Bab 1

Sebuah penghapus melayang tepat mengenai sasaran. Penghapus itu mengenai kepala seorang murid yang sedang tidur di dalam kelas saat jam belajar dimulai.

Sontak saja murid itu terkejut, dan ia segera bangun dari tidurnya. Tangan kanannya langsung mengusap kepala seraya kedua matanya melirik ke arah kiri dan kanan untuk melihat keadaan dalam ruangan.

Sepasang mata pria itu melirik ke arah lantai, dan ia melihat sesuatu di sana.

"Aduh... celaka! Pasti sudah ada guru nih!" celotehnya saat melihat sebuah penghapus tergeletak di lantai dekat dengan sepatu miliknya.

Sepatunya yang berwarna hitam kini terlihat sebagian berwarna putih.

Ibu guru yang sedang mengajar di kelas itu langsung berdiri.

"Billie! Bawa penghapus Ibu ke depan," panggil Tia, seorang guru bahasa.

Guru itu bernama Tia Asmara. Ia masih lajang, berpenampilan menarik, berambut panjang terurai, dan berkulit putih. Usianya sekitar dua puluh tiga tahun dan masih sangat muda.

Tanpa disuruh dua kali, murid yang bernama asli Billie Rahardian mengambil penghapus yang berada di lantai. Kakinya melangkah dengan malas ke depan, sementara kepalanya tertunduk takut karena merasa bersalah telah tidur di dalam kelas.

Mulutnya meracau tak karuan. Entah apa yang sedang ia ucapkan sambil melangkah ke depan menemui gurunya.

"Maaf, Bu," ucap Billie, lalu ia menyimpan penghapus itu di meja guru.

Guru itu sangat cantik, dan kulit wajahnya sangat halus. Namun kali ini, raut wajah cantik Tia berubah saat mengetahui ada murid yang tidur saat ia sedang mengajar di kelas. Tia segera memperingatkannya agar kejadian itu tidak terulang kembali.

"Billie! Lain kali jangan seperti itu. Setelah istirahat, kamu harus ke ruang guru dan temui saya di sana," pinta Tia kepada murid yang melakukan kesalahan.

Kepala Billie tetap tertunduk takut. Meskipun ia disegani di luar sekolah, dalam lingkungan sekolah ia adalah murid teladan dan tak pernah membantah ucapan atau perintah dari guru.

"Jiaah, kena deh! Pasti nanti dia nyerocos terus kayak ibu tiri, nggak berhenti ngomong," keluh Billie. Lamunannya buyar seketika saat guru yang cantik itu memanggil namanya.

"Billie! Kamu dengar Ibu nggak?" panggil Tia saat melihat murid itu malah melamun dengan tatapan mata kosong.

Tia masih berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan memegang penghapus yang baru saja dikembalikan Billie.

"Iya, Bu. Saya dengar," jawab Billie dengan gemetar.

"Coba, tadi Ibu bilang apa sama kamu?"

"Saya harus ke rumah Ibu. Eh, maksud saya ke ruangan Ibu," jawab Billie salah ucap karena grogi menghadapi guru cantik di hadapannya.

Guru cantik itu menggelengkan kepala melihat tingkah Billie, yang meskipun cerdas, belum bisa mengubah sifatnya.

"Sudah! Sekarang kamu boleh duduk kembali. Dan jangan lupa, saat istirahat nanti kamu harus datang ke ruangan Ibu."

"Terima kasih, Bu. Saat istirahat nanti, saya ke ruangan Ibu," jawab Billie sebelum segera kembali ke tempat duduknya.

Billie terlihat kesal. Tangannya mendadak mencubit teman sebangkunya, lalu berkata, "Rese lu! Kenapa lu nggak bangunin gue kalau ada guru?" bisiknya pelan agar tak terdengar oleh guru yang mulai mengajar lagi.

Temannya seolah sengaja menyimpan sesuatu dalam pikirannya. Ia membalas perkataan Billie dengan tenang.

"Maaf, Bil, gue kelupaan nggak ngasih tahu lu," ujar Usep, menahan perutnya sambil tertawa.

"Rese lu, Sep! Lu malah ngeledek gue! Awas aja lu kalau minta tolong gue lagi. Gue nggak sudi nolongin lu!" ancam Billie dengan wajah serius dan garang.

"Maaf, Bil. Bukan maksud gue ngeledek lu. Asli, gue lupa nggak ngasih tahu kalau ada guru," timpal Usep dengan wajah ketakutan saat menatap wajah Billie yang tampak beringas.

Murid itu bernama Billie Rahardian. Ia keturunan Indo-Belanda. Kakeknya asli orang Belanda, sedangkan neneknya asli orang Indonesia. Namun, ia tidak bisa berbahasa Belanda karena kedua orang tuanya tidak pernah mengajaknya atau mengunjungi kakek dan neneknya di Belanda.

Bil, nama kecilnya, kini duduk di bangku kelas tiga SMA. Rambutnya belah tengah berwarna hitam, kulitnya putih, hidungnya mancung, dan tinggi seperti orang Indonesia pada umumnya.

Billie memiliki adik bernama Clara. Rambutnya ikal, wajahnya khas Indo-Belanda, hidungnya mancung, kulitnya putih, dan matanya lentik. Clara duduk di bangku kelas tiga SMP.

Clara satu sekolah dengan Billie, dan dalam kesehariannya mereka menolak untuk diantar-jemput. Kakak beradik itu lebih memilih naik angkutan umum ketimbang diantar oleh sopir pribadi.

Teng... teng... teng... teng... Bel istirahat berbunyi empat kali. Tia segera merapikan buku yang ada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Kakinya melangkah keluar menuju ruang guru.

"Bil, ke kantin yuk!" ajak Usep yang sudah berdiri di samping meja.

Billie teringat ucapan dari Tia, dan ia harus segera menemuinya.

"Nanti gue nyusul, Sep. Gue harus ke ruang guru." Billie langsung melangkah ke ruang guru untuk menemui Tia di sana.

Tok... tok... tok... "Masuk," sahut Tia dari dalam yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan murid tersebut.

Billie membuka pintu ruang guru. Kedua kakinya melangkah masuk perlahan untuk menemui Tia yang sudah menunggunya.

"Silakan duduk," ucap Tia sambil menunjuk kursi yang sudah ada di depan mejanya.

Billie menarik kursi kayu dan langsung duduk seraya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Tia menatap sedih melihat perilaku Billie hari ini. Ia segera menanyakan penyebabnya.

"Billie, tolong jelaskan kepada Ibu. Kenapa kamu sampai tidur di kelas saat Ibu mengajar?" tanya Tia dengan tegas, menatap tajam ke arah murid yang berada di depannya.

"Anu, Bu... Semalam saya begadang nonton bola sampai jam tiga pagi. Maafkan kesalahan saya, Bu!" jawab Billie dengan kepala masih tertunduk takut.

Tia menggelengkan kepala.

"Coba kamu lihat ke sini, lihat Ibu! Jangan menunduk terus. Mana bisa Ibu melihat wajahmu," ujar Tia menyuruh murid itu agar tidak terus menunduk.

Billie mengangkat kepalanya perlahan, dan kedua matanya menatap wajah cantik gurunya yang berada di hadapannya.

"Billie janji, Bu, gak bakal ngulangi lagi hal seperti tadi," spontan kata-kata itu keluar dari bibir lelaki tampan yang merasa bersalah.

Sorot mata Tia melihat Billie seperti menyimpan sesuatu yang selalu ia sembunyikan.

"Sebetulnya kamu ini pintar, cerdas, tampan, dan sangat populer di sekolah. Tapi kenapa kamu jadi seperti ini? Tolong atur jadwal sekolahmu, waktu bermain, dan tidur. Jika kamu masih seperti ini lagi, Ibu akan mengirimkan surat untuk kedua orang tuamu. Mengerti?" Tia merasa lega karena semua isi hatinya sudah ia sampaikan tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.

Wajah Billie langsung terkejut mendengar kata-kata itu. Ia segera memohon kepada Tia.

"Jangan, Bu. Aku mohon, jangan kirim surat untuk orang tuaku. Billie janji gak bakal ngulangin lagi," kata Billie dengan serius.

Amarah dan kekesalan di wajah Tia kini telah hilang. Ia tersenyum sambil berucap lembut, "Silakan, kamu boleh istirahat sekarang. Tapi ingat! Jangan diulangi lagi."

Bab 2

Billie hanya bisa mengangguk dan segera bangun dari duduknya sambil berkata pelan kepada Tia.

"Permisi..." ucapnya dan segera keluar dari ruangan guru dengan wajah lesu.

Kedua kakinya segera melangkah menuju kantin, namun telinganya masih terasa panas setelah terkena omelan dari Tia masalah tidur di kelas. Dia menerima ocehan yang keluar dari mulut Tia. Karena memang itu kesalahannya sendiri.

"Cantik sih! Tapi galak," gerutu Billie kesal sambil berjalan menuju kantin untuk mencari temannya.

Di kantin Billie tak melihat batang hidung temannya, kakinya segera belok untuk menemui Clara terlebih dulu, karena dia sudah janji akan menambahkan uang jajan kepadanya jika jam istirahat.

Clara betolak pinggang saat Billie berjalan ke arahnya, lalu mulutnya langsung nyerocos.

"Kak, lama banget sih datangnya! Aku udah laper tau!" seru Clara berwajah jutek.

"Gitu aja ngambek. Tadi Kakak di panggil ke ruangan guru dulu. Nih Kakak tambahin." Billie mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk adiknya itu.

Clara segera menyambar uang dari kakaknya dan ia memberikan senyum termanis untuk Billie.

"Makasih ya Kak. Aku mau beli bakso! Bye..." ucap Clara dan kembali ke gedung Es Em P.

"Dasaaar... giliran udah dapet duitnya langsung pergi gitu aja," Billie gelengkan kepala.

Cristine segera melangkah ke kantin bersama kedua temannya. Temannya itu berkata kepada Clara.

"Clara, enak ya punya Kakak kayak Kak Billie, tiap istirahat suka ditambahin uang jajan. Udah gitu paling T.O.P di sekolahan ini. Mana ganteng lagi. Andai aja dia jadi Kakak gue."

"Ah lu Venti, lu bilang gitu pasti ada maunya, ya kan!" tegur Clara dan menyenggol bokong Venti yang tipis.

"Tau nih Venti, kalau lu suka sama Kak Billie tinggal bilang aja, gak usah berandai-andai jadi Kakak lu! Bener kan omongan gue, Clara."

"Lu juga samanya Cindy. Gue yakin Kak Billie pasti nolak lu berdua." Ujar Clara penuh keyakinan.

"Masa sih!" seru Venti dan Cindy bersamaan dengan tatapan yang mengherankan.

"Gue cuma ngasih tau. Lu berdua malah ngeyel di bilanginnya sama gue," kata Clara dan ia segera mencari tempat duduk yang nyaman di kantin.

Clara dan kedua temannya segera pesan bakso, sambil menunggu pesanan, Venti mengutarakan isi hati tentang Billie kepada Clara.

"Jujur aja nih, gue emang suka sama Kakak lu, Clara. Gimana dong?" tanya Venti dengan serius.

"Kan tadi gue udah bilang sama lu! Itu sih terserah lu aja, kalau lu yakin gak bakal di tolak sama Kakak gue, tinggal bilang aja, apa susahnya." Kata Clara kepada temannya yang bernama Venti.

"Gak berani gue ngomongnya, Clara." Ungkap Venti, lalu ia menoleh ke arah Cindy. "Cindy! Kan lu juga suka sama Kak Billie!" seru Venti.

"Enak aja lu Ven, jangan asal ceplos ya. Lu tuh yang suka sama Kakaknya Clara, bukan gue." Cindy tak terima atas ucapan dari Venti.

Tak lama kemudian, pesanan bakso telah datang, pelayan itu segera menyimpan mangkuk bakso di meja mereka.

"Silahkan neng." Ucap pelayan kantin.

"Makasih mang," kata Clara dan ia mengambil mangkuk bakso miliknya.

Mereka bertiga segera terdiam, karena sedang menikmati bakso setan yang sangat populer di kantin sekolahnya itu.

Billie berjalan ke kantin Es Em A. Kantin untuk Es Em P dan Es Em A memang sengaja di pisah oleh kepala sekolah dan itu sudah aturannya.

Billie masih mencari batang hidung si Usep, namun sejak tadi belum juga terlihat batang hidungnya, dan tanpa sengaja lengannya menyenggol lengan gadis yang baru saja masuk saja masuk ke dalam kantin dengan membawa buku yang sedang berada dalam pelukannya.

Bruaaak...!

Buku yang di hempit gadis itu jatuh ke lantai hingga berantakan. Billie dengan sigap segera berjongkok untuk mengambil buku tersebut, dan gadis itu melakukan hal yang sama. Hingga keduanya sama-sama jongkok dan kedua tangan saling ingin mengambil buku yang jatuh itu dan tanpa sengaja jari jemari Billie bersentuhan dengan jari jemari gadis itu.

Billie dan gadis itu saling pandang, saling tatap, namun pandangan gadis tak lama, kepala si gadis langsung tertunduk malu dan melepas sentuhan tangan Billie.

"Maaf ya. Aku gak sengaja." Billie meminta maaf terlebih dulu pada gadis itu. "Ini bukumu yang jatuh." Dia mengembalikan buku kepada pemiliknya.

Gadis itu dengan malu-malu mengambil buku yang sudah terususn rapih dari tangan Miki,

"Terima kasih." Dan gadis itu pergi begitu saja keluar dari kantin tanpa melihat wajah Billie.

Billie mengejar gadis itu sambil memanggilnya.

"Hey, tunggu! Aku belum tau siapa namamu!" teriaknya dan dia terus mengejar gadis yang semakin jauh dari pandangannya.

Gadis itu terus mempercepat langkah kaki dan tak menoleh sedikitpun ke belakang, ia langsung masuk ke dalam kelas dan duduk manis sambil menundukan kepala agar tidak teelihat oleh si pengejar.

Billie pantang menyerang dan terus mengikuti kemana gadis itu melangkah, tanpa di sengaja, Usep melihat Billie sedang berjalan dengan tergesa, hingga tangannya menarik lengan Billie sambil berkata padanya.

"Bil, lu mau kemana? Gue cariin daritadi!" seru Usep memanggil temannya.

Billie kehilangan arah gadis itu pergi. "Ah sial, dia udah ilang. Lu sih Sep, pake narik tangan gue segala." Gerutu Billie dengan kesal.

"Siapa yang ilang Bil?" Usep begitu penasaran dan ia ingin tahu apa yang sedang di cari oleh temannya itu.

"Nenek lu ilang Sep," sahut Billie masih geram padanya dan mata masih mencari keberadaan gadis itu dengan melihat kesana kemari sampai ke pelosok sekolah.

"Lu suka ngaco Bil. Nenek gue gak ilang! Nenek gue ada kok di rumah gak kemana-mana. Lagian, lu tau sendiri kan kalau nenek gue gak bisa jalan." Usep ngedumel padanya.

"Gue gak butuh ocehan lu. Yang gue butuh dari lu, cuma traktiran makan. Lu tadi di kelas udah ledek gue dan sebagai gantinya, lu harus traktir gue! Buruan traktir gue!!!" Gertak Billie, meluapkan kekesalan terhadap temannya.

"Mati aku," ratap Usep dalam hati. "Lu pengen apa? Iya, gue yang traktir." Akhirnya Usep menuruti apa keinginan Billie, agar apa yang di lontarkan Billie segera berhenti tanpa mengoceh lagi dan Usep segera mengajaknya untuk kembali ke kantin.

"Seperti biasa Sep, gue pengen mie ayam bakso di tambah pangsitnya lima ribu aja," pinta Billie dan dia mengikuti tarikan tangan Usep untuk ke kantin.

"Oke Bil."

Mereka berdua kini sudah di dalam kantin, Usep segera pesan mie ayam bakso dua mangkok, di tambah pangsit untuk Billie lima ribu. Setelah pesan makan Usep langsung duduk di sebelah temannya.

Untuk mereda kekesalan Billie, Usep segera bercerita tentang anak baru yang baru saja ia lihat.

"Bil, lu udah tau belum, di kelas tiga B ada anak baru loh! Dia cantik, body seksi. Tapi sayang banget Bil, dia susah di deketin, jangankan di pegang tangannya, di ajak ngobrol aja langsung pergi."

Billie sudah bisa menebak dari cerita yang Usep lontarkan dan ada kemungkinan gadis yang dia tabrak tadi mungkin adalah gadis yang Usep ceritakan.

Billie langsung bertanya pada temannya itu. "Sep! Cewek itu pakai pita merah ya? Terus rambut di ikat pakai pita itu?" Billie seakan menginterogasi temannya, karena dia yakin pasti gadis tadi yang di maksud oleh temannya.

"Kok lu tau sih Bil?" Usep semakin penasaran dan memegang tangan Billie.

"Lu tau nama cewek itu gak?" Billie berganti tanya pada temannya.

"Tuh kan! Lu emang jagonya Bil kalau masalah cewek. Pasti lu udah ketemu sama cewek itu! Kapan, di mana? Kok gak ajak-ajak gue Bil." Usep terus mencecar dengan berbagai pertanyaan.

"Mulut lu bawel banget sih Sep, kayak mulut cewek aja, terus nyerocos! Gue tadi tanya sama lu, lu tau gak nama cewek itu? Jawab dulu pertanyaan gue!" tegur Billie sambil memasukan bakso yang terakhir ke dalam mulutnya.

"Kagak. Gue gak tau namanya Bil, kan tadi gue udah bilang, cewek itu gak bisa di ajak ngobrol."

Billie kecewa, ternyata temannya itu tidak tahu nama gadis tersebut. "Gue duluan Sep, makasih traktirannya,"

Billie segera bangun dari kursi dan dia menghampiri Ibu kantin. "Bu yang bayar si Usep ya." Miki segera keluar dan menuju kelas tiga B, untuk membenarkan informasi dari temannya itu.

Billie berdiam diri dari balik kaca jendela, matanya terus mencari keberadaan gadis itu.

"Jangan-jangan bukan dari kelas tiga B lagi!" gerutunya mencari gadis itu dari balik jendela kelas di luar.

Tak lama kemudian muncul guru bahasa yang akan mengajar di kelas tiga B, ia melihat Billie dan langsung menegurnya.

"Billie ... kamu lagi ngapain di sini! Sebentar lagi istirahat selesai. Ayo segera kembali ke kelas," titah Tia pada Billie yang masih lirik sana sini dari luar kelas tiga B.

"Nah, kebetulan ada Bu Tia. Ibu nanti yang akan mengajar di kelas ini kan?" tanya Billie sedikit senang dan dia langsung menunjuk ke arah dalam kelas tiga B.

"Iya! Memang kenapa?" Tia malah berbalik tanya padanya.

"Anu Bu, Billie dengar, katanya ada murid cewek baru di kelas ini," ucap Billie dengan tampang wajahnya merasa malu.

"Kalau ada memang kenapa?"

"Cuma pengen tau namanya aja kok, boleh gak Bu! Siapa namanya," pinta Billie pada guru bahasa itu.

"Kamu kenalan sendiri dong, masa harus Ibu yang kasih tau. Kamu kan cowok, jadi harus berusaha sendiri," timpal Tia.

Billie terus memohon pada guru bahasanya dan tak lama gadis yang sedang di bicarakan lewat di depan mata dan masuk ke dalam kelasnya.

"Hey, tunggu...!" teriak Billie memanggil gadis itu.

Bersambung...

Bab 3

Mita adalah gadis yatim piatu berparas cantik, di usia yang baru tujuh belas tahun, ia harus bekerja paruh waktu di toko untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri.

Mita juga diam diam sangat menyukai teman kelasnya yang bernama Billie. Apapun akan Mita lakukan untuk menggapai cita citanya dan mendapatkan keinginannya termasuk menjadi pacar simpanan seseorang.

***

Senin adalah hari yang sangat di benci oleh Mita, ia sangat malas dengan upacara bendera. Dengan malas ia bangun dan menuju kamar mandi yang berada di area dapur rumahnya, ia kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai menyirami badannya dengan air yang terasa sangat sejuk pagi itu.

Tak sampai sepuluh menit Mita pun selesai dan segera memakai seragam putih abu nya kemudian langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

Di perjalan menuju halte tiba-tiba ia teringat jika ponselnya tertinggal dan ia harus kembali lagi ke rumah untuk mengambilnya.

Alhasil dia ketinggalan angkot dan berujung terkena hukuman karna terlambat.

"Kenapa terlambat?" suara dingin menginterupsi telinga Mita.

Mita hanya diam dan menundukkan kepalanya, tapi sekali lagi suara dingin itu menyapa telinganya dengan sedikit bentakan.

"Gak punya telinga ya kamu!" bentak guru itu dengan kasar. "Saya di depan kamu, bukan di bawah kaki kamu."

Perlahan Mita mengangkat kepala nya dan langsung menatap mata guru yang membentaknya tadi.

Mata mereka saling beradu tatap, dan jangan katakan bagaimana jantung guru nya itu.

"Ma-maaf Pak Bagus, saya telat karna nungguin angkot jadi sampai ke sekolah terlambat." Jawab Mita yang sudah berlinangan air mata.

Ingin sekali rasanya Bagus mendekap tubuh gadis yang sudah ia cap sendiri sebagai gadisnya ini, mengusap air mata yang sebentar lagi akan jatuh. Tapi dia harus menahannya dulu, nanti baru ia akan beraksi.

Bagus memutuskan tatapannya pada Mita dan menyuruh muridnya untuk membersihkan halaman yang berada di belakang gudang, Mita yang tak terima pun memberanikan dirinya untuk protes.

"Yang lain bersihin halaman yang di depan sekolah, kok saya bersihin yang di belakang gudang pak?"

"Kenapa? Kok kamu yang ngatur?" Bagus balik memarahinya.

"Saya takut Pak, di sana sepi, gak ada orang yang pernah kesana," ucap Mita.

Memang ini tujuan Bagus, ingin berduaan dengan gadisnya.

"Saya yang awasi kamu, sekarang ambil peralatannya dan langsung ke halaman belakang gudang, jangan banyak alasan," titah Bagus padanya.

Mita segera pergi dari hadapan Bagus dengan menghentak-hentakkan kakinya dan mulut yang komat Kamit ngedumel tak karuan.

Bagus semakin gemas melihat tingkah Mita yang sangat lucu dimatanya.

"Akhirnya, bisa berduaan juga sama kamu," Bagus membatin kegirangan dan memegang area selangkangannya yang entah kenapa selalu berdenyut jika melihat atau berada di dekat Mita.

Sudah lima belas menit Mita asik menyapu dedaunan kering dengan perasaan takut, karna gudangnya terletak jauh di belakang area sekolah, mulutnya sibuk memaki Bagus yang tak kunjung datang.

Karena terlalu asik memaki sang guru sambil menyapu sampah ia sampai tak sadar jika di depannya terdapat lubang dan akhirnya kakinya pun termasuk ke dalam lubang itu.

"Awwhhh ... sssshhh ... aduuh sakit banget," Mita mengaduh kesakitan sambil mengangkat keluar kakinya dari lubang dengan suara isakan yang keluar dari mulutnya.

Bagus yang baru datang dengan membawa minuman dingin pun terkejut melihat Mita yang terduduk dengan kaki lecet dan bengkak sambil menangis.

"Hey, kamu kenapa?" tanya Bagus khawatir.

"Bapak ke mana aja sih, katanya mau nemenin saya, saya dari tadi nungguin karna takut sampe sampe kaki saya masuk ke lubang." Jawab Mita sambil sesegukan.

Bagus yang tak tahan pun langsung mendekap tubuh Mita yang bergetar karna menangis, ia mengusap punggung gadisnya dan mengecup pucuk kepala Mita.

"Maaf ya, saya tadi di panggil sama kepala sekolah sebentar, terus beliin kamu minuman." Sahut Bagus dan mencoba untuk menenangkannya.

Mita masih menangis dalam pelukan Bagus, Bagus pun semakin mengeratkan pelukannya pada Mita.

"Udah yaa, saya minta maaf," ucap Bagus.

Mita langsung melepaskan dirinya dari pelukan Bagus.

"Ma ... maaf pak,"

"Maaf kenapa? Hmm ... ?" tanya Rama sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Aulia.

"Udah Pak, jangan kayak gitu nanti ada yang liat," sergah Mita.

"Kalo gak ada yang liat gimana?"

"Hah?"

Mita yang terkejut mendapati perlakuan Bagus itu pun langsung ingin berdiri dan pergi dari sana, tapi ia melupakan kakinya yang sedang sakit.

"Awkkhhh ... "

"Kamu ngapain sih pakai berdiri? Udah tau kaki nya lagi sakit". Ujar Bagus.

"Awas, gak usah pegang-pegang." Mita marah padanya.

Bagus tak mendengarkan Mita, ia tetap memegang pergelangan Mita.

"Kamu kenapa?"

"Ada juga Bapak yang kenapa?"

"Loh, kok saya? Saya kenapa?"

"Kenapa Bapak pegang-pegang saya!!!" teriak Mita pada Bagus.

Mita semakin memberontak saat Bagus memegang tangannya dan ingin memeluknya lagi.

"Hey, tenang Mita," Bagus mencoba menenangkan Mita sambil memeluk tubuhnya.

"Bapak jahat," ucap Mita dengan tangan memukul dada Bagus.

"Iya saya jahat, maaf lagi yaa .... "

"Gak mau maafin, saya mau ke kelas aja."

Bagus langsung melepaskan pelukannya pada Mita dan menangkup wajah Mita.

"Masih mau ke kelas dengan muka berantakan gini? Mata sembab, hidung merah, kaki juga luka sama bengkak, hm ... ?" tanya Bagus.

"Ini semua kan gara-gara Bapak, Bapak bentak saya tadi pagi, terus biarin saya sendirian bersihin halaman gudang, kaki saya masuk ke lubang juga gara-gara Bapak, terus tadi Bapak malah pegang dan peluk saya," Mita terus ngedumel.

Bagus tersenyum melihat Mita masih mengomel, tangannya terangkat untuk mencubit pipi chubby Mita.

"Kenapa gemes gini kalo ngomel,"

"Bapak ih, gak usah pegang-pegang saya teruss, bukan muhrim tau!"

"Ya, udah,"

Bagus pergi meninggalkan Mita sendirian lagi di sana, baru beberapa langkah ia mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut gadisnya.

Bagus berbalik lagi menuju ke arah Mita.

"Hiks ... hiks ..."

Mita menangis dengan wajah tertutup telapak tangan, tanpa aba-aba Billie datang dan langsung mengendong Mita.

Bagus merasa jengkel kepada Billie, gadis incarannya malah di sambar oleh Billie.

"Bil, kenapa gue di gendong sama lu! Turunin ih, Pak Bagus liatin tuh!" seru Mita terkejut karena tubuhnya di gendong oleh pria yang ia cintai.

"Diem Mit, atau gue cium bibir lu yang manis itu," ancam Billie.

Mita langsung terdiam dan kembali menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, ia takut menjadi bahan omongan semua murid dan guru karena sekarang dia berada dalam gendongan Billie dengan hot di sekolah ini, tapi ia tidak mendengar apa pun.

"Kenapa sunyi sekali," batinnya Mita berkata.

Ternyata semua orang sedang melakukan proses belajar mengajar, tidak ada satu pun yang berada di luar kelas.

Hanya beberapa menit saja tiba-tiba tubuhnya seperti melayang dan merasakan seperti berbaring di atas kasur.

Mita membuka matanya dan benar saja, ia memang sedang berbaring di atas kasur yang berada di UKS.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED