Aku akan kembali ke Jakarta empat hari lagi.
Kuharap, kau sudah memiliki jawaban atas lamaranku.
Dan kau tahu? Aku akan segera menemui Ayahmu jika kau menjawabnya.
Deretan pesan di layar ponsel itu membuat gadis dua puluh satu tahun itu mengembangkan senyumannya. Ia menahan untuk tak menjerit karena terlampau bahagia.
Memangnya siapa yang tidak bahagia bila di ajak menikah? Apalagi orang itu adalah laki-laki yang diinginkan.
“Kau terlalu terburu-buru, Kak,” gumam gadis dengan rambut panjang yang tergerai itu malu-malu. Tanpa terasa, ia telah menghabiskan hampir satu jam lamanya untuk bertukar pesan dengan sang kekasih.
Dan sekarang, ia harus bersiap pergi ke toko demi menjalankan pekerjaan yang telah ia tekuni selama hampir dua bulan itu. Namun, belum sampai ia berganti pakaian, suara ketukan begitu nyaring, dan terkesan tak sabaran.
Gadis itu melompat dan bergegas menuju pintu kamarnya. “Kenapa, Yah?”
Mata liar pria itu memindai penampilan gadis di hadapannya tampak kedip. ‘Kenapa semakin hari dia semakin cantik? Sial! Jika aku tak membutuhkan uang, tidak mungkin aku melakukan ini.’
“Yah?” panggil Vanessa seraya menggerakkan kedua tangannya di depan pria paruh baya yang merawatnya selama ini.
“Ah, maaf. Ayah ingin mengatakan sesuatu tentang pekerjaan menjadi asisten pribadi di tempat Mami Bertha,” ucap pria itu.
“Mami Bertha?”
“Ya. Dia teman Ayah, yang pernah kuceritakan padamu.
“Jadi? Dia sudah di kota ini?” Gadis pemilik nama Vanessa itu membulatkan mata terkejut.
Pria itu mengangguk. “Bersiaplah. Ayah akan membawamu ke sana sekarang juga.”
Dan di sinilah mereka berada. Di rumah besar bertingkat tiga dengan fasilitas yang menyilaukan mata.
Vanessa tak bisa membayangkan seberapa banyak uang yang dimiliki Mami Bertha. Namun, dari sini sudah dipastikan bila wanita itu memang bukan orang sembarangan.
“Apakah kau siap menerima pekerjaan dariku, Gadis Manis?” tanya pemilik rumah itu dengan ramah pada Vanessa.
Dengan cepat, Vanessa pun mengangguk, dan memberikan seulas senyum termanis yang ia miliki. “Benar, Mami.”
Manik abu-abu dari softlen yang terpasang di sana menatap tanpa kedip kepada Vanessa dengan senyum kecil tersungging teramat tipis.
“Tetapi, apakah saya bisa meminta waktu untuk kuliah, Mami?” tanya Vanessa yang langsung mendapat peringatan dari sang ayah. Namun, bukannya takut, gadis itu malah semakin berani mengajukan penawaran.
“Aku akan mengatur semuanya. Dan kau, cukup ikut denganku di sore hari.”
Tanpa menaruh rasa curiga, Vanessa langsung menyetujui, dan berakhir dengan tanda tangan kontrak di atas materai.
*
Desahan seorang wanita telanjang mengalun kencang saat berada di bawah kendali seorang pria, di salah satu kamar hotel bintang lima, di Ibu Kota Jakarta.
“Ahh ... lebih cepat lagi, Tuan. Ini nikmat sekali.”
Wanita dengan penampilan berantakan dan mengenaskan itu menikmati hunjaman kasar yang Rafael berikan. Bahkan ketika pria itu berkali-kali membolak-balikkan tubuhnya yang penuh dengan bekas sabetan ikat pinggang, ia tampak mendesah tanpa tahu malu.
“Arghh! Sial!” umpat Rafael karena tak kunjung mendapat ledakan kenikmatan. Sudah satu jam lamanya, tapi tak ada tanda-tanda rasa itu datang.
Kenapa? Apa yang salah? Padahal ia sudah melakukan semua yang menjadi kebiasaannya selama lebih dari lima belas tahun terakhir.
“Tuan?” Wanita itu melirih. Kecewa karena Rafael menarik kejantanannya yang masih tegang di dalam pengaman.
“Pergilah! Jangan tunjukkan wajah jalangmu itu di depanku!” perintah Rafael dengan kejam.
Astaga! Apakah pria itu sudah gila? Menyiksa wanita itu dengan sadis sebelum menggaulinya? Dan apa tadi ia bilang? Memerintahkan wanita itu pergi?
“Ta-tapi, Tuan ...”
Sepasang mata elang Rafael menatap nyalang. Ia mendekat, mencengkeram tangan wanita itu dan menarik turun ke lantai.
“Pergi!”
“Ba-baik, Tuan.” Wanita itu mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk bangkit. Tertatih ketika akan menuju pintu kamar hotel VVIP dengan keadaan polos. Namun, belum sampai membuka pintu, wanita itu lemas dan terjatuh.
Rafael seolah tak peduli. Yang ia lakukan adalah memanggil pengawal di depan pintu untuk menyingkirkan wanita itu.
Tak ingin tersiksa dalam hasrat yang belum terpuaskan, pria bertubuh telanjang itu menghubungi salah satu muncikari kepercayaannya.
“Siapkan satu gadis perawan sekarang juga! Aku akan membayarmu 10 kali lipat dari biasanya.” Satu perintah Rafael langsung mendapat sambutan baik dari sang muncikari.
Wanita yang kini sedang berada di berada di bawah tubuh kekasihnya itu segera mengiyakan permintaan pelanggan terbaik di tempat pelacuran miliknya.
“Baik, Tuan. Saya akan segera mengirimkannya.”
Seraya menunggu, Rafael yang berada di puncak gairah meraih botol sampanye untuk ia teguk. Dengan mata terpejam ia menikmati setiap cairan yang mengalir ke tenggorokannya.
Malam ini entah mengapa hasrat liarnya menggila. Bahkan setelah menyiksa dan menggauli wanita pilihannya tak juga membuatnya terpuaskan.
“Sial!” geram Rafael dengan napas memburu. Gigi di dalam mulutnya menggeletuk seolah ingin mencabik-cabik mangsa.
Gejolak hasrat di dalam dirinya membuat kepalanya pening. Ia bangkit setelah melemparkan botol sampanye ke lantai, menuju kamar mandi untuk mendinginkan diri.
Berdiri di bawah guyuran air dingin, Rafael memejamkan matanya. Menikmati setiap tetes air membasahi seluruh tubuhnya.
Ia pikir setelah selesai mandi hasrat liar itu akan mereda. Setidaknya untuk beberapa saat. Namun, kenyataannya mandi tidak memiliki pengaruh untuk meredam keinginannya.
Setengah jam kemudian, pintu kamar hotel diketuk oleh dua pengawal yang membawa seorang gadis tak sadarkan diri.
Seorang pria yang hanya memakai handuk di pinggang dengan rambut basah membuka pintu dan memberikan isyarat pada pengawalnya untuk membawa gadis itu masuk.
“Silakan bersenang-senang, Tuan. Kami akan berjaga di luar.”
Dengan isyarat tangan Rafael menanggapi ucapan mereka. Dan para pengawal itu keluar setelah membungkukkan badan sebagai penghormatan.
Tak langsung menghampiri gadis yang berada di atas ranjangnya, Rafael memilih mengambil sebatang rokok dan mengisapnya perlahan.
Seraya menikmati pemandangan dari dinding kaca yang membentang, ia berdiri dengan sesekali memejamkan mata menikmati embusan angin malam.
“Eugh.”
Lenguhan lirih yang berasal dari gadis di atas ranjang menarik perhatian Rafael. Ia membuang sisa rokoknya dan menghampirinya.
Duduk di sebelah ranjang, Rafael memandangi wajah dengan riasan kosmetik yang tak terlalu tebal. Ada dorongan tak kasat mata yang menarik dirinya untuk menyentuh wajah itu dengan segera.
Kemudian, adalah punggung tangan Rafael yang menyentuh kehalusan kulit pipi hingga membuat gadis itu membuka mata dan terbangun.
“A-Anda siapa?” tanya gadis pemilik nama Vanessa itu panik. Ia seketika terperanjat dan menyilangkan tangannya di depan dada.
Sepasang bola mata bening milik Vanessa bergerak gelisah kala mendapati dirinya di sebuah kamar dengan seorang pria. Apalagi pria itu hanya memakai handuk di pinggangnya.
Rafael berdecih. “Aku adalah Tuanmu,” jawabnya. “Dan tugasmu sekarang adalah melayaniku.”
Vanessa membelalakkan mata. Apa tadi katanya? Melayani? Siapa juga yang akan melayani pria asing seperti dia? Tapi ... tunggu! Apa yang dia maksud dengan melayani?
“A-apa yang Anda maksud? Sa-saya tidak mengerti.” Bibir Vanessa bergetar. Seingatnya tadi siang ia bersama sang ayah pergi ke tempat Mami Bertha untuk melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi. Namun, kenapa tiba-tiba ia berada di sini? Dan ke mana ayah?
Saat Vanessa berkelana memikirkan kejadian padanya siang tadi, gerakan cepat Rafael menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
“Lepaskan saya! Anda siapa berani memeluk saya seperti ini?” Ia memberontak. Tangannya memukul dada Rafael yang berotot dan polos. Tentu saja pukulan tak seberapa itu hanya dianggap sebagai pijatan oleh pria yang kini mendekapnya erat.
“Jangan berisik gadis bodoh! Layani aku dan nikmati saja!” Rafael menatap tajam Vanessa dan semakin mengeratkan dekapannya. “Kau akan mendesah keenakan jika sudah merasakan kejantananku!’
Layani dan nikmati? Oh, Tuhan? Apakah dia mengira jika Vanessa seorang jalang?
“Tolong! Lepaskan saya! Saya bukan jalang, Tuan,” teriak Vanessa dengan segenap tenaganya.
Apa-apaan ini? Kenapa semua seperti ini? Bukannya tadi ia di rumah Mami Bertha? Bagaimana ia bisa berakhir di sini dan bersama pria ini?
Pria yang sudah bergairah itu tak memedulikan rengekan Vanessa. Tanpa basa-basi ia mendekatkan wajahnya dan melumat bibir tipis Vanessa dengan brutal. Ia menekan bibir itu sekuat mungkin agar si empunya tak berdaya. Namun, ia tidak memperkirakan jika gadis itu kemudian menggigit bibirnya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Vanessa kala Rafael mendorongnya jatuh ke atas ranjang. Pria dengan amarah di wajahnya itu menindih tubuh Vanessa yang berusaha melepaskan diri. Mengunci pergerakan tangan dan kedua kaki Vanessa yang berontak.
“Diam kau, Gadis sialan!” bentak Rafael menggebu. Tetapi, Vanessa tak mengindahkan peringatan itu hingga tamparan susulan mendarat di pipi kanan kiri secara bergantian.
Puas dengan beberapa tamparan, tangan Rafael menarik dagu Vanessa yang meringis menahan sakit. Ada bulir-bulir air mata yang keluar dari sudut mata Vanessa, yang membuat Rafael tertegun.
Namun, hal itu tak berlangsung lama. Adalah tangan Rafael yang kemudian mengelus kedua pipi Vanessa secara bergantian dengan satu seringai di sudut bibirnya.
“Menurut lah jika kau tak ingin kesakitan,” peringat Rafael dengan tatapan tajam pada gadis yang sudah tak berdaya di bawah tubuhnya.
“Saya mohon, Tuan. Lepaskan saya,” pinta Vanessa sendu dengan sisa-sisa tenaganya. Namun, permintaan lirih itu tidak dipedulikan Rafael yang sudah berada di puncak gairahnya.
“Aku sudah membayar mahal atas tubuhmu. Jadi, sebelum aku puas ... aku tidak akan melepaskan kau begitu saja.” Ucapan itu diiringi dengan seringai menakutkan yang baru pertama kali Vanessa lihat.
Hati Vanessa berdenyut nyeri. Apakah tadi ia bilang? Dia sudah membeli tubuh Vanessa? Bagaimana mungkin? Atau jangan-jangan ...
Tanpa aba-aba Rafael kembali melumat bibir tipis Vanessa. Gerakan tangannya turun, membuka perlahan jubah tidur yang gadis itu kenakan, menampilkan sepasang keindahan payudara yang tak disanggah bra.
Pria yang bertelanjang dada itu semakin menekan bibir Vanessa. Mendesak masuk untuk merasakan kehangatan yang lain. Sementara itu, kedua tangan besarnya sudah menangkup kedua payudara yang memiliki ukuran cukup besar.
Rafael menggeram kala Vanessa tak kunjung membuka mulutnya. Ia memberikan gigitan-gigitan kecil di bibir tipis itu hingga si empunya membuka tanpa sadar.
Ia menerobos masuk. Menjulurkan lidahnya untuk merasakan semua rasa yang ditawarkan. Tanpa menghentikan pergerakan kedua tangannya yang kini turun ke bawah. Masuk ke dalam kain tipis yang tidak sepenuhnya menutupi area kewanitaan Vanessa.
Rasa lembab yang menyapa jemari Rafael membuat pria itu menggeram. Ia melepaskan ciuman liarnya. Menatap wajah Vanessa sesaat sebelum bangkit dan mengambil posisi di antara dua kaki gadis itu.
“Sial! Kau sudah basah!”
.
.
.
Bersambung ...
“Sial! Kau sudah basah!” Rafael menggeram kala jemarinya merasakan kelembaban di area kewanitaan Vanessa. Dengan gerakan cepat, ia mengambil posisi di kedua kaki Vanessa.
“Jangan Tuan! Saya mohon, jangan lakukan ini.” Vanessa serta merta bangkit dan menahan tangan Rafael yang memegang kedua kakinya.
Gigi pria yang diselimuti gairah itu menggeletuk dan sesaat kemudian ia menyerang bibir Vanessa dengan brutal.
Vanessa meronta dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Namun, semuanya menjadi sia-sia. Melawan seorang pria bertubuh besar dan tinggi bukanlah hal yang mudah. Apalagi pria itu berselimut kabut gairah yang liar.
“Tidak. Tolong lepaskan aku! Aku bukan jalang.” Teriakan itu hanya menggema di batin Vanessa. Pria yang kini memanggut liar bibirnya tak memberikan jeda sedikit pun. Terus menekan dan menuntut pembalasan.
Bercinta dengan seorang gadis perawan memang menyita kesabaran seorang Rafael Aditya Syahreza. Pria yang biasanya dipuaskan dan dipuja wanita itu harus bersabar untuk menuntun pergerakan gadis yang belum tersentuh untuk memuaskan hasratnya.
Hal itu tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jika gadis itu seperti Vanessa yang malah memberontak dan tak mengijinkan ia menyentuhnya.
Geraman dari bibir Rafael menggema. Sekali lagi perawan di dalam dekapannya masih meronta dan tak membuka mulutnya. Padahal ia ingin menikmati setiap rasa di dalam mulut gadis itu.
“Buka mulutmu, Gadis Sialan!” seru Rafael dengan tatapan tajamnya ketika ia melepaskan bibirnya. Apa-apaan gadis tak tahu diri ini? Apa dia tidak bisa luluh dengan ketampanannya?
Biasanya, meski dengan perawan sekalipun, gadis mana pun akan takluk hanya dengan melihat kedua matanya. Belum lagi jika ia menjanjikan nominal uang dan kepuasan.
Akan tetapi, kenapa perawan yang satu ini malah membangkang? Seolah menghindarinya?
Darah dalam tubuh Rafael mendidih. Ia merasa terhina dengan penolakan Vanessa yang terang-terangan itu. Dan jangan katakan jika seorang Rafael Syahreza tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Dengan tatapan nyalang ia mengunci semua pergerakan Vanessa. Menindih gadis itu dan memberikan dua pilihan yang sama-sama tak menguntungkan.
“Pilihlah! Kau minta disiksa sebelum bercinta atau setelahnya?” Sorot mata hitam bak elang yang mencabik-cabik itu tertuju kepada Vanessa. Membuat gadis itu membeku.
Perih. Ia tak bisa memilih salah satunya. Karena semua sama-sama tak ia inginkan. Untuk itu ia bungkam.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Vanessa sebelah kiri. Kerasnya pukulan itu membuatnya menoleh.
Sakit. Rasanya tak pernah Vanessa bayangkan.
‘Kenapa ia harus merasakan hal ini, Tuhan? Kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga mendapatkan hukuman seperti ini?’
Pertanyaan itu hanya terngiang di benak Vanessa. Menyadari bahwa ia tak bisa mundur untuk melawan pria itu, ia memejamkan mata. Menerima takdir yang ada di depan mata.
Emosi di benak Rafael semakin memuncak kala Vanessa tak kunjung memberikan jawaban. Bahkan, dengan beraninya gadis itu memejamkan mata. Yang mana menjadi satu penghinaan untuk pria itu.
Seringai berbalut emosi bertakhta di sudut bibir Rafael. “Jadi kau memilih pilihan pertama? Menginginkan siksaan sebelum menjemput kenikmatan?”
Tangan pria berdada telanjang itu kemudian beralih mencekik leher Vanessa hingga gadis itu meronta dengan mata membelalak.
Vanessa terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Kuatnya cekikan di lehernya membuat ia tak bisa berteriak atau memohon ampunan.
“Aku sudah memberimu pilihan. Dan kau tak memanfaatkannya dengan baik.” Rafael mendekatkan wajahnya. Berpaling kemudian di dekat telinga Vanessa. Memberikan gigitan kecil yang seiring waktu berubah menjadi brutal.
“Tolong!” Jeritan itu hanya bisa menggema di dalam batin Vanessa.
Bibir Rafael turun ke leher jenjang Vanessa. Ia mengisap kulit putih mulus dengan liar dan penuh tekanan. Meninggalkan banyak tanda kemerahan sebagai pelampiasan emosi yang bercokol di hatinya.
Belum pernah Rafael semarah ini ketika ia sedang bergairah. Biasanya ia akan bersikap layaknya manusia normal yang ingin bercinta, meskipun ada penyiksaan sebagai bumbu penyedapnya.
Perlahan tangan Rafael yang mencekik leher Vanessa melonggar. Kesempatan itu digunakan Vanessa untuk menghirup udara dengan rakus. Napasnya masih tersengal diiringi suara batuk berkali-kali yang menyiksa.
“Ayah, tolong aku?” lirih Vanessa dalam hati seraya menetralkan kembali debaran dadanya karena ketakutan.
Mata hitam Rafael kembali membidik Vanessa. Menghunjam dengan tajam dan tanpa ada rasa iba.
“Jadi .... masih mau membangkang?” Pertanyaan itu masih dengan nada yang sama. Dingin dan datar.
“Sa-saya bukan seorang jalang, Tuan,” ujar Vanessa dengan bibir bergetar. Ia masih ingin mempertahankan diri meskipun itu mustahil baginya.
Seketika tawa mengerikan menggema di kamar hotel itu. Siapa lagi pelakunya jika bukan pria yang menindih tubuh Vanessa.
“Apa kau bilang? Bukan seorang jalang?” Tawa Rafael lenyap digantikan sorot penghakiman. Layaknya memang hanya dirinyalah yang bisa memutuskan status pada diri Vanessa.
Yakin, Vanessa mengangguk dengan harapan masih ada kesempatan untuk bernegosiasi. Tapi, ia salah. Pria yang memiliki gairah liar seperti Rafael hanya akan bisa dilunakkan dengan bahasa tubuh. Atau lebih tepatnya percintaan panas yang membuatnya candu.
Namun, selama belasan tahun lamanya pria bergairah liar itu tak menemukan wanita yang mampu melakukan itu.
“Kalau begitu ...” Membidik kedua mata Vanessa, pria yang sepenuhnya berhasrat itu menekankan setiap ucapannya. “... aku yang akan menjadikanmu seorang jalang.”
Bagai ada sebilah belati yang menghunjam hati Vanessa kala itu. Sakit dan perih. Namun, tak terlihat.
“Jadi ... bersiaplah menerima takdirmu malam ini. Aku yakin ...” Mata hitam Rafael menyusuri keindahan yang sejenak memikatnya. Pada bibir, hidung, dan kedua payudara yang terpampang di hadapannya. “... kau akan menjerit puas ketika aku memberikan hunjaman terbaik, pada kewanitaanmu sebagai pengalaman pertamamu.”
Begitulah pria itu adanya. Kejam dan tak memedulikan orang lain. Selain itu, ia adalah sosok yang tak mau dibantah. Apa pun itu. Keputusannya adalah mutlak.
Air mata mengalir begitu saja di kedua sudut mata Vanessa. Gadis dengan bibir bergetar, diiringi ketakutan itu hanya bisa berteriak dalam hati tatkala bibir Rafael kemudian menyerangnya brutal.
Pria yang sudah dikuasai gairah itu tak memberi jeda sedikit pun. Melumat sesuka hati. Menekan dengan semua kekuatan yang ia miliki.
Tangan Vanessa terkunci oleh Rafael yang sigap seiring pergerakan bibirnya yang kemudian turun ke leher. Mengisap hampir seluruh permukaan dada atas Vanessa, sebelum pada akhirnya meraup puting payudaranya yang telah menegang.
Vanessa merasakan ada yang salah pada tubuhnya ketika mulut hangat Rafael menenggelamkan putingnya. Rasa geli itu membuat gadis yang belum dijamah pria mana pun menggerakkan kedua kakinya, gelisah.
Ada desakan bertubi-tubi yang tak bisa dijelaskan. Bahkan ia merasakan dengan pasti denyutan di area kewanitaannya.
Berganti dari puting yang satu ke lainnya, Rafael seperti tak pernah puas merasakan rasa manis yang ditawarkan. Ini aneh dan baru pertama kali ia rasakan.
Mengabaikan pemikiran itu, tangannya kemudian bergerak turun. Menyentuh kewanitaan Vanessa.
“Buka pahamu!”
Perintah mutlak itu ingin dibantah, tetapi, tenaga Vanessa tak sekuat itu. Tangan besar Rafael memaksa untuk membuka paha Vanessa dengan kasar.
Tak kunjung mendapatkan apa yang diinginkan, Rafael melepaskan puting Vanessa dalam satu tarikan ketat yang membuat gadis itu melenguh.
“Kau memang seorang pembangkang,” desis Rafael tajam. Tanpa aba-aba kedua tangannya bergerak bersamaan. Membuka kedua paha itu dengan paksa. Kemudian menekuknya ke atas membuat pekikan tertahan keluar dari bibir Vanessa.
Jakun Rafael naik turun melihat betapa basahnya area kewanitaan Vanessa. Ia tak sabar untuk melesakkan kejantanannya yang telah berdenyut dan tegang ke dalam sana.
Maka, tak butuh waktu lama ia menarik handuk yang masih bertengger di pinggangnya. Meraih kejantanan yang sudah berdiri tegak itu dan menggesekkan pada permukaan kewanitaan Vanessa.
“Jangan lakukan ini!” Lirihan Vanessa yang tak sampai ke telinga Rafael menjadi tak berarti karena sesaat kemudian Pria itu menghunjamkan kejantanannya tanpa peringatan.
“Arghh!”
Rafael mengerang tatkala kejantanannya sudah sepenuhnya masuk ke dalam kewanitaan Vanessa. Otot-otot di dalam sana terasa mencengkeram miliknya dengan liat dan erat. Menciptakan sensasi warna-warni yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
“Sial! Ini sangat sempit sekali,” erang Rafael yang masih menikmati sensasi yang menyergap kejantanannya. Tak ingin menahan terlalu lama, ia pun kemudian bergerak. Menghunjamkan miliknya perlahan dan seiring waktu menjadi kasar dan liar.
Rasa yang Rafael rasakan benar-benar di luar akal sehatnya. Ini bukan pertama kalinya ia membuka segel seorang perawan. Tapi, kali ini rasanya sulit dijelaskan.
Mengabaikan rintihan kesakitan Vanessa disertai air mata yang mengalir, Rafael menghunjamkan kejantanannya. Menikmati cengkeraman kewanitaan yang membuatnya gelap mata lebih lama.
Ia menindih Vanessa. Menempelkan tubuh polos mereka. Gerakan pinggulnya semakin liar tatkala gelombang kenikmatan itu membayang di pelupuk mata.
“F*ck!” umpat Rafael karena terlalu menikmati aktivitas seksualnya. Gila. Ini benar-benar gila dan tak pernah ia bayangkan. Mengapa bisa sesempit ini?
Tak lama kemudian ia tak lagi bisa menahan kala ledakan itu datang. Meluluhlantakkan tulang-tulang di dalam dirinya.
Tubuhnya hancur berkeping-keping karena ledakan kenikmatan itu menyergap kuat di dalam kejantanannya. Cairan cinta yang berjumlah tak sedikit itu pun tumpah di titik terdalam.
Terlalu terpikat oleh tubuh Vanessa, ada satu hal yang Rafael lupakan sepanjang sejarah ia menggauli wanita. Adalah satu benda yang tak pernah ia lupakan untuk dipasang di kejantanannya.
.
.
.
Bersambung ....
Bukan Rafael namanya jika aktivitas ranjang itu hanya berlangsung satu kali saja. Setelah sepuluh menit memberi jeda, pria berhasrat liar itu kembali menggoda titik sensitif Vanessa dengan segenap keahliannya.
Mulai dari bibir yang membengkak, telinga yang sudah basah, leher yang penuh dengan tanda kepemilikan, dan berakhir di kedua payudara yang menantang.
Maka tidak heran jika dalam waktu tak lebih dari sepuluh menit, cumbuan Rafael memberikan hal yang tak main-main. Desahan Vanessa muncul dengan alami tanpa bisa dicegah.
Katakan wanita mana yang tak akan mendesah bila dicumbui sedemikian rupa dengan menggunakan bibir dan tangan secara bersamaan? Apalagi pihak yang melakukannya adalah Rafael. Pria yang memiliki jam terbang tinggi dan sudah terkenal keahliannya di atas ranjang.
“Sial! Kau sudah siap untuk kumasuki lagi!” Rafael menggeram karena denyutan di kejantanannya semakin bertambah. Ia tak sabar kembali menikmati jepitan otot kewanitaan Vanessa.
Tak ada hal yang bisa Vanessa lakukan tanpa adanya tenaga. Badannya terasa remuk di hajar dengan hunjaman asing di area femininnya. Ia sempat merasakan perih, tetapi tak sesakit saat pertama kali benda panjang itu menerobos dirinya.
Dan pada ketika Rafael menghunjamkan kembali miliknya, Vanessa hanya bisa diam menikmati. Sesekali ia mendesah karena rasa geli yang menggelitik di bagian puting payudara ataupun bagian tubuh bawahnya.
Pinggul Rafael bergerak naik turun dengan sensual. Ritme yang ia ciptakan dari gerakan itu menimbulkan rasa yang membuatnya candu dan tersedot dalam pusaran hasrat.
Seraya meremas kedua payudara Vanessa, Rafael tak memberikan wanita itu jeda sedikit pun. Ia terus bergerak liar layaknya kecanduan dengan rasa yang ditawarkan.
Hangat, liat, dan basah. Perpaduan rasa itu membuat seorang penikmat ranjang seperti dirinya tidak akan puas jika bertahan dengan satu posisi.
Rasa penasaran Rafael semakin bertambah kala orgasme yang dialami Vanessa sesaat setelah ia mempercepat gerakan pinggulnya, memberikan efek yang luar biasa. Ia sampai harus memejamkan mata kala ledakan itu berimbas pada kejantanannya.
“Ahh ...” Desahan Vanessa mengalun panjang. Membuat senyum di bibir Rafael tersungging. Lihat! Ia telah berhasil membuat gadis pembangkang itu mendesah keenakan.
Semakin lama otot-otot kewanitaan Vanessa membelit erat. Memberikan cengkeraman yang membuat Rafael mengerang.
“Kau nikmat sekali. Milikmu sangat sempit dan membuatku tak ingin berhenti,” desah Rafael yang belum mendapatkan pelepasannya. Ia terus bergerak sesuai keinginannya. Sesekali ia meremas dengan gemas kedua payudara itu.
Layaknya Vanessa yang masih bisa berbicara saja. Gadis yang sudah lebih dari dua kali mendapatkan pelepasan itu tak bisa berkutik lagi. Hatinya menolak, tapi tubuhnya berkata lain. Dan tanpa sadar malah melenguh kencang.
Pria yang menindihnya ini benar-benar membuktikan ucapannya. Milik pria itu memberikan kenikmatan yang tidak bisa ia bantah.
Seraya menarik seprai yang sudah kusut masai, lagi pelepasan itu menghantam Vanessa. Ia sudah tak berdaya, tapi tidak dengan Rafael.
“Sial! Aku bisa bercinta sepanjang malam jika kau senikmat ini!”
Tiba-tiba saja Rafael menghentikan hunjamannya. Ia menarik diri dan menarik tubuh Vanessa berbalik. Menuntun gadis itu mengambil posisi menungging.
Butuh kesabaran banyak karena gadis itu tak memiliki pengalaman. Namun, Rafael yang biasanya kasar dan tak sabaran menjadi pribadi yang lain.
“Ya. Betul begini. Bertahanlah! Aku akan membawamu menggapai surga dunia.”
Mengurut miliknya sesaat, Rafael kembali memasukinya. Menghunjamkan dengan cepat dan liar. Memburu kenikmatan yang setiap waktu membayang di pelupuk mata.
Seraya memejamkan mata, Rafael mendesis kala miliknya berkedut. Menumpahkan semua cairan cinta ke dalam rahim Vanessa.
Deru napasnya memburu setelah pelepasan hebat yang harus diakui Rafael sangat luar biasa. Ia menjatuhkan diri mendekap gadis yang kemudian merosot ke bawah.
‘Bagaimana bisa senikmat ini? Harusnya aku bisa bertahan lebih lama.’
Bisikan nakal yang terngiang di telinga membuat Rafael sempat goyah. Namun, melihat kedua mata Vanessa yang telah menutup sempurna, ia merasa puas dan menghalau hasratnya.
“Tidurlah, Sayang. Masih banyak waktu untuk kita bersenang-senang.”
Bukan kebiasaan Rafael ketika selesai bercinta ia akan memeluk wanita yang sudah memberikan servis padanya. Biasanya ia akan langsung mengusir wanita-wanita itu setelah dirinya puas.
Akan tetapi, bersama Vanessa semunya berubah. Rafael bahkan memanggil gadis itu dengan sebutan ‘Sayang’.
*
Sinar matahari telah menampakkan diri dengan angkuh. Menerobos di antara celah gorden tipis yang menutupi dinding kaca kamar hotel di mana sepasang pria dan wanita saling memeluk di dalam selimut.
Wanita dengan penampilan berantakan dan mengenaskan itu meringkuk di dalam dekapan hangat Rafael Aditya Syahreza.
Adalah Rafael yang menjadi pihak pertama membuka matanya. Ia mengerjap sesat sebelum melirik ke bawah, pada wanita yang bertumpu di lengan dan melekat erat dengan tubuhnya.
Salah satu sudut bibir Rafael tertarik ke atas mengingat permainannya semalam. Perawan satu ini benar-benar lain daripada yang lain.
Ego Rafael seketika memuncak. Ia menginginkan wanita ini untuk memuaskan dirinya.
“Akan kupastikan kau akan berada di atas ranjang bersamaku setiap malam.”
Ucapan lirih Rafael membuat Vanessa menggeliat pelan. Gadis yang sudah menjadi seorang wanita itu meneguk ludahnya kasar kala mendapati dirinya berada di dalam dekapan pria.
“Kau sudah bangun?”
Tak ada suara yang keluar dari bibir Vanessa. Wanita itu enggan menjawab dan memilih memejamkan mata kembali. Mengusir bayangan di mana ia mendesah kala pria itu merenggut keperawanannya.
“Jangan menguji kesabaranku jika kau ingin hidup tenang!” Rafael menekankan setiap perkataannya. Belum mendapatkan jawaban, ia mulai emosi.
Sebelumnya tidak ada wanita yang seberani ini. Tidak mau menjawab pertanyaannya. Apalagi membangkang.
Para wanita itu bahkan dengan sukarela akan melepas pakaiannya sendiri dan memohon di bawah kakinya, hanya untuk mendapatkan kesempatan merasakan kejantanannya.
Tapi apa yang dilakukan wanita tak tahu diri ini?
Tangan besar Rafael kemudian menarik rambut Vanessa. Membuat wanita itu menatap ke arahnya.
“Buka matamu!” titah Rafael. Namun, perintah itu diabaikan kembali oleh Vanessa.
Rafael kembali geram. Tanpa aba-aba ia menyerang bibir Vanessa dengan brutal. Melumat kedua belah bibir itu sesuka hati.
Tangannya turun menarik tekuk wanita itu untuk memperdalam lumatannya. Menekan bibirnya dalam serangan liar yang mampu meluluhlantakkan akal sehat Vanessa.
Rafael menggeram tatkala Vanessa tak kunjung membuka bibirnya. Ia memberikan gigitan sensual hingga wanita itu memekik.
Kesempatan yang tak disia-siakan Rafael untuk menyusupkan lidahnya. Mengobrak-abrik setiap indra perasa Vanessa. Ia membuai lidah di dalam sana.
Satu kali, dua kali, dan ketiga kalinya baru ia berhasil. Ia menautkan lidahnya dengan milik Vanessa yang perlahan mulai menerimanya.
Memang wanita mana yang tak luluh ketika ada buaian lembut di mulut dan payudara secara bersamaan? Jawabannya adalah tidak ada. Meskipun dalam keadaan tak suka, wanita akan mudah terbuai dengan sentuhan memabukkan yang diberikan seorang pria.
Perasaan senang menyusup di hati Rafael. Jelas saja, egonya akan merasa terluka jika tak mampu menaklukkan wanita di dalam dekapannya.
Gerakan bibir Rafael yang awalnya liar berubah jadi lembut. Menikmati setiap rasa yang bisa ia teguk dari bibir tipis Vanessa. Pun dengan Vanessa yang tanpa sadar membalas dengan gerakan kaku.
Cukup lama mereka saling berciuman. Saling memanggut, saling mencecap, dan saling bertukar saliva dengan irama yang menghanyutkan. Dengan tangan Rafael yang tak henti-hentinya memberikan godaan di puting payudaranya.
Adalah Rafael yang kemudian mengurai ciuman panas itu. Dan tidak akan salah bagi telinganya mendapati desahan kecewa dari bibir Vanessa.
Pria bermata cokelat itu menyeringai. Mengusap pipi Vanessa dengan lembut sebelum membisikkan kata-kata yang membuat wanita itu menahan malu.
“Jadi ini cara yang ampuh membuatmu menjadi penurut?”
.
.
.
Bersambung ....