BOCAH BENGAL vs AYAH PENGANGGURAN
"Anakmu itu bukan bocah biasa. Percayalah! Aku benar-benar dapat melihatnya! Jaga dia baik-baik! Kelak kamu akan tau apa maksudku!" ujar Koh Ho Ming tanpa mengalihkan pandangan mata dari beberapa anak yang tengah asyik bermain-main di halaman rumahnya yang cukup luas dengan dinaungi beberapa pohon jambu air dan mangga yang membuat halaman rumahnya terasa teduh.
Suasana teduh itulah yang membuat anak-anak seringkali bermain-main disana. Tapi tatapan mata Koh Ho Ming tak pernah lepas dari sosok gadis kecil berwajah manis dengan rambut panjangnya yang dikepang dua, dengan hiasan pita berwarna kuning cerah, yang tengah berlarian dan sesekali dengan lincah menghindari sergapan teman mainnya.
Beberapa kali kekehan tawa rendah lolos dari bibir keriputnya yang dinaungi kumis lebat yang telah memutih itu. Sementara Sardi, ayah Diandra gadis kecil yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Koh Ho Ming majikan istrinya itu cuma mengangguk mengiyakan. Padahal dia sendiri tak tahu arti perkataan China tua yang tengah duduk di depannya itu.
Dalam hati, ia cukup mengiyakan dan manggut-manggut supaya majikan istrinya itu merasa senang, yang tentu saja akan memudahkan segala urusan yang berhubungan dengan Koh Ho Ming. Sesekali tangannya menjumput bakpia dalam toples yang tadi disuguhkan Cik Melly, istri Koh Ho Ming sebelum berangkat ke toko kelontong dimana istrinya Halimah bekerja sebagai pramuniaga di sana.
Pandangan mata Koh Ho Ming kembali terpusat pada papan catur di depannya dan mulai melanjutkan permainannya. Sementara Sardi memperhatikan arah langkah anak catur yang di gerakkan Koh Ho Ming dengan serius sambil berpikir akan langkah selanjutnya. Untungnya ia cukup bisa mengimbangi permainan catur majikan istrinya itu, yang tentu saja akan menambahkan nilai baginya untuk lebih mendekatkan diri pada orang yang terbilang cukup kaya di daerah tempat tinggalnya itu.
Bukan tanpa alasan jika ia berusaha mendekati Koh Ho Ming, sudah hampir empat bulan ia nganggur tanpa pekerjaan. Ia berharap jika nantinya ia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai sopir pada perusahaan jasa angkutan yang dikelola Andreas, putra sulung Koh Ho Ming. Atau bekerja sebagai sopir pribadi Benny putra kedua Koh Ho Ming yang memiliki usaha penginapan di kota Malang.
Koh Ho Ming sudah berjanji akan membujuk salah satu anaknya untuk menerima Sardi bekerja. Ia hanya menunggu jika sewaktu-waktu salah satu dari mereka pulang menjenguk orang tuanya yang kini hanya tinggal berdua di rumah besar bergaya kolonial itu ditemani seorang ART saja. Sebenarnya Sardi merasa kurang puas dengan jawaban Koh Ho Ming itu, tapi ya mau gimana lagi posisinya bukan berada pada yang dibutuhkan. Tapi justru yang sedang membutuhkan.
Ditengah permainan, tiba-tiba terdengar jerit kesakitan seorang anak yang tadi tengah asik berlarian bermain-main di halaman.
Tergopoh- gopoh Sardi berdiri dan beranjak ke tempat dimana terlihat seorang anak lelaki telah jatuh telentang ditanah dengan tubuh Diandra berada diatas perut anak lelaki itu dengan pandangan murka. Sebelah tangannya merenggut keras rambut jambul lawannya sementara sebelahnya lagi telah mengepal siap untuk dihantamkan diwajah anak lelaki yang tengah didudukinya itu. Sementara anak-anak yang lain segera minggir dengah wajah ketakutan.
"Dian! HENTIKAN!!" Sardi buru-buru mengangkat tubuh mungil putrinya dari atas tubuh lawannya. "Apa yang kamu lakukan!" gemas dibawanya Diandra menjauh.
"Dia yang mulai Yah, dia jegal kakiku ... Lihat lututku berdarah karena jatuh gara-gara dia!" geram Diandra menunjuk lawannya yang tengah beringsut berdiri lalu lari terbirit-birit ketakutan.
"Ayah sudah bilang, kamu itu perempuan! Jangan bertingkah kasar! Memangnya siapa yang ngajarin kamu bertingkah seperti tadi, Hah!" jengkel dijewernya telinga Diandra yang justru melotot marah padanya. "Ayo kita pulang!" ujar Sardi seraya menyeret tubuh kecil Diandra menuju rumah petak yang terletak tak jauh dari rumah Koh Ho Ming.
"Saya pulang dulu Koh! Maaf nanti kita lanjutkan permainan kita." pamitnya yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Jangan lupa dengan apa yang ku katakan tadi, Sar!" serunya ditengah-tengah kekehan tawa.
Gadis kecil yang istimewa. Batinnya sambil membereskan papan catur yang baru berjalan setengah mainan itu.
***
Jelang jam tiga sore, Koh Ho Ming menggantikan tugas istrinya di toko kelontong miliknya yang berada di pinggir jalan raya depan gang rumahnya. Sepintas dilihatnya, Halimah sedang menata beberapa barang dagangan di dalam stockist sekaligus menulis pembukuannya. Halimah termasuk salah satu dari tuga orang pegawainya yang terpercaya.
Dibalik penampilannya yang sederhana, dia adalah orang yang cepat tanggap, rajin dan mudah untuk diajari. Ia juga memiliki sifat jujur dan setia. Hal itu yang membuat Koh Ho Ming mempercayakan beberapa tugas penting di toko yang menyangkut masalah keuangan, serta keluar masuknya barang dagangan.
Koh Ho Ming dan istrinya juga acapkali mempercayakan meja dan laci kasir padanya jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak yang harus mereka kerjakan. Dan setelah hampir empat tahun bekerja, tak sekalipun Halimah mengecewakan mereka.
Tapi, terhadap Sardi, suami Halimah, Koh Ho Ming agak kurang mempercayainya. Instingnya mengatakan ada suatu ganjalan baginya untuk mempercayai ketulusan Sardi pada keluarganya. Ia tau, ada suatu tujuan tertentu kenapa Sardi begitu bersemangat untuk mendekatinya.
"Masih banyak yang musti kau kerjakan, Limah?" tanyanya setelah menduduki kursi dibalik meja kasir tak jauh dari tempat Halimah melakukan tugasnya.
"Tinggal satu dus susu formula, Koh! Tadi pagi baru dikirim suplayer sementara yang di stockist sudah hampir habis. Harus segera dikeluarkan, daripada banyak pelanggan yang batal belanja. Produk ini banyak peminatnya." jawab Halimah tanpa menoleh karena sibuk menata serta mencatat jumlah barang yang dikeluarkannya dari gudang.
"Baiklah, lanjutkan saja. Kalau sudah selesai pulanglah dulu untuk menjemput Diandra!"
"Kenapa, Koh?"
"Sore ini sebaiknya Diandra kau bawa ke sini."
"Saya sebenarnya segan untuk membawa Diandra disini, Koh. Tingkahnya banyak sekali, saya takut dia bikin masalah. Nanti malah merepotkan."
"Aku akan mengawasinya selama kamu sibuk," kata Koh Ho Ming setengah memaksa.
"Sebaiknya biarkan Diandra di rumah dengan ayahnya. Biar saya lebih tenang bekerja." jawab Halimah sambil bangkit membereskan kardus kosong yang isinya sudah ia pindahkan ke stockist.
"Aku justru tak percaya suamimu bisa menjaga Diandra dengan benar!" sungut Koh Ho Ming sambil memeriksa pembukuan yang diserahkan Halimah.
"Memangnya kenapa Koh?"
"Sudahlah, pulanglah sebentar siapkan Diandra lalu ajak ke sini. Jangan lupa bawa tas sekolahnya, dia harus tetap mengerjakan tugas sekolahnya nanti!" perintah Koh Ho Ming dengan mandangan tajam tak ingin dibantah.
Akhirnya Halimahpun mengalah, segera ia meninggalkan toko tempatnya bekerja setelah berpamitan pada majikan serta rekan kerjanya.
Setiba di rumah kecilnya yang berjarak beberapa rumah dari rumah majikannya ia segera masuk untuk mencari keberadaan Diandra. Gadis kecil itu dilihatnya tengah duduk menyendiri di belakang rumah, wajah sedihnya bersimbah air mata yang mulai mengering. Sementara tangannya mengusap-usap pelan pahanya yang berbalut celana pendek warna biru.
"Ngapain disitu, Din?" sapanya dari pintu dapur yang terbuka.
"Bu? Ibu sudah pulang?" Gagapnya tak menyangka ibunya tiba-tiba sudah berada disampingnya.
"Kenapa kamu? Mana ayah?" Halimah buru-buru jongkok di sebelah anaknya setelah sekilas dilihatnya ada beberapa lebam keunguan di paha Diandra.
"Ayah, tidur dikamar." jawab Diandra masih sambil mengusap bekas cubitan ayahnya yang masih tergambar jelas di paha kurusnya itu.
"Mandilah, bersihkan dirimu lalu kamu ikut ibu ke toko. Jangan lupa bawa tas sekolahmu." perintah Halimah sebelum berlalu menuju kamar mendatangi suaminya yang tengah tidur.
Diandra mengangguk dan segera bangkit menuju kamar mandi. Sorot matanya terlihat mulai cerah.
"Mas..bangun!" diguncangnya pelan tubuh Suaminya yang hanya menjawab dengan geliat.
"Uuuhh ... Ngapain sih! Ganggu tidur orang aja?" Sungut Sardi sebal. "Jam berapa ini? Kamu kok sudah pulang?"
"Baru jam setengah empat. Aku jemput Diandra, mau aku bawa ke toko dia. Kenapa kau hajar dia mas?"
"Bandel banget anakmu itu! Bikin aku malu saja!"
"Kenapa lagi dia? Tadi bukannya Diandra kamu ajak main ke rumah Koh Ho Ming?"
"Iya ... lagi enak-enak main dia berantem, main pukul anak orang udah kaya preman pasar aja kelakuan anakmu itu. Kamu tuh gak becus ngawasin anak. Bisa-bisanya anak perempuan berantem main tonjok begitu.. Huh!!" omelnya.
Halimah hanya terdiam, sebenarnya jengkel juga dia mendengar tuduhan Sardi. Ia sadar, akhir-akhir ini Sardi jadi temperamental, gampang tersinggung jika ia membantah omongannya. Mungkin beban pikiran karena sudah cukup lama jadi pengangguran. Itulah sebabnya Halimah memilih diam saat suaminya ngomel-ngomel menyalahkannya.
"Ya sudah, biar Diandra ikut aku aja. Aku takut dia bikin kamu marah lagi. Kasihan dia kena hajar terus."
"Kamu yakin dia gak bikin repot dan nambahin kerjaanmu di toko? Dia itu kan anaknya gak bisa anteng. Aku juga heran, emangnya siapa yang dia tiru. Kita berdua tuh gak banyak tingkah, kok dia bisa gak keruan gitu tingkahnya." Sardi kembali memejamkan matanya.
"Nanti di toko biar kusuruh dia ngerjain PRnya jadi dia bakal sibuk, biar gak bertingkah!" jawab Halimah sambil siap-siap kembali ke toko tempatnya bekerja ketika dilihatnya Diandra sudah rapi berjalan keluar dari kamarnya sambil mencangklong tas sekolah.
***
MAKHLUK MENGERIKAN DALAM GUDANG.
Jelang maghrib, Halimah berpamitan pada Koh Ho Ming untuk sholat maghrib di gudang toko. Sementara Diandra masih menyibukkan diri dengan buku gambar dan pensil warna yang berserakan dilantai toko pas di depan meja kasir. Biasanya jam-jam menjelang maghrib toko masih sepi pengunjung, jadi pada saat itulah Koh Ho Ming akan merekap pembukuannya.
"Pergilah ke gudang, Din! Sebentar lagi akan banyak pembeli, kalau kamu duduk disitu, akan menyulitkan mereka." perintahnya halus.
"Pekerjaanku belum selesai, Koh! Ini harus dikumpulkan besok pagi." ujarnya seraya membentangkan buku gambar yang baru selesai diwarnai sebagian.
"Selesaikan di gudang, di sana lebih tenang kamu tak akan terganggu orang-orang yang akan membeli barang-barang disitu." Telunjuknya mengarah pada stockist tinggi tempat beberapa perlengkapan mandi tertata rapi dibelakang Diandra duduk.
"Tapi aku takut berada di gudang sendirian ... Hiiii!" Diandra bergidik saat melirik pintu tertutup yang mengarah ke gudang, dimana beberapa saat lalu ibunya menghilang.
"Tapi di sana kan terang, nanti kuberi permen kalau kamu mau pindah ke sana!" bujuk Koh Ho Ming menunjuk pintu gudang yang tertutup. "Kamu juga bisa membuka pintunya sedikit, jadi kamu bisa melihatku dari sana."
Diandra segera membereskan peralatan menggambarnya. Tapi bukannya menuju gudang, ia malah mendekati lelaki tua bermata sipit lawan bicaranya.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku disitu!" Pandangan mata bulatnya mengarah pada sudut sempit dekat meja kasir tepat disebelah kursi yang Koh Ho Ming duduki.
"Jangan! Kamu akan membuatku repot."
"Tak akan! Aku akan berada jauh dari kakimu Koh." jawab Diandra ngeyel seraya memindahkan barang-barangnya ke sudut ruangan yang dia tunjuk.
"Memangnya kenapa kamu gak mau ke gudang? Tempatnya lebih luas dan terang. Kamu bisa mengerjakan tugasmu dengan tenang karena gak terganggu orang yang lalu lalang." Koh Ho Ming masih berusaha membujuk, meskipun ia tahu betapa keras kepalanya bocah perempuan yang sekarang sudah berada di sampingnya itu.
" Aku takut di gudang sendirian ... Hiiii" Diandra mengedik-ngedikkan bahu kurusnya. "Sini kuberitahu, tapi jangan bilang-bilang pak Dikin yaaa."
Koh Ho Ming memiringkan badannya merendahkan telinganya setelah melihat isyarat dari Diandra untuk membisikkan sesuatu padanya. Ada rasa penasaran setelah Diandra menyebut-nyebut nama Dikin, pegawai laki-laki satu-satunya yang bertugas mengangkut dan mengatur barang yang datang dari suplayer di dalam gudang.
"Ada makhluk mengerikan dalam gudang ..." bisik Diandra ditelinga Koh Ho Ming yang langsung melotot terkejut mendengar laporan Diandra.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Bagaimana kamu tahu?" lanjutnya.
"Aku pernah melihatnya!" jawab Diandra cepat dengan mimik serius, "dia selalu mengawasi dari kegelapan, mengawasi segala yang kita lakukan dari persembunyiannya. Dia menempati sudut gelap dan suka sekali pada tempat yang kotor."
"Benarkah?" Koh Ho Ming mulai serius mendengarkan Diandra. "Dikin tak pernah mengatakannya."
"Dia sengaja tak mengatakannya!" sergah Diandra meyakinkan. "Dia takut Ko Ho Ming marah."
"Tapi dia tau itu?"
"Tentu saja dia tahu. Dia yang menyebabkan makhluk itu masuk ke gudang!"
"Benarkah?" Koh Ho Ming kian penasaran.
Sekilas suatu pikiran buruk melintasi benaknya.
"Apa yang dilakukan makhluk itu di gudangku?" tanyanya lirih tanpa sadar.
"Kalau tidak segera diusir, lama-lama dia akan membuatmu rugi." bisik Diandra meyakinkan.
Ko Ho Ming melotot ketakutan sudut hatinya mulai mempercayai kata-kata Diandra. Dari awal ia yakin, bocah perempuan yang ada didekatnya ini bukan bocah biasa. Kadangkala, gaya bicaranya seperti orang dewasa, tapi menit berikutnya tingkah konyol kanak-kanaknya muncul seolah menutupi keistimewaannya.
"Seperti apa rupanya?"
"Wajahnya hitam, giginya runcing ... sangat tajam .... matanya melotot ... hhhiiiiiyy ..." jelas Diandra dengan gaya kanak-kanaknya.
"Lalu bagaimana cara mengusirnya?" Koh Ho Ming kebingungan sehingga tanpa sadar loloslah pertanyaan itu dari bibirnya. Detik berikutnya, ia merasa jengah sendiri dengan pertanyaannya barusan.
"Ya gudangnya harus dibersihkan." jawab Diandra. "Suruh pak Dikin melakukannya, dia yang mengundang, dia juga yang harus mengusirnya!" tegas Diandra.
Koh Ho Ming mengangguk-angguk masih mencoba memahami tentang perilaku Dikin yang selama ini tidak menunjukkan kejanggalan apapun. Sikapnya biasa saja. Dia juga seperti biasa, melakukan tugasnya setiap hari.
Sepintas diliriknya jam dinding yang ada tepat diatas pintu gudang, masih ada sedikit waktu, toko masih belum terlalu ramai, dua karyawannya, Halimah dan Yanti sudah mulai melakukan tugasnya. Akhirnya, karena rasa penasaran yang begitu mengusik pikirannya, ia pun bangkit diraihnya tangan mungil Diandra dan berjalan menuju gudang.
"Limah, kamu jaga meja kasir sebentar, aku mau Diandra menunjukkan sesuatu di gudang!" serunya sambil menuntun Diandra memasuki gudang. Sengaja pintu gudang dibukanya lebar-lebar sehingga Halimah bisa melihat apa yang dilakukannya bersama Diandra di gudang toko.
"Tunjukkan padaku, dimana dia sekarang!" bisik Koh Ho Ming di telinga Diandra.
Diandra menempelkan telunjuknya di bibir menyuruh Koh Ho Ming diam. Lalu setelah melepaskan genggaman tangannya Diandra mulai memusatkan perhatiannya. Pandangan matanya meluruh hampir terpejam sikapnya terlihat sangat serius. Dalam diam Koh Ho Ming memandangnya terpesona. Gadis cilik didepannya terlihat begitu luar biasa.
Tiba-tiba ... SREEEEKKK!!
GLOOODAAAK! GLOODAAK!!
"Disana Koh!" bisik Diandra keras sambil menunjuk satu sudut yang dipenuhi kardus mie instan dan rempah kering.
Koh Ho Ming terbelalak kaget ".. IIII ..TU .. TTTI lI ... TIIKUUUSS??"
Mematung Ko Ho Ming melotot ke sudut yang ditunjuk Diandra. Jadi makhluk menyeramkan itu TIKUS?!
Detik berikutnya Diandra berlari sambil menyeret tangan Koh Ho Ming mengikutinya menuju sudut tempat tikus bersembunyi.
Masih dengan linglung Koh Ho Ming mengarahkan pandangannya pada seonggok sampah dipojokan bekas bungkus nasi, teh dan gorengan yang mulai menebarkan aroma busuk makanan basi. Bekas makan siang Dikin yang lupa dia bersihkan dan langsung ditinggal pulang begitu saja sore tadi.
Dari ketiga karyawannya, cuma Dikin yang jam kerjanya pagi sampai sore. Karena dia harus membantu istri Koh Ho Ming membuka rolling door tiap pagi, serta menerima dan mengangkut barang-barang yang di kirim suplayer ke gudang. Karena barang dari suplayer selalu dikirim pada jam kerja.
"Lihat ini Koh!" Diandra menunjuk beberapa bungkus mie instan, sabun serta makanan ringan yang berlubang bungkusnya dimakan tikus.
"Banyak sekali!! Kalau begini terus, Koh Ho Ming bakal merugi!" seru Diandra.
Beberapa saat Koh Ho Ming terdiam, paras wajahnya berubah-ubah pucat pasi lalu memerah padam, detik berikutnya terdengar tawanya menggelegar. Sambil geleng-geleng kepala dielusnya gemas rambut panjang Diandra yang sore tadi terkepang rapi, kini sudah kucel awut-awutan karena seringnya dia menggaruk-garuk kepala.
Halimah terlihat melongokkan kepala di pintu gudang dengan sorot penasaran. Tapi ia tak menanyakan apapun saat Koh Ho Ming kembali menempati meja kasir dengan tangan masih menggandeng putrinya.
Sekilas didengarnya Koh Ho Ming mengatakan tentang memerintahkan Dikin membersihkan gudang besok pagi pada putrinya itu, sebelum ia beranjak mendekati pelanggan yang mulai berdatangan untuk berbelanja.
***
Semenjak itu atas persetujuan Koh Ho Ming dan Cik Melly istri Koh Ho Ming, Diandra sering diajak Halimah ke toko sepulang sekolah.
Karena seringnya mereka berinteraksi sehingga membuat Diandra dan Koh Ho Ming semakin akrab. Disela-sela kesibukan melayani pelanggan mereka sering ngobrol atau bercanda. Sesekali Koh Ho Ming memberi nasehat tentang cara berdagang, melayani pelanggan, atau bercerita tentang mitos dari leluhur Koh Ho Ming yang bagi Diandra adalah merupakan dongeng penuh fantasi.
Karena Diandra tergolong anak superaktif yang selalu ingin tahu dan cerdas. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibir mungilnya yang sering kali membuat Koh Ho Ming kewalahan memberi jawaban. Meskipun demikian, Koh Ho Ming selalu berusaha memberi jawaban sederhana yang bisa dimengerti oleh bocah seusia Diandra.
***
MANEKI NEKO & HADIAH UNTUK KOH HO MING
"Kok sudah pulang, Din? Bareng siapa tadi?" sambut Halimah tergopoh-gopoh keluar menyambut kedatangan Diandra. Setelah mengulurkan tangan untuk salim, Halimah segera membantu melepaskan tas sekolah dari punggung Diandra.
"Tadi gak ada pelajaran, sebagian guru lagi ada rapat di dinas. Terus si Lely, ketua kelas Dian lagi ulang tahun. Teman-teman sekelas dibagi nasi bakar sama dia. Tadi pulangnya, karena jalannya searah, Lely ngajak bareng sekalian, daripada jalan kan capek. Eh karena tadi dikelas ada yang gak masuk nasi bakar bagiannya dikasihin lagi ke Dian ... hehe jadi Dian dapat dobel." celoteh Diandra sambil berjalan masuk ke toko dan langsung menuju meja kasir.
"Sudah pulang sekolahnya, Din?" sapa Cik Melly sambil menyerahkan kursi plastik kecil ketika Diandra sudah mendekat.
"Hari ini ada rapat guru Cik Melly." jawabnya sambil meletakkan kursi plastiknya di sudut tak jauh dari meja kasir.
Cik Melly sudah terbiasa melihat Diandra sering berada di tokonya akhir-akhir ini. Ia tidak merasa keberatan, karena Suaminya terlihat sangat menyayangi bocah perempuan itu. Mungkin karena belum memiliki anak ataupun cucu perempuan yang membuat suaminya itu terlihat begitu akrab dan sayang pada Diandra.
Dua anaknya laki-laki dan sudah berkeluarga kedua-duanya. Andreas putra sulungnya yang menikahi Liana teman kuliahnya dulu baru memiliki satu orang anak laki-laki yang berusia tiga tahun.
Sementara Benny putra keduanya baru beberapa bulan berumah tangga, dan sampai sekarang Fellycia istrinya belum hamil juga. Dan kedua putranya itu memilih tinggal di luar kota dimana tempat usaha mereka didirikan meskipun jarak tempat tinggal kedua putranya tak terlalu jauh, sekitar dua sampai tiga jam perjalanan, tapi mereka hanya datang sesekali setiap tahunnya. Hanya saat ada acara-acara keluarga saja mereka datang untuk berkumpul di kediaman Koh Ho Ming.
"Apa nanti Koh Ho Ming akan kesini?" tanya Diandra setelah dilihatnya Cik melly selesai melayani beberapa pembeli yang tadi mengantri untuk membayar belanjaan mereka.
"Tentu saja, ia akan datang setelah jam dua belas."
"Hmmm ... baiklah, semoga nasi bakarnya masih enak meskipun sudah gak hangat." gumamnya sambil melirik jam dinding yang baru menunjukkan jam sebelas kurang. Tapi gadis kecil itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya, sebentar-sebentar ia melongokkan kepalanya ke arah jalan raya. Kepangan rambutnya pun ikut bergoyang -goyang resah.
Cik Melly hanya tersenyum tipis melihat tingkah polah gadis cilik didekatnya itu. " Kenapa memangnya?"
"Aku tak sabar ingin memberi hadiah pada Koh Ho Ming." jawab Diandra polos.
"Oh ya? Kenapa memberi hadiah segala? Dia kan tidak lagi ulang tahun?"
"Yaa ... gak papa, aku cuma pengen kasih hadiah kok." kembali kepala mungilnya melongok ke jalan setelah melirik jam dinding lagi. Cik Melly cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Senyap beberapa saat, saat Cik Melly kembali melayani pembeli.
Terlihat Halimah membuntuti pembeli itu sambil meletakkan keranjang berisi belanjaan si pembeli, memindahkannya ke dalam tas plastik setelah dihitung jumlah total harganya oleh Cik Melly. Selesai mengepak dan menyerahkannya pada pembeli, Halimah segera bangkit dan mendekati pembeli lain yang baru datang untuk dilayani.
"Seharusnya meja kasir ini dipindahkan dekat pintu luar." gumam Diandra pelan, tapi gumamannya masih dapat didengarkan Cik Melly.
"Kenapa?" tanya Cik Melly sambil lalu karena tangannya masih sibuk menghitung, memisahkan dan menata lembaran uang kertas sesuai nominalnya.
"Ya biar mereka yang sudah selesai belanja bisa langsung keluar dari toko tanpa berdesakan dengan pembeli yang baru datang." jawaban Diandra yang polos ternyata menarik perhatian Cik Melly.
"Hmmmm .." pandangan mata Cik Melly tertuju pada beberapa pelanggan yang baru dan sudah selesai berbelanja. Mereka terlihat agak berdesakan di lorong sempit sementara ditempat yang sama ia melihat Yanti sedang berdiri diatas kursi plastik untuk melayani pembeli yang membutuhkan barang yang kebetulan ditata di atas etalase setinggi dua meter di sepanjang lorong itu.
"Kenapa mainan itu ditaruh diatas meja? Sayang sekali kalau sampai jatuh. Pasti hancur!" Diandra menunjuk Maneki Neko, patung kucing dari keramik yang disepuh warna emas dan merah. Patung kucing itu dipasangi per di bagian dalam ditangannya sehingga dapat bergerak-gerak seolah tengah melambaikan tangannya.
"Ini bukan mainan biasa." jawab Cik Melly seraya mengelus patung kucing di depannya. " Ini adalah Maneki Neko warisan orang tuaku. Ini jimat untuk toko ini." lanjutnya lagi seraya tersenyum lembut ke arah Diandra.
"Jimat??"
"Iya ... Jimat untuk menarik pembeli! Lihatlah, tangannya selalu melambai, dia sedang mengundang pembeli untuk belanja disini." bisik Cik Melly pelan di telinga Diandra setelah dilihatnya ada pembeli yang mulai berjalan kearahnya untuk membayar belanjaannya yang kini ditenteng Yanti.
"Kalau jimat kucing itu diletakkan di depan, pasti akan lebih banyak orang yang dia undang. Di Jalan depan kan lebih ramai, banyak orang dan mobil yang lewat." kata Diandra pelan dengan mata menerawang ketika pembeli sudah selesai membayar belanjaannya dan mulai berjalan keluar toko.
Sesaat Cik Melly terdiam, memikirkan kata-kata Diandra yang cukup masuk akal.
"Kalau sudah besar kamu mau jadi apa, Din?" tanyanya tiba-tiba. Ia mulai serius mendengarkan celoteh gadis kecil yang duduk gelisah sambil mempermainkan kepangan rambutnya itu.
"Aku mau jadi orang kaya!" jawabnya cepat seolah tanpa berpikir.
"Jadi orang yang pandai saja! Orang bisa menjadi kaya karena kepandaiannya, tapi banyak orang kaya yang jatuh miskin gara-gara kebodohannya." nasehat Cik Melly sambil mengelus rambut Diandra.
"Aku ini sudah pintar! Jadi tinggal menunggu jadi kaya!" jawab Diandra dengan pandangan polosnya yang membuat Cik Melly tergelak gemas.
"Baiklah, nanti akan kupikirkan saranmu untuk memindahkan meja kasir ke depan! Tuuuh Koh Ho Ming sudah datang!"
Seketika Diandra melonjak girang saat melihat Koh Ho Ming memarkirkan sepeda motornya di depan toko. Setengah berlari dia menyongsong orang yang sejak tadi diharapkan kedatangannya itu. Cik Melly hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Diandra. Ia tahu, kelincahan tingkah polah serta kecerdasan Diandralah yang telah menarik perhatian suaminya. Sehingga membuat suaminya itu sangat menyayangi Diandra.
Suaminya itu seringkali bercerita padanya tentang Diandra dengan pandangan berbinar. Suaminya selalu mengatakan bahwa Diandra itu sangat istimewa, dia bukan seperti anak-anak biasa. Suaminya bahkan percaya kelak Diandra akan menguasai dunia.
"Koh, tahu nggak, aku punya hadiah untukmu.!" tak sabar Diandra menyeret tangan Koh Ho Ming menuju mejanya, Cik Melly segera membereskan meja kasir sebelum menyerahkan tempatnya pada suaminya.
"Pelan-pelan, Din! Nanti jatuh Koh Ho Ming nya!" Halimah yang sedang menata barang-barang di etalase mengingatkan. "Pergilah makan dan sholat dhuhur dulu Yan! Nanti kalau sudah selesai gantian sama aku. Kalau Diandra mau, ajak dia sekalian ya!" katanya pada Yanti, teman kerja yang umurnya masih sangat muda itu.
Dan iapun masih menyibukkan diri menata dan mengisi tempat yang sudah kosong. Dilihatnya Diandra yang menolak ajakan Yanti karena masih menempel pada Koh Ho Ming.
"Ya sudah, aku tinggal pulang dulu ya Ko! Nanti sore aku ada janji sama Yolanda, biar Sari yang mengirim makan malam untukmu." pamit Cik Melly sebelum bergegas keluar setelah sebelumnya mengusap sayang kepala Diandra serta berpamitan sekilas pada karyawannya.
"Nah, sekarang katakan, apa yang kau punya untukku?" tanya Ko Ho Ming saat mereka hanya tinggal berdua.
Toko mulai sepi, hanya tinggal beberapa pelanggan yang masih sibuk memilih-milih barang kebutuhan dengan dilayani Halimah.
"Aku punya ini untuk Ko Ho Ming!" dengan suara girangnya, Diandra meletakkan plastik mika berbentuk persegi berisi nasi bakar lengkap dengan sendok plastik, sambal dan irisan timun.
"Waaaahhh ... kelihatannya enak sekali kebetulan tadi aku cuma makan sedikit di rumah!" jawab Ko Ho Ming menghibur. Padahal sebenarnya perutnya masih terasa kenyang, setelah menikmati menu lodeh dan nila goreng kesukaannya.
Tapi melihat wajah antusias Diandra ia tak tega untuk mengatakan, bahwa perutnya masih kenyang. Untung saja paket nasi bakar yang ada dihadapannya bukan porsi besar, jadi mungkin perutnya masih bisa menampungnya.
"Lalu, mana bagianmu?"
"Ada. Aku masih punya satu lagi, nanti aku makan bersama ibu. Biar ibu tau juga rasanya." jawab Diandra sambil menepuk pelan tas sekolahnya yang terlihat menggembung sarat isi.
"Baiklah, sebaiknya aku langsung makan saja!" kata Ko Ho Ming sambil membuka staples dari pinggir plastik mika dan menguarlah aroma lezat gurih bersamaan harum aroma daun pembungkus nasi yang dibakar.
Di sampingnya, Diandra tekun memperhatikan paras wajah Ko Ho Ming dengan mimik serius menunggu komentar tentang rasa makanan yang dibawanya itu.
"Hhhhmmmm ..." pelan-pelan, Koh Ho Ming mengunyah nikmat.
"Bagaimana rasanya?" tanya Diandra penasaran.
"Enak .. enak .. hhhhmmm ... ini nikmat sekali. Mau nyoba?" tanya Ko Ho Ming mengarahkan sesendok nasi berwarna kemerahan dengan potongan ayam dan daun kemangi ke depan mulut Diandra, tapi gadis kecil itu menggeleng meskipun sambil meneguk ludah.
"Koh Ho Ming suka? Enak kan?" Koh Ho Ming mengangguk sambil membereskan mejanya dan membersihkan sisa plastik dan bungkus nasi. Diandra membantu membuangkan bekas makanan itu ke tempat sampah yang ada di depan toko.
"Tau nggak, nasi bakar itu isiannya ada macam-macam loh. Ada ayam suwir, tongkol balado, teri medan, cumi-cumi dan ikan asin." celoteh Diandra setelah kembali duduk di kursi plastiknya.
"Oh ya? Hhhmmm, pasti nikmat sekali."
"Kalau mau, aku bisa membawakannya buat makan siang Koh Ho Ming tiap hari, nanti aku belikan tiap pulang sekolah."
Koh Ho Ming membulatkan matanya, senyumnya mulai mengembang, tapi ia tak menjawab usul Diandra.
"Tiap hari aku akan bawakan nasi bakar dengan isian yang berbeda biar gak bosan. Dan pasti masih hangat ketika Ko Ho Ming memakannya. Kalau masih hangat, rasanya lebih nikmat!" lanjut Diandra semangat berpromosi.
"Hhhhmmmmm ..." Seolah berfikir Koh Ho Ming meletakkan sikunya di meja sementara telapak tangannya melekat di pipinya yang mulai keriput ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna putih. Pandangan matanya lekat tertuju pada wajah polos Diandra yang menunggu penuh harap padanya.
"Harganya murah kok!" bisiknya lirih.
Sepi... Koh Ho Ming masih terdiam seolah tengah berfikir, Diandra serius menatapnya dengan dengan sorot mata penuh harap.
Akhirnya setelah beberapa menit, "Baiklah, berapa harganya?"
"Sepuluh ribu rupiah saja, rasanya pasti takkan mengecewakan!" seru Diandra penuh semangat.
"Baiklah bawakan aku nasi bakar hangat setiap hari sampai aku merasa cukup. Dan khusus untuk besok, hanya besok ya, bawakan aku enam porsi yang isi ayam biar yang lain juga tahu rasanya. Untuk selanjutnya, setiap hari cukup satu bungkus saja. Setuju!" Dengan semangat Diandra menyambut uluran tangan Koh Ho Ming tanda setuju.
"SETUJU!" Diandra bersorak girang lalu meraih tasnya dan berpamitan untuk makan siang di gudang bersama ibunya.
Koh Ho Ming melepas kepergian Diandra dengan kekehan geli tapi seberkas sorot bangga juga terlintas di matanya. Karena ia tahu nasi bakar yang ditawarkan Diandra tadi sebenarnya berharga tujuh ribu lima ratus rupiah saja di kantin sekolahnya.
***