Bab 1

Jesika adalah nama gadis cantik itu. Gadis yang kini sedang duduk di lobi salah satu hotel berbintang yang berada di pusat kota. Diantara gadis-gadis lain yang kebetulan ada disana, Jesika memang terlihat lebih mencolok. Parasnya yang cantik alami pastilah membuat laki-laki tergoda untuk meliriknya.

Termasuk beberapa laki-laki yang kebetulan juga berada disana. Tidak sedikit diantara lirikan tersebut sempat beradu dengan tatapan Jesika. saat itu terjadi diantara mereka ada yang melempar senyuman, ada pula yang langsung tertunduk malu. Sebuah hal yang biasa bagi Jesika, sehingga ia terlihat tidak terlalu terganggu karenanya.

Jesika mengalihkannya pandangan dari layar smart phone yang dipegangnya. Matanya melirik lagi ke arah laki-laki paruh baya yang duduk beberapa meter didepannya. Tatapan laki-laki itu masih ke arah yang sama seperti saat tadi pertama kali ia memergokinya. Tatapan nanar ke arah kedua pahanya. Ekspresi ‘mupeng’ tergambar jelas diwajahnya. Keberadaan sang istri disampingnya seakan dianggapnya tak ada.

“Huuupt...”

Jesika merubah posisi duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Mengunakan tas jinjing ia menutup celah diantara rok jeans pendek yang dipakainya. Perhatiannya pun kembali tertuju kepada sosial media yang tadi sempat teralihkan. Sebenarnya Jesika tidak masalah apabila laki-laki paruh baya itu ingin menikmati apa yang ada di balik roknya, asalkan ada kompensasi yang cocok.

Kompensasi? Iya, kompensasi berupa uang.

Di balik profesinya sebagai mahasiswi semester akhir, Jesika juga memiliki profesi lain sebagai wanita penggilan kelas atas alias lady escort. Profesi ini sudah ia jalani cukup lama, hampir sejak awal ia mulai menyandang gelar sebagai mahasiswi. Jika anda ingin saya membuka paha, maka kuraslah isi dompet anda.

Itulah persyaratan yang ditetapkan Jesika. Jesika tidaklah kebetulan berada di hotel berbintang itu. Di hotel itu Jesika sedang menunggu laki-laki yang memiliki cukup modal untuk memenuhi persyaratannya. Entah apa yang mendasari ia menjalani profesi ini.

Faktor ekonomi? Oh tentu tidak.

Jesika bukanlah tergolong gadis yang berasal dari keluarga berkekurangan secara ekonomi.

Faktor sosial? Jawabannya tidak juga.

Jesika tidak berada dalam lingkungan yang memungkinkan untuk menjerumuskannya kepada profesi tersebut. Mungkin untuk alasannya, biarlah gadis cantik itu saja yang mengetahuinya sendiri.

Beberapa menit menunggu akhirnya ponsel yang dipegangnya berbunyi. Jesika menekan tombol jawab. “Halo.”

“Kamu dimana?”

“Jesika udah di lobi nih Om.”

“Udah lama nunggu? Maaf tadi Om kejebak macet.”

“Gak apa-apa kok Om,” sahut Jesika.

“Kalau gitu kita ketemu di resepsionis aja, gimana?”

“Oke Om.”

Jesika menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Sebelum berdiri, sekali lagi Jesika melirik ke arah laki-laki dihadapannya. Masih dengan tatapan yang sama, masih dengan ekpresi yang sama. Dengan sengaja Jesika membuka sedikit lebar kedua paha saat mengembalikan silangan kakinya.

Jesika kembali membuka kedua pahanya saat memperbaiki posisi high heel yang dipakainya. Hanya saja kali lebih lebar dari sebelumnya. Semua gerakan itu sengaja ia lakukan dengan pelan dan perlahan. Jesika tahu benar kalau posisi kakinya saat ini membuat apa yang seharusnya tidak terlihat, menjadi terlihat.

Lirikan Jesika berubah menjadi tatapan tepat saat laki-laki itu mengalihkan arah pandangannya. Kedua mata mereka beradu. Ekspresi laki-laki itu mendadak berubah tegang. Oke cukup, pikir Jesika. Diapitkan kembali kedua pahanya, lalu gadis cantik itu berdiri.

Laki-laki itu terlihat semakin tegang ketika Jesika berjalan menuju ke arahnya dan melempar senyuman. Laki-laki itu menjadi salah tingkah karena perbuatan nakalnya ketahuan. Melihat Jesika yang tersenyum kepada suaminya, si istri langsung melengos dan mencubit paha suaminya.

“Rasakan itu,” gumam Jesika dalam hati.

Jesika dengan santainya berjalan melewati pasangan tersebut. Sekilas gadis cantik itu bisa mendengar sang istri menghardik suaminya. Guratan kepuasan terpancar di wajah Jesika. Paling tidak disaat yang sama ia mendapat pahala karena menghilangkan rasa penasaran laki-laki itu, sekaligus memberikan sedikit ‘pelajaran’ atas kenakalannya. Ia pun terus melanjutkan langkahnya menuju resepsionis.

“Jesika?” tanya seorang laki-laki yang berpenampilan necis di depan meja resepsionis.

“Pak Ganwa?”

“Waw ternyata benar kata teman Om, kamu cantik sekali.”

“Terima kasih,” ucap Jesika singkat sambil tersenyum. Mungkin pujian seperti ini sudah terlalu sering ia dengar, sehingga bukanlah sesuatu yang luar biasa untuk Jesika.

Laki-laki yang dipanggil Pak Ganwa itu berperawakan semampai. Agak terlihat pendek dibanding postur tubuh Jesika yang saat itu memakai high heel. Beberapa helai rambutnya sudah tampak memutih metampakkan kematangan usia – kalau tidak boleh disebut tua. Belum lagi kerutan-kerutan di wajahnya menambah kesan ‘tua’ tersebut.

Dari segi wajah, Pak Ganwa ini jauh dari yang dapat didefisikan sebagai tampan. Menurut informasi dari ‘klien’ langganan Jesika yang memperkenalkan mereka, Pak Ganwa ini adalah seorang pengacara. Ini juga terlihat dari setelan jas hitam yang dipakainya saat itu. Setelan itu jelas terlihat mahal.

Tapi wajah dan penampilan bukanlah yang utama. Di mata Jesika yang utama adalah si ‘klien’ bisa memenuhi standar harga yang ditetapkannya, itu saja.

“Kamu tunggu sebentar, biar Om nyelesaiin administrasinya dulu.”

Jesika hanya mengangguk. “Silakan.”

Sambil menunggu Pak Ganwa menyelesaikan urusannya, Jesika melihat-lihat dan berjalan-jalan ke sekitar. Ada sepasang turis asing di sampingnya terlihat sedang menyelesaikan pembayaran untuk check out. Dia mengambil brosur hotel yang disediakan di sudut meja resepsionis.

Jesika berdecak kagum dengan harga kamar hotel yang tertera di brosur. Pak Ganwa ini pastilah berdompet tebal sampai mampu mengajaknya ke hotel dengan tarif setinggi ini. Jesika terkesan.

“Oke sudah, yuk kita ke kamar.”

Jesika meletakkan brosur itu kembali dan mengikuti langkah Pak Ganwa menuju lift. Tak lama pintu lift terbuka. Keduanya kemudian masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong.

“Kamu gak kuliah hari ini?” tanya Pak Ganwa.

“Gak Om, Jesika udah gak kuliah tinggal nyusun.”

“Oh dikit lagi wisuda dong?”

“Iya kalau lancar Om.”

“Sudah bab berapa?”

“Masih bab dua sih, Om.”

Percakapan mereka terhenti ketika pintu lift di depan mereka terbuka. Terkejutlah Jesika ketika melihat seorang laki-laki yang berdiri diluar lift. Laki-laki itu sepertinya hampir sebaya dengan Pak Ganwa. Saat itu ia terlihat sedang menggandeng seorang gadis. Tidak kalah mengejutkan lagi adalah kalau ternyata Pak Ganwa juga mengenal laki-laki paruh baya tersebut.

“Hei Pak Lukman, kok udah keluyuran jam segini,” sapa Pak Ganwa menyapa laki-laki itu sambil menepuk pundaknya.

“Eh Pak, Bapak sendiri ngapain di sini?”

Pak Ganwa dan laki-laki itu berjabat tangan. Keduanya tertawa bak kenalan lama yang sudah lama tidak berjumpa. Dilain pihak Jesika tampak panik. Dia berusaha memalingkan wajahnya, walaupun dia tahu kalau usahanya itu pastilah sia-sia belaka.

“Biasalah nyalurin hobby, hahaha.” Pak Ganwa melepaskan jabatan tangan mereka.

“Cewek baru lagi nih? Hahaha,” tanya Pak Lukman

“Rekomendasi temen, gak enak kalau gak dicoba, hahaha,” timpal Pak Ganwa.

“Sama dong, saya juga habis nyoba rekomendasi temen, nih.” Jawaban enteng dari Pak Lukman. Sepertinya dia juga baru selesai menyalurkan hobbynya.

Ketika mata Pak Lukman menatap ke arahnya, Jesika ibarat terkena petir di siang bolong. Keduanya terlihat kaget, sangat kaget. Pak Lukman tampak kikuk sama halnya dengan yang dirasakan Jesika saat itu. Keduanya ternyata memang saling mengenal.

Laki-laki paruh baya itu adalah Pak Lukmansyah atau biasa ia panggil Pak Lukman. Pak Lukman adalah ayah dari Felisia, sahabat karibnya di kampus. Jesika dan Felisa sudah bersahabat karib sejak SMA. Baik Jesika maupun Felisia sudah saling mengenal keluarga masing-masing dengan sangat dekat. Jesika bahkan cukup akrab dengan Rifky adiknya Felisa yang kini masih SMA.

Jesika sudah terbiasa menginap di rumah Felisia, demikian pula sebaliknya. Jadi, Pak Lukman bukanlah sosok yang asing bagi Jesika. Di mata Jesika, Pak Lukman seorang ayah yang simpatik dan kebapakan. Jauh sekali dari kesan laki-laki mata keranjang yang suka mencicipi gadis-gadis muda.

Kini dia mendapti langsung jika Pak Lukman sedang menggandeng seorang gadis muda. Jesika sangat yakin jika ayah temannya itu baru selesai menikmati kehangatan tubuh gadis yang sedang digandengnya itu. Gadis yang dia sangka usianya lebih pantas jadi adiknya Felisa, atau pacarnya Rifky, adiknya Felisia.

Tak kalah terkejutnya dengan Jesika, Pak Lukman juga berpikiran yang sama. Di mata Pak Lukman, Jesika adalah sosok gadis muda yang baik dan cerdas. Memang dia dan putrinya sering pergi menghabiskan malam di klub atau sekedar hang out, namun itu dinilainya masih pada batas-batas kewajaran.

Hampir tidak ada secuil pun dalam pikiran Pak Lukman kalau Jesika adalah seorang gadis yang bisa di-booking. Memang dia tidak bisa begitu saja menuduh Jesika demikian. Namun dia cukup tahu tabiat mesum rekannya, Pak Ganwa.

Apakah Jesika salah satu wanita sampanan Pak Ganwa? Mungkin saja, namun kali ini bukanlah saat yang tepat bagi Pak Lukman untuk mencari tahu kebenarannya.

“Eh kenapa kamu, Luk, kayak gak pernah liat cewek cantik aja, heheheh.” Pak Ganwa kembali menepuk pundak Pak Lukman.

Pak Lukman tersadar dari lamunannya. Sambil tergagap dia hanya menjawab singkat, “Saya musti buru-buru ke kantor lagi nih Pak, ada meeting setengah jam lagi.”

“Oke lah, entar kabar-kabar kalau ada barang yang fresh ya, hehehehe,” timpal Pak Ganwa cengengesan. Sementara Pak Lukman hanya tersenyum kecil.

Lalu dengan wajah yang masih menunjukkan kekikukan, cemas dan khawatirnya, Pak Lukman menggandeng tangan gadis belia usia SMA di sebelahnya itu masuk ke dalam lift.

Jesika menghembuskan napas lega. Paling tidak saat itu baik Pak Lukman maupun dirinya tidak saling membuka identitas, walaupun keduanya sudah pasti tidak bisa mengelak setelah ini. Mereka berdua tidak menyangka akan bertemu dalam situasi seperti ini.

Untungnya saja mereka bisa kompak bersandiwara untuk berpura-pura tidak saling mengenal. Dalam hati Jesika terbersit rasa was-was apabila harus bertemu lagi dengan Pak Lukman setelah kejadian ini.

“Yu!” ajak Pak Ganwa.

Jesika sedikit terkaget namun cepat bisa mengusai diri. Dengan tersenyum, gadis cantik itu menerima rangkulan Pak Ganwa dan berjalan menuju kamar.

Pasca masuk ke dalam kamar tak banyak yang bisa diceritakan. Seperti layaknya ‘klien’ berumur lainnya, Pak Ganwa tidak sejago bicaranya ketika beradu di atas ranjang. Bahkan Jesika harus berusaha ekstra keras untuk membuat ‘senjata’ Pak Ganwa siap tempur.

Untuk pelanggan berusia muda, mungkin hanya dengan membuka pakaian saja sudah mampu membuat mereka tegang. Namun untuk Pak Ganwa, bahkan kocokan dan kuluman dalam keadaan telanjang bulat pun, ternyata tidak mempan untuk membuatnya ereksi. Sampai akhirnya ketika ‘senjata’ itu berhasil dibangunkan, beberapa goyangan pinggul Jesika dengan cepat membuatnya muntah dan tidur kembali.

“Gak apa-apa kok Om, mungkin Om lagi capek.” Akhirnya Jesika harus membesarkan hati sang ‘klien’ ketika lelaki berusia hampir senja itu meminta ronde kedua, namun tak kunjung mampu melakukannya.

Jesika sampai harus memberikan kocokan dan kuluman ekstra atas permintaan Pak Ganwa, namun semuanya sia-sia. Pemainan birahi itu pun berunjung dengan Jesika yang tampak seperti seperti baby sitter yang sedang menyusui bayi besarnya. Bayi besar bernama Ganwa Garninda Nusantara.

“Om masih boleh kan nelpon kamu lagi, Jes?” tanya Pak Ganwa.

“Boleh dong Om, boleh banget,” sahut gadis cantik itu begitu selesai memakai kaos ketat model tanktopnya.

“Boleh Om minta cium?” pinta kolega Pak Lukman itu.

Jesika tersenyum dan berjalan mendekati Pak Ganwa yang masih duduk telanjang di atas ranjang. Diciumnya bibir lelaki tua itu dengan cukup lama, kemudian diakhiri dengan sapuan lidah. Jesika juga membiarkan sejenak Pak Ganwa meremas-remas payudaranya sebelum mereka berpisah.

Untuk uang sebanyak yang diserahkan Pak Ganwa, hari ini termasuk kerja yang sangat ringan bagi Jesika.

Dengan uang sebanyak itu, untuk sementara Jesika bahkan dapat melupakan pertemuannya dengan Pak Lukman. Namun itu hanya untuk sementara saja. Jesika sangat meyakini ayah Felisia, sahabatnya itu akan menghubunginya di lain waktu. Jesika terpaksa menyusun rencana agar semua tidak terjadi.

^*^

Agar khasanahnya semakin lengkap, jangan lupa baca juga cerita hot super baper, full darama panas dan pesan moral terselubung.

‘TAKDIR CINTA GIGOLO KAMPUNG’ Dijamin baper.

Silakan cari aja di pencarian atau daftar cerita karya Fajar Merona di lapak ini.

^*^

Bab 2

Beberapa hari kemudian.

Di sebuah kamar kosan elit, Jesika duduk lesehan di atas ranjang dan terlihat serius di depan laptopnya. Dia terlihat serius mengulir dan meng-klik mouse sambil memperhatikan website yang bergantian muncul di layarnya.

Sebagai seorang mahasiswi, Jesika termasuk dalam deretan mahasiswi yang pintar. IPK-nya di setiap semester hampir tak pernah di bawah 3,0. Kesibukan lain di luar jam kampus, seperti organisasi mahasiswa, modeling, SPG dan lain-lain, seakan tidak mengganggu nilai akademisnya. Pun demikian dengan aktifitasnya sebagai lady escort.

Khusus untuk ‘aktifitas’ gadis panggilan yang satu itu, mungkin tidak satu pun dari sahabat Jesika yang akan pernah menyangkanya. Berprofesi sebagai wanita panggilan kelas atas justru sangat menguntungkan bagi Jesika.

Mengapa demikian?

Menerima ‘klien’ bermodal besar membuat Jesika menjadi banyak memiliki kenalan kelas atas. Dari politisi, akademisi, ahli hukum, sampai jabatan berpangkat lainnya. Tak jarang mereka membantu Jesika untuk hal-hal penting, tentu saja imbalannya beberapa jam kehangatan di atas ranjang.

Bagi Jesika, seks adalah kelemahan terbesar dari laki-laki jika bisa dimanfaatkan dengan baik. Profesi girls escort bagi Jesika memang menjadi salah satu cara untuk bergaul di kalangan elit. Tarif tinggi yang dipasang Jesika adalah filter, sehingga tubuhnya tidak sembarangan dijamah oleh laki-laki hidung belang di bawah standar yang diterapkannya.

Begitu pula dengan laki-laki yang menjadi kekasihnya. Status kekasih tidak serta merta membuat seorang laki-laki berhak menjamah tubuh moleknya. Jesika juga menerapkan standar yang tinggi untuk kekasih yang boleh menikmati kehangatan tubuhnya. Salah satu pemuda yang beruntung adalah Ricko, kekasihnya saat ini.

“Serius amat? Lagi bikin apa?” tanya Ricko yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya terbalut handuk.

“Nih lagi iseng browsing sambil nunggu kamu mandi,” balas Jesika manja.

“Hayo pasti browsing situs porno ya? Hehehe,” goda Ricko sambil naik ke atas ranjang.

Laki-laki muda itu lalu memeluk Jesika dari belakang dan mendaratkan ciuman di pipi kekasihnya.

“Enak aja, emangnya kamu super mesum!” Jesika pura-pura cemberut namun segera tersenyum.

Ricko memalingkan wajah Jesika, kemudian bibir mereka beradu. Sambil melumat bibir lembut itu, tangan Ricko bergerak masuk ke dalam kaos yang dipakai kekasihnya. Di balik kaos itu Ricko bisa dengan bebas merasakan seluruh kelembutan kulit tubuh Jesika. Tidak ada bra ataupun celana dalam yang menghalanginya.

Beberapa saat yang lalu Ricko telah dua kali merasakan kehangatan tubuh Jesika, namun baginya itu tidak akan pernah cukup. Jesika tahu itu, sehingga selama Ricko masih ada di kamar kosnya dia merasa tak ada gunanya memakai pakaian dalam.

“Katanya mau buru-buru meeting?” tanya Jesika sambil berpura-pura mencegah.

“Ah, mereka bisa nunggu,” sangkal Ricko.

Jesika tidak menolak lagi ketika Ricko merebahkan tubuhnya di ranjang. “Yakin bisa nunggu?” tanyanya.

Ricko mengangguk. Ciuman pun kembali mendarat di bibir Jesika. Ujung baju kaos Jesika terangkat dan handuk Ricko terlepas. Lenguhan panjang keluar dari mulut Jesika ketika batang tegang Ricko memasuki dirinya. Lenguhan itu semakin panjang ketika Ricko mulai menggerakkan pinggulnya.

“Aaaaaah, Sayaaaang,” lenguhan Jesika semakin panjang.

Kocokan rudal Ricko mendadak berhenti ketika terdengar suara nada ponsel miliknya dan milik Jesika yang berbunyi bersamaan.

Keduanya saling memandang. Ekspresi kesal Ricko disambut senyuman oleh Jesika. Rudal Ricko seakan ikut menjerit kesal karena harus terlepas dari jepitan lubang hangat milik Jesika.

Jesika dan Ricko beranjak turun dari ranjang dan mengambil ponsel masing-masing. Jesika melihat nomor tak terdaftar di layar ponselnya. Mungkin ‘klien’ baru, pikirnya. Awalnya dia ingin me-reject panggilan tersebut, namun kemudian membatalkannya.

Ditekannya tombol jawab.

“Halo,” ucapnya dengan nada manja dan menggoda seperti biasa.

“Jesika ya?” terdengar suara laki-laki.

“Iya dengan siapa saya bicara?” Jesika tanya balik.

“Ini dengan Om Lukman, Jes.”

Jesika terkaget mendengar nama itu. Sekilas dia melirik ke arah Ricko dan melihat laki-laki itu sedang sibuk dengan lawan bicaranya.

Bayangan kejadian di hotel beberapa hari yang lalu mendadak muncul kembali di kepalanya. Insting kewanitaannya langsung bereaksi kalau ini bukanlah sekedar telepon menanyakan kabar.

Hal ini dikarenakan, nomor ponsel ini hanya ia gunakan untuk menerima booking-an. Tak mungkin Pak Lukman mendapatkan nomor ini dari Felisia. Ia sama sekali tidak pernah memberitahukan nomor ini selain kepada pelanggannya. Dalam hati ia mencoba berpikir positif terhadap ayah dari sahabat karibnya ini.

“Oh ada apa Om?” tanya Jesika dengan suara yang sedikit direndahkan.

“Kamu sekarang jarang main ke rumah, lagi sibuk ya?” tanya Pak Lukman.

“Hhmm.. Iya Om, Jesika lagi sibuk nyusun skripsi jadi gak sempet main ke sana.” Jesika sedikit berbisik, kemudian berjalan menjauhi kekasihnya.

“Iya nih, Feli juga lagi sibuk bimbingan terus.” Pak Lukman mengamini jawaban Jesika.

“Gitu deh Om, soalnya pembimbing Jesika agak sedikit killer orangnya.”

“Memang siapa pembimbing kamu?”

“Prof Juanda Burhanudin, Om.”

“Oh Pak Burhan, Om kenal baik tuh sama dia, nanti Om bantu deh biar kamu bisa cepet bimbingannya.”

Sebagai salah seorang pejabat negara di Kementerian Pendidikan, Pak Lukman memang memiliki banyak kenalan di kalangan pimpinan universitas di Indonesia. Jesika tahu benar hal itu. Tapi sebagai gadis yang sudah makan asam garam, dia juga tahu pembicaraan ini pastilah basa-basi belaka. Ini adalah pembicaraan awal menuju ke sebuah pembicaraan inti.

Jesika kembali mencoba untuk berpikiran positif dengan Pak Lukman, namun itu sepertinya sulit. Semenjak pertemuan mereka di hotel beberapa hari lalu, penilaian Jesika terhadap Pak Lukman sudah sangat berubah.

“Wah makasi loh, Om,” Jesika berusaha akan kata-katanya terdengar gembira.

“Ya, tapi Om juga harus tahu judul dan kerangka skripsi yang kamu susun, biar Om bisa jelasin ke Prof. Burhan, teman Om itu.”

“Terus gimana dong Om?” Jesika bertanya namun sebenarnya dia sudah tahu maksud dari ucapan ayah sahabatnya. Untung saja dia sudah mulai mengatur sedikit rencana A, B dan bahkan D.

“Kamu ada waktu gak hari ini? Nanti kamu bawa skripsinya, entar Om baca dulu deh sekilas….” Sejenak Pak Lukman diam.

Terdengar desah napas panjang sebelum laki-laki itu melanjutkan kata-katanya. “Om juga sekalian mau ngomongin kejadian di hotel beberapa hari lalu itu.”

‘Oh my God! akhirnya aku harus juga menghadapi pembicaraan tentang kejadian itu,’ Jesika membatin.

Ucapan terakhir Pak Lukman membuatnya sedikit ragu. Haruskah dia menerima ajakan Pak Lukman ini. Sekilas dilihatnya jam di dinding hampir menunjukkan pukul sat siang.

Sejenak Jesika berpikir. Tak ada salahnya dia bertemu dengan Pak Lukman untuk sekedar ngobrol. Dia sendiri sudah cukup tersiksa apabila kejadian di hotel itu tidak segera terselesaikan. Apalagi Pak Lukman sekaligus menawarkan bantuan tentang skripsinya.

Pak Lukman bukanlah orang sembarangan dibidang akademisi. Laki-laki paruh baya itu bergelar doktor lulusan dari salah satu universitas di luar negeri. Apalagi kalau memang benar Pak Lukman kenal dengan pembimbingnya, itu berarti keuntungan bagi Jesika.

“Boleh deh Om, Jesika juga gak ada acara kok.”

“Oke kalau gitu kita ketemu di mall Bunga Bakung aja gimana?” tawar Pak Lukman.

“Aduh kejauhan Om, rame lagian di sana, gimana kalau Cafe Daun Bawang aja?” saran Jesika

“Gak masalah, kalau gitu Om tunggu jam 6 sore, oke?”

“Oke, Om.” Jesika berusaha bersikap renyah.

Bab 3

Jesika mematikan ponselnya. Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Ricko sudah hampir selesai memakai kembali pakaiannya. Jesika berjalan mendekati kekasihnya tersebut.

“Udah ditunggu?” tanya Jesika.

“Iya, sorry musti buru-buru.”

“Gak apa-apa,” Jesika tersenyum.

Ricko adalah seorang pengusaha muda. Direktur di sebuah perusahaan ekspor impor milik orang tuanya. Mereka sudah berpacaran hampir setahun lebih. Selain faktor fisik dan materi, Jesika juga melihat Ricko sosok yang bertanggung jawab sebagai calon suami.

Ricko tidak menginggalkannya setelah dua tiga kali menyetubuhinya seperti kekasih-kekasihnya yang lain. Ricko pun tidak segan mengelurkan uang banyak guna memenuhi segala kebutuhan hidup Jesika.

Laki-laki inilah yang menjadi penyebab selama beberapa bulan ini dia tidak lagi menerima booking-an. Sebagai gadis biasa, dalam hati Jesika berharap Ricko adalah pangeran tampan berkuda putih yang selama ini dicarinya.

“Siapa yang nelpon?” tanya Ricko.

“I-itu cuma dari saudara mama, nanyain nomor telpon papa.” Jesika berbohong.

“Oh gitu, ya udah aku berangkat dulu kalau gitu.”

Jesika mengangguk. Mereka pun berciuman.

“Gak nganterin sampai mobil nih?” goda Ricko.

Jesika tersenyum. “Boleh aja, kalau kamu gak masalah aku turun ke bawah gak pake celana terus gak pake daleman juga, hehehehe.”

“Hehehe, ya udah gak usah aja kalau gitu.”

Jesika tahu kalau Ricko kerap cemburu dengan laki-laki lain yang menatap tubuhnya. Termasuk juga kepada beberapa laki-laki yang berada di kosan tersebut.

“Oke bye.”

“Bye.”

Kembali mereka berciuman. Jesika memandangi Ricko sampai laki-laki itu menghilang di tangga. Kemudian ia menutup pintu kamar kosnya. Berjalan menuju ranjang, mematikan laptop dan beranjak ke kamar mandi. Ia ada janji yang harus dipenuhi sore itu.

Beberapa jam kemudian.

Jesika turun dari taxi dan berjalan masuk ke dalam cafe. Dia disapa oleh pegawai berpakaian semi formal dan Jesika tersenyum kearahnya. Sesampainya didalam, ia menyapu pandangannya ke sekeliling cafe.

Rupanya malam itu suasana cukup ramai, tidak seperti hari-hari biasa. Akhirnya Jesika melihat seorang laki-laki yang melambai ke arahnya. Laki-laki itu duduk di pojokan. Laki-laki itu adalah Pak Lukman. Jesika pun berjalan kearahnya.

“Udah lama Om?” tanya Jesika.

Pak Lukman berdiri.

“Gak kok baru aja, duduk, Jes.”

“Maaf Jesika telat, Om.”

“Gak apa-apa.”

Keduanya kemudian duduk.

“Kamu mau makan apa?”

“Jesika udah makan Om, makasih.”

“Kalau gitu kita minum aja deh, kamu mau minum apa?”

Jesika mengambil daftar menu dan sejenak mencermatinya. “Jus wortel campur tomat aja, Om.”

“Hhmm.. healty life?” Pak Lukman tersenyum.

Jesika membalas senyuman itu. “Ya gitu deh, Om.”

Pak Lukman kemudian melambaikan tangan memanggil pelayan untuk mendekat. Tak lama pelayan itu selesai mencatat pesanan mereka berdua.

“So.. mana skripsi kamu, Jes?”

Jesika kemudian mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Meletakkannya di atas meja dan menyalakannya.

“Ini Om..,” Jesika memutar laptop tersebut sehingga dapat dilihat oleh Pak Lukman.

Sejenak Pak Lukman tenggelam membaca secara serius skripsi tersebut. Jesika sendiri hanya memandang ke arah Pak Lukman.

Terbersit rasa kagum dalam diri Jesika melihat sosok laki-laki paruh baya itu. Untuk laki-laki berusia di atas kepala lima, Pak Lukman mungkin tidaklah tampan, namun berkharisma.

Tubuhnya yang sedikit berisi justru membuat karakter kebapakannya terlihat jelas. Rambutnya yang mulai jarang dan sedikit memutih, menunjukkan kalau dia adalah sosok yang intelektual. Paling tidak kesan itulah yang muncul ketika melihat sosok Pak Lukman, selain sosok lain yang baru diketahui Jesika beberapa hari yang lalu tentunya.

“Ini sudah bagus kok, malah bagus banget,” ucapan Pak Lukman menyadarkan lamunan Jesika.

“Serius Om?” Jesika matanya membulat.

“Kamu itu selain cantik ternyata juga cerdas ya,” puji Pak Lukman kagum.

“Ah, Om bisa aja.” Jesika tersipu malu dan hatinya berbunga-bunga.

“Kalau seperti ini sih, Om bakal gampang ngomongnya ke Prof Burhan, gak perlu waktu lama deh kamu buat lulus, Jes.”

“Aduh itu mau banget Om, Jesika kan mau lanjut studi ke luar negeri kayak Om.”

“Beneran?” Pak Lukman sedikit tersentak.

“Beneran Om..,” Jesika terdengar makin bersemangat.

“Nah kalau gitu entar Om bantu juga deh nyariin beasiswanya.”

“Wah, serius Om? Makasih sebelumnya, Om.” Kali ini Jesika semangatnya melonjak 64 %.

“Sama-sama,” Pak Lukman menjawab sambil tersenyum penuh wibawa.

Kemudian beberapa saat ekspresi wajah laki-laki itu berubah serius. Keduanya membisu dan terlihat kikuk. Beruntung suasana berubah ketika pelayan datang membawa pesanan. Itu pun tidak lama, karena setelah pelayan pergi suasana kembali seperti semula.

Pak Lukman berdehem. Kebisuan pun pecah.

“Oya, soal kejadian di hotel Membara itu….” Laki-laki itu kembali terdiam sejenak dan menatap tajam ke arah Jesika. Ekspresi wajah gadis cantik itu terlihat berubah tegang.

“Kita sudah sama-sama dewasa Jes, jadi Om bakal cerita terus terang saja….”

Pak Lukman kemudian bercerita panjang lebar tentang kebiasannya bermain wanita dan gadis-gadis muda. Dia mengaku bahwa dirinya terpaksa mencari pelarian karena Mellyanti-istrinya, sudah semakin jarang memiliki waktu untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri.

Masuk akal bagi Jesika karena dilihatnya Tante Melly, begitu biasa Jesika memanggilnya, memang terlihat lebih sibuk di luar rumah. Tante Melly lebih mengutamakan bisnis berliannya ketimbang mengurusi keluarganya.

Itu sebabnya Felisia juga menjadi sedikit agak bebas dan liar dalam bergaul. Terlebih lagi Rifky anak bungsunya. Jesika bahkan kini menduga jika adik Felisia yang baru SMA itu pun sudah mewarisi sifat-sifat ayahnya.

Akibat pertemuan tak diduga itu ternyata baik Pak Lukman maupun Jesika, tampaknya sama-sama ketakutan kalau rahasia mereka terbongkar. Jesika takut profesinya sebagai lady escort didengar orang tuanya. Pak Lukman pun di lain pihak, takut kalau kebiasaannya bermain perempuan tersebar akan merusak nama baiknya dan mempengaruhi rumah tangganya.

Keduanya kini sepertinya ada di dalam posisi yang sama. Sama-sama mengetahui rahasia pribadi satu sama lain. Sama-sama ingin rahasia itu tetap menjadi rahasia. Rahasia penting yang bisa mempengaruhi kehidupan masing-masing.

“Oke, itu semua cerita Om…,” ucap Pak Lukman sebagai penutup ceritanya.

Jesika tak tahu harus berkomentar apa. Dia sendiri di hotel Membra itu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Lukman dengan gadis belianya. Tentunya dia tidak bisa menyalahkan ayah sahabatnya itu.

“Kamu tahu, siapa gadis yang Om bawa waktu itu?” tanya Pak Lukman, yang sebenarnya sangat ingin Jesika tanyakan sejak lama. Jesika menggeleng karena memang sangat tidak kenal.

“Venty, mantan kekasihnya Rifky.”

“Hah!” Mata Jesika makin terbelalak.

“Panjang ceritanya, nanti kalau ada waktu Om ceritain, hehehe.”

“I.. ya Om,” balas Jesika gelagapan dan dia benar-benar tercengang.

Lama tidak mendengar komentar dari Jesika, akhirnya Pak Lukman pun melanjutkan kata-katanya. “Dan soal kamu, Om sudah dengar langsung dari Pak Ganwa.”

Jesika tersentak. ‘Ah aku tidak mungkin lagi bersembunyi tentang profesi sampinganku.’ Jesika kembali membatin.

“Dia cerita semuanya, tapi Om gak bilang kalau Om tidak kenal sama kamu. Nomor telepon yang tadi Om telpon juga Om dapet dari Pak Ganwa.”

Detik itu juga Jesika merasa kalau langit telah runtuh di atas dirinya. Laki-laki yang begitu dia hormati dan telah dianggap ayah kedua baginya, kini telah mengetahui rahasia terbesarnya. Pastinya tidak ada lagi yang akan disembunyikan Pak Ganwa dari Pak Lukman.

Untuk beberapa saat, kembali Jesika maupun Pak Lukman tak mengeluarkan kata-kata. Hanya suara-suara pengunjung cafe yang terdengar riuh di sekitarnya.

Setelah hening beberapa saat lalu Jesika berkata terbata-bata, “Tolong jangan kasih tahu orang tua Jesika, Om….”

“Oh tidak, tentu saja tidak,” Pak Lukman langsung menanggapi. “Dan Om juga minta kamu jangan bilang ke Tante Melly, apalagi ke Felisia dan Rifky.”

Jesika hanya mengangguk. Kini kartu AS mereka berdua sudah saling terbuka. Keduanya pun lalu saling berjanji untuk saling menutup mulut dan tidak akan membuka rahasia masing-masing. Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu, ketika Pak Lukman melanjutkan kembali kata-katanya.

“Jes, Om sudah dengar cerita Pak Ganwa dan juga cerita dia tentang temannya yang pernah, maaf, mem-booking kamu….” Pak Lukman tampak ragu melanjutkan kata-katanya, namun akhirnya laki-laki paruh baya itu melanjutkannya. “…Om juga pengen booking kamu.”

“Om…!” Ekspresi wajah Jesika bertambah tegang. “…Ja-jadi semua kebaikan yang Om tawarin tadi cuma karena ini?”

“Bu-bukan gitu Jes, bukan. Semua yang tadi Om tawarin itu adalah tulus karena kamu adalah sahabat baik Felisia, anak Om. Itu gak akan berubah walau kamu menolak sekalipun.” Pak Lukman menelan ludah dan terdiam cukup lama.

“Anggap saja sekarang ini, Om adalah orang lain yang gak kamu kenal….”

“Kalau Jesika menolak semua tawaran itu, apalah masih tetap berlaku?”

Pak Lukman mengangguk.

“Kalau Jesika menolak, apakah Om bakal cerita semua rahasia ini ke orang tua Jesika?” tanya Jesika pelan.

Pak Lukman menggelengkan kepala.

“Sekarang ini, Om adalah pelanggan kamu dan kamu sepenuhnya berhak menentukan apakah menerima atau menolak tawaran Om.”

Jesika terdiam sejenak untuk berpikir. Pak Lukman pun terlihat tegang menunggu jawaban gadis cantik itu. Setelah lama dalam kebisuan Jesika pun menjawab, “Tapi gak murah loh, Om.”

“Sebutin saja harganya….”

“Jesika gak mau nerima uang Om.”

“Loh terus?” Pak Lukman terheran.

“Udah lama Jesika pengen punya laptop Samsul yang terbaru, Om bisa beliin?”

Pak Lukman tersenyum lebar. “Kalau cuma itu sih sekarang juga Om bisa beliin kamu.”

Jesika terkejut kalau Pak Lukman akan menyatakan kesanggupan. Barang yang disebutkan Jesika tadi harganya begitu tinggi. Dia sebenarnya berharap Pak Lukman akan berpikir dua kali untuk menyanggupinya. Dengan demikian hubungan gelap yang mungkin akan terjadi di antara mereka bisa dihindari.

Ternyata Jesika salah memprediksi. Uang sebesar itu ternyata tidak menjadi masalah besar untuk Pak Lukman. Jadi kini bola panas kembali berada di pihak Jesika.

“Oke minum dulu jusmu, entar kita mampir ke Samsul counter di Jambu Mede Mall, biar kamu pilih sendiri yang kamu mau.” Pak Lukman menyebut salah satu mall khusus barang-barang elektronik terbesar di kota itu.

Jesika hanya bisa menurut. Paling tidak selama perjalanan nanti ia masih bisa berpikir. Berpikir apakah dirinya cukup gila untuk menjalin sebuah afffair. Sebuah hubungan gelap dengan ayah dari sahabat baiknya sendiri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED