Bab 2

Setibanya disalah satu restoran mewah tempat pertemuan kedua keluarga itu dilaksanakan, Amora dan kedua orangtuanya pun turun dari mobil! Suasana restoran saat ini lumayan ramai, namun kedua orangtua Amora tetap bisa menemukan meja tempat kedua orangtua Nicholas itu berada.

Mereka pun segera menghampiri kedua orangtua Nicholas yang sudah sampai lebih dulu.

"Hai Emma, Billi, maaf kami agak terlambat," ucap Anna.

"Tidak apa-apa karena ada yang lebih terlambat lagi dibandingkan kalian," kata Billi.

"Ow, apa Nick tampan belum datang?" tanya Anna.

"Ya, begitulah Nick! Amora sayang, kau harus jauh lebih sabar menghadapi sikap Nick ya, meskipun kadang menyebalkan tapi Nick sebenarnya laki-laki yang baik kok!" kata Emma.

"Tak masalah, namanya juga anak muda dan pebisnis dia pasti ada urusan sangat penting sehingga datang terlambat," kata Mark.

Entahlah kenapa kedua orangtuanya sendiri malah terlihat membela Nicholas padahal jelas-jelas dia terlambat datang, namun Dimata kedua orangtua Amora, Nick seperti tidak pernah salah. Makan malam pun berlangsung tanpa Nicholas dengan pembahasan yang tidak jauh-jauh dari bisnis dan perjodohan.

Bahkan kedua orangtua Nicholas dan kedua orangtua Amora terlihat sangat bersemangat mengobrol tentang pernikahan dan parahnya lagi mereka sudah membicarakan masalah cucu, membuat Amora ingin segera pergi dari sini. Disaat sedang kesal dan bad mood begini, Nicholas malah datang juga akhirnya, membuat Amora merasa lengkaplah sudah penderitaannya malam ini.

"Maaf semuanya aku telat, tadi ada sedikit masalah di kantor!"

"Tidak apa-apa Nick, kami paham dan kami senang kau sudah disini," ujar Mark.

"Nick sebaiknya kau ajak Amora jalan-jalan santai disekitar sini, didepan kan ada taman ngobrol lah kalian berdua," kata Emma.

"Oh oke mom,"

Kedua orangtua Amora langsung melirik memberikan kode pada Amora agar segera berdiri dari kursinya untuk ikut dengan Nicholas, dengan tampang ditekuk akhirnya Amora pun mengekor dibelakang Nicholas. Laki-laki itu terlihat mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya, kemudian membakar ujung rokoknya hingga zat nikotin itu menyeruak ke udara.

"Cepatlah sedikit, jalanmu lelet sekali,"

"Maaf, kau bicara denganku?"

"Memangnya selain kau ada orang lagi disini?"

"Ya sudah tidak perlu pedulikan aku, mau aku jalan cepat atau lelet kau duluan saja,"

Namun Nicholas pun berbalik arah hingga kini keduanya menjadi berhadapan, dengan sengaja Nicholas tersenyum sambil meniupkan zat nikotin itu kewajah Amora.

Uhuk, uhuk.

Tangan Amora pun replex saja mengusir asap-asap itu.

"Dasar menyebalkan,"

"Sesuaikan langkahmu dengan langkahku, aku tidak mau sampai orangtuaku marah karena kau diculik!"

"Lagipula siapa yang mau menculikku? Ada-ada saja," kesal Amora.

"Memang kau tidak tau?"

"Tidak tau apa?"

"Sudah satu Minggu ini, kondisi kota tidak baik-baik saja! Banyak para gadis-gadis muda yang diculik untuk dijual ke rumah bordil!" ujar Nicholas yang ternyata itu sebuah kebohongan.

"A-apa?" Amora pun langsung ketakutan sehingga tangannya memegangi lengan Nicholas.

"Kau takut atau memang mau pegang-pegang padaku?"

Langsung saja dihempaskan lagi lengan Nicholas oleh Amora.

"Enak saja, narsis parah!"

Nicholas pun menanggapi wajah kesal Amora dengan santai dan senyuman. Setibanya di taman dekat restoran tersebut, terdapat sebuah bangku, Nicholas pun duduk dibangku tersebut sementara Amora memilih berdiri saja.

"Kau tidak pegal?"

"Tidak,"

"Berapa usiamu?"

"Sembilan belas tahun,"

"Oh, masih kecil rupanya,"

"Kecil? Aku sudah lulus SMA kau tau?"

"Tetap saja bagiku kau hanyalah gadis kecil,"

"Memangnya berapa usiamu Tuan CEO?"

"Cih Tuan CEO, aku dua puluh empat tahun,"

"Terlalu dewasa untukku,"

"Dan kau juga terlalu kecil untukku, kita benar-benar tidak cocok bukan?"

"Ya, memang tidak cocok dan tidak akan pernah cocok,"

"Kau menolak dijodohkan denganku?"

"Tentu saja, siapa yang mau dijodohkan dengan laki-laki sepertimu,"

Nicholas pun langsung berdiri dari bangku kemudian menghampiri Amora.

"Memang aku ini laki-laki seperti apa?"

"Kau pasti seorang playboy dan kau pun terlallu narsis,"

"Menarik, baru kali ini ada seorang gadis yang menolak dijodohkan denganku, lagipula kau bukan tipeku anak kecil,"

"Aku bukan anak kecil! Berhenti memanggilku anak kecil,"

"Kenyataannya begitu, kalau begitu pulang dan merengeklah pada orangtuamu agar tidak meneruskan perjodohan konyol ini,"

"Pasti, ya sudah aku akan kembali ke dalam dan bicara langsung agar perjodohan ini dibatalkan,"

Dengan bersemangat Amora pun berjalan dari taman menuju restoran disusul dengan Nicholas yang berada dibelakangnya.

"Ku dengar kau baru pindah kesini?"

"Ya, baru beberapa hari,"

Setelah itu tidak ada lagi obrolan diantara keduanya, namun pada saat masuk kedalam restoran! Meja tempat kedua orangtuanya tadi makan malam rupanya sudah kosong, hanya ada seorang pelayan yang tengah membereskan meja tersebut.

"Loh, orang-orang yang tadi makan disini kemana?"

"Oh, mereka sudah selesai makan malam nona,"

"Jadi, maksudnya Ayah dan Ibuku sudah pulang tanpa membawaku?"

"Saya kurang tau nona,"

Amora langsung meremat rambutnya sendiri, tidak habis pikir orangtuanya tega meninggalkan dirinya sendirian seperti ini, sementara Nicholas terlihat santai saja dibelakang Amora. Melihat Amora yang terlihat cemas karena ditinggal sendirian, Nicholas pun mendekatinya.

"Mau aku antar pulang?"

"Tidak perlu, aku bisa naik taxi,"

"Yasudah, kalau begitu aku pulang duluan,"

"Ya, silahkan,"

Sebenarnya Amora takut juga naik taxi malam-malam begini, bagaimana jika sampai bertemu driver nakal yang membawanya kabur ketempat sepi? Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Amora merinding setengah mati. Tapi daripada harus diantar oleh Nicholas nanti orangtuanya akan semakin senang jika melihat hal itu, Amora memilih untuk segera mencari taxi saja.

Saat ini Amora sendirian berdiri dipinggir jalan untuk menyetop taxi yang lewat, namun lagi-lagi ketakutan akan mendapatkan driver nakal membuat Amora tidak jadi naik padahal sudah ada taxi yang berhenti didekatnya.

"Bagaimana ini?"

Nicholas yang melihat Amora tidak kunjung jadi naik taxi yang dia berhentikan, terpaksa berputar arah untuk kembali menghampiri Amora yang saat ini masih berdiri dipinggir jalan. Mobil Nicholas pun berhenti tepat didekat Amora.

"Kau mau sampai kapan berdiri disini? Tidak berani naik taxi?"

"A-aku,"

"Sudahlah cepat naik ke mobilku,"

Karena tidak mau mengambil resiko, Amora pun memilih ikut dengan Nicholas setidaknya bersama dengan calon suami pasti lebih aman daripada dengan sopir taxi yang entah berniat jahat atau tidak.

"Jangan berpikir macam-macam, aku ikut denganmu karena aku takut bertemu driver nakal,"

"Kau merasa aman jika ikut denganku?"

"Ya sepertinya begitu,"

"Bagaimana jika aku lebih nakal daripada driver taxi yang kau takutkan itu!" goda Nicholas.

"Apa? Jangan macam-macam ya, atau,"

"Atau apa?"

"Nick, berhenti menggodaku! Kau pikir aku takut padamu,"

"Memang kau tidak takut padaku? Serius?"

"Tentu saja tidak, dengar ya aku ini atlet jadi tenagaku lebih besar daripada tenagamu!"

Bab 3

Nicholas pun melirik Amora dari atas ke bawah hingga membuat Amora langsung kesal karena ditatap seperti itu.

“Kau tidak percaya aku ini atlet? Tenagaku besar dan kau sebaiknya jangan macam-macam padaku!”

“Kalau begitu buktikan seberapa besar,” kata Nicholas.

“Ma-maksudmu buktikan bagaimana?”

Nicholas pun segera menahan kedua tangan Amora hingga membuat tubuh Amora bersandar pada jok mobil, sedangkan respon tubuhnya sangat terkejut karena kini wajah Nicholas berada tepat disepan wajahnya. Amora pun langsung ketar-ketir dan ketakutan jika Nicholas akan berbuat macam-macam terhadap dirinya.

“Nick, lepaskan aku!”

Kedua tangan Amora masih dicengkeram kuat oleh kedua tangan Nicholas, tapi ditengah ketakutannya terhadap sosok Nicholas! Dari jarak sedekat ini Amora bisa melihat jelas betapa simetrisnya wajah Nicholas, hidungnya yang mancung dan lancip, bulu matanya yang lentik, halisnya yang tebal dan bibirnya yang tipis .

“Mana katamu tenagamu lebih besar daripada aku? Kau tidak sanggup melawan bukan?”

Nicholas pun melepaskan kedua tangan Amora kemudian duduk kembali dibangkitkan kemudinya, Amora pun hanya terdiam karena masi shock ketika bertatapan seperti tadi dengan Nicholas.

Sepanjang perjalanan mengantar Amora ke rumahnya, Nicholas mengemudikan mobil sambil membalas pesan dari wanita-wanita yang sedang dekat dengannya.

“Nick, bisakah kau tidak bermain handphone dulu? Bahaya!”

“Diamlah gadis kecil, kau tidak berhak mengatur ku! Sebaiknya pikirkan saja cara agar orang tuamu mau membatalkan perjodohan konyol ini!”

“Aku akan bicara pada orang tuaku tapi please letakkan handphone mu dan fokus menyetir!”

Akan tetapi Nicholas tidak mempedulikan ucapan Amora hingga, akhirnya saat lampu merah Nicholas menabrak mobil yang berhenti di depannya.

Brak.

“Shit, apa aku menabrak?”

“Sudah aku bilang kan berhenti bermain handphone,”

“Shut up, ini bukan waktunya untuk mengomel,”

Benar saja pengemudi didepan pun menghampiri Nicholas, dengan santainya Nicholas membuka kaca jendelanya.

“Maaf mobilmu tidak sengaja aku tabrak, aku akan ganti rugi!” kata Nick lalu menyodorkan kartu namanya.

“Baik Tuan, aku akan mengirimkan tagihan service mobilku ke perusahaanmu,”

Permasalahan pun selesai sampai disitu karena menurut Nicholas tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselsaikan dengan uang! Tapi Amora yang sudah sangat kesal dan takut bila berada terus didalam mobil bersama dengan Nicholas yang egois dan tidak peduli atas keselamatan berkendara, Amora pun memutuskan untuk turun dari mobil Nicholas mumpung masih lampu merah.

“Hei, kenapa kau turun?”

Amora pun hanya mengacungkan jari tengah pada Nicholas kemudian naik kedalam taxi, Nicholas pun masa bodo jika memang Amora maunya turun dari mobilnya dan memutuskan pulang naik taxi!

Taxi pun tiba di kediaman Amora, kedua orangtuanya yang memang sengaja menunggu Amora di teras rumah mereka karena yakin Amora akan pulang diantar oleh Nicholas, terheran-heran karena Amora justru pulang dengan taxi.

Dengan wajah menahan kesal, Amora pun menghampiri kedua orangtuanya yang telah meninggalkannya dengan laki-laki brengsek seperti Nicholas.

“Mora, kenapa pulang pakai taxi? Nick mana?”

“Nick? Ibu lihat sendiri kan betapa brengseknya dia? Masih mau aku menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti dia?”

“Loh Mora, sebenarnya ada apa? Cerita sama Ayah kenapa Nick tidak mengantarmu?”

“Sudahlah Yah, Mora capek mau istirahat! Dan satu lagi, jangan pernah menanyakan cowok red flag seperti Nicholas lagi padaku!” kata Amora kemudian Amora pun masuk kedalam rumah.

“Ayah, bagaimana ini? Kenapa Amora semakin tidak suka pada Nick?”

“Namanya juga masih anak muda Bu, nanti lama kelamaan cinta akan tumbuh diantara mereka percaya sama Ayah,”

Didalam kamarnya, Amora langsung membanting tas miliknya ke atas ranjang dan terus mengutuk Nicholas karena perilakunya yang sangat menyebalkan.

“Gila, seumur hidup itu lama dan aku tidak bisa membayangkan jika harus menghabiskan sisa usiaku dengan laki-laki red flag seperti Nicholas!” umpat Amora.

Setelah pertemuan makan malam itu, Amora dan Nicholas selama beberapa hari ini tidak lagi bertemu! Padahal kedua orangtua mereka masing-masing hampir setiap hari bertemu, karena memang Ayah dan Ibu Amora sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan launchingnya restoran mereka yang cukup besar, menu andalan restoran orangtua Amora yaitu steak, pasta dan ada juga menu-menu lainnya.

Karena itu orangtua Nicholas sering datang berkunjung ke restoran orangtua Amora, bahkan orangtua Nicholas jugalah yang membantu untuk mempromosikan restoran tersebut agar saat grand p pening nanti restoran langsung ramai yang datang.

Malam harinya, Amora pun duduk bersama kedua orangtuanya yang sedang berbincang-bincang di gazebo belakang rumah mereka.

“Bu,”

“Iya Mora, ada apa?”

“Besok hari pertama Mora ngampus, nanti Ayah atau Ibu yang akan antar?”

“Oh itu, iya besok diantar,”

“Oh ya Yah, kapan Mora dibelikan mobil? Kira kan sudah layak kemana-mana bawa mobil sendiri, biar keren,”

“Biar keren, beli mobil lagi kalau belum terlalu butuh ya buat apa Mora? Kuliah kan bisa naik bis umum, atau diantar Ayah,”

“Sebentar lagi kn restoran Ayah buka, terus butik Ibu juga! Kalian akan sibuk, mana sempat antar jemput Mora,”

“Ya kan tetap bisa antar jemput sesekali, sudah sana tidur nanti kesiangan!” kata Bu Anna.

Amora dan keluarganya memang orang yang lumayan berada, meskipun tidak kaya sekali namun mereka berkecukupan! Akan tetapi memang Amora dan kedua orangtuanya hidup selalu sederhana dan biasa-biasa saja, padahal jika mereka mau memanjakan Amora bisa saja mereka membelikan Amora mobil jadi dia bisa wara-wiri atau foya-foya menghabiskan uang orangtua, tapi didikan kedua orangtua Amora tidak seperti itu.

Pagi harinya, suara alarm pun membangunkan Amora sialnya dia memang sangat sulit untuk bangun pagi! Amora pun bangun sambil bermalas-malasan kemudian mandi.

Setelah mandi dan berpakaian rapih, Amora turun ke lantai satu untuk sarapan! Akan tetapi kedua orangtuanya ternyata tidak ada di meja makan , Amora pun bertanya pada asisten rumah tangganya.

“Jenna, kemana Ayah dan Ibuku?”

“Mereka sudah pergi non, katanya Nyonya ada perlu jadi Tuan antar pagi-pagi sekali, tapi mereka berpesan nanti akan ada yang antar non ke kampus pagi ini,”

“Siapa?”

“Aku!” kata Nicholas sambil berjalan kearah Amora.

Amora yang tadinya membelakangi Nicholas pun menoleh ke belakang dan melihat sosok laki-laki berjas rapih menghampirinya.

“Kau, untuk apa kau ada disini?”

“Entahlah, tapi yang pasti bukan aku yang inginkan aku ada disini karena sungguh ini buang-buang waktu!” kata Nicholas sambil mengambil roti tawar yang telah dioles selai coklat.

“Sudah tau buang-buang waktu ya sudah sana pergi jangan ada di rumahku!”

“Cepat duduk dan habiskan sarapanmu! Aku tidak memiliki banyak waktu, jika bukan karena mommy aku tidak akan mau melakukan hal konyol ini!”

Amora pun rasanya semakin kesal saja karena setiap kalimat yang terucap dari bibir Nicholas selalu membuatnya ingin mencakar wajah laki-laki berpangkat CEO itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED