Hari kelulusan adalah hari yang selalu dinanti- nantikan oleh para siswa. Semua kerja keras yang mereka lalui selama belajar di SMA akhirnya membawakan hasil. Kelulusan ini selalu di sambut dengan sukacita tapi terkadang juga sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, guru-guru dan semua kenangan yang ada di sekolah itu. Hari kelulusan itu telah tiba saat ini semua murid kelas 12 berkumpul di aula sekolah tempat diadakannya pelepasan siswa-siswi SMA Harapan Bangsa, kepala sekolah sudah berdiri di depan podium.
"Assalamualaikum wr.wb, salam hormat kepada bapak ibu wali murid yang sudah hadir, dewan guru, serta siswa-siswi kelas 12. Tak terasa hari ini tiba juga, terimakasih selama 3 tahun ini sudah menjadi bagian murid SMA Harapan Bangsa, kejarlah cita-cita kalian setinggi mungkin, semoga kalian sukses di luaran sana. Bapak serta dewan guru memohon maaf bila ada perlakuan atau perkataan yang kurang berkenaan saat kalian masih menjadi murid di sekolah ini. Bapak akan mengumumkan lulusan terbaik tahun ini yang pertama dari putra yaitu Fachri Alkana dari kelas 12 IPS 1 dan dari putri yaitu Alanda Caramelia dari kelas 12 IPA 1 selamat kepada kalian berhak mendapatkan beasiswa ke Toronto, Canada." itulah kira-kira wejangan yang disampaikan oleh bapak kepala sekolah.
Para siswa bersorak riang dan terharu, tetapi tidak untuk seorang gadis yang dari tadi diam melamun. Dia adalah Unique salah satu siswa di sekolah SMA Harapan Bangsa yang kabarnya mempunyai hubungan dengan Fachri si anak cerdas.
Setelah semuanya selesai kini tinggal sesi foto-foto untuk kenang-kenangan katanya.
"Widih selamat bro akhirnya apa yang lo impikan terkabul juga." ucap Rizal sahabatnya Fachri.
"Thanks bro." balas Fachri
"Itu artinya lo bakal ninggalin si Uni dong?" tanya Rizal.
"Gue harus nemuin Uni." ucap Fachri sambil berlari meninggalkan Rizal yang terdiam menatap kepergian Fachri.
Sementara Uni dan sahabatnya Yana tampak sedang berbincang bersama yang lain.
"Lo mau lanjut kemana yan?" tanya Alanda kepada Yana.
"Gue ke univ Surabaya." jawab Yana.
"Kalo lo Uni?" tanya nya lagi.
"Belum tau." jawab Uni dengan senyum yang dipaksa.
"Kalo gue si ya pasti bareng Fachri lah uuh ga sabar gue." cerocos Alanda.
"Eh apa jangan-jangan lo ga lanjut kuliah ya, oh lupa duit dari mana coba." sindir Alanda.
"Alanda punya mulut tuh di jaga percuma cantik, pinter tapi ga ada akhlak." bentak Yana.
"Terserah gue dong, kenapa malu hah?"
"Udah stop jangan ribut ga enak baru aja lulus maaf-maaf an." Uni berusaha melerai mereka.
Alanda adalah salah satu orang yang menyukai Fachri tetapi Fachri malah menyukai Uni jadi dia tidak suka dengan Uni karena dia merebut Fachri darinya menurut nya tidak boleh ada yang boleh miliki Fachri sampai ia rela menjadi pintar agar selalu dekat dengan Fachri.
Padahal dalam hati Uni sedih karena dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi seperti anak-anak lainnya yang bebas memilih mau ke universitas mana, bukannya Uni tidak mau berusaha agar dapat beasiswa tetapi iya sudah berjanji pada almarhum ayah nya untuk tidak menyulitkan ibu nya dan akan membantu membiayai keluarganya. Saat nya ia balas budi kepada ibu nya telah menjadi tulang punggung keluarga walaupun jasa seorang ibu lebih besar di bandingkan apapun. Kasian kan kalo terus ibu nya yang terus bekerja keras sedangkan ibu nya hanya seorang pedagang kecil-kecilan, setelah ini dia akan bekerja untuk membantu ibu nya dan juga membiayai sekolah adik nya sampai tinggi.
"Uni ternyata kamu di sini aku cari-cari." ucap Fachri.
"Selamat ya Fachri kamu berhasil menjadi lulusan terbaik." ucap Uni dengan senyuman yang memperlihatkan deretan gigi gingsul nya.
"Ibu kamu kemana?" tanya Fachri.
"Udah pulang duluan, oh iya tadi nitip salam untuk kamu."
"Salam balik, eh ikut aku yuk." Fachri menarik tangan Uni hingga masuk ke mobil nya.
"Eh kemana?" tanya Uni.
"Udah ikut aja."
Setelah menempuh waktu 30 menit perjalanan Uni dan Fachri sampai juga di sebuah danau yang dikelilingi pohon-pohon jati serta bunga-bunga yang cantik. Menyejukkan sekali dengan susana alam yang masih alami.
"Kita duduk di situ yuk." ucap Fachri sambil menunjuk bangku taman itu.
Mereka berdua duduk, terjadi keheningan hanya suara daun yang saling bergesekan. Sampai akhirnya Fachri membuka suara.
"Emm.. pesawatku berangkat jam 6 pagi." kata Fachri yang terus menatap lurus ke depan.
Tak ada jawaban dari Uni.
"Maaf aku ga bisa selalu ada untuk kamu, aku sebenarnya sayang sama kamu lebih dari sekedar teman, maaf aku baru mengakui perasaanku sekarang, aku takut kamu menolak aku setelah tau perasaanku yang sebenarnya aku takut kamu menjauhiku aku ga mau kehilanganmu. Aku emang pengecut, aku bodoh soal hati dan perasaan. Setidaknya aku bisa ngungkapin ini semua sebelum aku pergi rasanya aku lega sekarang." Jelas Fachri
"Selama ini aku juga tau kamu menyimpan perasaan padaku dengan sikapmu, perhatian yang lebih kepadaku, aku takut rasa ini salah, aku selalu menunggu kamu mengatakan ini tapi sekarang saat kamu akan pergi kamu baru mengatakannya." Uni membuka suara dengan mata berkaca kaca.
"Maaf.. Maaf kan aku." lirih Fachri.
"Aku juga sayang sama kamu Fachri tapi perasaan ini bukan apa-apa, pergilah kejar mimpi mu aku sudah ikhlas, semoga kamu bahagia dan sukses di sana dan tentunya menemukan wanita yang lebih dari diriku." sekuat tenaga Uni menahan air mata nya.
"Terimakasih Uni, selama ini kamu mau menjadi teman ku, semoga kamu juga bahagia."
"Ya akan ku pastikan itu." ucap Uni.
"Boleh aku peluk untuk terakhir kalinya?" tanya Fachri.
Uni mengangguk mereka berusaha untuk tegar walaupun hati nya rapuh. Bagaimana bisa setelah sekian lama baru mengakui perasaan nya masing-masing dan cinta nya kandas sebelum di mulai. Apakah perasaan ini hanya semu?apakah benar ini cinta?atau hanya cinta monyet?ah sudahlah memang soal perasaan itu rumit. Apalagi ditinggal pas lagi sayang-sayang nya duh nyesek.
Hari baru, harapan baru yang lalu biarlah berlalu. Saatnya untuk kembali berjuang.
"Welcome dunia kerja." gumam Uni.
"Semangat!!" Uni menyemangati dirinya sendiri.
Hari ini Uni akan mengunjungi Yana sahabatnya yang akan ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah nya.
"Selamat pagi, bu." sapa Uni kepada Ibu nya dengan penuh semangat.
"Pagi, semangat banget anak Ibu ini." ucap Asri sembari sibuk menyiapkan sarapan.
"Hehe iya dong bu harus."
"Adek mana?" tanya Uni.
"Masih di kamar." balas Asri.
"Dek, ayo sarapan." panggil Uni kepada Andreas adik nya.
"Bentar ka." teriak Andreas dari dalam kamar.
Uni, tinggal bersama dengan ibu nya yang bernama Asri dan adik laki-laki namanya Andreas yang masih duduk di bangku kls 3 SMP. Di sebuah rumah sederhana peninggalan almarhum ayah nya.
"Bu, Uni mau ke rumahnya Yana dulu abis itu langsung cari-cari kerja." ucap Uni di sela-sela sarapannya.
"Uni, ibu masih sanggup ko biayain keluarga ini mending kamu lanjut kuliah aja yah." tutur ibu nya.
"Ini udah keputusan Uni, bu."
"Tapi nak.."
"Doa in aja bu semoga Uni bisa membahagiakan Ibu dan Andreas." potong Uni di sela-sela pembicaraan ibu nya.
"Yasudah terserah kamu aja, Ibu selalu mendoakan mu yang terbaik."
"Makasih, bu." ucap Uni yang langsung memeluk Ibu nya.
"Yaudah cepet dihabisin nanti anterin adekmu ke sekolah dulu."
"Siap, bu."
Lantas Uni mengantar Andreas ke sekolahnya menggunakan motor peninggalan almarhum ayah nya.
"Sekolah yang bener ya dek, jangan pacar-pacaran dulu." ucap Uni.
"Siap ka." balas Andreas sembari hormat ala-ala upacara bendera.
Uni menjalankan motornya, ia akan ke rumah Yana. Tiba-tiba ada mobil ngebut menyalipnya dan bruk..Sepeda motor Uni jatuh bersama dirinya. Lantas mobil itu berhenti beberapa meter dari Uni jatuh.
"Heh sialan lo ga bisa nyetir ga usah so so an bawa mobil." maki Uni kepada orang yang menyerempetnya.
Tapi pengemudi itu tidak keluar dari mobil nya, ia memperhatikan gadis yang sedang mengomel dari kaca spion. Tidak lama mobil itu melaju tanpa membantu Uni.
"Awss..kurang aja tuh orang ngebantuin ngga main kabur-kabur aja." Uni menggerutu.
Uni pun berhasil berdiri dan melanjutkan perjalanannya untungnya Uni dan motornya tidak kenapa-napa hanya sedikit lecet.
"Uni..gue nungguin lo dari tadi." ucap Yana yang sudah berkacak pinggang.
"Hehe sorry ada insiden sedikit tadi tapi its oke lah."
"Oooh gitu." Yana ber oh ria.
"Kapan jadwal penerbangan lo?" tanya Uni.
"Siang nanti, oh ya lo ngga nganterin Fachri ke bandara?" Yana balik tanya.
"Ngga yang ada nanti gue susah move on." jawab Uni sambil terkekeh.
"Eh iya gue lupa mau ngomong sama lo, jadi gini lo tau kan restoran sundanese punya tante gue?"
"Iya tau, terus?"
"Tante bilang lagi butuh pegawai, lo mau ngga kira-kira?" tanya Yana.
"Wah serius?ya gue mau lah selagi itu pekerjaan halal gue kerjain daripada nganggur kan." jawab Uni dengan antusias.
"Oke ntar gue chat tante Meli."
"Makasih ya cabat ku."
"Sini-sini peyuk dulu." ucap Yana merentangkan kedua tangannya.
Berpelukan Teletubies kali ah.
"Baik-baik lo di sana jangan pacaran mulu, selesaiin kuliah lo yang bener. Kalo ada waktu senggang kabarin gue."
"Siap bosku."
Tiba-tiba Uni menangis.
"Lo kenapa?" tanya Yana.
"Gue sedih tau, kita berteman udah lama dan sekarang kita berpisah. Gue ngga punya temen lagi deh."
Yana memeluk Uni, "udah, nanti kalo gue liburan pasti kesini ko."
Setelah dari rumah Yana lantas Uni segera ke restoran sundanese.
"Permisi mbak, apakah di sini sedang membuka lowongan pekerjaan?" tanya Uni kepada salah satu pelayan restoran itu.
"Memang di sini sedang butuh pegawai, apakah mba nya mau melamar kerja di sini?" tanya pelayan itu.
"Iya mba."
"Silahkan mba duduk dulu."
Tak lama kemudian pelayan itu datang kembali.
"Silahkan mba, sudah di tunggu manajer."
"Terimakasih."
Tok..tok..tok..
Uni mengetuk pintu ruangan manajer.
"Silahkan masuk." ucap sang manajer.
"Selamat siang bu." sapa Uni.
"Siang, eh ini kan Uni sahabat nya Yana?" tanya tante Meli.
"Tante Meli?eh maksudnya bu Meli."
"Santai aja Uni."
"Hehe."
"Jadi kamu mau bekerja di sini?"
"Iya tan eh bu."
"Uni uni kamu tuh masih seperti dulu ya."
"Kalo gitu kamu di terima kerja di sini, nanti ada Ana yang akan membimbing kamu. Besok sudah bisa langsung kerja." ucap tante Meli.
"Terimakasih bu."
Uni pulang dengan wajah yang ceria sambil bersenandung kecil.
"Assalamualaikum bu."
"Waalaikumsalam, ada apa ini ko ceria banget?" tanya Asri.
"Tau ngga bu?" tanya Uni.
"Ngga." Asri menggeleng.
"Ih Ibu."
"Kan belum Uni kasih tau." kekeh Ibu nya.
"Uni ke terima kerja di restoran tante nya Yana." ucap nya dengan riang.
"Wah syukur deh kalo begitu."
"Yaudah bu, Uni masuk kamar dulu ya."
Uni memasuki kamar nya dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
PT. Madhyapada Indonesia itulah nama perusahaan keluarga Madhyapada yang sudah terkenal se- Asia. Madhyapada furniture perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan penjualan barang meubel serta pelayanan jasa design interior.
Perusahaan yang di dirikan oleh Kurniawan Madhyapada. Ia menikahi Mia dan mempunyai 1 putri yaitu Arselia dan 1 putra yaitu Aresqa. Kini putra nya lah yang memimpin perusahaan itu. Seorang CEO yang kejam, ketus, dingin tetapi tampan, begitulah rumor yang beredar dialah Aresqa Putra Madhyapada.
Brak..
"Apa-apaan ini?" suara Ares yang menggema membuat para karyawan takut.
"Ma... Maaf pak." ucap salah seorang karyawan.
"Saya tidak mau tau cepat bereskan, dalam 30 menit laporan itu belum selesai kamu saya pecat." sarkas Ares.
"Baik pak, segera saya selesaikan."
Ares pergi dari ruangan itu. Para karyawan bernafas lega setelah adegan yang menegangkan. Mereka tidak bisa berkutik lagi jika sang CEO sedang marah seperti itu.
Ares akan pergi ke ruangan Deris, tapi baru sampai pintu Ares mengurungkan niatnya.
"Ck.. Dasar, di kantor pun mesum aja," decak Ares melihat kelakuan sahabat nya itu.
Seorang wanita tampak sedang duduk di pangkuan Deris, kancing bajunya sudah terbuka. Mereka sedang berciuman yang sangat menggairahkan.
"Hmph.. "
Clak..
Sampai suara ciuman mereka pun terdengar.
"Hahh.. " mereka berhenti untuk menghirup oksigen.
"Kamu cantik banget dan hot," bisik Deris, lalu kembali meraup bibir gadis itu. Tangannya pun tak mau diam, Deris memegang apa yang bisa ia jangkau.
***
Uni bergegas mandi dan bersiap-siap untuk bekerja ini hari pertamanya jadi jangan sampai telat.
"Selamat pagi semua." ucap Uni kepada ibu dan adik nya.
"Rapih bener ka." ucap Andreas. Melihat penampilan kakanya memakai kemeja putih, celana hitam.
"Iya dong hari pertama kerja harus rapih, wangi." balas Uni.
"Ayo sarapan dulu." ucap Asri kepada ke 2 anaknya.
Setelah mereka selesai sarapan, Uni berpamitan kepada Ibu nya untuk berangkat kerja.
Restoran Sundanese
Mba Ana selaku karyawan senior langsung memberikan arahan kepada Uni.
"Sistem shift di sini biasanya dirolling tiap satu bulan sekali."
"Kamu bagian waiters, melayani pelanggan, mengantarkan pesanan."
"Jika ada yang tidak mengerti, kamu boleh tanyakan."
"Siap mba."
Uni merasa gugup karena ini kali pertama ia bekerja, biasanya ia hanya membantu Ibunya di warung kecil-kecilan.
"Selamat bergabung di restoran ini, semoga kamu betah ya disini." ucap mba Ana.
"Makasih ya mba Ana."
"Iya sama-sama."
Uni kembali ke dapur, ia harus mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.
"Bismillah.. Semangat Uni." ucap Uni menyemangati dirinya sendiri.
Uni berjalan sambil membawa nampan berisi makanan menuju meja pelanggan.
"Permisi pak, bu, ini pesanannya." ucap Uni sembari meletakkan makanan di meja.
"Terimakasih."
"Sama-sama." balas Uni dengan tersenyum ia ingat pesan mba Ana, harus ramah kepada pelanggan.
Hari pertama bekerja rasanya cukup melelahkan karena pelanggan yang ramai terus berdatangan. Tapi, hati Ini merasa senang melakukan pekerjaan ini.
Tak terasa waktu nya pergantian shift yang artinya Uni sudah boleh pulang. Setelah Uni membereskan barangnya, ia segera keluar restoran menuju tempat parkir motornya.
"Duluan ya mba," sapa Uni dengan ramah.
"Iya."
Sesampainya di rumah Uni tidak melihat siapapun. Ibu nya belum pulang.
"Rebahan dulu deh capek nih." ucap Uni.
Drrtt.. Drrtt..
Uni kaget ia terbangun setelah ada panggilan masuk di handphonenya. Uni melihat jam 5 sore.
"Hoamm.. Aku ketiduran padahal cuma rebahan bentar." ucap Uni kepada dirinya sendiri.
Uni keluar kamar, ia masih tidak mendapati orang di rumah.
"Mending aku masak terus mandi deh."
Setelah semua selesai Uni menunggu Ibu nya pulang sambil berseluncur di sosial media ia melihat ada loker di konter.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh, Ibu ko tumben pulang nya sore banget?" tanya Uni.
"Iya alhamdulillah rame tadi di warung." jawab Ibu Asri.
"Adek ikut?"
"Iya tadi mampir ke warung."
"Yaudah yuk makan, Uni udah masak."
Uni, Ibu Asri, dan Andreas menikmati makanannya walaupun dengan lauk seadanya.
"Gimana hari pertama kerja?" tanya Asri kepada Uni.
"Lumayan capek sih bu tapi Uni seneng ko."
"Di syukuri aja ya sayang." ucap Asri.
"Iya bu, makasih."
Walaupun hidup sederhana Uni selalu bersyukur telah di berikan rizki bisa makan nasi coba di luar an sana masih banyak yang lebih susah, ia juga di kelilingi orang-orang yang ia sayangi.
Jam menunjukan pukul 6 pagi. Matahari sudah muncul dari permukaan.
Terlihat seorang laki-laki yang masih terlelap dalam tidurnya. Nampaknya tidak ada tanda-tanda ia akan bangun. Sampai ada seorang wanita paruh baya yang masuk ke kamarnya dan menyibakan gorden sinar matahari menembus jendela kamar.
"Silau tau." Ucap Ares sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
"Sayang kamu ngga subuhan ya?" Ucap Mama Mia.
"Hmm.. ngantuk mah."
"Kamu ini, makanya cepet cari istri." Celetuk Mia.
"Apa hubungannya mah, udah ah masih pagi." Sewot Ares.
"Kamu ini sekarang seorang Ceo inget itu."
"Iya iya mamah ku sayang."
Setelah ceramah Mama Mia setiap pagi. Ares segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia menuruni tangga karena letak kamarnya berada di atas.
"Adek sarapan dulu." Ucap Arselia kakanya Ares.
"Nanti aja deh di kantor, mau ada rapat telat nih." Balas Ares.
"Kan kamu bos besar nya, sebentar saja lah."
"Baik lah kaka ku yang cantik nan cerewet."
Di tengah tengah sarapan..
"Ares walaupun kamu jadi bos nya tapi kamu harus tetep disiplin." Ucap pak Kurniawan.
"Denger tuh de terus jangan galak-galak sama karyawan." Ucap Arselia.
"Yaudah kalo gitu Ares pamit semuanya Assalamualaikum." Pamit Ares.
"Waalaikumssalam."
Ares pun pergi dari meja makan.
"Lihat tuh anak mu tingkahnya persis sepertimu." Ucap Mia kepada suami nya.
***
Uni sedang berkendara menuju tempat kerjanya.
Saat di lampu merah ia bersebelahan dengan mobil yang waktu itu pernah menyerempetnya tapi Uni belum sadar. Kaca mobil itu terbuka.
"Ah sial, lama banget." Umpat Ares. Ya dia lah pemilik mobil itu.
Ares melihat ke luar jendela mobil, ia melihat gadis itu. Uni pun sama is melihat Ares. Sampai akhirnya lampu berubah hijau. Mobli Ares pun melaju.
Uni baru sadar setelah melihat plat mobil itu.
"Ya ampun itu kan mobil yang peranh nyerempet gue." Ucap Uni.
Ia berusaha mengejar tetapi mobil itu sangat cepat. Uni menghentikan motornya di pinggir jalan sambil melihat jam 7 kurang 15 menit.
"Duh gue lupa harus berangkat kerja." Gerutu nya.
"Awas aja kalo gue ketemu tuh mobil lagi, gue ingat betul plat nomornya!"
Sesampainya di tempat kerja Uni bergegas masuk.
"Selamat pagi Uni." Ucap Diki teman kerja Uni.
"Pagi." Balas Uni.
"Uni, tolong kamu rapikan meja ya. Biar saya pel lantai." ucap Ana.
"Baik mba."
*Di kantor
Saat di lampu merah tadi Ares ingat betul gadis itu yang pernah di serempetnya. Saat Ares melihat ke luar jendela mobil gadis itu juga melihatku. Untung lampu nya sudah berubah hijau. Ia langsung buru-buru tancap gas.
"Wey." Suara Deris mengagetkan Ares.
Deris adalah sahabatnya Ares sejak smp sekaligus sekertarisnya di kantor. Karena Ares percaya kepada sahabatnya itu. Awalnya sekertaris Ares seorang wanita tetapi ia tidak suka dengan tingkah para mantan sekertarisnya itu yang selalu menggoda nya.
"Bisa ga sih kalo mau masuk ketok pintu dulu." Ucap Ares dengan nada kesal.
"Udah gue ketok, lo nya aja yang budeg. Pagi-pagi udah ngelamun, ngelamunin apa sih?" Cerocos Deris.
"Kucing gue mau lahiran tapi bapak nya kabur." Ucap Ares asal ceplos.
"Hahaha.. gila lo kucing di pikirin." Deris tak henti hentinya tertawa geli.
"Udah ketawanya?buatin gue kopi dong gula nya dikit aja." Perintah Ares.
"Buat aja sendiri atau suruh OB, bye gue masih banyak kerjaan." Tolak Deris sembari meninggalkan ruangan Ares.
"Woy gue potong gaji lo." Teriak Ares.
Ares sempat terpikir untuk merekrut menjadi Asisten pribadinya yang bisa menyiapkan apa yang dia butuhkan masa iya harus Deris ogah yang ada di kira homo.
"Apa aku cari istri sekalian, ngga ngga jangan dulu." Pikirnya.
"Yang gue butuhkan asisten pribadi, biar bisa gue suruh-suruh," batin Ares, sembari tersenyum menyeringai.
Dasar ceo manja, maunya dilayanin terus.
Eh tapi, ada yang mau daftar jadi asisten pribadinya Ares? Coba komen