Bab 1

“Rania... kembalilah padaku! Jangan pergi dari hidupku. Aku tak bisa hidup tanpa dirimu.”

Seorang pria terus meracau di dalam sebuah kamar hotel. Pria itu tampaknya sudah sangat mabuk hingga ia tak sadarkan diri. Kedua bola matanya terpejam tapi mulutnya terus memanggil-manggil nama seorang wanita.

“Siapa Rania?” gumam Cecilia wanita yang malam ini di tugaskan untuk melayani tamu yang kata bosnya adalah tamu super spesial untuknya.

Bahkan karena saking sepesialnya tamu itu, Cecilia sampai diberi bonus hingga tiga kali lipat untuk pekerjaannya malam ini.

Nama pria itu adalah Moreno Dava Mahendra. Ia adalah seorang Duda beranak satu. Putri kecilnya baru berusia lima tahun. Dan istrinya meninggal tepat di hari putrinya itu dilahirkan.

Tentu saja itu merupakan pukulan hebat baginya. Hingga sering kali Moreno melakukan hal yang hampir saja menghilangkan nyawanya karena saking tak sanggupnya ia menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.

Meski ia adalah seorang duda, tapi ia adalah duda yang sangat sempurna di depan mata para wanita. Moreno jauh lebih gagah dari para bujangan ibukota. Ia adalah seorang pengusaha sukses berparas tampan. Tak hanya wajahnya saja yang rupawan, kemapanan yang menjadi dambaan para wanita juga melekat pada dirinya.

Mencari istri baru bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan jika memang Moreno menginginkannya.

Sayangnya mencari istri lagi, tak ada dalam catatan hidup Moreno. Baginya hidup hanya sekali, jatuh cinta sekali dan menikah pun juga hanya sekali baginya.

Meski maminya terus memaksa Moreno untuk menikah lagi, bahkan maminya sampai mencarikan sendiri wanitanya untuk Moreno. Namun, tetap saja Moreno kukuh dengan pendiriannya.

“Hei Pak! Apa Anda bisa mendengar saya?” tanya Cecil saat ia sudah melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya.

Baru pertama kali bagi Cecil bertemu dengan tamu yang membayarnya mahal, tapi tamu itu justru tak menikmati tubuhnya.

“Pak... Apa saya harus benar-benar melayani Anda tanpa Anda ingin menikmati tubuh saya terlebih dahulu?” tanya Cecil lagi karena tak ingin bayaran mahal atas dirinya terbuang tanpa adanya kepuasan yang diterima oleh pelanggannya.

Cecilia yang sudah bertelanjang penuh –naik ke atas tubuh Moreno. Ia duduk di atasnya dan mencoba untuk menggoda Moreno.

“Pak...” bisiknya dengan sangat lembut.

Perlahan Moreno membuka matanya. Ia yang sudah mabuk karena dijebak oleh rekan bisnisnya melihat Cecilia berada tepat di atas tubuhnya dengan jarak wajah yang begitu sangat dekat.

Ada rekan bisnis Moreno yang sengaja ingin menjatuhkan image Moreno dengan menjebaknya tidur bersama dengan seorang wanita. Lalu setelahnya berita tentang itu akan disebarkan untuk membuat nama baik Moreno hancur yang akan berimbas pada bisnisnya.

“Rania...” lirihnya.

“Hei tampan! Saya bukan Rania, saya Cecilia.”

Kedua tangan Moreno terulur meraih wajah Cecilia. Ia memang mabuk tapi matanya cukup yakin kalau yang ia lihat itu adalah Rania istrinya.

Sebelumnya Cecilia tak pernah melakukan hal ini. Ia tak pernah bercinta dengan pria yang sudah mabuk bahkan sampai salah mengenali dirinya.

“Aku sangat rindu kamu, Rania! Aku sangat merindukan dirimu.” Moreno merangkul dan menenggelamkan wajahnya untuk bisa mencium Cecilia.

Cecilia pasrah, ia tak peduli Moreno menyebutnya dengan sebutan apa. Mau Rania atau Raisa, yang jelas saat ini Moreno sudah mulai menyerangnya dengan penuh hasrat kerinduan yang menggebu.

Moreno terus menangkup wajah Cecilia dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ia mendaratkan begitu banyak ciuman lembut di atas bibir Cecilia yang membuat Cecilia mampu merasakan cinta begitu besar yang ingin diberikan oleh Moreno terhadap wanita yang namanya ia sebut-sebut terus.

Melayani pria gagah dan banyak uang adalah keahlian Cecilia. Satu tahun dalam hidupnya ia sudah menjadi seorang wanita penghibur yang ahli. Bahkan Cecilia adalah kesayangan bosnya. Ia hanya akan turun ke lapangan kalau ada pria kaya raya yang mau membayarnya dengan mahal. Dan dalam waktu satu tahun ini Moreno adalah orang ke empat yang bisa menikmati tubuh Cecilia.

Tuan Tanu yang sudah membeli Cecil dari ayahnya menganggap Cecil seperti anaknya sendiri. Ia sering menolak tawaran yang datang pada Cecil. Apalagi kalau tawaran itu datang dari pria tua hidung belang.

Kalau saja Cecilia setuju, Tuan Tanu tak akan memperkerjakan dirinya sebagai pelayan plus-plus di rumah bordilnya. Tuan Tanu sangat menyaynginya. Ia hanya ingin Cecil menjadi tangan kanannya yang akan membantu Tuan Tanu mengurus bisnisnya. Tapi Cecil menolak. Ia lebih memilih jadi salah satu pelayan plus-plus demi bisa melunasi semua hutang ayahnya. Ia tak ingin selamanya terikat dengan Tuan Tanu. Ia berharap akan bisa bebas suatu saat nanti ketika semua hutang ayahnya telah ia lunasi. Itulah alasannya.

Paras yang cantik dengan mata bulat dan hidung mancungnya. Tubuh yang seksi bak gitar Spanyol, membuat Cecilia menjadi primadona rumah bordil milik Tuan Tanu.

Gadis yang terpaksa harus menjual diri demi melunasi hutang-hutang judi ayahnya itu kini telah menjadi seorang profesional yang tak bisa sembarangan pria membookingnya.

Bayangan rasa takut akan ibunya disiksa membuat Rania melupakan harga dirinya yang terkoyak Dan memutuskan untuk menjalani nasib buruknya penuh keikhlasan.

Kini dengan kesadaran yang sudah hampir tak ada, Moreno pun begitu terhanyut dalam malam panasnya bersama dengan Cecilia. Gaya bercinta Moreno yang sangat lembut membuat Cecilia merasakan sensasi yang sangat berbeda dari biasanya.

Cecilia merasa dirinya dicintai, diinginkan, dihormati, didamba dan di kagumi. Setiap inci tubuhnya mendamba sentuhan lembut dari Moreno. Bahkan dua kali pelepasan yang dilakukan olehnya bersama dengan Moreno mampu meninggalkan kenangan yang begitu sangat manis untuknya.

Dan yang paling menyentuh hati Cecilia adalah penutupan permainan panas mereka. Di mana saat itu Moreno menarik tubuh Cecil ke dalm pelukannya dan mendekapnya dengan sangat mesra. Moreno juga mengecup keningnya dan mengatakan ribuan kata terima kasih dengan kedua bola mata terpejam.

***

“Ah berisik banget sih!!” seru Cecilia ketika deringan ponsel menghampiri telinganya.

Ia membuka matanya dan menemukan tubuhnya masih berada di dalam pelukan pria tampan bertubuh kekar yang semalam sudah menjelajahi tubuhnya sampai dua kali menggapai puncak kenikmatan.

“Siapa yang pagi-pagi buta begini menelponnyA?” gumam Cecil mengangkat lembut tangan Moreno yang tengah melingkar pada perutnya.

“Dua puluh tiga kali panggilan tak terjawab?!” seru Cecil kaget melihat banyaknya panggilan masuk dari nomor yang sama. “Apa mungkin ada yang penting?” tebak Cecil.

Saat ponsel itu kembali berdering, dengan sangat cepat Cecil pun langsung menjawabnya. Ia tak ingin sampai disalahkan karena membiarkan panggilan penting itu berlalu begitu saja.

“Moreno! Kamu di mana Ren?!” terdengar suara serius di seberang sana yang membuat Cecilia ragu-ragu untuk menjawab.

“Ma-maaf! Pak moreno saat ini sedang tidur.” Meski merasa ragu, Cecilia tetap menjawab seruan dari maminya Moreno. “Apa ada hal penting yang harus saya sampaikan padanya?” tanya balik Cecil.

“Kamu siapa? dan kenapa ponsel Moreno bisa ada sama kamu? Kenapa juga Moreno bisa tidur sama kamu?”

“Sa-saya....” Cecilia tampak bingung. Ia tak tahu harus mengatakan apa tentang dirinya yang saat ini sedang berada bersama dengan Moreno.

“Kalau kamu tidak bisa menjelaskannya, biar nanti Moreno yang akan menjelaskan pada saya. Sekarang tolong kamu bangunkan Moreno dan suruh dia sesegera mungkin ke rumah sakit karena Reina mengalami demam dari semalam.”

“Reina?!”

“Iya Reina –putrinya Moreno. Oh iya... bilang juga sama Moreno untuk dia mengajak kamu menemui saya sekarang juga.”

“A-apa?”

“Bilang saja padanya apa yang sudah saya bilang sama kamu. Saya tunggu kalian secepatnya di rumah sakit Mitra Bunda kamar Melati 001!”

Cecilia mengakhiri panggilannya dengan raut wajah penuh rasa bingung. Dan Cecilia lebih bingung lagi ketika melihat pria yang semalam sudah bercinta dengannya tengah menatap dirinya dengan tatapan dingin yang menghunus bagaikan pedang menembus ke dalam jantungnya.

“Kamu harus bertaggung jawab!” ucapnya Moreno dengan sangat dingin.

Bersambung.....

Bab 2

Perlahan kedua bola mata itu terbuka. Sang pemilik pupil mengerjap-ngerjapkannya agar pandangannya bisa lebih jelas.

Ketika mata indahnya telah terbuka sempurna dan pandangannya sudah jelas, ia pun termangu melihat apa yang ada di depan matanya.

Seorang wanita berparas sangat cantik ada di hadapannya. Tubuhnya yang indah hanya berbalut selimut saja mengingatkan Moreno akan malam-malam panasnya ketika masih bersama dengan istrinya.

Untuk sesaat Moreno terdiam. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Rania...” lirihnya di dalam hati. “Bukan!! Dia bukan Rania. Rania-ku sudah tiada” tegas Moreno pada dirinya sendiri. “Tapi siapa dia? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Rania,” tanya Moreno di dalam hati.

Hawa dingin seketika menghampiri Cecilia ketika ia sudah mengakhiri panggilan dengan Mami Susan –maminya Moreno.

Tatapan yang ia dapatkan dari pria yang semalam bercinta dengannya benar-benar tatapan yang super dingin dan tajam bagaikan pedang yang menghunus jantung.

“Anda sudah bangun?” tanya Cecil pada Moreno yang seketika membuyarkan lamunan lelaki itu. “Maaf... Saya terpaksa menerima panggilan masuk dari ibu Anda. Saya pikir pasti ada hal penting yang ingin di sampaikan olehnya hingga ia menelepon sampai puluhan kali.”

“Kamu harus bertanggung jawab!!” Seru Moreno.

“Tanggung jawab? Untuk apa?”

“Untuk apa yang sudah terjadi dan akan terjadi!!” tegas Moreno.

Setelahnya Moreno bangkit dari posisinya. Tubuhnya yang tak polos seutuhnya membuat Moreno tak canggung untuk menjauh dari dari ranjang.

Lalu, Moreno memunguti pakaiannya dan memakai kembali satu persatu pakaiannya itu. Setelah selesai memakainya ia pun kembali mendekati Cecil dan menghujani Cecilia dengan banyaknya pertanyaan tentang bagaimana mereka bisa tidur bersama di kamar ini.

Moreno terus mendesak dan memojokkan Cecil untuk mengaku. Hingga akhirnya Moreno merasa yakin kalau Wilson –rekan bisnis yang selalu merasa iri padanyalah yang sudah menjebaknya.

Kini Moreno tak bisa hanya tinggal diam. Dia harus membuat rencana Wilson tidak berhasil. Ia tak akan membiarkan Wilson menggapai mimpinya yang ingin merusak reputasi Moreno dengan cara membuat Moreno terlihat seperti seorang bajingan yang hobinya tidur dengan wanita murahan.

Bukan hanya mengancam akan melaporkan Cecil pada polisi, tapi Moreno juga akan menyeret rumah bordil dan pemiliknya jika sampai Cecil tak mau menuruti perintahnya.

Tak ingin menjadi penyebab masalah bagi orang lain. Bagi Tuan Tanu yang sudah seperti ayahnya dan rumah bordil yang sudah seperti rumahnya, Cecilia pun hanya pasrah mengikuti kemauan Moreno.

***

Setelah dipaksa dan diancam akan dilaporkan kepada polisi atas tuduhan penjebakan, Cecilia pun akhirnya setuju untuk ikut bersama dengan Moreno.

Moreno tahu apa yang harus dilakukan agar rencana licik Wilson tidak berhasil sekaligus menutup mulut maminya yang terus ribut menyuruhnya untuk mencari istri lagi.

Ya... rencanya Moreno akan menikahi Cecilia. Ia akan mengubur masa lalu Cecil agar tidak ada siapa pun yang tahu termasuk maminya sendiri. Sehingga saat Cecil menjadi ibu dari putrinya tak akan ada orang yang meragukan integritasnya.

“Ren....! Kamu habis dari mana sih? Dari semalam Mami coba buat hubungin kamu, tapi enggak bisa!”

“Maaf Ma, semalam Reno...._” kalimatnya sengaja dibiarkan menggantung. Ia menoleh ke arah Cecil yang membuat Cecil merasa canggung ditatap oleh Moreno dan juga maminya.

Mami Susan tersenyum saat ikut menoleh ke arah Cecil. Sepertinya ia mengerti dan merasa sangat senang sekali karena putranya semalam tak bisa dihubungi dan Cecil-lah yang menjadi alasannya.

Tapi, kemudian mami Susan seakan dibuat terkejut ketika ia lebih dalam menatap wajah Cecil yang begitu mirip dengan almarhum menantunya.

“Reno.... Apa dia?”

“Bukan Mam... Hanya kebetulan mirip saja!” potong Reno –ia sudah bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran maminya.

“Kamu harus jelaskan ini sama Mami! Mami enggak bisa kamu tikung seperti ini.”

Moreno mengerti kenapa maminya merasa ditikung olehnya. Moreno sendiri pun merasa Tuhan telah menikung dirinya dengan menakdirkannya bertemu dengan Cecil yang wajahnya sangat mirip dengan Rania.

“Mama....” di tengah percakapan, suara lirih Reina yang terdengar di telinga berhasil mengalihkan perhatian semuanya.

“Mama...” lirihnya lagi dengan tangan terulur ke arah Cecil.

Sesuai dengan apa yang sudah Moreno prediksikan. Dirinya yang sangat mengenali Rania saja hampir salah mengenali Cecil. Bahkan maminya juga demikian.

Dan tentu saja Reina yang sangat merindukan ibunya dan hanya bisa menatap fotonya yang terpajang di dinding kamarnya juga akan langsung menganggap kalau Cecil itu adalah ibunya karena wajah Cecil yang sangat mirip dengan wajah Rania.

Cecilia menoleh ke arah Moreno. Melihat anggukan kepala dari Moreno, Cecil pun akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri gadis kecil yang mengira dirinya adalah mamanya.

“Sayang... Kamu sakit apa?” tanya Cecil dengan sangat lembut.

Bukannya menjawab pertanyaan Cecilia, Reina justru malah ingin Cecil memeluknya.

“Mama... Kenapa Mama baru pulang sekarang? Kenapa Mama kerjanya lama sekali?”

Moreno memang masih merahasiakan tentang kematian istrinya pada sang putri. Sakit yang di derita oleh Reina-lah yang menjadi alasan dari kebohongannya.

Moreno tak ingin Reina sedih apalagi tak punya semangat untuk hidup karena tak memiliki ibu. Oleh sebab itulah ia terpaksa berbohong pada putrinya dan baru akan jujur saat Reina sudah besar nanti.

“Reno... Mami mau bicara!”

Mami Susan lalu menarik Moreno untuk pergi ke luar. Ia ingin mendengar cerita tentang Cecilia secepatnya. Ia tak ingin mati penasaran karena Moreno yang tiba-tiba datang membawa wanita mirip dengan almarhum istrinya.

Moreno pun mengikuti langkah maminya setelah ia memberi isyarat pada Cecil untuk menjaga putrinya.

Moreno mulai mengarang cerita tentang hubungannya dengan Cecilia saat cecaran pertanyaan dilayangkan oleh maminya. Ia mengaku bahwa Cecilia itu adalah kekasihnya yang akan dia nikahi.

Moreno mengatakan ia telah jatuh cinta pada Cecil karena Cecil yang mirip Rania. Dan Cecil jugalah yang menjadi alasan Moreno selama ini selalu menolak untuk dijodohkan.

Ceklek...

Suara pintu terbuka itu mengalihkan perhatian Moreno yang sedang mengarang bebas tentang hubungannya dengan Cecilia.

“Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Reina?” tanya Moreno khawatir.

“Dia sudah tidur lagi. Apa boleh saya pulang sekarang?”

“Pulang? Kamu mau langsung pulang tanpa mau menyapa calon mami mertua kamu?” seru mami Susan.

“Mam-mami mertua?!” Cecilia tampak bingung dan gugup dengan apa yang diucapkan oleh mami Susan.

“Mam... Nanti lagi aja! Reno tadi udah bilang kan kalau hari ini akan ada hal penting yang akan Reno dan Cecilia lakukan. Jadi kami harus pergi dulu untuk mengurus semuanya.”

“Tapi janji ya? Kalian akan kembali lagi ke sini nanti malam dengan kabar bahagia yang akan sangat menyenangkan saat didengar Reina?!”

“Pasti Mam! Reno bisa memastikannya.”

Seusai karangannya mendapat nilai hampir sempurna dari maminya. Moreno pun membawa Cecil untuk pergi dari rumah sakit tempat Reina dirawat.

Namun belum sampai mereka ke halaman parkir, Cecilia yang sudah sangat penasaran dengan apa yang telah dikatakan oleh Moreno pada maminya menghentikan langkahnya.

“Ini sebenarnya ada apa sih? Saya beneran enggak ngerti sama sikap ibu Anda terhadap saya!”

“Kamu akan mengerti semuanya saat kita sudah menikah nanti.”

“Apa? Anda bilang apa?”

“Menikahlah dengan saya!” pinta Moreno.

Bersambung....

Bab 3

Cecilia menggelengkan kepalanya dan memutar tubuhnya hendak pergi meninggalkan Moreno yang ia anggap sedang bermain lelucon.

“Tunggu dulu! Kamu mau ke mana?” tahan Moreno. “Kita belum selesai bicara. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu. Mau tidak mau kamu sudah terseret dalam kasus jebakan yang telah rekan saya buat. Dan gara-gara kamu menerima panggilan dari mami saya, kamu juga sudah membuat kesalah pahaman yang sangat besar di dalam keluarga saya.”

“Terserah, saya tidak peduli! Saya tak tahu soal jebakan yang sudah rekan bisnis Anda buat untuk Anda. Dan untuk masalah panggilan dari mami Anda. Saya menjawabnya karena takut ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Bahkan sebelum menjawabnya saya sudah mencoba untuk membangunkan Anda. Tapi Anda tidak bangun-bangun!” seru Cecilia.

“Bukan hanya itu saja masalahnya. Masalahnya adalah wajah kamu! wajha kamu yang sangat mirip dengan istri saya yang membuat semuanya kian sulit. Putri saya sudah terlanjur bertemu dengan kamu. Dan saya tidak tega melihatnya sedih karena bukan ibunya.”

Cecilia tersenyum sinis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jadi Anda tega membohongi putri Anda dengan mengatakan kalau saya ini adalah ibunya?”

“Saya tidak akan membohonginya kalau kamu menikah dengan saya. Jadi sekuat apa pun kamu menolak. Hasil akhirnya kamu akan tetap menikah dengan saya!”

Ucapan Moreno memang sangat tegas di dengar. Tapi sayang, Cecilia terlahir menjadi seorang wanita yang sangat peka. Sehingga dari tatapan Moreno ia bisa merasakan ada harapan yang begitu besar bercampur dengan rasa takut yang dirasakan oleh Moreno.

“Setidaknya meski kamu adalah seorang pelacur, tapi kamu juga manusia yang punya hati kan?!”

Cecilia menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti lagi harus berbuat apa atas kegilaan yang sedang dilakukan oleh Moreno. Di satu sisi Cecilia tak bisa menikah dengan Moreno karena dia memutuskan tidak akan pernah menikah untuk seumur hidupnya. Sedangkan di sisi lain ada Reina –gadis kecil yang sudah terlanjur berharap padanya. Dan menyakiti hati Reina rasanya itu tak bisa Cecil lakukan.

“Ini gila!” ucap Cecil.

“Ya... ini semua memang gila karena ada orang waras seperti saya yang mengajak seorang wanita murahan seperti kamu untuk menikah.

“Kamu tak punya pilihan lain. Kalau sampai kamu tidak menikah dengan saya. Saya akan membuat rumah bordil itu ditutup sebagai hukuman karena sudah terlibat dalam kasus penjebakkan saya.”

Moreno masih terus mendesak Cecilia untuk mau menikah dengannya. Ia sudah menargetkan Cecilia sebagai senjata untuk membalas Wilson sekaligus memberikan ibu untuk putrinya.

“Baiklah.... Mari kita menikah! Biarkan pelacur ini menjadi istri Anda.”

Moreno menyeringai mendengar suara Cecil yang penuh dengan rasa terpaksa menerima ajakannya.

Bahkan Cecil memasang wajah sangat tidak senang yang justru malah membuat Moreno merasa lega.

“Pertahankan perasaan kamu. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama saya,” ucap Moreno.

“Cuiih....” Cecilia berdecih dan mengembuskan nafasnya dengan kasar. Setengah terpaksa akhirnya Cecilia pun setuju untuk menikah dengan Moreno.

“Sebentar! Ada yang harus dipertegas di sini!” Moreno memutar tubuhnya untuk bisa kembali menghadap ke arah Cecil. “Saya memang akan menikahi kamu, tapi saya tidak akan menjadikan kamu istri saya sebagai mana layaknya seorang istri. Saya menikah dengan kamu hanya untuk menyelamatkan diri saya dari jebakan yang sudah dibuat oleh rekan bisnis saya yang telah menyeret kamu untuk terlibat di dalamnya.

“Dan saya juga menikahi kamu itu semua hanya demi putri saya yang salah mengenali orang.”

Moreno mencoba menjelaskan dan membuat jarak yang tak terlihat semakin nampak di mata Cecil.

“Maksud Anda?” Cecilia mengerutkan dahinya.

“Wajah kamu sangat mirip dengan wajah almarhum istri saya. Sepintas orang pasti akan mengira kamu adalah Rania. Tapi saya tahu kamu bukan Rania.”

Kini Cecilia tahu, nama siapa yang sepanjang malam dikumandangkan oleh mulut Moreno. Ternyata memang benar Rania itu adalah nama istri Moreno. Tapi sayangnya ia telah tiada. Dan Cecilia juga kini bisa merasakan ada luka yang begitu dalam di hati Moreno karena kepergian istri tercintanya itu.

“Memang apa bedanya? Saya akan menikah dengan Anda. Saya akan menjadi istri Anda dan tentu saja saya juga akan menjadi ibu untuk putri Anda kan?” tanya Cecil masih dengan kebingungan atas penjelasan Moreno.

“Ada perbedaan antara keduanya. Saya menikahi kamu bukan berarti kamu akan menjadi istri saya. Karena pernikahan kita itu hanya formalitas saja. Dan juga tak akan pernah ada wanita yang bisa menggantikan posisi Rania di dalam hidup saya. Bagi saya istri saya itu hanya Rania dan kamu itu tidak akan pernah pantas untuk menjadi penggantinya.

“Dan saya menikahi kamu karena saya ingin kamu menjadi ibu dari anak saya, itu artinya kamu harus bisa menerima anak saya dan kamu harus benar-benar tulus menyayanginya seperti putri kamu sendiri. Kamu harus merawatnya dengan sepenuh hati kamu. Kamu juga harus menjadi semangat untuknya bisa sembuh dari penyakitnya.”

“Reina sakit? Sakit apa? Serius kah?” cecar Cecil.

“Dia punya riwayat sakit seperti almarhum mamanya. Dia menderita penyakit leukimia tapi untung baru stadium awal. Jadi kemungkinan untuk dirinya sembuh itu masih sangatlah besar,” jelas Moreno penuh rasa khawatir.

“Jadi saya hanya harus menjadi ibu yang baik saja untuknya. Dan tak perlu menjadi istri yang baik untuk Anda?” tanya Cecil.

Cecil akan menganggap ini adalah sebuah pekerjaan. Ayahnya yang sudah gila judi tak pernah lagi memberi nafkah pada ibunya. Dan ibunya saat ini sedang sakit-sakitan. Tak sedikit uang yang dibutuhkan Cecil untuk biaya hidup dan biaya pengobatannya.

Mungkin dengan cara ia menikah dengan Moreno akan ada banyak yang bisa ia selamatkan. Rumah bordilnya tidak akan kena masalah apalagi sampai ditutup. Dan yang paling utama, ibunya akan tetap bisa melanjutkan pengobatannya.

Moreno mengangguk. “Saya tidak butuh seorang istri dalam hidup saya. Karena bagi saya hidup itu hanya satu kali. Jatuh cinta satu kali dan menikah juga hanya satu kali. Kalau bukan demi Reina dan demi perusahaan saya yang nasib karyawannya ada di tangan saya. Saya tidak akan pernah menikah lagi untuk seumur hidup saya.”

Tatapan Moreno lurus ke depan. Tatapan itu terasa sendu, membuat luka yang sangat besar di dalam hati Moreno itu kian terlihat.

“Kalau begitu, marilah kita menikah. Kita akan menikah dan itu hanya formalitas saja. Dan kita menikah hanya demi putri Anda saja –Pak Moreno!” ajak Cecil.

“Sebelumnya ada beberapa hal yang harus kamu ketahui,” ucap Moreno ketika Cecil telah setuju untuk menikah dengannya.

“Kita ini menikah hanya formalitas saja. Saya akan menyembunyikan identitas kamu agar tak ada satu pun yang tahu kalau kamu itu adalah wanita dari rumah bordil.

“Kita akan menikah hanya sampai Reina sembuh dan setelah Reina sembuh maka kita akan berpisah.

“Kita tidak akan tinggal dalam satu kamar. Apa pun keperluan kamu, sepenting apa pun itu. Kamu dilarang menginjakkan kaki kamu di kamar saya. Kamar saya haram untuk dimasuki oleh wanita mana pun, oleh siapa pun kecuali mama saya dan Reina.

“Kamu harus selalu ingat, kita menikah untuk Reina. Kamu itu ibunya jadi hanya Reina yang harus kamu perhatikan dan kamu urus. Bukan saya , meski status saya ini adalah suami kamu.

“Kamu, saya bebaskan untuk melakukan apa saja. Asal kamu tahu batasan. Kamu harus ingat fungsi kamu itu hanya membantu Reina sembuh. Membuatnya bahagia dan menjadi semangat untuknya bisa melawan penyakitnya.

“Satu hal yang paling penting!” ucap Reno dengan sangat tegas. “Kamu jangan pernah jatuh cinta sama saya. Karena jika sampai hal itu terjadi kontrak pernikahan kita, saya anggap gagal dan kamu harus mengembalikan semua uang yang mungkin akan saya keluarkan untuk membebaskan kamu dari rumah bordil itu.”

“Bagaimana kalau Anda yang jatuh cinta pada saya?!” pungkas Cecil.

Moreno terkekeh-kekeh. Ia tak kuat menahan tawanya untuk tidak meledak. Tapi setelah tawa itu hilang hawa dingin pun seketika langsung menghampiri Cecilia.

“Jangan harap hal itu akan terjadi. Karena meski kamu mirip dengan almarhum istri saya, tetapi kamu dan dia itu sangat jauh berbeda. Jadi jangan pernah memikirkan hal mustahil itu lagi.”

Kalimat penegasan dari Moreno sangat dingin. Begitu juga dengan tatapannya. Cecilia sampai merasa ketakutan karenanya.

“Sa-saya tahu!” Cecilia tergagap. “Sa-saya a-akan melakukan semuanya. Saya tidak akan jatuh cinta pada Anda dan saya akan menjadi ibu yang baik untuk putri Anda. Saya juga akan melakukan apa saja untuk bisa membantu dia sembuh. Bukankah semakin cepat dia sembuh maka akan semakin cepat pula pernikahan yang hanya formalitas ini berakhir?”

Moreno mengangguk. Ia senang dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Cecilia, yang bisa langsung paham dengan apa yang sudah dikatakannya.

“Kalau begitu, kita akan menikah hari ini juga. Dan bersiaplah untuk pindah ke rumah saya.”

“Apa? Hari ini?” tanya Cecil.

Bersambung....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED