Suasana jalan Bandung, hari ini cukup padat! Meski begitu, terlihat di pinggir jalan seorang gadis SMA tengah di ganggu para preman jalanan, tak ada yang membantu. Beruntung gadis itu bisa melawan, dan membuat para preman itu tersudut.
"Kabur lo semua! Huh, sana dasar pengecut!" Umpat Ayana menendang angin menatap ketiga pria yang sebelumnya datang menggodanya kini lari terbirit-birit menjahuinya, dengan wajah yang babak belur.
"Ayana di lawan," gadis berseragam putih abu-abu itu mengibas rambutnya kebelakang lalu berkacak pinggang menatap lurus pada segerombolan pria yang duduk manis menyantap makanan berkuah dengan bulatan-bulatan kecil pada mangkok berlogo ayam, di seberang jalan tempatnya berada.
"Sialan kalian nggak ada niat nolongin apa!" Omel Ayana pada kumpulan pria di sana yang tampak biasa saja menatapnya tanpa rasa khawatir.
"Bisa lawan kan? Lo aman kan? Ngapain kita tolong! Abang lo aja diam tuh. Malah waktu lo berantem dia nambah baksonya." Celutuk salah seorang di antara mereka. Ayana menoleh melangkah cepat pada pria yang 80% memiliki wajah sama dengannya.
"Bang Arka!" Pekik Ayana saar pria yang merupakan saudaranya itu berlari menjauhinya.
"Orang lagi makan jangan di ganggu!" Ketus pria bernama Arka itu.
Ayana melebarkan matanya, berkacak pinggang lalu melipat kedua tangannya.
"Gua aduin ke Papa, karena lo nggak bantuin gua yang habis di godain preman!" Teriak Ayana menunjuk tajam pada saudaranya itu.
"Berisik! Ngomong tuh santai aja, nggak usah teriak gitu!" Ketus pria yang berada di depan Ayana.
"Apa lo, mau ku pukul!" Ketus Ayana mengayunkan pukulannya di udara lalu berlalu begitu saja.
"Hey, Ayana lo bolos lagi? Jam segini udah pulang aja." Tegur salah seorang di antara mereka yang tampak menggendong seekor monyet.
"Iya, tapi toh guru juga lagi ngadain rapat. Makanya gua ke sini," ucap Ayana tampak begitu santai.
Pletak...
"Aduh..." Ayana mengusap telinganya yang mendapat jentikan keras dari saudaranya.
"Aku aduin ke Papa yah! Lupa kamu, Papa kemarin bilang kalau bolos sekali lagi kamu bakal di pindahin ke pesantren," ucap Arka yang seketika membuat Ayana membeku, karena ia sungguh lupa dengan ancaman Papanya itu.
Merengek untuk tak di adukan pun sepertinya percuma, karena mungkin saja saat ini Papanya sudah mengetahui itu, mengingat di sekolah ia selalu di awasi beberapa siswa yang di minta menjaga Ayana, yang dirinya sendiri tak kenal dan tak tahu siapa yang mengawasinya.
"Ah, nggak mau!" Pekik Ayana.
"Makanya jangan bolos!"
"Huh, kasian bakal di pindahin ke pesantren!" Ledek teman-teman Abangnya yang sudah teramat dekat dengan Ayana sendiri.
****
"Papa janji deh nggak bakal bolos lagi. Tapi jangan pindahin nggak cocok buat Ayana yang bandelnya nggak ketulungan ini." Cerocos Ayana yang merengek mengoyang-goyangkan lengan Papanya.
"Justru karena kamu bandel, Papa mau kirim kamu ke pesantren. Udah sana, beresin barang-barangmu besok kita berangkat! Nggak ada bantahan lagi, atau kamu Papa kirim ke tempat terpencil yang sekolahnya hanya dari anyaman bambu! Mau hah?" Omel Marcel, Papa Ayana.
Ayana menggeleng cepat.
"Ya sudah sana, siapin barang-barangmu, jangan bawa aneh-aneh. Kamu di sana bakal didik dengan baik!"
Ayana menatap sang Papa dengan mata berkaca-kaca berharap ada toleransi untuknya.
"Siapkan barang-barangmu sekarang Ayana!" Geram Marcel yang berusaha tak termakan bujuk rayuan putri kesayangannya. Sesungguhnya ia tak bisa jauh dengan putrinya, tapi mau bagaimana lagi putrinya itu kian hari semakin nakal dan berulah. Beberapa hari yang lalu saja dirinya sudah di panggil pihak sekolah karena putrinya itu bertengkar hingga membuat korbannya babak belur. Di tambah nama Ayana di buku tulis guru BK sudah merah akibat kenakalannya.
Ya, tentunya ia harus menindaklanjutinya dengan cara seperti ini!
"Papa jahat!"
"Memang."
"Papa nggak sayang Ayana lagi!"
"Nggak tuh."
"Ayana benci Papah!"
"Terserah."
Ayana menghentakkan kakinya mendapat jawaban enteng Papanya itu.
"Sana! Apalagi yang kamu tunggu, besok pagi kita udah berangkat."
Ayana dengan deraian air mata dan hentakan kaki ia berjalan ke arah kamarnya. Kalau sudah seperti ini, rasanya tak ada cara lagi untuk membujuk Papanya. Dengan perasaan kesal ia membanting pintunya dengan kencang.
"Astagfirullah, anak itu." Marcel mengusap dadanya berusaha agar tak terpancing emosi.
Kemudian ia menoleh pada putranya yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya.
"Arka."
"Hmm..."
"Arka!"
"Iya Pah." Sahut Arka tanpa menoleh.
"Arkana!" Teriak Marcel yang membuat Arka menyimpan ponselnya lalu menatap Papanya dengan cengiran khasnya itu.
"Iya Pah."
"Gamis, rok, kerudung, atau apapun itu. Segala keperluan adikmu sudah kamu beli?" Tanya Marcel yang kini melembut.
"Sudah Pah, semuanya sudah beres di kamar Aya. Tinggal di masukin ke koper doang." Jawab Arka.
Marcel mengangguk.
"Bantuin Adikmu sana, ini pertama kalinya kalian akan jauh, jadi hibur adikmu sana."
"Kenapa bukan Papah aja, palingan juga Papah lebih sedih dari aku." Ledek Arka sesaat tersenyum takut-takut menatap tatapan maut Papahnya.
"Aku ke atas Pah, dah."
Arka pun berlari menginjak satu persatu anak tangga.
"Semoga ini jalan terbaik, dan Ayana bisa merubah sikap buruknya." Gumam Marcel menoleh menatap bingkai foto almarhum Istrinya.
"Andai kamu ada di sini, Ayana pasti tidak akan tumbuh seperti itu. Dia memang anak baik dan manja tapi tetap saja ia begitu nakal di luar sana. Maaf karena didikanku yang keras ia malah seperti ini, dan mengikuti jejak Abangnya." Batin Marcel menghapus setitik air mata yang lolos begitu saja.
"Ya Allah nih anak! Kamar lo kenapa berantakan gini, marah sih marah tapi jangan kayak gini Ayana!"
"Diam lo setan! Lo harusnya bantuin gua bujukin Papa bukannya diam aja kayak tadi!"
"Panggil gua Abang! Yang sopan bicaranya anak anjing."
Marcel menghela nafas mendengar umpatan kedua anaknya yang memang hampir tak pernah akur, rasanya mendengar kucing yang sedang ingin kawin saja jika mereka ribut seperti ini.
"Ayana!" Teriak Arka menarik gamis yang hendak di gunting Ayana. Ia kemudian memasukkannya dalam koper.
Arka berkacak pinggang lalu menatap tajam adik satu-satunya itu.
"Duduk! Kamu nggak boleh pergi dalam keadaan marah seperti ini!" Perintah Arka yang mulai menurunkan intonasi suaranya.
Ayana menurut duduk meringsut di atas kasur kesayangannya.
"Ayana nggak mau pergi Abang! Ayana nggak bisa jauh-jauh sama kalian!" Rengek Ayana di iringi tangisannya yang mulai pecah.
"Makanya jangan nakal! Ini keputusan Papa, nggak bisa di ganggu gugat lagi. Lagian pesantrennya juga dekat, kita bisa ngunjungin kamu tiap bulan. Eh, nggak Abang janji ngunjungin kamu tiap hari minggu." Arka mengangkat jari kelingkingnya dengan tatapan seriusnya mengucapkan janjinya itu.
"Em... nggak mau, tempatnya jauh Bang, butuh sekitar dua jam baru sampai ke sana." Gerutu Ayana.
"Elleh jauh apanya, biasanya juga kalau jalan-jalan bisa sampe sana," ucap Raka yang begitu sinis.
Ayana menatap sebal saudaranya itu. Sungguh tak pengertian sekali. Ayana memalingkan wajahnya dan mulai menangis dalam diam.
Arka yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas, meski ia sering menjahili adiknya hingga menangis karena kesal, tapi ia tak pernah tega melihat adiknya menangis sesedih ini.
"Cantik, adikku yang paling manis. Udah yah, jangan nangis lagi. Ini keputusan Papa, kamu terima saja. Apa yang Papa lakukan juga ini demi kebaikanmu." Bujuk Arka.
"Tapi kenapa harus ke pesantren, itu tidak cocok buat Ayana yang bandel." Gerutu Ayana.
"Nah, tau kalau kamu bandel, makanya Papa mau kamu pesantren, biar jadi anak yang baik. Beban dosamu yang harus di tanggung Papa juga ringan." Celutuk Arka yang membuat Ayana menatapnya sebal.
"Udah jangan nangis lagi, beresin barang-barangmu. Abang bantuin!"
Ayana menggerutu tapi tetap menurut mempersiapkan segala keperluannya.
Keesokan harinya, rumah Ayana sudah ramai di penuhi teman genk motor Arka. Sebenarnya Ayana termaksud salah satu anggotanya, bahkan ia di jadikan ratu di genk yang bernama 'the wild ants' atau dalam artian 'semut liar'.
Semut! Mungkin terdengar hewan lemah tapi cara kerja samanya membuat grub ini terbentuk.
Ayana memandang dirinya di depan cermin, bukan gamis yang melekat di tubuhnya sesuai permintaan Ayahnya. Melainkan jaket yang terdapat gambar semut bermahkota, dan sebuah celana panjang telah membalut tubuhnya.
Untuk hijab ia tetap menggunakannya, bagaimanapun ia akan langsung ke pesantren jadi tentunya ia harus menggunakan hijab.
"Ternyata aku cantik juga yah, pake hijab gini." Ayana cekikikan memuji dirinya.
Ayana lalu bersiap untuk segera turun, dan pastinya juga mentalnya harus ikut siap karena ia yakin Papanya atau Arka pasti akan memarahinya.
"Aku datang!" Teriak Ayana berlari menuruni tangga.
Semua orang yang berada di ruang tamu menoleh dengan serentaknya, tatapan kagum melihat Ayana berhijab tentunya tak dapat di elakkan dari mereka.
"Halo semuanya." Sapa Ayana.
"Cakep bener lu pakai hijab!"
"He, iya dong," ucap Ayana mengusap pelipisnya dengan bangga.
"Bagus tuh pakai hijab aja terus."
"Doain aja," ucap Ayana tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang memperlihatkan sebuah ginsul.
"AYANA MUBSIRA!" Teriak Arka terdengar marah yang membuat mereka terkejut dan beristigfar serempak. Suara lantang Arka benar-benar membuat siapa saja selalu takut mendengarnya.
"Ka, mau marah-marah, jangan teriak gitu dong!"
"Diem lo!" Bentak Arka kembali menatap tajam pada Ayana, yang sudah bersembunyi di balik pilar. Sepertinya wanita berhijab tapi masih berpenampilan preman itu tahu akan di amuk oleh saudaranya galaknya itu.
"Sini kamu Ayana! Kenapa kamu pake baju begitu! Papa udah bilangkan, pake gamis!" Sentak Arka.
"Ada apa nih?" Marcel menuruni tangga dan saat itu juga Ayana berlari ke arah Papanya mencari perlindungan.
"Pah, liat tuh Abang Arka, marah-marah!" Adu Ayana menunjuk ke arah Arka yang berjalan mendekat dengan tatapan menghunus tajam.
"Bang, kenapa?" Tanya Marcel menoleh pada putranya.
"Lihat pakaian Ayana Pah! Bandel banget di bilanginnya. Di suruh pake gamis malah pakai gituan." Tunjuk Arka begitu tajam pada Ayana yang memperlihatkan wajah polosnya.
"Cuma kali ini doang kok Pah. Sekali aja, sebelum Ayana ke pesantren, boleh yah Pah!" Rengek Ayana cepat sebelum suara Papahnya ikut terdengar memarahinya. Marcel terdiam sejenak, lalu tersenyum.
"Boleh," ucap Marcel di sertai anggukannya.
"Pah." Kompak Ayana dan Arka dalam artian berbeda. Ayana dengan kegembiraannya sedang Arka tampak protes.
"Nggak papa Arka, ini terakhir kalinya," sahut Marcel tersenyum mengusap lembut kepala Arka berharap anak sulungnya itu tak lagi marah.
"Yeas... Makasih Papa. Papah yang terbaik, Ayana sayang Papah. I love you Papahku." Ayana memeluk dan mencium wajah Marcel berkali-kali.
"Eleh, kemarin ngambeknya sampe nggak makan malam," celetuk Marcel mendorong kening Ayana agar menjauh tak lupa mencubit gemas pipi Ayana.
"Hehe... I love you Papah," ucap Ayana terakhir kalinya lalu mendekat ke Arka dan menjulurkan lidahnya.
"Wleee nggak bisa marah." Ledek Ayana lalu berlalu pergi. "Ayo berangkat, barang-barangku tolong bawain ke mobil yah." Teriak Ayana bersenandung riang sembari melompat kecil.
Ayana berjalan menuju bagasi rumah di mana terdapat deretan mobil dan motor, ia berjalan menuju salah satu motor yang terparkir agak luar.
"Halo Kitty, ini terakhir kalinya kita akan bermain bersama. Aku pasti akan merindukanmu! Huhuhu..." Ayana memeluk stang motor sport miliknya. Motor yang di beri beberapa stiker lambang 'the wild ants'.
"Kitty kamu jangan ngambek yah! Ini salahku yang terlalu nakal, jadinya harus pergi meninggalkanmu. Kamu baik-baik yah di sini." Ayana menepuk-nepuk stang motornya.
"Dasar aneh! Motor kok di ajak ngomong, malah di peluk-peluk lagi."
Ayana mendengus tanpa menoleh ia sudah bisa menebak siapa yang ada di sana. Suara anggota the wild ants sudah amat di hafalnya.
"Kenapa? Situ cemburu, minta di peluk juga?" Sinis Ayana.
"Dih, nggak tuh."
Ayana bangkit, menoleh dan melipat tangannya.
"Eleh bilang aja kali. Kalau suka bilang, keburu aku di pinang, rugi loh, Bang Hanif nanti nyesel loh," goda Ayana tersenyum centi pada pria tinggi bernama Hanif itu. Pria di depannya itu tampak menggelengkan kepalanya.
"Ck... siapa yang bakal meminang, bocah nakal sepertimu," ucap Hanif tersenyum sinis. "Paling juga jodohmu nanti itu hasil pinanganmu, bukan hasil di pinang!" Sambungnya dengan nada meledek.
"Ih, ngesellin. Ayana tuh cantik, banyak yang mau!" Ketus Ayana yang siap memberi pukulan pada pada Hanif. Sayangnya pria itu segera menghindar, menyilangkan tangannya seolah memeluk dirinya, membuat Ayana tak jadi memukul, ia hanya tampak mendengus kesal.
"Cantik sih cantik, tapi nyebellin, rese, nakal, bawel, siapa yang mau coba," ucap Hanif yang kembali mengejek.
Ayana meraih wajah Hanif agar menatapnya, satu... dua... tiga... detik mereka saling memandang.
"Astagfirullah." Hanif segera menepis tangan Ayana, dan berulangkali beristigfar mengusap dadanya.
"Kau menyukaiku kan? Jujur aja kali."
"Nggak tuh," elak Hanif memalingkan wajahnya yang memerah.
"Elleh, mukamu merah tuh. Cowok kok malu-malu kucing." Ledek Ayana lalu merampas ponsel Hanif .
"He, mau ngapain, sini ponselku."
Ayana menjauhkannya.
"Passwordnya apa?"
"Nggak perlu kamu tau, siniin!"
" Ya sudah, aku juga cuma mau foto." Cetus Ayana mengeser layar ponselnya hingga memperlihatkan wajahnya.
Ayana melakukan beberapa kali foto selfi baru setelah itu dia mendekat pada Hanif dan melakukan satu kali cekrek.
"Eh." Hanif yang tak siap tentu kaget.
"Hihi... nah, buat kenangan. Karena kamu pasti akan merindukanku," ucap Ayana dengan santainya menyerahkan kembali ponsel Hanif.
"Wow... Wow... ada apa gerangan nih. Apa ada yang pamit nih? Bakal rindu nih."
Mereka tertawa sembari meledek Hanif.
"Diam lu anak s*tan." Ketus Hanif.
****
Deruman suara motor memenuhi jalan, Ayana naik menggunakan motor sport miliknya, di ikuti genk the wild ants di belakangnya, sedang Arka dan Marcel naik mobil menuju pesantren.
Di pertigaan jalan lagi-lagi Ayana berulah, saat mobil yang di tumpangi Arka sudah melesat lebih dulu. Ayana membelokkan ke arah lain, membuat the ants mengerem mendadak dan pastinya terjadi keributan.
"Astaga Ayana mau ke mana tuh?" Tanya salah satu di antara mereka yang mengabaikan suara klakson di iringi sahutan berupa umpatan dari pengendara lain.
"Udah kalian lanjut aja, biar aku nyusul Ayana. Mungkin saja Ayana mau menemui Nenek Darmi lebih dulu." Ucap Hanif.
"Oh, oke, ingat bawa ke pesantren jangan sampai dia kabur!"
Hanif mengangguk lalu membelok tajam motor sportnya, ia sudah cukup ketinggalan hingga Ayana tak terlihat lagi. Tapi tebakan Hanif sungguh benar, Ayana datang ke panti jompo, tempat yang memang sering di datangi 'the wild ants' setiap sekali seminggu.
Salah satu orangtua di panti jompo yang sangat dekat dengan Ayana, adalah nenek Darmi. Ayana sendiri sudah menganggapnya sebagai neneknya sendiri.
Hanif berjalan mendekati Ayana yang tampak menyuapi Nenek Darmi sesekali di ajaknya bercanda hingga tertawa.
Hampir setengah jam mereka di sana, setelah itu barulah Hanif mengajak Ayana pergi.
"Aku yakin Arka akan memarahimu."
"Bodo amat! Bay... duluan yah."
Hanif tersenyum lantas memakai helmnya dan segera menyusul Ayana.
Di pesantren atau lebih tepatnya di rumah pemilik pesantren tampak Arka berdiri tegap di depan pagar yang tak terlalu tinggi. Ia bersedekap sembari menatap tajam pada jalan yang sudah menampilkan dua motor yang saling beriringan.
Nafas Arka kian memburu, ia melangkah ke tengah jalan hendak menghalangi keduanya.
"Eh..." Arka berlari terbirit saat melihat kedua motor di depannya tak kunjung memelankan motornya.
Beberapa langkah dari Arka yang duduk di jalan Ayana dan Hanif menghentikan motornya dengan mengerem kuat hingga ban belakang motor keduanya terangkat.
"Mau mati?" Kompak Ayana dam Hanif meledek.
Tawa pun terdengar dari dalam sana.
"Ayana awas kamu yah! Turun sekarang!" Teriak Arka membentak, sayangnya Ayana tak mendengarnya, ia memasukkan motornya ke pekarangan rumah dan segera berlari ke sang Papa sebelum Arka berhasil meraihnya.
"Papa, tolong!" Pekik Ayana berlindung di balik tubuh Marcel.
"Sini kamu!"
"Sudah Arka! Adikmu juga sudah di sini. Cukup, jangan berantem lagi, malu-maluin aja." Tegur Marcel.
"Ayo masuk! Udah di tungguin pemiliknya nih." Ajak Marcel mengandeng tangan Ayana.
Ayana menjulurkan lidahnya mengejek.
"Huft... itu Adek siapa sih!" Kesal Arka.
"Adek lu!" Kompak The wild ants lalu di iringi tawa mereka.
"Diam lu pada, sana pulang! Kalian nggak di butuhin!" Ketus Arka yang kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Ayana dan Marcel dari belakang.
"Ini anak-anak saya yang pernah saya ceritakan. Arka, Ayana, ini Kyai Sulaiman dan Istrinya Nyai Sarah, pemilik pesantren ini." Jelas Marcel memperkenalkan kedua belah pihak.
"Halo Kyai, halo Nyai. Aku Ayana anaknya Papa Marcel dan Almarhum Mama Ayuna. Anak paling cantik, baik dan nggak bandel sama sekali," celetuk Ayana yang begitu randomnya memperkenalkan diri.
"Aduh... Sakit Bang!" Ringis Ayana mengusap pinggangnya yang menjadi sasaran cubitan Arka.
"Malu-maluin banget sih!" Ucap Arka pelan.
"Dari mananya?" Tanya Ayana dengan ketus, dan suara terdengar jelas.
Arka memberi pukulan kecil pada bahu Ayana. Kesal dan malu bercampur menjadi satu.
"Arka kamu duduk di sana. Jangan di dekat Adikmu!" Marcel tampak jengah melihat kelakuan kedua anaknya yang tak pernah akur, di mana dan kapan saja mereka selalu saja meributkan berbagai hal kecil.
Arka mendengus menurut, tak lupa memberi tatapan tajam pada Ayana.
"Hah... Maaf ya Kyai, Nyai, anak-anak saya memang seperti itu. Sekali berantem susah akurnya. Giliran mau jahilin Papanya baru mereka bisa kompak." Cetus Marcel.
"Nggak papa pak, namanya juga anak-anak. Ntah sudah berapa lama kita tidak bertemu, mereka dulu masih kecil sekarang sudah tumbuh besar." Sahut Kyai Sulaiman tersenyum ramah, begitupula Nyai Sarah yang tersenyum dan terus memandang pada Ayana.
Ayana salah tingkah sendiri di buatnya, ia tersenyum memamerkan deretan gigi yang terdapat gingsul.
"Ayana cantik yah Nyai, sampai di pandang gitu." Goda Ayana tersenyum centil.
"Astagfirullah bukan adek gua." Gumam Arka menyandarkan punggungnya sembari menutup setengah wajahnya.
"Haha... Iya kamu cantik, persis banget sama Mamamu. Mamamu dulu itu sahabat Umi, kita kenalnya sejak SMP. Dia sama sepertimu selalu tersenyum pada siapapun." Sahut Nyai Sarah.
Mata Ayana berbinar dan dalam sekejap sudah berada di samping Nyai Sarah.
"Astagfirullah." Marcel tentu saja kaget, Ayana melangkahinya begitu saja. Untung, anak sendiri kalau tidak sudah pasti Marcel akan memarahinya.
Sedang Arka terus beristigfar ia kesal dan malu. Saking malunya, ingin rasanya Arka menenggelamkan diri ke dasar laut hingga tak di temukan lagi.
"Benerkah? Nyai sama Mama sahabatan? Wah, keren dong. Ceritain dong tentang Mama. Mama dulu kayak apa? Mama pasti cantikkan? Iyalah Ayana aja cantik! Mantan pacar Mama ada berapa dulu? Atau berapa cowok yang pernah Mama tolak? Hingga memilih Papaku." Ayana duduk di sebelah Nyai Sarah sembari menggandeng tangan wanita berhijab panjang itu.
Begitulah Ayana, jika menyangkut sang Mama ia selalu antusias mendengarkannya.
"Ayana jangan kayak gitu nak. Nggak enak sama Nyai, sini duduk dekat Papa." Panggil Marcel dengan lembut menepuk sofa di mana tadi Ayana berada.
"Nggak papa Pak, saya malah senang, Ayana mau dekat saya." Sahut Nyai Sarah, lalu beralih menatap Ayana. Di usapnya wajah Ayana dengan lembut.
"Panggil Umi aja yah."
"Iya Umi."
Nyai Sarah tersenyum.
"Mama kamu dulu memang sangat cantik, banyak yang suka sama Mamamu. Tapi, alhamdullilah Beliau selalu menolak, dan nggak mau pacaran, karena Beliau tau itu dosa." Jelas Nyai Sarah.
"Denger tuh," ucap Arka dengan sinisnya.
"Dih, Ayana denger kok! Ayana juga belum pernah pacaran tuh. Abang Arka tuh yang pernah pacaran sampai sekarang belum move on." Sinis Ayana.
"Enak aja! Sembarangan kalau ngomong." Protes Arka tak terima, karena nyatanya itu memang bohong, hanya saja ia menyukai seseorang, dan berniat melamarnya, hanya saja wanita itu malah pergi meninggalkannya yang ntah sekarang berada di mana.
"Heh, sudah jangan bertengkar lagi. Kamu juga Arka, diam! Nanti kamu Papa masukin juga ke pesantren." Ancam Marcel.
"Ya terserah Papa. Bagus juga sih, Arka juga nggak perlu pusing-pusing bantu Papa ngurus perusahaan lagi," celetuk Arka yang selalu berhasil melawan skatmat Papanya, dan tentunya Ayana selalu protes meski pada akhirnya ia selalu mengikuti langkah kakaknya.
"Heh, berani melawan Papaku kau yah! Mau ku pukul hah!" Sangar Ayana
"Ayo, siapa takut!" Tantang Arka.
"Ayana! Arka! Sudah kalian duduk yang tenang!"
"Kasian banget Om Marcel, ngurus dua anak nakal yang hobinya ribut mulu. Nggak tau tempat lagi!" Suara dari teras rumah terdengar menggelengar.
"Diem lu di luar!"
"Eh, Arka! Mending lu yang keluar! Dari tadi lu yang cari ribut loh." Protes salah seorang di antara mereka menampakkan diri di ambang pintu.
"Dih nggak mau!"
"Om, Kyai, Nyai, Ayana aku ambil orang ini dulu yah. Sini lo!" Tanpa menunggu persetujuan dia menyeret Arka begitu saja.
Marcel mengusap kasar wajahnya, membiarkan putranya di seret begitu saja oleh temannya yang memang sudah tak segan padanya.
"Maaf yah Kyai, Nyai, kelakuan mereka memang seperti itu. Mereka juga maksa ikut buat antar Ayana yang di anggapnya sebagai adik sendiri." Sahut Marcel yang merasa tak enak.
"Tidak apa-apa Pak, namanya juga anak muda," ucap Kyai Sulaiman dengan ramahnya.
"Oh, iya umi, Farhan kok belum datang?" Sambung Kyai Sulaiman bertanya pada sang Istri.
"Mungkin masih ngajar Abi. Kita tunggu dulu yah." Ujar Nyai Sarah.
"Emm, begitu yah. Maaf yah Pak Marcel, jadinya nunggu lama, buat kenal calon menantu bapak." Celutuk Kyai Sulaiman yang seketika membuat Ayana yang menyeruput teh hangatnya yang hampir habis, tersembur! Beruntung sudah tak ada lagi Arka di sana.
"Astagfirullah, Ayana!" Geram Marcel yang tertahan.
"Siapa yang bakal nikah? Calon menantu maksudnya gimana tuh?" Kompak Ayana, Arka dan para the wild ants yang tiba-tiba menyerobot masuk, hingga terjadi keributan dan rintihan kesakitan akibat dorongan.
"Ee, Astagfirullah, ini kenapa pada kaget begini? Sampai-sampai dorong-dorongan masuk." Tanya Kyai Sulaiman yang tampak terkejut, tapi tak ada raut wajah marah melihat keberutalan para anak muda itu.
"Apa maksud kyai, soal calon menantu Papa saya?" Tanya Arka mewakili.
Kyai Sulaiman mengerutkan keningnya, lantas menoleh pada Marcel yang tampak menghela nafas.
"Maaf kyai saya belum cerita sama mereka!" Ucap Marcel lantas menatap Arka dan the wild ants, lalu beralih fokus pada Ayana.
"Ini permintaan almarhum Mama, dia ingin kamu menikah dengan Gus Farhan!" Tegas Marcel.
Ayana menunjuk dirinya.
"Pah! Ayana masih 17 tahun, baru mau naik kelas tiga. Kenapa malah mau di nikahin aja! Papa menyuruhku ke pesantren untuk belajar atau mau menikahkanku!" Ucap Ayana dengan suara meninggi.
"Dua-duanya. Kamu akan tetap pesantren dan juga menjadi Istri Gus Farhan."
"Papa kenapa nggak nunggu, Ayana lulus aja." Saran Arka yang juga tak rela.
"Ini permintaan terakhir almarhum Mamamu Nak. Saat itu beliau berpesan agar anak kami, Farhan! Mau menikahi putrinya. Dan mungkin ini memang saatnya." Jelas Nyai Sarah.
"Kyai, Nyai, Papah menjadi saksi permintaan terakhir Mama." Sambung Marcel menatap yakin pada kedua anaknya.
Ayana terdiam menunduk, jika menyangkut soal Mamanya ia selalu seperti itu. Begitupun dengan Arka yang sudah diam tanpa protesan lagi. Sedang The Wild Ants mereka saling lirik-melirik termasuk melirik pada Hanif yang terlihat amat kecewa, tapi tak ada yang berani menengur.
"Apa dia sudah tahu soal ini?" Tanya Ayana setelah diam beberapa saat.
"Siapa nak, Farhan?"
Ayana mengangguk.
"Alhamdullilah dia sudah tahu. In Sha Allah dia akan menerima." Jelas Nyai Sarah yang masih dengan lemah lembutnya.
"Di mana dia sekarang?"
"Masih di pesantren, sebentar lagi akan kesini."
Tanpa bertanya lagi Ayana pergi melenggang begitu saja.
"Ay... Aya, tunggu!" Teriak Arka mengejar Ayana.
"Eh, Kyai, Nyai, Om tunggu di sini aja yah. Nggak usah khawatir. Biar Arka dan kami yang susulin Ayana." Ungkap salah satu di antara mereka.
"Hah? Kalian juga?"
"Iya Om, Ayana adik kami juga. Kami permisi, Assalamualaikum." Pamit mereka memberi salam secara bersamaan tak beraturan.
Marcel kembali menghempaskan tububnya, lagi-lagi ia minta maaf pada kedua tuan rumah di depannya yang selalu teduh memandang.