Bab 1

"Aakkhh!" Sandiaga Gunadharma limbung dan segera berpegangan dengan kursi ruang meeting.

"Om Sandi! Om ... Om nggakpapa 'kan?!" seru Cantika Paramitha sigap menangkap tubuh sekretaris kepercayaannya yang nyaris terjerembap ke lantai.

Pandangan pria berusia lebih dari setengah abad itu mulai tak fokus dan pendengarannya pun berdenging sekalipun dia dapat mendengar ucapan panik bosnya. Mereka baru saja selesai meeting dengan klien. Tiba-tiba tubuhnya hilang kekuatan dan segalanya gelap.

"Tolong ... tolong, Om Sandi pingsan!" teriak Cantika yang segera dikerumuni oleh para bawahannya. Dia pun dengan sigap menyuruh asisten sekretarisnya memanggilkan ambulans.

Setelah ambulans datang mengangkut pasien emergency tersebut, Cantika mengikuti mobil ambulans menuju ke rumah sakit ditemani oleh Merry, asisten Sandiaga. Dia sendiri yang mengemudikan mobil Porsche silver kesayangannya yang berharga selangit itu.

"Mer, coba keluarganya Om Sandi dihubungi. Kamu kenal 'kan?" ujar Cantika sambil fokus ke lalu lintas di hadapannya.

Namun, Merry tak langsung menjawab pertanyaan big bossnya tersebut. Setahunya Pak Sandiaga Gunadharma itu seorang duda cerai mati, putera tunggalnya bersekolah di Inggris. Jadi otomatis tidak ada yang bisa dia hubungi segera.

"Maaf, Bu Tika. Sepertinya kalau mau menghubungi keluarganya bakalan percuma," sahut Merry memilin-milin tangan di pangkuannya sembari melirik ke Cantika.

"Lho kok bakalan percuma sih, memangnya kenapa? Kalau biaya perawatan rumah sakit sih ditanggung asuransi dari kantor. Paling nggak ada yang bisa nemenin beliau sampai sembuh nanti," balas Cantika bingung dengan jawaban bawahannya.

"Tiiiiinn!"

Mendadak dia menekan klakson dan mendesis kesal karena seorang pengemudi sepeda motor tiba-tiba memotong jalurnya hingga nyaris berserempetan. "Gila, orang ... cari mati dia!" rutuknya.

Merry pun terkesiap kaget. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya karena Cantika mengemudi dengan sangat berani. "Sabar, Bu! Nggak usah buru-buru ngejar ambulans, Pak Sandi dibawa ke Rumah Sakit Permata Indah Medika. Kalau nggak tahu alamatnya bisa buka googlemaps aja," saran wanita berusia awal 20an tahun tersebut.

"Ckk ... bukan salahku kali, Mer!" kelit Cantika membela diri. Dia pun memelankan laju mobilnya agar asisten sekretarisnya tidak kena serangan jantung dadakan.

Setelah situasinya kembali tenang, Merry pun menjawab pertanyaan Cantika tadi, "Putera tunggal Pak Sandiaga itu bersekolah di Oxford University, Bu. Sepertinya kalau mau dihubungi kemungkinan besok atau entah kapan baru bisa kembali ke Jakarta!"

"Wah, jauh bener sekolahnya! Kerabat lainnya selain puteranya apa nggak ada sih, Mer?" sahut Cantika tak ingin menyerah.

"Nggak ada, Bu. Bukan keluarga besar sepertinya. Di biodata karyawan nggak ada keterangan selain Mas Arsenio itu deh!" Merry ingin rasanya menambahkan, 'jangan ngeyel deh, Bu!'

Memang big bossnya itu terkenal keras kepala, makanya sampai usia 36 tahun pun masih saja menolak untuk dijodohkan oleh orang tuanya. Alhasil, Cantika Paramitha terkenal di perusahaan milik keluarga Wiryawan sebagai perawan tua.

Sesampainya di rumah sakit, mereka berdua menunggu hasil pemeriksaan dari dokter spesialis internis terkait kondisi Sandiaga.

"Keluarga dari pasien Bapak Sandiaga Gunadharma!" panggil sang dokter spesialis internis.

Cantika pun tergopoh-gopoh menghampiri dokter botak berkaca mata tebal itu dan menjawab, "Saya, Dok. Gimana kondisi Om Sandi?"

"Mbak, ini pasien didiagnosa gagal ginjal kronis. Sudah lama sepertinya gejalanya diabaikan oleh beliau. Pada akhirnya ketahuan juga ketika sudah parah. Dari pihak rumah sakit akan menyarankan untuk perawatan opname dengan serangkaian terapi. Pak Sandiaga harus bed rest sementara waktu ditambah cuci darah rutin. Tolong diisi formulir data pasien dan diurus administrasinya ya. Apa ada pertanyaan lainnya?" tutur Dokter Alfian Chandra.

Tak ada yang bisa diandalkan oleh Sandiaga selain dirinya saat ini, terpaksa Cantika mengambil semua tanggung jawab tersebut. "Baik, Dok. Saya mengerti, akan segera saya urus formulir data pasien dan administrasinya. Terima kasih!" jawab Cantika dengan tenang.

Selepas kepergian dokter, Cantika pun mengajak Merry untuk mengisi data pasien karena asistennya lebih tahu dibanding dirinya.

Saat Merry mengisi formulir, dia pun bertanya, "Bu, yang jagain Pak Sandi siapa? Maaf, saya ada keluarga yang nggak bisa ditinggal di rumah."

Cantika menaikkan satu alisnya menatap Merry. "Lho memangnya kamu udah nikah, Mer?" selidiknya heran.

Wanita muda itu menghela napas mendengar pertanyaan Cantika. 'Iya kali betah ngejomblo seumur hidup kayak Bu Tika?! Helloow!' batinnya. Namun, yang terucap dari mulutnya berbeda, "iya, saya punya suami dan anak usia 2 dan 4 tahun di rumah."

"HAHH? Rame amat. Hihihi," seru Cantika lalu cekikikan karena menurutnya itu di luar logikanya. Dia malas ribet dan lebih suka dengan hidupnya yang simple, tinggal sendirian di apartment. Akhirnya dia memperbolehkan Merry untuk pulang duluan naik taksi online sendirian.

Setelah dipindahkan ke ruang ICU, Cantika pun diperbolehkan menjenguk Sandiaga. Pria berumur yang biasanya masih terlihat awet muda dan energik itu nampak kuyu. Rupanya segala beban pekerjaan yang diembannya dari Cantika menguras tenaga dan pikirannya.

"Om Sandi ... maaf ya kalau selama ini aku bikin Om kecapekan kerja. Susah cari sekretaris yang bisa diandalin kayak Om!" Cantika mendesah lelah, dia mulai berpikir alternatif untuk mencari pengganti pria yang sedang tergolek lemah di ranjang ruang ICU tersebut.

Perlahan kelopak mata yang berkerut-kerut ujungnya itu pun membuka dan menatap ke Cantika. Dia berkata lirih sekalipun masih kedengaran oleh wanita berpenampilan kusut tersebut, "Tika, maafin Om ya. Malah jadi ngerepotin kamu begini. Apa kamu bawa ponsel punyaku?"

Cantika pun menyingkap pakaian sterilnya lalu mencari di tas selempangnya benda yang dimaksud Sandiaga. "Ada di aku, Om. Gimana? Apa ada sanak saudara yang ingin dihubungi? Bisa pakai HP atau aku bantu ketik pesannya?" cerocos wanita berwajah oval itu penuh perhatian.

Senyum lemah menghiasi wajah keriput Sandiaga, dia pun menjawab, "Siniin HP-nya. Biar kutelepon si Arsen biar pulang ke Jakarta!"

Nama Arsen itu dikenali oleh Cantika sebagai Arsenio, putera tunggal sekretarisnya. Dia pun segera menyerahkan HP canggih berharga 8 digit itu ke tangan Sandiaga.

Sejenak pria beruban berpotongan rambut klasik belah pinggir itu menunggu nada sambung dari panggilan video call-nya dijawab.

"Halo, Papa. Lho ... lagi dimana nih? Kok pake baju rumah sakit sih?!" Suara seorang pria yang agak berat dan husky itu terdengar dari loud speaker ponsel Sandiaga.

"Halo, Sen. Papa di RS ini, sakit lumayan berat. Kamu pulang gih ke Jakarta, ada yang harus kamu kerjain di sini. Papa minta tolong, oke?" jawab Sandiaga dengan nada tegas sedikit memaksa.

Pemuda di ujung telepon itu pun terdiam sejenak sebelum berkata, "Oke. Besok Arsen mungkin sudah sampai Jakarta. Papa baik-baik di sana ya. Ehh ... iya, siapa yang jagain Papa?"

"Bagus kamu nanya, Sen. Yang jelas bukan Mbok Darmi yang jagain Papa!" Sandiaga tertawa renyah melirik Cantika yang ikut cekikikan. Dia lalu melanjutkan, "yang jagain Papa spesial. Cakep, perhatian pokoknya. Udah buruan kamu cari tiket pesawat, Papa tutup ya teleponnya!"

Arsenio menaikkan sebelah alisnya mendengar sosok yang disebutkan oleh papanya. "Papa nggak cari mama baru buat Arsen 'kan?" tanyanya curiga.

Kali ini Cantika tertawa sampai menyembur mendengar tuduhan putera sekretarisnya.

"Mau tahu aja deh kamu! Pulang dulu, oke?" balas Sandiaga tak menyebutkan siapa sosok yang menemaninya di ICU saat ini.

Akhirnya Arsenio setuju lalu menutup teleponnya. Sedangkan, papanya berbicara kepada Cantika, "Sudah, kamu pulang aja sekarang. Om bisa sendiri di sini, banyak perawat yang jagain. Besok kalau Arsen sudah datang, mau Om kenalin ke kamu. Nggak usah cari pengganti sekretaris dulu, sementara biar putera Om yang bantu kamu di kantor, Tika!"

"Boleh. Tika ikut aja saran Om Sandi, pasti itu yang terbaik," balas Cantika menghela napas lega. Dia pun berpamitan dengan pasien ICU tersebut lalu pulang ke apartmentnya sendirian. Sungguh satu hari tak terduga dalam hidupnya yang biasanya tenang dan nyaman.

Sambil mengemudikan mobil mewahnya, Cantika teringat suara putera sekretarisnya yang membuat bulu romanya sontak meremang.

Bab 2

"BRUKKK!"

Tubuh ramping Cantika nyaris terkapar di lantai koridor rumah sakit bila tidak segera ditarik ke dekapan sosok bertubuh atletis yang menubruknya keras.

"Maaf, Nona. Apa kamu nggakpapa?" ucap cemas pemuda tampan dengan cambang tipis itu sembari memeriksa tubuh Cantika.

"Ehh ... ohh ... nggakpapa kok. Makasih sudah dipegangin, jadi nggak kena gegar otak barusan!" jawab Cantika meringis antara kesal dan lega sekaligus.

Pemuda itu pun melepas senyum kalemnya sebelum berlalu dari hadapan Cantika ke arah yang berlawanan. Beberapa langkah mereka saling menjauh lalu menoleh ke belakang bersamaan hingga berakhir salah tingkah dan berjalan cepat melanjutkan perjalanan masing-masing.

"Siapa sih cowok tadi? Bodinya kayak buldozer, keras gitu nubruknya!" gumam Cantika sambil melangkah cepat di atas high heels merah menyalanya menuju ke ruang perawatan tempat sekretarisnya dirawat.

Sandiaga Gunadharma sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan pasien reguler. Sesampainya di depan pintu kamar tersebut Cantika mengetoknya 3 kali sebelum membukanya.

"Halo, Om Sandi. Gimana kabarnya? Sudah segeran badannya ya?" sapa Cantika sembari menghampiri samping ranjang pasien.

"Hai, Tika. Iya, sudah mendingan dibanding kemarin, pusingnya berangsur hilang dan juga nggak begitu lemes. Oya, putera Om, Arsenio sudah sampai di Jakarta. Nanti kalau dia ke mari, kukenalin ke kamu!" balas Sandiaga sambil setengah berbaring memandangi Cantika yang duduk di sisi kiri ranjangnya. Dia lalu bertanya, "Cantika, kamu nggak kecapekan 'kan gara-gara Om sakit?"

Sebenarnya memang absennya sekretaris kepercayaannya membuat dirinya pontang-panting di kantor. Banyak pekerjaan yang biasanya dikerjakan Sandiaga, jadi harus dikerjakan oleh asisten sekretaris. Hanya saja berbeda hasilnya dan Cantika harus menambah stok kesabarannya banyak-banyak, semuanya harus dikomando satu per satu olehnya berbeda dengan bersama Sandiaga yang seolah autopilot.

"Ya gitu deh, Om. Si Merry rada telmi, semua harus kukasi tahu begini begitu sampai kelar," jawab Cantika menyederhanakan hectic yang telah dia lalui hari ini.

Baru saja mereka berbincang-bincang santai mengenai pekerjaan kantor, sosok pemuda bertubuh tinggi semampai dengan gugusan otot yang seolah tak mampu disembunyikan oleh sweater kelabunya membuka pintu kamar perawatan Sandiaga lalu melangkah masuk.

"Lho?" seru Cantika dan pemuda itu bersamaan.

Sandiaga pun mengangkat sebelah alisnya seraya berkata, "Kalian sudah ketemu sebelumnya? Ini Arsenio, anaknya Om!" Dia lalu berdehem. "Sen, itu bos Papa, calon bosmu juga. Namanya Cantika Paramitha."

Pemuda itu ber-oh lalu mengulurkan tangannya. "Arsenio Bernard Gunadharma, panggil aja Arsen, Bu!" ujarnya sambil mengulas senyum tipis yang membuat wajah berahang kokohnya semakin ganteng saja.

Dipanggil 'Bu' oleh pemuda di hadapannya membuat Cantika sedikit tercubit hatinya. 'Apa aku sudah keliatan setua itu? Kayak ibuk-ibuk?' batinnya gemas. Dia pun tertawa pelan. "Cantika Paramitha Wiryawan, panggil saja sesuka kamu, Arsen!" balasnya.

Mendadak Arsenio salah tingkah sendiri. Sebetulnya dia memanggil 'bu' lebih karena itu panggilan resmi standar untuk atasan perempuan yang dia tahu di Indonesia. Ataukah dia harus memanggil Cantika dengan Madam atau Miss yang lebih muda begitu kesannya?

"Tika masih single, belum nikah apa lagi punya anak, Sen. Mendingan panggil Miss aja deh biar sopan nggak sekadar panggil pake nama karena dia bakal jadi bos kamu nanti. Kata dokter, Papa harus bed rest beberapa bulan. Kasihan kalau Tika harus kerepotan cari sekretaris dan didik dari nol. Kalau kamu nggak paham kerjaan di kantor, tinggal telepon atau kirim chat buat nanya ke Papa, oke?" tutur Sandiaga mengarahkan puteranya tentang hibahan pekerjaan darinya.

Setelah mendengar pesan dari papanya, Arsen pun mengangguk paham. Dia lalu mengatakan hal lainnya, "Kata dokter spesialis internis, Papa bisa mulai cuci darah besok siang. Tadi Arsen udah tanyain."

"Oke, nggak usah ditemenin. Perawat yang ngurusin Papa sudah banyak di sini. Kamu mulai kerja besok pagi, jangan telat. Mendingan kamu pulang buat istirahat aja, penerbangan dari London ke Jakarta pastinya bikin capek 'kan?" ujar Sandiaga sengaja mengusir puteranya pulang.

"Fine. Ya udah, Arsen pulang dulu deh, Pa. Get well soon ya, jangan kelamaan sakitnya!" Arsenio terkekeh menepuk-nepuk paha papanya di bawah selimut.

Cantika pun disuruh pulang juga oleh Sandiaga karena dia tahu perempuan itu juga lelah bekerja seharian. Bahkan, wajah cantiknya berbayang gelap di bawah kedua mata lebar berbulu mata lentik itu.

Akhirnya Cantika mengikuti Arsenio yang juga ingin pulang. Dia pun teringat bahwa pemuda itu baru saja datang dari luar negeri dan bertanya, "Pulang ke rumah naik apa, Arsen?"

"Naik mobil papa sih, kenapa? Kamu apa bawa mobil juga atau mau aku anterin pulang?" balas Arsenio sambil merangkul bahu Cantika ke tepi lorong saat mereka berpapasan dengan brankar berisi pasien yang didorong cepat oleh paramedis.

Sedikit terkejut dengan perlakuan protektif pemuda yang baru dia kenal, Cantika sampai-sampai bengong menatap wajah Arsenio.

"Hello ... kamu ngelamun, Dear?" Pemuda itu melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Cantika.

"Ehh ... apa?" sahut Cantika yang tak biasanya tak fokus.

Arsenio menertawakan bos barunya itu. "Mungkin kamu kecapekan ya? Apa butuh aku setirin pulang ke rumah? Bawa mobil apa nggak?" ulangnya.

"Nggak ... nggak usah, aku nggak mau ngerepotin buat hal yang remeh. Apartmentku cuma sejam kurang jauhnya dari sini. Sampai ketemu besok pagi di kantor ya, Sen. Glad to know you, bye!" Cantika melambaikan tangannya lalu bergegas meninggalkan Arsenio di depan pintu lobi rumah sakit.

"Ciiiiitttt!"

"AWAS!" Arsen segera menyelamatkan Cantika dari tertabrak mobil dengan menariknya ke pelukannya.

Suara bunyi ban mobil yang menggasak jalan karena direm mendadak terdengar berdecit disusul klakson kencang. "Woiii jalan nggak lihat-lihat, cari mati kau!" seru pengemudi mobil sedan yang akan melintas di depan lobi rumah sakit dan nyaris menabrak Cantika melongokkan kepala dari jendela mobilnya.

"Bapaknya juga salah, sudah tahu ini jalur ramai, melintas kok kenceng amat!" omel Arsenio tak mau kalah galak dengan sang pengemudi mobil yang serampangan itu.

"Sen, udah ... udah. Jangan ribut deh, aku malas jadi tontonan orang banyak. Temenin ke parkiran mobil depan aja ya?" lerai Cantika dengan bijak lalu menggamit lengan pemuda itu melangkah bersamanya ke deretan mobil pengunjung rumah sakit.

Sembari berjalan, Arsenio pun menasihati Cantika, "Kamu harus hati-hati. Fokus dong kalau mau ngapa-ngapain. Hmm ... jadi kuatir aku jadinya ngelepas kamu pulang sendirian!"

Cantika terkikik karena merasa justru dia dalam posisi seperti bocah kecil diomeli oleh pemuda yang usianya jauh di bawahnya itu. "Sen, kamu nggak berasa kayak bapak-bapak gitu kalau lagi ngomel?" tukasnya.

"Ckk ... wajarlah, kamu tuh clumpsy. Jalan aja tadi kita tabrakan di lorong rumah sakit, giliran mau pulang malah mau ditabrak mobil. Gimana nggak cemas? Coba mau ngeles apa lagi kamu?!" Arsen berkacak pinggang di depan mobil Porsche silver milik bos barunya.

Cantika pun mendesah lelah. "Nggak biasanya aku begini. Entahlah ... kali aku capek dan banyak pikiran—"

Tangan Arsenio sontak terulur ke hadapannya. "Kunci! Kasih kuncinya ke aku, nggak usah protes. Aku anterin kamu pulang aja!" tegasnya tanpa mau ditolak.

Ketika pemuda itu bergeming menunggunya, Cantika pun mengalah juga. Dia mengambil kunci mobil dari dalam tas tangannya lalu menyerahkan ke Arsenio. "Apa nggak ribet kamu pulangnya?" ucap Cantika memikirkan cara pemuda itu pulang dari apartmentnya nanti.

"Naik ke mobil. Itu urusanku, yang penting kamu selamat sampai tujuan, oke?!" Arsenio membuka pintu mobil mewah itu dengan remote lalu membukakan pintu sisi penumpang depan untuk Cantika.

Bab 3

"Sen, mendingan kamu langsung pulang aja deh. Ngapain mesti nganterin aku ke atas?" Serentetan kata bernada protes itu meluncur lancar dari bibir berlipstick red coral Cantika.

Pemuda yang bersandar pada dinding lift itu bersedekap menaikkan alisnya dengan cueknya memandangi bos barunya yang nampak salah tingkah di hadapannya. "Pengin tahu di mana kamu tinggal, soalnya aku bakalan jadi sekretarismu 'kan? Masa nggak tahu bosku tinggal di mana sih!" debat Arsenio logis yang membuat Cantika berhenti protes lagi.

"TING."

Arsenio segera menggamit lengan wanita yang usianya jauh di atasnya itu keluar dari lift. Sedangkan, Cantika yang ingin protes sekali lagi karena tingkah sekretaris barunya yang terlalu protektif kepadanya itu batal melakukannya. Alih-alih dia berseru terkejut, "Papa?! Kok tumben ke mari?"

Pria beruban di sela-sela rambut hitamnya itu bersedekap menatap puteri sulungnya yang selalu menentang kehendaknya untuk segera menikah sembari berkata, "Memangnya nggak boleh berkunjung ke apartment kamu, Tika? Itu lelaki siapa? Pacar barumu?"

"Ehh ... bukan, Pa. Kenalin deh, ini anaknya Om Sandi yang bakal gantiin beliau sementara jadi sekretarisku," jawab Cantika mengendikkan dagunya kepada Arsenio agar berjabat tangan dengan papanya.

Dengan sopan pemuda tersebut mengulurkan tangannya ke papa Cantika. "Arsen, Om. Oya, saya pamit duluan deh biar nggak ganggu Miss Cantika ngobrol sama Om!" ujarnya lalu menganggukkan kepala sopan ke Pak Julianto Wiryawan yang menyunggingkan senyum tipis di wajahnya yang berkumis tebal.

Setelah papa dan anak itu masuk ke dalam unit apartment Cantika, papanya pun duduk di sofa berseberangan dengan puterinya itu. "Tik, Papa mau kamu buat setuju dijodohin sama Hans. Umur kamu tuh sudah 36 tahun, telat!" ujar Pak Julianto bernada keras dan menuntut.

"Hans?! Maksud Papa, anaknya Om Vano?" tanya Cantika meyakinkan bahwa dia tak salah orang yang akan dijodohkan menjadi calon suaminya.

Papanya mengangguk memastikan memang benar itu pria yang dia maksudkan. "Yaelah, kenapa mesti dia sih, Pa? Tika nggak suka, yakin tuh dia bukan penyuka sesama laki?" tolak Cantika.

Pak Julianto pun berdecak kesal lalu menjawab tegas, "Nggak ada ngeles-ngelesan lagi. Kamu tuh sudah nolak banyak pria, sampai-sampai calon suami yang dulu Papa ajukan ke kamu sudah nikah semua. Malahan anak Papa sendiri yang jadi perawan tua nggak merid-merid 'kan?!"

"Tap—"

"Nggak ada tapi-tapian, sudah pokoknya besok sore kamu harus datang ke Hotel Marriot di restorannya lantai 5. Dandan yang cakep, kamu sama Hans tunangan langsung!" ujar papa Cantika yang membuat wanita itu sukses terbengong-bengong sendiri.

Pak Julianto pun bangkit dari sofa karena tujuan kunjungannya ke apartment puterinya telah tercapai. "Kamu harus datang kalau nggak ... Papa akan bertindak tegas. Kamu nggak boleh lagi pegang posisi presdir di perusahaan keluarga kita!"

"Paa ... jangan gitu dong! Nikah itu bukan urusan naik ke pelaminan doang. Tika harus ngejalanin pernikahan itu sampai seumur hidup. Masa mau kawin cerai macem selebritis aja sih?! Tolong kasih Tika kesempatan buat pilih jodohku sendiri dong, Pa!" Cantika menarik-narik lengan papanya yang terus melangkah menuju ke pintu keluar unit apartmentnya.

Papa Cantika pun berhenti berjalan lalu menatap lekat-lekat wajah puterinya yang sekalipun sudah berumur kepala 3 nyaris 4, tetapi masih kinclong tanpa kerutan. Dia pun berbicara, "Tik, kamu tuh cantik seperti nama yang Papa kasih waktu kamu lahir. Sayangnya kamu terlalu pemilih dan kecantikan wajahmu itu akan hilang dimakan oleh usia. Apa kamu mau jadi biarawati gitu, melajang seumur hidup?!"

"Kalau belum ada yang cocok masa Tika maksain buat nikah sih, Pa? Anak-anak konglomerat yang dulu Papa jodohin ke Tika itu tukang main perempuan. Tika nggak suka diselingkuhi sekalipun mereka tajir melintir!" terang Cantika terkait perjodohannya yang selalu gagal dulu.

Namun, justru papanya tak mengindahkan alasan penolakan Cantika dulu. "Wajar, mereka bisa bayar cewek kalau lagi suntuk dan bosan sama kesibukan mereka mengelola perusahaan, Tik. Kamu juga jangan naif gitu dong!"

"Pokoknya Tika nggak setuju—"

"Kalau sama Hans besok kamu harus setuju. Papa sudah susah cari lelaki yang bobot bibit bebetnya oke punya. Kamu bakal jadi wanita yang beruntung kalau menjadi istrinya Hans Gozhali!" Pak Julianto pun membuka pintu keluar lalu meninggalkan puterinya yang terpaku di tempatnya nampak syok.

Selepas kepergian papanya, Cantika mengunci unit apartmentnya lalu pergi berendam dalam bathtub di kamar mandinya sambil menikmati segelas Taylor Vintage, red wine asli dari Portugal yang dibawakan oleh sobatnya, Nicole sebagai oleh-oleh.

Dia merenungi nasibnya yang tak kunjung menikah, bulan lalu dia baru merayakan ulang tahunnya yang ke-36. Dan di mata orang-orang dia sudah dianggap perawan tua. "Sok tahu!" desisnya kesal sembari menggerakkan sepasang betis indahnya di dalam air hangat berbusa putih hingga menimbulkan bunyi berkecipak.

Sepintas lalu Cantika teringat akan wajah putera Om Sandiaga. Dia tersenyum sendiri karena kelakuan Arsen yang gentleman. Apa mungkin karena pemuda itu tinggal lama di Inggris jadi sikapnya seperti orang Inggris yang sopan? Sayangnya usia mereka terpaut 11 tahun, apa yang bakal dikatakan oleh papanya Arsen kalau mereka berpacaran? Muke gile mungkin?! pikir Cantika geli.

Berbeda dengan Cantika yang sudah bisa berendam santai di bathtub, Arsenio masih harus mengambil mobilnya dengan naik taksi ke rumah sakit. Dia sekali lagi menjenguk papanya sebelum pulang ke rumah sendirian.

Hari telah larut malam, tetapi Arsenio masih belum mengantuk menyetir mobil papanya sendirian. Dia bersenandung lagu barat favoritnya dari Coldplay yang berjudul Yellow. Pertemuan pertamanya dengan bos barunya tadi meninggalkan kesan yang lucu, berapa usia wanita matang itu? pikir Arsen penasaran dalam benaknya.

Akhirnya dia pun sampai di rumahnya sejam kemudian. Arsenio pun segera mengurusi dirinya sendiri seperti biasa saat di luar negeri karena semua karyawan di rumah sudah beristirahat di mess belakang. Pemuda itu pun bergegas mandi.

Seusai mandi dengan air hangat, Arsenio pun berbaring di ranjangnya sambil memeriksa pesan di ponselnya. Ada satu pengirim pesan yang segera menarik perhatiannya, Cantika mengiriminya beberapa chat singkat.

"Besok jam 6 sore antarkan aku ke Hotel Marriot lantai 5 ya, Sen!"

"Pakai setelan jas rapi."

"Jangan sampai telat jemputnya!"

Tanpa menunda lagi Arsenio pun membalas, "Okay, Miss Tika. Oya, apa itu meeting client perusahaan?"

Balasan pesan segera masuk ke inbox pesan Arsenio. "Bukan. Aku mau dijodohin sama pria pilihan papaku besok di sana."

"What?!" seru pemuda itu terkejut. Dia pun mencoba berpikir positif lalu mengetikkan pesan balasan, "Siap, Miss. Besok saya jemput jam 6 sore. Selamat beristirahat!"

"Yaelah, hari gini masih dijodohin sama ortu. Kasian amat nasib kamu, Cantika. Hmm," gumam Arsenio lalu memasang ponselnya ke kabel charger di nakas samping ranjangnya. Dia pun mencoba memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah seharian ini.

Malam itu Arsenio bermimpi panas bersama seorang wanita, mungkin karena dia terlalu banyak memikirkannya hingga terbawa ke alam bawah sadarnya. Tubuhnya menggeliat dengan mata terpejam di atas ranjang. "Yess ... Baby, I'm yours!" desahnya mengigau dalam tidurnya. Siapa yang sebenarnya dimimpikan oleh Arsenio?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED