Di sebuah Villa mewah, seorang gadis menangis terisak karena kini tubuhnya berada di bawah kungkungan pria yang dia pikir adalah malaikat. Bagaimana tidak, di saat dirinya dikejar-kejar oleh pamannya karena ingin menjodohkan dirinya dengan pria tua dengan menukar uang. Pria yang ada di hadapannya kini sedang menolong dirinya dan memberi sejumlah uang dengan jumlah yang banyak pada pamannya. Gadis itu bernama Rachel Oktaviani, yang telah kehilangan kesuciannya satu jam yang lalu dan kini ia masih digempur habis oleh pria bertubuh kekar dengan wajah yang tampan. Hal yang tak pernah diduga oleh Rachel sebelumnya.
"Diam dan nikmatilah, karena kau sudah aku beli dari pamanmu yang jahat itu. Jadi kau sekarang harus menurut padaku," ancam pria itu saat melihat Rachel yang terus menerus menangis sambil mencengkram kedua pipi Rachel. Tubuh Rachel kini sudah polos tanpa busana, begitu juga dengan pria itu. Rachel menatapnya dengan wajah yang ketakutan. Sambil tangannya mencengkeram ujung sprei dengan begitu erat. Seakan takut jika pria itu melakukannya lagi dengan kasar. Pria itu sangat bernafsu saat merobek keperawanannya tadi. Sehingga membuat bagian inti di tubuhnya terasa sangat sakit dan perih.
Bibir pria itu kini menyusuri kembali setiap inci tubuh Rachel tanpa lelah. Sejak tadi ia bermain di area gunung kembar milik Rachel yang belum pernah terjamah oleh lelaki manapun. Pria itu merasa sangat senang karena ia adalah orang yang pertama kali menikmati tubuh indah dan seksi milik Rachel. Bagaimana dia bisa tahu jika dirinya adalah orang yang pertama kali menjamah tubuh indah Rachel? Terbukti karena ada darah segar yang mengalir dari inti milik Rachel tadi. Dan kini tercetak jelas di sprei berwarna putih itu.
Meskipun menolak, namun desahan halus dan menggoda keluar begitu saja dari mulut Rachel. Membuat Daren semakin bernafsu untuk mencicipi tiap inci tubuh Rachel. Rachel merutuki dirinya yang merasa terbuai dengan sentuhan pria itu yang berubah menjadi lembut. Tidak kasar seperti tadi. Mulutnya menolak dan meminta ingin dilepas namun hatinya berkata lain.
"Tubuhmu sangat nikmat, mendesahlah sayang!" ucap pria itu yang membuat Rachel semakin terbuai dan merinding karena bisikan pria itu.
Pria itu kembali mencumbu tubuh Rachel tanpa, setiap inci tubuh Rachel tidak dia tinggalkan sedikitpun. Sehingga membuat Rachel merasa kewalahan saat mengimbangi nafsu pria itu.
Hingga beberapa menit kemudian pria itu menyudahi permainannya saat benda pusakanya ingin menumpahkan sesuatu yang sejak tadi tertahan. Suara desahan lolos begitu saja dari mulut Rachel saat pria itu menghentakkan benda pusakanya di dalam intinya. Membuat Rachel merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tidak seperti pertama tadi, hanya kepedihan.
Akhirnya kini tubuh kekar itu ambruk di samping tubuh Rachel dengan napas naik turun yang tak beraturan karena permainannya barusan. Sedangkan Rachel langsung meringkuk sambil menutup sebagian tubuhnya yang polos dengan selimut tebal. Air matanya tak berhenti mengalir sejak tadi. Kesucian yang dia jaga selama dua puluh satu tahun kini hilang sudah dengan cara yang tidak terhormat. Niatnya ingin mempersembahkan kesuciannya itu untuk calon suaminya nanti ternyata sia-sia belaka.
Saat menyadari jika Rachel masih saja menangis, membuat pria itu geram karena merasa terganggu. Lalu pria itu bangkit dari duduknya dan membentak Rachel.
"Diam! Aku bilang berhenti menangis karena aku tidak suka mendengar ada yang menangis. Memuakkan, lagian percuma aku keluarkan uang banyak jika ada tidak mencicipi tubuhmu. Anggap saja itu bayaran atas uang yang aku berikan ke paman mu tadi," ucap pria itu dengan suara yang begitu lantang sehingga membuat Rachel merasa ketakutan dan menutup telinganya rapat-rapat.
Pria itu adalah Daren Beltrand, pria kaya yang hartanya begitu banyak. Usianya kini mencapai tiga puluh lima tahun. Sebelumnya dia tidak pernah tidur dengan wanita lain selain istrinya. Daren sudah mempunyai seorang istri yang cantik di rumahnya dan sudah dikaruniai anak perempuan. Namun, entah kenapa melihat Rachel saat menolongnya tadi membuat naluri dan hasratnya naik dan itu membuatnya semakin tersiksa. Semakin dia mendekati gadis itu gairahnya semakin meningkat, membuat Daren menyetubuhi gadis itu pada akhirnya dengan cara memaksa.
Setelah itu Daren beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi dengan tubuhnya yang masih polos tanpa malu jika di sana juga ada Rachel. Rachel yang menyadari jika Daren berjalan menuju ke kamar mandi tanpa menggunakan baju langsung menutup wajahnya dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
Saat Daren berada di dalam kamar, Rachel kembali menangis karena dia meratapi kesuciannya yang telah direnggut oleh pria yang tidak dia kenal itu. Pria yang baru saja menolongnya dari ancaman pamannya itu justru membuatnya terluka dan tersiksa.
Setelah beberapa menit kemudian Daren keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggang. Rachel yang mendengar jika Daren sudah keluar dari kamar mandi mencoba untuk pura-pura tidur agar matanya tak bertemu dengan tatapan pria itu yang membuatnya takut. Tadi saat pria itu menolongnya dari kejaran pamannya, wajah pria itu tampak begitu teduh. Sehingga membuat Rachel merasa senang dan juga aman.
"Bangun!" bentak Daren dengan suara yang lantang. Seketika itu juga Rachel merasa ketakutan dan langsung bangun sambil tangannya memegang erat selimutnya agar tidak melorot ke bawah dan memperlihatkan tubuh polosnya.
"Meskipun aku nggak ada di tempat ini, aku harap kamu jangan pernah mencoba untuk kabur dari sini. Karena kamu sudah aku beli. Tinggalmu di sini sekarang," tegas Daren sambil mengancingkan kemejanya satu persatu. Sedangkan Rachel hanya mengangguk patuh. Dia tidak ada daya untuk melawan Daren karena Daren bertubuh kekar dan tinggi.
"Akan ada pelayan yang akan memenuhi kebutuhan kamu di sini. Jadi berterima kasih lah padaku karena kamu sudah jauh dari paman mu," ucap Daren sekali lagi. Kini dia sudah tampak rapi dengan baju kemeja yang digulung hingga ke siku beserta celana bahan berwarna hitam yang menghiasi kaki jenjangnya. Kemudian Daren keluar dari kamar dan menutup pintu itu tanpa menatap wajah Rachel yang tampak menyedihkan.
Lalu Rachel kembali menangis sesenggukan karena meratapi nasibnya yang begitu buruk. Setelah itu Rachel menyibakkan selimutnya dan berusaha untuk berjalan ke kamar mandi. Namun bagian intinya sangat terasa sakit dan perih karena Daren menghujamnya berkali-kali tanpa ampun. Membuat Rachel meringis menahan sakit dan berusaha agar tiba di kamar mandi. Dia akan mengguyur tubuhnya yang kotor.
Akhirnya dengan penuh perjuangan, Rachel sudah berhasil masuk ke kamar mandi. Lalu dia menyalakan shower dan dia ada di bawahnya sambil menggosok-gosok tubuhnya secara kasar seakan tubuhnya banyak kotoran yang menjijikkan. Sambil matanya tak berhenti mengeluarkan air mata.
Tak terasa sudah satu jam lebih Rachel berada di dalam kamar mandi. Namun dia tak kunjung keluar dari kamar mandi juga. Dari luar ada pelayan yang memanggilnya namun Rachel tidak menjawab sama sekali.
"Nona!"
"Nona!" Pelayan yang berada di Villa tersebut tampak panik saat tidak ada sahutan sama sekali dari Rachel. Karena dia ditugaskan untuk mengurus Rachel oleh tuan Daren. Rachel tidak diizinkan keluar dari Villa itu. Oleh sebab itu tersebut ditugaskan untuk menjaga dan mengurus Rachel agar tidak kabur dari vila tersebut.
"Nona!" Panggilnya sekali lagi karena masih saja tidak ada sahutan sama sekali. Membuat pelayan yang bernama Sari tersebut merasa sangat takut akan terjadi sesuatu pada Rachel.
Untuk menghilangkan rasa ketakutannya, Sari lalu mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tidak dikunci sejak tadi. Andai dia tahu sejak tadi tentu saja dia tidak akan menunggu jawaban dari Rachel. Hingga dia merasa sangat cemas.
"Nona! Apakah anda baik-baik saja?" tanya Sari saat tidak melihat adanya Rachel di dalam kamar tersebut. Namun dia mendengar ada suara air dari kran di kamar mandi. Sari menduga jika Rachel ada di dalam. Karena di atas ranjang tidak ada Rachel.
Kemudian Sari berinisiatif untuk membuka pintu kamar mandi. Ternyata dikunci dari dalam, membuat Sari panik dan takut terjadi sesuatu pada Rachel. Lalu Sari keluar dari kamar tersebut untuk mencari kunci cadangan kamar mandi agar bisa dibuka dan tahu keadaan Rachel di dalam kamar mandi.
Selang beberapa menit akhirnya Sari berhasil menemukan kunci dan dia bergegas untuk membuka pintu kamar mandi tersebut. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya saat mengetahui Rachel ada di dalam kamar mandi dan tidak mau menjawab. Namun saat tangannya baru saja mau memasukkan kuncinya tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Sari terkejut tentu saja. Ada Rachel yang sedang menggunakan bathrobe mandinya. Dengan rambut yang dibungkus handuk karena basah.
"Nona, kenapa anda tidak menjawab saya? Saya panik tau saat Nona tidak mau menjawabnya," ucap Sari seraya menatap panik pada Rachel yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Memangnya ada apa Bu?" tanya Rachel yang baru pertama kali bertemu dengan wanita paruh baya yang terlihat sangat ramah padanya. Rachel tidak tahu jika wanita yang ada di hadapannya itu adalah kepala asisten rumah tangga yang bertugas di Villa mewah itu.
"Maaf Nona, jangan panggil saya Bu. Saya pembantu di sini. Jadi panggil saja saya bibi!" seru Sari yang merasa tidak enak hati saat Rachel memanggilnya dengan sebutan Bu. Sebab Sari hanya takut jika sampai terdengar dengan tuan Daren yang sangat dingin.
"Jadi Bibi kerja di sini? Kalau begitu apakah saya bisa minta tolong pada anda agar saya bisa keluar dari sini?" tanya Rachel seakan memohon pada Sari agar mau membantunya keluar dari Villa mewah tersebut. Rachel merasa takut saat tadi malam Daren menghajarnya di atas ranjang tanpa ampun dan jeda sehingga membuat kesuciannya terenggut begitu saja. Harapannya untuk dipersembahkan pada suaminya kelak sudah tidak gagal sebab Daren yang melakukannya. Rachel tidak menyangka jika dia malah masuk ke kandang buaya. Dia pikir dia akan selamat dari jerat pamannya yang suka berjudi. Rachel salah sangka.
Sari terkejut saat mendengar permintaan Rachel barusan. Baru kali ini dia melihat wanita yang dibawa ke Villa tersebut oleh Daren. Dia tidak menyangka jika Rachel akan meminta hal tersebut yang tentu saja tidak bisa dia kabulkan.
"Maaf Nona, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda. Sebab tuan Daren memerintahkan pada saya agar menjaga anda dan menyediakan segala macam yang anda inginkan selama berada di sini," jelas Sari agar Rachel sadar jika dirinya tidak bisa pergi dari tempat itu. Perasaan takut seketika muncul begitu saja.
"Berarti saya dikurung di sini Bi? Tapi saya takut." Rachel mengatakannya dengan lirih. Dia takut sekali jika bertemu dengan Daren lagi. Kemudian Rachel melangkah untuk berpindah tempat dari pintu kamar mandi. Sari pun lantas mengikuti Rachel dari belakang.
"Nona tidak perlu takut. Tuan Daren baik kok. Saya ke sini tadi ingin bertanya pada Nona ingin makan apa pagi ini?" tanya Sari. Dia ingin memastikan jika Rachel ingin makan apa agar tidak kelaparan. Sebab jika Rachel kelaparan pagi ini maka Daren akan sangat marah. Tadi Daren sudah mewantinya agar segera menemui Rachel di kamar. Sari merasa heran, bukankah tuan Daren sudah memiliki istri. Apakah wanita yang saat ini dibawanya ke Villa adalah istri tuan Daren? Karena Daren tidak pernah membawa istrinya ke Villa tersebut. Sehingga Sari tidak bisa mengenal lebih jelas.
"Apa aja Bi, akan saya makan." Rachel pun langsung duduk di sisi ranjang. Dia bingung harus memakai baju apa. Sebab bajunya yang tadi malam telah dirobek oleh Daren, lagipula dia tidak bisa memakai itu lagi.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Nona," ucap Sari seraya meninggalkan Rachel sendirian yang kini sedang berdiam diri di kamarnya karena bingung harus memakai baju apa. Sedangkan di kamar itu sepertinya tidak ada baju wanita satu pun.
Rachel merasa jenuh, dia ingin sekali memakai baju. Dia segera beranjak dari ranjang yang masih terlihat berantakan bekas pergulatannya dengan Daren tadi malam. Sejenak membuat Rachel kembali teringat, betapa beringasnya seorang Daren saat menyetubuhinya tanpa ampun. Rasa kagumnya pada sosok Daren sebelumnya yang telah menolong dirinya dari jeratan sang paman pun mendadak berubah menjadi rasa benci.
'Aku mau pakai baju apa coba, di sini nggak ada baju wanita sama sekali. Huh, menyebalkan. Andai saja hidupku tidak susah pasti aku tidak akan terjebak di tempat Villa mewah ini.' Rachel bergumam sendiri sambil tangannya sibuk memilah-milah isi lemari yang baru saja dibuka. Hanya ada pakaian kemeja lelaki di dalamnya yang berukuran besar. Lalu, dengan terpaksa Rachel mengambil kemeja berwarna putih yang Rachel tebak milik Daren. Rachel sendiri tidak tahu namanya siapa pria yang sudah merenggut kesuciannya itu.
'Pakai ini aja deh, dari pada nggak pakai baju sama sekali. Tapi aku nggak punya dalaman. Ah, kenapa hidupku selalu menyusahkan seperti ini. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan. Kenapa juga dia mengurungku di sini.' Rachel kembali bergumam sambil menutup kembali lemari tersebut sambil membawa kemeja yang sudah dipilih untuk dipakai.
Hingga akhirnya terdengar suara pintu dibuka, membuat Rachel mengalihkan atensinya sejenak lalu dia menyelesaikan memasang kancing kemejanya tersebut. Setelah selesai Rachel berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Tangannya terulur meraih handle pintu. Terlihat ada Sari yang sedang membawa nampan yang berisi sarapan untuk Rachel. Sari ditugaskan untuk mengawasi dan menyiapkan kebutuhan Rachel.
"Ini sarapan untuk Nona. Oh ya nanti akan ada baju buat Nona Rachel. Tuan Daren sedang membelikan untuk anda." Sari memberitahu pada Rachel seperti yang diucapkan Daren melalui ponselnya tadi.
Ternyata apa yang dikatakan oleh Sari benar jika Daren akan memberikan baju untuk Rachel. Buktinya sopir Daren kini membawa beberapa paper bag yang berisi baju untuk Rachel. Sari menerimanya dan memberikannya pada Rachel. Sari kembali lagi ke kamar Rachel setelah dia selesai mengantarkan makanannya tadi. Kini Sari sudah berdiri di depan pintu dan ingin mengetuknya terlebih dahulu. Namun sebelum diketuk pintu itu sudah terbuka. Menampilkan sosok Rachel yang kini sedang berdiri dengan membawa nampan bekas tempat makanannya tadi. Sari merasa tidak enak, bisa-bisa Daren akan marah jika tahu Rachel memegang alat itu.
“Nona! Tidak usah dibawa keluar, biar saya saja yang akan membawanya ke dapur.” Sari langsung melarang Rachel yang sedang memegang bekas tempat makannya. Sari kemudian meletakkan paper bagnya terlebih dahulu ke dalam kamar yang saat ini ditempati oleh Rachel. Rachel hanya mengikuti kemana arah Sari akan melangkah. Dia masih berdiri tegak di ambang pintu.
“Maaf, itu apa ya Bi?” tanya Rachel lirih, dia penasaran dengan isi dari paper bag tersebut. Setelah itu nampan yang berisi tempat bekas makannya diambil alih langsung oleh Sari. Rachel pun menyerahkannya.
“Itu baju buat Nona. Tadi tuan yang belikan, silahkan dipakai Non. Nanti kalau tidak dipakai saya yang akan dimarahi tuan,” ucap Sari memberitahu. Dia kemudian membungkukkan badannya karena ingin pamit dari tempat tersebut dan akan meneruskan kegiatannya di dapur tadi. Sari teringat dengan pesan Dari tadi malam jika dirinya harus menjaga dan merawat Rachel Apapun kegiatan Rachel hari ini harus dilaporkan kepadanya. Sebab Daren tidak akan datang lagi ke tempat itu untuk sementara waktu. Dia akan tinggal di rumahnya sendiri bersama sang istri.
Sepeninggalnya Sari, Rachel langsung masuk ke dalam dan memperhatikan beberapa paper bag ynag berjejer rapi. Setelah mendekat, Rachel membukanya satu persatu. Ternyata berisi baju wanita dan ada make up, ada pakaian dalam juga. Rachel langsung mengambil pakaian dalam tersebut lalu melihat ukurannya yang ternyata sangat pas. Membuatnya langsung melotot tak percaya sehingga dia langsung memerah karena malu. Rachel heran, kenapa bisa Daren tahu jika ukuran pakaian dalam miliknya adalah segitu. Ukuran yang sangat pas. Rachel malu, karena ukurannya bukan kecil melainkan besar. Sehingga hal itu lah yang membuatnya malu. Ya, Rachel memiliki ukuran dada yang lumayan besar.
‘Kenapa dia bisa tau, bikin malu aja. Andai aku nggak di sini pasti nggak akan ada lelaki yang tau berapa ukuran braku. Sial, kenapa jadi seperti ini hidupku.’ Batin Rachel yang merasakan malu akibat Daren membelikan dalaman untuknya yang pas di tubuh.
Tak ingin memikirkan hal itu lagi. Kini Rachel segera melepas kemeja yang saat ini sedang digunakannya sejak tadi. Rachel tidak memakai apapun di dalamnya. Tangannya kemudian meraih benda yang sejak tadi membuatnya malu dan tak lupa setelah itu Rachel segera memilih baju-baju yang ada di paper bag tersebut. Semuanya berisi dress sehingga membuat Rachel merasa kurang nyaman. Apalagi dress yang digunakannya saat ini adalah dress simpel namun sangat pendek. Sehingga Rachel yang tidak biasa memakai baju seperti itu merasa tidak nyaman. Malu lebih tepatnya.
***
Malam harinya, di kediaman Daren saat ini sudah tampak sepi. Sepertinya anak Daren sudah terlelap. Daren merangkul tubuh istrinya begitu tiba di rumahnya. “Kamu baru pulang Mas? Tumben, biasanya kamu pulangnya sore, atau kamu lagi ketiduran di kantor Mas?” Sarah, sang istri Daren sedang mengomentari kepulangan suaminya tercinta.
“Tadi lagi lelah di kantor, makanya kerjaan aku serahkan ke Bayu. Dia mau. Tinggal dikit soalnya.” Daren menjawab pertanyaan istrinya tersebut seraya mengajaknya ke kamar. Lalu mereka berdua sudah ada di dalam kamarnya saat ini yang berada di lantai dua.
“Jangan terlalu memberi Bayu pekerjaan banyak, dia juga butuh untuk mencari pasangan Mas. Kamu enggak kasihan sama dia?” tanya Sarah sambil tangannya sibuk menata tas yang tadi dibawa oleh Daren dari kantornya. Daren bekerja di kantor peninggalan almarhum papanya. Kini dia yang bertugas untuk meneruskan perusahaan papanya.
“Kalau dia enggak disibukkan nanti malah pacaran terus, enggak bisa serius dengan wanita. Biarlah, lagian dia setuju aja kok,” sahut Daren sambil tangannya melepas kancing kemejanya satu persatu. Daren lalu meletakkannya ke tempat pakaian kotor. Karena jika tidak seperti itu maka Sarah akan marah. Sarah tidak mau melakukannya untuk Daren.
Sarah diam, kemudian dia duduk di depan meja rias. Melanjutkan rutinitasnya setiap malam, memakai krim malam dan juga hand body untuk merawat wajah dan tubuhnya. Sarah ingin sellau tampil cantik sehingga dia tidak ingin melewatkan hal itu. Daren yang melihat itu langsung mendekati istrinya yan terlihat sangat cantik. Sehingga membuat gairahnya timbul tanpa permisi.
“Kamu malam ini wangi banget sih, cantik lagi. Enggak bosen cantik terus?” ucap Daren sambil memeluk tubuh Sarah yang saat ini sedang sibuk membaluri tangannya dengan lotion. Daren sesekali mengecup tengkuk Sarah, namun hal itu membuat Sarah tak nyaman dan risih saat ini. Sebab dia sedang merawat dirinya. Tidak ingin diganggu.
“Mas! Minggir dulu, aku masih pakai lotion nih. Kamu nggak mandi dulu? Sana mandi dulu!” ucap Sarah sambil melepaskan tangan Daren dari tubuhnya. Daren terkekeh, dia pun langsung menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan bau dan lengket di tubuhnya setelah seharian beraktifitas. Namun saat dia meraih handuk di dekat lemari, tiba-tiba pikirannya kembali teringat dengan gadis yang tadi malam sudah membuatnya dimabuk kepayang. Bahkan Daren tidak pernah bercinta senikmat tadi malam saat bersama Rachel, gadis yang ditolongnya dengan cara menebus dari pamannya sendiri. Hal itulah yang membuat Daren berbuat sesukanya pada Rachel.
‘Gila, kenapa bisa aku kepikiran gadis itu lagi. Dia hanya gadis yang aku tebus dari pamannya. Tidak lebih. Tapi kenapa dia bisa membangkitkan gairahku lagi saat membayangkan wajahnya saja.’ Daren membatin. Dia merasa hawa panas dingin di tubuhnya. Membuat Daren kesal dan buru-buru mandi. Setelah ini Daren akan bercinta dengan istrinya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Daren sudah selesai mandi. Rambutnya terlihat basah dan bulir air sisa mandinya menetes dari wajahnya. Daren memiliki tubuh atletis sehingga Sarah yang sudah menjadi istrinya empat tahun saja masih terpesona dengan pemandangan yang saat ini ada di depan matanya.
Daren mengeringkan rambutnya, sesekali dia mencipratkan percikan air dari rambutnya ke wajah Sarah. Sehingga membuat Sarah menekuk wajahnya karena kesal. Tetapi hal itu malah semakin membuat Daren gemas. Dia langsung menerjang istrinya untuk melakukan percintaan panasnya. Dalam hatinya dia merasa bersalah sekali karena telah bercinta dengan wanita lain selain Sarah. Maka malam ini dia akan melakukan hal itu agar Sarah tidak tahu apa yang dia lakukan tadi malam dengan Rachel.