"Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita, Inda."
Sebaris kalimat via chat WA itu perlahan mengusik. Mata gadis itu terasa panas oleh gumpalan air mata yang siap tumpah. Awalnya, sekuat tenaga dia membendung. Namun, rasa sebak di dada akhirnya meluluhlantakkan pertahanan. Akhirnya, satu per satu bulir bening itu jatuh membasahi kedua pipi. Dia bertanya mengapa selalu berakhir begini? Dan ... sesakit ini?
Sore yang hangat di musim kemarau. Indana memandang ke arah jendela kamar yang terbuka, angin bertiup pelan membuat dedaunan pohon mawar yang tumbuh di taman menari seirama. Indana berjalan mendekat ke sisi jendela. Dia metengadahkan wajah. Di langit, awan putih berarak indah membentuk pola abstrak yang memantik imajinasi bagi sesiapa yang memandang.
Sementara itu, di ufuk barat, sinar jingga senja perlahan memerangkap langit turut menjadi panorama indah di sore hari. Namun, pemandangan yang sangat memikat ini tak lantas membuatnya terkesan. Indana tengah diserang rasa gundah. Sebab, baru saja Furqon, lelaki yang akan mengikat janji dengannya, ia mengabarkan akan datang untuk membicarakan sesuatu tentang hubungan mereka. Sialnya, itu bukan suatu kabar baik.
Ponselnya berdenting. Indana segera mengambil benda pipih itu di meja rias. Ada pesan masuk dari Furqon. Dia mengabarkan bahwa dalam waktu beberapa menit akan tiba di sana. Indana segera menyambar kerudung, memoles sedikit gincu warna nude, lalu bergegas menuju ruang tamu.
Di ruang tamu, ada Papa Surya dan Mama Cahaya yang sudah menunggu dan tengah duduk di sofa. Setelah sebelumnya Indana mengatakan kepada mereka bahwa Furqon akan bertandang.
Indana menghirup udara. Perlahan, menapaki lantai marmer dengan sederet kecamuk di dalam dada. Sesaat, ruang tamu berukuran 10×10 meter persegi dengan cat dinding warna putih bersih ini terasa sempit.
"Duduk, Inda." Suara Mama Cahaya membuyarkan lamunan. Indana tergagap, lalu menoleh ke arah sumber suara. Wanita paruh baya yang mengenakan hijab berwarna broken white itu tersenyum sambil menepuk-nepuk sofa, mengisyaratkan agar sang putri duduk di dekatnya.
Baik mama maupun papanya, belum ada yang tahu perihal maksud kedatangan Furqon. Wajah kedua orang tuanya berseri. Mungkin, mereka mengira akan ada kabar baik tentang kelanjutan hubungan anak semata wayangnya. Indana tidak sanggup mengatakan maksud kedatangan Furqon yang sebenarnya. Biarlah mama dan papa mendengar sendiri penjelasan dari lelaki itu.
Tak lama berselang, suara pintu pagar yang dibuka disusul deru mesin mobil memusatkan perhatian mereka. Mama Cahaya segera memerintahkan ART untuk menyajikan jamuan. Sementara Indana dan Papa Surya menyongsong kedatangan orang yang mereka tunggu di ambang pintu utama.
Sosok lelaki berbadan tegap keluar dari mobil Pajero Sport hitam. Dia melepas kacamata hitam dan tersenyum saat melihat sepasang ayah dan anak. Indana meremas dada. Ada desir halus yang merambat di dalam hati. Indana mengakui, Furqon yang saat itu memakai kemeja yang digulung lengannya memang sangat tampan.
"Assalamu'alaikum, Inda, Om." Furqon menyalami Papa Surya dengan senyum lebar. Begitu juga papa yang tampak bersuka cita menyambut kedatangan Furqon.
"Wa'alaikumsalam. Mari, masuk, Nak Furqon." Indana dan Furqon membiarkan orang tua Indana berjalan terlebih dahulu dan keduanya mengekori langkahnya dari belakang.
Sekilas, pandangan keduanya bertemu. Tanpa senyuman. Kedua manik hitam lelaki itu menatap tajam dengan isyarat yang tak dia mengerti.
Saat pertama kali Furqon datang dan menyatakan kepada kedua orang tua ingin membina hubungan yang serius, Mama Cahaya dan Papa Surya sangat setuju. Itu tak lain karena mereka sudah lama menginginkan Indana menikah dan bisa segera menimang cucu. Ditambah lagi, secara kesiapan finansial, Furqon memenuhi standar. Lelaki ramah itu merupakan seorang pebisnis muda yang sukses.
Ragam kue mewah dan mahal tersaji di meja. Mama Cahaya yang menyiapkan semua.
"Buat calon mantu." Begitu kata Mama Cahaya dengan wajah semringah dan antusias saat Indana tanya mengapa pesan kue sebanyak ini.
"Kami senang sekali dengan kedatangan Nak Furqon. Semoga setelah ini kami bisa segera melihat Indana duduk di pelaminan bersama lelaki yang dicintainya. Bukan begitu, Pa?" Perempuan paruh baya itu memulai obrolan diiringi anggukan kepala sang suami.
Indana tersenyum getir. Sementara Furqon, terlihat ada senyuman paksa yang terukir di wajah. Kepala Indana mendadak terasa pening dan sangat berat saat membayangkan bagaimana jika kedua orang tua yang sangat dia sayangi mendengar apa yang akan disampaikan Furqon.
"Bapak dan Ibu tidak ikut?" tanya Papa Surya.
"Tidak, Om. Emmm, beliau ada kesibukan. Sehingga saya sendirian yang datang."
"Orang bisnis memang selalu sibuk," kelakarnya dengan suara tawa bariton yang khas.
"Apa yang mau Nak Furqon sampaikan? Apa mengenai tanggal pertunangan dan pernikahan?" tanya Mama Cahaya bersemangat. Melihat wajah bahagia itu, dada Indana kembali terasa nyeri.
Furqon membetulkan duduk sementara wajahnya tampak tegang. "Sebelumnya, saya meminta maaf. Om, Tante. Kedatangan saya kali ini adalah untuk membatalkan pertunangan saya dengan Indana."
Bak mendengar petir di siang bolong, kedua orang tua Indana lantas terperanjat. Keduanya saling pandang dengan ekspresi kaget dan kebingungan.
Indana tertunduk lesu. Akhirnya, bom waktu itu meledak juga. Tak hanya dirinya yang dipaksa menelan pil pahit ini, akan tetapi, Mama Cahaya dan Papa Surya juga turut merasakan.
"Ta-pi. Kenapa? Bukankah Nak Furqon sendiri yang menyatakan ingin melamar Indana? Apa yang salah?" tanya wanita paruh baya itu masih dengan mimik wajah tak percaya. Indana iba melihatnya.
Furqon menelan ludah. Jakunnya naik-turun disertai deru napas yang memburu.
"Saya telah dijodohkan dengan wanita lain. Dan saya tidak dapat menolak perjodohan itu karena permintaan orang tua." Indana melihat mimik wajah Furqon yang datar. Kentara sekali pernyataan itu bukan berasal dari hatinya.
Indana tahu, tak mudah bagi Furqon untuk mengatakan hal tersebut. Ia terpaksa mengarang alasan yang terkesan masuk akal di depan orang tua Indana. Dan Indana sudah tahu akan hal ini.
"Apa sebelumnya Nak Furqon tidak pernah cerita kepada orang tuanya tentang niat untuk melamar Inda?" Kali ini sang kepala keluarga yang mencoba bersuara setelah sebelumnya dilanda rasa kaget yang luar biasa.
Lelaki beralis tebal itu terdiam. Ia sekilas melirik Indana . Mungkin, untuk meminta petunjuk, hal apa lagi yang harus disampaikan.
"Kita terima saja keputusan Furqon, Ma, Pa. Berat bagi seorang anak lelaki untuk tidak mematuhi keinginan orang tuanya. Apalagi jika itu keinginan dari seorang ibu. Bukankah, selamanya lelaki tetap milik ibunya?" Indana mencoba mengurai ketegangan dan berusaha meyakinkan kedua orang tua. Agar mereka tak mengusut alasan-alasan lain terhadap Furqon.
Setelah jeda beberapa saat, akhirnya mama dan papa legowo menerima keputusan Furqon. Mereka lantas memeluk Indana erat setelah Furqon pamit.
Di tengah derai air mata yang menganak sungai, sekelebat ingatan tentang pertemuannya dan lelaki itu hadir dalam benak. Keduanya pertama kali bertemu secara tidak sengaja ketika mobil perempuan itu mogok. Rupanya, Furqon tertarik dengannya. Indana pun begitu. Keduanya sepakat untuk saling bertukar nomor WA.
Waktu berlalu. Perkenalan singkat itu ternyata membuahkan keyakinan Furqon untuk meminang. Indana menyambut sukacita maksud baiknya. Hingga pada akhirnya, Indana menjelaskan sesuatu yang membuat lelaki itu urung untuk melanjutkan hubungan.
Indana melihat deretan guci mewah di sebuah kastil yang megah. Guci-guci besar berwarna keemasan setinggi pinggang itu tampak mengkilap. Sangat memesona.Indana takjub, lalu membelai salah satunya menggunakan ujung jemari dengan penuh hati-hati. Namun, tiba-tiba secara tak sengaja, tangannya malah menyenggol benda itu hingga oleng dan pecah. Dapat dia saksikan serpihan-serpihannya yang berserakan di lantai. Perempuan itu kalut. Lantas, memunguti satu per satu serpihan itu dan mencoba menyatukannya kembali. Dahinya basah oleh peluh. Sementara, hari mulai gelap, tapi tak jua Indana berhasil menyatukan kembali serpihan itu kembali ke bentuk semula. Indana meraung dan menangis sejadi-jadinya dengan masih menggenggam serpihan-serpihan guci itu di telapak tangan hingga terdengar gema suaranya sendiri di dalam kastil.Suara itu beradu dengan tayangan cepat kilasan peristiwa saat dia pertama kali bertemu dengan Furqon. Lelaki yang mencintainya. Indana teramat sangsi, apakah Furqon bisa menerima kenyataan bahwa dia adalah bunga dengan mahkota yang telah terenggut? Dan pada akhirnya, lelaki itu memang mengambil keputusan untuk melepaskannya.Indana tersadar saat dia mendengar suara dan tepukan keras mendarat di bahu kirinya."Indana!"Refleks perempuan itu membuka mata. Dadanya berdegup kencang seperti sehabis berlari jarak jauh. Dia mendapati Mahiya berdiri di depannya dengan ekspresi bingung."Elo kenapa?" tanya sang sahabat sembari melambaikan telapak tangan tepat di depan mata. Indana langsung menegakkan punggung. "Emmm, Aku ketiduran tadi," jawabnya dengan napas tersengal. "Mimpi apa, sih, lo sampe ngos-ngosan gitu? Aha, gue tahu. Pasti lo lagi mimpi dikejar-kejar Bonge Citayam, ya, kan? Lo kan, ngefans berat ama dia." Mahiya menjentikkan jari dengan senyum menyeringai, khas jika sedang bercanda."Ck! Apaan, sih? Ngapain juga harus Bonge? Lee Min Ho, kek." Indana mencebik kesal. Dia merapikan kembali hijab, lalu menata map-map yang berserakan di meja."Lagian, masih pagi udah bobo cantik aja. Habis ngapain kemaren?" Mahiya duduk di kursi putar yang berada di depannya. Indana tak menggubris dan kembali melanjutkan pekerjaan. Indana masih sangat syok dengan mimpi tadi.Sahabatnya itu mendekatkan wajah ke arah Indana. "Hey. Indana Maheswari. Elo itu pewaris tunggal perusahaan Maheswarya Group. Kerjaan-kerjaan ini bisa dihandel sama gue atau asisten elo.""Aku hobi kerja, Sayang," jawab perempuan itu lembut sambil terus menekan tuts keyboard laptop."Hobi, kok, kerja. Hobi cewek itu hang out. Shooping. Nonton. Nyalon. Gitu, Tuan Putri."Indana menghela napas dan menatap Mahiya dalam-dalam. Dia memang sahabat yang sangat perhatian. Indana tak mungkin berkata jujur jika menyibukkan diri dengan perkerjaan adalah upayanya untuk melupakan rasa sakit akibat gagal bertunangan. Meski setahun telah berlalu namun sakit dan trauma akibat pertunangan yang batal membuatnya tak ingin segera mencari pengganti Furqon dan bekerja merupakan salah satu alasan untuk tetap menjaga kerawasan hati juga pikiran. "Oke, deh. Kayaknya elo bener-bener gila kerja." Mahiya beranjak dari kursi, lalu berjalan menuju ke arah luar ruangan. Saat berada di ambang pintu, dia membalikkan badan. "Entar kalo ada apa-apa atau butuh temen curhat, temen hang out, or apa aja, calling gue."Indana mengangguk pelan sambil tersenyum dan membiarkan sahabatnya berlalu. ***Musik instrumental Nocturne by F. Chopin mengalun lembut. Nada-nadanya yang terdengar menyayat hati semakin mengiris luka yang terlanjur menganga. Indana menyandarkan punggung di kursi kemudi. Tak terasa, air matanya kembali jatuh, mengingat diri yang sudah tak suci lagi sehingga berimbas pada kehidupan asmaranya yang kandas. Dalam hati tebersit tanya, apakah dia memang ditakdirkan untuk tidak berjodoh. Karena pasti semua lelaki lajang menginginkan calon istrinya dalam kondisi belum ternoda.Dalam kekalutan, dia jadi tidak stabil mengemudikan mobil. Indana dikejutkan oleh sosok bocah lelaki yang tiba-tiba akan menyeberang jalan. Perempuan itu lantas banting setir ke kiri, atau jika tidak dia akan menabrak bocah itu."Aaargh!"Kepalanya terasa berdenyut dan terbentur benda yang keras. Setelah itu, pandangannya mulai mengabur, lalu gelap.***Perlahan, Indana membuka kelopak mata yang terasa berat. Dilihatnya langit-langit ruangan bercat putih dengan lampu downlight. Suara-suara riuh dan teriakan terdengar mengusik telinga. Indana menolehkan wajah. Di sana sudah berdiri Mama Cahaya beserta Papa Surya dengan wajah cemas."Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Sayang. Terima kasih, Ya Allah. " Mama yang wajahnya tengah sembab memeluknya erat. Indana benar-benar bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya."Syukurlah," sahut Papa Surya."A-ku, kenapa, Ma? Aw!" Indana memekik sambil memegangi kepala. Dia merasakan pusing yang luar biasa saat berusaha mengangkat kepala. Dilihat tangannya yang terhubung selang infus. Terbersit tanya apa dia sedang sakit? Tapi, dia benar-benar lupa dengan kejadian sebelumnya."Kamu, kecelakaan, Inda. Nabrak pohon. Mungkin kamu kelelahan. Kalau lagi capek sepulang dari kantor, kamu, kan, bisa telepon supir untuk menjemput. Mama sangat khawatir."Indana mengangguk pelan sambil berusaha mengingat rangkaian peristiwa yang dijelaskan mama. Dia hanya berhasil mengingat seorang bocah lelaki yang akan menyeberang pohon. Itu saja.Tak berapa lama, tirai putih yang membatasi antarbilik disibak oleh seseorang. "Sudah sadar? Syukurlah." Lelaki berjas putih itu menyapa singkat dengan melengkungkan senyum. Dia memakai stetoskop dan memeriksa area dada. Diceknya posisi selang infus, lalu mengangguk."Bagaimana, Dokter Utsman? Apa Indana baik-baik saja?" tanya Papa Surya."Iya. Kondisi Inda baik. Hanya saja sepertinya masih terjadi syok di area kepala karena benturan ringan. Tapi insya Allah akan lekas membaik."Kedua orang tua Indana mengembuskan napas lega. Indana sedikit bingung, mengapa mereka mengenali sosok dokter tampan di depannya ini? Indana mengurungkan tanya karena masih dilanda rasa sakit yang luar biasa."Sayang, kenalkan, ini Dokter Utsman Al-Habsyi," ucap Mama Cahaya memperkenalkan.Indana mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. "Indana.""Mama kenal?" tanyanya lirih."Iya. Dia putra dari sahabat Mama dan Papa," jawab mama dengan menatap Indana dan dr. Utsman secara bergantian.Lelaki berkulit putih dan hidung bangir itu menatap ke arah Indana. Dr. Utsman tersenyum manis sehingga tampak semburat kemerahan di kedua pipi. Indana menundukkan wajah saat dirasakan pipinya mulai memanas.Meskipun ini ruang IGD, dokter itu tampak tak keberatan melayani pembicaraan dengan kedua orang tua Indana. Pemuda itu terlihat sangat sopan dan ramah. Mereka asyik bercerita satu sama lain. Dibumbui tawa renyah membuat rasa syok akibat kecelakaan tadi mulai berkurang.Dapat Indana lihat cara dokter itu berbicara, lemah lembut, sepertinya dia lelaki yang baik. Wajahnya yang rupawan sejenak berhasil menghipnotis. Ada harapan yang hinggap di hati. Namun, perempuan itu tiba-tiba teringat akan kegagalan yang dia alami. Indana berpikir, sebaik-baik lelaki, mereka pasti akan menolak menikah dengannya jika mengetahui keadaan yang sesungguhnya.Baru saja Indana berharap mendapat perhatian lebih dari dr. Utsman, dia dipaksa dihentak oleh kenyataan. Seandainya lelaki itu masih sendiri, tidak mungkin rasanya jika dr. Utsman mau membina bahtera rumah tangga dengannya.Sambil berbicara dengan kedua orang tua Indana, lelaki bertubuh proporsional itu sesekali melihat Indana dengan senyum. Sampai pada suatu pertanyaan yang mengagetkannya."Apakah Indana masih sendiri?"
Indana tersedak mendengar pertanyaan dokter muda itu. Apa dia tidak salah dengar?
"Sebaiknya Nak Dokter tanyakan sendiri dengan orangnya." Mama tersenyum menggoda, memberi isyarat agar Dokter Utsman bertanya kepada sang putri.
Loh, kok Aku? batinya bertanya.
Indana tergagap saat dr. Utsman menoleh dan kedapatan dirinya sedang mencuri pandang. Indana refleks berpura-pura mengecek selang infus. Pemuda yang berprofresi dokter itu tersenyum melihat aksi konyolnya.
"Bagaimana, Inda?" Suara lembutnya sungguh sangat mengusik naluri.
Indana menegang. Oh, Tuhan. Memangnya kamu mau apa jadi tanya-tanya begitu? Namun, itu hanya berani dia ungkapkan dalam hati saja.
"Eeemmm, saya ... masih sendiri, Dok. Belum ada yang mau," jawabnya cengengesan.
"Kalau ada cowok yang mau, kamu mau, nggak?"
"Gimana?" Indana mengerutkan kening meminta penjelasan sekali lagi. Biasa, wanita memang butuh penjelasan dan pengakuan berkali-kali.
Dokter Utsman tersenyum lebar. "Maksudnya, kalau ada yang suka sama kamu, dan serius mau menjalin hubungan, kamu mau terima tidak?"
"Memangnya siapa orangnya?"
Pura-pura belagak pilon sajalah Aku.
Lelaki bertubuh atletis itu kembali tertawa. Kali ini diiringi tawa oleh kedua orang tua Indana.
"Om, Tante, kalau diizinkan, nanti saya mau silaturrahmi ke rumah Om dan Tante."
Demi apa? Hati perempuan itu serasa meloncat dari tempatnya. Indana girang bukan main. Dokter tampan itu akan berkunjung ke rumah. Itu artinya .... Namun, dia harus menjaga imej dan tetap bersikap tenang.
"Oh. Silakan. Dengan senang hati, Nak Dokter. Selama ini ayahmu saja yang pernah datang ke rumah. Sekarang gantian, putranya pula yang datang," jawab papa bersemangat.
"Ah, iya. Baik. Nanti saya kabari waktunya."
Setelah mengecek keadaan, pemuda itu memberitahu bahwa Indana sudah bisa pulang dalam waktu beberapa menit lagi. Karena tidak ada luka serius dan kondisinya baik-baik saja. Hanya syok sementara.
Kedua orang tua Indana tampak lega. Dalam perjalanan pulang, Indana tersenyum sendiri mengingat dokter tadi. Namun, senyumnya pudar saat kembali mengingat tentang kesucian dirinya.
***
Tak lama setelah pertemuan di rumah sakit itu, Dokter Utsman benar-benar memenuhi janji. Dia datang ke rumah, sendirian.
Papa Surya pernah bercerita jika salah satu alasan dr. Utsman terkesan kepada Indana yaitu ketika pemuda itu melihat Indana yang sedang menolong pedagang kaki lima yang ditabrak oleh pengendara motor, sementara si penabrak tak mau bertanggung jawab. Ya, Indana mengingatnya. Saat itu pedagang itu dia bawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama dan pengobatan. Syukurnya tak terjadi apa-apa. Sehingga hari itu juga dia bisa pulang. Tak lupa Indana juga memberi uang pesangon sebagai ganti dagangannya yang telah tumpah ke jalanan. Rupanya ... saat itu dr. Utsman melihat.
Seperti biasa, jika ada lelaki mapan yang ingin bertemu dengan sang putri, kedua orang tua Indana selalu antusias. Dia merasa tak enak hati. Karena selalunya, semua berakhir kandas. Ya, mereka memilih untuk tidak meneruskan hubungan setelah Indana mengatakan Indana sudah tidak perawan lagi.
Mungkin, jika hal ini disampaikan dengan orang lain, bahkan Mahiya dulu sempat beranggapan dirinya wanita bodoh karena mau dirayu dengan iming-iming cinta. Namun ketika Indana menceritakan kejadian yang sebenarnya Mahiya justru menjadi satu-satunya orang mensupport. Indana terlalu takut bercerita kepada kedua orang tuanya hingga menjadikan Mahiya satu-satunya tempat bersandar. Wajar jika Indana dan Mahiya sangat dekat, bahkan Indana sudah menganggap Mahiya sebagai saudara. Biar sajalah orang tidak tahu mahkota Indana sudah terenggut. Toh, mereka tidak bertanya.
Namun, baginya, kehidupan rumah tangga itu harus dimulai dengan kejujuran. Sehingga kelak kita menjalani dengan nyaman. Jika rumah tangga dimulai dengan kebohongan dan tipu muslihat, maka dalam menjalaninya nanti pun akan muncul kebohongan-kebohongan lain untuk menutupinya.
Sering dia merasa kasihan terhadap mama dan papa. Kedua orang yang dia cintai itu selalu berharap ada lelaki yang benar-benar mempersunting Indana. Mereka tidak tahu, jika semua lelaki yang dekat dengan perempuan itu menjauh karena dia beritahu satu hal.
Indana juga tak mengerti, mengapa peristiwa laknat itu bisa menghampiri dirinya. Padahal, dia adalah wanita yang selalu menjaga diri dengan menutup aurat. Peristiwa pahit beberapa tahun silam itu sungguh menjadi titik balik kehidupannya. Indana sempat trauma dan membenci pelaku yang sampai saat ini tak berani lagi menampakkan batang hidung di depannya.
Indana menyeka air mata yang jatuh. Dengan mengucap basmalah, dia meyakinkan diri untuk bertemu Dokter Ustman. Indana melihat diri di pantulan kaca rias sekali lagi. Setelah yakin tidak ada sisa air mata, dia keluar kamar dengan membawa sejuta harap.
Di ruang tamu, didapati sosok dokter tampan itu tengah duduk dan asyik berbincang dengan mama dan papa. Lelaki berkemeja hitam itu meliriknya dengan tatapan penuh pesona saat menyadari kedatangan perempuan itu. Indana meremas tepi gamis yang membalut tubuh untuk sedikit menyalurkan rasa gugup.
"Nah, yang ditunggu akhirnya datang juga," seru Mama Cahaya bersemangat.
Dapat dia lihat meja ruang tamu. Penuh dengan kue-kue enak dan mahal. Seperti biasa, sang mama yang memesan. Tapi kali ini dia tak mengetahui terlebih dulu karena dipesan khusus untuk surprise. Itu kata mama sesaat sebelum kedatangan dr. Utsman.
"Maaf, Nak Dokter, jadi menunggu lama," sahut Papa Surya.
"Nggak apa-apa, Om. Wanita biasanya kan, suka dandan. Mungkin itu yang dilakukan Indana sebelum bertemu dengan saya." Dokter Utsman terlihat mencairkan suasana. Indana jadi tersipu-sipu.
"Biar lebih cantik, ya," celetuk Papa Surya tak kalah heboh. Akhirnya ruang tamu ini penuh dengan suara gelak tawa mereka bertiga.
Indana duduk tepat di hadapan dr. Utsman. Tatapan mata keduanya saling memerangkap satu sama lain. Dirasakan dadanya berdegup lebih kencang. Dia rasa, ini normal karena lelaki di hadapannya ini memiliki paras yang paripurna.
"Mungkin, langsung saja, ya. Sebelum ke mari, saya sudah berdiskusi dengan kedua orang tua. Bahwa, niat saya bersilaturahmi ini adalah insya Allah ingin menjalin hubungan serius dengan putri dari Bapak Surya Bramasta. Karena tidak ingin berlama-lama menggantung hubungan, setelah ini saya akan datang secara resmi dengan membawa kedua orang tua. Semoga Bapak, Ibu, dan Indana berkenan."
Kalimat padat dan jelas itu meluncur dari mulut dr. Utsman Al-Habsyi. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter umum itu dengan mantap mengucapkan maksud dan tujuannya untuk menjalin hubungan yang serius dengannya. Indana kembali dilanda rasa haru. Baginya, ini adalah oase di tengah penantiannya beserta kedua orang tua menunggu sosok lelaki yang bersedia melamar.
Mama terlihat berkaca-kaca. Indana akhirnya mengusap kedua matanya karena tak sanggup menahan tangis haru.
Sejak pertemuan mereka di rumah sakit tempo hari, kedua orang tua Indana kompak menyukai dokter tampan itu. Apalagi dr. Utsman adalah anak dari rekan sang ayah yang sudah jelas asal dan nasabnya. Hal itu semakin menambah keyakinan kedua orang tuanya untuk menerima dr. Utsman menjadi bagian dari keluarga mereka.
Indana tak menyangsikan hal ihwal mengenai dr. Utsman. Dia dokter yang baik, tampan, mapan, punya posisi yang prestisius, anak dari seorang dokter pula, berasal dari keluarga baik-baik. Ah, siapa wanita yang tak menerima pinangannya? Namun, perempuan itu tak pernah lupa tentang satu hal yang harus disampaikan dengan calon suaminya kelak. Meskipun, dia harus mempersiapkan diri jika hatinya kembali patah untuk kesekian kali.
Setelah memakan jamuan, dr. Utsman meminta izin untuk berbicara berdua dengannya. Indana menyambut baik niat tersebut. Indana mengajak pemuda itu ke taman depan yang di sana terdapat kolam besar berisi ikan koi peliharaan Papa Surya. Indana mengajak dr. Utsman duduk di saung yang berdiri di tengah kolam.
"Saya boleh mengatakan sesuatu?" Indana memulai obrolan.
"Ya. Tentu saja. Tentang apa?" jawab pemuda itu lembut.
Indana menghirup udara. "Saya sudah tidak perawan lagi. Apakah ... dokter tetap bersedia menikahi saya?"
Sesaat, lelaki itu kaget.
"Saya juga punya masa lalu yang kelam."
"Apa?"