"Tolong ditandatangani Pak." Suci menyerahkan slip penarikan untuk Nasabah di hadapannya. Ia ingin secepatnya mengakhiri transaksi tersebut, karena merasa jengah dengan tatapan lelaki setengah baya di depannya itu. Bukan tanpa alasan Gadis cantik itu merasa terganggu, karena dari sejak masuk dan duduk diantrian hingga berdiri di depan Suci, lelaki tersebut tak henti-hentinya menatapnya. Ia merasa risih dengan tatapan lelaki yang dari buku tabungannya bernama Hery Zhuang, dengan penampilannya yang wah dapat dikatakan kalau Hery merupakan orang berada, apalagi hari ini melakukan penarikan dalam jumlah yang besar. Pikiran jelek terpatri di kepalanya kalau-kalau lelaki tersebut merupakan om-om nakal.
"Tolong dicek kembali sebelum meninggalkan loket." Suci menyerahkan uang beserta resi penarikan. Namun tanpa mempedulikan saran Suci lelaki itu langsung memasukan semua uang tersebut dengan tergesa-gesa tanpa melepaskan pandangannya dari Suci.
"Maaf boleh bertanya?" tanya Hery dengan wajah tegang, sambil melepas masker yang sedari tadi dipakainya. Suci agak terperanjat menyaksikan wajah Herry, wajah dengan bekas sayatan benda tajam dari hidung hingga ke telinga, sepertinya sudah dioperasi tetapi mungkin terlalu dalam sehingga tetap membekas. Suci cepat-cepat mengalihkan pandangannya untuk menghilangkan rasa terkejutnya karena tidak mau membuat Herry tersinggung.
Ia kembali memandang Herry dengan senyum yang dipaksakan, alarm berbahaya dalam dirinya berbunyi. Namun karena berada dalam bank dengan suasana yang sedang ramai membuat Suci sedikit merasa nyaman.
" Ooo ... tentu saja Pak, apa masih ada hal yang diperlukan?" tanya Suci.
"Oouu ... bu-bukan tentang transaksi tadi. Sa-saya ingin bertanya tentang masalah pribadi." Suci mengeryitkan keningnya, menilik Hery dengan tatapan selidik, lalu mengedarkan pandangan pada antrian di belakang Herry.
"Maaf Pak, ini jam kerja. Saya tid ...."
"Maaf Bu saya lagi urgent kalau bisa tolong layani saya secepatnya." sela lelaki di belakang Herry.
"Mohon maaf Pak, saya harus layani nasabah yang lain," ucap Suci sopan sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Walau bagaimana pun Suci tidak mau meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan untuk orang lain. Suci dapat melihat raut kecewa dan kesedihan di wajah Herry.
Gadis cantik itu, melayani nasabah berikutnya. Namun sesekali melirik ke arah Herry yang berjalan menuju pintu keluar, perasaan was-was semakin menyelinap. Dan benar saja Herry masih berdiri di pintu keluar sambil memandang Suci dengan pandangan yang entah. Tatapan mereka sempat bertemu, secepat kilat Suci mengalihkan pandangannya.
Sudah jam istirahat makan siang, sambil memadamkan layar komputer di depannya Suci melonggarkan otot-ototnya, merapikan meja kerjanya dari tumpukan-tumpukan kertas. Hendak membuka kotak bekalnya tapi suara cempreng tiba-tiba menghentikan aksinya
"Cece keluar makan yuk ... bawa bekal lagi?" sapa Santy teman kerja Suci yang membuatnya tersentak kaget.
Sedari kecil panggilan Cece melekat pada dirinya. Suci yang besar di panti Asuhan tampak menyolok di antara anak-anak panti lainnya, dengan kulit yang putih bersih, rambut lurus dan mata agak sipit sehingga anak-anak panti lebih senang memanggilnya Cece, sebutan itu melekat sampai sekarang.
"Bikin kaget aja" ujar gadis cantik itu pura-pura cemberut
"Segitu aja masa kaget," sela Santi dengan senyum lebarnya.
"Sekali-kali napa sih, makan di luar?" Santy mengamati bekal yang dibawa Suci
" Yaaelah ... nasi, mie, sama telur lagi. Nggak bosan apa?"
"Segini aja tapi bagi anak-anak jalanan di luar sana merupakan berkah yang luar biasa," ujar Suci sambil menyendokan makanan ke dalam mulutnya.
"Kamu bukan anak jalanan juga kali," timpal Santy sambil terkekeh.
" Saya juga termasuk salah satu dari mereka yang terbuang," ujar Suci sambil kembali menelan sesuap makanan. Santy menatap Suci terharu, baginya sosok gadis cantik di depannya ini sangat luar biasa. Padahal dengan gaji yang dia miliki sekarang Suci dapat membeli apapun yang ia mau, tapi masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain.
"Jangan terlalu keras pada diri sendiri, sekali-kali manjakan diri napa sih," tukas Santy yang dijawab dengan senyuman oleh Suci.
"Kamu salah kalau menganggap aku terlalu keras pada diri sendiri atau menyiksa diri." Suci kembali memasukan sesuap makanan ke mulutnya.
"Aku 22 tahun hidup dalam lingkungan Panti, sebelum kerja di sini. Walaupun sudah hampir dua tahun tidak tinggal di Panti lagi, tapi bagiku Panti adalah rumahku, keluargaku, banyak suka duka yang aku lewati di sana. Tapi banyak dukanya sih," ujar Suci sambil menerawang ke masa lalunya.
"Terkadang tidak ada donatur mengharuskan kami puluhan anak Panti bertahan dengan beberapa liter beras saja sampai ada donatur lagi. Walau kami juga berusaha sendiri dengan jualan hasil kebun dan usaha yang lainnya, tapi tidak cukup karena bukan satu, dua orang yang dibiayai, ada puluhan bahkan bertambah tiap saat. Jadi seperti gini saja aku sudah merasa lebih dari cukup, malah ada rasa berdosa jika aku berfoya-foya tetapi ade-adeku di Panti harus mengetatkan ikat pinggangnya untuk menghalau rasa lapar. Bagiku berada diposisiku sekarang ini merupakan berkat yang luar biasa, buat orang lain mungkin biasa-biasa aja sih tapi bagiku sangat luar biasa."
Mata Santy berkaca-kaca, dia selalu merasa terharu jika berada dekat Suci.
"Hari ini ngeronda lagi?" tanya Santy. Yang dijawab dengan anggukan kepala Suci. Ngeronda istilah buat Suci yang selalu menyempatkan waktunya setelah pulang kerja untuk membagi-bagikan nasi bungkus buat anak-anak jalanan, yang ditemuinya sepanjang jalan.
Santi membuka dompetnya, lalu mengeluarkan lima lembar merah. "Nih saweranku, aku tambahin lagi dari biasanya."
"Makasi say ... aku doakan semoga cepat berjodoh." Suci meraih lembaran merah itu lalu memasukan ke dompetnya.
"Amin, doakan semoga berjodoh dengan Suga," Santi terkekeh
"Idiih ... mau-maunya, oppa-oppa Korea aja yang dipikirin, ntar ngak laku lho."
"Bay ... Cabut dulu ya. Minta diisi. Ntar nangis lagi kalau dekat kamu" ujar Santy sambil menepuk-nepuk perutnya. Suci tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu karena Santy selalu menangis jika mendengar kisah hidupnya.
Selesai makan, Suci melanjutkan kerjaannya walaupun jam istirahat belum berakhir. Suci lebih memilih memanfaatkan waktu luangnya untuk membereskan pekerjaannya.
Suasana hening terpecah oleh getaran ponsel di laci, membuyarkan kosentrasi. Suci mengambil benda pipih yang bergetar itu.
[Terima kasih nak tansferannya sudah Ibu terima, semoga Allah selalu melindungimu.] notif yang masuk dari Ibu Panti. Tadi Suci menstransfer sejumlah uang ke Panti Asuhan yang selama ini membesarkannya. Hal rutin yang selalu dia lakukan jika sudah gajian. Suci yang sejak lahir dibesarkan di Panti Asuhan telah menganggap Ibu dan anak-anak Panti sebagai keluarganya. Sambil tersenyum ia memencet tombol melakukan Vidio call.
[Assalamualaikum Bu ... sehat-sehat saja kan?] Suci menyapa begitu muncul wajah Ibu Panti di layarnya. Garis-garis halus mulai tampak jelas menghiasi wajah yang sudah mulai renta itu.
[Waalaikumsalam nak, Alhamdulillah kami semua sehat-sehat nak.] muncul wajah wajah cilik di layar, sambil melambai-lambaikan tangan.
[Mbak Cece ... Kapan datang kami rindu,] sapa bocah-bocah cilik itu dengan senyum sumringah. Suci tersenyum menatap anak- anak yang terlihat ceria, mata gadis itu memanas, menciptakan kristal-kristal bening , rasa rindu kepada anak-anak panti semakin memuncak, terakhir ketemu lebaran kemarin.
[Insya Allah bulan depan, saat ini Cece lagi sibuk.]
[Om polisinya mana Cece?] tukas salah seorang remaja yang lebih besar dari semuanya.
[Om polisi di kantornya dong, kamu kapan mulai masuk sekolahnya Yuda?] Tanya Suci lagi.
[Sudah masuk sekolah lagi, Ce.]
[Sekolah yang baik, jangan lupa bantu-bantu Ibu ya, Ibu mana?]
[Barusan ada tamu Ce mau Yuda panggilin?]
[Nggak usah mungkin tamu penting. Salam aja buat Ibu. Cece kerja dulu, jangan nakal-nakal ya sem ...] Belum sempat menyelesaikan kata-katanya ponselnya tiba-tiba padam. Pasti berebutan makanya padam, Suci membatin sambil tersenyum membayangkan tingkah bocil-bocil.
Gadis berambut panjang itu, kembali melayani nasabah hingga waktunya pulang. Ia menuju ruangan kecil disamping pos Satpam untuk mengambil dua keranjang kotak biru yang selalu dibawa dari kontrakannya jika gajian. Keranjang itu biasanya digunakan untuk mengisi nasi bungkus yang akan dibagikan kepada anak-anak jalanan. Saat gajian biasanya Suci membeli lebih banyak nasi bungkus sehingga memerlukan keranjang, karena jika menggunakan kantong plastik agak sulit untuk membawanya dengan motor kesayangannya.
Suci hendak mengikat keranjang di belakang motor tersebut, ketika matanya melihat lembaran uang didalam keranjangnya, serta merta ia mengambilnya.
"Alhamdulillah ... trima kasih orang-orang baik." Suci menghitung lembaran merah dan biru itu, lebih banyak dari biasanya dan sebuah amplop. Ia terkejut karena isinya terlalu banyak dari dugaannya. Tidak biasanya ada amplop, baru kali ini. Tak henti-hentinya Suci mengucap syukur, ternyata tindakan kecilnya sudah menular ke orang-orang di sekitarnya. Gadis berwajah cantik itu dikenal berjiwa sosial tinggi, anak-anak terlantar di jalanan yang memang tidak mempunyai orang tua lagi, di bawa k Panti Asuhan Kasih Ibu, tempatnya dibesarkan. Tiap Minggu rutin sepulang kerja Suci selalu membagikan nasi bungkus. Jika ada kelebihan dibelikan barang-barang yang dibutuhkan oleh anak jalanan, seperti buku, pena dan lainnya. Tiap gajian jatah nasi bungkus mereka selalu bertambah dari biasanya dan hari ini yang terbanyak selama ini. Sudah menjadi kebiasaan teman-teman kerjanya selalu menyisihkan sebagian uang mereka yang di letakkan di dalam keranjang. Mereka sudah tahu kalau uang itu akan digunakan untuk orang-orang yang membutuhkan.
Suci keluar dari parkiran menuju jalan raya dengan Honda beat kesayangannya. Menganggukkan kepala pada Satpam yang di lewatinya. Gadis itu tidak menyadari jika mobil Avanza putih dengan kaca riben hitam sedang membuntutinya. Gerak gerik Suci sejak tadi di perhatikan oleh orang yang berada dalam mobil tersebut.
Jalanan Ibu Kota padat merayap. Bersileweran anak-anak manusia dibawah kolong langit yang mulai memerah, dengan cahayanya yang masih terang benderang dengan meninggalkan hangatnya mentari di kulit, siap untuk menjemput malam. Dengan gesit Suci melajukan motornya. Walaupun terhalang kemacetan tidak memupus niatnya. Akhirnya sampai juga ditujuan. Suci memarkirkan Honda Beatnya di pinggir warung nasi campur. Lalu menjinjing keranjang ke dalam warung.
"Ee ... Cece sudah datang, ayo masuk sudah bibi siapin semuanya," sapa Bi Ati pemilik warung langganan Suci. Bi Ati mengambil keranjang bawaan Suci lalu menyusun nasi bungkus sampai penuh di kedua keranjang tersebut. Ditambah dua kantung besar yang isinya juga nasi bungkus. Kemarin Suci pesan 200 bungkus, lebih banyak dari biasanya. Kalau di akhir pekan hanya 75 bungkus kadang lebih tergantung dana sumbangan.
" Ini bi uangnya, aku lebihin dua lembar Bi." Suci menyerahkan lembaran merah, dari dalam tas kerjanya disambut Bi Ati dengan senang.
"Masya Allah ... makasih banyak Ce, semoga Cece diberikan kesehatan selalu, dijauhkan dari hal-hal buruk, berkah melimpah buat Cece."
" Amin ... doa yang sama juga buat Bibi. Aku cabut dulu ya Bi."
Bi Ati menatap kepergian Suci yang sudah menghilang di ujung jalan. Ada rasa haru dan takjub.
"Kok ada ya jaman sekarang gadis seperti dia, sempetin waktu untuk peduli sama orang lain, udah cantik, baik hati lagi. Semoga kamu selalu dilindungi nak, jangan putus berbuat kebaikan." Bi Ati berbicara pada dirinya sendiri sambil melanjutkan pekerjaannya. Ia selalu kagum dengan sosok Suci.
Avanza putih dari kejauhan setia membuntuti Suci. Memantau gerak gerik Suci dari jarak yang aman. Di ujung lampu merah, sekitar sembilan anak mulai berhamburan menuju Suci saat dia memarkirkan motornya. Mereka berlarian dengan dagangan asongan mereka tanpa merasa terbebani. Tampak rona kebahagiaan dari wajah-wajah kucel mereka.
"Hore ... Cece datang!" Tanpa sungkan mereka saling berebutan memeluk Suci. Ia balas memeluk mereka tanpa rasa jijik. Tingkah mereka menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Perbedaan yang mencolok dari penampilan mereka yang bagaikan langit dan bumi menjadi tanda tanya.
"Loh kok kucel begini." Suci menepuk lembut dan mengusap kepala mereka satu per satu.
"Mana baju yang hari itu Cece belikan Dam, udah Cece bilangkan jangan pake baju seperti gini," ujar Suci pada bocah yang bernama Adam, sambil membetulkan kancing kemeja yang lusuh dan nampak kumal dengan sobekan di sana sini.
"Kata bapak jangan pake baju bagus nanti nggak ada yang kasian, jualan Adam nanti nggak laku." ujar bocah sembilan tahun itu.
"Memangnya Adam mau jualan atau ngemis?"
"Jualan Ce."
"Nah Adam niatnya untuk jualankan? kalau pake baju seperti gini malah orang nggak tertarik untuk beli jualan Adam. Apalagi yang dijual makanan. Nggak boleh lho mengharapkan pengasihan orang lain, nanti Tuhan ma ...."
"Rah ... " sambut anak-anak itu kompak.
"Tadi sekolahkan?"
"Sekolah!" jawab mereka kompak.
"Yuk makan dulu ... yang lain kemana?" tanya Suci sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi tidak tampak yang lainnya. Suci menatap bocah-bocah di depannya, mereka saling pandang-pandangan lalu menunduk tanpa menjawab.
"Yang lain kemana?" tanya Suci lagi dengan kening mengerut.
"Mereka di tempatnya Kang Badri, dipaksa ngemis lagi Ce," jawab tuti yang langsung disikut sama Adam.
"Huuss ... jangan bilang-bilang nanti kang Badri pukul kamu," bisik Adam pelan namun masih terdengar oleh Suci.
"Tuti nggak takut, kan ada om Polisinya Cece," balas Tuti.
"Jadi Kang Badri masih ngotot untuk paksa yang lain ngemis lagi ya?" Mereka serempak menggangguk. Suci menghela napasnya dalam-dalam, perlahan lepaskan. Sudah berkali-kali Badri berurusan dengan Polisi karena memaksa anak-anak dibawah umur untuk mengemis.
"Yah sudah makan dulu ...." Suci membagikan nasi bungkus lalu mengeluarkan tissu basah dan hand sanitizer yang sudah disiapkannya.
"Cece, aku nambah ya buat Mak di rumah, Mak sakit tidak bisa masak," tukas Fadil.
"Loh Mak sakit apa Dil," tanya Suci.
"Demam aja Ce, tadi Fadil udah belikan obat dari tabungan Fadil."
Suci melirik arlogi di tangannya. Niat hati untuk menjenguk Mak Fadil tapi takut kemalaman, apalagi nasi bungkusnya masih banyak.
"Nih gantiin tabungan kamu, sekalian beliin Mak obat ya. Bukanya kamu nabung buat beli sepatu, kalau ada apa-apa hubungi Cece aja. kalau masih sempet nanti Cece mampir."
Suci menyodorkan uang lima puluh untuk Fadil. Sebenarnya Suci bisa memberikan lebih tapi Suci dalam proses mengajarkan mereka untuk menabung dan mandiri.
"Yang lain tabungannya amankan, jualannya gimana masih bisa muter nggak?"
"Aman Ce, malah bisa nabung lebih dari hari sebelumnya," ujar Adam.
Suci tersenyum, bahagia rasanya sudah mulai berhasil mengajarkan mereka, untuk sisihkan sebagian buat ditabung. Tidak sia-sia Suci modalin mereka, yang sebelum ketemu dengannya hampir sebagian besar ngemis. Sebenarnya Suci mau melarang mereka jualan biar fokus sekolah saja, tapi tuntutan ekonomi mengharuskan seperti itu. Suci sendiri belum dapat berbuat banyak, ia masih memikirkan solusinya seperti apa.
Sambil melambaikan tangan Suci melajukan motornya, bocah-bocah cilik itu balas melambai dengan senyum yang mengembang.
Avanza hitam masih setia mengekori. Suci mulai menyadarinya dari spion. Lalu menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia ingin memastikan apakah benar mobil itu mengikutinya atau hanya perasaannya saja. Gadis cantik itu mengambil ponselnya dan menelpon sambil melirik kearah mobil tersebut, dan benar saja mobil itu sedang parkir di kejauhan. Nada panggilan berbunyi berulang-ulang tapi tidak di angkat. Suci kembali memacukan baet merah itu di antara kuda besi lainnya yang sedang berbaris rapi bergerak perlahan. Ia memutar belok di gang sempit mencoba mengelabui penguntit itu. Setelah merasa aman. Suci kembali masuk jalan besar lalu menuju pangkalan anak jalanan.
Sekitar tiga puluh anak-anak dengan rentang usia enam sampai delapan belas tahun terlihat sedang sibuk di rumah petak, yang disewa Suci untuk tempat mereka berkarya. Tiga orang dari mereka berdiri lalu mengangkat keranjang dan kantong yang dibawa Suci.
"Di bagikan Jo, yang keranjang satunya tolong bawakan ke tempatnya Sari." Sari merupakan ketua di komunitas perempuan anak jalanan berada tiga blok di belakang gang.
"Wah ... ada proyek rupanya." Suci mengedarkan pandangannya begitu masuk, di seantero ruangan yang tidak terlalu besar itu, banyak potongan-potongan bambu yang sebagian besar sudah dijadikan gantungan kunci. Anak-anak yang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, langsung berdiri menyalami Suci.
"Iya Ce, Rumah Singgah Peduli mengadakan Talk Show di Depok jadi pesan gantungan kunci untuk cenderamata," ujar Rudy ketua kelompok komunitas. Komunitas Kami Bisa, di bentuk oleh anak-anak jalanan dari berbagai latar belakang ada yang pengemis, pengamen, gelandangan dan lainnya.
Mata Suci memincing ketika melihat mobil yang terparkir di ujung jalan.
"Kenapa Ce?" tanya Rudy mengikuti arah pandangan Suci.
"Mobil itu ngikuti Cece dari tadi Rud," Suci menunjuk dengan dagunya. Rudi dan lainnya serempak berdiri, sebagian langsung berjalan ke arah mobil tersebut.
Seperti dikomando mereka serempak merangsek maju, dengan bambu di tangan mereka.
Suci terpaku, seperti ini kah mereka? Hampir dua tahun bersama tapi baru kali ini mereka menunjukan sifat rimba mereka. Sikap yang ekstrem seperti sudah melekat dengan jiwa. Karakter yang terbentuk karena kerasnya kehidupan jalanan sewaktu-waktu membuat mereka bertindak di luar kehendak mereka.
"Eh ... ngapain? ayo balik!" teriak Suci. Namun mereka tidak menghiraukan. Dengan lincah mereka melangkah.
Mobil itu langsung tancap gas begitu melihat geng remaja, yang menuju ke arahnya dengan bambu di tangan mereka.
"Coba aja tadi diam bentar lagi di situ, gue habisin!" ujar jafar, remaja bertato di sekujur tubuhnya.
"Mau ngapain kalian bawa-bawa bambu gitu! mau ngebunuh orang, hah!" Suci berdiri di depan pintu dengan matanya melebar. Kulitnya yang putih memerah menahan amarah
"Ngapain kamu bawa bambu gitu!" bentak Suci lagi.
"Saya tidak rela Ce, jika ada yang nyakitin Cece." Jafar tertunduk tidak berani menatap Suci, begitupun yang lainnya.
"Hoho ... jadi kamu merasa hebat membela Cece? memangnya kamu tau orang itu mau nyakitin Cece? Hah! jawab!" Sorot mata Suci nyalang menatap Jafar yang menunduk, matanya yang memerah mulai terasa panas, ada rasa kecewa yang terselip di dadanya.
"Setidaknya jika orang itu punya niat baik dia tidak akan membuntuti Cece, pasti d-"
"Stop! Jangan kamu benarkan tindakanmu! Apapun itu ... ingat! Apapun itu! Jangan sekali-kali kamu menyelesaikan masalah dengan masalah! Bukan hanya buat Jafar tapi buat kamu, kamu, dan kalian semua yang ada di sini." Suci menunjuk mereka satu per satu. Suasana hening tercipta.
"Belajarlah untuk menghilangkan jiwa premanisme kalian, jangan pupuk mental-mental kriminal dalam diri kalian. Apapun masalahnya dan situasinya cobalah melihat dari sudut pandang yang positif." Suara Suci serak menahan tangis, perasaannya campur aduk. Suci merasa gagal mendidik mereka.
"Belajarlah untuk menghargai diri kalian sendiri, berusahalah untuk selalu bersikap positif, biar cap sampah masyrakat yang sudah melekat pada diri kalian bisa dihilangkan." Gadis itu menghirup napas dalam-dalam dengan kasar dihempaskannya. Rasa sesak masih terasa menghimpit dadanya.
"Cece kecewa sama kalian ...." Akhirnya bendungan yang sejak tadi ditahan, jebol. Bulir-bulir bening itu berebutan keluar. Bahu Suci terguncang menahan tangis.
Suasana sedih terasa, rahang remaja- remaja itu terlihat mengeras, bocah-bocah cilik tanpa malu menangis tersedu-sedu, menyaksikan orang yang begitu berjasa bagi mereka, orang yang tidak ada hubungan darah tapi berlaku selayaknya seorang ibu.
Seperti ini kah sakitnya seorang ibu yang kecewa terhadap anaknya, mereka tidak tahu karena mereka tidak pernah mempunyai ibu.
Jika ingin memilih mereka juga tidak ingin ditakdirkan terlahir sebagai anak-anak yang terbuang. Tidak ingin merasakan kerasnya hidup.
Mereka merindukan seorang ibu yang berlari mengejar mereka dengan sapu ketika mereka salah, merindukan bentakan-bentakan seorang ayah ketika mereka membuat onar.
Mereka hanya menyaksikan itu, ditakdir orang lain yang terlelap dibawa selimut hangat, sementara mereka meringkuk berselimut angin malam dibawah rintik hujan.
Salahkah jika mereka tidak tahu bagaimana cara mereka mencintai, bagaimana cara mereka berbicara lembut, karena sejak dilahirkan mereka tidak pernah merasakan itu.
Bagaimana mereka bisa katakan manis jika mereka tidak pernah mengecap apa itu manis, karena yang mereka kecap hanya pahit.
Suci menyambar tas kerja serta kunci motornya yang tadi diletakkan di atas meja, setengah berlari keluar dari ruangan itu.
Mereka menatap ke arah Suci yang dengan tergesa-gesa melajukan motornya.
"Argh!" Rudy meninju dinding di depannya berkali-kali hingga meninggalkan bercak merah, entah pada siapa dia harus marah, pada dirinya kah? pada Jafar? atau pada takdir yang mempermainkannya.
Rudy dengan cepat berlari keluar, diikuti Jafar dan dua lainnya, dengan dua motor mereka berboncengan berniat menyusul Suci. Mereka kuatir karena Suci keluar dalam keadaan marah, juga kuatir terhadap penguntit tadi.
Sedangkan Suci yang melajukan motornya tiba-tiba berhenti, pandangannya mengabur karena air mata, ia kuatir melanjutkan perjalanan.
Setelah melihat Suci di depan. Rudy dan kawan-kawannya berhenti menjaga jarak dari Suci. Mereka belum berani mendekati Suci.
Terlihat Suci melepas helm, menyusut air matanya lalu mendongakkan kepalanya ke langit, sambil berkacak pinggang, menghirup napas dalam-dalam lalu dihempaskan dengan kasar. Seperti orang yang sesak napas Suci mengulanginya lagi. Sambil menyusut air matanya yang belum juga berhenti. Dia hanya ingin melepas sesak di dadanya agar air matanya berhenti.
Rudy mengeratkan cengkraman tangannya pada stang motor untuk meyalurkan rasa sesak di rongga dadanya demi menyaksikan Suci yang masih menangis karena mereka. Tanpa ekspresi air matanya juga mengalir. Dengan ekor matanya dia tahu kalau Jafar di samping sedang menatapnya.
Sejak mengenal Rudy baru kali ini Jafar melihatnya menangis.
"Ini kah rasanya ditangisi seorang kakak? Rasanya indah sekali" kata Rudy ambigu. Sebuah rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rudy yang sebatang kara tidak pernah mengenal orangtuanya, merasakan kasih sayang yang tulus dari Suci.
"Aneh ... ditangisi tapi kita merasa bahagia," ujar Jafar dengan tawanya yang sumbang, sambil mengusap kasar air mata yang tiba-tiba mengalir.
" Yaah ... memang aneh karena kita tidak pernah ditangsi oleh siapa pun."
Terdengar suara segukan juga dari belakang, mereka berempat menangis tanpa malu. Dalam hati mereka berjanji untuk lebih baik, harus bisa menghilangkan cap sampah masyarakat yang terlebel di dahi mereka. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang yang melihat laki-laki bertato menangis di jalan.
"Jangan menangis Ce, kami akan berubah demi Cece," gumam Jafar lirih.
Ikatan emosional yang kuat antara mereka mampu mengubah karakter yang telah terbentuk oleh kerasnya hidup di jalanan.
Seandainya di luar sana banyak Suci-Suci lainnya yang manangisi Rudy dan teman-temannya mungkin tidak ada lagi Rudy-Rudy lain yang hidup di jalanan.
***
Bunyi ketukan di pintu kamar kostnya membuat Suci terbangun. Jam di dinding menunjukan pukul 8 malam, ternyata Suci tertidur, sejak pulang tadi.
Sosok dengan seragam coklat itu berdiri dengan senyum menawannya. Aris, lelaki 28 tahun yang telah menjalin hubungan dengan Suci selama dua tahun. Memindai penampilan Suci yang tak biasanya. Dia tahu kalau Suci sedang tidak baik-baik saja.
"Maaf Dek, tadi Abang sibuk ... tidak tau kalau Ade telpon." Aris membawa Suci dalam dekapannya sekejap lalu mereka duduk di bangku depan kamar.
"Nggak papa kok Bang, Cece tau Abang pasti lagi sibuk."
"Iya, tadi lagi tangani kasus narkoba. Informan abang ketahuan, terus dipukuli orang tak dikenal."
"Adek baik-baik saja kan?"
"Tadi Cece nelpon karena ada orang yang buntuti Cece."
"Hhaa? Adek lihat orangnya?" Aris terkejut. Suci menggelengkan kepalanya. Lalu menceritakan kejadian hari ini di pangkalan.
"Apa suruhan Jhontor?"
"Nggak tau juga Bang, selama inikan hanya dia yang tidak suka sama Cece, kalau kang Badri ... nggak jelas juga kadang baik, kadang jahat. Tadi memang anak-anak yang lain tidak ada, katanya di tempatnya kang Badri, dipaksa ngemis lagi."
"Sialan tu orang, belum kapok juga tu si Badri!" umpat Aris.
"Ade jangan ngeronda dulu, abang takut nanti adek di apa-apain. Nanti sama abang aja, kalo abang ada waktu."
"Iya bang, tapi barang-barang yang mau Cece bagikan masih banyak, tuh kamar Cece sudah sempit." Aris berdiri lalu melongok ke dalam kamar sebentar.
"Masih banyak juga yang mau Cece belikan."
"Abang usahakan temani adek nanti."
"Ya udah abang pulang dulu, ati-ati jaga diri baik-baik. Abang pengen mandi lengket semua nih. Tadi langsung kesini karena lihat panggilan Adek. Bagusnya tadi abang mandi dulu biar bisa lama-lama sama adek," sesal Aris.
"Pantas napas Cece sesak, kayak ada acem-acemnya gitu," canda Suci sambil pura-pura menutup hidungnya.
"Nggak mandi di sini aja bang," goda Suci.
"Hah? yang bener dek!" Mata Aris membulat sempurna. Namun kembali meredup, ketika melihat Suci tersenyum menahan tawanya. Perubahan pada wajah Aris menggelitik Suci, wajah menarik itu terlihat lucu.
"Idihh ... mau-maunya." Suci tertawa renyah.
"Pulang gih!"
"Yah udah abang pulang, mana pelukannya?"
Suci berdiri lalu memeluk tubuh tegap itu. Aris mendekap tubuh Suci dengan hangat. Gadis tegar itu jika bersama Aris menjadi manja, Ia menyandarkan kepalanya pada dada Aris, ada rasa hangat yang menyelubungi hatinya.
"Abang cinta banget sama kamu, dek"
"Nikah yuk."