti berjalan menghampiri kamar yang akan di tempati Gusti. Lalu membukakan pintu untuk cowok tersebut.
"Namanya siapa ya, Mas? Kalau Mas Aman kan aku sudah kenal. Tapi Masnya kan belum," cetus Hesti.
"Saya Gusti," jawab Gusti dengan senyuman canggung.
"Ya sudah, Kalau ada apa-apa kasih tahu aku. Rumahku ada di sebelah kost-kostan ini. Yang pakai cat biru," ungkap Hesti. "Oh iya. Kalau mau nomor telepon, tinggal minta sama Aman," tambahnya.
Gusti hanya mengiyakan, Dia berharap Hesti cepat-cepat pergi sehingga dirinya bisa beristirahat. Akan tetapi, wanita paruh baya itu masih diam di ambang pintu.
"Apa ada yang mau dikatakan lagi?" tanya Gusti. Terpaksa bertanya karena Hesti tak kunjung beranjak.
"Nggak apa-apa, Masnya ganteng banget. Sudah lama nggak lihat yang segar-segar begini. Ya sudah, aku pergi dulu," ujar Hesti, Dia akhirnya beranjak.
Kini Gusti mendengus lega, Ia menutup pintu terlebih dahulu. Lalu menghempaskan diri ke ranjang, Meregangkan tubuhnya beberapa kali.
"Ahh... Capek banget," keluh Gusti. Atensinya terfokus pada tas yang berisi barang pemberian Mawar. Ia segera mengambil tas tersebut dan memeriksa isinya.
Mawar memberikan perlengkapan dapur, Terdapat juga tempe mendoan buatannya di dalam sana. Kebetulan tempe mendoan adalah makanan favorit Gusti.
Senyuman mengembang di wajah Gusti. Dia jadi rindu pada Mawar, Padahal dirinya baru berpisah beberapa jam dengan gadis itu.
Gusti memilih tidur sejenak. Dia akan membereskan kamarnya besok saja, Lelaki itu segera jatuh terlelap.
...***...
Bruk!
Terdengar suara pintu tiba-tiba terbuka, Gusti sontak terbangun dari tidurnya. Ia langsung merubah posisi menjadi duduk, sambil melihat ke arah pintu. Di sana tampak seorang perempuan cantik, dengan pakaian crop top dan rok mini.
"Wah! Ada cowok tampan di kamarku..." ucap perempuan yang sering disapa Ana itu. Dia melangkah sempoyongan dengan tatapan sayu. Sepertinya Ana sedang dalam kondisi mabuk.
"Kau siapa? Ini kamarku!" seru Gusti yang tentu saja kebingungan. Dia menyesal karena lupa mengunci pintu tadi.
"Aku tidak peduli ini kamar siapa," kata Ana sembari menghampiri Gusti. Tanpa diduga, dia melepaskan crop topnya begitu saja. Kini yang terlihat hanya bra dan rok mini.
"Apa yang kau lakukan?!" Mata Gusti membulat. Dia buru-buru menjauhi Ana, Berlari keluar dari kamar.
Gusti mendatangi kamar Aman, Mengetuk dan memanggil temannya itu beberapa kali. Sebagai pemuda kampung, jelas berhadapan dengan perempuan seperti Ana bukanlah hal biasa. Pemuda kampung seperti Gusti terbiasa hidup menjunjung tinggi norma.
Setelah lama mengetuk, akhirnya Aman membuka pintu. Lelaki itu tampak malas karena baru terbangun dari tidur.
"Apaan sih, Gus?. Baru malam pertama udah heboh aja," tukas Aman.
Bersambung
"Di kamarku ada cewek, Maan!" ungkap Gusti yang sesekali melihat ke arah kamarnya. Namun perempuan yang dia maksud tak terlihat sama sekali.
Mendengar Gusti menyebut perempuan, kelopak mata Aman langsung terbuka lebar. "Apa? Cewek?!" tanyanya tak percaya.
"Iya! Dia tadi tiba-tiba masuk ke kamarku," jelas Gusti.
"Rambut panjang dan pakai baju putih nggak?" tebak Aman. Takut kalau perempuan yang mendatangi Gusti bukanlah manusia.
"Kau pikir kuntilanak apa? Jelas dia manusia. tapi Itu lebih menakutkan, Maan!" sahut Gusti.
Aman yang meragu, segera mendatangi kamar Gusti. Pupil matanya membesar, tatkala benar-benar melihat seorang perempuan di kamar temannya tersebut.
"Edan kau, Gus! Baru beberapa jam di sini sudah dapat aja cewek cantik." imbuh Aman sambil menelan ludah sendiri, Dia melihat Ana telentang dalam keadaan hanya mengenakan bra dan rok mini. Lelaki mana yang tidak panas dingin melihatnya.
"Kalian sempat melakukan apa tadi, Gus? Kenapa dia setengah telanjang begini?" tanya Aman.
"Enak aja. Aku sentuh dia sedikit aja enggak, Tapi nih cewek kayaknya mabuk. Dia tadi jalan sempoyongan gitu," tanggap Gusti. "Kita panggil ibu kost aja deh," usulnya.
"Bawa ke kamar aku aja nggak apa-apa," kata Aman.
"Edan kau! Kalau digrebek masa nanti gimana?" balas Gusti.
"Ah! Ini kota, Gus. Bukan kampung, Manusianya rata-rata individualis. Nggak peduli sama urusan orang," Aman melambaikan tangan ke depan wajah.
"Tetap aja. Mana hp-mu? Biar aku saja yang telepon Tante Hesti," pinta Gusti.
"Udah! Aku aja." Aman terpaksa menghubungi ibu kost untuk mengadukan yang terjadi.
Hesti segera datang bersama suaminya, Dia tampak cemberut. Wanita paruh baya itu juga menggerutu, perihal kebiasaan Ana yang sering mengganggu penghuni kost lain.
"Aku minta maaf sebelumnya sama kalian, Wanita ini memang kadang-kadang begini. Aku sudah berusaha memberitahunya berkali-kali untuk pindah, tapi dia tetap ngeyel. Jadi aku sarankan, kalian agar selalu mengunci pintu kalau sedang di kamar atau pergi," ucap Hesti panjang lebar.
Gusti mengangguk mengerti. Sedangkan Aman tampak senyum-senyum sendiri.
"Sekarang ayo bantu aku memindahkan dia ke kamarnya. Kalian kuat menggendongnya kan? Soalnya kalau dibangunkan, malah merepotkan," ungkap Hesti.
"Kami--"
"Bisa banget, Tante! Aku gendong sendiri pun bisa. Lagian Gusti juga kayaknya kecapekan." Aman dengan cepat memotong ucapan Gusti. Lelaki sepertinya memang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan, Aman lantas menggendong Ana dengan gaya bridal.
"Ya udah, aku akan bukakan pintu kamarnya," sahut Hesti yang segera beranjak keluar lebih dulu.
"Wah... Mantul, Gus!" ungkap Aman yang cengengesan sambil geleng-geleng kepala.
Gusti menarik sudut bibirnya ke atas. Sebagai lelaki, dia tentu paham dengan apa yang ada di pikiran Aman.
"Hati-hati ngaccueng tuh!" tegur Gusti, ketika Aman berjalan melewatinya, Kini dia bisa tenang kembali.
Usai Ana dipindahkan ke kamar seharusnya. Gusti beristirahat kembali, Ia kali ini tidak lupa mengunci pintu kamarnya.
...***...
Hari pertama ospek dimulai. Kegiatan yang seringkali juga disebut orientasi studi dan pengenalan kampus itu, harus dilalui mahasiswa baru. Tak terkecuali Gusti dan Aman.
Saat waktu menunjukkan jam enam pagi, Gusti dan Aman berangkat. Mereka pergi dengan menaiki bus.
"Nanti aku mau beli motor, Gus. Tapi sekarang masih di urus sama bapakku," imbuh Aman. Ia dan Gusti sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu. Semua itu tentu berdasarkan arahan dari pihak kampus. Terutama pihak mahasiswa BEM yang kebetulan berwenang mengurus kegiatan ospek.
"Kalau udah punya motor, jangan lupa boncengin aku," tanggap Gusti.
"Ganteng-ganteng maunya diboncengin," komentar Aman. Dia dan Gusti lantas tergelak bersama.
Tak lama kemudian Gusti dan Aman tiba di kampus. Mereka harus berpisah, karena mengambil program studi yang berbeda. Gusti mengambil program studi Arsitektur, sedangkan Aman mengambil program studi Ekonomi.
Gusti segera bergabung ke dalam barisannya. Jujur saja, sejak pertama kali muncul, dia sudah menarik perhatian banyak pasang mata. Baik itu senior dan mahasiswa baru lain. Mengingat ketampanan yang dimiliki Gusti memang sulit untuk diabaikan, Terutama bagi para kaum hawa.
Karena tinggal di kampung yang dekat dengan pegunungan, Gusti memiliki kulit putih bersih. Dia juga terbiasa hidup bersih karena kebiasaan yang ditanamkan oleh keluarganya.
Gusti mengembangkan senyuman, ketika sudah bergabung dengan mahasiswa baru program studi Arsitektur. Para gadis yang ada di program studi itu, diam-diam kegirangan karena mempunyai teman sejurusan berparas tampan.
"Hai! Anak mana?" seorang lelaki dengan rambut cepak bertanya seraya tersenyum, Dia kebetulan berdiri di sebelah Gusti. Lelaki tersebut juga memiliki paras tampan. Namun ketampanannya masih belum bisa mengalahkan aura yang dimiliki Gusti.
"Aku dari Jawa Tengah, Tepatnya di kampung dengan nama Pesenja. Kalau kau?" tanggap Gusti, Dia berbalik tanya.
"Aku Elang! Sejak lahir tinggal di kota ini," sahut lelaki berambut cepak tersebut.
"Wah! Nanti bisa ajarin aku jadi anak kota dong," balas Gusti berbasa-basi.
"Siap!" Elang menjawab dengan mengacungkan jempol.
Pengarahan dilakukan oleh ketua BEM. Seluruh mahasiswa melakukan beberapa kegiatan bermanfaat, dan dilanjutkan dengan pengenalan kampus. Mereka dipersilahkan untuk menjelajahi area kampus. Saat itulah, semua orang memanfaatkan waktu saling berkenalan.
Gusti menemukan banyak orang yang mengajaknya bicara. Hal serupa juga dialami oleh Elang, Mereka juga tak lupa saling berbagi nomor telepon.
Dari banyaknya orang. ada satu gadis yang mencuri perhatian Gusti, Yaitu gadis bernama Widy. Alasan Gusti hanya satu saat melihatnya, yaitu karena Widy adalah yang tercantik. Tidak seperti gadis lainnya, Widy hanya menyapa Gusti dengan senyuman.
Memang tadi malam, Gusti sudah menemui perempuan cantik di kamar. Namun gadis yang dilihatnya sangat berbeda dengan Ana. Widy memiliki kharisma yang sangat berkesan, Gadis itu memiliki nada bicara lembut dan tatapan meneduhkan.
"Apa dia aktris?" bisik Gusti pada Elang.
"Kenapa? Baru lihat cewek kota?" tanggap Elang yang berusaha menahan tawa.
"Nggak semua cewek kota begitu kan?" balas Gusti santai.
"Kau benar! Nggak semua cewek kota seperti Widy," sahut Elang sambil meletakkan siku ke pundak Gusti. "Nanti kita ajak dia ngobrol pas lihat-lihat area kampus," usulnya enteng.
"Eh, aku nggak bermaksud begitu kok. Cuman pengen tahu aja," Gusti buru-buru membantah.
Elang terkekeh, Ia mencoba memahami sisi lugu Gusti. "Ya udah, Ayo kita jalan," ajaknya. Dia dan Gusti segera memasuki area kampus, Begitu pun mahasiswa baru lainnya.
Banyak orang yang bergabung bersama Gusti dan Elang, Mengingat sosok Elang yang begitu supel. Orang yang agak pendiam seperti Gusti, merasa nyaman berteman dengannya.
Ospek dilakukan selama seharian penuh. Di akhir, ketua BEM memanggil nama-nama mahasiswa baru yang menarik perhatian. Tentu saja, Gusti menjadi salah satu mahasiswa, yang disebutkan untuk maju ke depan. Dia dan Widy menjadi perwakilan program studi Arsitektur. Hal yang lebih mengejutkan, Elang juga menjadi salah satu mahasiswa terpilih untuk maju ke depan.
Selain karena paras rupawannya, Gusti, Elang, dan Widy, juga diketahui sering bertanya serta menjawab saat kegiatan ospek berlangsung. Semua orang bersorak nyaring saat mereka maju ke depan. Saat itulah, Gusti bisa berinteraksi dengan Widy untuk pertama kalinya.
"Malu-maluin banget ya," Diam-diam Widy berbisik ke telinga Gusti.
"Iya, Semua orang pada ngelihatin kita," tanggap Gusti. Dia menatap Widy selintas karena masih enggan.
"Rasanya aku pengen sembunyiin wajahku," keluh Widy yang malu-malu melihat ke depan.
"Apa yang harus disembunyikan? Wajahmu cantik begitu kok," celetuk Elang yang sejak tadi berdiri di sisi kiri Widy.
"Apaan sih." Widy terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa? Udah sering dapat pujian begitu ya?" timpal Elang nyungir.
"Iya, Basi tahu nggak!" balas Widy, Dia kesulitan menahan senyuman.
"Yang bisa basi itu nasi, Neng!" canda Elang. Dia memang tipe lelaki yang mudah sekali akrab dengan seseorang.
Gusti yang sejak tadi mendengarkan, hanya bisa sesekali tersenyum. Dia merasa harus beradaptasi lebih baik lagi, Terlebih suasana kota masih sangat baru baginya.
Hal yang membahagiakan saat itu, Gusti mendapatkan hadiah dari pihak penyelenggara ospek. Dia mendapat hadiah berupa peralatan tulis dan uang.
Sekarang Gusti dan Aman sudah berada di bus, Mereka dalam perjalanan untuk pulang.
"Gimana, Gus? Hari pertamamu?" cetus Aman memulai percakapan.
"Lumayan, Kalau kau?" Gusti berbalik tanya.
"Ya begitulah, Kan baru hari pertama. Oh iya, cewek yang namanya Widy itu cantik banget. Kau punya nomornya nggak?" tanya Aman antusias.
"Punya, Tapi aku nggak bisa kasih ke kamu begitu aja!"
"Kenapa gitu? Aku ini kancamu loh." Aman menatap malas, Namun tatapannya segera berubah menjadi penuh selidik. "Oh... Atau jangan-jangan kau juga suka sama Widy? Mawar mau dikemanain dong?" tebaknya sinis.
Plak!
Gusti langsung menggeplak jidat Aman, Mengingat temannya itu asal bicara semaunya.
Bersambung
"Asal aja lambemu itu, Maan! Lagian aku sama Mawar itu cuman teman," geram Gusti.
"Memang begitu? Sebelum pergi dari kampung aja pelukan dulu," sahut Aman yang enggan percaya.
"Terserahmu lah!" balas Gusti kesal.
Tak lama kemudian, bus berhenti. Gusti dan Aman hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk tiba di kost-kostan.
Kini Gusti baru saja tiba di depan pintu kamar kostnya, Saat itulah Ana menghampiri.
"Hei!" tegur Ana.
Pupil mata Gusti membesar, Dia reflek menghindari Ana.
"Maaf mengejutkanmu. Aku hanya ingin meminta maaf tentang yang terjadi tadi malam, Aku harap kau bisa memakluminya," ujar Ana.
"Ah, itu... Tidak apa-apa. Aku harap itu tidak terjadi lagi," Gusti menanggapi dengan senyuman kecut.
"Aku janji itu tidak akan terjadi lagi. Kenalkan aku Ana,. Kau pasti mahasiswa baru ya?" kata Ana seraya mengulurkan tangan.
"Iya, Namaku Gusti." Gusti menyambut uluran tangan Ana. Perempuan tersebut menggenggam tangannya cukup erat, Memasang tatapan lekat yang justru membuat Gusti agak takut.
"A-aku mau istirahat," imbuh Gusti karena tangannya tak kunjung dilepaskan Ana.
"Ah, maaf! Wajahmu bikin aku nggak fokus," ungkap Ana. Ia segera melepas tangan Gusti, Membiarkan lelaki itu masuk ke kamar.
Ketika sudah di kamar. Gusti langsung mengunci pintu, Dia merasa perempuan seperti Ana agak mencurigakan.
Sebelum istirahat, Gusti mandi terlebih dahulu. Selanjutnya dia tiduran di ranjang, Gusti tertidur dengan cepat karena kelelahan.
...*** ...
Dug! Dug! Akh! Akh!
Suara berisik membangunkan Gusti dari tidur, Dia mengerjapkan mata dan duduk. Mencoba menemukan sumber suara yang mengganggu tidurnya.
Setelah didengar dengan seksama, ternyata suara tubrukan serta erangan perempuan tersebut berasal dari kamar sebelah.
"Apaan tuh?" gumam Gusti, Dia mulai curiga dan mengira-ngira. Perlahan dirinya tempelkan telinga ke dinding. Maka, semakin terdengar jelas suara erangan perempuan itu. Gusti bahkan juga mendengar samar-samar suara erangan lelaki.
Wajah Gusti memerah. Dia merasa, kalau erangan yang didengarnya adalah suara orang sedang dinas kenikmatan.
Tok, Tok, Tok!
Suara ketukan pintu membuat Gusti kaget sampai tersentak, Dia pun bergegas membuka pintu.
Ternyata orang yang datang adalah Aman. Lelaki itu langsung masuk ke kamar saat Gusti membuka pintu.
"Kau kenapa?" tanya Gusti heran.
Aman tak menjawab, Dia malah meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. "Wah! Sudah kuduga di sini suaranya terdengar lebih jelas," bisiknya. Dia jelas membicarakan perihal pemilik kamar kost di sebelah Gusti.
"Menurutmu mereka..." Gusti enggak mengakhiri kalimatnya, Dia yakin Aman pasti mengerti.
"Bukankah sudah jelas kalau mereka sedang ngebreh, Gus!" ucap Aman penuh keyakinan.
"Itu kamar Ana kan ya?" Gusti memastikan.
"Seratus persen! Kan tadi malam kau lihat sendiri, ibu kost buka kamar yang itu buat pindahin dia," tanggap Aman. Dia duduk menghempas ke tepi ranjang.
"Aku tadi sempat lihat Ana ngobrol sama cowok loh. Kayaknya itu cowok yang sekarang main sama dia," lanjut Aman.
Bertepatan dengan itu, Gusti dan Aman dibuat terkejut bersama. Sebab suara hentakan dan erangan di kamar sebelah semakin menjadi-jadi.
"Anjir! Padahal Ana tadi baru saja minta maaf sama aku loh. Aku sepertinya harus cari kost-kostan lain, Maan!" seru Gusti. "Kau juga kan?" tanyanya.
"Kita sepertinya nggak sepemikiran, Gus." Aman berdiri dan memegang pundak Gusti, Perlahan dia mendekatkan mulut ke telinga Gusti. "Kau nggak tertarik? Aku dengar Ana itu wanita bayaran," bisiknya.
Mata Gusti terbelalak, Ternyata benar ada sesuatu yang mencurigakan dari sosok Ana.
"Awalnya aku mengira itu hanya gosip. Tapi setelah mendengar suara nikmat dari kamarnya, aku yakin itu benar!" ungkap Aman.
"Edan kau, Maan!" Gusti langsung mendorong Aman. "Aku mau keluar aja, Dengar orang begituan bikin aku nggak bisa tidur!" keluhnya sembari mengenakan jaket.
"Aku di sini aja nggak apa-apa kan?" tanya Aman.
"Iya. Awas aja kalau kau berani ngajak Ana masuk ke sini, Aku tempeleng kau!" timpal Gusti sambil mengarahkan kepalan tinju kepada Aman. Namun temannya tersebut malah rebahan keranjang seraya memainkan gawai.
"Woy! Dengar nggak apa yang aku bilang tadi?" tegur Gusti yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Iya iya... Dengar kok aku," tanggap Aman santai. "Hati-hati, Gus! dikota Banyak cowok yang doyan cowok ganteng!" serunya nyungir.
Gusti mendengus kasar. Lalu barulah dia keluar kamar dengan ekspresi cemberut, Dirinya melangkah tak tentu arah keluar dari area kost-kostan.
Di malam yang gelap, Gusti menyusuri pinggiran jalan sembari memasukkan dua tangan ke kantong jaket. Saat hampir mendekati lampu merah, dia melihat dua wanita bergaun kerlap-kerlip dan seksi. Parahnya, kedua wanita tersebut terus menatap Gusti sejak pertama kali muncul, Padahal posisi mereka masih jauh.
Gusti berhenti melangkah. Firasatnya tidak enak, ketika menyaksikan dua wanita itu berjalan mendekat.
"Apa di kota ini banyak wanita kerja begituan ya?" gumam Gusti. Meski merasa terancam, dia merasa penasaran. Sebab dirinya merasa ada yang aneh dengan tampilan dua wanita itu.
"Tapi... Kenapa wanita badannya besar begitu ya?" Gusti memicingkan mata, Dua wanita tersebut kini berani melambaikan tangan kepadanya. Mereka bahkan berlari kecil agar bisa lebih cepat menghampiri. Keduanya juga terkesan seperti ingin berdahuluan.
Saat kian mendekat, Gusti bisa mendengar suara dua wanita tersebut saling beradu. Ia juga bisa melihat mereka secara lebih jelas.
"Astaga naga! Dia ganteng banget, cin!"
"Parah! Dia milikku! Aku yang pertama kali lihat!"
"Enggak! Dia milikku!"
Dua wanita itu terdengar berdebat. Suara mereka jelas bukan wanita tulen, Alias suara pria yang terdengar dibuat-buat seperti wanita. Ya, mereka tidak lain adalah dua bonceng jalanan yang sedang mencari mangsa.
"Anjir! Ternyata siluman!" rutuk Gusti yang baru sadar. Dia langsung berbalik arah dan berlari secepat mungkin, Dirinya bahkan tak berani menengok ke belakang lagi.
Sementara di belakang, dua bonceng tampak berlari terseok-seok karena sama-sama mengenakan gaun ketat. Mereka terpaksa melepas sandal selop, agar bisa mengejar Gusti.
Karena mendesak, Gusti berbelok memasuki gang. Dia keluar ke jalan raya lain, dan memilih masuk ke sebuah super market.
Usaha Gusti sukses besar lari dari kejaran dua siluman tersebut. Kini dia sibuk mengatur nafas akibat kelelahan berlari, Gusti berdiri sambil memegangi lutut. Ia berjongkok sembilan puluh derajat.
"Gusti?" suara tidak asing menegur, Membuat Gusti langsung menengadahkan kepala.
Setelah dilihat, orang yang memanggil ternyata Elang. Gusti segera berdiri tegak, Ia terpana pada sosok Elang. Bagaimana tidak? Lelaki itu tampak sangat berbeda ketika mengenakan pakaian biasa.
Dari ujung kaki sampai kepala, Elang mengenakan pakaian bermerek. Dia terlihat benar-benar seperti orang kota tulen. Tato yang ada di lengan Elang juga tak luput dari atensi Gusti.
"Elang?" Gusti menyapa balik.
"Ngapain kau keringatan gitu? Habis olahraga malam?" tanya Elang heran.
"Enggak. Cuman kecapekan aja. Soalnya aku jalan kaki dari kost-kostan," jawab Gusti.
"Yang benar? Kau nggak punya motor sendiri? Kenapa nggak naik angkot aja?" cecar Elang.
"Aku nggak punya motor. Terus nggak kepikiran juga naik angkot, Lumayan bisa ngirit uang."
"Oh begitu. Aku antar pulang gimana? Tapi setelah aku bayar barang belanjaan ke kasir," tawar Elang.
Gusti mengangguk. "Iya, boleh!"
Usai menunggu, Gusti ikut ke parkiran bersama Elang. Di sana Gusti dibuat semakin kaget, saat melihat mobil sport keren milik Elang.
"Anjir! Ini mobilmu, El?" tanya Gusti melongo.
"Iya. Ayo naik!" ajak Elang.
Gusti sekarang ada di mobil Elang, Tampilan di dalam mobil Elang kembali membuat Gusti berdecak kagum.
"Gila! Mobilmu pasti mahal," komentar Gusti.
"Aku nggak bisa membantah," tanggap Elang seraya menjalankan mobil.
Gusti menatap Elang. Dia mencoba memberanikan diri, untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
"Aku yakin kau bukan orang biasa di kota ini. Apa kau anak--"
"Anak konglomerat? Itu kan yang ingin kau tanyakan?" potong Elang dengan tebakannya. "Kau salah, Gus. Aku tinggal sendirian semenjak umur 16 tahun. Aku nggak punya orang tua. Semua yang kumiliki adalah hasil jerih payahku sendiri," sambungnya.
"Benarkah? Kau hebat sekali." Untuk yang kesekian kalinya Elang membuat Gusti terkesan. "Kau kerja apa?" tanyanya penasaran.
Bersambung