Anting berbentuk kupu-kupu begitu indah menghiasi kupingnya, kulitnya seputih salju dan wajahnya cantik bagai rembulan malam, dia berjalan dengan kaki jenjangnya.
Suara langkah kakinya itu bagai alunan musik merdu yang menghiasi orang yang melihatnya, sedangkan pria di sebrang sana sedang memandangnya dengan senyuman lebar.
Wanita itu menunduk kepalanya sebagai tanda hormat. "Salam, Tuan."
"Kau habis dari mana saja?" tanya pria itu sambil melihat tangannya.
"Hanya buang air kecil, Tuan."
"Kenapa tak bilang? Aku akan menemanimu tadi," ucap pria itu, umurnya masih 28 tahun tapi janggut tebal memenuhi bagian bawah wajahnya, membuat dia terlihat seperti daddy sugar saat pertama kali melihat.
Gadis itu tersenyum. "Tidak perlu, saya hanya sebentar Tuan."
Tak lama sekertaris Rafael mendekat. "Presdir, Tuan Calvin akan datang malam nanti, tapi---"
Wanita itu mendekat kearah kuping Rafael, yang membuat banyak orang ingin tau, tapi Shofia hanya terdiam bagaikan patung tapi bernafas. "Dia meminta seorang wanita, sebagai hadiah untuknya."
Setelah mendengar hal itu Rafael terdiam, dia cukup bingung dengan wanita mana yang akan dia jadikan sebagai persembahan wanita itu.
"Baiklah! Bawa semua jalang yang kita punya, jangan sisakan satu pun!" ujar Rafael yang membuat sekertarisnya tak paham.
"Anda mau memberikan semua?" tanya wanita itu heran.
"Tidak bodoh, aku nanti akan menyuruhnya memilih," ucap Rafael yang kesal, membuat sekertarisnya langsung pergi setelah pria itu mengatakannya.
Banyak orang disekitar mereka, lalu musik menggema dimana-mana, ini adalah bisnis ilegal miliknya.
Tangan Rafael mengalung di pinggang ramping milik Shofia. Pertemuannya di tempat ia biasa membeli para gadis, membuat dia tertarik padanya. Saat semua orang menangis tak mau, hanya Shofia yang diam, tenang dengan tatapan tegas, seperti tak ada ketakutan pada gadis ini.
Sudah lebih 3 tahun wanita itu bersama tapi kepribadiannya tetap tak berubah, dia tetap patuh bagai anjing sang majikan.
"Tuan! Bukankah anda ada perkerjaan tambahan?" tanya Shofia, dia mendengar sedikit ocehan dari sekertaris wanita itu.
"Lupakan buku berlembar-lembar itu!" ujar Rafael yang sudah membuka beberapa kancingnya, membuat sesuatu tapak tercetak jelas disana. "Aku hanya ingin bersenang-senang, sayang."
Shofia hanya menunduk. "Kalau begitu mari kita ke kamar, Tuan!" ujar gadis itu, bersama dengannya membuat dia selalu paham. Walau wajah dan bentuk tubuh Rafael sangat menggoda tapi Shofia sama sekali tidak tertarik, baginya dia adalah majikan dan dia hanya wanita pemuas, suatu saat ia pasti tak akan butuhkan lagi.
.
.
Malamnya sekelompok orang datang dengan pakaian yang sama, tapi yang paling depan begitu mencolok. Saat tangan itu membuka kaca mata hitam yang dikenakannya, mata berwarna silver itu terlihat.
Kulitnya berwarna kuning langsat, alis tebal, bermata tajam dan memiliki wajah yang sedikit sangar, agak berbeda dengan Tuannya Rafael, ya walaupun kejam tapi wajahnya cukup ramah.
Shofia berada dibelakang Rafael dengan wajah lurus kedepan, tanpa ekspresi itulah yang dia lakukan. Tapi tak ayal dia terus memperhatikan wajah pria itu dari kejauhan dan mengaguminya.
Sekarang kedua pria itu duduk di kursi yang saling berhadapan. Banyak wanita yang juga berbaris rapih di sana membuat pria bernama Calvin itu tersenyum singkat.
Tak lama salah satu orang datang kerahasiaan Calvin dan memberikan koper hitam yang setelah dibuka berisikan uang yang banyak, Shofia tak tau betapa jumlahnya tapi itu lebih dari banyak, sejak dulu Rafael seperti tak pernah bangkrut untuk memberikan uang yang begitu banyak pada orang lain.
"Ini uang yang aku janjikan, Tuan. Dan permintaan anda tentang wanita, aku sudah membawa semua yang menurutku terbaik, sepuluh diantaranya masih perawan," ucap Rafael dengan senyuman yang lebar.
Jari Calvin bergerak beriringan, dia menatap semua wanita yang ada di sana. Tapi jarinya tiba-tiba menunjuk kearah Shofia membuat Rafael terkejut. "Berikan gadis itu, maka transaksi kita selesai."
"Ta-tapi Tuan, bukankah banyak wanita yang lebih cantik dari pada dia, gadis ini adalah bekas saya. Anda yang terhormat tidak akan mungkin menggunakannya bukan?" tanya Rafael yang menolak hal itu.
"Bukankah mereka juga bekas? Walau ada yang perawan tapi mereka pasti tidak berpengalaman bukan?" tanya Calvin sambil melipat tangannya, wajahnya arogan dan sombong.
Ada seseorang yang mengatakan kalau Rafael memiliki wanita yang begitu terlihat spesial 3 tahun ini, padahal dia tipikal yang sering berganti-ganti wanita, tapi sejak memiliki gadis itu dia tidak suka kali membawa wanita ke markasnya, bahkan seperti anda pada gadis lain, karena itu Carvin itu Lihat wanita seperti apa yang membuat Rafael sang Casanova tingkat atas bisa berubah menjadi anti wanita seperti itu hanya karena gadis di sampingnya.
"Aku menolak hal ini!" ucap Rafael dengan spontan membuat Calvin semakin serius.
"Kau yakin ingin membatalkan transaksi kita? Padahal aku tidak sebaik ini pada orang lain, apa salahnya menukarkan gadis itu dengan 100 truk ganja? Pikirkanlah tentang untungnya, Rafael?" tanya Calvin yang membuat hati Rafael bimbang, pria itu mengepalkan tangannya tak lama ia melihat Shofia yang tak berkutik sama sekali.
"Shofia!" panggil Rafael.
"Ya, Tuan!"
"Apa kau ingin mengorbankan dirimu demi aku?"
"Semua keputusan anda ditangan anda Tuan, saya akan mengikuti semua yang anda katakan," ucap Shofia yang membuat Rafael menghela nafas, padahal jawaban yang ia inginkan adalah tidak.
Calvin tersenyum singkat, gadis ini cukup menarik. "Jadi bagaimana, Rafael? Jika mau aku akan membawa lebih dari itu, cukup mudah untuk menyelusup ibu kota."
"Tuan Calvin, bisakah saya pikirkan dulu?" tanya Rafael.
"Tidak ada waktu, aku hanya butuh jawabanmu. Iya atau tidak?" tanya Calvin yang senang mempermainkan lawannya.
Tidak mungkin bagi Rafael memberikan Shofia, gadis itu masih cukup labil untuk bersama Calvin yang memiliki latar belakang yang sangat kejam, bahkan ada yang berkata bahwa salah satu keluarganya adalah kanibal, cukup susah bagi polisi untuk melacak tempat mereka. Markas keluarga terkenal memiliki tempat dimana-mana, jika suka ketahuan, maka mereka akan menjual tempatnya dan membeli markas baru, seperti hantu pada malam hari.
"Baiklah! Aku akan membantu Shofia membereskan barang-barangnya," ucap Rafael yang langsung pergi menarik Shofia ikut.
Setelah cukup jauh, Rafael menguncinya di tembok. "Tuan, ada apa? Bukankah kita akan merapihkan barang-barang?"
"Aku bertanya padamu? Apa kau sungguh akan pergi bersamanya jika aku menyuruhmu!" tanya Rafael yang berharap sekali lagi, Shofia tetap ingin bersamanya.
"Jika anda yang menyuruhku, maka aku akan melakukan hal itu Tuan, bahkan jika anda menyuruhku mati. Aku akan lompat dari atap sekarang juga," ucap Shofia dengan wajah bersungguh-sungguh, membuat Rafael sadar gadis ini seperti tak memiliki perasaan sama sekali, dia memang seperti robot yang bergerak sesuai perintah.
"Kalau begitu jangan pergi! Kita kabur sekarang!" ujar Rafael, yang membuat Shofia mengangguk.
Saat hendak berlari, mereka tiba-tiba terkepung. Suara tepukan terdengar disana, ternyata Calvin yang melakukan hal itu. "Kau tidak perlu kabur, Rafael. Jika memang tak mau, aku juga tak akan memaksamu, tapi---"
Sebuah todong pistol mengarah tepat di kepala, Rafael. "--aku akan membunuhmu, karena sudah main-main denganku."
Tubuh Shofia menghalangi Rafael. "Tolong Tuan Calvin! Tuan Rafael tidak bermaksud begitu, tolong ampuni dia. Saya akan segera merapihkan barang," ujar Shofia yang langsung pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Rafael yang diam bagaikan patung.
Calvin menepuk pundaknya lalu pergi dari sana, ia tak suka dipermainkan, jika saja gadis itu tidak bicara seperti tadi, ia pasti sudah mengeluarkan otak dari kepalanya.
Setelah semuanya pergi, Rafael yang langsung berlari ke kamar Shofia. Setelah sampai ia memegang kedua bahu gadis itu untuk menatapnya. "Shofia dengar! Aku pasti akan mengambilmu kembali, dan berhati-hati dengan pria itu, dia itu sangat kejam, jika terjadi sesuatu kau harus kabur!"
Shofia memegang lengan Rafael sambil tersenyum. "Anda tenang saja Tuan, saya akan melindungi diri saya sebisa mungkin."
Tiba-tiba Rafael mencium bibirnya, membuat gadis itu tak paham. Tapi ia menutup mata serta menikmati, mungkin ini ciuman perpisahan yang mereka lakukan, hubungan panas itu akhirnya berakhir sampai sini.
"Aku mencintaimu, Shofia." Perkataan itu membuat sang gadis itu tak paham, dia memandang Rafael dengan wajah bingung.
"Maksud anda?"
"Maaf aku baru bilang hal ini padamu, tunggu aku!" ujar Rafael, walau wajahnya cukup terpenuhi bulu tapi tak ayal dia sangat tampan.
Tapi selama ini ia hanya mengira hubungan mereka hanya majikan-bawahan, tidak lebih dari itu, tapi ia salah Rafael memiliki rasa padanya.
Shofia tersenyum. "Saya akan menunggu anda, Tuan."
.
.
Shofia sudah masuk kedalam mobil berwarna hitam yang terlihat sangat mahal, pasti pria ini benar-benar orang besar. Di kemudian ada seorang pria cukup muda yang duduk tenang, menunggu sang tuan yang masih mengobrol.
"Aku tidak menyangka, Tuan akan memilih gadis bekas kliennya seperti ini," ucap pria itu yang sekarang menatap Shofia dengan wajah sinis.
"Jika aku bisa memilih, aku ingin hidup bebas seperti gadis kebanyakan," ucap Shofia yang sekarang menatap keluar. Siapa yang tidak ingin hidup bebas, bersama keluarga yang mereka cintai bertindak sesuka hati, tapi ia hanya hidup dalam perintah yang akan memperpanjang umurnya.
Tak lama Calvin masuk dengan wajah yang menatap Shofia. "Jalankan mobilnya!"
Sepanjang perjalanan, Calvin terus memperhatikan membuat Shofia tak nyaman dan juga heran. "Apakah anda ingin bicara sesuatu, Tuan?"
"Ya, kenapa Tuamu Rafael seperti tak ikhlas melepaskanmu, apa yang kau punya?" tanya Calvin yang terlihat sangat tertarik dengan Shofia.
"Aku tidak punya apapun, Tuan," ucap Shofia sambil menunduk.
Tiba-tiba tubuhnya mendekat, membuat Shofia langsung mematung ditempat, apakah setelah membeli dia ingin mencobanya langsung? Gadis itu menutup matanya karena takut, tapi sebuah suara membuat membuat gadis itu membuka mata, ternyata Calvin hanya memasangkan sabuk pengaman, dan tersenyum jail padanya.
Tuan Rafael tidak pernah tiba-tiba seperti itu, dia akan bicara sebelum melakukan sesuatu, tapi Calvin seperti orang yang selalu membuat kejutan, ini sangat tak baik untuk jantung.
Cukup lama perjalanan membuat Shofia mengantuk, biasanya dia tidak pernah seperti ini. Sudah lebih dari satu jam mereka tak kunjung sampai membuat rasa lelah itu perlahan-lahan menjadi kantuk yang cukup mengangguk.
Calvin yang melihat itu, hanya menggeleng. "Kalau ingin ti--"
Belom sempat ia bicara, gadis itu sudah terjatuh di bahunya, membuat Calvin memandangnya. Sang supir yang melihat tidak sedikit kurang sopan ingin membangunkannya. "Tu---"
Tiba-tiba dari jendela supir Calvin mendaratkan telunjuk tepat di mulut, untuk membisikan pada pria itu untuk tidak udah bicara, membuat sang supir langsung terdiam tak berani.
Tiga jam berlalu terasa begitu cepat, baru saja Calvin juga ingin ikut terlelap, tapi mobil sudah berhenti menandakan kalau mereka sampai. "Sudah tiba Tuan."
Sopir itu keluar terlebih dahulu, sedangkan Calvin membuka sabuk pengaman keduanya, dan tiba-tiba Shofia jatuh ke pangkuannya. Membuat Calvin menghembuskan nafas kasar.
Wajah perlahan mendekat. "Bangunlah sebelum aku memperkosamu di sini."
Mata itu sukses terbuka, Shofia bangkit dari posisinya dan menunduk meminta maaf. "Maaf Tuan! Aku ketiduran."
Calvin tersenyum remeh. "Bangun dengan ancaman, cukup menarik."
Pria itu langsung keluar dari mobil, membuat Shofia hanya meringis, sebenarnya ia bangun saat jatuh di pangkuan itu, cuma dia berpikir pria itu akan membangkitkannya, tapi pria itu malah mengancam hal yang seharusnya tak ia takutin
Saat Shofia keluar dari mobil, banyak orang yang berbaris rapih Hingga depan rumah besar itu, ia tak kaget karena Rafael juga selalu mendapat hal ini dari para pengikutnya.
Dia berjalan dibelakang Calvin, mereka langsung menunduk saat pria itu berjalan dihadapan mereka, saat sudah masuk Shofia sedikit bejalan cepat untuk tau kamarnya, dia sudah sangat mengantuk.
Saat sudah berjalan beriringan, ia baru berani bicara. "Tuan! Aku ingin tanya tentang kamarku!"
Langkah itu berhenti dan Calvin berbalik arah. "Kau tidur di kamarku!"
Gadis itu terdiam saat mendengarnya. Ia mengerti kalau dia ini hanya pemuas nafsu belaka tadi tidur sekamar? Apa itu tidak terlalu berlebihan, tanpa ia sadari Calvin telah belajar cukup jauh darinya.
"Jika kau terus mematung di sana, maka Jangan pusing untuk mencaraiku!"
Dengan cepat Shofia mengejar Calvin yang langkahnya cukup cepat, seperti tengah menyiksanya, setelah lantai dua itu mereka taiki tibalah mereka sampai di kamar Calvin.
Tempat itu berwarna biru cerah dengan sprai abu-abu, dan juga peralatan lain yang berwarna hitam, tak ada lagi yang menarik. "Hhhmmm Tuan, apa anda yakin untuk tidur sekamar?"
"Aku tidak suka membual, berapa umurmu?"
"19 tahun."
"Cih, pria itu sudah mencabulimu sejak umur 16 tahun? Dia memang penjahat kelamin," ucap Calvin tak percaya.
"Tapi dia menyentuhku saat usiaku 17 tahun, Tuan."
Calvin mengangguk paham. "Kemarilah!"
Shofia menurut dan berjalan kearahnya. "Berputar!" ujarnya lagi, membuat Shofia juga melakukan hal yang sama.
"Bertingkahlah--seperti anjing!" ujar Calvin, ia kira gadis itu akan menolak tapi ia melakukan apa yang hewan itu lakukan, seperti menggonggong juga mengeluarkan lidahnya seperti anjing sungguhan.
Tiba-tiba gelak tawa terdengar, Calvin tertawa cukup kencang, tapi Shofia tak berkutik sama sekali. Setiap kali ia merasa tak punya harga diri, ia selalu teringat pesan ibunya yang sampai sekarang ia masih tak paham kenapa dia tega menjualnya. "Jadilah penurut, maka akan ibu akan memberikanmu hadiah, anak yang patuh akan disayang, dan anak yang membangkang akan mendapatkan pukulan."
Sejak hari itu ia selalu menjadi gadis penurut, tapi ibunya tetap saja meninggalnya, tapi ia berpikir mungkin dia masih kurang patuh pada ibunya, membuat dia ditinggalkan seperti ini. Itulah kenapa dia begitu patuh bagai orang bodoh hanya demi rasa sayang orang padanya, terbukti Rafael yang mencintai karena hal itu, tapi tetap saja dia meninggalkannya seperti ibunya dulu.
"Kau itu orang bodoh yang pernah aku temui," ucap Calvin tapi tak membuat Shofia berhenti. "Baiklah berhenti!"
"Apa ada hal yang ingin ada lakukan lagi, Tuan?" tanya Shofia.
"Tidak! Aku hanya heran kenapa kau seperti tak punya harga diri?" tanya Calvin yang sedikit heran.
"Karena si penurut akan di sayang dan si pembangkang akan mendapatkan pukulan."
Calvin terdiam, siapa yang mengajarkan kata itu padanya?
"Selama ini mungkin aku kurang penurut bagi mereka, maka dari itu aku di tinggalkan," ucap gadis itu lagi.
"Hiduplah dengan bebas di sini! Lakukan apa yang kau mau!" ujar Calvin membuat Shofia tak paham.
"Tapi--"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, seperti mereka. Aku berjanji padamu," ucap Calvin yang begitu bersungguh-sungguh, membuat Shofia tak paham. Bahkan orang yang paling ia cintai tak pernah bicara seperti ini padanya.
"Apa mau anda dariku?" tanya Shofia, dia masih saja tak mengerti kenapa orang ini tiba-tiba baik, pada orang asing sepertinya, pasti punya maksud tertentu.
Calvin mengangkat satu alisnya heran. "Apa yang kau punya? Apa kau bisa memberiku rumah sebesar ini? Atau mobil yang kau naiki tadi?"
Gadis itu menggeleng, pertanda dia tak memiliki uang sebanyak itu. Mungkin ada sekitar ratusan juta di rekeningnya, atau mungkin lebih. Entah ia pernah mengeceknya, tapi untuk membeli itu semua ia masih tak sanggup.
Pria itu berjalan mendekat, tapi Shofia tak waspada saja sekali, namun bukannya mendapatkan serangan, pria itu malah menaruh tangannya lalu berjalan pergi sambil menutup pintu. "Tidurlah! Selamat malam."
Ia memegang kepalanya tak paham, kenapa tuanya itu begitu perhatian padanya? Padahal mereka baru kenal, mungkin dia memiliki niat jahat atau yang lainnya, tapi apa?
Sedangkan Calvin yang baru keluar langsung di sambut oleh sang pengikut setia, kaki tangan yang sudah lama bersamanya. "Tuan!"
"Ada kabar apa, kali ini?" tanya Calvin yang mengambil kertas dari tangan pria bernama Levi, mereka terpaut cukup jauh sekitar 10 tahun. Calvin berumur 30 tahun dan Levi sudah kepalan empat, walau begitu dia belum juga menikah, ada satu wanita yang membuatnya tertarik, tapi wanita itu selalu menolaknya karena Levi cukup tua baginya.
"Beberapa polisi sudah melacak lokasi gudang senjata kita, Tuan. Secepatnya kita harus memindahkannya," ucap Levi membuat Calvin kesal.
"Pada orang-orang sialan itu tak pernah bisa membuat aku berbisnis dengan tenang, kita harus mencari tempat yang tidak terlalu mencolok, hingga polisi tidak akan sadar," ucap Calvin yang sedang berpikir, sambil berjalan ke ruang tamu keduanya terus berdiskusi.
"Mungkin negara Asia cocok, Tuan."
"Baik! Cari tempat teraman, jika mereka masih menemukannya, persiapkan semua orang untuk membuat ruang bawah tanah sekarang juga!" ujar Calvin yang membuat Levi mengangguk tanda mengerti.
.
.
Pagi harinya Shofia bangun tapi tak ada orang, aneh padahal ini kamarnya namun pemiliknya malah tak menempatinya? Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan Calvin dengan wajah khas bangun tidur, walau seperti itu ketampanannya tak bisa dialihkan, bahkan Mata berwarna silver itu membuat ia seakan terhipnotis.
"Sudah memandangnya? Apa kau akan kenyang menatapku?" tanya Calvin, ia sangat kesal tadi saat tak pelayan membangunkannya ketika sedang mengepel lantai.
"Maaf Tuan," ucap Shofia sambil menunduk.
Tanpa aba-aba pria itu membuka semua kancing yang ada di pakainya, padahal di sana masih ada Shofia yang memandangnya bingung.
"Biar saya bantu Tuan!" ucap gadis itu tiba-tiba.
"Tidak, aku bisa sendiri," balas Calvin tapi saat semua kancing itu terlepas Shofia dengan santainya melepaskan kemeja itu.
"Aku akan menyiapkan semuanya, Tuan," ucapnya yang pergi ke kamar mandi sambil membawa kemejanya itu. Pintu tertutup, saat itu pula Calvin merasa aneh pada gadis itu. Umurnya masih terhitung belia tapi dengan lihainya dia membuka baju seorang pria sepertinya.
Beberapa menit berlalu, pintu itu kembali terbuka menampakkan Shofia yang tersenyum padanya. "Silahkan Tuan! Semua sudah saya atur."
Saat gadis itu hendak pergi, Calvin menarik tangannya membuat Shofia menoleh dengan wajah heran. "Ada apa Tuan?"
"Bagaimana jika kita mandi bersama?" tanya Calvin yang seperti ingin menggoda Shofia, tapi hal itu seperti berbanding terbalik dengan apa yang Calvin pikirkan.
Gadis itu tanpa bicara apapun membuka seluruh bajunya, memperlihatkan tubuh tanpa ada rasa malu sedikitpun. "Mari Tuan!"
Shofia langsung masuk kembali meninggalkan Calvin yang berkacak pinggang, ia rasa ada yang salah dengan mentalnya, Calvin harus membawa gadis itu ke psikiater.
Pria itu mendekat kearah pintu kamar mandi. "Kau mandi saja dulu, aku akan menyusul."
Pintu tiba-tiba terbuka menampilkan Shofia yang memakai handuk entah itu dari mana. "Maaf Tuan, mungkin ada masih kurang nyaman dengan tingkahku, silahkan mandi terlebih dahulu. Saya akan mengatur pakaian anda."
Kaki jenjang itu melangkah melewati, tapi Calvin malah menarik tangan itu dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya.
Selesai mandi, bahkan Shofia tak memperhatikan dirinya dia sibuk sendiri menyiapkan pakaian Calvin. Pria itu hanya melihatnya dari kejauhan, jika kalian berpikir tidak ada hal apapun di dalam sama, kalian salah besar. Tapi walau hampir 1 jam di kamar mandi tadi, gadis itu tampak santai saja seperti tak terjadi apa-apa.
Semua pakaian itu sudah disetrika rapih, tak lama langkahnya berjalan terus ke meja kaca yang di bawahnya terdapat dasi, jam tangan dan aksesoris pria lainnya, membuat Shofia tampak tertarik.
Calvin membiarkan asik sendiri, ia bahkan masih memakai Handuk dari tadi karena aneh dengan gadis ini. Ah ia tau sekarang kenapa Rafael begitu tak rela gadis ini ia bawa, dia anak yang unik, seperti mendapat bayi tapi usianya sudah dewasa, itulah yang ia rasakan.
Setelah selesai memilih, gadis itu berdiri didepannya sambil tersenyum. "Mari Tuan! Aku bantu pakaikan."
"Tidak! Aku bisa sendiri!" ujar Calvin sambil menatap keatas.
"Baiklah, saya akan mengganti pakaian dan membuat sarapan Anda," ucap Shofia yang segera pergi ke arah tas dan membukanya.
Calvin terus memperhatikannya sambil memakai perlengkapan itu, setelah dirasa rapih tanpa ia duga Shofia sudah pergi, padahal hanya tak memperhatikannya sebentar tapi gadis itu sudah menghilang bagai angin, ia juga tak mendengar bunyi pintu.
Sedangkan jauh dari sana Shofia membuka kulkas, dia ingin mencari beberapa makanan untuk sarapan Calvin. Ia ingin berguna di sini, agar ia tak lagi di tinggalkan.
Tak lama salah satu dari mereka mendekat dan menepuk pundaknya. "Sedang apa kau?" tanyanya dengan wajah tak suka.
"Cari bahan untuk sarapan," balas Shofia.
"Tuan biasanya memakan roti dengan selai, dia tidak akan makan lagi setelah sarapan," ucap wanita itu.
"Aku akan buat roti isi untuk Tuan, apa rotinya masih ada?" tanya Shofia.
"Kau ini ingin apa sih? Cari muka depan tuan? Ingin jadi isterinya? Walaupun kau merangkak tuan tak akan mungkin memperhatikanmu, bahkan aku yang sudah beberapa tahun tak pernah dianggap, jangan sok cantik kau itu! Hanya pelacur saja belagu," ucap wanita itu yang memakai pakaian Koki, saat dia bicara kata terakhir wanita itu mendorongnya.
Tapi semua tangan menahannya, Shofia melihat siapa yang sudah baik menolongnya ternyata itu Calvin. Sedangkan yang mendorongnya ketakutan. "Tu-Tuan, a-aku."
Pria itu membantunya berdiri, Susana menjadi mencekam karena hal itu. "Bawa dia keruang bawah tanah!"
Tanpa menunggu lama beberapa orang langsing menariknya menuju ruang bawah tanah. "Tu-tunggu tuan ini bukan seperti yang anda kira!"