"Tuan saya lapar, dari tadi saya dikurung di kamar tanpa makan dan minuman. Tidakkah itu sangat keterlaluan?" Ucap Yasmin dengan wajah cemberut menyilangkan kedua tangannya didada.
Tuan Muda Arkana pewaris dari Amijaya menatap gadis berusia 22 tahun itu dengan tatapan datar.
Yasmin semakin kesal, pasalnya sedari tadi pria di hadapannya telah menculiknya dan tidak mengatakan apapun, seperti… orang bisu.
"Tuan saya lapar," rengek Yasmin menangis memegangi perutnya.
Arkana berdiri dan berkata. "Ikut saya," singkatnya melangkahkan kaki membuka pintu kamar yang tadinya dikunci dari dalam.
Dengan tubuh lemas Yasmin bangkit dari duduknya. Yasmin mengikuti langkah Arkana dengan kaki telanjang tanpa alas menginjak lantai mewah yang terbuat dari marmer, sehingga pantulan dari penampilan Yasmin tampak jelas.
"Sebenarnya Tuan kenapa menculik saya? apa yang Tuan inginkan dari saya? Tuan kan sangat kaya raya." Cerocos Yasmin berusaha menyamakan langkah lebar Arkana.
Yasmin mengepalkan satu tangannya bersiap memukul Arkana dari belakang, namun ia urungkan karena Arkana berbalik masuk ke dalam lift.
Lift itu membawa Yasmin tiba di lantai utama mengantarnya langsung ke bagian dapur. Sambutan para pembantu berbaris menunduk hormat menyambut kedatangan Tuan Muda Arkana dan Yasmin yang mengekor.
"Silahkan Tuan," ujar salah satu pembantu menarik kursi.
Yasmin ikut duduk di samping tuan muda membuat para pelayan itu penasaran padanya, dengan tatapan menelisik penuh penilaian.
Yasmin tidak memperdulikan tatapan mereka, ia segera membalik piring di depannya penuh semangat tidak sabar untuk menyantap makanan lezat di hadapannya.
"Mulai hari ini saya tugaskan bibi Anna untuk mengurus segala keperluannya, termasuk mendidiknya menjadi perempuan dewasa yang berkelas." Ujar Arkana.
Perempuan paruh baya yang di barusan sebut tuan muda, ia menganggukan kepala dengan senyuman tipis memperhatikan Yasmin dan berkata. "Baik tuan," ucapnya.
Yasmin mencicipi semua makan di depannya begitu lahap, mulutnya penuh dengan makanan seperti gelandangan yang sudah lama tidak mendapatkan makan. Ia begitu rakus sampai mulutnya dipenuhi dengan saus tomat.
Tiba-tiba Arkana berdiri dan berkata. "Selesai dia makan, antarkan ke kamar saya."
Ukhuk ukhuk
Yasmin tersedak makanannya, dengan sigap bibi Anna memberikan minum sambil menjawab ucapan tuan muda.
"Baik, tuan." Katanya.
***
Yasmin sangat ragu melangkahkan kaki memasuki kamar tuan muda Arkana begitu luas dan megah. Tetapi bibi Anna memaksa dan mendorongnya masuk.
Kepala Yasmin celingak celinguk mencari sang pemilik kamar, ia berjalan mengendap dengan sandal rumah agar tidak mengeluarkan bunyi ketukan antara sandal dan lantai.
"Sepertinya Aman," katanya tidak menemukan siapapun.
Tanpa izin, Yasmin merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik tuan muda. Rasa ngantuk menyerang setelah perutnya terisi penuh.
Kedua matanya baru saja terpejam, tiba-tiba sebuah pergerakan ranjang mengguncang tubuhnya.
"Akhh tuan ngapian di atas?"
Teriakan Yasmin menggelegar, keterkejutannya melihat tuan muda tiba-tiba berada diatas tubuhnya hanya menggunakan piyama terbuka yang memperlihatkan tubuh atletisnya.
Yasmin mengerjapkan matanya beberapa kali, ia melihat pemandangan yang begitu indah menggoda iman sampai ia harus menelan ludahnya sendiri.
"Tugas kamu sekarang adalah melayani saya," kata Arkana merendahkan tubuhnya semakin merapat menyentuh Yasmin.
"Me– me layani? maksudnya me melayani seperti apa?" Ucap Yasmin begitu gugup.
Kedua mata Yasmin membulat sempurna tatakala bibirnya di bungkam dengan cepat oleh pria yang berada di atasnya. Nafasnya terputus-putus berusaha berusaha membebaskan diri dari kurungan tuan muda Arkana.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Yasmin memukul pundak Arkana karena nafasnya hampir habis.
"Huh huh huh, tubuh tuan sangat berat. Saya tidak bisa bernafas huh huh," katanya terengah-engah mengatur nafas.
Arkana tersenyum tipis, ia menyingkir dari atas tubuh gadis itu. Tetapi tangannya tidak pernah diam membelai rambut dan wajah Yasmin dengan lembut.
"Emmh, ini tidak benar Tuan. Tidak sepantasnya Tuan melakukan hal ini dengan saya, tolong pulangkan saya." Pinta Yasmin sambil menggeser tubuhnya menjauhi Arkana.
Terdengar hembusan kasar keluar dari mulut Arkana, kemudian ia menarik tubuh mungil Yasmin memeluk dan mengurungnya dengan erat.
Wajah Yasmin tepat berada di dada bidang keras Arkana, begitu juga kedua telapak tangannya yang secara langsung menyentuh kulit dan otot dada Arkana.
"Ini sudah sepantasnya kita lakukan sejak lama, saya memiliki hak atas dirimu." Jawab Arkana dengan tegas menangkup dagu Yasmin dengan tatapan dalam.
"Maksud Tuan apa? Saya tidak paham." Kata Yasmin dengan kerutan di keningnya.
Tidak ada jawaban. Arkan justru melanjutkan aksinya dengan menciumi leher dan telinga gadis itu dengan kabut gairahnya.
"Hiks… tolong Tuan, hentikan hiks… " tangisan Yasmin pun pecah.
Arkana tidak mengindahkannya, ia terus melanjutkannya sampai melepaskan baju gadis itu hingga terpangpang jelas bra merah pelindung kedua bukit kembar Yasmin.
"Mulai hari ini kamu adalah milik saya," tegas Arkana menatap Yasmin dibanjiri air mata.
Tubuh besar Arkana tidak sebanding dengan kekuatan Yasmin yang kecil. Yasmin hanya bisa menangis menggelengkan kepala menolak semua perlakuan pria yang baru saja dikenalnya, ingin melecehkannya.
"Tuan hiks, salah saya apa? Jika Tuan mencari perempuan yang bisa memberikan kepuasan. Bukan saya orangnya hiks…" balas Yasmin.
"Kamu memang tidak bersalah, tetapi ayahmu yang bersalah. Jadi kamu sebagai tebusannya," ujar Arkana membuat Yasmin terdiam seketika.
Yasmin membalas tatapan Arkana dengan serius, ia menghapus air matanya dan berkata. "Apa kesalahan papi saya?" Katanya dengan gemuruh di dada.
"Dia, sudah membuat kekasih saya meninggal," ujar Arkana penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Dengan cepat Yasmin menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Arkana yang menuduh papinya.
"Tidak, papi bukan pembunuh. Tuan pasti salah orang, tidak mungkin papi saya melakukan hal keji seperti itu." Bantah Yasmin dengan cepat.
Arkana kembali membuang nafas kasar, ia semakin merapatkan tubuhnya kembali mencium Yasmin yang terus memberontak memukul dan mencakar punggungnya.
Untuk pertama kalinya, tangisan Yasmin menjadi hiasan malam yang panas dalam kamar tuan muda Arkana, sampai terdengar oleh bibi Anna.
Perempuan paruh baya itu dengan sengaja menunggu didepan pintu kamar tuan muda, ia mengkhawatirkan keadaan gadis yang baru di bawa tuannya.
"Satu hal lagi yang harus kamu tahu," ujar Arkana dengan nafas terengah-engah menatap Yasmin yang berada di bawahnya.
Penampilan Yasmin sudah acak-acakan dengan wajah merah penuh air mata, ia menatap marah Arkana dengan kedua pergelangan tangan di cekal di atas kepalanya.
Nafasnya yang memburu, tidak sanggup lagi memberontak.
"Kamu adalah istri saya, jadi sepantasnya malam ini kamu melayani saya layaknya seorang istri melayani suaminya." Ujar Arkana kembali merunduk menciumi leher Yasmin.
Sejenak Yasmin terdiam. Kemudian ia merasakan sakit di leher karena gigitan Arkana menyadarkan lamunannya.
"Tidak, kau pembohong… aku tidak percaya sialan… Aku belum menikah dan aku tidak mau punya suami tua sepertimu," teriak Yasmin penuh membara.
Bersambung…
Belum hilang ingatan tadi malam. Yasmin kembali dihadapkan dengan sosok lelaki yang hampir saja mengambil kesuciannya.
Lelaki kurang ajar itu duduk di sofa dengan santai, tubuh kekarnya di bungkus kemeja putih dan dua kancing teratas terbuka memperlihatkan dada kekar yang sudah di sentuhnya.
"Tuan sangat tampan, tapi sayangnya jahat dan juga pembohong." Gerutu Yasmin tidak mengatai Arkana.
Arkana tidak bergeming, ia duduk begitu tegak dengan kaki disilangkan menatap lurus gadis yang baru saja terbangun, bahkan belum beranjak dari ranjang nya.
Terlihat dari perawakan dan rahangnya yang tegas, seperti penguasa arogan yang kejam.
Saat ini Yasmin tidak memiliki tenaga cukup untuk mencakar lelaki di hadapannya itu, ia hanya bisa duduk bersandar di bahu ranjang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Padahal jika memiliki tenaga. Ia bisa mengeluarkan jurus andalannya, yaitu menendang burung berharga lelaki yang sudah berani melecehkannya.
"Sebenarnya Tuan ini siapa? dan mau apa dari saya?" ucap Yasmin berani membuka suara dengan wajah jutek.
Lelaki itu menghembuskan nafas panjang kemudian berdiri, berjalan menghampiri ranjang. Di tangannya ada sebuah map berwarna biru lalu melemparkan map tersebut tepat di pangkuan Yasmin.
"Itu adalah peraturan di rumah ini, bacalah dengan teliti karena jika satu kesalahan dilakukan! Maka ada hukuman yang harus kamu bayar." Katanya memberikan peringatan tegas.
Yasmin mengambil dan membukanya. Dibacanya kata demi kata yang tercetak di sana membuat kedua matanya semakin melebar sempurna, pikirannya sedang mengolah maksud dari peraturan yang diberikan lelaki itu.
"Aku bukan istrimu, dan aku juga bukan pembantumu," teriak Yasmin kesal.
Meskipun kesal, Yasmin tetap melanjutkan membacanya karena penasaran.
Yasmin Putri Aditya, nama lengkapnya tercantum di sana begitu juga nama kedua orang tuanya. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, bukannya paham justru semakin pusing memikirkannya.
Yasmin menghela nafas sejenak, ia kembali membuka lembaran kedua yang berisi peraturan untuknya.
Satu dari sepuluh poin disana tidak ada yang bisa menguntungkan selain menaati peraturan yang sudah tertulis, jika tidak mau mendapat masalah atau pun mendapatkan hukuman. Jalan keluarnya hanyalah mentaati peraturan tersebut.
Tentu saja Yasmin tidak bisa menerima semua itu, ia pun segera mengangkat kepalanya menatap lelaki itu dan berkata. "Kenapa aku harus mengikuti semua peraturan ini? lagi pula ini bukan rumahku dan aku tidak akan tinggal disini!" ujarnya melempar kertas itu ke lantai.
Arkana tersenyum smirk atas pernyataan Yasmin, kedua tangan disilangkan di dada. Ia mengeluarkan ponsel di saku celananya, lalu kembali melemparkan ponsel itu kepada Yasmin dan berkata. "Lihatlah, itu akan menjawab semua pertanyaanmu," katanya.
Yasmin tidak langsung mengambil ponsel tersebut, ia justru memperhatikan gerak gerik lelaki itu yang membuka tirai hordeng menampilkan balkon di balik pintu sliding yang terbuat dari kaca. Lelaki itu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Tampan sih iya, kejam juga iya." Cibir Yasmin.
Yasmin menatap punggung lebar lelaki itu, tiba-tiba bayangan kegiatan panas tadi malam kembali melintas di kepalanya. Ia segera menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran kotor itu, kemudian ia meraih ponsel tadi.
Sebuah video pernikahan? Yasmin mengerutkan keningnya, ia segera menekan tombol play karena penasaran dengan video tersebut.
"I-- ini? Aa-- apa apaan ini? Ini bukan aku kan?"
Lagi-lagi Yasmin diberikan kejutan yang luar biasa.
Video memutar sebuah acara pernikahan yang tidak lain kedua mempelai pengantinnya adalah dirinya dan juga lelaki yang kini tengah duduk santai di balkon.
Perjanjian sakral diucapkan di depan kedua orang tuanya dan mereka beberapa orang yang ada dalam video tersebut mengatakan sah, ia dan lelaki itu telah resmi menjadi suami istri.
Tubuh Yasmin yang lemas semakin lemah tak berdaya, cairan bening keluar dari kedua matanya diiringi dengan gelengan kepala tidak percaya dengan semua kenyataan yang dilihatnya saat ini.
Suara tangisan pun mulai keluar dan berkata. "Tidak mungkin hikss, ini tidak mungkin hikss," ucapnya tidak terima.
Video berdurasi 30 menit itu terus berputar memperlihatkan interaksi kedua orang tuanya bersama lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Mereka sungguh kejam, mereka melaksanakan pernikahan di saat dirinya terbaring kritis di rumah sakit.
Bahkan Yasmin saat itu masih berusia 20 tahun, ia mengalami kecelakaan yang membuatnya tak sadarkan diri selama satu minggu. Setelahnya Yasmin sadar, kedua orang tuanya tidak ada yang mengatakan apapun selain menjalani kehidupan seperti biasa dan melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswi baru.
Namun hari ini, sebuah kenyataan di luar dugaan menghampirinya.
Saksi bisu orang yang terlibat dalam pernikahannya sudah jelas itu adalah keluarganya, Yasmin tidak bisa menyangkal apapun.
Nafasnya tersengal-sengal dengan tangisan kesedihan harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan. Yasmin kembali menatap lelaki yang ternyata suaminya sejak satu tahun yang lalu.
"Mami, Papi, kenapa kalian jahat sekali menikahkan aku dengan lelaki tua seperti itu. Meskipun wajahnya tampan mirip oppa korea, tapi dia jahat, dia sudah membuat kening Yasmin benjol mami hikss," ucap Yasmin dalam hati sambil memandangi punggung suaminya.
Yasmin hanya bisa menangis dan menangis, ia tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya lemas dan pikirannya kacau dengan rambut kusut menunduk kebawah.
"Tidak ada gunanya menangis, sekarang semuanya sudah jelas jika kita adalah suami istri. Saya adalah suamimu, dan kamu harus patuh kepada saya." Ujar lelaki itu sudah berada di depannya.
Yasmin mengangkat kepala menatap lelaki tua yang merupakan suaminya, wajahnya penuh dengan linangan air mata, pucat, sembab dan rambut berantakan.
Selimut yang tadi menutupi tubuhnya luruh hingga perut, memperlihatkan kedua dadanya yang hanya mengenakan bra. Tidak lagi peduli dengan penampilannya yang hancur, karena saat ini hatinya jauh lebih hancur.
"Jadi... kamu adalah suamiku?" Guammanya.
"Ya, saya adalah suamimu dan berhak atas hidupmu." Ujarnya dengan nada lembut.
Arkana duduk di samping Yasmin yang masih terkejut dengan semua itu. Tangannya terulur mengusap rambut dan merapikan rambut Yasmin yang berantakan.
Cup.
Arkana mencium puncak kepala Yasmin dan berkata. "Mulai sekarang kamu tinggal dirumah ini, kamu hanya perlu mematuhi semua perintah saya." Ucap Arkananya.
Yasmin bungkam, tatapannya kosong. Dengan lemas ia berusaha mengembalikan kesadannya memperhatikan pergerkan Arkana yang baru saja mencium keningnya.
Kepergian lelaki itu semakin membuat Yasmin sakit hati, pikirannya dipenuhi dengan bayang-bayang pernikahannya dengan Tuan Muda Arkana Amijaya.
Pewaris yang paling berkuasa itu menkadikan dirinya sebagai istri atas dasar perjanjiannya dengan kedua orang tuanya.
"Itu artinya mereka sudah menjual saya? kenapa mereka begitu jahat hiks." Lirih Yasmin masih tidak percaya dengan kedua orang tuanya yang begitu tega kepadanya.
Arkana menangkup wajah istrinya, ia mengisap air matanya dengan kedua ibu jari menatap mata bengkak Yasmin dan berkata. "Kamu adalah Istri saya yang sah, bersikaplah seperti istri tuan muda yang selalu menjaga kehormatan dan kedudukan suaminya," katanya.
Bersambung…
"Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa lari dari saya kecuali satu … saya yang membebaskanmu."
Peringatan Tuan Muda Arkana Amijaya, bagai kaset yang terus berputar dalam kepalanya.
Setelah satu minggu lamanya berada di rumah asing, Yasmin berusaha untuk melarikan diri dan sayangnya tidak pernah berhasil.
Penjagaan ketat di rumah besar itu membuat Yasmin sulit untuk mencari celah dan yang pada akhirnya tertangkap oleh anak buah suaminya.
Terakhir kalinya Yasmin tertangkap, ia mendapatkan hukuman kurungan di dalam kamar selama tiga hari. Selama dikurung Yasmin mendapatkan banyak informasi mengenai latar belakang suaminya dari bibi Anna salah satu pembantu yang sering membawakan makanan untuknya.
Tuan Muda Arkana Amijaya. Salah satu pewaris terkuat yang diberikan kekuasaan tertinggi oleh pengusaha terkaya se asia, yakni perusahaan tambang emas yang dimiliki keluarga Amijaya adalah ayah kandung Arkana.
Tidak heran jika rumah yang Yasmin tinggali saat ini seperti istana dalam dongeng, luas dan megahnya tidak dapat terbendung dalam pikiran gadis itu.
Yasmin hanya bisa membuang nafas berat memikirkan nasibnya yang malang, hari-hari selama satu minggu ini seperti seorang tawanan yang selalu mendapatkan hukuman saat mendapat kesalahan.
"Mana ada istri tuan muda selau mendapatkan hukuman sepertini. Nasibku memang sial bertemu dengan pangeran kodok," gumamnya menatap langit-langit kamar.
Seumur hidup Yasmin tidak pernah menyangka akan menjadi seorang tawanan. Bukannya jadi seorang tuan putri, yang ada gadis itu diperlakukan seperti babu dengan semua peraturan yang harus dipatuhinya.
Tok tok tok.
"Nona bersiaplah, Tuan Muda minta Nona untuk makan malam. Hukumannya sudah selesai," ujar pembantu yang mengetuk pintu kamar Yasmin.
Mau tidak mau Yasmin harus mematuhinya, lagi pula perutnya juga lapar dan waktunya makan malam. Karena melakukan apapun membutuhkan tenaga, termasuk berpikir. Jadi Yasmin tidak boleh melewatkan waktu makan, supaya tubuhnya memiliki tenaga untuk memikirkan cara agar bisa keluar dari rumah tersebut. Meskipun mustahil.
Yasmin melangkahkan kaki di atas lantai marmer berwarna terang menampilkan bayangan penampilannya.
Tubuh Yasmin dibalut kaos besar berwarna hitam, kakinya yang mungil terekspos hanya menggunakan celana pendek tertutupi oleh kaos besar yang dikenakanannya. Rambut panjang sebahu dibiarkan terurai dengan wajah polos tanpa make up sedikitpun menampilkan wajah manis yang begitu natural sesuai dengan usianya yang masih muda.
Gadis itu menggunakan lift menuju lantai dua ditemani bibi Anna yang memanggilnya tadi, hanya butuh waktu satu menit pintu lift terbuka sampai di lantai dua. Keluar beberapa langkah dari pintu lift, terlihat ruangan makan yang begitu luas dengan meja makan dengan sepuluh yang rapi.
Sorot mata Yasmin tertuju kepada Arkana duduk berdampingan bersama seorang perempuan yang juga sedang menatap ke arahnya, salah satu alis Yasmin pun terangkat penasaran siapa perempuan itu. Arkana dan perempuan itu terlihat seumuran.
Yasmin duduk tepat di depan Arkana, dengan santainya ia mengambil nasi dan beberapa lauk yang ada di hadapannya. Semua makanan yang dihidangkan, Yasmin selalu menyukainya karena Yasmin bukan pemilih makanan. Gadis itu justru makan dengan lahap tidak memperdulikan tatapan orang di sekitarnya.
Tidak ada pembicaraan apapun selama mereka sedang makan, Arkana tidak menyukai hal itu dan Yasmin mengetahuinya dari pembantunya yang sering memberikannya informasi. Lelaki itu akan marah besar jika di meja makan ada pembicaraan, apalagi keributan, karena peraturannya boleh berbicara setelah jam makan selesai.
Sepuluh menit berlalu, sisa makan yang dihidangkan tadi sudah rapi dibersihkan oleh para pembantu. Yasmin, Arkana dan perempuan tadi masih berada di meja makan ada hal yang akan disampai oleh Tuan Muda Arkana.
"Besok malam adalah puncak acara anniversary daddy dan mommy, Jessica akan membantumu mempersiapkan semuanya. " Arkana melirik perempuan di sampingnya.
Perempuan bernama Jessica itu tersenyum tipis, "Dengan senang hati tuan," ujarnya menundukkan kepala dengan hormat.
Yasmin menghembuskan nafas pelan, ia memperhatikan perempuan yang bernama Jessica itu lalu kembali menatap Arkana dan berkata. "Kenapa aku harus ikut?"
"Kewajiban seorang menantu menghadiri acara pesta yang diadakan mertuanya, besok Jessica akan mengajarkanmu cara bersikap dan tata krama yang baik di depan banyak orang, terutama mommy dan daddy. Dan ingatlah, setiap kesalahan ada hukumannya." Arkana menatap lurus gadis di depannya.
Raut wajah Yasmin semakin ditekuk, setiap pembicaraan pasti ada ancaman yang keluar dari mulut lelaki itu. Yasmin berdiri dari duduknya berniat pergi lebih dulu meninggalkan meja makan, langkahnya tertahan saat bibi Anna menahan lengannya dan membisikan sesuatu padanya.
"Tuan muda tidak menyukai sikap Non yang seperti ini, lebih baik Non kembali duduk sebelum mendapatkan hukuman," bisiknya.
Yasmin terpaksa berbalik menatap Arkana yang memang sedang menatapnya marah. Namun, saking kesalnya Yasmin tidak bisa menahan diri dan berkata. "Sekarang apa lagi? mau hukum aku kayak mana lagi hah?" ucapnya menantang lelaki itu seperti sudah kebal dengan hukuman.
Para pembantu itu sangat terkejut dengan keberanian Yasmin kepada Tuan Muda yang mereka patuhi selama ini, tidak ada yang berani menentang dan melakukan kesalahan sedikitpun selama mereka bekerja disana. Dan baru kali ini mereka melihat ada yang berani menantang tuannya.
Suasana ruang makan berubah jadi mencekam saat aura dingin keluar dari tubuh Arkana, lelaki itu mengangkat salah satu sudut bibirnya membuat senyum smirk yang membuat mereka merinding kecuali Yasmin.
Arkana berdiri mendekati gadis kecil dengan nyali yang besar selalu melawan dan membantah perkataannya.
Tubuh besar Arkana membuat Yasmin mulai gugup, kemudian satu jari pria itu mengangkat dagunya agar menengadah ke atas dan tatapan keduanya bertemu karena tinggi Yasmin hanya sebatas dada Arkana.
"Malam ini, kamu harus temani saya tidur." Arkana langsung mengangkat tubuh Yasmin seperti karung beras.
Tubuh mungil Yasmin melayang sampai rambutnya menjuntai ke bawah, gadis itu begitu terkejut hingga memukul punggung Arkana minta di turunkan.
"Turunin, aku gak mau, tolong, " teriaknya berusaha memberontak.
"Tuan turunin, aku gak mau," teriaknya lagi.
Arkana menulikan pendengarannya, ia mencengkram kaki gadis itu dengan tangannya yang besar membawanya pergi dari ruang makan.
Gadis itu mengangkat kepalanya menatap bibi Anna dan Jessica dengan wajah merah memelas meminta bantuan sambil berteriak.
"Tante Jessica tolong aku, Tante, bibi Anna tolong," teriaknya saat mulai menjauh dari sana dan tidak ada yang bisa menolongnya kecuali tuhan.
Bersambung…