Benni Handoko adalah seorang pria tampan, berkulit sawo matang, seorang tuan muda yang menyamar sebagai penjual kosmetik, lebih tepatnya produk skincare, yang banyak di gandrungi oleh kaum perempuan, Bani mnggeluti pekerjaan ini sejak di bangku kuliah.
Sebenarnya dia keturunan pengusaha kaya raya, namun lebih memilih jalan yang dia inginkan daripada harus menikmati kejayaan dan kekuasaan keluarganya.
"Tuan muda, nyonya besar memberikan titah supaya anda pulang kerumah utama hari ini," ucap seorang sopir sekaligus orang kepercayaan nyonya besar.
"Tolong sampaikan kepada nyonya, aku tidak akan pulang hari ini," balas tuan mudanya.
Orang kepercayaan nyonya besar itu menasehati agar Benni mengikuti aturan keluarga dan menjadi penerus perusahaan. Dia sebaiknya belajar dengan giat di sekolahnya, atau mengikuti pelatihan sebagai penerus keluarga pengusaha. Namun ia tak mendengar nasihat orang kepercayaan mamanya dan langsung pergi meninggalkan orang yang sudah berumur paruh baya tersebut.
Dengan menghela nafas panjang, sopir itu pulang ke rumah utama keluarga Handoko, dengan berat hati dia memberi kabar kepada nyonya Sanjaya, bahwa putra sulungnya tidak bisa pulang hari ini.
"Anak itu semakin kurang ajar," ucap nyonya Handoko geram.
"Nyonya tolong jangan marah, sebaiknya berbicara empat mata saja dengan tuan muda dengan waktu yang tepat,” balas orang kepercayaannya.
Nyonya besar berterima kasih atas nasehat yang diberikan, memang benar Benni itu umurnya masih muda dan juga masih ingin banyak mengeksplore diri. Tapi nnyonya besar tidak ingin putra sulungnya itu jadi pembangkang dan lupa dari mana ia berasal.
Benni memilih kuliah di dalam negeri daripada kuliah di luar negeri seperti apa yang di harapkan oleh ibunda tercintanya, baginya tanah air dan produk tanah air harus di cintai, mau sekolah di luar atau dalam negeri yang namanya ilmu jika tidak di pakai hasilnya akan sama saja, berdiri dengan kaki sendiri tanpa mendompleng nama besar ayahnya itulah prinsip hidupnya.
"Yo lelaki miskin, masih berani menampakkan diri di lingkungan sekolah ini," ucap Priska saat melihat Benni.
"Kalau aku miskin kamu apa, wanita murahan!” gertak Benni.
"Lelaki miskin yang bekerja sebagai penjaga toko. seperti kamu tidak pantas sekolah di sini," imbuh Priska.
"Masih mending aku bekerja halal daripada kamu seorang wanita malam, apakah juga pantas bersekolah di sini," balas Benni.
Priska menjadi marah dan geram, ia kesal sekali di katai seorang wanita malam, ia mengaku dia adalah pekerja seni wajar saja pulang malam karena banyak show atau jadwal syuting menantinya, ia mengancam Benni membuat toko kosmetik yang ia jaga akan menjadi tercemar nama baiknya.
Benni menyipitkan matanya, wanita gila itu da pertama yang menghina tapi dia sendiri yang sewot karena di ladeni. Daripada mengurusi perempuan seperti Priska yang tidak ada gunanya apalagi menghasilkan uang, lebih baik mempromosikan dagangan di toko kosmetik yang ia jaga di internet.
“Kakak Benni, kau tidak lupa dengan pesanan skincareku kan, kau sudha berjanji akan membawakannya ke kampus?” tanya pelanggannya.
“Tentu aku tidak lupa dong, ini pesanannmu, totalnya tiga ratus ribu,” balas Benni sambil mengeluarkan skincare dari tas.
“Terima kasih kakak Benni, ini uangnya,” balas salah satu mahasiswi pelanggannya di kampus.
Transaksi jual beli selesai, Benni merenggangkan tubuhnya karena jam kuliahnya juga sudah selesai. Ia kembali ke kafe tempat biasa ia nongkrong, disana juga ia sedang menunggu seseorang yang akan mengambil pesannnya. Sungguh kesal ia bertemu wanita menjengkelkan itu lagi.
"Benni sore begini kamu masih menunggu pelanggan yang akan membeli kosmetik jualanmu itu, aduh sungguh miskin sekali," ucap Priska.
"Bukan urusan kamu, dasar cewek usil," kata Benni seraya meninggalkan priska.
"Sudah sayang jangan terpancing omongan dia, lebih baik kita jalan jalan," ucap Doni kekasih Priska.
"Yuk sayang, beliin aku perhiasan ya," rengek Priska.
"Apapun akan aku berikan untukmu sayang," balas Doni kekasih Priska.
Benni memandang jijik pasangan kekasih itu, Wanita murahan memang sangat cocok dengan tuan muda yang gemar mempermainkan wanita. Benni menilai Priska hanya dipermainkan oleh Doni. Memanjakannya lalu akan membuangnya suatu saat nanti seperti yang sudah-sudah.
"Tuan muda!" panggil sopir pribadi nyonya Handoko sambil berlari mendekati Benni.
"Bilang kepada nyonya hari ini aku belum mau pulang," Sopir itu belum mengucap ingin apa datang tapi Benni sudah menjawabnya. Karena ia sudah tahu jika sopir datang pasti disuruh oleh nyonya besar untuk segera pulang ke rumah.
Orang kepercayaan nyonya besar kebingungan menjawab apa yang dikatakan oleh tuan mudanya. Mungkin karena sudah sering seperti ini jadi tuan muda pertamanya sudah mengetahui tujuannya datang mencarinya. Ia mengungkapkan bahwa nenek Benni datang ke rumah utama untuk menemui semua cucunya. Jadi Benni juga harus ada di sana.
"Ada Brian dan Bella di rumah, apakah aku perlu datang ke rumah utama juga?" tanya Benni yang ogah pulang.
"Tuan muda, anda jangan keras kepala, hari ini ada pertemuan keluarga, jadi anda harus datang, semua orang menunggu anda pulang, anda sudah terlalu lama tidak pulang ke rumah utama tuan muda," bujuk orang kepercayaan nyonya Handoko.
Benni sangat malas sebenarnya jika harus pulang ke rumah utama, yang ada nanti ia akan selalu bertengkar dengan mamanya. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Tapi ia menyetujui akan pulang ke rumah utama keluarga Handoko karena sudah lama juga tidak bertemu sang nenek. Jika itu membicarakan pewaris perusahaan, pasti ia akan segera pergi dari rumah.
"Bagaimana jawaban anak itu Saryo, apakah dia tidak akan pulang juga hari ini?’ tanya nyonya.
"Tuan muda tidak pulang hari ini nyonya, tetapi dia akan datang ke acara keluarga besok malam,” jawab pak satyo.
"Apakah itu benar, apa yang kamu katakan satyo?" tanya nyonya sedikit gembira.
Orang kepercayaan nyonya Handoko hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaannya, nyonya begitu gembira akan kedatangan anak sulungnya yang jarang pulang ke rumah utama itu, nyonya menelpon keluarga Wijaya, nyonya Wijaya adalah teman akrab nyonya Sanjaya, dan mereka sepakat untuk menjodohkan Benni dengan putri keluarga Wijaya.
"Mami, kenapa harus kakak yang di jodohkan dengan Lusi Wijaya?" tanya Brian.
"Ini sudah perjanjian mami sejak dulu sayang,” jawab Nyonya Handoko.
"Brian tidak setuju mi, mami kan tahu aku dan Lusi adalah teman sejak kecil, dan aku mengenalnya lebih dulu, kenapa bukan aku yang di jodohkan dengan Lusi mi?" Tanya Brian.
"Tapi perjanjian perjodohan ini untuk kakamu," balas nyonya Handoko.
"Mami selalu pilih kasih, lalu mami anggap aku ini apa?” tanya Brian yang kesal.
Percekcokan pun tak terhindarkan antara mami dan anak itu, karena Brian merasa kesal kenapa maminya selalu mengutamakan sang kakak daripada dia. Tuan Handoko masuk ruangan dan melerai keduanya.
"Kalian ini sedang bertengkar masalah apa? Memalukan sekali!” gertak tuan Handoko.
istri dan tuan muda kedua keluarga Handoko, mengakhiri perdebatan. mereka duduk di ruang keluarga susuai arahan dari tuan Handoko untuk berdiskusi tentang apa yang mereka debatkan, “Mami menjodohkan Lusi dengan kakak, sedangkan mami tahu kami tumbuh bersama dan saling mencintai,”
"Tapi Benni adalah anak sulung dan pewaris keluarga maka mami memilih Lusi yang berbakat untuk menjadi pendampingnya,” ucap nyonya Hnadoko.
"Apakah aku juga tidak pantas menyandang pewaris keluarga ini?" tanya Brian.
Tuan Handoko marah besar atas jawaban istrinya. Apa hubungannya Benni dijodohkan dengan Lusi karena akan menjadi pewaris perusahaan. Tuan Handoko menilai ini sangat berlebihan. Mereka mempunya tiga anak jadi perusahaan akan di bagi menjadi tiga untuk anak-anaknya bukan satu saja. Tuan Handoko menasehati istrinya untuk tidak pilih kasih dan membeda-bedakan putranya, semuanya sama.
"Liani apa maksudmu ini, memangnya aku akan mewariskan perusahaan hanya pada Benni saja,” bentak tuan Handoko.
“Tapi suamiku, Benni anak sulung jadi akan menjadi pewaris dan penamping yang cocok adalah Lusi wijaya,” jawab nyonya Handoko.
“Mami hanya selalu fokus pada kakak yang entah dimana keberadaannya itu, apakah aku ini bukan anak kandung mami?” tanya Brian.
Nyonya Handoko hanya terdiam, dia bingung untuk menjawab pertanyaan anak kedua nya itu, sebenarnya nyonya Wijaya lebih suka bila Benni yang menjadi menantunya, karena Benni adalah anak sulung dan sudah pasti menjadi pewaris perusahaan keluarga Handoko yang besar itu.
"Brian, mami akan mengenalkanmu dengan beberapa wanita putri dari keluarga kelas atas yang lain,” ucap nyonya Handoko.
"Tidak, aku hanya mau Lusi Wijaya, mami jika masih ingin menjodohkan kakak dengan Lusi aku akan bertengkar dengannya,” jawab Brian.
Tuan Handoko meminta Brian untuk menenangkan dirinya. Beliau tidak ingin hanya karena wanita terjadi perpecahan antara kakak dan adik itu. Beliau meminta Brian untuk memilih beberapa penari berbakat untuk menghibur acara perjamuan keluarga yang akan di adakan sebentar lagi.
"Brian lebih baik kamu membantu papi ke studio penari milik teman papi, kamu pilih penari berbakat untuk menghibur tamu perjamuan keluarga kita besok,” pinta tuan Handoko.
"Baik papi, aku akan kesana, siapa tahu bisa bertemu dengan wanita cantik disana," balas Brian.
Brian pergi meninggalkan nyonya dan tuan Handoko di ruang keluarga, dan bergegas menuju studio seni sesuai perintah ayahanda nya. Sebenarnya ia malas ke studio karena pasti disana isinya perempuan murahan yang menjadi simpanan para om-om kaya.
"Liani, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" tanya tuan Handoko.
"Suamiku, nyonya Wijaya ingin Benni menjadi menantunya, sedangkan aku tahu Lusi dan Brian sudah lama mereka dekat, aku bingung harus bagaimana,” jawab istri tercinta tuan Handoko.
"Apa alasan nyonya wijaya ingin sekali menjadikan Benni sebagai menantunya?” tanya Tuan Handoko.
Nyonya Liani Handoko, menceritakan jika nyonya Wijaya kepincut dengan Benni karena ia sudah mempunyai usaha sendiri. Sebuah toko kosmetik yang ada di dekat kampusnya sendiri. Toko itu sangat ramai pengunjung. Dari kecil mungkin nanti akan menjadi besar itulah sebabnya nyonya Wijaya ingin sekali menjadikan Benni sebagai menantunya.
"Anak itu memiliki toko darimana, modal dari mana?” tanya tuan Handoko heran.
"Aku juga belum begitu paham dengan apa yang dilakukan oleh anak itu di luaran sana,” jawan nyonya Handoko.
Tuan Handoko menggelengkan kepalanya, sepertinya dia tidak kekurangan uang. Untuk apa putra sulungnya itu memilih membuka toko kecil di pinggi jalan seperti itu. Padahal dia minta apa saja juga akan langsung tersedia. Sedang fokus mengobrol dengan istrinya tuan Handoko dikagetkan dengan kedatangan ibundanya.
"Handoko aku ingin berbicara sebentar kepadamu," pinta ibunda tuan Handoko.
“Ibu kapan datang, kenapa tidak mengabari, duduklah bu, biarkan Liani membuatkan ibu teh,” ucap tuan Handoko.
Ibunda tuan Handoko menjelaskan makdusnya. Bahwa dahulu kala ia berjanji akan menjodohkan cucunya dengan cucu sahabatnya. Tetapi sudah sangat lama cucu sahabatnya itu menghilang saat kecelakan berlibur bersama keluarganya.
Namun beberapa hari yang lalu saat menyalurkan dana amal ibunda tuan Handoko melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan sahabatnya. Beliau sangat yakin jika gadis itu adalah cucu dari sahabatnya yang telah lama menghilang. Ibunda tuan Handoko berharap gadis itu bisa menikah dengan salah satu cucunya bisa Benni ataupun Brian.
"Ibu mirip belum tentu itu adalah gadis yang sama, kalau begitu biarkan aku meminta orang untuk menyelidiki gadis itu,” ucap tuan Handoko.
"Aku setuju padamu, semoga gadis di panti asuhan itu benar-benar cucu sahabatku yang telah lama hilang,” jawab ibunda Tuan Handoko.
Ibunda tuan Handoko sudah lega menceritakan apa yang mengganjal di hatinya. Beliau istirahat di kamarnya karena lelah perjalanan ke rumah putranya. Di tempat yang berbeda di studio para penari berbakat berada Brian bertemu dengan gadis yang di maksud oleh neneknya.
***
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda, atau mungkin anda sudah membuat janji dengan orang kami?" tanya recepsionis yang bertugas.
"Aku ingin bertemu bagian marketing, aku sudah membuat janji dengannya,” jawab Brian.
"Baik tuan tunggu sebentar," ucap resepsionis sambil menekan tombol telepon menghubungi bagian terkait.
Bagian resepsionis memandu Brian untuk menunggu di ruang tunggu perusahaan. Tak lama kemudian orang yang sudah membuat janji dengannya menemui Brian. Orang itu bernama Riko yang bertanggung jawab jika ada klien yang menginginkan memakai jasa penari untuk sebuah even atau perjamuan keluarga kaya.
"Selamat siang, tuan muda Brian, saya Riko yang sudah membuat janji dengan anda sebelumnya,” sapa Riko dan menjabat tangan Brian.
"Pilihkan aku beberapa penari berbakat untuk perjamua keluargaku nanti,” balas Brian.
"Baik tuan muda Brian, silahkan ikuti saya anda bisa memilih penari seperti apa yang cocok untuk acara keluarga anda,” ajak Riko.
Riko mengajak berkeliling Brian, mulai dari studio rekaman suara, kelas menari usia remaja, usia gadis muda, dan terakhir kelas profesional, Brian tak mengedipkan mata melihat tarian memukau dari gadis muda berkulit putih, bermata bulat, rambut ikal panjang sepunggung, dan berkaki jenjang itu, tarian nya begitu gemulai, lekuk tubuhnya membuat Brian tak kuasa untuk berpaling darinya.
"Maaf tuan-tuan, saya tidak menyadari jika ada orang yang datang, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Mulan menghentikan tarian nya saat menyadari ada yang memperhatikan tariannya.
Ya gadis cantik itu bernama Mulan, dia seorang penari berbakat, dia sadar ada yang memperhatikan tariannya, sejenak menghentikan tarianya dan menyapa orang yang sedari tadi memperhatikan nya sampai begitu terpukau.
"Ah nona maaf aku mengganggumu latihan, boleh aku mengajakmu berbincang sebentar nona?" tanya Brian.
"Boleh tuan, tapi saya harus ijin kepada tuan Riko, selaku bos saya," jawab Mulan.
"Tentu saja aku akan mengijinkan kalian untuk berbincang," balas Riko yang sudah merasa Brian cocok dengan Mulan.
Selesai mengganti pakaiannya Mulan menemani Brian mengobrol di ruang tamu studio. Pria tampan itu mengungkapkan kekagumannya kepada Mulan yang begitu piawai menari. Ia mengatakan bahwa ingin Mulan menjadi bintang tamu di acara perjamuan makan keluarga Handoko.
"Nona tarianmu sungguh memukau, aku ingin kau menjadi bintang tamu di acara perjamuan keluargaku,” pinta Brian.
"Kalau untuk itu anda bisa langsung ke manajer saya, karena saya tidak bisa memutuskan langsung mengambil job dimana,” jawab Mulan.
Brian sungguh tertarik dengan Mulan selain cantik dia juga sangat sopan dan ramah, berbeda dengan para wanita yang sudah berkecimpung di dunia seni pada umumnya. Brian ingin mengenal lebih dekat dengan Mulan itu.
“Aku berharap kau bisa menjadi bintang tamu di acara perjamuan keluargaku,” ucap Brian.
"Semoga saja ya tuan, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya tuan, karena sudah selesai latihan,” balas Mulan.
“Dimana tempat tinggalmu, aku bisa menagntarmu pulang!” seru Brian bersemangat sekali mengantar pulang wanita cantik.
Mulan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Brian, tapi sepertinya ia tak ingin merepotkan Brian. Ia mengatakan pulang ke panti asuhan. Disanalah tempat tinggalnya dari kecil.
Brian sangat terkejut seorang penari terkenal dan berbakat dari studio seni itu tinggal di panti asuhan dan tidak malu mengakuinya.
“Apa kamu tinggal di panti asuhan, kalau begitu kau tinggal di panti asuhan mana?” tanya Brian.
“Di panti asuhan tali kasih tuan,” jawab Mulan singkat.
Sepertinya Brian sangat familiar dengan nama panti asuhan itu. Ya panti asuhan itu adalah tempat biasa neneknya menyumbangkan dana amal yang terkumpul dari para pengusaha dan orang kaya kelas atas lainnya. Sekali lagi Brian menawarkan diri untuk mengantar Mulan pulang.
"Mulan sekali lagi aku ingin menawarkan tumpangan pulang untukmu,” pinta Brian yang sebenarnya tidak rela berpisah dengan gadis cantik itu.
"Maaf tuan, bukannya saya menolak tapi saya takut waktu tuan muda terbuang sia-sia karena mengantar saya pulang,” ucap Mulan.
"Tidak apa apa, aku senang mengantarmu, kamu bersiaplah dulu, aku akan ke ruangan Riko," pinta Brian.
Mulan bersiap mengganti bajunya untuk pergi kekampus, sementara Brian menuju ruangan Riko, Brian mendengar suara aneh yang mungkin itu sebuah desahan suara perempuan di dalam ruangan Riko.
Priska menggoda Riko, akhirnya perbuatan terlarang itu terjadi di ruang kerja Riko, tak lama memang mereka melakukan perbuatan terlarang itu, Brian yang mendengar kan percakapan mereka pun merasa risih dan memandang perempuan itu sebagai perempuan tidak beres, dia pun mengetuk pintu ruang kerja Riko, saat dia rasa suasana sudah tenang di dalam ruangan itu, “Sungguh menjijikkan, aku ingin sekali memalukan mereka, tapi apa hakku?”
Tok. .Tok. .Tok.
"Masuk tidak dikunci," jawab Riko dari dalam ruangan.
"Maaf mengganggu kencan kalian berdua, aku hanya ingin mengobrol sebentar dengan tuan riko!” seru Brian dengan pandangan sinis.
"Sepertinya kau salah paham tuan, ini salah satu talent penari berbakat kami, apakah anda juga tertarik dengan nya?" tanya Riko menyembunyikan kepanikannya.
"Dia bukan seleraku!" seru Brian dengan ketus.
Priska dan Riko terdiam, namun dalam benak Priska, dia harus bisa mendapatkan pekerjaan ini, karena jika bisa menjadi penari di perjamuan keluarga Handoko. Dia bisa menggoda tamu undangan yang datang. Pasti tamu undangan yang datang adalah dari keluarga kelas atas. Priska bisa menggoda salah satunya dan menjadikan sugar daddy untuknya.
“Jadi tuan apakah anda sudah menemukan penari yang cocok?” tanya Riko.
“Sampai saat ini belum, tapi aku ingin mengantar Mulan pulang hari ini, kau siapkan saja lima penari dan penyanyi berbakat, tapi tentu saja aku tertarik dengan Mulan,” jawab Brian dengan serius.
"Kalau begitu Mulan adalah tamu istimewa anda,” ucap Riko.
Brian pamit untuk mengantar Mulan pulang, saat Brian sudah meninggalkan ruangan itu, adegan panas antara Riko dan Priska kembali terjadi kali ini begitu intens dan lama. Semua demi mendapatkan sebuah pekerjaan Priska rela menjual harga dirinya demi sebuah uang dan ketenaran.
"Maaf nona jadi membuatmu menunggu lama, ayo aku antar pulang ke rumah,” ajak Brian.
“Tuan, aku akan pergi ke kampus, jadi setiap sore aku kuliah, bisakah kau antar aku ke kampusku?” tanya Mulan.
Brian menyanggupi permintaan Mulan, asalkan bersama wanita cantik itu Brian rela pergi kemana saja. Menggunakan mobil sport mewah milik Brian mereka berangkat ke kampus. Karena tidak terbiasa dengan kemewahan Mulan minta di turunkan agak jauh dari gerbang ia tidak ingin terlihat mencolok turun dari mobil mewah mengingat kondisinya seperti ini. menjadi seorang penari sering di cap jelek oleh sebagian orang.
"Maaf tuan, bisakah saya turun disini saja, aku belum pernah naik mobil mewah seperti ini aku hanya takut di cap perempuan liar oleh orang sekitar,” pinta Mulan.
"Apa kamu takut pacarmu tahu aku mengantarmu ke kampus?" tanya Brian yang berprasangka jika Mulan hanya berbohong.
Mulan menjelaskan alasan dan maksudnya ia juga belum mempunyai pacar. Tidak ada yang penting selain karir dan pendidikannya saat ini. Mendengar hal itu Brian sangat senang. Jadi dia bisa lebih dekat dengan Mulan. Brian meminta nomor ponsel Mulan untuk bisa bertukar sapa. Setelah mengucapkan terima kasih Mulan bergegas turun dan pergi menuntut ilmu. Brian menelepon kakaknya karena kebetulan Mulan satu kampus dengannya.
"Hallo kakak, aku berada di dekat kampusmu, bukankah kamu juga tinggal di dekat sini?" tanya Brian lewat sambungan telepon.
"Kemarilah, aku sudah melihatmu sejak tadi ke kafe seberang kampus sekarang!” seru Benni.
Brian menemui Kakak nya yang sudah berada di kafe menunggu beberapa orang yang akan menemuinya untuk bertransaksi. Benni melambaikan tangannya saat melihat sang adik dari jauh. Untuk memberikan kode agar Brian tidak kesulitan menemukannya.
“Kakak apa kau tahu aku sangat merindukanmu,” Brian memeluk kakaknya.
“Kau ini seperti tidak melihatku berabad-abad saja!” seru Benni sambil memukul kepala Brian.
Brian senang melihat dan bertemu kakaknya setelah lama tidak berjumpa. Benni lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dibandingkan berada di rumah mewah milik orang tuanya.
Mata Brian melihat beberapa produk yang dibawa kakaknya dan bertanya apa yang ia bawa itu.
Benni menjelaskan kepada adiknya, tentang parfum bunga mawar dan skincare untuk membuat wajah kinclong yang ada di depannya ini adalah produk yang di produksi oleh keluarga Handoko.
"Kak, untuk apa kau mengahabiskan masa mudamu seperti ini, padahal di rumah semuanya tersedia, aku rasa kau tidak kekuragan sedikit uangpun” ucap Brian.
"Suatu hari nanti kamu akan mengerti," balas Benni singkat.
Sedang asyik mengobrol dengan kakaknya, datanglah Priska untuk menggoda Brian. Priska masih ingin mendapatkan pekerjaan untuk menari di perjamuan keluarga kaya itu. Kebetulan ada Brian ia ingin sekali mendapatkan hati Brian. Dengan begitu ia bisa mendapatkan pekerjaan dan mudah masuk keluarga kaya mengandalkan kecantikan dan bodinya.
“Tuan muda, kebetulan kita bertemu lagi, bolehkan aku ikut duduk disini?” tanya Priska dengan mata genitnya.
"Kamu sengaja ya menguntit aku sampai kesini?” bentak Brian yang tidak suka dengan kehadiran Priska.
Brian menjadi tidak mood dan meninggalkan begitu saja tempat itu. Benni menertawakan Priska yang mengikuti Brian entah kemana perginya. Mata Benni melihat perempuan cantik yang bersama adiknya tadi. Dia berpikir mungkin Mulan itu adalah salah satu perempuan seperti Priska, yang mendekati semua pria kaya hanya demi uang.
"Mulan ini pesanan kamu seperti biasa ya," kata penjual nasi rames samping kampusnya.
"Terimakasih bu, ini cukup untuk makan malam kami di panti," balas Mulan.
"Oh iya, ini ada bonus untuk kalian ya, sekantong bakwan udang," kata penjual nasi.
"Wah terimakasih ya bu, pasti adik adik di panti senang sekali," balas Mulan dengan gembira.
Mulan pergi mencari angkot untuk pulang ke panti setelah membayar nasi rames pesanan nya, setiap hari sepulang dari kampus atau bekerja, dia memesan nasi rames untuk makan malam bersama di panti, Mulan sudah sampai panti asuhan membawa nasi ramesnya.
“Adik-adik ayo kita makan nasi rames bareng,” teriak Mulan saat melihat adik-adik pantinya masih melek menonton televisi.
“Hore kakak Mulan sudah pulang,” sahut mereka bersamaan.
Mereka makan bersama di satu ruangan dengan gembira, Mulan sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, dia sudah menganggap mereka semua adalah keluarga kandung nya, akhir akhir ini banyak keluarga yang mengadopsi anak dari panti, membuat jumlah penghuni panti berkurang, kini tinggal Mulan, ibu panti, dan beberapa adik kecil kesayangannya. Membuat mulan merasa kehilangan mereka.
“Mulan apa yang kau pikirikan, kenapa termenung seperti itu?” tanya ibu panti asuhan.