Bab 1

"Berenice menghilang!"

Seluruh tubuh Alice membeku saat mendengar hilangnya Berenice, saudara kembarnya. Berenice saat ini semestinya menikah dengan Nicholas Chevalier. Ia harusnya berjalan di altar pernikahan dengan Nicholas, pria kejam yang dinikahinya untuk membayar hutang.

Semua orang berusaha mencari Berenice, akan tetapi sia-sia. Ia pergi, tanpa jejak.

Hilangnya Berenice membuat seluruh persiapan kacau! Nicholas bermata tajam, memandang ngeri, menunjuk pada Amber dan Henry, orang tuanya. "Apakah ini balas budi kalian atas uang yang kubayarkan untuk membantu kedua anakmu berkuliah?!"

"Keluarga Chevalier telah membantu seratus ribu dollar selama hidup kalian! Keluargamu bahkan mengacaukan pernikahanku!"

"Tidak bisa begini, Nicholas. Mereka harus menggantinya." seru Kate, Ibu Nicholas.

"Aku tak mau tahu, nikahkan Alice dengan Nicholas sekarang juga. Mau diletakkan di mana muka keluarga Chavelier jika calon mempelai wanitanya menghilang?!"

Seluruh orang mendadak memegangi tangan Alice. Tak membiarkan Alice untuk pergi. Mendorong Alice masuk ke dalam ruangan mempelai wanita, menguncinya dari luar, sementara Alice dipaksa untuk berdandan.

"Ibu, Ayah! Jangan lakukan ini!"

Alice berteriak seraya menggedor pintunya ketakutan. Bibirnya sudah mengerucut, beku.

"Ini semua untuk membayarkan hutang kita! Lakukan saja! Kau bahkan hanya perlu menjadi pengantin dari Tuan Nicholas!" seru Amber di balik pintu.

Tangan Alice ditarik, pakaian yang tengah dikenakan diganti secepat kilat. Matanya terus menangis bercucuran.

Seluruh orang mengetahui jika Tuan Nicholas Chevalier adalah pria kejam. Ia seorang pewaris sah dari Pioneer Technology Company. Perusahaan yang dikelola keluarganya dan menjadi nomor satu dalam bidang industri teknologi di New York. Tak ingin terjadi perebutan kekuasaan antara harta gono-gini istri dan suami, mereka sengaja memilih wanita yang mampu diperbudak untuk menjadi istri Nicholas. Pilihan mereka jatuh pada Berenice sebagai kakak tertua.

Namun, Berenice diam-diam merencanakan kabur dari pesta pernikahan ini. Tepat pada hari pelaksanaan pernikahan. Sengaja agar Alice menggantikan posisinya.

Mustahil bagi Alice untuk menolak pernikahan lagi. Keluarganya tak akan mampu membayar uang senilai seratus ribu dollar pada Nicholas. Terlebih, kedua orang tuanya hanyalah karyawan rendahan di perusahaan mereka.

"Bagus sekali. Seluruh orang akan tahu kalau kau adalah Berenice. Ingat dari sekarang, kau adalah Berenice. Hanya keluarga Chevalier dan keluarga kita yang mengetahuinya. Kau paham?!" tegas Amber kepada anak perempuannya.

Amber sejatinya tidak tega pada anaknya untuk diserahkan kepada keluarga Chevalier yang kejam. Namun, dia harus berpura-pura tegar agar anaknya tak lagi cengeng.

Kini, lonceng gereja pernikahan telah bergema. Menandakan sebentar lagi upacara pernikahan akan digelar. Hadirin telah datang.

Sekalipun wajah khidmat tersemat, tetap saja mereka bergidik ngeri. Siapa yang mau menikah dengan Tuan Nicholas? Sekalipun pemilik perusahaan, perangainya sangatlah kejam. Ia terbiasa memukul dan memarahi orang lain. Betapa malangnya, siapa pun wanita yang menikah dengan Tuan Nicholas.

"Sungguh, Berenice Morrigan bersedia menikah dengan Nicholas?" ucap salah satu tamu berbisik.

"Apakah dia tak tahu petaka yang datang jika menikah dengan pria kejam itu?"

Mereka mendapati Berenice, wanita tercantik sejagad raya di kampus. Wanita populer yang didambakan oleh setiap pria.

Tercengang tak percaya, terlebih karena Nicholas yang mendapatkan hatinya. "Luar biasa, Nicholas ternyata bisa menggaet Berenice."

Alice telah berjalan di altar. Seluruh tamu terhenyak karena mendapati dirinya sebagai Berenice.

Hatinya berusaha tabah. Padahal amat lara. Tak bisa menyalahkan Bernice juga, sebab dia kabur karena tak kuat untuk menjalani kehidupan ini. Namun, Bernice adalah kakak pengecut. Tak bertanggungjawab sama sekali.

Nicholas tersenyum padanya. Seakan menantikan kedatangan Berenice.

"Aku tahu kau cantik dengan gaun ini. Tetapi, aku tak sabar untuk menantikan malam pertamamu." kata Nicholas berbisik di telinga Alice.

Seketika itu juga, Alice merinding. Dadanya berdetak.

Pendeta di depan mereka sudah memerintahkan untuk mengucap janji sehidup semati. Di saat itu, Alice kalau bisa memilih untuk mati.

***

Selama pesta pernikahan, Alice memasang topeng kepalsuan. Memaksakan senyuman, seolah dia mempelai wanita paling bahagia di muka bumi. Diperistri oleh Nicholas. Pria kejam itu juga memperkenalkan Alice dengan penuh kekaguman, apalagi kalau bukan kecantikannya. "Lihatlah istriku Berenice ini, dia sangat luar biasa cantik." puji Nicholas.

"Kedua orang tuanya bekerja di perusahaan, betapa baiknya hati kami untuk menikahkan Berenice dengan Nicholas." imbuh Kate bermuka dua.

Para tamu hanya menganggukkan kepala, pikiran mereka jelas tahu, tak ada yang mau menikahi Nicholas sama sekali.

Alice dikenalkan sebagai Berenice ke seluruh tamu hingga penghujung pesta, barulah Amber dan Henry mendatanginya. Ia meminta maaf dan memberikan banyak sekali petuah untuknya. "Ingat perkataan Ibu dan Ayah. Jangan katakan apa pun yang merugikanmu. Jangan sampai kau dipukuli olehnya."

"Apakah aku tak bisa pergi saja? Aku tak yakin bisa hidup sebagai Nyonya Chevalier."

Amber menggelengkan kepalanya, "Dengan pernikahanmu ini, hutang kita dianggap lunas. Kau akan mengabdikan seluruh hidupmu pada Nicholas. Berjuanglah untuk sabar, kau mengerti?"

Alice hanya bisa mengangguk, matanya telah berkaca-kaca. Bahkan belum lama berbicara, Nicholas sudah menjemputnya. Ia mendecak, "Pertemuan rahasia macam apa ini? Bukankah semestinya dia kubawa ke rumahku sekarang?"

"Maaf, Tuan Muda. Pembicaraan kami sudah selesai." Henry mewakili.

"Kalau begitu, mari kita pulang, Sayang."

Nicholas menggandeng tangan Alice. Jantung Alice rasanya sudah mau copot akibat takut. Wajahnya sudah kian pias. Tangannya ditarik untuk pergi menjauh. Padahal, mata Alice terus tertuju kepada orang tuanya yang tertinggal di belakang.

Inilah kali terakhirnya dia melihat kedua orang tuanya. Sebelum masuk ke dalam sarang iblis yang amat mengerikan baginya.

Alice terus memandang ke arah luar jendela selama dalam perjalanan. Ini adalah kali pertamanya untuk datang ke rumah keluarga Chevalier. Sebelumnya, mereka selalu menagih hutang dan datang ke rumah mungilnya.

Tangan Alice menggenggam satu sama lain, perasaan takut menderu bersamaan dengan suara mesin mobil dan keheningan di dalamnya.

"Aku sejujurnya amat kesal karena kakakmu sialan itu kabur."

"Maafkan aku, Tuan ... "

Kekecewaan jelas tersirat di wajah Nicholas. Mata gelapnya itu diliputi kebencian.

"Kau adalah penggantinya. Jadi, kau harus berusaha sebisa mungkin untuk meredamkan emosiku nanti malam."

Alice meneguk ludahnya. Keheningan mengapung di udara.

"Kenapa? Kau takut bermalam denganku? Amber dan Henry selalu mengumbarkan kalau kalian berdua masih perawan. Kau pasti ketakutan karena baru pernah ditiduri pria,"

Alice memilih untuk bungkam. Bibir Nicholas ini memang terbiasa berbicara kotor. Tak pernah pintar memilih kata.

Nicholas seharusnya bersyukur karena dia tampan. Wajahnya ini memiliki garis tegas, hidungnya mancung, alisnya juga tebal. Darah keluarga Chevalier yang terbilang tampan menurun kepadanya dengan sempurna. Tak ada cela pada wajahnya. Hanya perangainya yang berengsek.

"Setelah ini, kau harus mandi. Edmund sekretarisku telah menyiapkan pakaian untuk dipakai malam ini."

Alice tak menjawab, ia memilih untuk diam. Masih memandang ke arah luar pada malam yang gelap.

Kemarahan Nicholas terpancing begitu saja, rahangnya bergerutuk. "Kenapa kau diam saja?"

"Ah ... Ya, Tuan ...." Hanya sepatah kata singkat itu.

Nicholas mendecih. "Jawablah perkataanku. Sebelum tanganku membuatmu benar-benar bisu."

"Akan kuusahakan." balas Alice tenang.

Memasuki area rumah Nicholas, Alice menganga. Rumah ini layak disebut istana. Rumahnya sangat luas. Gerbangnya bahkan begitu lebar. Ditanami pohon-pohon sebelum masuk ke dalam bagian dalamnya.

Alice baru pernah melihat rumah yang seluas ini. Ia takjub tentu saja. Meski berpikir, apakah dia bisa kabur dari rumah ini? Melirik ke arah Nicholas, sepertinya usaha itu akan sia-sia.

Mustahil dia bisa kabur dari iblis berwujud manusia ini.

"Kenapa kau diam saja? Cepat turun!"

Alice tersentak, terhempas dari khayalannya. Ia pun turun dari mobil mewah Nicholas. Edmund, sekretaris Nicholas, telah berdiri. Ia menundukkan kepalanya, memberikan hormat kepada mereka berdua. "Selamat datang, Tuan Muda Nicholas."

"Edmund, berikan pakaian yang kuminta padamu. Aku akan menunggunya di kamar."

Nicholas pergi melenggang begitu saja. Sementara itu, Alice menerima pakaian tersebut. Ia menelan ludahnya. Di pakaian ini, tak hanya lingerie biasa. Melainkan, ada borgol dan tali pengikat bersamanya.

Alice menelan ludahnya, menatap lurus ke arah Edmund, "Tuan Edmund, apakah aku akan menggunakan semuanya?"

"Ya, Tuan Nicholas menyukai seks yang kasar."

Alice takut bukan kepalang.

***

Bab 2

Tuan Nicholas adalah pria yang gagah. Telah banyak wanita malam yang tidur dengannya. Tak jarang, Alice mendengar kekejaman Nicholas di pasar saat berbelanja.

Edmund menjelaskan, "Tuan Nicholas menyukai seks yang bergairah dan dapat membuatnya puas."

"Dia sangat kuat, juga pemaksa. Kurasa, setiap wanita yang tidur dengannya, akan selalu terluka."

"Kabarnya yang tidur dengannya beberapa waktu lalu memiliki kerusakan di retina mata. Tak sengaja Tuan Nicholas melemparkan vas karena wanita itu tak bisa memuaskannya."

Edmund menyerahkan lingerie seksi kepadanya, "Kuharap kau berhati-hati, Nona Alice."

Alice mengetahui kalau kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Edmund tidak main-main. Edmund, sekretaris seumuran dengan Nicholas yang telah mendampinginya sejak lama. Bermula dari sahabat kecil, diangkat jadi sekretaris.

Pendapat Edmund tidak dapat dikatakan sebagai omong kosong. Apa yang bisa dilakukan Alice malam ini? Setidaknya, Alice tak ingin terluka.

"Kau tahu ... aku bahkan tak kenal dengannya. Kami hanyalah orang asing yang saling mengetahui nama sebelum aku menikahinya." balas Alice terus terang.

Edmund mendengus, entah mengapa itu membuat Alice sedikit tenang. Ia menaikkan sebelah alisnya. "Daripada memberontak, mengapa kau tidak menjadi kucing yang manis untuknya?"

'Kucing yang manis, ya ....' Alice meragukan itu. Namun, alih-alih mengemukakan perasaannya yang khawatir, dia menganggukkan kepala dan berterima kasih.

Tugasnya sederhana. Hanya perlu mandi, memakai satu set lingerie berwarna hitam ini, lalu membuka tubuhnya seutuhnya.

Alice mengira akan semudah itu. Akan tetapi, mana mungkin.

Begitu Alice keluar dari kamar mandi, Nicholas sudah menatap dengan tatapan beringas, jelas tak enak dipandang. Matanya tajam. Tutur katanya juga mengerikan. "Lama sekali kau mandi. Rasanya sudah satu abad aku menunggu."

Alice menunduk. Ia keluar dari kamar mandi bahkan telah menggunakan lingerie ini. Ia berdiri, penuh kekakuan.

Bagian dalam pahanya saling bergesek satu sama lain, terasa tak nyaman. Alice belum pernah mengenakan pakaian setipis ini. Belum lagi dengan celana g-string yang tak diketahui apa fungsinya. Menerawang, hanya menempel saja.

Sekalipun Nicholas kesal, serigala tetaplah serigala. Melihat wanita yang siap dimangsa, nafsunya naik juga.

Ia berdiri dari tempat duduknya, melihat seksama isterinya yang masih harum beraroma bunga.

Nicholas mengelilingi Alice, menimbang penampilan wanitanya. "Sudah kuduga. Kau dan kakakmu Berenice memang punya tubuh yang bagus. Omong-omong, di mana kau meletakkan borgol dan rantai itu?"

"Ini, Tuan ..." Alice menyerahkan borgolnya dengan kedua tangan.

"Kau mengatakan kalau kau masih perawan, bukan? Bagaimana jika kau melakukan ini untuk pertama kalinya dengan mata tertutup?"

Bola mata Alice melebar. Ia tak bisa mengelak.

Nicholas mendadak saja memborgol tangan Alice ke setiap ujung ranjang, tak cukup di situ saja ia juga menutup mata Alice dengan sehelai kain berwarna hitam.

Alice tak bisa melihat apa pun. Seluruh keringat dinginnya mengucur deras. Rasa takut membanjir.

Ini jelas bukan pengalaman yang menyenangkan.

Semua wanita mengetahui jika pengalaman pertama adalah hal yang mengerikan. Terasa sakit tak tertahankan.

Ketika Alice ingin meronta, ia teringat dengan perkataan Edmund. Ia harus menjadi kucing yang manis. Setidaknya Nicholas tidak akan melemparkan vas atau benda tajam lain kepadanya. Setidaknya dia tak terluka. Ya, benar.

Alice menanamkan itu dalam hatinya.

Alice merasakan Nicholas sudah duduk di atas perutnya, dia menghirup aroma tubuh Alice. Ujung rambutnya yang panjang nan lurus.

"Aku mengaku, tubuhmu sangat indah. Membuatku kian bergairah saja."

"Aku harap kau tak mengecewakanku,"

Alice sempat bergetar pada sentuhan itu. Jangankan bercinta, berpacaran saja belum pernah. Ia adalah wanita kutu buku dan tak pernah bergaul dengan pria selama di kampus.

Ironisnya, Nicholas pria brengsek ini justru menjadi pria pertama yang menyentuh Alice.

Wanita itu sempat menghela napasnya, terasa sekali Nicholas mengecup bibirnya. Mata Alice yang tertutup merasakan setiap sentuhan bibir Nicholas.

Apakah ini yang dinamakan dengan berciuman? Terasa sangat hangat ... dan sensual.

Awalnya ciuman itu cukup pelan, tetapi ritmenya semakin cepat. Pria itu melumatnya tanpa henti, seakan membabat napas Alice seketika.

"Ciumanmu tidak menyenangkan. Sepertinya aku harus mengajarimu lama untuk membuat french kiss yang enak kunikmati,"

"Tapi itu kapan-kapan saja. Aku lebih suka hidangan utama daripada pendukung," Pria itu tersenyum smirk. Ia telah menyentuh bagian puncak milik Alice.

Wanita itu melenguh, tubuhnya terasa lebih sensitif saat matanya tertutup.

"Bagaimana caramu untuk menjaga kekenyalannya, hm? Ini berbeda dengan kupu-kupu malam sialan yang sudah menurun. Milikmu terasa tepat sekali di tanganku."

Napas Alice bergemuruh. Ini bukan sentuhan yang menyenangkan. Jelas bukan. Sentuhannya teramat cepat, serasa menghancurkan.

Tangan besarnya itu kalap memeras tanpa ampun. Alice menggigit bibirnya sendiri. Menahan untuk tidak berteriak, sekalipun matanya telah memanas di balik helai kain.

"Kenapa? Kau kesakitan? Kau pikir aku akan lemah lembut padamu?"

Nicholas malah menyeringai senang. "Ah, lingerie ini memang membuatmu seksi. Tetapi, lama kelamaan mengganggu juga."

Suara robekan terdengar oleh Alice. Pakaiannya telah dirobek seutuhnya oleh Nicholas. Alice secara otomatis merapatkan pahanya. Ia takut, sungguh takut.

"Aduh, Istriku. Daripada kau seperti itu, mengapa kau tidak merasakan tempo permainanku? Rasakanlah permainanku ini! Kurasa semua wanita juga suka dengan permainan!"

"Bukankah begitu?"

Jemari besar Nicholas mulai menjamah bagian yang tak seharusnya. Alice meremas seprainya. Apa pun itu, jangan ....

Nicholas tak akan berhenti pada permainannya. Ia mulai pada bagian terintimnya. Merasakan puncak kenikmatan antara pria dan wanita.

Alice menitikkan air matanya. Sungguh, ini menyakitkan. Ini sakit sekali ....

Saat rasa sakit menghujam, tiba-tiba Nicholas merenggut miliknya. Mendadak saja Nicholas berteriak. "Shit! Apa-apaan ini! Kau tidak perawan?!"

Alice tergagap. 'A ー aku ....'

Nicholas menyudahi permainannya dengan cepat, ia berbalik dan mencopot penutup kepala Alice. Sangat cepat. Hampir mencakar matanya.

"Lihatlah! Tidak ada darah di sini!"

Alice ternganga. Mendapati betapa besarnya benda yang menohok miliknya tadi. Tak ada darah sama sekali di sana.

Beralih melihat ke arah seprainya. Bersih. Tanpa darah. Alice bersumpah kalau Nicholas adalah pria pertamanya.

"Fuck! You are liar! Amber mengatakan kalau kedua anaknya masih perawan! Aku hampir tak percaya karena seluruh wanita dua puluhan di New York tak ada yang masih perawan. What the hell, mereka bahkan berpesta dengan kekasihnya di umur 17 tahun!"

"Tetapi, Amber meyakinkanku sampai aku percaya pada kebohongan palsu keluarga kalian!"

Nicholas mengempaskan kemarahannya sampai napasnya tumpang tindih. Mukanya memerah. Mendidih.

"Tu ー Tuan ... Aku sungguh masih perawan. Aku belum pernah tidur dengan siapa pun."

"Kau pikir kau bisa membohongiku?! Nicholas Chavelier?! Aku pernah tidur dengan seorang perawan, dia benar-benar mengeluarkan darah! Rasanya sangat sempit dan legit, kau tahu! Kau jelas tak mengeluarkannya!"

"Kau tahu apa artinya? Selaput daramu sudah robek!"

***

Bab 3

Nicholas menuding tepat di wajah Alice hingga membuatnya ketakutan. Alice tak mampu lagi berkata, keluarganya menyatakan hal yang nyata. Tak pernah ada kebohongan jikalau Alice pernah tidur dengan pria.

"Alice! Katakanlah! Sekarang kau telah membohongi keluarga Chevalier, apa yang akan kau berikan atas kebohongan palsu dari keluargamu ini?"

Kekecewaan Tuan Chevalier telah membara. Matanya melotot. Keningnya menonjol akibat kemarahan itu. Ditodong sudah istrinya yang tak lagi perawan karena tidak berdarah di malam pertamanya. Alice telah menangis sejak tadi. Tidak ada satu pun kata yang mampu menjelaskan betapa pilu hatinya.

Ia dituduh telah bercinta dengan pria lain, yang bahkan tidak ada sama sekali.

Di saat itu, Nicholas mengenakan baju tidur kimononya, sedangkan Alice menarik seprai hingga ke dada, menutupi tubuhnya sendiri.

"Ada apa ini ribut-ribut?!" teriak salah seorang.

Masuklah tiga orang ke dalam kamar Nicholas. Rupanya mereka adalah keluarga Chevalier. Catlyn, kakak perempuan Nicholas, beserta dengan James dan Kate.

Rumah ini memang ditinggali oleh keluarga Chevalier. Lantai dua milik Catlyn, serambi kanan ditinggali oleh Nicholas, sementara pada serambi kanan milik kedua orang tua Nicholas. Tak heran mereka bisa mendengar suara kemarahan Nicholas yang tertuju pada Alice.

Catlyn memberikan tatapan sebal kepada Alice. Sejak awal, ia menentang pernikahan Alice dan Nicholas. Berpandangan kalau wanita udik nan miskin bak Alice tak pantas bersama dengan Nicholas. Padahal, tak ada konglomerat mana pun yang mau menikah dengan Nicholas akibat kekejamannya.

"Jelaskan apa yang terjadi di sini!" seru Kate melihat ada hal yang tak wajar.

Nicholas berdecak, "Orang tuanya selalu menjanjikan keperawanan Alice, tetapi nyatanya tidak."

Catlyn mendengus, ada seringai yang menguat di ujung bibirnya. Serasa puas atas keterpurukan Alice. "Apa kataku, sejak awal dia memang wanita murahan. Mengumbar kebohongan masih perawan, nyatanya juga sudah ditiduri pria lain. Bayangkan saja, berapa pria yang sudah ditidurinya."

"Sebagai suaminya, kau malah mendapatkan bekasan."

Kate meradang dengan bumbu pedas perkataan Catlyn. "Kalau begitu, tidak bisa dibiarkan!"

"Tentu saja, Ibu. Biarkan dia menjadi pembantu saja di rumah ini. Dia tak pantas menjadi Nyonya Nicholas."

"Bagaimana pendapatmu, Nicholas? Daripada dia menjadi benalu dan beban bagi keluarga ini. Jadikan saja dia pembantu. Ah ya, sekalian pemuas nafsumu." tambah Catlyn.

Nicholas hanya mengepalkan tangannya, "Seharusnya sejak awal aku menikahi Berenice. Bukan Alice ini."

"Ayah akan mengerahkan seluruh orang untuk mencari Berenice. Tenang saja, Nicholas." imbuh James.

"Itu bagus."

"Jadi, untuk hukumanmu, kau akan menjadi pembantu di rumah ini." putus Nicholas.

Alice sejak tadi tak diberi ruang untuk berbicara. Ia hanya bisa menggenggam seprai yang menutupi seluruh tubuhnya ini.

Perasaannya hancur lebur. Ia tak pernah sekalipun berbohong mengenai keperawanannya. Ia juga tak mengerti mengapa tak ada darah sedikit pun pada malam pertamanya ini.

Setelah kepergian keluarga Nicholas, pria itu memerintahkan Alice untuk pindah kamar. Tentu saja, ia akan tetap melayani Nicholas, jika dibutuhkan.

"Aku muak melihat pembohong sepertimu. Pindah ke kamar pembantu di ujung sana. Menjijikkan." perintah Nicholas.

Alice menganggukkan kepalanya, mengenakan pakaian seadanya, mengangkat koper berisi pakaian ke kamar pembantu.

Begitu masuk ke dalam kamar kecil ini, ia merasa pengap. Kamarnya penuh debu. Bahkan ia melihat ada tikus yang baru saja pergi.

'Tenanglah, tenang ... setidaknya aku tidak perlu tidur seranjang dengan iblis lagi,' Alice mencoba menenangkan dirinya sendiri. Meski amat berat di dada.

Ia melihat ke arah rembulan yang menggantung di balik jendela. Mendadak memikirkan Berenice yang begitu kejam. Ia meninggalkan Alice begitu saja. Apakah seperti ini seharusnya seorang kakak?

Ia adalah kakak pecundang. Tak mau memikul tanggungjawab. Menimpakan segalanya kepada Alice.

Kala itu, adalah hari terburuk bagi Alice sepanjang hidupnya. Alice merenung, apakah ia bisa pergi dari kediaman Nicholas? Ataukah ia akan terperangkap selamanya di penjara mengerikan ini?

"Sepertinya hari pertamamu di sini bukanlah waktu yang baik," ucap Edmund seraya masuk ke dalam kamar.

Alice hampir saja menitikkan air mata lagi, sebelum akhirnya Edmund masuk.

Pria dengan tubuh tegap semampai itu mengulaskan senyuman yang cukup menghangatkan. Menghapuskan luka getir yang merajam di dada Alice.

Ia duduk di tepian ranjang Alice, lalu mengucapkan. "Sejak awal aku mengenal Nicholas, ia tak pernah sekali pun menjadi orang yang baik. Ia selalu berpikir semua orang lain adalah bawahannya. Begitulah cara Tuan Chevalier menanamkan pola pikir itu."

"Tentunya, ia ingin Nicholas menjadi pemimpin hebat dan tidak dipermainkan oleh pesaing kuat mereka,"

Alice hanya tercenung, memikirkan.

"Meski sebenarnya, Nicholas tetap orang yang baik. Aku tentu tak akan bertahan menjadi sekretaris orang yang buruk, bukan?"

Alice mendengus, ada sedikit tawa yang muncul di sana. Ketegangan yang melekat pada dirinya lambat laun sirna, ia turut menimpal. "Sayangnya, Tuan Nicholas adalah orang terburuk yang pernah kutemui."

Edmund menggedikkan bahunya, "Setiap orang bisa mengubah pendapatnya."

Pria itu berdiri dari tepi ranjang Alice, "Aku telah menyediakan makan malam untukmu sisa perjamuan di pesta pernikahan. Kupikir kau pasti lapar,"

"Terima kasih," Alice menguraikan senyum kelembutan.

Edmund pergi dari kamarnya. Pada saat itu Alice merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia tahu Edmund adalah pria yang baik. Setidaknya hatinya membaik setelah berbicara pada Edmund.

Alice memejamkan matanya, mencoba untuk tidur di dunia yang sama sekali berbeda.

***

Pagi di musim gugur selalu dingin. Alice hampir bergelung lagi di dalam selimutnya ketika terdengar suara teriakan keras.

"Alice!"

"Bukankah kau harusnya sudah bangun!" teriak Catlyn dengan nada keras.

Alice bergerak dari kasurnya, perasaan nyeri pada organ intimnya tiba-tiba saja muncul. Meski kesakitan, Alice tetap saja bangkit.

Rupanya seluruh orang sudah berada di atas meja makan. Mereka menikmati sarapan pagi yang nikmat dan lengkap.

Catlyn memberikan wajah masamnya, "Lihatlah betapa pemalasnya pembantu kita satu ini,"

"Terra, kau adalah pelayan senior di sini. Kuharap kau bisa mengajarinya bagaimana menjadi pelayan yang baik," kata Kate memerintah.

"Bukankah begitu, Nicholas?"

Nicholas menyeka mulutnya. Ia tak melirik Alice sama sekali. "Hari ini jadwal di kantor sangat sibuk. Aku akan pulang malam. Dan kau, Alice, aku ingin kau sudah siap di kamarku nanti malam."

Nicholas bersiap pergi bahkan tanpa mendengar jawaban dari Alice. Seakan kalimatnya barusan adalah suatu hal yang mutlak dan titah yang tak dapat ditolak.

Catlyn memutar bola matanya, "Anak ibu yang satu itu memang hanya memikirkan wanita dan perusahaan saja,"

"Tetapi, itulah fungsinya ada Alice di sini. Daripada dia membuat onar dengan kupu-kupu malam lain," sahut Kate.

Manakala Alice mengambilkan satu teko kaca minuman ke atas meja, tiba-tiba saja salah seorang muncul dengan berlarian.

"Ada apa kau berlari seperti itu, Eric?" tanya James.

"Tuan, izin melapor pagi ini."

"Ya, katakanlah. Apa laporanmu?"

"Kami telah berhasil menemukan lokasi Berenice."

Bola mata Alice melebar seutuhnya. Berenice sudah ditemukan? Apakah ini pertanda Alice akan segera memgakhiri penderitaan ini? Menyudahi pernikahan palsu dengan Tuan Kejam Nicholas?

"Di mana wanita itu?" tanya Nicholas dengan wajah yang sama sekali tak ramah.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED