Kedua insan yang sudah mengalami pertempuran hebat itu kini tengah terlelap.
Kayla sangat merasa puas, akhirnya setelah dua tahun lebih dia tidak mendapatkan sentuhan dari seorang lelaki sekarang baru merasakannya dan itu dari mantan kekasihnya dulu.
Tiga puluh menit kemudian, Kayla mengerjapkan matanya, tubuhnya terasa hangat. Tangan kekar Farel sedang memeluk tubuhnya dari samping. Wanita itu menoleh ke arah lelaki yang telah memberikan kepuasan kepadanya itu.
Kayla menatap lekat wajah sang kekasih, memang tidak dapat dipungkiri bahwa laki-laki itu jauh lebih tampan dari sang suami. Bahan lebih perkasa, membuat wanita itu semakin tergila- gila.
Setelah puas menatap wajah Farel, Kayla memindahkan tangan kekar itu agar menjauh. Karena, sudah siang sebentar lagi kedua anaknya pulang sekolah.
Farel yang sebenarnya sudah bangun dia tidak ingin melepaskan pelukannya kepada mantan kekasihnya itu.
Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin berpisah dengan wanita yang baru beberapa hari dia temui lagi itu.
"Sebentar saja seperti ini baby, aku masih sangat merindukanmu." Ucap Farel dengan mata terpejam dan tangan yang semakin kuat memeluk wanita itu.
Kayla merogoh ponselnya di atas nakas untuk melihat jam. Wanita itu menuruti sang kekasih. Karena, masih ada waktu sekitar dua jam kedua anaknya pulang sekolah.
"Tiga puluh menit ya baby, takutnya anak-anak pulang sekolah dan aku belum datang kasihan." Jawab Kayla yang berusaha membenarkan posisinya.
Farel tidak menjawab. Tetapi, tangannya mulai meraba-raba perut rata sang kekasih, bahkan semakin ke bawah mengelus rawa-rawa yang ditumbuhi banyak rambut itu.
Mendapat sentuhan lembut itu membuat Kayla melenguh, rasa nikmat kembali menjalari tubuhnya.
Entah siapa yang memulai duluan kini bibir keduanya sudah mulai berpaut, bahkan tangan lelaki itu kini mulai menekan-nekan daging yang sebesar biji jagung itu. Begitu juga dengan Kayla yang mulai nakal memainkan junior Farel.
Kamar hotel itu kembali panas, Farel berpindah ke leher jenjang sang kekasih memberikan tanda kepemilikan.
Dijilatnya leher tersebut, lelaki itu terus turun sampai ke gunung kembar yang berukuran sangat besar itu. Bahkan tangan Farel saja tidak cukup meremasnya.
Kayla semakin terbuai, tubuhnya yang lama tidak dimanjakan semakin membuat perempuan itu menggeliat-geliat manja.
Farel merubah posisinya tepat berada di atas Kayla, ciumannya semakin turun ke perut langsing sang kekasih.
Sedangkan tangan Farel memasukkan jari-jarinya ke dalam lobang surga dunia nya itu.
Kayla semakin melebarkan kakinya, Farel kembali turun ke arah paha, dijilatnya sampai ke pangkal.
Organ intim yang wangi dan terawat seakan menjadi candu bagi lelaki yang sudah beristri itu
Dihirupnya aroma kewanitaan Kayla, yang membuat Farel semakin bernafsu.
"Baby, kenapa kewanitaan mu ini sangat wangi?" Tanya Farel sambil terus mengobok-obok dan menciumnya dengan sangat bernafsu.
Dipuji oleh Farel membuat Kayla melayang, wanita itu tersipu malu. Baru pertama kali ini dia mendapat pujian, selama berhubungan dengan sang suami tidak pernah seperti itu.
Farel semakin mempercepat jemarinya keluar masuk di dalam kewanitaan Kayla, membuat wanita itu meliuk- liuk tidak karuan.
"Oh... yes Baby" lenguhan Kayla.
Lima menit kemudian Kayla merasakan ada yang akan keluar dan meledak.
Farel yang mengetahui sang kekasih akan sampai puncak, lelaki itu semakin mempercepat jari-jarinya keluar masuk, benar saja tidak menunggu lama Kayla melenguh panjang.
"Ahh...oh...aahh... baby Ahh." Kayla melenguh panjang cairan putih keluar dengan begitu deras di organ intimnya.
Farel menghentikan jemarinya dan menyapu bersih organ intim wanita itu.
Setelah bersih lelaki itu bangkit dan menelentangkan tubuhnya tepat di sebelah Kayla.
"Baby, naiklah. Puaskan aku." Farel berkata sambil mengelus pipi Kayla.
Bagaikan di cucuk hidungnya, wanita itu naik ke atas tubuh Farel. Mengarahkan lubang surganya ke benda pusaka yang begitu besar itu. Dengan satu hentakan benda itu melesak masuk ke dalam sarangnya, membuat keduanya melenguh.
"Ah... enak baby" desah farel
Kayla menaik turunkan tubuhnya, sedangkan Farel meremas dan melumat benda kenyal yang bergelantung itu.
Kedua insan itu di mabuk birahi, desahan demi desahan menggema di hotel megah dan mewah itu.
Saat sedang menikmati penyatuan tiba-tiba ponsel Farel berbunyi, sekali lelaki itu tidak menghiraukannya. Namun, setelah ketiga kalinya diraih ponsel tersebut. Karena, merasa mengganggu aktivitasnya.
Mata Farel membulat, setelah melihat nama yang tertera di layar benda pipih itu.
Kayla menghentikan gerakannya, menatap lelaki yang sedang berada di bawahnya itu. Wanita itu penasaran siapa yang menghubungi sang kekasih itu sehingga membuatnya berubah.
"Siapa baby?" tanya Kayla penasaran.
Bukannya menjawab justru Farel memberikan isyarat untuk diam.
Kayla mengangguk lemah dengan kelamin yang masih menyatu.
Panggilan Masuk dari Indira- istri Farel, wanita yang wataknya keras seumuran dengan Kayla.
Wanita yang perawakannya sedikit berisi, kulit hitam kusam dengan jerawat yang lumayan banyak.
Indira malam merawat dirinya, bahkan mandi pun sehari sekali. Wanita itu termasuk orang yang beruntung Farel tidak pernah membebankan dia dengan pekerjaan rumah. Karena, lelaki itu sudah banyak memiliki pembantu.
Farel menggeser layar ponselnya dengan membuang nafas secara perlahan berkali-kali
"Halo, Mas. Lagi dimana?!" suara Indira terdengar dari arah sebrang dengan nada yang meninggi.
"Aku kerja lah In, kamu ini ada-ada saja!" jawab Farel kesal.
Kayla menyeringai mendengar sang kekasih menyebut nama istrinya. Wanita itu menaikkan turunkan kembali tubuhnya, dan tidak jarang memutar-mutar pinggulnya.
Farel berusaha menahan nikmat di alat vitalnya. Lelaki itu menggigit bibirnya dengan mata yang terpejam.
"Aku tadi telpon kantor, katanya kamu tidak ada"
Farel berusaha menahan nikmat, " A- - - aku, a- - - ada rapat,"jawab lelaki itu dengan nafas yang menderu da suara yang bergetar.
Kayla sangat senang dengan ekspresi Farel. Wanita itu merasa kesal. Karena, aktivitas menuju kenikmatan harus terganggu oleh suami sang kekasih.
"Kamu, kenapa suaranya seperti itu, Mas? tanya Indira penasaran.
Sedangkan Kayla semakin mempercepat pompaannya, wanita itu berbisik di telinganya.
"Aku benci di ganggu sayang, lobang surgamu ingin cepat terpuaskan," Bisik Kayla.
Mendapat bisikan seperti itu membuat Farel berusaha memutuskan sambungan teleponnya.
"Aku ada rapat Indira, jangan ganggu dulu! Tanpa menunggu jawaban sang istri Farel mematikan sambungan teleponnya.
Farel membalikkan badan Kayla tepat berada di bawahnya dan membuat wanita itu berada di posisi menungging.
Kayla cuma bisa nurut, tidak butuh lama benda besar melesak masuk , Farel sambil memukul pantat wanita tersebut.
Farel semakin kencang memaju mundurkan sodokannya, sedangkan Kayla semakin merasa nikmat apa lagi dengan ukuran junior Farel yang tergolong besar.
"Ah.. terus baby yang dalam," Lenguhan Kayla dengan binar bahagia.
Tusukan demi tusukan, membuat kedua insan itu semakin larut dalam permainan panasnya.
Tiga puluh menit kemudian Farel merasakan bahwa ada yang mau keluar dan dia pun semakin mempercepat tusukannya.
"Baby, aku sudah mau sampai." Ucap farel.
"Aku juga baby, ayo kita keluarkan bersama"
"Mau dikeluarin dimana baby? tanya lelaki itu heran.
" Di dalam saja baby, aku ingin merasakan lahar panas masuk ke organ intim ku.
Tidak lama kemudian pertahanan keduanya jebol, Cairan putih kental ditembakkan secara kasar ke dalam rawa-rawa Kayla
Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu tengah terkapar lemah setelah mengalami pelepasan yang begitu dahsyat.
Kayla bangkit dari ranjang, wanita itu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa pertempuran dahsyatnya dengan sang kekasih.
Wanita itu secepatnya menyelesaikan mandinya. Karena, dia tidak mau sampai terlambat menjemput si sulung ke sekolah.
Tiga puluh menit kemudian, Kayla keluar dari kamar mandi menggunakan kimono, Sedangkan Farel masih terlentang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
Kayla menggunakan bajunya tidak lupa dia juga bersolek sedikit dengan menyapukan lipstik berwarna nude di bibir sexinya itu.
Kayla bergegas meraih tasnya dan memasukkan ponsel, tidak lupa wanita itu juga menghampiri sang kekasih.
"Baby, aku pulang duluan, ya? Sebentar lagi putri kecilku pulang sekolah. Kasihan dia jika harus menunggu lama." Ucap Kayla sambil mencium bibir sang kekasih.
"Aku masih kangen kamu, baby. Sudah beberapa tahun kita tidak bertemu." Rajuk Farel sambil menarik lengan wanita yang dicintainya itu.
"Aku tahu baby, next time kita ketemu lagi. Aku juga mau memperkenalkan anak-anakku kepada kamu." Kayla berusaha membujuk sang kekasih dengan mengelus-elus lengannya.
"Ok, baiklah. Secepatnya perkenalkan aku dengan mereka." Akhirnya Farel melepaskan tangan wanita itu.
Kayla tersenyum lebar dan kembali mencium bibir tebal Farel. Dia pun kini melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel tersebut.
Wanita itu berjalan menyusuri lorong hotel hingga sampai di depan lift. Kayla memencet tombol tidak lama kemudian terbuka pintu itu.
Kayla masuk ke dalam lift, dan kembali memencet tombol angka satu. Tidak lama kemudian pintu itu berdenting dan terbuka, wanita yang tampak lelah itu keluar dengan langkah yang tergesa-gesa. Sedikit berlari ke arah bestman dimana mobilnya terparkir.
Setelah sampai di parkiran wanita itu langsung masuk dan melajukan mobilnya membelah jalan yang sudah mulai ramai. Karena, sudah hampir jam istirahat.
Kayla lupa jika dia belum mengaktifkan handphone nya. Setelah berada di lampu merah wanita itu mengeluarkan benda pipih tersebut dari tas branded berwarna biru.
Kayla mengaktifkan ponselnya, wanita itu sengaja mematikannya. Karena, dia tidak ingin ada yang mengganggunya termasuk sang suami yang kini tengah berada di Kamboja.
Benar saja setelah ponselnya hidup terdapat banyak notif panggilan tak terjawab juga beberapa pesan singkat dari sang suami.
Kayla mendengus kesal, wanita itu sudah hilang respect kepada sang suami. Karena, penghianat nya yang sudah berkali-kali.
Wanita itu meletakkan kembali ponselnya, dia hanya melihat pesan singkat dari sang suami tanpa membalasnya.
Kayla masih ingat jelas bagaimana adegan sang suami yang berhubungan intim dengan wanita lain di Negri orang itu. Tidak terasa butiran bening jatuh dari netranya yang berwarna hitam pekat itu.
Wanita itu masih tidak habis pikir dengan sang suami. Teganya dia kembali mengkhianatinya. Belum cukupkah selama ini dia sabar dan memaafkannya. Kenapa, harus mengulanginya kembali.
Kayla semakin terisak, hatinya terasa nyeri. Bahkan dengan dia membalas dendam saja masih belum bisa menghilangkan rasa sakitnya. Wanita itu selama ini sudah cukup sabar dengan tingkah laku sang suami.
Kayla masih mengingat bagaimana kelakuan sang suami bersama keponakan wanita itu. Tepatnya delapan tahun yang lalu, saat dirinya masih mengandung anak keduanya.
Kayla mengusap air matanya secara kasar, wanita itu sebentar lagi sampai di sekolah sang putri yang kini tengah duduk di bangku kelas satu SD.
Ketika sudah sampai di parkiran sekolah, tiba-tiba ponselnya berdering pertanda panggilan masuk. Kayla meraih benda canggih itu dan melihat siapa yang menghubunginya itu. Wanita itu tersenyum melihat nama yang terpampang di layar putih itu.
Farel melakukan panggilan video kepada Kayla, tanpa pikir panjang wanita itu langsung menggeser layar hijaunya.
Kayla tersenyum manis, " Hai, baby. Ada apa lagi,hem?" tanya Kayla lembut.
"I miss you so much, baby," jawab Farel dengan nada manja.
"Ih kamu nakal ya baby, baru saja kita ketemu masak udah kangen aja," Kayla terkekeh.
Obrolan mereka terhenti ketika Kayla melihat bahwa semua siswa sudah keluar dari sekolah.
"Baby, aku tutup dulu. Putri sudah keluar nih." Kayla berpamitan sambil mematikan sambungan video call tanpa mendapat persetujuan dari Farel.
Farel mendengus kesal, pasalnya lelaki itu masih merindukan tubuh sexi Kayla yang membuatnya terpuaskan akan hasrat yang selama ini tidak terpenuhi dari sang istri.
Bagaikan menemukan berlian bertemu kembali dengan Kayla, wanita yang dulu pernah mengisi hatinya. Namun, hubungan mereka kanda ketika ketika Farel di jodohkan oleh orang tuanya dengan perempuan pilihan mereka.
Kayla turun dari mobil menghampiri Putri kecilnya yang sedang menunggu di luar gerbang.
"Hai, sayang. Maaf ya sudah menunggu terlalu lama." Ucap Kayla sambil memeluk sang buah hati.
"It's Ok Mom. Putri baru saja keluar kok." Ucap gadis kecil itu dengan senyum yang mengembang sambil mengeratkan pelukannya.
Kayla menuntun sang anak menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Setelah sampai wanita itu membukakan pintu putri kecilnya itu.
"Silahkan masuk tuan putri." Ucap Kayla sambil mempersilahkan sang anak masuk.
Gadis kecil itu melayangkan senyum manisnya kepada wanita yang sudah melahirkannya itu. Putri sangat menyayangi sang Ibu, kebahagiaan wanita itu baginya paling penting.
Putri sering melihat sang Ibu menangis di sudut kamar ketika malam dengan keadaan yang gelap, gadis itu tahu pasti wanita itu mengalami kesedihan yang mendalam.
Kayla mengelilingi mobilnya lalu masuk kedalam, wanita itu pun menancapkan gasnya melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah dari sekolah si bungsu Kayla melajukan mobilnya ke arah sekolah anak sulungnya, jaraknya tidak begitu jauh hanya ditempuh dengan waktu sepuluh menit saja sudah sampai.
Kayla memarkirkan di bawah pohon rindang tepat di depan sekolah Alif- anak sulungnya yang kini duduk di bangku kelas tiga SMP.
Di depan sekolah sang anak itu terdapat lahan kosong yang sangat luas ditumbuhi dengan banyak pepohonan. Tempat itu biasa digunakan untuk parkir mobil dan motor bagi orang tua siswa yang menjemput atau mengantarkan anak-anaknya sekolah.
Tidak lama kemudian anak laki-laki yang bertubuh tinggi dengan kulit yang sedikit gelap. Karena, dia sering berolahraga lari juga renang itu keluar dari halaman sekolahnya menuju mobil sang Ibu yang sudah menunggu dia.
Alif membuka pintu mobil belakang setelah masuk dan duduk anak lelaki yang sudah beranjak dewasa itu menyandarkan badannya ke jok mobil, dia merasa sangat lelah dan penat.
Kayla menoleh ke arah sang putra dan mengulurkan tangannya dengan senyum yang mengembang langsung disambut oleh Alif. Anak itu mencium tangan sang ibu dengan penuh takzim.
"Capek sayang?" tanya Kayla lembut.
Alif mengangguk lemah, dia sudah tidak punya tenaga lagi menjawab ucapan sang ibu itu. Setelah pelajaran Matematika yang bagi dia menguras tenaga dan pikirannya.
"Ayo, berangkat, Ma. Adik sudah sangat lapar." Gumam si kecil dengan menarik lengan sang ibu.