"Gue suka lo, Diana!" teriak Arga di depan teman-teman sekolahnya yang tengah sedang beristirahat.
Diana yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya di lapangan yang tersedia bangku panjang pun menoleh. Semuanya mendadak hening lalu tak lama suara sorakan terdengar meriah.
Diana menoleh ke semua teman-temannya dan dia menggeleng-gelengkan kepalanya karena teman-temannya bertanya-tanya ada apa di antara dirinya sampai Arga menyatakan perasaannya.
"Iya! Gue suka lo, Diana! Lo nggak salah dengar!" lagi, teriak Arga.
Diana menepuk keningnya karena merasa apa yang Arga katakan itu sangat bodoh. "Ayo, terima Diana!" beberapa yang lainnya berteriak agar Diana menerima pernyataan cinta Arga.
Namun Diana mengabaikannya dan memilih menuju kelasnya yang disusul teman-temannya yang lain. Padahal ia sebenarnya menahan malu tapi Diana mencoba memasang wajah kebalnya.
Sampai saat di kelasnya, ia duduk di mejanya dan terkejut karena Arga menyusulnya juga, membuat teman-temannya berada di belakang Arga.
"Gue suka sama lo sejak kelas 10, Di. Gue nggak bisa berhenti untuk nggak suka lo," jelas Arga padanya.
Namun Diana masih diam dan memilih tidak menjawabnya. Ia sendiri bingung harus bagaimana menjawabnya jika di hadapan teman-temannya seperti ini.
"Di, jawab saja. Tolak juga nggak apa-apa kalau lo belum siap," ujar Hani, salah satu temannya.
Arga lalu menoleh ke Hani dan memelototinya. "Diam lo, Han. Dia pasti juga suka sama gue," kata Arga dengan percaya diri.
Tiba-tiba Diana tertawa keras membuat yang lain tercengang mengapa Diana tertawa seperti orang gila yang dengan dadakan seperti itu.
"Percaya diri banget sih lo, Ga. Gue nggak pernah suka sama lo! Asal lo tahu itu, ya! Jangan dipikir lo cowok populer di sini lantas membuat gue suka sama lo. Nggak sekali pun!" jelas Diana akhirnya.
Arga diam seribu bahasa. Ia yang tadinya bersimpuh dengan setangkai mawar putih untuk Diana, kini berdiri dan menatap Diana dengan tatapan yang tajam. Perasaannya merasa malu karena baru kali ini ia ditolak oleh wanita yang disukainya, di hadapan teman-temannya.
"Lo yakin? Lo nggak menyesal nantinya?" tanya Arga yang mana nada suaranya sudah berubah.
"Hmm ... ya. Sangat yakin."
Arga lalu pergi dan mematahkan tangkai mawar itu lalu melemparnya asal. Diana sebenarnya terkejut melihat respons Arga, tapi ia terlihat biasa saja dan baru bisa bernafas lega.
***
Selepas sekolah selesai, Diana keluar kelas bersama teman-temannya dan merencanakan untuk belajar bersama untuk ujian nasional. Mereka merencanakan belajar bersama di rumah Diana dan Diana tidak keberatan untuk itu.
Sebuah bola basket yang memantul ke arahnya dengan perlahan berhenti tepat di kedua kakinya saat ia melewati lapangan basket. Diana menoleh ke bawah dan mengambil bola itu. Lalu ia melihat sekumpulan anak-anak basket, termasuk Arga ada di sana, menunggu Diana melemparkannya kembali.
"Di, lempar!" teriak Aris.
Diana bukannya menatap Aris, malah matanya terpaku pada Arga yang menatapnya dalam diam dengan keringat yang membasahi kepala rambutnya.
"Di! Lo bengong apa, sih?" tanya Amel. "Cepat lempar ke mereka!"
Diana terkejut dan ia pun melempar balik bola basket itu ke arah anak-anak basket yang ternyata diterima Arga. Ada suasana mencekam di antara keduanya walau yang lain bersorak satu sama lain lantaran mereka seperti mengira Diana sengaja melemparnya ke arah Arga.
Cepat-cepat Diana berlalu dari sana dengan jantung berdegup kencang.
"Lo sengaja ya, lempar itu ke Arga?" tanya Sinta.
"Nggaklah. Itu reflek saja, kok."
"Hmm, kita kira begitu," sambung Hani dan yang lainnya mengangguk.
"Terus, lo beneran nggak suka dia? Parah banget ih, kalau nggak suka si Arga," tanya Sinta.
Sayangnya Diana memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Sinta yang mewakili teman-temannya. Baginya, ia enggan membagi apa yang ia rasakan pada teman-temannya lantaran ia tahu tidak semua orang tahu bagaimana ia merasakan sesuatu.
Jamuan makanan dan minuman yang di siapkan Paula, Ibu Diana, hampir mendekati habis oleh teman-temannya Diana. Mereka lebih banyak makan dan minumnya ketimbang belajar seperti yang mereka janjikan.
Wanita jika berkumpul dengan satu niat, pastilah akan timbul hal-hal yang baru seperti gosip. Diana yang lebih rajin dari pada lain pun fokus pada apa yang ia pelajari. Pikirnya, setidaknya ada yang waras dan bisa menjelaskan materi yang mereka pelajari pada teman-temannya yang lebih banyak fokus pada gosip.
"Wah, makasih ya, Tante buat jamuannya, he he he. Maaf ya, kalau kedatangan kita merepotkan," ujar Hani dengan sopan mewakili yang lain.
"Iya, Tante. Makasih banyak loh, ya. Next time kami akan ke sini lagi," sambar Sinta di sambung Amel.
Diana menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya. "Next time harus belajar dulu baru di siapkan jamuan ya, Ma!" ancam Diana dengan maksud canda.
"Ih, apaan sih, Di! Jahat banget, lo! Ya, sudah ... kita pulang dulu, ya."
Ketiga temannya berpamitan dan bersalaman dengan Paula. Diana menuntun mereka sampai depan gerbang dan melambaikan tangannya pada mereka yang menjauh dari pandangannya.
***
Pagi-pagi sekali Diana sudah sampai sekolahnya di antar oleh sopir pribadinya. Ia sengaja datang lebih pagi karena berniat meminjam buku di perpustakaan dan berniat membacanya lebih awal sebelum bel masuk berbunyi.
Ternyata tidak hanya dirinya yang singgah ke perpustakaan. Ada beberapa anak dari kelas lain yang tengah belajar dan beberapanya seperti menyalin tugas temannya.
Mata Diana bertemu dengan mata Arga secara tak sengaja. Mereka saling bertatapan dalam beberapa detik sampai Diana berbalik dan menuju barisan buku sesuai yang sedang ia cari.
"Jadi lo mau sampai kapan diam sama gue?" tanya Arga tiba-tiba dengan suara pelan.
Diana menoleh ke kanan dan kirinya, memastikan bahwa orang yang Arga ajak bicara adalah dirinya. "Apa sih, Ga? Ganggu saja."
"Ganggu? Lo muncul cuma lihat gue. Kemarin juga cuma lihat gue. Kita saling pandang-pandangan, Di. Dan gue tahu lo pasti merasakan hal yang sama kayak gue, kan? Lo cuma malu mengakuinya, kan?" sambar Arga.
Diana berdecak namun matanya tetap melihat-lihat buku yang ia incar. "Mana, ya?" tanyanya lebih pada dirinya sendiri.
"Cari apa lo?" Tanya Arga.
"Novel romansa terjemahan."
"Apa judulnya?" tanya Arga memancing, masih menatap Diana.
"Cinta Yang Dipertaruhkan," jawab Diana singkat.
Tiba-tiba satu tangan Arga naik ke atas menunjukkan novel yang dicari Diana. Novel itu ada digenggamannya. Diana membelalakan matanya dan menyambarnya. Sayangnya tidak mudah karena Arga menghalanginya.
"Lo tahu itu yang gue cari?" tanya Diana kesal.
"Bahkan gue tahu ukuran bra lo berapa, Di," jawab Arga yang membuat wajah Diana merah padam.
"Siniin. Gue lagi mau baca itu!" seru Diana dengan pelan dan menahan malunya.
Arga menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan novel itu ke balik tubuhnya. Ia membiarkan Diana memberontak dan kemudian merasa menyerah.
"Karena gue tahu novel ini nggak akan tercetak lagi, jadi gue jadiin jaminan buat lo agar jawab pertanyaan gue di awal," kata Arga.
"Duh, yang mana? Percepat ajalah!"
Baru beberapa menit bicara saja Diana sudah lupa akan topik yang tadi di bahas oleh Arga. Membuatnya sedikit gemas namun kesal juga.
"Lo suka gue juga atau nggak?" tanya Arga mengulanginya.
Diana tidak punya waktu banyak untuk semua ini. Ia lebih memilih novel itu dibanding yang lain. Tapi pertanyaan Arga itu bukan pertanyaan main-main. Terpaksa Diana pun menjawabnya.
"Iya. Gue juga suka sama lo. Tapi itu nggak akan mengubah keadaan, Ga. Gue nggak bisa pacaran sampai gue benar-benar menghasilkan uang sendiri. Lo paham?"
Arga langsung diam ketika ia mendengar jawaban Diana. Lebih tepatnya tercengang seperti melamun.
"Sekarang, bisa gue minta novel itu?" tanya Diana dengan mudah.
"Sejak kapan lo suka gue?" tanya Arga akhirnya.
Diana berdecak dan melipat kedua tangannya di dadanya. "Lo sengaja memperlambat, ya?"
"Jawab aja, Di."
"Sejak kelas 10. Sama kayak lo," jawab Diana tanpa malu.
"Dan lo baru bilang sama gue sekarang?"
"Lo juga kan, Ga? Kita sama. Udahlah, ya ... Lagian nggak akan ada artinya juga. Toh, gue tolak lo," sambar Diana langsung.
Arga langsung memberikan novel itu pada Diana dan Diana menerimanya seraya memeriksa novel itu apakah ada cacat atau tidak.
"Sorry, Ga. Gue duluan," ucap Diana dan berlalu darinya.
Jantung Diana berdetak lebih cepat saat ia keluar perpustakaan. Ia langsung menuju toilet perempuan dan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
Perlahan ia memejamkan matanya dan mengingat kejadian barusan. Akhirnya ia jujur juga pada Arga walau hanya karena novel yang sudah di tangannya.
'Sial! Bakal jadi semakin canggung nanti!' rutuknya dalam hati.
Saat ia melihat geng Laura masuk ke dalam toilet, Diana pun beranjak pergi. Sayangnya, geng Laura mencegahnya dengan wajah mereka yang menyerupai wanita-wanita jahat.
"Lo nggak beneran nggak terima cintanya Arga, kan?" tanya Laura dengan suara yang dibuat-buat.
"Penolakan kemarin emangnya nggak cukup buat lo lihat?" tanya Diana kesal.
Laura tersenyum puas sambil memainkan rambutnya yang diputar-putar dengan jemarinya.
"Yah, cukup sih. Gue cuma mau mastiin dari lo sendiri aja."
"Minggir kalau gitu!" bentak Diana seraya menepis tubuh geng Laura yang menutupinya.
Beberapa dari mereka mengaduh namun tidak berani untuk mengejar Diana. Diana memang wanita berani dan disegani di kalangan para perempuan di sekolahnya.
Diana bahkan dua kali berturut-turut dinobatkan menjadi sie atau seksi keamanan dalam organisasi OSIS. Sebenarnya ia tidak mau, tapi karena para senior dan guri melihat karakter-karakter siswa, kebetulan sekali Diana sangat cocok pada bidang itu.
Di kelas 12 sekarang, jabatannya sudah dipindahtangankan pada adik kelasnya. Sehingga semua siswa yang kelas 12 bisa berkonsentrasi pada ujian nasional mereka.
Diana masuk ke dalam kelasnya saat semua sudah masuk. Ia tidak berhasil membaca novel itu lebih awal karena waktunya dimakan oleh Arga saat di perpustakaan.
Arga hanya menatapnya dalam diam membuat Diana sedikit risi dan merasa canggung.
Bunyi bel istirahat membuat Diana senang karena ia akhirnya bisa leluasa membaca novel yang ia dapati. Ia juga menolak ajakan teman-temannya ke kantin dan memilih berada di dalam kelas saja.
Tiba-tiba Arga muncul dengan membawa sekantong plastik berisikan makanan.
"Buat lo. Gue lihat di kantin lo nggak ikut teman-teman lo. Jadi, gue inisiatif beliin lo makanan," ucap Arga.
Belum sempat mengucapkan terima kasih, Arga sudah berlalu darinya. Mungkin karena ia tidak ingin mengganggu Diana atau membuat Diana merasa malu jika sampai teman-temannya tahu mereka terlihat dekat.
Bagaimana pun, Diana diajarkan sopan santun sama orang tuanya. Karena ia enggan mengucapkannya langsung, Diana mengirimkan pesan pada Arga. Kebetulan ia punya nomor Arga karena sesekali anak itu sering meneleponnya malam-malam saat sebelum Arga mengungkapkan perasaannya.
Waktu memang berlalu begitu cepat. Tidak terasa sekolah pun usai dan semuanya kembali pulang ke rumah.
Diana menunggu sopirnya menjemputnya dan teman-temannya tidak bisa menemaninya lantaran mereka semua punya kesibukan masing-masing.
Sambil menunggu jemputan, Diana memilih membaca novel tadi di depan sekolah.
Selama beberapa menit hanyut dalam cerita, Diana sampai tidak tahu bahwa ada seseorang yang duduk di hadapannya memandangnya.
"Kenapa sih, lo bisa secantik ini?" suara yang Diana kenal, membuatnya terkejut.
"Astaga!" ia berseru sambil memandang kanan dan kirinya.
"Nggak ada siapa pun. Santai aja, sih," timpal Arga saat ia tahu bahwa Diana sedang memastikan keadaan.
"Duh! Kenapa di sini, sih? Pakai gombal segala!"
Arga terkekeh geli. Ia melepas helmnya dan menaruhnya di sampingnya.
"Pulang bareng gue aja, yuk?" tawar Arga.
"Nggak. Sopir gue pasti jemput. Dia lagi kena macet aja," tolak Diana. Sebenarnya ia tidak tahu kenapa sopirnya lama sekali datang menjemputnya. Jadi, sebisa mungkin Diana memberi alasan pada Arga agar bisa menolaknya.
"Ya, udah ... Gue temani lo."
"Nggak usah, Ga. Lo bisa pulang duluan aja."
"Dan ngebiarin cewek yang gue suka sendirian? Sorry ... No way!" tolak Arga.
Diana menghembuskan nafasnya. Ia lalu memasukkan novelnya ke dalam tasnya.
Diliriknya Arga yang sibuk dengan ponselnya. Diana pun ikut-ikutan memainkan ponselnya agar suasana tidak terasa canggung.
"Setelah lulus, lo kuliah, Ga?" tanya Diana tiba-tiba.
Arga langsung memalingkan matanya pada Diana. Ia kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana sekolahnya.
"Iya. Kuliah. Kayaknya, sih ... Nggak tahu, gue nggak yakin."
"Kok nggak yakin?"
"Bokap maunya gue langsung kerja di kantornya. Lah, gue mana mau! Gue maunya kuliah dulu, ya kalau rezekinya sukses, gue merintis deh jadi pengusaha," jelas Arga. "Kalau nggak ya kuliah sambil kerja," sambungnya.
Diana mengangguk-anggukan kepalanya. "Gue dengar-dengar, bakalan capek tuh, kalau kuliah sambil kerja."
"Kan, dengar-dengar, cantik ... Belum juga nyoba. Dicoba dulu aja, kalau emang capek, ya tetap dilanjut. Lagian kalau sampai berhenti di tengah jalan, kebayang nggak betapa tanggungnya, emannya uang yang udah dipakai atau otak yang udah setengah bekerja?" terang Arga sambil berdecak
Diana terkekeh geli mendengar balasan Arga. Arga memang orang yang sangat realistis. Sampai-sampai ia bahkan sudah memikirkan hal ke depannya.
"Cantik juga kalau ketawa," puji Arga lagi.
"Berhenti puji orang, ah!"
"Emang cantik. Eh, terus lo gimana? Kuliah? Kuliah dong, ya?" tanyanya balik.
Diana mengangguk. "Bener. Gue harus kuliah. Tuntutan nyokap, tapi dikasih kebebasan mau pilih jurusan apa pun yang gue suka."
Arga mengacungkan kedua jempolnya pada Diana sebagai tanda 'bagus'. Ia mendukung apa pun yang diinginkan Diana.
"Ga ... Gue mau tanya deh, sama lo," tiba-tiba nada suara Diana berubah serius.
"Apa?"
"Sebenarnya, apa sih, yang lo suka dari gue? Padahal banyak yang cantik. Kayak Laura itu, menurut gue di atas gue, loh."
Arga diam sejenak. Kemudian ia menghela nafasnya. "Kan gue udah pernah bilang. No reason. Dan, tingkat kecantikan seseorang itu juga berbeda, Di. Lo bisa bilang Diana cantik, tapi menurut gue nggak. Lagian, yang gue lihat juga bukan cuma cantiknya doang kali."
"Kalau nggak ada alasan, itu artinya—"
"Cinta dan sayang. Iya, gue emang cinta dan sayang lo. Sesederhana itu. Nggak mungkin sejak kelas 10 gue terus-terusan suka sama lo. Perasaan itu jadi berubah. Gue udah jatuh cinta sama lo, Di," potong Arga dengan jelas.
Diana tidak bisa berhenti memikirkan Arga yang semakin hari semakin benar-benar membuktikan pada dirinya bahwa ia memang sudah mencintainya. Diana hanya bisa diam tanpa membalas apa yang Arga lakukan untuknya. Ia hanya tidak ingin memberikan harapan palsu untuk Arga.
Sampai akhirnya ketika mendekati hari kelulusan dan semua kelas 12 diliburkan seraya menunggu datangnya surat pengumuman kelulusan ke rumah mereka, menjadi waktu yang tepat untuk Diana menghindari Arga.
Diana juga berpesan pada pembantunya mau pun Paula, Ibunya, untuk mengatakan bahwa ia tidak ada di rumah jika Arga datang ke rumahnya. Setidaknya Diana akan menemuinya seminggu sekali lalu akan menjadi terlihat sibuk seolah tidak di rumah.
"Yah, nggak ada ya, Tante? Hmm ... kalau begitu, bisa titip ini, Tante?" Arga tampak kecewa ketika ia tahu bahwa Diana sedang tidak ada di rumah.
Paula sebenarnya kasihan melihat Arga yang hampir setiap hari datang ke rumah Diana hanya untuk sekadar berkunjung menemuinya.
"Apa ini, Arga?" tanya Paula.
"Itu novel-novel kesukaan Diana, Tante. Setelah saya perhatikan, Diana suka membaca novel terjemahan ya, Tante?"
Arga tersenyum walau senyum itu terasa hambar ketika dilihat.
"Iya, Arga ... Diana suka banget sama novel-novel terjemahan. Makasih, ya. Nanti biar Tante bilang ke dia."
"Ya, sudah kalau begitu saya pamit pulang ya, Tante."
Arga menyalami Paula untuk memberikan rasa hormatnya dan ia meninggalkan rumah Diana dengan perasaan yang benar-benar kecewa.
Paula langsung menyerahkan sekantong plastik pemberian Arga pada putrinya itu. Diana langsung melihatnya dan tersenyum senang ketika melihat isinya.
"Diana, kamu udah besar. Mama nggak melarang kamu dekat dengan cowok selagi hubungan itu sehat, tapi kalau kamu begini terus terhadap Arga, kasihan dia, Sayang," jelas Paula pada Diana.
Diana tahu Paula tidak akan memarahinya jika ia dekat dengan laki-laki sebayanya. Tapi Diana sendiri sudah punya prinsip bahwa ia hanya akan pacaran ketika menghasilkan uang sendiri.
"Iya, Ma. Aku tahu. Tapi kan, setiap orang punya prinsip tersendiri, Ma."
"Dan memangnya apa prinsipmu?" sambar Paula bertanya. Kedua tangannya terlipat di dadanya menatap Diana.
Diana sebenarnya malu mengatakan prinsip atau pun alasannya itu kepada Paula. Ia tidak seintens itu untuk berbagi cerita. Tapi mau tidak mau, Diana harus mengatakannya.
"Aku mau pacaran saat aku bisa menghasilkan uang sendiri, Ma. Aku nggak mau, ya, pacaran pakai uang orang tua!" jelasnya dengan tekad yang kuat.
Paula menggeleng-gelengkan kepalanya menatap putri semata wayangnya itu. "Terus langkahmu buat menghasilkan uang itu bagaimana, Diana?"
Kali ini Diana tidak menjawab. Ia belum kepikiran sampai ke sana. Yang ia pikirkan, lulus kuliah lalu bekerja dan memiliki uang atas hasil kerjanya.
"Belum kepikiran, kan? Mama cuma mau bilang, jangan menyesal untuk sesuatu yang peluangnya sudah kelihatan. Pikirkan, OK?" Paula menasihatinya dan kemudian pergi ke dapur meninggalkan Diana.
Nasihat Paula benar-benar menghantui Diana sepanjang hari.
Di satu sisi, Diana memang tidak bisa memungkiri bahwa ia menyukai Arga. Di sisi lain, ia tidak ingin berpacaran atau mengarah ke hal yang serius. Masih ada beberapa hal yang Diana sendiri ingin lakukan di masa lajangnya.
Semua membuat pikiran Diana mendadak jadi keruh. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan bersama ketiga temannya, Hani, Amel dan Sinta.
Mereka membuat janji temu langsung di lokasi yang tak lain dan tak bukan adalah mal, pusat perbelanjaan yang tentunya menjadi sorotan bagi masyarakat untuk berbelanja.
Ketika Diana sudah bertemu dengan mereka. Mereka pun akhirnya keliling mal dan memasuki beberapa outlet yang sekiranya menarik.
"Jadi lo di sini, Di?" tiba-tiba suara yang Diana kenal dan sedang ia hindari mendadak muncul tepat di belakangnya.
Ketiga temannya sudah masuk outlet pakaian wanita sementara Diana terhenti karena Arga mencekal pergelangan tangannya.
"Arga ... He he," sapa Diana dengan cengiran gugupnya.
"Lo baru aja atau dari tadi?" tanya Arga serius.
"Errr ... Dari tadi, kok. Kenapa?"
"Ayo, ikut gue." Tiba-tiba cekalan tangannya yang tidak dilepaskannya itu menarik Diana menjauh dari outlet di mana teman-temannya berada.
"Duh, Ga, gue lagi sama teman-teman gue, tahu!" sambar Diana kesal.
"Udah, nanti gue yang hubungi mereka satu per satu."
"Eh, jangan! Bentar, bentar, bentar!" seru Diana hingga Arga menghentikan langkahnya.
Diana mengeluarkan ponselnya dan kemudian ia menelepon Hani. Buat Diana, Hani adalah sosok Ibu dalam pertemanan mereka.
Setelah Diana menjelaskan alasannya bahwa ia mendadak sakit perut dan pulang, walau itu hanya sebuah alasan, Diana mematikan panggilannya.
"Lo masih sembunyiin hubungan kita sama mereka?" tanya Arga setelah ia mendengar bagaimana Diana memberi alasan yang sangat membuatnya kecewa.
"Hubungan kita nggak ada apa-apa, Ga. Nggak lebih dari sekadar teman, OK?!"
Arga memilih tidak membalas ucapan Diana. Ia kembali menarik Diana untuk mengikutinya dan mereka memasuki food court.
"Makan?" tanya Diana tak percaya bahwa Arga menariknya hanya untuk makan.
Arga mengangguk dan mereka berjalan perlahan untuk menatap outlet mana yang akan mereka pilih.
"Pilih, mau yang mana," perintah Arga.
Diana mau tak mau pun ikut memilih makanan yang kelihatannya enak.
"Nasi ayam opor, deh. Minumnya es milo," ujar Diana.
"Itu aja? Nggak nambah?" tanya Arga.
Diana lalu kembali memikirkan yang ia inginkan. Kemudian ia sadar sesuatu, Diana hanya membawa uang pas tanpa kartu ATM.
"Tunggu, uang gue pas, Ga. Nanti gue nggak bisa bayar!" lirih Diana ke arah telinga Arga.
"Gue yang bayar. Dan ini bukan uang bokap atau nyokap. Gini-gini gue juga kerja, kali," sahut Arga.
Diana melongo mendengar ucapan Arga sampai ia harus disenggol Arga agar kembali memilih apa yang ia inginkan lagi.
"Itu dulu aja. Serius!" kata Diana sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"OK. Jangan sungkan minta yang lo mau."
Hanya anggukan yang Diana berikan pada Arga untuk meresponsnya. Mereka pun memilih meja dan kursi yang dipilih oleh Diana sendiri dengan letak yang berada di paling ujung. Diana belum siap jika suatu saat seseorang yang mereka kenal atau temannya, melihat mereka di mal sedang berduaan.
Diana serius memperhatikan Arga yang kini tengah mengutak atik ponselnya dengan serius selagi menunggu makanan tersaji di depan mereka. Diana pikir, ternyata Arga terlihat tampan jika dilihat sedekat dan seserius ini.
"Sorry," tiba-tiba Diana berkata.
"Hah? Kenapa?" Arga sepertinya sudah terbiasa dengan orang yang mengajaknya bicara, maka ponselnya ia taruh di sakunya.
"Gue meremehkan lo. Maksud gue, gue nggak tahu kalau lo ternyata punya penghasilan di luar waktu sekolah lo," jelas Diana.
"Lagian, gue nggak perlu ngasih tahu atau pamer juga, kan? Hari ini gue terpaksa bilang karena tahu pasti lo nolak ajakan gue karena pikir lo pasti gue pakai uang orang tua, padahal ya nggak."
Diana hanya tersenyum dan merasa bersalah. Kembali ia memikirkan nasihat Paula tentang peluang yang sebenarnya sudah terlihat dan kita hanya tinggal mengeksekusinya.
"Ga, gue mau bicara serius tentang hubungan kita. Itu pun kalau lo berminat membahasnya," ucap Diana.
"Bilang sekarang, Di. Nggak ada kata nggak minat kalau memang lo mau bahas hubungan kita."
Awalnya Diana menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Lalu bibirnya mulai terbuka seperti ada adegan slow motion dalam pergerakannya.
"Lo tahu kan, gue nggak mau pacaran sebelum gue menghasilkan uang sendiri?" tanya Diana.
Arga mengangguk dan mendengarkan dengan serius. "Lalu?"
"Hmm ... apa lo setuju kalau kita komitmen saja tanpa pacaran? Artinya nggak ada aturan selama kita komitmen sama hubungan kita untuk ke arah yang lebih serius."