Bab 1

Aku Kaindra, pria 32 tahun yang dulunya hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan besar milik Desmond Wijaya. Empat tahun lalu, hidupku berubah drastis. Pak Desmond, bos sekaligus ayah mertuaku, memperkenalkanku kepada putri tunggalnya, Tanika. Saat itu aku sudah mulai meniti karier di perusahaan beliau, bekerja keras hingga aku diakui sebagai salah satu aset perusahaan. Mungkin itu yang membuat Pak Desmond melihatku sebagai pasangan yang cocok untuk Tanika.

Tanika, di mataku waktu itu, adalah wanita yang berbeda dari kebanyakan. Dia anggun, ceria, menarik meski sedikit tertutup, dan memiliki aura yang sulit dijelaskan—seperti seseorang yang menyimpan banyak cerita di balik senyumnya. Aku, yang awalnya hanya merasa beruntung dikenalkan pada putri bos, perlahan benar-benar jatuh cinta.

Namun, selama masa perkenalan itu, aku mulai melihat sisi lain Tanika. Dia bukan wanita yang biasa mengurus bisnis atau tertarik dengan pekerjaan seperti ayahnya. Sebaliknya, dia lebih menyukai gaya hidup bebas bersama teman-teman sosialitanya. Ketika aku sedang bekerja keras di kantor, Tanika lebih sering terlihat di acara-acara brunch mewah atau foto-foto di tempat yang instagramable. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu. Bukankah setiap orang punya dunianya sendiri?

Segala keraguan yang ada seolah sirna setelah kami pacaran selama setahun dan kami memutuskan untuk menikah. Pak Desmond terlihat sangat bahagia saat kami memberi kabar itu. Aku yakin beliau berpikir pernikahan kami adalah langkah besar karena melihat potensiku yang bisa meneruskan warisan bisnisnya. Aku tak tahu apa yang sebenarnya Tanika rasakan, tapi aku sendiri benar-benar percaya bahwa pernikahan ini akan membahagiakan kami berdua.

Beberapa hari sebelum hari besar itu, aku mengalami kejadian yang sulit kulupakan. Aku tak sengaja melihat Tanika di sebuah mall, bersama seorang pria yang tak kukenal. Awalnya aku pikir itu hanya teman biasa, tapi saat mereka berbincang di kafe, aku melihat tangan mereka saling menggenggam. Bahkan Tanika menangis, dan pria itu mencoba menenangkannya dengan menyentuh wajahnya.

Hatiku rasanya jatuh ke lantai. Aku ingin menghampiri mereka, ingin menanyakan apa yang sedang terjadi. Tapi aku hanya berdiri di kejauhan, mengamati, dan mengambil foto mereka dengan ponselku. Aku menyimpan foto itu di galeri tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Malam itu aku pulang dengan pikiran bercampur aduk. Apakah ini hanya salah paham? Atau apakah Tanika sebenarnya menyembunyikan sesuatu?

Aku memilih untuk diam. Aku tidak pernah menanyakan hal itu pada Tanika, tidak pernah mengungkitnya. Dalam pikiranku, aku ingin percaya bahwa hubungan kami lebih kuat daripada hal-hal kecil yang mungkin terjadi di masa lalu. Lagipula, aku berpikir, pernikahan kami akan menjadi awal baru yang indah, bukan?

Hari itu aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mencintai Tanika. Bahwa dia juga mencintaiku. Dan dengan keyakinan itu, aku melangkah menuju hari pernikahan kami dengan penuh harapan, meskipun ada kerikil kecil yang terus menghantui pikiranku.

Pesta pernikahan kami berlangsung dengan kemegahan yang hampir tak masuk akal. Sebuah ballroom hotel bintang lima dipenuhi oleh lebih dari 1.500 undangan. Sebagian besar dari mereka adalah undangan keluarga Tanika dan rekan-rekan bisnis Pak Desmond. Hanya sedikit dari undangan itu yang benar-benar kukenal—rekan kerjaku di perusahaan milik Pak Desmond dan beberapa teman lamaku. Sisanya adalah dunia Tanika: lingkaran sosialita, tokoh-tokoh bisnis, serta pejabat tinggi yang tampaknya menjadikan pesta ini lebih seperti pameran kekuasaan dibandingkan perayaan cinta.

Aku mendengar selentingan di antara rekan kerja yang menyebutku mokondo—modal kon*** doang. Seolah-olah aku menikahi Tanika semata-mata untuk harta dan koneksi keluarga besar Desmond Wijaya. Aku tidak peduli. Materi? Status? Bukan itu alasanku. Aku benar-benar percaya, saat itu, bahwa aku dan Tanika saling mencintai. Bahwa hubungan kami dilandasi oleh rasa yang tulus, bukan sekadar kontrak sosial atau ambisi keluarga. Dengan keyakinan itu, aku mengucap janji suci di hadapan ribuan tamu dan memulai hidup baru sebagai suami Tanika.

Tahun pertama pernikahan kami seperti mimpi yang menjadi nyata. Tanika, yang sebelumnya tampak begitu sibuk dengan dunianya sendiri, tiba-tiba menjadi istri yang perhatian. Dia mendengarkan ceritaku, mencoba memahami beban kerja yang kutanggung di perusahaan keluarganya, bahkan sesekali memberiku kejutan kecil. Kami sering menghabiskan malam bersama, bercinta dengan gairah yang kurasa adalah bukti cinta sejati kami.

Namun, tidak semuanya terasa wajar. Ada hal-hal kecil yang mengganggu pikiranku—sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Tanika, misalnya, selalu mematikan lampu saat kami bercinta. Dia hampir tidak pernah menatapku, bahkan di saat yang paling intim. Sesekali aku menangkap sorot matanya, bukan dengan cinta atau gairah, tapi dengan sesuatu yang lebih mirip rasa bersalah atau kehampaan. Aku mencoba mengabaikan perasaan itu, berpikir mungkin aku hanya terlalu sensitif. Lagipula, aku merasa bahagia. Bukankah itu yang terpenting?

Waktu berlalu. Di tahun ketiga pernikahan, tekanan dari Pak Desmond mulai terasa. Beliau ingin Tanika segera hamil. Sebagai putri tunggal, Tanika adalah penerus garis keturunan keluarga Wijaya, dan Pak Desmond sudah tak sabar menimang cucu. Namun, hubungan kami justru semakin dingin. Kehidupan seksual kami perlahan memudar, dan Tanika semakin jarang berada di rumah.

Aku pulang dari kantor, berharap menemukan istri yang menyambutku dengan senyum, tapi rumah itu sering kosong. Hanya ada beberapa pembantu yang bertugas memastikan segalanya berjalan dengan sempurna. Sementara itu, Tanika sibuk dengan hidupnya sendiri. Jika tidak sedang bepergian ke luar negeri dengan teman-teman sosialitanya, dia pulang larut malam dengan aroma alkohol yang menyengat.

Aku penasaran dengan siapa saja dia menghabiskan waktu. Pernah beberapa kali aku mencoba mencarinya di tempat-tempat yang dia kunjungi, seperti karaoke atau klub malam. Tapi yang kutemukan hanya dia bersama teman-teman wanitanya, tertawa tanpa beban. Aku merasa seperti orang bodoh yang hanya menjadi pelengkap dalam hidupnya, tapi aku tetap menahan diri untuk tidak mengkonfrontasikan.

Suatu hari, kami berencana untuk menghabiskan waktu berdua. Aku bahkan sengaja pulang lebih cepat, ingin menepati janji kami untuk sejenak melupakan kesibukan masing-masing. Tapi saat aku masuk ke rumah, Tanika tampak tergesa-gesa. Dia merapikan tasnya dengan canggung, menghindari mataku, dan segera pergi tanpa banyak penjelasan.

Ada sesuatu yang janggal dalam tingkah lakunya malam itu. Rasa penasaran menguasai pikiranku, dan tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk mengikutinya dari jauh. Mobilnya meluncur menuju hotel bintang lima di pusat kota. Aku memarkir mobilku di kejauhan, menunggu dan mengamati.

Malam itu, aku menyaksikan dunia runtuh di depanku. Dari balik jendela lobi hotel, aku melihat Tanika dengan pria itu. Senyum di wajah pria itu, tangan yang menggenggam erat... dan kemudian lift yang menutup, membawa mereka pergi. Aku diam, tidak berani maju, tidak sanggup mundur. Aku hanya berdiri, merasa seperti orang asing dalam hidupku sendiri.

Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Aku ingin menghadapinya, ingin menuntut penjelasan. Tapi, setelah beberapa waktu duduk sendirian di dalam mobil, aku memutuskan untuk diam. Apa gunanya? Dengan segala kenyamanan dan materi yang sekarang kumiliki, meninggalkan Tanika bukanlah pilihan yang realistis. Aku tidak siap kembali ke kehidupan lamaku yang penuh perjuangan tanpa jaminan.

Aku menelan luka itu bulat-bulat, dan sejak malam itu, aku mulai memikirkan sesuatu yang mengubah segalanya. Jika Tanika bisa mempermainkanku, kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama? Jika dia bisa berselingkuh di belakangku, maka aku juga bisa lebih gila darinya.

Dan begitulah, malam itu menjadi awal dari petualangan baruku. Aku mulai mencari cara untuk mengisi kekosongan ini. Apa pun yang bisa membuatku merasa hidup lagi, meski untuk sementara. Jika cinta tak lagi menjadi alasan untuk bertahan, maka biarlah kebencian yang mengisi ruang kosong di hatiku, dan petualangan perselingkuhanku pun dimulai.

Bab 2

“Loh, Kai? Kok udah di kantor jam segini?” tanyanya, langkahnya ringan saat memasuki ruanganku.

Fiona adalah salah satu manajer di perusahaan kami, menjabat sebagai Sales Development Manager. Wanita berdarah campuran Arab, Cina, dan Betawi ini memang selalu menarik perhatian. Wajahnya cantik, dengan kulit terang, hidung mancung, dan bibir penuh yang selalu terlihat memukau meskipun tanpa banyak riasan. Tubuhnya pun sempurna, tinggi semampai dengan lekuk yang sering membuat pria di kantor mencuri pandang, meskipun mereka tahu itu risiko besar.

Fiona sudah menikah dan memiliki seorang anak. Suaminya bekerja di perusahaan swasta, dan meskipun tidak sering berbicara tentang keluarganya, dia terlihat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Tapi ada sesuatu tentang Fiona—cara dia membawa dirinya, aura percaya dirinya—yang membuat semua orang di kantor, terutama para pria, terpikat.

Selain cantik dan cerdas, Fiona juga terkenal tegas, terutama dalam menjaga pergaulannya dengan kaum pria di kantor. Tidak seperti beberapa rekan perempuan lain yang suka nimbrung dalam candaan berbau dewasa, Fiona selalu menjaga jaraknya. Dia tidak suka bercanda berlebihan, apalagi jika melibatkan sentuhan fisik.

Bahkan ada satu insiden besar yang melibatkan Badrun, seorang rekan kerja yang terkenal suka bercanda jahil. Suatu hari, Badrun mencoba mencolek pantat Fiona saat mereka bercanda di pantry. Fiona langsung murka. Dia tidak hanya memarahi Badrun di depan semua orang, tetapi juga mengajukan laporan resmi ke Pak Desmond.

Akibatnya, Badrun dipanggil ke ruang direksi, dan setelah investigasi singkat, dia dimutasi ke kantor cabang di pulau lain. Sejak kejadian itu, tidak ada satu pun pria di kantor yang berani bermain-main dengan Fiona. Mereka semua tahu bahwa di balik kecantikannya, ada ketegasan yang tidak bisa diremehkan.

Aku mengamati Fiona yang kini berdiri di hadapanku sambil menyilangkan tangan, menunggu jawabanku. “Aku memang sering datang lebih awal, Fi. Kamu tahu kan, kerjaan numpuk,” jawabku sambil menyandarkan tubuh ke kursi.

Dia tersenyum kecil, mengangkat alisnya dengan nada menggoda. “Oh ya? Kerjaan numpuk atau nggak dikasih jatah sama yang dirumah?” tanyanya sambil menatapku dengan sudut matanya yang tajam, senyum liciknya tersungging di bibir.

Aku tertawa kecil, lebih karena kaget dengan caranya melontarkan kalimat itu. Fiona jarang sekali melontarkan candaan yang terdengar seperti ini, apalagi denganku.

“Kenapa? Kepo ya?” balasku santai, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang muncul tiba-tiba.

Dia hanya mengedikkan bahu, senyumnya masih tersungging dengan nada menggoda. “Yah, beda aja. Jam kerja kamu sekarang sama waktu awal-awal nikah, kan kelihatan berubah. Dulu suka telat, sekarang malah datang kepagian,” katanya sambil melangkah mendekat.

Fiona menyandarkan tangannya di tepi mejaku, posturnya terlihat santai, tapi ada sesuatu dalam gerakannya yang terasa disengaja. Saat dia sedikit membungkuk, aku tak bisa menghindari pandangan sekilas ke arah belahan dadanya yang terlihat jelas di balik blus putihnya.

“Kenapa? Jadi penasaran sama jadwal aku sekarang?” balasku, mencoba mempertahankan nada bercanda.

Dia menatapku dengan sudut matanya, tatapan yang terasa menusuk dan, entah bagaimana, juga menelanjangi. “Yah, namanya juga observasi, Kai. Aku kan cuma perhatiin,” katanya ringan sambil merapikan rambutnya ke belakang.

Aku tertawa kecil, meskipun di dalam kepala pikiranku sudah mulai berputar-putar, mencoba membaca apa maksud sebenarnya dari sikap Fiona pagi ini. Fiona memang dikenal dengan caranya yang tegas dan profesional, tapi momen seperti ini—ketika dia berada terlalu dekat, dengan bahasa tubuhnya yang seolah menguji batas—membuatku berpikir bahwa ada sesuatu yang berbeda.

“Jadi, apa sebenarnya alasan kamu ke sini pagi-pagi? Nggak mungkin cuma mau perhatiin aku, kan?” tanyaku, akhirnya mencoba membawa percakapan kembali ke jalur yang lebih aman.

“Oh, iya,” jawab Fiona sambil meluruskan tubuhnya sedikit, tetapi tetap berdiri dekat meja kerjaku. “Aku mau tanya soal laporan buat presentasi nanti. Udah selesai belum? Soalnya timku lagi keteteran ngejar deadline, dan aku takut ada yang miss.”

Aku menatapnya sekilas, mencoba membaca situasinya. Fiona memang terlihat sedikit lelah, tapi seperti biasa, dia tetap menampilkan senyuman yang membuat semua orang percaya bahwa dia baik-baik saja.

“Laporanku sudah selesai dari kemarin,” jawabku sambil kembali mengetik di layar laptop.

Dia menghela napas lega, senyumnya melebar. “Kalau gitu, nanti sore kamu tolong cek laporanku gimana?” tanyanya dengan nada setengah merayu.

Aku menoleh, mendapati matanya yang penuh harapan. Aku tahu beban Fiona memang tidak ringan, apalagi sejak dia dipromosikan tiga bulan lalu menjadi Manajer Sales Development. Promosinya mengejutkan banyak orang di kantor—bukan karena dia tidak kompeten, justru dia sangat cerdas dan cekatan. Tapi beberapa orang menganggap dia masih terlalu muda untuk posisi itu. Dengan ekspektasi tinggi dari Pak Desmon, setiap langkah Fiona selalu dalam sorotan.

“Ya sudah, nanti sore kamu bawa aja mentahannya. Biar kita cek bareng-bareng,” jawabku akhirnya.

Fiona mengangguk sambil tersenyum, senyuman lega yang membuat wajahnya tampak lebih cerah. “Oke, thanks banget ya, Kai. Pokoknya kamu selalu the best buatku.” Dia mengedipkan mata dengan gaya khasnya, lalu menambahkan, “Soalnya kalau sampai ada kesalahan di presentasi besok, yang disemprot pasti aku duluan.”

Aku tertawa kecil, menggelengkan kepala. “Santai aja, Fi. Kalau kita kerjain sama-sama, harusnya nggak ada yang salah.”

Dia merapikan rambut panjangnya, menyelipkan ujungnya di belakang telinga. Gerakannya terlihat santai, tapi aku tahu dia selalu sadar dengan setiap gerak-geriknya. “Oke deh, kalau gitu aku balik ke ruangan dulu ya. Nanti sore aku mampir ke sini lagi,” katanya sambil melangkah ke arah pintu.

Saat Fiona melangkah keluar, aroma parfumnya yang lembut tertinggal di ruangan. Aku menghela napas, kembali menatap layar laptop di depanku. Fiona memang selalu menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena kecerdasannya yang memancarkan rasa percaya diri.

Namun, untuk beberapa alasan, entah disengaja atau tidak, tapi aku merasa percakapan barusan lebih dari sekadar urusan pekerjaan. Fiona mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap kali dia tersenyum atau menatapku, ada sesuatu yang bergetar di dalam diriku—sesuatu yang selama ini aku abaikan, tetapi kini mulai terasa lebih nyata.

Aku kembali bekerja, mencoba menyingkirkan pikiran tentang Fiona. Meski begitu, aku tak bisa memungkiri bahwa percakapan tadi sedikit mengalihkan pikiranku dari masalah yang lebih besar: pengkhianatan Tanika dan rencana apa yang harus kulakukan selanjutnya. Setidaknya, untuk beberapa saat, aku bisa melupakan rasa sakit itu. Tapi aku juga tahu, pertemuan dengan Fiona nanti sore mungkin akan membuka pintu ke babak baru dalam hidupku—babak yang rumit dan penuh risiko.

Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika telepon kantorku berdering. Aku mengangkatnya dengan satu tangan, masih memandangi layar komputer. Suara dari ujung telepon membuatku tertegun.

“Kai, ke ruangan saya sekarang,” suara berat Pak Desmond terdengar tegas, tanpa basa-basi.

Aku menutup telepon, menegakkan tubuh, dan menghembuskan napas panjang. Rasanya aneh, dia jarang memanggilku secara langsung seperti ini, apalagi tanpa memberi penjelasan sebelumnya. Dengan langkah yang sedikit berat, aku berjalan menuju ruangannya.

Setibanya di depan pintu, aku mengetuk pelan. Dari dalam, terdengar suaranya yang menyuruhku masuk.

Ketika aku membuka pintu, dia sudah duduk di belakang meja kerjanya yang besar, mengenakan setelan formal lengkap seperti biasa. Tapi ada yang berbeda hari ini—wajahnya terlihat lebih tegas, dan sorot matanya seolah kurang bersahabat.

“Tutup pintunya,” katanya dengan nada datar, tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang dibacanya.

Aku menutup pintu dan berdiri di hadapannya. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyaku, mencoba menjaga nada suaraku tetap netral.

Pak Desmond akhirnya mendongak, menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat kedua tangan di depan dada.

“Santai saja, Kai,” katanya, meskipun nadanya masih terdengar serius. “Papa nggak lagi mau ngomongin kerjaan.”

Aku mengerutkan dahi, bingung. “Oh? Kalau begitu, ada apa, Pa?”

Dia menatapku lekat-lekat sebelum akhirnya melanjutkan. “Tadi pagi papa mampir ke rumah. Pembantu bilang kamu sudah berangkat kerja dari pagi sekali. Ada apa? Kamu ada masalah sama Tanika? Kalian ribut?”

Pertanyaannya terasa seperti pukulan. Aku terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat tanpa memberikan terlalu banyak informasi.

Bab 3

"Loh, Kai? Kok udah di kantor jam segini?" tanyanya, langkahnya ringan saat memasuki ruanganku.

Fiona adalah salah satu manajer di perusahaan kami, menjabat sebagai Sales Development Manager. Wanita berdarah campuran Arab, Cina, dan Betawi ini memang selalu menarik perhatian. Wajahnya cantik, dengan kulit terang, hidung mancung, dan bibir penuh yang selalu terlihat memukau meskipun tanpa banyak riasan. Tubuhnya pun sempurna, tinggi semampai dengan lekuk yang sering membuat pria di kantor mencuri pandang, meskipun mereka tahu itu risiko besar.

Fiona sudah menikah dan memiliki seorang anak. Suaminya bekerja di perusahaan swasta, dan meskipun tidak sering berbicara tentang keluarganya, dia terlihat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Tapi ada sesuatu tentang Fiona-cara dia membawa dirinya, aura percaya dirinya-yang membuat semua orang di kantor, terutama para pria, terpikat.

Selain cantik dan cerdas, Fiona juga terkenal tegas, terutama dalam menjaga pergaulannya dengan kaum pria di kantor. Tidak seperti beberapa rekan perempuan lain yang suka nimbrung dalam candaan berbau dewasa, Fiona selalu menjaga jaraknya. Dia tidak suka bercanda berlebihan, apalagi jika melibatkan sentuhan fisik.

Bahkan ada satu insiden besar yang melibatkan Badrun, seorang rekan kerja yang terkenal suka bercanda jahil. Suatu hari, Badrun mencoba mencolek pantat Fiona saat mereka bercanda di pantry. Fiona langsung murka. Dia tidak hanya memarahi Badrun di depan semua orang, tetapi juga mengajukan laporan resmi ke Pak Desmond.

Akibatnya, Badrun dipanggil ke ruang direksi, dan setelah investigasi singkat, dia dimutasi ke kantor cabang di pulau lain. Sejak kejadian itu, tidak ada satu pun pria di kantor yang berani bermain-main dengan Fiona. Mereka semua tahu bahwa di balik kecantikannya, ada ketegasan yang tidak bisa diremehkan.

Aku mengamati Fiona yang kini berdiri di hadapanku sambil menyilangkan tangan, menunggu jawabanku. "Aku memang sering datang lebih awal, Fi. Kamu tahu kan, kerjaan numpuk," jawabku sambil menyandarkan tubuh ke kursi.

Dia tersenyum kecil, mengangkat alisnya dengan nada menggoda. "Oh ya? Kerjaan numpuk atau nggak dikasih jatah sama yang dirumah?" tanyanya sambil menatapku dengan sudut matanya yang tajam, senyum liciknya tersungging di bibir.

Aku tertawa kecil, lebih karena kaget dengan caranya melontarkan kalimat itu. Fiona jarang sekali melontarkan candaan yang terdengar seperti ini, apalagi denganku.

"Kenapa? Kepo ya?" balasku santai, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang muncul tiba-tiba.

Dia hanya mengedikkan bahu, senyumnya masih tersungging dengan nada menggoda. "Yah, beda aja. Jam kerja kamu sekarang sama waktu awal-awal nikah, kan kelihatan berubah. Dulu suka telat, sekarang malah datang kepagian," katanya sambil melangkah mendekat.

Fiona menyandarkan tangannya di tepi mejaku, posturnya terlihat santai, tapi ada sesuatu dalam gerakannya yang terasa disengaja. Saat dia sedikit membungkuk, aku tak bisa menghindari pandangan sekilas ke arah belahan dadanya yang terlihat jelas di balik blus putihnya.

"Kenapa? Jadi penasaran sama jadwal aku sekarang?" balasku, mencoba mempertahankan nada bercanda.

Dia menatapku dengan sudut matanya, tatapan yang terasa menusuk dan, entah bagaimana, juga menelanjangi. "Yah, namanya juga observasi, Kai. Aku kan cuma perhatiin," katanya ringan sambil merapikan rambutnya ke belakang.

Aku tertawa kecil, meskipun di dalam kepala pikiranku sudah mulai berputar-putar, mencoba membaca apa maksud sebenarnya dari sikap Fiona pagi ini. Fiona memang dikenal dengan caranya yang tegas dan profesional, tapi momen seperti ini-ketika dia berada terlalu dekat, dengan bahasa tubuhnya yang seolah menguji batas-membuatku berpikir bahwa ada sesuatu yang berbeda.

"Jadi, apa sebenarnya alasan kamu ke sini pagi-pagi? Nggak mungkin cuma mau perhatiin aku, kan?" tanyaku, akhirnya mencoba membawa percakapan kembali ke jalur yang lebih aman.

"Oh, iya," jawab Fiona sambil meluruskan tubuhnya sedikit, tetapi tetap berdiri dekat meja. "Aku mau tanya soal laporan buat presentasi nanti. Sudah selesai belum? Soalnya timku lagi keteteran ngejar deadline, dan aku takut ada yang miss."

Aku menatapnya sekilas, mengerti maksudnya. Fiona baru tiga bulan dipromosikan menjadi Manajer Sales Development, posisi yang membuatnya setara denganku di divisi Business Development. Promosinya cukup mengejutkan banyak orang, bukan karena dia tidak kompeten-justru sebaliknya, dia sangat cerdas dan cekatan. Tapi beberapa orang di kantor merasa dia masih terlalu muda untuk posisi itu. Aku tahu beban tanggung jawabnya besar, apalagi dengan ekspektasi tinggi dari Pak Desmond.

"Kalau gitu, nanti sore, kalau kerjaanku yang lain udah kelar, aku coba bantu ya. Kamu bawa aja data mentahnya ke ruangan aku, biar kita cek bareng-bareng," ujarku sambil kembali mengetik beberapa dokumen di layar laptop.

Fiona mengangguk sambil tersenyum. "Ok!, thanks banget ya, Kai. Aku tahu kamu pasti bisa diandalkan. Soalnya kalau sampai ada kesalahan di presentasi besok, yang disemprot pasti aku duluan."

Aku tertawa kecil, menggeleng. "Santai aja, Fi. Kalau kita kerjain sama-sama, harusnya nggak ada yang salah."

Dia merapikan rambut panjangnya, lalu melirik arlojinya. "Oke deh, kalau gitu aku balik ke ruangan dulu ya. Nanti sore aku mampir ke sini lagi," katanya sambil berjalan ke pintu.

Saat Fiona melangkah keluar, aroma parfumnya yang lembut tertinggal di ruangan. Aku menghela napas, kembali menatap layar laptop di depanku. Fiona memang selalu menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena kecerdasannya yang memancarkan rasa percaya diri.

Namun, untuk beberapa alasan, entah disengaja atau tidak, tapi aku merasa percakapan barusan lebih dari sekadar urusan pekerjaan. Fiona mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap kali dia tersenyum atau menatapku, ada sesuatu yang bergetar di dalam diriku-sesuatu yang selama ini aku abaikan, tetapi kini mulai terasa lebih nyata.

Aku kembali bekerja, mencoba menyingkirkan pikiran tentang Fiona. Meski begitu, aku tak bisa memungkiri bahwa percakapan tadi sedikit mengalihkan pikiranku dari masalah yang lebih besar: pengkhianatan Tanika dan rencana apa yang harus kulakukan selanjutnya. Setidaknya, untuk beberapa saat, aku bisa melupakan rasa sakit itu. Tapi aku juga tahu, pertemuan dengan Fiona nanti sore mungkin akan membuka pintu ke babak baru dalam hidupku-babak yang rumit dan penuh risiko.

Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika telepon kantorku berdering. Aku mengangkatnya dengan satu tangan, masih memandangi layar komputer. Suara dari ujung telepon membuatku tertegun.

"Kai, ke ruangan saya sekarang," suara berat Pak Desmond terdengar tegas, tanpa basa-basi.

Aku menutup telepon, menegakkan tubuh, dan menghembuskan napas panjang. Rasanya aneh, dia jarang memanggilku secara langsung seperti ini, apalagi tanpa memberi penjelasan sebelumnya. Dengan langkah yang sedikit berat, aku berjalan menuju ruangannya.

Setibanya di depan pintu, aku mengetuk pelan. Dari dalam, terdengar suaranya yang menyuruhku masuk.

Ketika aku membuka pintu, dia sudah duduk di belakang meja kerjanya yang besar, mengenakan setelan formal lengkap seperti biasa. Tapi ada yang berbeda hari ini-wajahnya terlihat lebih tegas, dan sorot matanya seolah kurang bersahabat.

"Tutup pintunya," katanya dengan nada datar, tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang dibacanya.

Aku menutup pintu dan berdiri di hadapannya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyaku, mencoba menjaga nada suaraku tetap netral.

Pak Desmond akhirnya mendongak, menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat kedua tangan di depan dada.

"Santai saja, Kai," katanya, meskipun nadanya masih terdengar serius. "Papa nggak lagi mau ngomongin kerjaan."

Aku mengerutkan dahi, bingung. "Oh? Kalau begitu, ada apa, Pa?"

Dia menatapku lekat-lekat sebelum akhirnya melanjutkan. "Tadi pagi papa mampir ke rumah. Pembantu bilang kamu sudah berangkat kerja dari pagi sekali. Ada apa? Kamu ada masalah sama Tanika? Kalian ribut?"

Pertanyaannya terasa seperti pukulan. Aku terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat tanpa memberikan terlalu banyak informasi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED