"Tidurlah denganku!" kata Dion yang membuat Renata membatu.
Air mata Renata merembes keluar, dirinya tidak menduga kalau Dion atasannya meminta hal yang tidak seharusnya diminta oleh seorang pria beristri.
Renata menatap Dion dengan tatapan yang tak biasa, suaminya sakit keras saat ini sehingga dia memerlukan banyak uang untuk biaya operasi dan dengan teganya Dion meminta Renata untuk tidur dengannya.
Apa ini, bagaimana bisa seorang istri tidur dengan pria lain saat suaminya sakit keras?
"Pak, suami saya sedang sakit keras bagiamana anda bisa meminta saya untuk tidur dengan anda?" tanya Renata dengan air mata yang terus mengalir.
Dion tertawa lalu beranjak dari kursi kebesarannya, dia mendekati Renata dan
meletakkan sebagian pantatnya di ujung meja dengan kaki yang ikut menumpu tubuhnya.
"Itu masalah kamu Renata, aku hanya memberikan dua opsi, pertama tidur denganku dan dapatkan uangnya. Kedua, kamu menolak permintaan aku dan melihat suami kamu meregang nyawa," kata Dion.
Air mata Renata mengalir semakin deras, hatinya sungguh tercabik, dilema kini bersarang di hatinya. Apa dia terima saja keinginan Dion, toh Andika suaminya juga nggak akan tau.
"Cepatlah Renata, aku tidak ada waktu menunggumu berpikir apalagi dibarengi dengan tangisan yang membuat aku muak," ucap Dion.
Renata mengiba dan memohon namun Dion tidak mau diajak berunding sehingga mau nggak mau dirinya menyetujui keinginan Dion.
"Baiklah," kata Renata.
Tersungging senyuman di bibir Dion, akhirnya dia dapat menyalurkan hasrat yang selama sebulan ini tak tersalurkan.
Dion adalah seorang CEO tempat Renata bekerja, Dion memiliki istri seorang dokter, karena kesibukan mereka yang padat inilah membuat keduanya jarang memiliki waktu untuk hanya sekedar canda tawa seperti sepasang suami istri pada umumnya.
Namun meskipun begitu dia sangat mencintai istrinya meski terkadang Dion mencari kepuasan di luar.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Dion.
"Satu Milyar," jawab Renata.
Dion membolakan matanya, tak disangka Renata memerlukan uang yang sangat banyak.
"Banyak sekali," sahut Dion.
"Anda bisa memotong dari gaji saya setiap bulan Pak?" ucap Renata.
Dion tertawa, kalau dipotong dari gaji, berapa tahun Renata bisa melunasinya.
"Karena kamu adalah staf aku jadi kamu nggak perlu hutang," tukas Dion.
Mata Renata berbinar tak disangka Dion masih berbiak hati padanya.
"Terima kasih pak," ucap Renata.
"Tapi satu kali kamu tidur denganku aku akan membayarnya seratus juta, kalau kamu memerlukan uang satu milyar bearti kamu harus tidur denganku sepuluh kali," sahut Dion.
Lagi-lagi Renata membolakan matanya, dia kira Dion hanya sekali tidur namun Dion meminta lebih sungguh diluar ekspektasi.
Kalau dipikir seratus juta adalah nilai yang kecil jika ditukar dengan harga diri tapi bagaimana lagi biaya rumah sakit untuk pasien kanker memang tidak murah apalagi harus kemoterapi dan lain-lain.
"Kenapa harus begitu?" tanya Renata.
"Seratus juta itu sudah angka yang fantastis mengingat kamu tidak virgin lagi, tapi kalau menurut kamu harga yang aku tawarkan terlalu murah, kamu cari saja orang lain," jawab Dion lalu dirinya beranjak dan siap-siap untuk pulang.
Pikiran Renata kalut, dia sungguh dilema. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerima harga yang ditentukan bos nya tersebut.
"Bagus, habis ini ikut aku ke hotel," kata Dion.
"Baik Pak," sahut Renata.
Setibanya di kamar hotel, Dion membersihkan diri lalu keluar dengan handuk kimono yang sudah di sediakan oleh pihak hotel sedangkan Renata hanya diam membatu di sofa sembari meremas jari-jemarinya.
Dion menghela nafas, dia sungguh kesal dengan Renata yang malah duduk mematung di sofa.
"Renata, apa kamu pikir dengan hanya duduk di sana hasrat aku akan tersalurkan?" protes Dion.
"Maaf pak, kalau begitu saya mandi dulu," sahut Renata lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setalah selesai mandi, Renata keluar dengan memakai pakaiannya kembali. Dion yang melihatnya menepuk tempat di sampingnya meminta Renata untuk mendekat.
"Kemari lah Renata," titah Dion.
Dengan langkah pelan dan tubuh gemetar, Renata mendekati Dion, dia duduk di tepi ranjang dengan pandangan ke bawah alias menunduk.
"Kalau kamu duduk membelakangi aku kira-kira kapan kita akan memulai percintaan kita Renata." Lagi-lagi Dion protes pada Renata.
Dion sungguh heran perasaan Renata adalah wanita bersuami seharusnya dia tau bagaimana adabnya orang yang akan bercinta.
"Maaf Pak," kata Renata.
Renata menghela nafas, perlahan dia mendekat namun masih dengan pakaian lengkapnya.
"Kamu sungguh membuat aku pusing, aku memberi kamu pilihan, aku atau kamu sendiri yang melepas pakaian kamu," kata Dion dengan nada yang tinggi.
"Biar saya saja," sahut Renata dengan takut.
"Oh ya tapi aku ingatkan, kamu jangan sekali-kali baper dengan percintaan panas kita, ini hanya untuk kesenangan semata nggak lebih," kata Dion.
Renata mengangguk sambil melepas satu persatu kancing bajunya.
Setelah semua terlepas dari tubuhnya, Renata menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Aku heran denganmu, baju dilepas tapi kini tubuh dibungkus selimut, mau kamu itu apa?" tanya Dion heran.
"Saya malu pak," jawab Renata, seakan tidak ingin tubuhnya dinikmati oleh Dion.
"Buka!" bentak Dion, dirinya sudah kehilangan kesabaran.
Dengan gemetar Renata membuka selimut yang menutup tubuhnya dan kini tubuhnya polos di samping Dion.
Dion menelan salivanya, sungguh Renata memiliki tubuh putih bersih dengan bagian dada yang lumayan besar.
"Apa kamu siap dengan percintaan panas kita?" tanya Dion yang juga ikut melepas handuk kimono yang dia pakai.
Langsung saja Dion menerjang Renata, dengan hasrat yang terus bergejolak dirinya menikmati bibir manis Renata, tangannya terus bergerilya menjelajah seluruh tubuh wanita yang akan memuaskannya.
Air mata Renata lolos sudah, tubuh yang seharunya dia jaga untuk sang suami kini harus dia bagi dengan pria lain yang tak lain adalah bosnya sendiri.
"Maafkan aku mas Andika yang telah berkhianat," batin Renata.
Lidah Dion terus menjelajah pucuk dada Renata sehingga membuat Renata mengeluarkan desahan lirih.
Puas dengan dada Renata dia segera menyatukan miliknya dan milik Renata.
"Aaahhhhhhh," lenguhan panjang dari keduanya terdengar nyaring.
Baik Dion maupun Renata sama-sama merasakan nikmat yang luar biasa. Goa yang masih sempit membuat Dion terasa dijepit.
"Nikmat sekali Renata, bagiamana bisa wanita bersuami memiliki goa yang begitu menggigit seperti ini," kata Dion yang mulai memaju mundurkan miliknya.
"Iya," sahut Renata dengan memejamkan matanya membayangkan kalau yang menusuknya adalah Andika sang suami.
Renata memang masih memiliki goa yang sempit karena dirinya baru dua tahun menikah dan setahun terakhir ini dirinya jarang sekali disentuh karena sakit yang diderita Andika sang suami.
Keduanya hanyut dalam percintaan panas penuh nikmat hingga mereka lupa kalau mereka adalah istri dan suami orang.
"Ah, sayang nikmat sekali." Kata sayang tanpa sengaja keluar dari mulut Dion, dia lupa kalau dirinya telah bercinta dengan wanita lain bukan dengan istrinya.
Tak hanya Dion, Renata pun sama. Cara bercinta Dion yang hampir sama dengan Andika sang suami membuatnya memanggil Dion sang atasan dengan sebutan mas, tangannya juga menarik rambut Dion yang sedari tadi menyerangnya tanpa ampun.
"Terus mas," ucapnya dengan diiringi desahan yang terus keluar dari mulutnya, Renata meminta Dion untuk memompanya lebih cepat.
Beberapa saat kemudian tubuh Renata dan Dion sama-sama menegang yang artinya mereka telah sampai di puncak kenikmatan.
"Besok pergilah ke dokter dan lakukan pencegahan supaya kamu tidak hamil karena kalau kamu hamil aku tidak akan tanggung jawab atas anak yang kamu kandung," kata Dion.
"Iya Pak," sahut Renata.
Tak hanya Dion, Renata juga nggak mau tumbuh anak Dion di rahimnya, dia hanya menginginkan anak dari benih Andika sang suami.
Entah berapa ronde mereka bergulat panas hingga saat matahari keluar dari persembunyiannya meraka masih terkapar tak berdaya tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.
"Mas Andika," teriak Renata setalah beberapa waktu kemudian.
Bola mata Renata memutar tak sengaja dia mendapati Dion yang masih memejamkan mata.
Air matanya lolos begitu saja, dia mengingat kembali percintaan panas antara dia dan atasannya semalam.
"Meski terpaksa namun aku menikmatinya, mas Dika maafkan aku," gumamnya.
Pikirannya kalut, seharunya dia tidak menikmati sentuhan Dion tapi entah mengapa dia malah menikmatinya bahkan meminta Dion untuk memuaskannya.
"Tuhan, maafkan aku yang telah mengkhianati suami aku." Renata bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menangis sehingga membuat Dion terbangun.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Dion.
"Tidak apa-apa Pak," jawab Renata lalu menghapus air matanya.
Dion meraih ponsel miliknya, dia meminta asistennya untuk mentransfer uang sebesar satu milyar pada Renata.
"Aku sudah mentransfer uang padamu, ingat kamu masih berhutang sembilan kali bercinta padaku," kata Dion.
"Baik pak," sahut Renata.
Baik Renata maupun Dion teringat pergulatan panas mereka, Dion yang meminta Renata untuk tidak baper kini malah dirinya terngiang percintaan panas mereka.
Setalah membersihkan diri, Renata pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Andika. Nampak Andika tak berdaya di atas bed, dengan langkah pelan Renata mendekati sang suami yang masih memejamkan mata.
"Mas, bagaimana keadaan kamu? apa masih sakit?" Renata bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak kuasa melihat keadaan suami tercinta, Renata menangis di samping sang suami dan suara tangisan Renata membuat Andika terbangun.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja." Suara lirih Andika seketika menghentikan tangisan Renata.
"Mas Dika, kamu bangun," kata Renata.
"Iya, bagaimana aku bisa istirahat kalau istriku ini menangis mengkhawatirkan aku," sahut Andika.
"Hari ini kamu akan dioperasi mas, aku sudah mendapatkan pinjaman uang dari kantor," ucap Renata yang membuat Andika manatap Renata dengan sayu.
"Maafkan aku sayang karena penyakit aku ini kamu jadi susah," timpal Andika dengan raut wajah yang sedih.
Renata menyilangkan telunjuknya di bibir Andika, tentu Renata tidak merasa susah sama sekali.
"Kamu ngomong apa, kita itu suami istri bagaimana mungkin aku merasa susah," sahut Renata.
Andika mengangguk dengan sedih, dia tau dan paham pasti istrinya bekerja keras untuk mendapatkan uang demi kesembuhannya.
"Oh ya semalam kamu nggak kesini?" tanya Andika.
Seketika tubuh Renata mematung, dia teringat kembali akan percintaan panasnya dengan Dion atasannya. Semalaman dia dan Dion bergulat sedangkan Andika mungkin menunggu kedatangannya.
"Iya maaf mas, semalam aku lembur sampa larut jadi langsung pulang," jawab Renata berbohong.
Baik Renata maupun Andika sama-sama terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, pikiran mereka kalut tak menentu.
"Mas aku berangkat kerja dulu ya, ini aku sudah telat," kata Renata yang membawa Andika keluar dari lamunannya.
"Baru kesini dan sekarang sudah mau pergi lagi?" protes Andika.
"Iya mas maafkan aku," Renata meminta maaf.
Meski ingin sang istri menemaninya namun Andika tidak ingin egois, Renata sudah banyak berkorban untuk dirinya.
"Baiklah tapi hati-hati ya," ucap Andika.
Sebelum pergi tak lupa Renata mengecup kening lalu mencium punggung tangan Andika.
"Berjuanglah sembuh demi aku mas, aku mohon," kata Renata dengan lirih.
Dengan hati sedih Renata keluar dari kamar inap sang suami, matanya terus mengeluarkan air mata, ketakutan kehilangan sang suami membuatnya menjual harga dirinya pada Dion.
"Maafkan aku mas Dika tapi apapun akan aku lakukan untuk kesembuhan kamu," batinnya lalu segera pergi ke kantor.
Setibanya di kantor, Renata mendapatkan teguran karena datang terlambat. Dia diperingatkan supaya tidak terlambat lagi atau dirinya akan dipecat tanpa pesangon.
"Bagaimana tidak telat semalam aku digempur habis-habisan oleh bos kamu," batin Renata.
Di meja kerjanya, Renata melamun pikirannya melayang kemana-mana, di sisi lain dia memikirkan sang suami di sisi lain dia terus saja terngiang pergulatan panas antara dia dan Dion semalam.
"Astaga kalau seperti ini mana bisa aku konsentrasi? mas Dika, pak Dion. Aarggggg." Renata mengusap rambutnya kasar.
Tak terasa jam makan siang telah datang, Renata yang kacau enggan untuk makan siang dia memutuskan untuk tetap di mejanya sambil memantau keadaan Andika lewat suster yang menjaganya.
"Renata." Seseorang memanggil dirinya.
Renata menoleh. Dia mendapati Jerry asisten Dion memanggilnya.
"Eh pak Jerry, ada apa pak?" tanya Renata.
"Kamu dipanggil pak Dion," jawab Jerry.
"Baik pak, saya akan kesana," sahut Renata.
Renata memberesi meja kerjanya lalu berjalan mengikuti Jerry menuju ruangan Dion, di dalam nampak Dion duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
Jerry segera mendekat untuk melaporkan kalau Renata sudah datang.
"Suruh masuk lalu kamu keluar," titah Dion.
Setelah Jerry keluar, Dion meletakan ponselnya lalu menatap wanita yang berdiri di depannya.
"Pulang kerja nanti kamu harus membayar hutang kamu," kata Dion.
Renata membolakan matanya dengan lebar, bagaiamana bisa Dion memintanya lagi? paling tidak ada jeda bukannya setiap hari lagipula nanti sore adalah jadwal Andika operasi.
"Tapi pak, nanti jadwal suami saya operasi jadi saya harus menemaninya," tukas Renata.
"Aku nggak mau tau Renata, lagipula bukan kamu kan yang mengoperasi suami kamu toh disana ada Dokter dan juga perawat yang akan menjaga suami kamu," kata Dion yang membuat Renata melemas.
Renata menatap Dion dengan tatapan mengiba, berharap Dion mau berbaik hati padanya dan mengijinkannya untuk menemani sang suami operasi namun begitulah Dion yang nggak mau tau apapun karena yang terpenting hasrat birahinya terpenuhi.
"Pergilah! setelah pulang kerja kamu tunggu aku di hotel kemarin, mintalah kartu akses ke resepsionis." Alih-alih mendapatkan iba dari Dion, Renata malah diusir dan disuruh pergi oleh Dion.
"Pak saya mohon pak." Renata mengiba.
"Kamu punya telinga kan Renata." Tatapan tajam Dion mengisyaratkan kalau dirinya tidak mau dibantah.
"Baiklah pak," sahut Renata dengan pasrah.
Dengan langkah pelan dirinya keluar dari ruangan Dion, air matanya merembes keluar. Dirinya sungguh tak habis pikir dengan Dion, tapi bagiamana lagi memang yang memiliki kekuasaan serta uang lah yang menentukan segalanya.
"Mas Dika maafkan aku," batin Renata.
Sepulang dari kantor, Renata pergi ke hotel tak lupa dia meminta kartu akses untuk masuk ke dalam kamar, setibanya di kamar Renata berkali-kali menghubungi rumah sakit untuk bertanya tentang operasi sang suami.
"Operasinya akan segera dimulai ibu, Pak Andika sudah masuk ke ruangan operasi bersama tim dokter yang menanganinya." Suster yang berjaga di sana memberikan laporannya.
"Baiklah terima kasih suster," sahut Renata dalam sambungan telponnya.
Renata melihat jam tangannya, dia beberapa kali melihat ke arah pintu, pikirannya terus melayang ke rumah sakit, dia mondar-mandir bingung memikirkan sang suami yang akan segera di operasi.
"Apa aku kesana saja ya, bodoh amat dengan pak Dion" gumam Renata.
Saat bersamaan Dion masuk, suara Dion membuat Renata tersentak kaget.
"Pak Dion," spontan lisan Renata memanggil Dion.
Renata mendekati Dion, mencoba berunding lagi supaya mengijinkannya pergi ke rumah sakit sebentar setidaknya sampai Andika selesai operasi.
"Nggak, sekali nggak tetap nggak," kata Dion yang membuat Renata menatap kesal atasannya tersebut.
"Saya mohon." Tatapan Renata mengiba, memohon pada Dion untuk mengijinkannya.
"Baiklah, kita main sebentar setelah itu kamu boleh pergi tapi setelah urusan kamu selesai kembali lagi kesini," ucap Dion.
"Baiklah," sahut Renata yang langsung menyetujui kemauan Dion.
Mereka berdua mulai melakukan ritual cocok tanam mereka, lagi-lagi belaian Dion membuat Renata melayang, keduanya saling menyerang satu sama lain untuk memburu hasrat yang telah berapi-api.
"Aaaahhhhhh," lenguhan Renata membuat Dion semakin bergairah, dia semakin memompa Renata dengan cepat.
"Lebih cepat mas," ucapnya dengan nafas yang memburu.
"Baik sayang," sahut Dion.
Tak berselang lama keduanya sama-sama menegang dan keluarlah sesuatu yang hangat dari area sensitif mereka masing-masing.
Dion yang lelah langsung saja menindih tubuh Renata sehingga Renata merasa sulit bernafas.
"Pak, saya tidak bisa bernafas," protes Renata.
Dion tersenyum, lalu menyingkirkan tubuhnya dari tubuh mungil Renata.
Setelah Dion menyingkir dari tubuhnya, Renata langsung beranjak dan memakai pakaiannya kembali.
"Saya harus segera ke rumah sakit pak," kata Renata
"Ingat Renata ini hanya pembukaan saja belum ke inti dan penutup jadi kembalilah secepatnya," pesan Dion.
"Baik pak," sahut Renata lalu pergi keluar.
Renata berjalan dengan langkah cepat, dia mengambil motornya dan segera pergi ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Renata berlari menuju ruang operasi dan nampak lampu masih menyala yang artinya operasi masih berlangsung.
Renata nampak cemas, pikirannya kemana-mana memikirkan Andika yang kini berada di ruang operasi.
"Mas kamu harus kuat, jangan sampai pengorbananku sia-sia," gumam Renata.
Lama menunggu dan akhirnya lampu operasi telah mati, beberapa dokter keluar dengan wajah yang lelah.
"Bagiamana Dok?" tanya Renata.
"Operasinya berhasil, kita berdoa saja semoga pasien segera siuman dan pulih," jawab dokter.
Renata nampak lega, dia sangat bahagia karena operasi suaminya telah berhasil yang bearti pengorbanannya menjadi budak ranjang CEOnya tidak sia-sia.
"Terima kasih ya Tuhan," ucap Renata dengan bahagia.
Kini Andika telah dipindahkan ke ruang perawatan, Renata terus menunggui suaminya yang masih memejamkan mata hingga dia melupakan Dion yang sedari tadi menunggunya di hotel.
"Mas kamu kok nggak sadar sadar." Rasa khawatir perlahan hinggap ke dalam pikiran Renata.
Renata menangis di samping Andika yang tak kunjung membuka matanya hingga Renata ketiduran.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi, Andika yang sudah membuka matanya sengaja tidak membangunkan istrinya dia juga meminta dokter yang datang untuk pelan-pelan dalam berbicara.
"Baik dok," sahut Andika dengan lirih.
Andika mengelus kepala sang istri yang tidur di dengan posisi duduk dengan kepala di tepi ranjangnya.
Mata Andika membasah, melihat sang istri yang pasti kelelahan sehabis bekerja langsung menungguinya, apalagi pekerjaan Renata kini bertambah banyak untuk biaya pengobatannya.
"Terima kasih sayang, aku janji setelah aku sembuh aku akan kerja keras," ucap Andika.
Dadanya sungguh sesak melihat sang istri susah karena dirinya, dia merasa kalau hanya jadi beban Renata.
Waktu terus berlalu jam dinding telah menunjukkan pukul tujuh pagi namun Renata masih memejamkan matanya.
"Sayang," panggil Andika dengan menggoyang tubuh Renata.
Perlahan Renata membuka matanya, dia sungguh bahagia karena Andika telah siuman.
"Mas kamu sudah sadar? gimana? mana yang sakit?" Renata memberondong Andika dengan banyak pertanyaan.
"Sudah enakan sayang, ini udah jam tujuh kamu nggak ke kantor?" tanya Andika.
"Iya mas. Maaf ya nggak memiliki banyak waktu untuk merawat kamu, nanti aku usahakan pulang cepat kalau aku nggak ada lembur," jawab Renata.
Sebelum pergi Renata meminta suster untuk menjaga Andika. Dia takut kalau ada apa-apa dengan Andika.
"Mas aku pamit ya," pamit Renata.
Sebelum ke kantor, Renata mampir rumah untuk membersihkan diri, saat dia membuka bajunya bau Dion yang menempel seketika membuat Renata ingat akan janjinya semalam.
"Astaga pak Dion?" kata Renata sembari membolakan matanya.
Renata segera menyelesaikan mandinya dan bergegas untuk bersiap.
"Pasti dia marah padaku," gumamnya dengan takut.
Renata melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi sehingga dia sampai di kantor lebih cepat.
Tepat pukul delapan dia tiba di kantor, saat berjalan menuju meja kerjanya Renata berpapasan dengan Dion.
"Ikut ke ruangan aku," titahnya dengan dingin.
Renata sungguh takut, dia yakin pasti Dion marah padanya, dengan sedikit gemetar Renata mengikuti Dion ke ruangannya.
Setibanya di ruangannya, Dion menyuruh Renata masuk.
Brak
Dion menutup pintu ruangannya dengan keras, untung ruangan Dion berada di lantai paling atas yang mana di lantai tersebut hanya ada ruangnya dan ruangan Jerry serta ruang-ruang lainnya yang hanya pada saat tertentu digunakan sehingga tidak akan ada yang mendengar.
"Kamu pikir siapa dirimu hah! membuatku menunggu hingga pagi!" teriak Dion yang membuat Renata tersentak kaget.
"Maafkan saya pak," sahut Renata dengan takut.
"Cih, kamu pikir maaf kamu bisa mengobati kekesalanku menunggumu hingga pagi!" tukas Dion.
Renata pasrah dengan apa yang akan Dion lakukan, dia semalam sungguh tidak ingat karena pikirannya tertuju pada Andika yang tidak kunjung sadar.
"Lantas apa yang harus saya lakukan pak?" tanya Renata.
Dion menatap Renata dengan tatapan memangsa, kekesalannya semalam membuatnya ingin memberi pelajaran pada Renata.
"Kamu harus mengganti malam kemarin dengan tiga puluh malam," jawab Dion.
Renata membolakan matanya menatap Dion, tiga puluh hari malam? lalu bagaimana dengan Andika?
"Pak saya mohon, saya bisa menggantinya sekarang tapi saya mohon jangan meminta tiga puluh hari pak, bagaimana dengan suami saya," Renata mengiba meminta belas kasihan Dion.
"Terserah kamu Renata, kalau kamu menolaknya kembalikan semua uang yang telah aku beri dan segera buat surat pengunduran diri," kata Dion.
Lagi-lagi Renata dibuat membatu, bagaimana mungkin mengembalikan uang yang sudah dia gunakan untuk membayar biaya perawatan sang suami?
"Ingat kalau kamu sampai lupa lagi, satu malam kamu harus menggantinya dengan tiga puluh malam," imbuh Dion.
Tubuh Renata terhuyung ke belakang, kakinya terasa lemas, rasanya untuk menopang tubuhnya dia tidak memiliki kekuatan.
"Saya mohon pak, saya ini wanita bersuami," kata Renata dengan menangis.